Lompat ke isi

Halaman:20 Mei Pelopor 17 Agustus - Museum Dewantara Kirti Griya.pdf/29

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi

lah kemadjuan setjara modern hanja mungkin dikedjar oleh golongan kaum berada sadja.

Kala itulah tumbuh kejakinan pada Dr. Wahidin, bahwa kepada lapisan jang terbesar didalam masjarakat perlu diberikan pengadjaran jang sebaik~baiknja. Perdjoangan hidup tidak terelakkan lagi dan bangsa Djawa harus memilih: berdjoang atau mati. Namun perkataan mati tiada sedjenak djuga mendjelang alam pikiran Dr. Wahidin, sehingga lekas-lekas disiapkanlah bangsanja menghadapi perdjoangan. Dua soal memikat hati-sanubarinja: memperluas pengadjaran jang sempurna dan memperhebat kesadaran nasional. Suatu hal jang ta’ boleh dibiarkan demikian sadja jalah, bahwa anak-anak dari golongan jang tidak berada tetapi luar biasa kepandaiannja, — seperti dia sendiri sebagai tjontoh jang paling njata — masih terlalu banjak jang belum dapat melandjutkan peladjaran. Selain itu ia mempersalahkan djalannja kemadjuan setjara Barat, jang tidak sedikit merugikan sifat murni dari bangsa Djawa. Kedjadian itu ta’ boleh terulang, kata Dr. Wahidin.

Dengan diam-diam lagi bersungguh hati iapun bersiap-siap melaksanakan tjita-tjitanja. Dalam madjallah Djawa „Retno-Dumilah” jang dipimpinnja sendiri tiada djemunja ia berusaha menginsafkan pembatja akan pentingnja pengadjaran. Disamping itu dipergunakannja madjallah tersebut untuk mempropagandakan tjita-tjitanja, jang ternjata tidak sia-sia belaka. Buktinja, banjak nian penduduk Jogjakarta berlomba-lomba membawa anak-anaknja kesekolah. Hasil jang baik ini mendorong Dr. Wahidin untuk melandjutkan gerakannja. Terlebih dahulu akan dimulaikannja mendirikan „stu-

30