Halaman:ADH 0008 A. Damhoeri - Pengawal Tambang Emas.pdf/20

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini tervalidasi

-16

yang membuat, daunnya kita yang mencari."

Kemudian asyiklah mereka saling ber berita dari barat ke timur, dari deksina ke paksina.... sebagai gak habis-habisnya. Pada akhirnya entah sebenarnya entah ber basa-basa Tu' Atin menawarkan kepada adiknya supaya tinggal saja bersama-sama dengan dia di ladang itu karena gambirnya adalah hampir akan dikempa. Artinya sudah dekat mengeluarkan hasil.

"Sebenarnya saya setuju dengan saran uwan," kata sibarani, " tetapi kami sudah mempunyai rencana dengan Tu' Layau dan Intan. Rencana itu sudah sejak dari malaya kami buat."

"Rencana apa itu?" tanya abangnya.

"Tetapi ini masih rahasia wan, tetapi dengan uwan bagaimana pula saya akan main rahasia-rahasia. Kami merencanakan akan membuka tambang emas yang di Tambang itu. Kata Tu' Layau daerah tambang itu termasuk tanah ulayatnya."

Sibarani lalu mengisahkan tentang rencana membuka tambang itu, tidak satupun yang disembunyikannya.

"Yam tentang adanya tambang itu memang saya sudah tahu, malahan orang kampung kita sudah tahu semuanya. Tetapi tentang cerita orang Mungo membuka tambang itu dan membawa hasilnya baru kinilah saya mendengar.

Sibarani lalu menyampaikan hasil pembicaraan mereka di dangau Tu' Layau dan sama-sama mencari usaha bagaimana caranya menyingkirkan atau mengusir orang-orang Mungo itu dari daerah tambang itu. Sebab sudah jelas letak tambang itu dalam daerah kenegarian Balai Panjang dan malaya termasuk daerah Tu' Layau pula. Untuk mengusirnya secara paksa tentu saja tak mungkin. Mungkin timbul perselisihan atau persengketaan. Harus dicari kebijaksanaan lain."

Tu' Atun berpikir-pikir sejenak dan dibakarnya sebatang rokok West seakan-akan dia dengan memusatkan pikirannya untuk memecahakan masalah itu.

Lalu sebentar kemudian katanya:

"Barangkali saya bisa membantumu memecahkan persoalan itu, tetapi nantilah sampai malam nanti...."

"Kenapa mesti nanti malam?" tanya Sibarani.

"Ya, nanti malam, kau harus bersabar dan saya rasa pemecahan saya itu sebaik-sebaiknya dan sesuai dengan rencana tuan-tuan..."