Halaman:Amerta - Berkala Arkeologi 3.pdf/30

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini tervalidasi
Arca yang masih tinggal di halaman istana, Amerta - Berkala Arkeologi 3, hal.25.jpg

Arca yang Masih Tinggal di Halaman Istana

terasnya dibuat dari batu bata dan diselubungi oleh semen (specie?) menjadi bentuk ikan.

Dinding serambi muka istana dicat dengan gambar-gambar sulur dan bunga teratai yang banyak mengingatkan kepada ukiran Bali Utara.

Di halaman sebelah barat istana terdapat arca gajah yang tersungkur di tanah karena bagian kepala dan kaki depannya sudah hilang. Menurut “Inventaris Buitenbezittingen” (Oudheidkundig Verslag 1914) No. 139 arca gajah ini ada dua buah, tetapi di mana satunya tak ada yang mengetahui.

Dari sini kami melihat masjid yang sudah baru sama sekali. Tetapi di dalamnya terdapat mimbar yang berukiran indah.

Kemudian kami dijamu Sdr. Zainal Abidin di rumahnya. Pertanyaan kami mengapa kampung ini dinamakan Pacinan (sebagaimana tercantum dalam inventaris kami) dijawab, bahwa dahulu kala penduduk pertama di situ adalah orang-orang Tionghoa yang beragama Islam dan sangat beribadah. Pada suatu pagi, sewaktu mereka hendak mengambil air wudhu, maka ternyata air Batang Hari beku dan menjadi emas. Dari emas itu mereka membuat sebuah jung emas yang kemudian dipersembahkan kepada Sultan. Dapatkah cerita ini, ditambah dengan kenyataan bahwa di daerah Batang Hari dan Merangin memang banyak terdapatkan emas (bubuk dari 24 karat) dihubungkan dengan nama-nama Suwarnadwipa dan Suwarnabhumi di dalam sejarah?

Pk. 12.30 kami menyeberang kembali ke Jambikota.

Pk. 4 sore, dengan naik pick-up Kotapraja, kami jalan lagi. Mula-mula kami kunjungi makam Puteri Ayu di dekat menara air, yang ternyata tidak penting untuk keperluan kami. Kemudian kami ke Solok Sipin melihat makam Sultan Mat Tahir yang baru sama sekali. Di sebelahnya, dibatasi tembok keliling, terdapat makam-makam lain yang tidak keramat tetapi untuk kami lebih penting. Nisan-nisannya dibuat dari kayu dan berukiran indah sekali. Pun diukirkan pertulisan-pertulisan huruf Arab. Kami baca, bahwa yang satu adalah makam Sultan Mahmud yang wafat th. 1242 (tahun hijrah) dan yang lainnya adalah makam istrinya yang wafat th. 1235.

Karena kami sudah ada di Solok Sipin, sedangkan menurut inventaris di sini tempat ditemukannya makara-makara yang sangat besar, di antaranya satu memuat angka tahun 986 Caka, dan sebuah arca Buddha (semua kini di Museum Jakarta), maka kami tanya-tanya akan tempat itu. Untunglah ada seorang yang dapat menolong kami. Tidak jauh dari masjid berdiri satu stupa yang langgamnya mengingatkan kepada zaman

Batu Catur di Solok Sipin.jpg

''"Batu Catur" di Solok Sipin


25