„BELATI ITEM"
94
{hwe|san|pangsan}} lalu dipondong kedalem auto, di mana satu orang polisi ada mendjaga padanja.
Mengeder suara ledakaanja sendjara api, dengen tjepet Ho Song lalu kasih kerdja iapunja tenaga sebentar sadja itu tali jang mengiket tangannja dapet diputusken . . . Ia pikir satu daja buat keluar dari itu „kamar tikas” aken tetapi ia denger pintunja itu kamar didobrak dengen paksa. Itu detective lalu kasih denger iapunja suitan jang njaring, kerna ia denger dengen njata suaranja Lok Tjoen jang sedeng berkata-kata dengen orang-orang polisi.
Kenalin itu suitan, Lok Tjoen lentas dobrak itu pintu dengen pundaknja hingga sehentar sadja itu pintu terbuka. Ho Song sigra berlompat keluar.
„Mana . . . Pauw Long?“ itulah ada seruhannja Ho Song jang pertama.
„Pauw Long ada slamet, tjuma sadja ada dalem pangsan,” kata Keng Giok: „Ia sekarang berada dalem automu . . .“
Pasukan polisi jang sanget kuat, dengen di-iringken oleh Lee Po Sien dan Gouw Kim Siu muntjul di 23rd Sea Coast Avenue. Marika sigra mengurung itu rumah dengen rapet, lalu madju membasmi sisanja itu kawanan bangsat . . . hingga lebih dari 14 mait ada terletak di atas djubin, fihak polisi diuga dapet kerugian lima djiwa. Maskipun begitu, kepala bangsat Peng Tjie tetep linjap, tetapi Amalia Huang alias Bwee Hoa telah dapet ditangkep idup . . . .
Sigra djuga itu pendjahat perempuan digusur mengadep pada inspecteur Gouw Kim Siu, jang bersama Ho Song dan Pauw Long lalu bikin bebrapa serie pertanjahan. Bwee Hoa tida dapet menjangkal lagi, ia menerangken dengen djelas tentang itu segala kedjahatan jang dilakuken oleh Khouw Peng Tjie itu kepala badjingan dari „Lawah-lawah Merah” jg. berkedok dengen sandiwara „Sin Thian Tjaij”.