Halaman:Himpunan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (1984).pdf/589

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini tervalidasi


nyak memerlukan kuorum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 155 ayat (1) huruf a.

(2) Apabila kuorum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak tercapai, maka rapat ditunda sebanyak-banyaknya dua kali dengan tenggang waktu masing-rnasing sekurang-kurangnya dua puluh empat jam.

(3) Apabila setelah dua kali penundaan, kuorum sebagai mana dimaksud dalam ayat (1) belum juga tercapai, maka:

a. jika terjadi dalam Rapat Paripurna, masalahnya menjadi batal;

b. jika terjadi dalam Rapat Komisi, Rapat Gabungan Komisi, Rapat BURT, Rapat BKSAP, atau Rapat Panitia Khusus, cara penyelesaiannya diserahkan kepada Badan Musyawarah;

c. jika terjadi dalam Rapat Badan Musyawarah, cara penyelesaiannya diserahkan kepada Pimpinan Badan Musyawarah dengan memperhatikan pendapat Pimpinan Fraksi-Fraksi,

Pasal 150.

Setiap keputusan rapat DPR, baik berdasarkan mufakat maupun berdasarkan suara terbanyak, mengikat semua pihak yang bersangkutan.

Keputusan Berdasarkan Mufakat

Pasal 151.

Hakekat Musyawarah untuk mufakat adalah suatu cara pelaksanaan Demokrasi Pancasila untuk merumuskan dan/atau memutuskan suatu hal dengan kebulatan pendapat (mufakat), yang bersumber pada inti paham kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, berdasarkan kehendak rakyat, itikad baik, pikiran sehat, kejujuran, dan penuh rasa tanggung jawab demi persatuan dan kesatuan bangsa serta kepentingan rakyat.

Pasal 152.

Keputusan berdasarkan mufakat adalah sah, apabila diambil dalam rapat yang daftar hadimya telah ditandatangani oleh lebih dari separuh jumlah anggota rapat dan dihadiri oleh unsur semua Fraksi (kuorum).

Pasal 153.

(1) Pengambilan keputusan berdasarkan mufakat dilakukan setelah kepada para anggota rapat yang hadir diberikan kesempatan untuk me-

597