Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7  (1980) 
oleh Satyawati Suleiman

Aspek-aspek Arkeologi Indonesia
Aspects of Indonesian Archaeology


No.7
 1980

Aspek-aspek arkeologi Indonesia No. 7.pdf, p. 1.jpg
A FEW OBSERVATIONS
ON THE USE OF CERAMICS
IN INDONESIA


Satyawati Suleiman

  1. BEBERAPA CATATAN TENTANG
  2. PEMAKAIAN BENDA-BENDA KERAMIK
  3. DI INDONESIA

  1. A FEW OBSERVATIONS ON THE USE OF
  2. CERAMICS IN INDONESIA

  1. BEBERAPA CATATAN TENTANG
  2. PEMAKAIAN BENDA-BENDA KERAMIK
  3. DI INDONESIA


  1. A FEW OBSERVATIONS
  2. ON THE USE OF CERAMICS
  3. IN INDONESIA




  1. SATYAWATI SULEIMAN














  1. PUSAT PENELITIAN ARKEOLOGI NASIONAL
  2. DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

  1. Copyright
  2. PUSAT PENELITIAN ARKEOLOGI NASIONAL
  3. ISSN 0126 - 4141









Cetakan pertama, 1980
Cetakan kedua,1984


First edition, 1980
Second revised, 1984









  1. Printed by :
  2. PT. Guruh Kemarau Sakti-Jakarta
  3. Not For Sale

BEBERAPA CATATAN TENTANG PEMAKAIAN
BENDA-BENDA KERAMIK DI INDONESIA*


Penelitian keramik Indonesia masih ada pada tingkat permulaannya. Tuan Orsoy de Flines 1) yang telah membuat sebuah kumpulan keramik asing sebelum Perang Dunia II yang telah membuat beberapa laporan dan sebuah daftar. Saudara Abu Ridho2) yang telah mengikuti jejaknya sebagai kurator kumpulan keramik di Museum Pusat Jakarta telah menulis beberapa karangan juga dan baru-baru ini ditulisnya naskah untuk sebuah art album tentang koleksi ini.

Keramik lokal sudah pernah disebutkan dan dibuat deskripsinya oleh beberapa akhli prasejarah, yang telah melakukan survai-survai dan berbagai eksvakasi secara sistematis. Dr. H.R. van 3) Heekeren alm. adalah seorang diantara mereka itu. Para arkeolog Indonesia telah merasa beruntung bahwa mereka dapat bekerja sama dengannya sambil belajar daripadanya setiap kali ia datang di Indonesia. Dr. R.P. Soejono 4) , sekarang Kepala Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional, bertahun-tahun dibimbing olehnya dalam penelitiannya, ketika ia mempersiapkan sebuah disertasi tentang cara-cara penguburan di Bali-kuno, berdasarkan data data yang telah dikumpulkannya. Periuk-periuk tembikar dan beberapa benda lain lagi yang ditemukannya sebagai bekal kubur di Gilimanuk disebutkannya dan dibuatkan deskripsi Juga para akhli prasejarah yang lebih muda sedang melakukan penelitian yang mendalam tentang keramik kuno itu. Pada masa kini sudah ada pandangan umum bahwa juga bidang-bidang lain di lapangan arkeologi dapat menarik keuntungan dari penelitian benda atau pecahan keramik yang telah ditemukan atau yang telah digali kembali dengan sengaja.

Beberapa ekskavasi yang baru-baru ini dilaksanakan oleh Bidang Arkeologi klasik dibawah pimpinan Dra. Satari dan oleh Bidang Arkeologi Islam yang dipimpin oleh Drs. Hasan Ambary, telah menghasilkan banyak pecahan keramik, lokal maupun asing yang kini diteliti secara mendalam agar situs-situs yang telah digali itu umurnya. dapat ditentukan.

Berhubung studi ini meliputi juga pemakaian barang keramik pada masa silam sampai masa kini, maka kami telah mencoba mengumpulkan data-data5) sambil menghubungkan pecahan-pecahan keramik dengan masalah-masalah sejarah situs-situs tempat penemuannya.

*Terjemahan Kertas Kerja: ”A few observations on the use of Ceramics in Indonesia”, untuk Hongkong Symposium on Trade Ceramics (1978)

KERAMIK LOKAL
PRASEJARAH

Pembuatan tembikar sudah ada pada tingkat mesolitik (masa berburu dan pengumpulan makanan tingkat sederhana) atau sub-neolotik. (lih. van Heekeren 1972)6)Pada masa itu manusia sudah mulai menetap di pantai laut dan di tepi danau atau di dalam gua dan tempat perlindungan di bawah batu karang.

Pada Guwa Lawa di daerah Ponorogo (Jawa Tengah), tembikar berhiasan pola tali ditemukan pada tempat yang dalam, bersama sudip dan tulang. Menurut van Heekeren, sudip-sudip ini dipakai untuk mengupas umbi-umbian liar atau yang sudah ditanam dengan sengaja maupun akar-akaran. Ada pula ditemukan beberapa rangka manusia yang sudah rusak, tetapi satu-satunya bekal kubur adalah kalung yang terbuat dari kerang-kerang yang dilubangi masih melingkari leher kerangka seorang anak kecil. Rupa-rupanya pada masa itu periuk-periuk yang dibuat dengan tangan belum menjadi bekal kubur.

Pada masa itu alat-alat dapur masih terdiri dari daun-daunan yang dipakai sebagai piring atau untuk membungkus dan memasak makanan. Lagipula orang masih memakai mangkuk yang dibuat dari kerang atau batok kelapa. Wadah air dibuat dari bambu, labu atau mungkin juga dari kerang yang besar (seperti di Maluku dan di Hawaii). Ada kemajuan dalam pembuatan keramik lokal itu pada tingkat Neolitik (masa bercocok tanam) ketika manusia sudah menetap, di permukiman yang permanen dan sudah bertani dan beternak.

Di Kendeng Lembu, Jawa Timur, van Heekeren menemukan beberapa kapak batu yang sudah dipoles (digosok licin) dan sejumlah pecahan tembikar. Tetapi rupa-rupanya tempat ini bukan tempat permukiman karena tidak ada bekas-bekas kehidupan desa, melainkan bengkel pembuatan kapak yang masih kasar (papan).

Di Kalumpang, di hulu Sungai Karama. Sulawesi Tengah di pantai Barat Laut ditemukan 706 potong pecahan tembikar yang berwarna coklat dan tak berhiasan. Barang-barang itu ditemukan bersama beberapa kapak persegi panjang, kapak lonjong, ujung lembing, anak mata panah, pisau, beberapa kapak batu yang belum selesai dan ”papan”, sebatang alat pemukul untuk kulit kayu dan sebagainya. Salah satu pecahan tembikar itu berhiasan gambar orang yang distilir.

Pada masa perundagian (logam awal), ketika nama-nama beberapa tempat di Indonesia sudah muncul pada berita-berita asing sekitar awal tarekh Masehi, penggunaan benda tembikar sebagai bekal kubur sudah biasa. Van Heekeren meneliti beberapa tempayan tembikar yang ditemukan oleh penduduk Anyer (Banten). Isinya : rangka-rangka manusia serta beberapa bekal kubur yang terdiri dari sebuah periuk, yang tingginya 2,92 cm, piring-piring dan sebuah periuk bulat. Di daerah yang sama pada penggalian yang dilakukan oleh Van Heekeren sendiri, ditemukannya pecahan-pecahan tembikar yang rupa-rupanya berasal dari sebuah tempayan kubur (urn ) bersama beberapa fragmen tulang-belulang dan tengkorak.

Rupa-rupanya orang terkemuka dikubur di dalam tempayan besar bersikap terlipat (flexed position) sedangkan orang biasa dikubur di dalam kuburan biasa, karena van Heekeren menemukan kuburan begitu di daerah yang sama juga. Rupa-rupanya tanah di tempat itu mengandung banyak tempayan kubur. Umur yang diperkirakan adalah abad kedua atau ketiga M. (Van Heekeren 1985)7)

Ada juga kuburan tempayan di Sumatra, antara lain di Lesung Batu, Tebing Tinggi, Sumatera Barat Daya. Tempayan-tempayan itu berisi tulang belulang manusia dan di dalam salah satu di antaranya ada sebuah periuk yang dipoles (digosok licin). Hiasan periuk itu terdiri dari meander dan pola duri ikan seperti yang lazim ditemukan pada benda-benda perunggu di Indonesia.

Di Sulawesi ditemukan berbagai tempat kuburan tempayan. Di Sulawesi Tengah, wadah batu yang besar yang bernama ”waruga” terkadang berisi kerangka orang. Di dalam waruga itu ada juga benda-benda tembikar, sedangkan waruga itu biasanya berdiri di dekat arca-arca tinggi. Pernah ditemukan sebuah tempayan tembikar yang tinggi 111 cm ), rupa-rupanya penduduk mempunyai kelaziman melakukan penguburan yang sekunder. Sisa-sisa orang di kubur dulu atau diletakkan pada suatu tempat tertentu sampai tinggal tulangnya saja. Baru kemudian tulang-belulang itu dimasukkan di dalam wadah kubur.

Van Heekeren menunjukkan juga kepada sebuah laporan dari Schröder pada tahun 1912, mengenai tiga buah tempayan tembikar yang terdapat di sebelah barat daya pulau Salayar. Isinya : tulang-belulang manusia yang sudah rusak dan perhiasan, manik-manik batu setengah permata, satu cincin, tiga gelang, sebuah anting-anting dari perunggu dan beberapa daun emas (hanya di dalam satu tempayan).

Penemuan yang penting terdiri dari suatu kuburan tempayan di Pulau Sumba. Tempayan-tempayan pada tempat itu berbentuk bulat, beberapa diantaranya berleher lurus, dan ada bermacam-macam ukuran mulut, dan ada juga yang lehernya semakin melebar ke atas. Tutupnya terdiri dari pecahan tembikar, periuk yang pecah, periuk terbalik atau botol. Botol-botol (flasks) tembikar yang ditemukan nampak dipoles (digosok licin), warnanya merah atau coklat, dan lehernya panjang dan sempit. Berhubung periuk-periuk itu berhiasan pola-pola yang biasanya terdapat pada benda-benda perunggu, maka waktu pembuatannya diperkirakan jatuh pada masa ketika sudah ada perunggu dan besi, meskipun di antara benda-benda itu masih ada beberapa kapak batu dari masa Neolitik. Sebuah alat pengantih menjadi bukti bahwa pada masa itu orang sudah dapat menenun. Di antara sisa-sisa manusia terdapat banyak tengkorak, inilah suatu bukti bahwa pada tempat itu dilakukan penguburan sekunder juga.

Di Gilimanuk, Bali (Soejono 1977), menggali banyak kuburan yang berisi rangka manusia yang berisi bekal kubur, yang terdiri dari kapak-kapak perunggu, perhiasan-perhiasan dan periuk-periuk tembikar. Penggalian-penggalian di Gilimanuk dilakukannya selama sepuluh tahun.

MASA SEJARAH

Keramik lokal masih dibuat dan dipakai ketika sudah ada keramik asing yang masuk di Indonesia, meskipun masih dalam jumlah yang kecil.

Pada relief-relief abad ke 9 di Jawa Tengah, seperti misalnya di Candi Borobudur dan Prambanan, keramik lokal nampak dipakai sebagai wadah makanan. Pada sebuah adegan yang termashur di salah satu relief Candi Borobudur, nampak beberapa orang wanita yang sedang mengambil air dari kolam. Di atas kepala mereka membawa periuk bulat yang kecil. Pada adegan yang lain Sujata membawa susu di dalam sebuah periuk bundar kepada Sang Buddha Gautama sebelum ia mencapai Nirwana. Ada pula sebuah adegan yang memperlihatkan tumpukan periuk-periuk di dalam semacam gudang dan sebuah adegan lain menggambarkan sebuah tempat pembuatan periuk (bengkel) dari tanah liat, tanpa roda, melainkan pakai tangan dan kayu (Bernet Kempers, 1977) 8

Pada penggalian di beberapa komplek candi muncullah juga periuk tembikar. Pada tempat yang tersuci pada komplek itu ada sebuah periuk tanah liat yang dikubur sebagai depot candi. Juga pada relief-relief di Jawa Timur nampak keramik lokal yang dipakai sebagai wadah air, (gentong). Di Trowulan, ialah situs ibu kota Majapahit abad ke 14 banyak periuk tanah liat yang masih terpendam di tanah. Pada suatu penggalian muncullah sebuah wadah tanpa dasar yang pernah menjadi bagian atas sebuah sumber air. Trowulan terkenal karena banyaknya arca dan hiasan terracotta dari masa Majapahit, yang dahulu dipakai sebagai hiasan rumah-rumah.

Arca-arca Majapahit yang dipakai sebagai arca perujudan raja-raja dan ratu-ratu diapit oleh setangkai lotus, yang keluar dari sebuah guci.9) Pada masa Singhasari (abad ke 13) lotus ini keluar dari umbinya. Rupa-rupanya guci itu bukan keramik lokal melainkan guci Cina, yang lazimnya disebut tempayan atau martavan. Di Kalimantan martavan begitu dipakai sebagai wadah pemakaman sisa-sisa manusia. Mungkin pada arca Majapahit itu ada asosiasi antara guci dengan mati dan lotus dengan hidup, karena hidup baru timbul dari apa yang sudah mati. 10)

Pada mesjid-mesjid kuno di Jawa, yang atapnya bersusun, puncaknya terdiri dari hiasan terracotta yang disebut ”mastaka”11)

MASAKINI

Meskipun teknologi modern sudah masuk di Indonesia, tetapi keramik lokal masih banyak dibuat dan dipakai. Pada pasar-pasar selalu ada tempat penjualan periuk besar (gentong) yang dipakai untuk wadah air. Ada lagi beberapa alat dapur yang lain seperti anglo, kendil, piring dari tanah liat. Kendil masih dipakai untuk memasak dan memang beberapa macam makanan Indonesia terasa lebih enak dimasak di dalam kendil, seperti misalnya gudeg Jogya. Serabi juga enak dibuat di dalam wadah tembikar yang bertutupan. Ikan pindang dibuat di dalam tempayan besar dan disimpan di dalamnya untuk dijual.

Pedupaan untuk membakar kemenyan dibuat dari tembikar dan begitu pula pot kembang dan celengan. Kendi masih dipakai sebagai wadah air di dalam banyak rumah tangga. Setelah seorang bayi lahir, ari-arinya yang dianggap sebagai adiknya dimasukkan ke dalam sebuah kendil dan dikubur di taman di dekat rumah.

Pada upacara perkawinan di Jawa, di saat ketemunya penganten pria dan wanita maka penganten wanita mencuci kaki penganten pria. Air yang dibuat harum dengan bunga-bungaan yang ada di kendi kemudian disiram pada kakinya setelah penganten pria itu menginjak sebuah telur. Pada saat pengantaran jenazah ke kuburan beberapa barang tembikar dipecahkan pada jalan yang dilalui jenazah sebelum masuk di kereta jenazah.

Juga pada beberapa upacara korban masih ada penggunaan tembikar. Terkadang hanya ada beberapa pecahan saja yang dikorbankan seperti pada ”korban tembaga” di Jawa Barat. Upacara itu dilaksanakan pada suatu saat sebelum pembangunan rumah baru, ialah bila tanah yang akan dibangun itu menurun ke arah selatan. Karena selatan dihubungkan dengan Batara Kala dan warna merah maka segala barang korban itu berwarna merah juga, seperti bunga merah yang diletakkan di atas talam tembaga merah, ayam yang berbulu merah, dan pecahan tembikar yang merah.12)

Rupa-rupanya keramik lokal itu di samping masih dipergunakan sebagai alat-alat rumah tangga, tetap dihubungkan dengan adat, tempat yang sakral dan peristiwa-peristiwa yang sakral-rituil seperti bermacam-macam upacara, yang diadakan berkesempatan dengan kelahiran, perkawinan atau kematian.

KERAMIK ASING

Di Museum Pusat Jakarta, terdapat banyak keramik asing yang sudah pernah diteliti oleh Orsoy de Flines (1949 dan 1974) dan Abu Ridho (1977 ). Bahkan ada juga keramik dari masa Han, ialah dari abad-abad pertama Tarekh Masehi. Keramik asing yang berasal dari Cina, Muang Thai, dan Vietnam telah ditemukan di seluruh Indonesia. Keramik asing itu kebetulan banyak ditemukan di pulau-pulau yang menghasilkan barang ekspor yang dahulu dan sekarang misalnya : kemenyan dan kapur barus di Sumatra Utara, merica di Lampung, emas di Sumatra tengah dan Barat, rempah-rempah di Maluku, cendana dan kayu-kayuan lain di pulau-pulau di sebelah timur Bali dan Sulawesi. Harus dicatat bahwa kebanyakan benda itu belum diketahui tempat penemuan yang asli sehingga tak dapat dipakai untuk penentuan waktunya keramik pada hubungan dagang dengan negara Cina.

Keramik asing mula-mula dipakai sebagai alat tukar-menukar atau sebagai hadiah untuk orang terkemuka. Baru berabad-abad kemudian benda-benda keramik asing itu dipergunakan sebagai alat rumah tangga, yang terdiri dari piring, mangkuk, bejana, pedupaan dan sebagainya. Barang itu termasuk barang yang lebih murah daripada apa yang dahulu diberikan sebagai alat tukar-menukar atau sebagai hadiah.

Pada beberapa tempat keramik asing dipakai untuk mengubur jenazah. Ini suatu kelaziman di Kalimantan di mana terdapat banyak kuburan ”martavan”, (tempayan besar 13). Martavan itu mula-mula dipakai untuk membuat tapai, karena itu namanya menjadi tempayan. Martavan itu dipakai juga sebagai wadah makanan atau air. Kemudian tempayan itu dipakai sebagai wadah jenazah, seperti pada masa prasejarah. Adat mengubur sisa-sisa manusia itu di dalam guci terdapat juga di Sulawesi Selatan, tetapi hanya untuk orang-orang terkemuka. Lagipula yang dimasukkan adalah abunya, karena sebelum Islam masuk pada awal abad ke 17 masih ada pembakaran jenazah raja-raja, sedangkan rakyat biasa dikubur dan jenazahnya diberi bekal kubur seperti ternyata di penggalian di Takalar.

Di Jawa ada pemakaian khusus dari porselen impor. Tegel porselen dimasukkan pada dinding sebagai dekorasi di Majapahit seperti yang ditemukan di Trowulan (lihat Abu Ridho)14). Pada dinding mesjid kuno di Demak ada juga tegel porselen yang berasal dari Annam. Di Cirebon, piring-piring porselen dimasukkan pada dinding beberapa bangunan pada keraton Kasepuhan dan Kanoman.

Pada dinding candi Induk Penataran di Blitar, Jawa Timur ada hiasan (pahatan batu) ceplokan berisi pola-pola hiasan, kebanyakan binatang. Hiasan yang demikian mungkin dibuat di bawah pengaruh kebiasaan memasukkan piring porselen impor di dalam dinding sebagai perhiasan15). Kebiasaan memasang piring-piring porselen pada dinding ada juga pada beberapa candi di Bali.

Di antara pusaka-pusaka orang Indonesia seringkali terdapat juga keramik asing. Barang begitu diperlakukan pemiliknya seperti keris atau tumbak pusaka. Benda-benda keramik itu dikeluarkan pada saat-saat tertentu dari tempat penyimpanannya dan dimandikan dengan air bunga.

Masalah sekarang adalah: sejak kapan keramik asing itu dipakai sehari-hari atau untuk upacara? Apakah ditemukannya banyak pecahan porselen pada suatu tempat berarti bahwa dahulu pernah ada permukiman Cina, ataukah banyaknya pecahan itu menunjukkan adanya perdagangan intensip dengan negara Cina? Masalah-masalah inilah yang akan diperbincangkan sekarang.

KERAMIK ASING YANG DAPAT MENGUNGKAPKAN
MASA YANG SILAM

Benda-benda keramik yang masih utuh memang indah untuk di pandang tetapi kita tak dapat mengetahui tempat penemuan asli di Indonesia setelah datang dari Luar Negeri, karena barang itu sudah berkali-kali berganti tangan pemilik. Hanya ada beberapa tempat saja di Indonesia di mana keramik asing yang utuh masih dapat dikeluarkan dari tanah, antara lain di Sulawesi Selatan.

Pecahan-pecahan keramik bila ditemukan dalam kelompok-kelompok dapat juga dipakai dalam usaha menentukan umur situs itu. Lagi pula segi-segi tertentu kehidupan ekonomi atau masyarakat pada masa yang silam dapat menjadi lebih jelas, karena temuan itu. Di karangan ini dibicarakan tiga daerah terpilih, karena tanahnya mengandung keramik atau di atasnya ada banyak pecahan keramik asing yang berserakan yang sudah pernah diteliti

atau digali. Ketiga daerah itu adalah : a) Sulawesi Selatan, b) Palembang dan Riau dan c) Pantai Utara Jawa Tengah sebelah Timur.

SULAWESI SELATAN

Orsoy de Flines pada tahun 1948 meneliti beberapa benda dan pecahan keramik. Kebanyakan temuan itu berasal dari abad ke 13 sampai ke abad ke 18, tetapi ada juga beberapa di antaranya dari masa sebelum abad ke 10. Di Bone ada beberapa mangkuk, kotak dan piring dari abad ke 14-15. Sebuah guci kecil setengah porselen, persegi panjang, berisi tulang-belulang sebagai .bekas pembakaran jenazah. Guci ini berasal dari Fu-Kien, bagian kedua abad ke 16. Di Watampone, 10% pecahan itu berasal dari benda-benda keramik yang halus dari Cina Tengah dan Timur, ialah porselen dan tanah liat yang sudah mirip ke porselen, dari abad ke 14 dan ke 15 dari Lun Tsuan, Te-Hua awal, Ying Tsing dan Cho T’ou. "Bukan keramik untuk orang biasa" demikian kata de Flines.

Suatu eksvakasi yang sistematis dilakukan pada tahun 1970 oleh Uka Tjandrasasmita di Takalar. Eksvakasi ini disponsori oleh suatu kelompok orang terkemuka di Jakarta, Indonesia maupun asing. Tidak lama kemudian beberapa anggauta kelompok itu mendirikan Himpunan Keramik Indonesia atau menjadi anggautanya.

Meskipun benda yang ada pada penggalian itu jumlahnya tidak begitu besar (benda itu termasuk jenis yang murahan) tetapi kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian itu penting sekali. Karena pada waktu itu diperoleh bukti bahwa benda-benda keramik yang berhasil digali kembali, pernah berfungsi sebagai bekal kubur. Hingga saat itu para penggali liar setelah mengeluarkan piring-piring dan periuk-periuk dari tanah, membuang sisa-sisa manusia, sehingga mengakibatkan perpisahan antara jenazah dan bekal kuburnya.

Masa pembuatan benda-benda keramik itu adalah abad ke 15-16. Tempat asalnya: Cina dan Annam. Karena keramik itu tak begitu mahal, maka kesimpulan adalah bahwa orang yang dikubur itu orang biasa, karena orang terkemuka dikubur (abunya) di dalam guci keramik asing. Gejala ini mengingatkan kepada Anyer (lihat di atas)17), di mana orang terkemuka pada Masa Prasejarah dikubur di dalam tempayan tembikar yang tinggi, sedangkan orang biasa dikubur di dalam kuburan. Bahwasanya abu orang terkemuka pada masa sebelum Islam masuk di Sulawesi Selatan (awal abad ke 17) dimasukkan di dalam guci keramik asing menunjukkan bahwa pada masa itu keramik asing sudah menjadi ”status symbol” (perlambang kedudukan).

H.R. Van Heekeren18) menunjuk kepada sebuah laporan oleh L. Van Vuuren dari tahun 1912. Katanya di desa Bukaka, di bawah pohon ada sebuah guci yang dipendam di dalam tanah. Guci itu berisi abu jenazah seorang raja Bone, yang bernama Tamupaga. Tidak jauh dari tempat itu di atas bukit yang puncaknya terdiri dari tanah datar, ada sebuah guci kubur di bawah pohon juga. Isinya: abu jenazah raja Bone yang ketiga yang naik takhta pada tahun 1398. Di dalam tanah bukit ini ada beberapa guci kubur yang lain lagi.

Kelaziman membakar jenazah raja-raja Bugis telah disebut juga di dalam naskah-naskah yang ditulis oleh bangsa Bugis sendiri, yang disebut ”lontara”. Meskipun bangsa Bugis itu tidak memiliki prasasti batu dan tembaga seperti di Jawa tetapi mereka meninggalkan banyak naskah. Mereka mencatat semua hal-ihwal, dimulai dari tindakan-tindakan administrasi, peristiwa politik, peperangan dan hubungan keluarga. Termasuk naskah-naskah itu ada buku-buku catatan harian dan kronik-kronik. Di dalam Kronik Kerajaan Wajo (Noorduyn 1955) ada sebuah berita bahwa seorang raja diperabukan di atas kumpulan perisainya. Karena itu ia memperoleh nama anumerta: yang berbunyi: ”Matinroe rikannana” (beliau yang beristirahat di atas perisainya"). Seluruh abu jenazahnya dikumpulkan dan dimasukkan dalam sebuah guci. ”Ini mungkin perabuan yang terakhir untuk seorang raja besar di Wajo” demikianlah komentar Noorduyn”19)

Peristiwa ini terjadi pada awal pengislaman Sulawesi Selatan (awal abad 17), Raja-raja setelah masa itu yang sudah masuk Islam dikubur dan jenazahnya tidak dibakar lagi.

Hadimuljono, seorang arkeolog, pernah melihat sendiri di Soppeng pada makam raja, sepotong keramik asing yang dipakai sebagai maesan. Benda keramik asing dipecahkan pada waktu pengucapan sumpah berhubung dengan penandatanganan sebuah naskah kerjasama antara dua orang raja. ”Apabila perjanjian ini dilanggar, akan pecah, hancurlah pihak yang melanggar sumpah, perjanjian ini sampai tujuh turunan”. Pecahan keramik itu kemudian ditanam dan di atasnya didirikan batu. (Hadimuljono, 1978).20)

Bagaimana peranan Sulawesi di dalam hubungan sejarah? Daerah itu sudah lama berhubungan dengan Jawa.21) Prapanca, pengarang Nagarakertagama yang ditulis pada tahun 1365 sebagai syair pujian untuk Raja Hayamwuruk dari Majapahit menyebutkan beberapa daerah yang harus mengirim upeti ke Jawa. Salah satu kelompok terdiri dari: Bantayan, Luwuk, Uda- Katraya, Makasar, Butun, Banggawi. Kunir, Galiya dan Salayar yang dapat dikenali kembali sebagai daerah-daerah Sulawesi selatan yang pada masa itu ada di bawah pengaruh kekuasaan Majapahit. Artinya para raja harus mengirim upetinya ke Majapahit, sedikitnya sekali setahun. Mungkin karena hubungan inilah ada pemakaian gelar-gelar atau nama-nama yang dipakai raja-raja di Jawa, meskipun di Sulawesi tidak ada penganut agama Hindu atau Budha. Misalnya dewa disebut dewata, raja bergelar batara. Manusia pertama yang turun dari langit adalah Batara Guru yang memperisterikan seorang wanita yang keluar dari Dunia Bawah, ialah, We Nyuli Timo (Noorduyn 1955, h. 48) Datu Luwu bergelar Dewaraja atau Raja Dewa (Noorduyn 1955, h. 70).

Mereka percaya bahwa ada Pencipta Semesta Alam yang Tunggal dan beberapa dewa yang lain. Kepercayaan itu ada juga pada suku-suku Toraja.22) Begitulah, meskipun bangsa Bugis itu bukan penganut agama Hindu dan Budda, mereka bukan ”animis” karena mereka sudah mengenal suatu pantheon yang terdiri dari dewa-dewa yang mereka sembahi dan malah panggil sebagai saksi bila ada pengangkatan sumpah. Para raja di Sulawesi Selatan masuk Islam agak lambat (awal abad ke 17) bila dibandingkan dengan raja-raja di pulau-pulau lain di Indonesia. Seperti dikatakan di atas masih ada pembakaran jenazah pada awal abad ke 17. Kelaziman membakar jenazah mungkin dipengaruhi orang Hindu atau Buddha dari Bali atau dari orang Cina yang menetap di Sulawesi.

Terdapatnya begitu banyak benda dan pecahan keramik, menunjukkan bahwa ada perdagangan yang intensif dengan orang Cina atau dengan negeri Cina, yang mungkin dilakukan oleh orang Bugis sendiri. Karena Sulawesi Selatan ada di pertengahan jalan antara pulau-pulau di Indonesia penghasil rempah-rempah dan kayu-kayuan wangi dan Cina (liwat Philipina) maka kita dapat menduga bahwa sejak dahulukala sudah ada banda-bandar yang ramai. Meskipun rakyat setempat tak membaca atau menulis Sansekerta, tetapi mereka beruntung karena memiliki abyad sendiri yang mereka pakai untuk berniaga dan untuk catatan politik dan administrasi.

Tetapi yang masih masalah ialah : seandainya ada perdagangan yang ramai itu, apakah sudah ada sebutan tentang tempat-tempat di Sulawesi Selatan dalam berita-berita Cina? Hal ini masih perlu diteliti.

B. PELEMBANG DAN RIAU

Meskipun Palembang dan Riau merupakan dua daerah yang terpisah, tetapi karena kedua daerah itu banyak dihubungkan dengan sejarah Sriwijaya kami menggabungnya menjadi satu.

G. Coedes23) adalah sarjana yang pertama kali mengidentifikasikan Pa lembang sebagai situs ibukota Sriwijaya pada abad ke 7 karena banyak prasasti telah ditemukan pada daerah itu. Meskipun banyak sarjana asing menerima pandangan ini (Krom24), De Casparis, Wolters) ada pula beberapa sarjana lain yang menempatkan pusat Sriwijaya itu pada tempat yang lain. Moens 25) ) mencarinya di Muara Takus, Riau, karena ia menunjuk kepada keterangan I-tsing ialah: "bahwa di kota Sriwijaya seorang manusia tidak ada bayangan pada jam 12 siang". Artinya tempat itu ada di khatulistiwa dan Muara Takus memang letaknya paling dekat ialah 0.20 Lintang Utara. Roland Braddell 26) mencari Sriwijaya di Semenanjung Melayu, sedangkan M.C. Chand 27) menempatkannya di Muang Thai Selatan, sekitar Chaiya.

Pada tahun 1974 sebuah team yang terdiri dari tiga orang arkeolog Indonesia dan tiga orang dari Universitas Pennsyivania (A.S) termasuk B. Bronson telah melakukan suatu ekskavasi yang sistematis pada beberapa tempat di Palembang. Mereka mengharapkan akan menemukan bekas-bekas kehidupan dari abad ke 7 yang terutama terdiri dari keramik asing. Dari hasil itu ternyata bahwa tidak ada pecahan keramik yang tua, karena ditemukan, baik di Bukit Seguntang maupun di Air Bersih. Geding Sarangwati hanya pecahan keramik Ming dan abad ke 15 dan ke 16.28)

Sebuah ekskavasi percobaan yang dilakukan oleh beberapa anggauta team itu pada tahun 1973 di Muara Takus (Riau) berhasil yang sama. Kali ini tidak ada juga pecahan keramik yang lebih tua daripada abad ke 15. 29) Hasil yang sama diperoleh lagi oleh sebuah team yang dikirim oleh Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional pada tahun 1976, karena hanya pecahan porselen Ming yang ditemukan lagi.30

Apakah hasil-hasil ini membuktikan bahwa Sriwijaya tidak terletak di Palembang atau Muara Takus? Ataukah ada suatu sebab sehingga tidak ada sisa-sisa benda yang seharusnya ada pada sebuah situs yang sudah berabad-abad lamanya didiami manusia? Ataukah penggalian harusnya dilakukan pada tempat-tempat lain, seperti misalnya di tepi sungai Musi? Ataukah pencarian benda harus dilakukan di dalam lumpur atau di dalam air, oleh karena kota dan desa yang terletak di tepi sungai mudah terkena banjir. Satu banjir saja dapat memusnahkan sawah-sawah dan desa-desa seperti masih sering terjadi di Sumatra. Ataukah kita belum dapat mengharapkan adanya sisa-sisa porselen Cina pada abad ke 7 karena masih terlalu pagi dan belum ada porselen yang diekspor (trade pottery) ke Nanyang (Asia Tenggara).*

Kami mengajukan beberapa usul: mungkin seribu orang musafir yang ada di Sriwijaya menurut I-tsing bukan orang Cina, melainkan kebanyakan orang Indonesia sendiri. Mereka tidak memakai porselen Cina karena mereka apalagi sebagai biarawan harus memakai bahan-bahan seadanya: ialah daun-daunan, bambu, kayu, batok kelapa, dan labu. 31) Pada masa itu orang belum membuat stupa-stupa dari batu atau batu bata, karena orang dapat memakai kayu yang begitu banyak ditemukan di dalam hutan hujan yang tropis. Kuil-kuil dan biara-biara dibuat dari kayu dan beratap ijuk seperti di Bali. "Sel-sel" untuk para biarawan terbuat dari kayu dan beratap ijuk juga dan berbentuk rumah panggung. Rumah panggung yang sederhana itu masih dipakai dalam beberapa pondok pesantren di Sumatra. Ada sebuah pondok pesantren di Purba Baru, Tapanuli Selatan, yang kebetulan team survey kami liwati pada bulan Juli tahun 1978. Dua ribu santri penghuninya. Setiap dua orang santri menghuni satu pondok yang sederhana untuk tidur, belajar, masak dan makan. Sebuah pondok pesantren yang serupa kami lihat pada tahun 1975 di Padang Lawas.32) Di dekat Biaro Bahal I ada pondok-pondok yang memenuhi satu komplek yang luas.33)

  • Setelah karangan ini ditulis pada tahun 1978 ternyata pada tahun 1978, 1980 dan 1982 ditemukan banyak pecahan porselen dari masa sebelum abad ke - 10 M di sekitar Talang Kikim di kaki Bukit Seguntang.

Biara-biara Sriwijaya pasti tidak banyak bedanya dengan pondok pesantren di Sumatra Utara itu. Lagipula para penghuninya pasti tidak akan meninggalkan sisa-sisa kehidupan, karena alat-alat mereka terbuat dari bahan-bahan yang lekas musnah. Begitu pula keadaan ”kota” yang letaknya di tepi atau malah di atas sungai Musi. Penduduk hidup dengan cara yang sama seperti penduduk Sungsang sekarang, ialah sebuah desa di Muara Sungai Musi, 90 km dari kota Palembang, yang kami kunjungi pada bulan Juli tahun 1978. Rumah-rumah penduduk dibangun di atas sungai dan di tepinya.

Di Muara Takus (lihat Bernet Kempers, 1959,g.198), bangunan-bangunan yang terbuat dari bata pada tempat itu belum tentu berasal dari abad ke 7. Komplek induk mungkin harus dicari di tempat lain, sedangkan penduduknya tinggal dalam rumah-rumah kayu yang beratap ijuk. pada abad ke 7. Soal lain adalah: seandainya Muara Takus sudah menjadi tempat sembahyang dan ziarah, belum tentu ibukota Sriwijaya terletak pada daerah itu juga. Misalnya di Jawa ibukota para raja Sailendra pada abad 8-9 mungkin tidak ada di sekitar Candi Borobudur, melainkan di lembah Prambanan. Di Majapahit, keratonnya terletak di Trowulan, tetapi Raja Hayamwuruk berziarah pada candi-candi di daerah Malang dan Blitar. Kemungkinan yang lain adalah bahwa pusat kerajaan Sriwijaya tidak selalu pada satu tempat saja melainkan berpindah-pindah.34)

C . JAWA TENGAH SEBELAH TIMUR LAUT

Orsoy de Flines pernah menulis sebuah laporan di Oudhcidkundig Verslag 1941 — 1947 mengenai suatu survai yang dilakukannya pada tahun 1940 pada beberapa tempat di Jawa Tengah sebelah Timurlaut. Daerah-daerah yang disurvai itu meliputi kabupaten Blora, Rembang, Pati, Jepara, Kudus dan Grobogan. Ada suatu permintaan khusus dari W.F. Stutterheim, yang pada waktu itu menjabat sebagai Kepala Dinas Purbakala agar dilakukan penelitian tanah sekitar suatu daerah yang menurut dongengan rakyat setempat pernah menjadi wilayah keraton Mendang Kamulan (Medang), di sebelah timur Grobogan. Hasil-hasil survai ini ternyata negatif: karena apa yang ditemukan hanya terdiri dari beberapa pecahan keramik dari abad ke 9 sampai abad ke 10. Yang mengejutkan adalah kenyataannya bahwa banyak sekali pecahan porselen ditemukan di hutan jati di dekatnya yang berasal dari akhir abad ke 8 sampai ke 11.

Pada beberapa desa banyak penemuannya, sedangkan di desa yang lain sedikit sekali. Kadang-kadang ada pecahan keramik Cina, kadang-kadang Sawankhalok. Pecahan-pecahan itu terdiri dari porselen abad ke 9 sampai ke 17. Hal ini dapat membawa kesan bahwa daerah itu menjadi daerah permukiman selama beberapa abad terus-menerus. Soal masa permukiman itu diteliti pada tahun 197535).

Sebuah team yang terdiri dari beberapa orang arkeolog Indonesia dan Amerika Serikat pernah menggali di daerah Rembang. Mereka meneliti 50 situs dan membuat 40 kelompok kumpulan keramik lokal dan asing, ialah dari masa 1) T’ang-Sung akhir, 2) Sung-Ming akhir, 3 ) Ming dan sedikit Ch’ing dan 4 ) Ch’ing dan Eropa.

Para penulis laporan itu bertanya: ”mengapa bukti bahwa pernah ada hubungan dengan India dan Cina muncul begitu lambat? Di Muang Thai dan Vietnam Selatan hubungan itu sudah begitu intensif sejak tahun 200 ketika kota-kota besar seperti Oc- Eo telah mulai nampak. Jadi mungkinkah Indonesia 400- 500 tahun terbelakang dibandingkan dengan benua Asia? (Laporan Rembang h.112). Kemudian team itu, habis meneliti situs Binangun, berpendapat bahwa : ”daerah itu sudah ikut serta dalam perdagangan asing sejak tahun 700 M. Letaknya pada suatu daerah yang tak baik untuk melakukan pertanian. Karena itu Binangun kami anggap sebagai suatu bandar dagang purba. Inilah bandar pertama yang ditemukan di Jawa yang umurnya jatuh dalam milenium pertama pada awalnya atau di tengahnya” (h. 112d).

Binangun ini yang terletak di atas puncak sebuah bukit yang mudah dipertahankan karena di sebelah timur ada daratannya, sedangkan di sebelah utaranya ada teluk, di sebelah utara Gunung Lasem (Laporan Rembang 1975:112d) sudah pernah dilaporkan oleh Orsoy de Hines (1941—1947) sebagai daerah rawan dalam hal pecahan keramik.

Team Rembang telah mempertimbangkan banyaknya gerabah lokal, untuk menunjukkan bahwa daerah ini memang pernah menjadi permukiman.

Buat latar belakang sejarahnya: daerah yang pernah disurvai oleh Orsoy de Flines, termasuk Rembang, memang pernah menjadi bagian Jawa Tengah yang penting. Ada nama-nama tempat yang mengingatkan kami kepada berita-berita Cina dan lokal . Nama Waru sama seperti apa yang pernah dieja sebagai Po-lu-kia-se36), yang menurut berita T’ang tempat perpindahan keraton nenek moyang raja Ho-ling yang bernama Ki-Yen sekitar tahun 750. Nama itu pernah dibaca sebagai Waru-yasik, sedangkan Pelliot menganggapnya sebagai Waruh- Gresik atau Waruh di pantai pasir.

Loram Kulon37) di Kudus sama dengan Luaram pada prasasti Airlangga tahun 1041, yang memuat berita tentang penyerangan oleh raja Wurawari yang datang dari Luaram, Serangan ini telah memusnahkan keraton Dharmawangsa dan mungkin tindakan ini didukung oleh Sriwijaya dengan bantuan raja Jawa (Coedes 1968 : 144) Wurawari adalah sebuah tempat di Pekalongan (Schrieke 1957 a : 211 cf) .
Maka setelah kami bicarakan penemuan pecahan keramik asing di daerah ini, perlu kami mengajukan beberapa persoalan :
  1. Apakah tidak adanya keramik asing, terutama keramik Cina berarti bahwa belum ada bandar-bandar perdagangan asing sebelum abad ke 10 ?
  2. Masalah hubungan Jawa dengan Sriwijaya.
  3. Para pengarang laporan Rembang bertanya: apakah Indonesia terbelakang, karena belum ada bandar semacam Oc Eo , dan karena belum ada bukti bahwa sudah ada hubungan dengan India dan Cina (Laporan Rembang, h.112c).

Kami juga bertanya: mengapa terutama keramik Cina muncul begitu lambat? Apakah memang belum ada perdagangan dengan Cina? Tetapi sebaliknya berita-berita Cina melaporkan utusan-utusan dari tempat-tempat yang letaknya oleh banyak sarjana dicari di Indonesia. Lain tentu soalnya seandainya tempat-tempat itu yang bernama She- li- fo- she,Ho- lo- tan, Holing, She-p'o dan sebagainya harus dicari di luar Indonesia dan mungkin di Semenanjung Melayu.

Bukti bahwa memang sudah ada hubungan dengan India sesungguhnya ternyata dari prasasti-prasasti sejak abad ke 5 (Kutei dan Jawa Barat), arca-arca kuno seperti kedua arca Wisnu dari Cibuaya (abad ke 7) dan prasasti-prasasti Sriwijaya (abad ke 7). Ada juga seni bangun dan seni patung di Jawa Tengah (abad ke 8 dan 9). Lagipula ada beberapa prasasti di Jawa Tengah dari abad ke 9 yang sudah menyebutkan orang-orang asing yang berasal dari India atau Asia Tenggara.

Beberapa keramik dari Masa Han dan banyak dari Masa T’ang ditemukan di beberapa tempat di Indonesia tetapi adanya benda-benda itu belum berarti bahwa kita dapat menarik kesimpulan bahwa benda-benda itu berasal dari permukiman yang kuno atau dari perdagangan dengan Cina. Tetapi soal mengapa pada beberapa tempat tidak ada keramik Cina dan apakah hal itu berarti bahwa belum ada bandar niaga sebelum abad ke 10, dapat dijawab oleh Wolters, dalam bukunya: ”The Fall of Sriwijaya” yang pernah dikutip oleh Hall (1970,h.61-62). ” Dr O.W. Wolters baru-baru ini telah mencoba menafsirkan kenyataan itu dengan mempergunakan pengetahuan yang telah ada tentang pola-pola yang berobah di dalam perdagangan Asia, serta terutama semakin pentingnya perjalanan di seberang laut oleh bangsa Cina. Dr Wolters melihat bahwa sampai akhir abad ke 11 , Cina tergantung dari kapal-kapal asing dalam perdagangannya dengan Nanyang. Perdagangan harus dilaksanakan sesuai dengan sistem ”upeti” yang telah digariskan oleh istana kaisar dalam hubungannya dengan negara-negara asing masing-masing. Artinya, perdagangan dengan Cina tidak terbuka dan bebas untuk setiap pedagang manapun, baik orang Cina atau orang asing. Perdagangan itu terbatas kepada ”utusan-utusan pembawa upeti” yang dikirim kepada Kaisar oleh raja-raja barbar yang dianggap ”vasalnya”, atau sedikitnya kepada mereka yang disebut ”vasal”, ”demikianlah Hall.

Dr Wolters berpendapat bahwa Sriwijaya penting kedudukannya karena peranannya sebagai bandar perantara (entrepot) yang diperlukan oleh para pedagang yang berniaga ke Cina atau dari Cina.

Kemudian Hall menulis: ”(mengutip Wolters): ”Semua ini berobah selama Masa Sung Selatan (1127-1278). Ketergantungan mereka dari perdagangan laut menyebabkan pembukaan perdagangan dengan Nanyang dengan pemakaian kapal-kapal Cina dan kapal-kapal Cina itu mulai berdagang tanpa perantara lagi dengan bandar-bandar di Asia Tenggara. Misalnya ChauJu- Kua memberitakan pada tahun 1225, bahwa pedagang-pedagang Cina mengunjungi Jawa, sedangkan sebuah berita lain mengatakan bahwa mereka mengunjungi Teluk Siam. Ada beberapa negara lain yang mengikuti jejaknya dan kita dengar tentang beberapa pedagang dari Tamil dan Kairo yang berlayar ke Sumatra Utara secara langsung untuk mencari kapur barus”.

Kesimpulan apakah yang dapat kita ambil? Bahwa sebelum abad ke 12 perdagangan di Indonesia dan ke Cina kebanyakan ada di tangan para pedagang dan pelaut Indonesia sendiri. Hal ini dapat menjawab pertanyaan mengapa pecahan-pecahan keramik purba tidak ada pada situs-situs kuno (seperti di Palembang dan Riau). Karena orang Indonesia pasti memakai alat-alat tembikar buatan sendiri dan bila tiada tanah lihat (seperti di kepulauan Polinesia), penduduk memakai daun-daunan, kayu, bambu dan labu atau kerang laut38)

Adanya pecahan-pecahan keramik Cina yang purba belum berarti sudah ada permukiman Cina. Boechari39) pernah menunjukkan bahwa di Jawa terdapat pedagang-pedagang asing yang ikut serta dalam perdagangan internasional karena mereka disebut di dalam sebuah prasasti: ”Orang-orang Cham, Khmer, Thai, Burma, Srilanka dan orang-orang yang berasal dari berbagai daerah di India (yang disebut ”warga kilalan ”penduduk asing”). Kita dapat melihat bahwa di antara mereka belum ada orang Cina.

Airlangga yang menitah di Jawa Timur antara tahun 1019—1049 mempertahankan suatu politik keseimbangan kekuasaan dengan Sriwijaya. Di dalam suasana ini ia dapat mengembangkan perdagangan di laut. Orang-orang asing yang disebutkan di dalam prasastinya40) ialah : Kling, Aryya, Simhala, Pandikiria, Dravida, Campa, Remen, Kmir (dan pada tempat lain : Karnataka). Di sini pun tiada orang Cina. Rupa-rupanya pada waktu itu belum ada orang Cina yang sudah menetap, meskipun sudah ada beberapa pedagang Cina. Krom malah mengira bahwa perdagangan sudah dipegang oleh orang-orang Cina (Krom 1931 : 226). Tetapi bila ditemukan banyak sekali pecahan keramik pada satu tempat pada masa kemudian, maka hal ini menunjukkan bahwa sudah ada permukiman orang Cina yang disebut Kota Cina atau pecinaan.

2. Masalah hubungan-hubungan antara Jawa dan Sriwijaya.

Setelah kesimpulan bahwa memang ada bandar kuno pada pantai Utara Jawa Tengah, kita sekarang membicarakan hubungan-hubungan antara Jawa dan Sriwijaya. Pada umumnya Sriwijaya disebut sebagai kerajaan ” maritim ” dan Jawa sebagai kerajaan ”agraris”. Pandangan itu tidak dapat kami setujui. Karena: bagaimanakah sebuah kerajaan maritim dapat hidup tanpa suatu darah pertanian di pedalamannya? Atau bagaimanakah suatu kerajaan ”agraris” seperti kerajaan Sailendra di Jawa Tengah dapat hidup dan menjadi makmur dan membangun monumen-monumen yang megah tanpa hasil-hasil dari perdagangan lautnya? Karena bukan dari beras saja dapat diperoleh kemakmuran yang begitu besar.

Sumber-sumber yang dapat mengungkapkan masa yang silam terdiri dari prasasti-prasasti, yang kebanyakan ditemukan di Jawa Tengah pada abad ke 8 dan ke 9 pada daerah yang banyak candi dan arcanya. Tetapi hasil tanpa penelitian keramik pengetahuan kita yang hanya berdasarkan prasasti-prasasti itu mungkin tidak lengkap. Karena justru pecahan-pecahan keramik itulah yang dapat menambah bahan-bahan yang masih langka tentang kehidupan politik dan ekonomi di Jawa Tengah.

Ada juga suatu masalah yang menarik, yang selalu menggugah perhatian banyak orang sarjana: ialah perpindahan pusat kekuasaan secara mendadak dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Tetapi sebelum kita sampai kepada perincian-perincian, baiklah kami memberi suatu gambaran yang ringkas tentang perkembangan politik di Jawa Tengah antara tahun 732 dan 930.41)

Ada dua keluarga raja atau dua sayap dari keluarga raja yang bertitah selama dua abad. Raja yang paling awal hidupnya adalah Sanjaya seorang yang beragama Hindu yang menerbitkan sebuah prasasti pada tahun 732 M., ketika ia mendirikan lingga di Gunung Wukir. Beberapa tahun kemudian mulailah prasasti-prasasti Sailendra yang berlangsung sampai sekitar tahun 830 M. Berlainan dengan Sanjaya dan raja-raja yang dianggap sebagai penggantinya, mereka beragama Buddha. Mereka membangun candi Borobudur dan banyak candi yang lain. Para raja Sanjaya, meskipun hidup dalam keadaan terdesak, tetapi mereka tetap membantu dalam usaha pembangunan candi-candi keluarga Sailendra

Pramodhawarddhani, seorang putri dari keluarga Sailendra bersuamikan seorang pangeran dari keluarga Sanjaya, ialah Rakai Pikatan. Perkawinan ini mengakibatkan terhentinya kekuasaan para Sailendra di Jawa. Adiknya, Balaputra diusir dari Jawa setelah ia berperang dengan kakak perempuan dan suaminya. Ia menjadi raja di Suwarnadwipa. Namanya disebut di dalam sebuah prasasti tembaga yang ditemukan pada sebuah situs purba di wiharanya yang dibangun di Nalanda sekitar tahun 860 M.42)

Setelah Rakai Pikatan, ada beberapa raja yang lain lagi di Jawa Tengah sampai awal abad ke 10. Kemudian secara tiba-tiba setelah ada prasasti pada tahun 929 di Jawa Tengah, muncullah beberapa prasasti Raja Sindok di Jawa Timur. Beberapa sarjana sudah pernah mempersoalkan perpindahan secara tiba-tiba ini . Van Bemmele n43) berpendapat bahwa pernah ada satu letusan gunung yang ditempatkannya pada saat keraton Dharmawangsa diserang oleh raja Wurawari yang keluar dari Luaram. Schrieke44) berpendapat bahwa penduduk menjadi jemu karena harus terus-menerus memikul beban yang berat, ialah menjadi karyawan dalam pembangunan candi-candi. Maka mereka berbondong-bondong pindah ke Jawa Timur, dan hal ini akhirnya menyebabkan perpindahan keraton ke Jawa Timur juga. De Casparis45) berpendapat, bahwa karena ada perasaan takut terhadap para Sailendra yang telah diusir dari Jawa dan lagipula karena ada pertimbangan bahwa perdagangan akan lebih menguntungkan di Jawa Timur di delta sungai Brantas karena lebih dekat dari kepulauan yang menghasilkan rempah-rempah dan kayu-kayuan wangi, itulah penyebab perpindahan itu. Katanya :

”Para pedagang Jawa Timur pergi ke Indonesia bagian Timur untuk menukar beras dan beberapa hasil bumi yang lain dengan rempah-rempah dan cendana. Barang itu mereka angkut ke Sriwijaya, tempat mereka berjumpa dengan para pedagang asing. Barang mereka ditukar dengan barang-barang asing seperti emas, sutra, porselen dari Cina, pakaian dari India, kemenyan dari negara Arab dan sebagainya. Perdagangan ini membuat Jawa Timur makmur”. Demikianlah De Casparis.

Ada suatu hal yang De Casparis tidak melihat, ialah: seandainya ada rasa takut terhadap para Sailendra, bagaimana mungkin ada perdagangan antara para pedagang di Jawa Timur dengan Sriwijaya yang telah dikuasai para Sailendra sejak pangeran Sailendra, Balaputra, telah diusir oleh kakak perempuannya sendiri ialah Pramodhawardhani dan suaminya Rakai Pikatan pada tahun 856 M? (Casparis 1956). Lagipula Jawa dan Sumatra selalu bergulat untuk mendapat hegemoni di lautan dan monopoli perdagangan dengan Cina. Utusan-utusan mereka tidak pernah datang pada waktu yang sama, seperti pernah dicatat oleh Wolters46). Sriwijaya (She-li-fo-she) mengirim perutusan ke Cina dari tahun 670-742, Jawa (Ho-ling) dari tahun 640, 648 sampai ke tahun 666 dan kedua kalinya sebagai Ho-ling antara tahun 768— 818. Kemudian sebagai She-P'o dari 820 sampai ke tahun 873;Sriwijaya (San- fo- ts’i) dari tahun 904 - 983. Ada juga enam perutusan antara tahun 960 dan 988 . Kemudian ada perutusan dari Jawa pada tahun 992, tetapi tidak ada lagi selama seratus tahun, sedangkan dari Sriwijaya ada lagi antara tahun 1003 dan 1008.

Maka tidak adanya perutusan dari Jawa (873-992), jatuh pada masa perpindahan pusat kekuasaan serta masa pemerintahan raja Sindok dan raja-raja lain sampai ke Dharmawangsa. Sebab-sebab perpindahan itu adalah:

1) musibah alam atau2) sebab-sebab politik.

Boechari ( 1977) telah memperbincangkan masalah ini di dalam sebuah karangan. Ia sependapat dengan Van Bemmelen yang mengatakan bahwa sebabnya perpindahan pusat kekuasaan itu adalah letusnya Gunung Merapi. Tetapi ia tak sependapat tentang masa terjadinya musibah itu. Van Bemmelen menghubungkan musibah itu dengan ”pralaya”, ialah ketika keraton Dharmawangsa dimusnahkan pada tahun 1016/1017. Boechari menempatkannya sekitar 930, ialah ketika di Jawa Tengah prasasti-prasasti berhenti dikeluarkan secara tiba-tiba.

Kami sendiri sefaham dengan Van Bemmelen tentang letusan Gunung Merapi, tetapi sefaham juga dengan Boechari tentang waktu perpindahan keraton. Ada satu bukti: Candi Sambisari47) yang terletak di lembah Prambanan digali kembali pada tahun 1969 dari empat meter abu gunung berapi. Langgam hiasan pahatan dan arca-arca berasal dari masa Candi Prambanan dibangun atau sedikit lebih lambat. Ada beberapa petunjuk bahwa letusan gunung itu menutupi daerah luas antara Borobudur dan Prambanan (catatan dari beberapa kawan geolog).

Pada waktu letusan gunung Merapi itu banyak daerah subur, desa dan jalan dapat musnah dalam sekejap mata. Pada masa kini bila kita berjalan ke Borobudur setelah baru terjadi suatu letusan Gunung Merapi, kita dapat melihat betapa rusaknya jalan-jalan dan jembatan-jembatan oleh batu dan lava. Sekarang dengan peralatan yang modern jalan-jalan dan jembatan-jembatan dapat dibangun kembali dengan mudah, tetapi keadaannya lain pada abad ke 10. Jalan raya yang mungkin ada di sekitar Prambanan yang menghubungi ibukota kerajaan dengan bandar-bandar ramai di pantai Utara Jawa Tengah setelah musnah tetap dalam keadaan rusak. Bahwa memang pernah ada jalan raya dapat dibuktikan oleh prasasti Mantyasih, yang menyebutkan bahwa jalan harus dilindungi oleh para patih Mantyasih. Boechari berpendapat, bahwa jalan yang dimaksud itu adalah jalan raya yang menghubungi lembah Kedu dengan pantai utara liwat Parakan (Boechari 1976 : 9).

Pada hemat kami, ketika jalan raya itu musnah oleh letusan Gunung Merapi, maka para pangeran yang menjadi penguasa bandar-bandar di pantai utara Jawa Tengah, merasa bebas dari para raja di pedalaman, dan dapat berdagang dengan leluasa dengan Sriwijaya. Dengan demikian mereka tak perlu membayar sebagian dari hasil perdagangan itu kepada raja-raja di pedalaman. Raja-raja Sriwijaya masih tetap mereka hormati setelah Balaputra diusir dari Jawa , karena raja-raja Sriwijaya itu berasal dari keluarga raja Sailendra.

Raja-raja di pedalaman karena tak lagi menikmati hasil perdagangan itu terpaksa pindah ke Jawa Timur, tetapi menetapnya mereka di sana belum berarti bahwa mereka dapat mengembangkan perdagangan dengan kepulauan di sebelah timur pulau Jawa, yang menghasilkan rempah dan cendana. Ada kemungkinan besar bahwa para pangeran di pantai utara Jawa Tengah menghalangi kapal-kapal dari Jawa Timur untuk berlayar ke pulau-pulau itu . Kapal-kapal dari Jawa Tengahlah yang masih membawa komoditi ke Sriwijaya yang mengirim perutusan-perutusan ke Cina. Karena memang sejak tahun 873 tidak ada lagi perutusan dari Jawa. (tidak lama setelah Balaputra diusir dari Jawa). Terhentinya perdagangan antara Jawa dan Cina berlangsung sampai ke tahun 992 ketika seorang pedagang Cina sampai di Cina bersama tiga orang duta Jawa dan rombongannya.

Utusan pertama sejak lebih dari satu abad rupa-rupanya jatuh pada masa ketika Raja Dhannawangsa memperlihatkan agresinya lawan Sriwijaya. Seorang duta dari Sriwijaya yang kebetulan ada di Cina tak sempat kembali ke negerinya karena diduduki oleh tentara Jawa antara tahun 990—992. Para duta dari Jawa yang tiba di Cina pada tahun 992 mengatakan kepada tuan rumahnya bahwa negara mereka dan San- fo- ts'i selalu berperang.

Hilangnya satu abad dari medan perdagangan dengan Cina mungkin disebabkan oleh monopoli para pangeran di bandar-bandar Utara Jawa Tengah yang menjadi sekutu Sriwijaya. Inilah sebabnya pecahan-pecahan keramik berasal dari masa sekitar abad ke sepuluh sampai ke abad ke 17. Seandainya seluruh perdagangan itu pindah ke Jawa Timur pada abad ke 10 bersama

pusat kekuasaan, pecahan-pecahan itu tak akan memperlihatkan kesinambungan yang demikian.

KESIMPULAN

Banyaknya pecahan keramik pada sesuatu tempat berarti bahwa ada banyak penduduk dan mungkin sudah ada pecinaan.

Tidak adanya pecahan keramik pada abad-abad sebelum dinasti Sung ( 1127 - 1278) seperti misalnya di Sumatra tidak berarti bahwa tidak ada permukiman karena orang Indonesia memakai bambu, batok kelapa, kayu, labu air dan kerang untuk alat-alat rumah tangganya. Seperti pernah dikatakan oleh orang Cina tentang P'o-ni: karena tidak ada tanah liat penduduk memasak dalam bambu dan daun palem. (Krom 1931, h. 236).

Melihat kenyataan-kenyataan di atas, teranglah bahwa pecahan-pecahan keramik sangat berguna untuk menetapkan angka tahun situs-situs permukiman, bahkan untuk menemukan hubungan-hubungan dagang dan politik.

Pemakaian keramik lokal maupun asing pada upacara-upacara berarti bahwa penduduk Indonesia menganggap benda-benda itu sebagai penolak bahaya dan dalam hal keramik asing sebagai status-symbol.

CATATAN


1). Orsoy de Flines : 1946 1947, 1948, 1949, 1972.

2). Abu Ridho : 1977, 1978.
3). Van Heekeren : 1958, 1974.
4). Soejono, 1977.
5). Beberapa keterangan juga diperoleh dari "Marlavans in Indonesia"publikasi Himpunan Keramik Indonesia.

6). Van Heekeren, The Stone Age in Indonesia, h. 151.

7). Van Heekeren, The Bronze-Iron Age in Indonesia, h. 80-89; Urn cemeteries.
8). Bernet Kempers, 1977, pl. 175, 176 (Mendut) pl. 179. Prambanan. pl.177.
9). Bernet Kempers, Ancient Indonesian art, pol. 248. Arca perujudan seorang ratu Majapahit. Dari Candi Rimbi.
10). Kami bertanya; apakah abu jenazah raja dan ratu disimpan di dalam martavan atau pot-pot keramik asing yang lain seperti sisa-sisa badan para kepala suku di Kalimantan atau para raja di Sulawesi sebelum menjadi Islam. Soekmono dalam disertasinya "Candi. Fungsi dan Pengertiannya" (1976) berpendapat bahwa abu jenazah dilempar ke laut seperti di Bali, tetapi kami pernah melihat guci-guci abu jenazah para raja Kamboja di dalam istana raja di Phnom Penh. Maka timbullah pertanyaan pada kami apakah kebiasaan begitu ada juga pada raja-raja Majapahit? Jika begitu kita dapat mengerti mengapa arca perujudan raja di Masa Majapahit diapit oleh dua martavan. Mungkin abu jenazah disimpan di dalam guci (seperti di Sulawesi) jadi tidak di dalam kuil sehingga tidak ada abu manusia di dalam kotak berlubang sambilan yang ada di dalam sumur di bawah arca.
11). Uka Tjandrasasmita,: The Islamic antiquities of Sendangduwur h. 10. Tetapi mastaka di Senangduwur terbuat dan tembaga.
12). Mme Viviane Sukanda-Tessier ( 1977) h. 1128:Le triomphe de Sri en pays soundanais.
13). De Flines (1949) p. 37-3 8 : S. Adyatman. (1977 )
14). Abu Ridho (1977) , pl. 88.; Berita Penelitian Purbakala no. l (Demak) g. 122
15). Bernet Kempers, ( 1959 ), pl. 282.
16). De Flines (1950), h. 12. Adanya porselen yang halus di Bone menimbulkan kesan, bahwa Bone pernah menjadi pusat yang terpenting di
seluruh Sulawesi berabad - abad lamanya. Kami bertanya apakah toponim yang dieja oleh Orang-orang Cina sebagai P’o-Ni,yang diperkirakan harus dibaca sebagai Brunei di Kalimantan Barat— laut, mungkin Bone di Sulawesi Selatan. Juga deskripsi negara P’o-Ni cocok dengan keadaan di Bone. Misalnya: karena tidak ada tembikar mereka memasak dalam bambu dan daun palem; mereka mengirim surat yang terdiri dari daun kepada Kaisar Cina (Krom (1931)., h. 236. Raja memiliki armada yang ada 100 kapal perangnya. Krom (1931), h. 305. Mereka maju dalam hal berhitung dan akuntansi (Krom (h. 399).
Keterangan ini cocok dengan kenyataan bahwa: Orang Bugis sudah lama, malah berabad-abat lamanya menjadi pelaut, mereka memiliki aksara sendiri, dan naskah-naskah mereka disebut ”lontara”, artinya daun tal (semacam pohon palem). Akuntansi tak mengherankan dari bangsa yang berniaga dan pelaut. Masak dalam bambu dan daun masih dilakukan di Sulawesi.
Di dalam karangan Grace Wong (1978) tentang porselen biru-putih ada urutan nama bandar-bandar yang disinggahi kapal-kapal Cina ketika sudah ada jalur laut sebelah Timur:
ialah: San-yu, Ma-ri, Hai- dan (di Philippina), Bo-ni dan Mao-luo-ju (Maluku) dan di dalam berita lain: San-dao, MaTi-lu, Su-lu (di Philippina), kemudian: Dong-chong-gu-la (Tanjungpura?) atau Donggala?) Wan , nian-gang (P’o-ni), Wen-lao-gu (Maluku) dan Wen- dan (Banda?).
Kesan bahwa P’o-ni atau Bone diperkuat karena letaknya antara Sulu di Philippina Selatan dan Maluku.
17). Van Heekeren: (1958), h. 88.
18). Van Heekeren (1958) , h. 80.
19). Van Heekeren (1958) , h. 84. Noorduyn (1955) h. 92. Hadimuljono(1972) h.7. menyebutkan nama anumerta seorang Bone, ialah "La Tenrirawe Bongkangngeri Gucinna (yang tidur dalam gucinya. Dari Sejarah Wajo (1963) dan Sejarah Goa (1967) oleh A . A . Patunru.
20). Hadimuljono h. 12. Ia menyebutkan juga beberapa cara pemakaian yang lain lagi.
21). Nagarakertagama, bait 14:4, 5. Pigeaud 1960) I, h. 12. Hubungan dengan pulau Jawa mungkin sudah ada lebih dahulu, ialah pada masa raja-raja Hindu dan Buddha di Jawa Tengah (abad ke 8- abad ke 10) Orang dapat kesan bahwa dua inskripsi yang berbahasa Melayu kuno diterbitkan oleh raja-raja yang berdarah ”asing” yang berlum tentu
asal dari Sumatra, tetapi mungkin dari Sulawesi. Orang Bugis mungkin menjadi tentara sewaan di laut untuk raja-raja di Jawa . Mungkin ada yang kawin dengan putri-putri Jawa.
22). Lihat A.C. Kryut (1938), h. 422-494. Sulawesi suatu contoh yang baik sesuatu masyarakat yang telah berhasil mengembangkan pola sendiri dalam agama dan lembaga kenegaraan tanpa mengalami proses ”Hinduisasi”, dan konsep tentang dewa-dewa dan tentang tenaga sakti seorang raja asli mungkin seperti di Polynesia yang rajanya memiliki ”mana (tenaga yang seperti sakti).
23). Coedes: The Indianized States of Southeast Asia.
24). Krom (1934), De Casparis, (1956).
25). Braddell: Notes on Ancient Times in Malaya,
25). Braddell: Notes on Ancient Times in Malaya (1951)h. 1-27).
26). Moens, (1937).
27). M.C. Chand. Kertas Kerja pada "International Association of Historians on Asia (IAHA) di Yogyakarta (pada ”Sixth International Conference”).
28). Archaeological Research in Sumatra (1974)
29). Laporan Penelitian Arkeologi di Sumatra (1973).
30). Laporan masih dipersiapkan untuk Berita Penelitian Arkeologi.
31). Seperti orang P'o-Ni pada abad ke 10, Krom (1931) h.236.
32). Survai Sumatra Utara (1976), h . 14: ini mungkin tempat yang sama seperti yang dahulu dipakai oleh sebuah vihara (kebiksuan) Buddha Mahayana.
33). Biaro Bahal I . Survai Sumatra Utara g. 16. Bernet Kempers (1959) g. 223.
34). Ibukota Sriwijaya mungkin berpindah-pindah beberapa kali. Musibah alami atau penghancuran oleh musuh dapat mendesak para raja untuk mencari tempat kediaman yang lain; apalagi tetap tinggal pada satu tempat yang pernah mengalami musibah dianggap sial. Mungkin, seperti raja-raja di Jawa mereka pun percaya bahwa ada ”cyclus-cyclus” tertentu. Lihat Boechari (1977) yang menunjuk ke Schrieke (1957): Ruler and Realm in Early Java.
35).Laporan Penelitian Rembang (1957).
36).Krom (1931)h. 145. Coedes (1968)h. 90, 107, 301.
37).Krom (1931), h. 239, 240.
38).National Geographic Magazine, December, 1940, h . 745 ( di depan gambar berwarna) ”Bekal untuk di laut: umbi-umbi, buah-buahan, kacang-kacangan, ikan kering dan labu yang berisi air, memungkinkan
orang-orang Polynesia untuk hidup terus pada perjalanan yang dua bulan lamanya".
39). Boechari (1976), h. 7.
40). Krom, (1931), h. 264.
41). Inscripties uit de Çailendra-tijd.
42). De Casparis (1950), membandingkan pada halaman 133 daftar Sanjayavamça dengan Çailendravamça. Raja-raja Sanjaya disebutkan di dalam prasasti Belitung, 907 M . Krom (1.931 )h. 187.
43). Van Bemmelen (1947). Serangan kepada keraton Dharmawangsa dahulu ditetapkan oleh para sarjana pada tahun 1006 M., sampai Damais merobah angka tahun itu menjadi 1016/1017 Bulletin Ecola Française d'Extieme Orient (1952), h. 64: 2.
44) .Schrieke (1941) 1957 b.
45) .De Casparis : (1950) dan (1958) : Erlangga.
46) .Wolters (1967) h. 214.
47) .Sri Kusumobroto: ”Preliminary Note on Sambisari” (1969).

A FEW OBSERVATIONS ON THE USE OF CERAMICS
IN INDONESIA*


INTRODUCTION

In Indonesia the study of ceramics is still in its initial stage. Mr. Orsoy de Flines1) who started a collection of foreign ceramics before World War II, wrote a few reports and a catalog. Mr. Abu Ridho 2) who has followed in his footsteps as curator of the ceramics collection at the Museum Pusat in Jakarta, has written a few articles and the text of a large art album of the collection.

Local pottery has been mentioned and described by prehistorians who made surveys and carried out systematic excavations. Dr. H. R. van Heekeren 3) was one of them, and our Indonesian archaeologists have had the advantage of working with him and learning from him whenever he was here in Indonesia. Dr. R. P. Soejono 4) at present the head of our National Research Centre of Archaeology, studied for many years under him when he was compiling his data on burial methods in prehistoric Bali and writing a doctoral thesis. In this thesis, Dr. Soejono mentions and describes the earthenware pots which served as funeral furniture in graves together with other objects. The younger prehistorians are also studying ancient ceramics in great detail. It is now accepted that other fields or archaeology can also benefit from the study of chance finds of excavated ceramics and ceramics sherds. Excavations recently carried out by our Classical Archaeology Division, headed by Mrs. Satari and by our Islamic Archaeology Division, headed by Mr. Hasan Ambary, have yielded many ceramic sherds which are now being intensively studied in order to be able to date the excavated sites.

An attempt is made in this paper to coolect data5) that relate potsherds weth the problems of the historical sites where they were found.



*  Paper presented at the Symposium on Trade Pottery in East & South- east Asia Hongkong, September 4-8,1978.

LOCAL CERAMICS

PREHISTORY

Manufacture of earthenware pots had already started in the mesolithic or sub- neolithic stage ( Van Heekeren 1972)6 In this period people were already settling down on seashores, lakes or riverbanks, and in caves and rockshelters.

In the Gua Lawa cave near Ponorogo (Central Java), cord-marked potsherds were found at a great depth together with bone spatulas. These spatulas, says Van Heekeren, were used for peeling wild or domesticated yams and tubers. There were also ill-preserved human skeletons, but the only funeral gift was a necklace of drilled shells around a child's neck. It appears that at that stage pots made by the paddle- and anvil method were not yet used as funeral gifts.

Kitchen utensils were of course still in the form of leaves to eat from or to wrap and cook food in, and there were bowls of coconut husk. Water containers were provided by bamboo and gourds or-, perhaps, large shells. Progress in pottery manufacture started at the Neolithic Stage when people lived in permanent settlements and practiced agriculture. Van Heekeren found at Kendeng Lembu, East Java polished stone rectangular adzes, and a great number of plain potsherds. This site does not seem to have been a neolithic settlement but the site of a neolithic workshop; no traces of village life were found.

In Kalumpang, upstreams on the Karama river (N.W. Sulawesi) 706 plain baked brown potsherds were found with rectangular adzes, ground oval axes, spearheads, arrow heads, knives, unfinished stone adzes and "planks", one stone bark cloth beater, etc. One sherd had incised stylized human figures.

During the Bronze- Iron Age, which coincides with the time when the first Indonesian toponyms appear in foreign records, around the beginning of the Christian Era, pottery was evidently used for burial purposes. Van Heekeren investigated large ceramic jars found at Anyer (west coast of West Java). They contained skeletons and gifts of earthenware, consisting of one jar, 2, 92 mm high, dishes, and a globular bowl. In the same area a systematic excavation carried out by himself yielded potsherds, probably belonging to urns, and fragments of human bones and skulls.

Prominent people seem to have been buried in flexed position in large jars, whereas common people were buried in the earth. This site was obviously an urn cemetery. Van Heekeren dates this graveyard back to the second or third century A.D. (Van Heekeren 1958)7).

There were also urn burials in Sumatra, in Lesung Batu, Tebing Tinggi (S.W. Sumatra) The urn contained human bones, and in one of them was an empty brown- red beautifully polished jar. The decoration o f the jar consisted of meanders and fishbone motifs identical with motifs on bronze objects.

In Sulawesi there were several places of urn burials. In Central Sulawesi people were buried in stone urns, called ”warugas”. The dead were provided with pottery, and these warugas were found near stone statues. There was even a tall (111 cm high) earthenware urn. Here we are dealing with secondary burials. The remains of a person were first buried or kept in some place and afterwards put in an urn.

Van Heekeren also refers to a report by Schroder of 1912, concerning three earthenware urns found in the south western part of the island of Salayar. The contents were broken human bones and ornaments; beads of semi- precious stones, a ring, three bracelets, an ear- ring of bronze, and a fey golden leaves (only in one of the three urns).

Most important was the find of an urn cemetery on the island of Sumba. The urns were all globular jars, some with straight necks, and mouths of varying width, others with necks curving outwards to a lesser or greater degree. The covers were sherds, broken pots, inverted jars or bottles. The flasks were highly polished red or darkbrown with long slender necks. As the jars were decorated with motifs usually found on bronzes, Van Heekeren dates this cemetery to the bronze-iron age, though there are quadrangular stone adzes among the funeral gifts. The find of a spindle indicated the existence of weaving. There were many skulls among the human remains, which was proof of a secondary burial.

In Gilimanuk (Bali), Soejono (1977) excavated graves, filled with skeletons. Among the funeral gifts were bronze axes, ornaments and earthenware pots. The excavations were conducted several times throughout a period of more than ten years.

HISTORY

Local pottery was still produced and used in the period when there were already contacts with India and China and foreign ceramics were already finding their way in Indonesia, though still sporadically. On reliefs of 9th century temples in Central Java, for example on the Borobudur and Prambanan, local pottery is seen to be used as water containers. A famous scene on the Borobudur is women who are fetching water from a pond.

They carry small round pots on their heads. The Buddha on another scene is presented milk in a pot by Sujata before he reaches Nirwana. Another scene on the Borobudur reliefs shows pots being stacked in a shanty (Bernet Kempers 1977) 8 and on yet another scene pots are being made by hand.

Excavations on temple compounds also yield earthenware pots. The sacred spot of the compound has a buried pot as a temple depot. Also on eastern Javanese reliefs we see local pottery as water containers. Trowulan, the site of the ancient town of 14th century Majapahit, still contains earthenware pots in the soil. One excavation produced a bottomless earthenware pot which had been the top of a well. Trowulan is also famous for its terracotta figurines and ornaments, which at one time embellished the houses of Majapahit.

These statues from the Majapahit period which were intended as images of worship of deceased kings and queens had lotus plants rising from pots flanking the royal figure.9) In the case of Singhasari royalty, lotus plants were rising from their tubers. It appears that the Majapahit statues had representations of Chinese pots, apparently martavans, which in Kalimantan are still used as containers of human remains. Perhaps the pots were associated with death (pots) and life (lotus plants) rising from death.10) On ancient mosques in Java, which had roofs with many tiers, the top piece was made from terracotta, it was called mastaka.11)

MODERN TIMES

Though modern technology has entered Indonesia, local pottery is still produced and used in large quantities. In the markets there are always stalls which sell large earthenware pots as water containers. Dishes are often still cooked in earthenware pots (kendil) and it is supposed that certain dishes, such as the gudeg, a curry of young jackfruit, specially popular in Yogyakarta, taste better when they are cooked in an earthenware pot than in a metal pan. The serabi, which is a kind of pancake is baked in an earthenware pan with a lid on top. The ikan pindang, is fish, cooked in large earthenware pots and kept inside for sale.

Incense burners are also made of clay, and so are flowerpots. The kendi (jug) still keeps the drinking water cool in many households. When the child is born, the placenta is placed in an earthenware pot and buried. It is considered to be the younger brother or sister of the newborn baby.

During weddings in Java, when the bride and groom meet in the ceremonial way the bride has to wash the feet of the groom. Water perfumed with flowers is then poured over his feet by the bride from an earthenware kendi (jug) after he has stepped on an egg. Before the funeral, earthenware pots are broken and shattered on the path the body has to go before entering the funeral carriage. For sacrifices earthenware pots are still used, Sometimes only the potsherds are offered, as in the ”copper offering” in West Java. This offering is held when a house is about to be built particularly when the ground is sloping southwards. As the south is associated with Kala and the red color, everything has to be red. Flowers are offered on a red- copper plate, together with a red chicken and sherds of red pottery.12 Local ceramics, besides being household utensils, are therefore also associated with tradition, sacred places and sacred situations.

FOREIGN CERAMICS

A great number of foreign ceramics, are in the Museum Pusat in Jakarta. They have been decribed by De Flines (1949 and 1974) and by Abu Ridho (1977). There are even a few Han ceramics. Foreign ceramics have been found all over Indonesia. It seems that there were specially great numbers of them in the islands where the much desired commodities were produced or traded such as benzoin and camphor in North Sumatra, pepper in South Sumatra, gold in Central- and West Sumatra, spices in the Moluccas, and sandalwood and other aromatic woods in the islands east of Bali.

Foreign ceramics could at first have been used for barter or as presents to prominent people. Only later were imported ceramics used as household utensils in the form of plates, bowls, vases, incense burners, etc. This was then the cheaper ware.

In some places ceramics were used for burying the dead. This practice was found at Kalimantan where whole cemeteries with ”martavans” were excavated13)These martavans, originally used to ferment cassave or rice (tapai) or to contain foods or water were then associated with death in the tradition of the prehistoric Indonesian ancestors. The practice was also found in Sulawesi but for kings and prominent people.

In Java there was a special use for imported porcelain. Tiles were inserted in walls for decoration in ancient Majapahit (found in Trowulan, see Abu Ridho)14) In the walls of the mosques at Demak, decorative tiles were also found. In Cirebon, porcelain dishes are inserted in the walls of the buildings on the Sitinggil compound of the keratons of the Sultan Kasepuhan and Kanoman.

On the walls of 14th century Candi Panataran in Blitar, East Java, there are medaillions with decorative motifs mostly mythical animals; this could have been under the influence of the imported dishes’ decoration.15) The habit of inserting porcelain dishes in walls is still found on some temples of Bali.

Among the heirlooms kept by Indonesians are often foreign ceramics. They receive the same treatment as krisses and lances: at set times they are taken out of their storage place and given a bath in water perfumed with flowers. The problem is now to ascertain; since when have foreign porcelain pieces been used for daily and ceremonial purposes in Indonesia? Does the presence of great numbers of porcelain sherds reveal the presence of Chinese or was it only because of the intensive trade with China? These questions will now be discussed.

CERAMICS WHICH CAN BE USED TO REVEAL THE PAST

Ceramics, when they are still whole pieces are-, of course, nice to behold, but they cannot tell us, where they were originally used in Indonesia after having arrived from abroad. I n the course of time they could have changed hands several times. In only a few places, such as South Sulawesi ceramic pieces have been dug out from the soil. Ceramic sherds, if found in great numbers on ancient sites, can also help to date the site and reveal certain aspects of economic or social life in the past. We have selected here three areas, where many ceramic sherds have been found and where actual research and excavations have been carried out. The areas are: A. South Sulawesi, B. Palembang and Riau and C the eastern part of the north coast of Central Java.

A. SOUTH SULAWESI

In 1948 Orsoy de Flines analysed ceramics and ceramics sherds found in several parts of South Sulawesi. Most of the finds could be dated from the 13th till the 18th century; one however, belonged to the period before the 10th century. In Bone bowls, boxes and dishes from East China and Thailand were found; they were manufactured in the 14th and 15th centuries. A small urn (half porcelain, oblong box ) was filled with the remains of bones. The urn came from Fu-kien, in the second half of the 16th century. In Watampone, 10 percent of the sherds were originally from finer pieces from Central- and Eastern China and comprised porcelain and porcelain- like earthenware from the 14th and 15th centuries of Lun Tsuan, old Te- hua, Yingtsing and Tsze Tseu. ” No ceramics for commoners” was his comment.16

A systematic excavation was carried out in 1970 by Uka Tjandrasasmita at Takalar. The dig was sponsored by a group of distinguished persons interested in the study of porcelain, several of whom later on joined or helped to found the Ceramic Society. Though not so many objects were found (the ceramics being inexpensive wares), the conclusion drawn from the research was quite important. For now it could be proven that the ceramics found indeed served as funeral gifts, to be buried together with bodies.

Until that time illegal excavators had dug up pots and scattering the human remains, and dissociating them from the funeral gifts. The ceramics from this site were from the 15th-16th centuries A. D. and included Sawangkhalok and Annamese as well as Chinese ware. As the skeletons were furnished with inexpensive wares, the inference was that commoners were buried in graves, whereas prominent people were buried in foreign ceramic pots. This reminds us, of course, of the jar- burials in Anyer (see above)17, where prominent people were buried in jars and commoners in graves. In South Sulawesi, however, the bodies were buried in foreign ceramic pots. Perhaps ceramics were a status symbol in South Sulawesi.

Van Heekeren refers to a report by Van Vuuren in 1912, who found urns in which the ashes of Buginese kings were buried even as late as the 14th century.18 Cremation of Buginese kings is mentioned in historical manuscripts, written by the Buginese themselves,. The Buginese, though lacking inscriptions on stone and copper, have left many manuscripts, which they called: ”lontaras”. They recorded anything from administrative measures, political events, wars and mariages in their diaries and chronicles. In the Chronicle of Wajo (Noorduyn 1955), a principality in South Sulawesi, it was recorded that a king was cremated lying on top of his shields. It was for this reason that he received the posthumous name of ”Matinroe rikannana” (he who is resting on his shield). The ashes were afterwards put in a pot. ”It was perhaps the last cremation of a Wajo souverain”, was Noorduyn's comment.19

This was in the period when Islamization of North Sulawesi had begun. Moslems do not cremate their dead, but bury them. Hadimuljono, saw in Soppeng, on the grave of a deceased king, a ceramic piece as a tombstone. Ceramics were in the past also broken when an oath was sworn during the closing of a treaty between two kings. The words then spoken are: ” If this treaty is broken, so will the party breaking the treaty be destroyed for seven generations” (Hadimuljono 1978)20

How does Sulawesi fit in the national historical context? Though there are no inscriptions, the area must have been in contact for a long time with Java,21 Prapanca, the author of the Nagarakertagama, written in 1365 in praise of his king, Hayam Wuruk of Majapahit, lists the principalities in the area outside Java. One group is. Bantayan, Luwuk , Uda- Katraya, Makasar, Butan, Banggawi. Kunir, Galiyao and Salaya, all of which can be identified as states in South Sulawesi under Majapahit's suzerainty. This means that the princes were expected to pay homage, bringing produce of the country to Majapahit at least once a year. This could explain the occurence of names and titles, borrowed from Hinduism, though the people were neither Hindus nor Buddhists. For example, the god was called Dewata, the kings were called Batara. The first man, descending from heaven was Batara Guru who married the woman coming from the underworld, named ”We Nyuli Timo ” (Noorduyn, 1955; 48). The Datu of Luwu was named Dewaraja or Rajadewa (p.70). They knew a creator and several other gods. The same is the case with Toraja tribes in Sulawesi.22) Those people who were neither Hindus nor Buddhists were not mere ”animists” but had an established pantheon, the gods of which they prayed to or whose names they called as witnesses. The kings embraced Islamic religion rather late compared with other parts of the Archipelago, only in the beginning of the 17th century. Until that time they still cremated their kings, which could also have been under the influence of Hindus or Buddhists and perhaps even Buddhist Chinese. The presence of so many ceramics and fragments clearly indicates the existence of a thriving trade with China. As Sulawesi was on the way between the spice islands (Moluccas) and the sandalwood islands and China, it would be natural to expect a thriving seaport at South Sulawesi. Though the people knew no Sanscrit, they had the advantage of possessing their own written characters with which they could keep their accounts and write their diaries, chronicles etc. Perhaps principalities of South Sulawesi were also mentioned in the Chinese annals, but if so, the transcriptions of their names remain to be investigated.

B. PALEMBANG AND RIAU

Though these two places do not form one area, we have nevertheless taken them together in connection with the location of the ancient 7th century Sriwijaya. It was G. Coedès23) who identified Palembang as the ancient site of 7th century Sriwijaya (Cheli- fo-che), where most of the inscriptions are found. Though many scholars have accepted his view Krom24), De Casparis. Wolters) there are still a few who seek the ancient site in an other place. Moens25), referring to I-tsing's information that in the city of Sriwijaya a man was casting no shadow at noon, located it in Muara Takus near the equator (0.20N.W.) which would fit the description. Roland Braddell26) located Sriwijaya on the Malay Peninsula, while M.C. Chand 27) locates it in Southern Thailand, in the Chaiya area.

In 1974 a team composed of Indonesian archaeologists and three archaeologists from the University of Pennsylvania, including B. Bronson, carried out a systematic excavation in several spots of Palembang where they expected to find evidence of 7th century habitation, and especially in the form of ceramic sherds. The results were negative, for testpits at Bukit Seguntang, Air Bersih, Geding Suro, and Sarangwati yielded only Ming porcelain o f the 15th-l6th centuries28)

A trial excavation carried out by the same team near the site of Muara Takus (Riau) produced similarly meager results. Again there were no 7th century ceramic sherds.29) The same results were obtained by a team from the Pusat Penelitian Purbakala (The National Research Centre of Archaeology) in 1976; only Ming porcelain sherds were found.30)

Does this mean that Sriwijaya was neither in Palembang nor near Muara Takus? Or could there have been another reason for the absence of the debris which should have been left behind by a city inhabited for centuries? Or should there have been excavations on other spots, as, for example, on the bank of the Musi river? Or should one look in the mud or water, for towns and villages situated on river banks are flood-prone.? Even one flood can destroy a whole area, as we still see happening in Sumatra. Or, is it right to expect Chinese and other porcelain as early as the 7th century?*

We have some suggestions to make: perhaps the thousand monks who according to I - tsing, were studying in Sriwijaya at the end of the 7th century were not Chinese but Indonesians. They could have used bamboo and leaves for their meals31), and coconut husks, seashells, gourds, and bamboo for their water. They did not build stupas of brick, for in a tropical rain-forest wood is used. The sanctuaries and monasteries were made of wood with grass and palm-leaf roofs as we still see in Bali. The "cells" for the monks would have looked like the very simple and modest wooden huts on stilts which one still encounters today in a few pesantrens (Islamic boarding schools) in North Sumatra (South Tapanuli). There is a very large pesantren at Purba Baru, South Tapanuli, our survey team happened to pass by in July 1978. There are 2000 students living there. Every two students share a hut where they cook, eat, study and sleep. We found another pesantren of the same style at Padang Lawas in 1975.32) There the compound, with the same kind of modest huts, was located near Biaro Bahal I, a brick temple which dates back to perhaps the 13th or 14th century.33)

The monastery or monasteries of Sriwijaya, having been built in the same simple style, would not leave much debris, nor would the " city " which was either on the bank of the river or even on the river. The people would have lived in the same way as the people of Sungsang, a village partly on the water and on the riverbank on the mouth of the Musi, 90 Km from


  *After writing this paper many porcelain sherds from period prior to the tenth century were found in the Talang Kikim region at the foot of the Bukit Seguntang. Palembang. We visited Sungsang in July 1978. As regards Muara Takus (Bernet Kempers 1959 pi. 198), the brick temples we see now are not necessarily the same as those of the 7th century. The main compound could have been somewhere else, while in the 7th century one would expect wooden buildings for temples and monasteries. Again, even though Muara Takus were the sacred place for worship and pilgrimages, the capital was not necessarily there. In Java the capital of the 9th century Sailendra kingdom was perhaps not near the Borobudur but rather in the plains of Prambanan. In 14th century Majapahit, the royal palace was near Trowulan, while the king went to pray at sanctuaries in Malang and Blitar. Another possibility is that the capital of Sriwijaya was not always in the same place34)

C. THE NORTHEASTERN PART OF CENTRAL JAVA.

Orsoy de Flines wrote a report in Oudheidkundig Verslag 1941-1947 on research he carried out in 1940 in a few places of the Northeastern part of Central Java. The areas where the survey was made consisted of the Kabupatens of Blora, Rembang, Pati, Jepara, Kudus and Grobogan. These enquiries were the result of a request by Dr Stutterheim, who had become head of the Archaeological Service, in-order to examine the soil around the legendary area of Medang Kamulan (Medang) in the eastern part of Grobogan. The results were negative: there were only a few ceramic sherds of the 9th to the 10th century. Surprisingly, however, numerous sherds were found in the teak forest, datable from the end of the 8th till the 11th century.

In some villages in the same area there were many finds, in other places very few. The finds were sometimes Chinese and sometimes Annamese or Sawangkhalok. The sherds could be dated from the 9th to the 17th century, This evidence leads to the conclusion that the whole area had been inhabited for a long time. The problem of the age   of these settlement, was taken up in 197535)A team comprising archaeologists from Indonesia and the U.S.A. carried out excavations in the area of Rembang. They examined 50 sites and made 40 collections of local and foreign ceramics. There were four groups of foreign ceramics: 1. late T’ang- Sung, 2. late Sung- Ming. 3. Ming and some Ch’ing, 4. Ch’ing and European.

The authors of the report wondered ”why does evidence of commercial contacts with China and India appear so late.? In Thailand and South Vietnam such contacts were intensive as early as A.D. 200 when large cities like Oc Eo had already begun to appear. So is it possible that Indonesia can have lagged 400-500 years behind the mainland?”(p. 112c). The team after researching the Binangun site thought, however, that this part had been involved in foreign trade since A.D. 700. ” It is located in an area which is not good for farming. And so we believe the Binangun complex of sites to be an ancient trading port. It is the first to be located anywhere in Java that can be dated to the early or middle first millenium, ( p . 112d). Binangun, which is located on a defensible hilltop and an area of flatland on the eastern and northern side of a small bay west of Gunung Lasem (Rembang report 1975: 112d), was reported by Orsoy de Flines (1941-1947 ) to be poor in foreign ceramic sherds. The Rembang team also took into consideration the presence of numerous sherds of local ceramics as evidence of settlements.

The area surveyed by De Flines, including Rembang, is indeed an interesting part of Central Java. There are toponyms, which remind us of Chinese and local records. Waru is a name similar to that transcribed as Po-lu-kia-se36 which was the place towards which the ancestor of the king of Ho-ling moved his capital, situated in the east, it was read as Waruh Yasik while Pelliot thought it to be Waruh Gresik or beach of sand.

Loram Kulon37 in Kudus is the same name as Luaram in the incription of Airlangga of 1041, in which it was stated that the Palace of King Dharmawangsa was attacked by the enemy king of Wurawari who came out from Luaram. This attack, which destroyed the palace, could have been sponsored by Sriwijaya through a local King of Java (Coedes 1968: 144) Wurawari is a place in the Pekalongan area (Schrieke 1957 a: 211ef)

Two important problems arise from the finds of foreign ceramics in this area.
  1. Does the absence of early Chinese ceramics imply the absence of ancient trade ports before the 10th century?
  2. The problem o f Java and Sriwijaya.

1. The authors o f the Rembang report wondered whether Indonesia was lagging behind, for there was no such port as Oc- eo and because there was no evidence of commercial contacts with India and China (Rembang 1975: 112c). We indeed may wonder why in general the foreign ceramic sherds, particularly those from China, appear so late. Was there no trade with China? But the Chinese annals report embassies from the Indonesian Archipelago, unless of course all the famous toponyms such as She-li- fo -she, Ho-lotan, Ho-ling, She - p’o, etc, were outside Indonesia and perhaps on the Malay Peninsula. But evidence of some kind of contact with India since the 5th century is in the shape of the 5th century inscriptions of Kutai and West Java, early statuary and, later on, the fine architecture and sculpture of Central Java and the inscriptions of the 8- 9th centuries, which some times mention foreigners from India or Mainland Southeast Asia.

Some ceramics of even the Han period and many of the T'ang period have been found all over Indonesia. But these few pieces do not make us conclude the existence of early settlements or are not yet evidence of trade with China. However, the solution can be found in Wolters' book on the fall of Sriwijaya, referred to by Hall (1970: 61-62).

”Dr O.W. Wolters has recently attempted to interpret the evidence by means of what is known of the changing patterns of Asian trade, and especially the growing importance of Chinese overseas voyages. Dr Wolters observes that, until the end of the eleventh century, China was dependent on foreign ships in the commerce with the Nanyang. Trade had to be carried on according to the ”tributary” system laid down by the imperial court in its dealings with individual foreign states. That is to say, trade with China was not open and free to all merchants, Chinese or foreign. It was restricted to the ”Tribute” missions, sent to the emperor by his ”vassal” barbarian rulers, or at least to the so-called vassals”.

Dr Wolters suggests that the importance of Sriwijaya lay in its role as an entrepot needed by merchants trading to and from China. ”All this changed during the period of the Southern Sung (1127 - 1278). Their dependence upon seaborne trade led them to open the trade to the Nanyang with Chinese vessels. There was a great expansion of the Chinese mercantile marine and Chinese vessels began to trade directly with South-East Asian ports. Chau Ju - Kua, for instance, mentions in 1225, that Chinese merchants were visiting Java, while another source mentions that they were visiting the Gulf of Siam. Others followed their example and we hear of Tamil and Cairo merchants trading directly to North Sumatra for camphor.”

What can we conclude? Prior to the 12th century the trade in the archipelago and perhaps even to China was mostly in the hands of Indonesian traders and navigators. This may be the reason for the absence of early Chinese porcelain sherds on ancient sites. For Indonesians would probably use their own earthenware and when clay was lacking (as on the Polynesian islands), they would make use of leaves, wood, bamboo, and gourds38)

The presence of early foreign ceramic sherds does not however, imply the presence of Chinese settlements. Boechari39)points out that in Java foreign merchants were engaged in international trade as they were mentioned in an inscription: Chams, Khmers, Thais, Burmese, Ceylonese and Indians from several regions of India (the so-called ”wargga kilalan”-foreign settlers). We notice that there were no Chinese among them.

Airlangga who ruled East Java from 1019 to 1049 maintained a policy of balance of power with Sriwijaya. In this atmosphere of peace he could promote seaborne trade. Foreigners (wargga kilalan) in his inscription were40);Kling, Aryya, Simhala, Pandikiria, Dravida, Campa, Remen, Kmir (and in another place: Karnataka) Here again we see no Chinese on the list. Apparently there were no Chinese settlers yet, though there may have been a few Chinese traders. Krom even thought that the trade was in the hands of Chinese (Krom, 1931 : 226) .

The presence of numerous Chinese ceramic sherds in a later period would, on the other hand, indicate the existence of a Chinese colony; called ” Kota Cina ” or "pecinaan".

2.The problem of Java and Sriwijaya.

Having concluded that there were indeed ancient ports on the north coast of Central Java, we will now discuss the relations between Java and Sriwijaya in light of the ceramic sherds on the north coast of Central Java, The general assumption is that Sriwijaya was a ”maritimev kingdom and Java an ”agrarian” one. This view we cannot share. For how could a maritime kingdom live without a fertile hinterland or how could an ”agrarian” kingdom such as the Sailendras' in Central Java live and be wealthy and build magnificent monuments without the revenues of a seaborne trade? It is not from rice alone that they could build up their wealth.

The sources that reveal the past are inscriptions, most of which were found in the same part of Central Java where we find temples and statues. Yet without the study of ceramics our knowledge based on these sources may not be complete. For it is these sherds which may supplement the data which are still lacking on the political and economic life of Central Java.

There is a very important historical problem which has intrigued many scholars: it is the sudden transfer of the centre of power from Central- to East Java. But before going into details, we must give a brief account of the political development in Central Java between 732 and 93041)

There were two dynasties or two branches of the same royal family who ruled during these two centuries. The family started with King Sanjaya, follower of a ” Hindu ” cult who issued an inscription in 732 when he erected a lingga on Mount Wukir. A few decades later the Sailendra inscriptions began and continued until about 830. The Sailendras in contrast with Sanjaya and his successors, were Buddhists, and their name is associated with the Borobudur and other magnificent sanctuaries. The ” Hindu Sanjayas” though in a lesser position of power, still cooperated with them in their temple building.

Pramodhawarddhani of the Sailendra dynasty married in about 830 a prince of the Sanjaya family, Rakai Pikatan. This was the end of the Sailendra rule in Java. Her younger brother Balaputra was expelled from Java after he led a war against her and her husband. He became king of Suwarnadwipa and his name appeared in an inscription on copper found on the old site of the addition he made to the monastery in Nalanda. (De Casparis, 1956).42)

After Rakai Pikatan there were several kings in Central Java who were either his descendants or their successors. Their inscriptions appeared until the beginning of the 10th century. Then suddenly after the last inscription of 929 there were no more Royal charters in Central Java, instead, there were the first inscriptions of King Sindok in Eastern Java. Several scholars have speculated about this sudden transfer of Royal power. Van Bemmelen 43) attributed this situation to a volcanic eruption at the time when Dharmawangsa's palace was attacked by the king of Wurawari who came from Luaram. Schrieke44) considered that the exhaustion of the population who had to carry the burdens of excessive temple building was the cause of the transfer o f power eastwards. De Casparis45 suggested that the reason was a fear of the Sailendras, who had been expelled from Java, and the consideration that trade would be more profitable in the Brantas Delta, which was nearer the spice and sandalwood islands. According to De Casparis:

”East Javanese merchants went to Eastern Indonesia exchanging Javanese rice and other products with spices and sandalwood. They took it to Sriwijaya, where they met foreign merchants, and they exchanged their wares with foreign goods, such as gold, silk and porcelain from China, robes from India, incense from Arab countries, etc. This kind of trade made East Java prosperous”.

De Casparis overlooked one point. If the Sailendras were feared, how could the merchants from Eastern Java trade with Sriwijaya, which was ruled by the Sailendras after the Sailendra prince Balaputra had been expelled by his own sister Pramodhawarddhani and his brother-in-law, Rakai Pikatan in 856?

Moreover, Java and Sumatra were always struggling for hegemony and for the trade with China.

Their missions never overlap, as Wolters remarked.46) Sriwijaya (She-li-foche) sent missions from 670 to 742, Java (Ho-ling) in 640, 648 and 666, and again as Ho-ling from 768-818. Afterwards, under the name of She’-p’o (Java sent missions from 820 till 873. Sriwijaya (San-Fo-ts’i) sent missions from 904 to 983 and often there-after. There were even six missions between 960 and 988. A mission then came from Java in 992, after which the missions ceased for another 100 years. From Sriwijaya arrived missions between 1003 and 1008. Thus the absence of missions from Java (873 - 992) is in the period when the transfer of capital took place and the kings from Sindok to Dharmawangsa ruled East Java. The reasons for this transfer of power could have been: 1) a natural disaster, 2) political reasons.

Boechari (1976 ) has discussed this subject in an article. He agrees with Van Bemmelen's idea of the eruption of Mount Merapi. He disagrees, however, on the period of the disaster. Van Bemmelen associates the disaster with the ”pralaya” which destroyed the palace of Dharmawangsa in 1016/1017. Boechari places it around 930, the time that the inscriptions came to an aprubt halt in Central Java.

We agree with van Bemmelen as regards the eruption of Mount Merapi, but with Buchari as regards the period of transfer of the keraton to East Java. There is a proof of this : the Candi Sambisari47) which is in the plains of Prambanan, was excavated in 1969 from about four meters of volcanic ashes. The style of the ornaments and statues are from the period of the Prambanan temple or a little later. There are also a few other indications that an eruption of Mount Merapi had covered whole areas with lava or ashes (observations by geologists).

When Mount Merapi erupts, fertile areas, villages, and roads can be destroyed in a minimum of time. Even now, when we drive to the Borobudur after an eruption we can see how roads and bridges have been damaged. Nowadays with modern equipment new roads and bridges can be easily rebuilt. But not so in the 10th century. The road connecting the capital, which was perhaps in the plains of Prambanan, with the busy trade ports on the north coast of Central Java was destroyed and remained so.

The existence of such a road is to be found in the inscription of Mantyasih which had to be protected by the patihs of Mantyasih. Boechari suggests that this is the road that connected the Kedu plains with the north coast via Parakan (Boechari 1976:9).

We suggest that, after the destruction of this road, the harbour princes, now independent from the suzerainty of the kings in the interior, were free to trade with Sriwijaya. They were on a friendly footing with the rulers of Sriwijaya, or to put it more strongly: they were still loyal to the Sailendras.

The kings, who were the successors of Sanjaya, could no longer enjoy the revenues of the seaborne trade. This was one reason that they had to transfer the center of power to East Java. Their presence there would not imply a heightened trade on the eastern islands. It is quite possible that the harbour princes of the north coast of Central Java prevented them from trading with these islands. They were the people who sent the commodities to Sriwijaya, which sent missions to China. The interruption in the trade with China lasted until 992 when a Chinese merchant arrived in China with three Javanese ambassadors and their retinue on board.

This first mission after more than a century seems to coincide with the agressive attitude by King Dharmawangsa towards Sriwijaya. The Ambassador from Sriwijaya who happened to be in China could not return to his country as it was occupied by Javanese troups from 990 till 992. One Javanese ambassador who arrived in the Chinese capital in 9 9 2 informed his hosts that his country and San- fo- ts'i were always at war with one another.

The gap of one century in the China trade could also have been caused by the monopoly of the Central Javanese harbour princes in league with Sriwijaya. This could be the reason that ceramic sherds are found on the northeastern part of Central Java. They would not have been found if the prosperous trade had been entirely transferred to Eastern Java, together with the Central power.

CONCLUSION :

The presence of many ceramic sherds in one place means that there had been many inhabitants and perhaps there was already a Chinese settlement.

The absence of ceramic sherds prior to the Sung dynasty (1127—1278) as for example in Sumatra does not mean that there were no settlements as the Indonesians made use of bamboo, coconut husks, wood, gourds and shells for their household utensils. In a Chinese source P'o-Ni was recorded to have no clay, and therefore the inhabitants made use of bamboo and palm leaves for cooking purposes. (Krom, (1931), p.236).

Considering these facts, it is clear that ceramic sherds are very useful for the dating of sites, and besides to find out about the trade and political relations.

The use of local and foreign ceramics for ceremonies shows that Indonesians consider these wares as objects to ward off evil influences and in the case of foreign ceramics as status symbols.

 ***

NOTES


1). Orsoy de Flines : 1946 1947, 1948, 1949, 1972.

2). Abu Ridho : 1977, 1978.

3). Van Heekeren : 1958, 1974.
4). Soejono, 1977.
5). Dates also obtained from: Martavans in Indonesia — publication of the Ceramic Society of Indonesia..

6). Van Heekeren, The Stone Age in Indonesia, p. 151.

7). Van Heekeren, The Bronze-Iron Age in Indonesia, p. 80-89; Urn cemeteries.
8). Bernet Kempers, 1977, pl. 175, 176 (Mendut) pl. 179. Prambanan. pl.177 Bernet Kempers (1959) pl. 289-291, 322. (Trowulan).
9). Bernet Kempers, Ancient Indonesian art, pl. 248. Portrait-statue of a Queen of Majapahit. From Chandi Rimbi.

10). We wonder whether in Majapahit the ashes of the kings and Queens were interred in martavans or other foreign ceramics, as were the ashes of chiefs in Kalimantan and Sulawesi. Soekmono is his dissertation: "Candi, Fungsi dan pengertiannya" (1976) holds that the ashes were

thrown away in the sea like in Bali, but having seen the urns of the kings of Cambodia in the Royal Palace in Phnom Penh, we wonder whether the kings of Majapahit had followed the same custom. This would explain the appearance of the martavans, flanking the portrait statues of. the Majapahit period (14th-15th century). In this case the ashes were kept in urns and not in the temples, which would explain the absence of human ashes in the stone boxes with nine holes which were put in the shaft under the statue in the cult temple.
11). Uka Tjandrasasmita, The Islamic antiquities of Sendangduwur h. 10. However the mastaka of Sendangduwur was made of copper.
12). Mme Viviane Sukanda-Tessier ( 1977) p. 1128:Le triomphe de Sri en pays soundanais.
13). De Flines (1949) p. 37 - 3 8 : S. Adyatman. (1977 )
14). Abu Ridho (1977) , pl. 88.; Berita Penelitian Purbakala no. l (Demak) pl. 122
15). Bernet Kempers, ( 1959 ), pl. 282.
16). De Flines (1950), h. 12. The appearance of fine porcelain in Bone makes us think that Bone could have been the most important part of Sulawesi for centuries. We wonder whether the toponym spelled as. P'o-Ni by

the Chinese, thought to represent Brunei : in northwest Kalimantan, was actually BONE in Southwest Sulawesi, which could have been the most important part of Sulawesi for centuries. The description of the country and people suits Bone well. For example: ”lacking earthenware they cooked in bamboo and palm leaves; they sent a letter on a leaf to the Emperor" (Krom 1931' p. 236. The king had a fleet of 100 warships. Krom (1931) p. 305. they were skilled in arithmetic and accounting (p. 399). The facts are in accordance with this information: the Buginese have been sailors for centuries, they have their own script and their manuscripts are called ”lontara" which means, leaf of the tal (palm). Accounting would not be surprising for a trading and sailing nation. Cooking in bamboo and leaves is still practiced in Sulawesi. In an article by Grace Wong (1978) on blue- and- white porcelain appears a list of ports visited by Chinese ships when the eastern sea route already existed:

Sanyu, Ma- ri, Hai- dan (in the Philippines), and afterwards: Bo-ni and Mao- luo- j u (Moluccas). In another source: San-dao, Ma- li -lu, Su-lu (in the Philippines), Dong- chong- gu- la (Tanjungpura? or Donggala?), Wan- nian- gang (P’o-Ni), Wen-lao-gu (Moluccas) and Wen-dan (Banda?)
The impression that P’o-ni was Bone in southern Sulawesi is strengthened by its location between the Philippines and the Moluccas.
17). Van Heekeren: (1958), p. 88.
18). Van Heekeren (1958), p. 80.

19). Van Heekeren (1958), p. 84. Noorduyn (1955) h. 92. Hadimuljono(1972) p.7. Hadimuljono 1972 p.7. mentions the posthumous name of a raja of Bone :

La Tenrirawe Bongkangngeri Gucinna ”who sleeps (lies to rest) in a pot”. (From Sejarah Wajo (1963) and Sejarah Goa (1967) by A.A. Patunru.
20). Hadimuljono p. 12. He mentions also other uses of ceramics.
21). Nagarakertagama, canto 14 : 4,5. Pigeaud (1960) I, p. 12. Contacts with Java could have been existing even earlier, and in the period of the Hindu and Buddhist Kings of Central Java. (8th-10th) century). We suspect that the inscriptions in Old Malay were written by princes with ”foreign” blood, who did not necessary hailed from Sumatra, but perhaps from Sulawesi. The Buginese could have been the mercenaries at sea for the Javanese kings and may have intermarried in the princely families.
22). see A.C. Kruyt 1933 p. 422 - 494. Sulawesi is a good example of a society which developed its own patterns of religion and statecraft without being ”hinduised”. Also the concepts of gods and divine powers of the kings were original and perhaps like those in Polynesia.
23). Coedes: The Indianized States of Southeast Asia.
24). Krom (1934), De Casparis, (1956).
25). Braddell: Notes onAncient Times in Malaya,
25). Braddell: Notes on Ancient Times in Malaya (1951)h. 1-27).
26). Moens, (1937).
27). M.C. Chand. Kpaper presented to the International Association of Historians on Asia. (IAHA) sixth International Conference. Yogyakarta, Indonesia, 1974.
28). Archaeological Research in Sumatra (1974)
29). Laporan Penelitian Arkeologi di Sumatra (1973).
30). Report still in press. (Berita Penelitian Arkeologi).
31).Like the people of P'o-Ni in the 10th century-Krom (1931), p. 236.
32). Survai Sumatra Utara (1976), h . 14: ini mungkin tempat yang sama seperti yang dahulu dipakai oleh sebuah vihara (kebiksuan) Buddha Mahayana.
33). Biaro Bahal I . Survai Sumatra Utara pl. 16. Bernet Kempers (1959) g. 223.

34). The capital of Sriwijaya could have been moved several times in the

course of centuries. Natural disasters or destruction by the enemy caused the ruiers to look for another place of residence, moreover it was considered ill luck to remain in the in same place where a disaster had happened. Perhaps they had like the Javanese kings also the belief in ”cycles”;see Boechari-1977 who refers to Schrieke (1957)'. Ruler and Realm in Early Java.
35).Laporan Penelitian Rembang (1957).
36).Krom (1931)p. 145. Coedes (1968)p. 90, 107, 301.
37).Krom (1931), p. 239, 240.
38).National Geographic Magazine, December 1940. p. 745 (opposite coloured illustration) ”Provisions for sea : Roots, fruits, nuts, dried fish and water-filled gourds enabled the Polynesians to survive passages as long as two months”.
39). Boechari (1977), p. 7.
40). Krom, (1931), p. 264.
41). Inscripties uit de Çailendra-tijd.
42) De Casparis (950), ompares on p. 133 the list of the Sanjayavamsa with that of the Çailendravamca. The princes of the Sanjaya dynasty are mentioned in the inscription of King Balitung, A.D. 907. Krom 1931 p. 187.
43) Van Bemmelen (1947). The attack on Dharmawangsa's keraton was for a long time thought to be 1006 until Damais revised the date to 1016/ 1017. L. Ch. Damais, BEFEO (1952) p. 64 n.2.
44) Schrieke (1941) 1957 b.
45) De Casparis : (1950) dan (1958) : Erlangga.
46) Wolters (1967) h. 214.
47) Sri Kusumobroto: ”Preliminary Note on Sambisari” (1969).

BIBLIOGRAPHY

Adiyatman — Lammers
 1977
- Martavans in Indonesia. Jakarta
Asmar — Bronson - Mundarjito Wisseman; 1975 - Laporan Penelitian Rembang. Jakarta.
Bemmelen, R.A. van
 1949
- The Geology of Indonesia Vol I. General Geology of Indonesia and adjacent Archipelagoes. The Hague
Bernet Kempers, A.J.
 1959
- Ancient Indonesia Art. Amsterdam, Cambridge, Masachusetts.
Bernet Kempers, A.J.
 1976
- Ageless Borobudur. Wassenaar
Boechari
 1976
- Some Considerations of the problem of the shift of Mataram's Center of Government from Central to East Java in the 10th century A.D. Jakarta.
Braddell, Dato Sir Roland
1951
- Notes on ancient times in Malaya JMBRAS Singapore.
Bronson - Wisseman
 1974
-
-
Archaeological research in Sumatra.
A preliminary report.
Casparis, J.C. de
 1950
 1956
 1958
-
-
-
Inscripties uit de Qiilendra-tjid.

Bandung.
Prasasti II. Bandung
Erlangga. Pidato pada penerimaan jabatan Guru Besar pada PTPG di Malang.

Coedes.G.
 1968
- The Indianized States of Southeast Asia. Kuala Lumpur, Singapore.
Hall.D.G.G.
 1970
- History of South East Asia. New York.
Hadimuljono
 1978
- "Sumbangan keramik asing bagi penelitian arkeologi di daerah Sulawesi Selatan" Jakarta. Lokakarya Arkeologi.
Heekeren, H.R. van

1972

The stone age of Indonesia. The Hague.

1958

The bronze-iron age of Indonesia The Hague.

Kusumobroto, Sri

Freliminary Note on Tjandi Sambisari. Ithaca 1969 pp. 1 - 4 .

Krom, N.J. 1931

Hindoe - Javaansche Geschiedenis's Gravenhage.

Kruyt, A.C. 1938

De West Toradjas op Midden Celebes. Amsterdam

Leur, J.C. van 1955

Indonesian Trade and Society. The Gague, Bandung.

Moens, J.L. 1974

Çrivijaya, Java en Kataha. Batavia

Noorduyn, J. 1955

Een achttiende eeuwse kroniek van Wadjo. s'Gravenhage.

Orsoy de Flines, E.W. van 1947

Oudheidkundig Verslag 1941-1947. Jakarta.

1950

Oudheidkundig Verslag 1948. Jakarta.

1949

Gids voor de Keramische Verzameling. Jakarta.

1972

Guide to the ceramic collection. Jakarta. Museum Pusat.


Pigeaud, Th 1960

Java in the fourteenth century. Vol.I-The Hague

Ridho, Abu 1977

Arti Keramik asingyang didapati di Indonesia bagi kegiatan arkeologi. Seminar Arkeologi. Cibulan, 2-6 Pebruari 1976. Jakarta.

The collection of foreign ceramic in the Museum Pusat. Oriental ceramics Volume 3. The world's great collections. Kodansha. Schrieke, B. 1957 ― Ruler and realm in Early Java, Indonesian Sociological Studies, part two pp. 3 — 267. The Hague

1957 The end of classical Hindu Javanese Culture in Central Java,Indon. Soc. studies, part two, pp. 287 - 301. The Hague

Soejono, R.P. 1977 ― Sistim-sistim penguburan pada masa prasejarah di Bali. Jakarta.(diss).

Soekmono 1976 ― Candi, Fungsi dan Pengertiannya (dissertation). Jakarta

Sukanda ― Tessier ― Viviane 1977 ― Le Triomphe de Sri en Pays Soundanais. Paris

Tjandrasasmita, Uka 1970 ― The South Sulawesi Excavation Project. Archaeological Foundation. Jakarta.

Wolters, O.W. 1967 ― Early Indonesian Commerce. Ithaca.

Wolters, O.W. 1970 ― The fall of Sriwijaya in Malay History. Kuala Lumpur Singapore.

Wong, Grace 1978 ― Chinese Blue and White Porcelain and its place in the maritime trade of China. in : Chinese Blue and White Ceramics. Singapore. Mrs. Satyawati Suleiman graduated at the Faculty of Letters, University of Indonesia in 1953, while working as a staff member of the Archaeological Service.

Except an interruption of 5½ years, when Serving as a Cultural Attache in India and the United Kingdom, she has been with the Archaeological Service until now. She has participated in several research projects as well as in national and international seminars and conferences. She is also the author of several books and articles on the ancient history and archaeology of Indonesia.

 ***
Arca perwujudan raja majapahit.png


Arca perwujudan seorang Ratu Majapahit yang diapit oleh dua bejana Cina abad ke 14 dari Candi Rimbi Jawa Timur.


Portrait Statue of a Majapahit Queen flanked by two Chinese jars 14 th Century from Candi Rimbi.

Karya ini berada pada domain publik di Indonesia karena dipublikasikan dan/atau didistribusikan oleh Pemerintah Republik Indonesia, berdasarkan Pasal 43 Undang-undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.

Perbuatan yang tidak dianggap sebagai pelanggaran Hak Cipta meliputi:

  1. Pengumuman, Pendistribusian, Komunikasi, dan/atau Penggandaan lambang negara dan lagu kebangsaan menurut sifatnya yang asli;
  2. Pengumuman, Pendistribusian, Komunikasi, dan/atau Penggandaan segala sesuatu yang dilaksanakan oleh atau atas nama pemerintah, kecuali dinyatakan dilindungi oleh peraturan perundang-undangan, pernyataan pada Ciptaan tersebut, atau ketika terhadap Ciptaan tersebut dilakukan Pengumuman, Pendistribusian, Komunikasi, dan/atau Penggandaan;
  3. ...
  4. Penggandaan, Pengumuman, dan/atau Pendistribusian Potret Presiden, Wakil Presiden, mantan Presiden, mantan Wakil Presiden, Pahlawan Nasional, pimpinan lembaga negara, pimpinan kementerian/lembaga pemerintah non kementerian, dan/atau kepala daerah dengan memperhatikan martabat dan kewajaran sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.