Halaman:ADH 0008 A. Damhoeri - Pengawal Tambang Emas.pdf/45

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini telah diuji baca

- 41 -

tunggang langgang melarikan diri ke jalan arah ke Taram. Tidak satupun yang dapat dibawa mereka. Yang terpegang ditanganpun habis berserakan se sepanjang jalan seperti: parang, baju, kain sarung, linggis dan sebagainya Yang memburu bangkit pula lucunya. Mereka berdiri diujung jalan dan menepuk-nepuk pahanya bunyinya tak ubahnya dengan bunyi beduk. Tetapi rombongan itu sudah jah melarikan diri tak tentu arah lagi.

Barulah yang mengejar kembali. Sibarani menemui mereka dan berkata:

"Ma,.... sih Tuk Tang,... Tuk Bang Juga. .....yaaa,"

Sibarani membrikan bungkusan tembakau yang dibawanya lalu diberikannya kepada Urang Gadang itu. Sekejap merekapun sudah maherat dalam semak belukar yang rapat itu. Dibarani berdiri dengan bernafas lega. Tugasnya sudah selesai.

Sibarani melangkah dan mendekati unggun yang menjadi perdiangan oleh mereka. Ia berjongkok di unggun itu seakan-akan tidak satupun yang sudah terjadi. Dipanggilnya kedua temannya.

Tu' Layau dan Intan Badaring datang mendekat. Sibarani tertawa.

" Mereka sudah terbang. Sekarang kitalah menguasai tempat ini dengan semua apa yang tertinggal disini. "

Sambil berkata demikian dikeluarkannya dari kantongnya sebatang udut raksasa yang rupanya tidak terberikan kepada tamu-tamunya tadi.

Sibarani membakar udut itu dengan tertawa:

" Hanya dengan beberapa batang udut ini dan selempeng tembakau orang yang tidak kita senangi itu sudah kabur dari sini. Saya rasa mereka takkan berani kembali lagi. Bila mereka datang lgi akan saya suruh ur usir dengan pengawal-pengawal yang berani dan setia itu...."

" Memang hebat kau Barani, kau sudah bisa menjinak Urang Gadang itu, yaaa?"

" Bukan saya tetapi abang saya Tu' Atin. Kepadanya lah saya minta bantuan Urang Gadang itu....."

" Mungkin kau pun keturunan Urang Gadang itu," kata Tu' Lahau ambil melangkah memasuki pondok yang sudah dapat direbut dengan akal licik itu.

Yang mula-mula diperiksa Tu' Layau ialah perian-perian itu. Ada tujuh buah banyaknya. Semuanya berat isinya dan serat berisi emas. Sibarani hanya tertawa saja melihat tingkah lakuk kedua temannya.

" Yah," kata Sibarani, " moga-moga mereka tidak datang-datang la-