Halaman:ADH 0008 A. Damhoeri - Pengawal Tambang Emas.pdf/17

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini tervalidasi

- 13 -

membawa senjata. Terutama sebilah parang tajam yang serba guna, Apalagi namanya memang: Sibarani. Barani artinya: beräni.

Setelah kira-kira selama tiga jam berjalan sampailah ia dipuncak sebuah bukit. Nama bukit itu: Bukit Indo Jawo. Semua orang yang lalu lalang dalam rimba itu biasanya berhenti disini. Dari puncak bukit itu lepas banglas pemandangan kearah dari mana kita datang tadi. Kelihatan daerah Tebingtinkgi yang terdiri dari beberana buah desa. Mungkin pada zaman dahulu orang Subayang sampai pula ketempat ini dan melihat adanya dataran yang luas dan subur itu, Sehingga akhirnya mereka boyong dan pindah kedaerah itu. Subayang ditinggalkan.

Karena mereka datang dari sebelah hilir maka kekayaan suku itu banyak terdapat disebelah hilir pula Atau yang berupa tanah ulayat. Suku itu bernama: Suku Melayu kemungkinan karena mereka berasal dari suku bangsa Melayu di daerah Riau, Yang sebelah kemudiknya banyak suku Caniago dan Bodi.

Dari Bukit Indo Jawo itu ada tiga persimpangan jalan. Berat ke kanan orang akan sampai di Subayang yaitu daerah yang sudah ditinggalkan itu. Dan sebelah ke kiri orang akan sampai di Merayu dimana banyak terdapat rotan dan manau. Manau dan rotan akan tumbuh setumpak setumpak. Bila ada rotan yang menyela hidup antara manau itu namanya rotan tunggal yang kualitasnya lebih baik.

Lebih berat lagi ke kiri kita akan sampai di daerah Tambang. Disanalah terdapat tambang emas yang jadi pokok cerita kita ini. Dan kesanalah tujuan Sibarani setelah ia bertemu dengan abangnya Tu' Atin.

Sibarani memakai bekalnya disana sambil melihat juga panorama keindahan kampung halamannya. Begitu kayanya negerinya dan banyak miseri dari yang dipendamnya. Nanti ia akan melewati sebuah bukit lagi yang bernama Bukit Situka Jaring dan barulah ia sampai di daerah Suang tempat abangnya sedang berladang gambir.

Matahari sudah condong ke barat. Hari sudah sore. Sibarani meneruskan perjalanan menuju ladang abangnya. Dalam pada itu ia berpikir-pikir juga beberapa hal yang sedang membuncah pikirannya pada waktu itu.

Dari jauh Sibarani sudah melihat pondok gambir abangnya itu. Ia tak perlu bertanya-tanya lagi apalagi kepada siapa akan bertanya dalam hutan itu karena ia tak pernah berpapasan dengan seorang manusiapun. Apalagi penduduk desa yang masuk hutan biasanya pergi waktu pagi hari