32
TJILIK ROMAN'S
Pada suatu malem, kira-kira djam 7.30 — setengah djam seblonnja pertundjukan dimulai — satu orang tua jang rambut dan diengegotnja suda puti, dengen seblah tangan memegang tungket, masuk kedalem itu ruwangan, serta duduk di bagian klas kambing. Pakeannja orang itu ada dekil dan mesum, sepatunja pun suda ditambel dan petja. Pada waktu itu telah terdenger suaranja trompet jang dibunjiken tiga kali dibarengin dengen suaranja tambur dan gembreng jang dipukul berulang- ulang. itu ada mendjadi suatu tanda bahua pertundjukan aken sigra dimulai.
Pemandangan di atasnja panggung toneel ada kotor dan mesum, satu tanda bahua tingkatannja itu sandiwara ada dari kelas rendah . . . . Di bagian seblah kanan ada terdapet banjak sekali kamar-kamar ketjil jang ada mendjadi tempat pranti tukar pakean dari para pemaen. Di samping kiri, jang letaknja di seblah blakang ada terdapet ampat kamar ketjil-ketjil, dan kamar-kamar itu ada mendjadi tempatnja pemaen-pemaen prempuan punja kamar pakean.
Sandiwara itu diusahaken oleh Khouw Peng Tjie, jang katanja ada berasal dari Tiongkok Utara. Pengawakan badannja Peng Tjie ada kate gemuk, serta djari-djari tangannja ada gemuk sebagi pisang radja. Djidatnja keijil, bibirnja tebel, matanja jang kubilbabi ada sipit, dan sebentar-bentar berkesip-kesip. Di atas bibirnja ada tertawung dengen kumis jang berwarna klabu. Di atas djidatnja ada terdapet satu tanda tjodet, serta tulang pipinja jang menondjol keluar, ada penuh dengen bisul-bisul kejil, kulit mukanja ada kasar dan kotor. Idungnja jang pesek ada „patah” ditengah-tengahnja, serta tulangnja ada melesek kedalem kerna kena terpukul dalem satu perklaian dengen satrunja. Giginja jang berwarna kuning gading suda tinggal ampat atawa lima bidji lagi, kerna suda abis dimakan kutu . . . . Dengen