Lompat ke isi

Halaman:20 Mei Pelopor 17 Agustus - Museum Dewantara Kirti Griya.pdf/38

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi

bernama Mas Suleman, seorang dokter-djawa djuga, untuk diserahi segala pekerdjaan ketabiban. Selandjutnja ia sendiri berhasrat akan terus berhamba kepada keluarga Sri Paku-Alam, karena selain mendjadi tabib-pura, sedjak dahulu ia merangkap mendjadi penasehat umum dan mendjadi sahabat karib dari Pangeran Notodirodjo. Dalam pada itu ia masih sanggup datang kesana-sini, terutama kalau pertolongannja sangat dibutuhkan. Dr. Suleman datang, dan tinggal mendjadi bagiannja, karena tiap kali datang suruhan dengan permintaan, agar „dokter jang tua” suka datang. Bukan sadja penduduk asli, bahkan penduduk Tionghoa sekalipun lebih menjukai dia daripada tabib-tabib lainnja. Dan sekali orang memilih dia sebagai dokter, akan tetaplah ia berobat kepadanja. Ja, bagi kebanjakan orang ia bukan sadja seorang tabib, bahkan terutama seorang teman, jang sangat dipertjajai dan dihormati. Agaknja tiada mengherankan lagi, bahwa ia pernah dipanggil oleh suatu keluarga Tionghoa, karena Tuan dan Njonjah saling bertengkar dengan hebatnja. Dan waktu Dr. Wahidin kehilangan seorang anaknja perempuan, jang kemudian dimakamkan di Mlati, maka berdujun penduduk Tionghoa mengundjungi tempat jang djauh itu, sekedar untuk memberi penghormatan jang terachir. Seorang diantara mereka menjatakan dengan kata-kata jang keluar dari hati sutjinja, betapa besar arti Dr. wahidin bagi seluruh masjarakat Tionghoa di Jogjakarta.

Meskipun orang-orang pada umumnja mengerti, bahwa dokter jang tua itu perlu beristirahat, namun Wahidin tetap mendjadi tabis sampai pada hari-hari achir-

39