Tiongkok Baru
| Sebuah gambar seharusnya muncul pada posisi ini dalam naskah. Jika Anda bisa menyediakannya, lihat Wikisource:Pedoman gambar dan Bantuan:Menambah gambar sebagai panduan. |
DELEGASI INDONESIA SAMPAI DI PEKING :
I. PENDAHULUAN.
Tanggal 23 Sept. '51, tiga orang delegasi dari Indonesia telah berangkat menudju Peking untuk menghadiri Hari Ulang Tahun ke-II dari Republik Rakjat Tiongkok jang telah berdiri mulai pada tg. 1 Oktober 1949, Ketiga delegasi itu ialah : M. Tabrani, Armijn Pane dan Barioen A. S. dan kepergian mereka adalah atas undangan organisasi? rakjat, diantaranja Komite Perdamaian Tiongkok, Lembaga Kesusasteraan dan Kesenian, Federasi Wanita.
Keberangkatan itu sangat terburu? dan sedianja bukan tiga orang sadja, akan tetapi delapan orang jang mendapat undangan. Dua diantaranja tak dapat ikut karena kesehatan tak mengizinkan, Ki Hadjar Dewantara dan Moh. Sjafe'i. Burhanuddin Diah ada berhalangan, Hamka dilarang pergi oleh perkumpulannja sedang Trimurti tak dapat pergi karena waktu mengurus pas dikantor imigrasi tertahan dan tak lama kemudian diambil oleh polisi militer persendjata lengkap untuk ditahan terus.
Sungguh sajang sekali, Indonesia tak dapat mengirim orang lebih dari tiga. Ketjuali sajang, pekerdjaan ketiga delegasi itu selama di Tiongkok mendjadi lebih perat karenanja, sebab banjak jang harus dilihat dan disaksikan dengan mata sendiri. Beruntunglah negeri seperti India jang mengirim utusannja sedjumlah 17 orang, diantaranja ada jang telah berumur 67 tahun, sdr. Pandit Sundarlal, seorang Gandi-zi, jang djuga mendjadi pemimpin rombongan India. Kepala delegasi Birma sdr. Thakin Ko Daw Maing, sudah berumur 77 tahun dan dari Bulgaria ada jang berumur 70 tahun dan kebetulan sedang di Peking itu merajakan hari ulang tahunnja, ditengah? para utusan dari 14 negeri. Sdr. Ilja Ehrenburg jang sudah landjut usianja dan sdr. Neruda, seorang pengarang Chili, djuga berada diantara para utusan.
Lebih sajang lagi, ialah tidak djadinja pergi sdr. Trimurti, sehingga delegasi Indonesia tidak mempunjai anggauta wanita, hal mana menjebabkan para utusan negeri lain merasa amat heran. Rombongan lain malah ada jang dua tiga anggauta wanitanja sedang delegasi Djerman diketuai oleh seorang wanita. Tentang djumlah anggauta delegasi adalah Indonesia, Pakistan dan Inggeris jang paling sedikit. Wakil Inggeris itupun datangnja terlambat beberapa hari. Menurut keterangan mereka sebabnja ialah karena tidak adanja bantuan dari pihak Pemerintah Inggeris, sehingga anggauta delegasi Pakistanpun terlambat djuga datangnja.
Selama dalam perdjalanan, ketiga anggauta delegasi Indonesia itu boleh dikata tidak ada mendapat kesukaran dan halangan, sekalipun pada waktu hendak meninggalkan Djakarta, banjak hal? jang kurang lantjar. Dalam hubungan ini merasa bersjukurlah kami dan sangat berterima kasih atas bantuan yang telah diberikan oleh pihak Kementerian Luar Negeri kita, bantuan mana dapat dipandang sebagai penjelenggaraan putusan Kabinet, sebab keberangkatan delegasi itu adalah termasuk putusan Kabinet Republik Indonesia. Andaikata putusan Kabinet itu tidak ada, maka segala instansi Pemerintah jang bersangkutan dengan kepergian keluar negeri (Tiongkok) itu, tidak bersedia memberikan surat2 jang diperlukan. Putusan Kabinet itulah jang membuka djalan bagi keberangkatan kami, sehingga pada tg. jang tersebut diatas, pk. 2 siang berangkatlah ketiga utusan dari Indonesia itu dengan menumpang pesawat Qantas menudju Singapore, dan besok paginja dari Singapura menudju Hongkong dengan menumpang pesawat BOAC. sedang pada sore hari itu djuga dengan menumpang kapal Tionghoa menudju Kanton, setelah berkundjung sebentar kekantor perwakilan kita di Hongkong. Pagi pk. 10 sampailah kami di Kanton dan besok paginja pk. 8, dengan pesawat terbang menudju Peking, sehingga dengan begitu, diluar dugaan, pada tg. 26 September 1951, pk. 5 sore, sampailah kami dikota Peking, ibukota Republik Rakjat Tiongkok. Ongkos perdjalanan seluruhnja adalah ditanggung oleh pengundang, jang djadi tuan rumah delegasi, mulai tg. 23 September sampai 5 Nopember 1951, hari sampainja kami kembali di Djakarta.
Dalam perkenalan pertama dengan delegasi India di Kanton, sudah kelihatan ada perlainan dan perbedaan antara Indonesia dengan India, perbedaan mana agak menguntungkan pada mereka dan agak merugikan pada kita, sebagai pihak tetamu, walaupun dari pihak tuan rumah tidak sedikitpun ada ternjata, apa lagi diperlihatkan, bahwa para tamunja jang banjak itu datang dari negeri2 jang satu sama lain agak berlainan keadaannja dan politik jang didjalankan oleh Pemerintahnja masing2. Jang dimaksudkan ialah dalam soal perdjandjian damai dengan Djepang jang pada waktu kami masuk didaerah Tiongkok, sudah di paraaf di San Francisco.
,,Kami sangat tertjegang di India, bahwa Indonesia ikut menanda-tangani perdjandjian San Francisco”, begitulah utjapan sdr2 dari India itu kepada kami. ,,Di India soal itu mendjadi perhatian istimewa dan agak membuat orang terkedjut”, kata mereka lagi.
Daiam pertemuan2 seterusnja dibeberapa tempat, sering India dan Birma mengemukakan dan menegaskan : ,,Kami tidaklah menjertai San Francisco, kami tidak setudju dengan San Francisco”. Bagi delegasi dari Indonesia hal ini banjak sedikitnja seolah-olah mendjadi gangguan perasaan. Lebih2 kalau diingat seperti sdr, Tabrani adalah dari partai Pemerintah. Bagi sdr. Armijn Pane sebagai seorang dari kalangan kebudajaan dan kesenian umumnja soal itu tidak berapa terasa sedang bagi saja sendiri, walaupun tidak mendjadi anggota partai, ketika ini, kiri tidak, kananpun tidak, keadaan itu tidak dapat dihilangkan dari pikiran dan perasaan. Gandjil rasanja, kita berada didalam lingkungan dimana hampir semua orang mentjela, kita terpaksa menahan mulus, menahan hati dan perasaan. Dalam pergaulan sesama para utusan tidaklah pernah soal itu digugat atau disinggung2, rupanja pada maklum sadja keadaannja negerinja masing2. Dengan begitu perhubungan diantara segala utusan adalaih baik sekali, diliputi oleh suasana persaudaraan dan ramah tamah, harga menghargai dan hormat menghormati. Walaupun kadang2 ada perbedaan pendapat, pertukaran pikiran, debat dll, tetapi suasana tetap baik dan menggembirakan terutama disebabkan oleh sikap dan tindakan dari tuan rumah jang sangat bidjaksana.
Para pembatja maklum sendiri, bagaimana sukarnja mengurus dan meladeni tamu. Orang jang sudah ada pengalaman dalam soal ini tentu dapat merasakan. Tamu jang ratusan djumlahnja, datang dari negeri jang berlainan kehidupan dan adat kebiasaannja dengan Tiongkok, dan tamu itu sendiri satu sama lain berbeda-beda pula. “India terkenal dengan banjak matjam pantangan dalam hal makanan, tamu2 Europa berlainan pula keinginannja, mana lagi harus diingat perlainan agama. Ada diantara utusan jang terus-terusan sadja pegang tasbih tapi bukan Islam dan waktu saja sendiri meminta tikar sembahjang, lantas disediakan tiga lapis wol dan sebelah atasnja kain putih jang sangat bersih. Maklum waktu kami sampai di Peking, musim dingin sudah mulai. Semua main wol, sprei, selimur dan lain2. Diatasnja dilapis dengan sutera. Untuk mandi selalu sedia air panas dan air dingin. Boleh pilih mana suka, tinggal memutar kraan sadja.
Soal makanan lagi. Ada jang tidak suka ini, ada pula jang berpantang itu. Ada jang mau makan buahan dengan susu, ada pula jang tidak mau minum teh atau kopi atau bier. Dalam soal makanan ini sadja, kita sudah ta'djub melihat keramahan (hospitality) dan kesabaran orang Tionghoa menerima dan mengurus tamu. Segala sikap dan tindakan jang kita alami, menundjukkan bahwa Tiongkok adalah lautan budi dan tempat achlak jang tinggi. Peri kemanusiaan jang dilimpahkan kepada kita terasa betul oleh bathin kita. Bukan oleh pelajan dihotel atau oleh panitia sadja, tapi dimana2, didjalanan, sekolah2, ditoko dan pasar, direstaurant, dalam pertundjukan dsb. Semuanja menundjukkan sikap jang melupakan kepentingan diri sendiri dan menghormat serta ingin berbuat baik terhadap orang lain. Memang di Tiongkok sudah teradat bahwa mengurus dan menjenangkan tamu itu adalah soal jang maha penting dan satu malu besar bila tak sanggup menjelenggarakan tamu dengan baik. Lain adat Eropah, jang kadang2 keperluan tamu disuruh bajar oleh tamu sendiri.
Dalam soal makanan umpamanja, kita selalu ditanja, makanan apa jang biasa kita pakai, bagaimana tjaranja jang enak buat lidah kita, apa2 jang kurang dll. sehingga dengan begitu kita merasa malu sendiri, sebab dirumah. dan negeri kita diri, ladenan seperti itu tidak kita djumpai. “Tiap2 jang berlainan agamanja, berlainan djenis makanan jang disukainja, diberi tempat tersendiri dan ladenan sendiri2. Seperti kita dari Indonesia, dimana2 adalah tukang masak orang Islam jang menjediakan makanan untuk kita. Tidak sadja dihotel, tapi djuga dikereta api jang kadang2 kami tompang Siang dan malam ber-turut2, dan diwaktu resepsi pun begitu Kalau kita masuk diruangan resepsi jang akan ada makan, sudah tersedia satu medja jang bertulisan ,,Medja Makanan Islam”. Agama lain dan golongan lain pun demikian pula.
Tiap2 medja selalu ditemani oleh tuan rumah, dengan tidak memikirkan apa makanan jang disukai oleh tamu, enak pula baginja. Umpamanja kita dari Indonesia pernah menanjakan sambel, lalu disediakan. Lantas tuan rumah jang ikut makan dimedja kita, turut pula memakan sambel itu Begitulah dengan lain2 medja.
Sampai kepada keperluan jang paling ketjil selalu di pikirkan dan disediakan, sabun, gosok gigi dan obatnja, sisir dan minjak rambut, keperluan tulis menulis d.s.b. sekalipun para tamu, sebagai pelantjong jang berada dalam perdjalanan jauh dengan sendirinja sudah menjediakan keperluan2 jang ketjil itu. Tukang potong rambut, tjukur dl. disediakan djuga. Pendeknja tidak satu utusan negeri jang datang itu (djumlah jang mengirim utusan ada 14 negeri) jang tidak merasa kagum tentang budi baik dan kesabaran tuan rumah, baik jang datang dari benua Eropah, maupun jang dari benua Asia. Sampai utusan dari Pakistan, untuk menggambarkan itu semua, dalam pertemuan mengatakan : ,,Kami dari Pakistan tidak akan berani mengundang sdr2 dari Tiongkok untuk datang me-lihat2 negeri kami, sebab seperseratus dari apa jang kami terima sekarang sebagai tamu, tidak akan dapat kami memperlihatkannja nanti”. Demikianlah.
Tiap-tiap delegasi mempunjai interpreter, djurubahasa. Banjaknja tergantung dari djumlah anggota delegasi. Ada jang satu, ada jang dua dan tiga. Dan kalau atjara berlain-lain sehingga satu delegasi berpisahan umpamanja, maka djumlah djurubahasa itu bertambah lagi. Kita dari Indonesia mempunjal djurubahasa jang pandai, dalam arti, ketjuali mengerti bahasanja, pengetahuannja pun tjukup tinggi untuk menjalin pikiran kita dalam berbagai hal. Buat tamu2 dari Eropah tersedia djurubahasa jang pandai bahasa Rus, Inggeris, Djerman dan Perantjis. Buat tamu2 dari Asia, ada jang bahasa Inggeris, Birma, Indonesia, Vietnam, Korea dan Mongolia.
Karena itu pula pertukaran pikiran adalah bebas sekali. Mungkin orang menjangka bahwa perdjalanan kita telah ditentukan, melihat ini dan itu sadja, sedang jang lain2 tidak. Sangkaan itu meleset sama sekali. Tidak ada satu atjara Jang tidak diperembukkan lebih dulu, bukan dengan tuan rumah terutama, akan tetapi dengan dan diantara delegasi Jang datang, mereka pilih dan tetapkan apa2 jang akan dilihat. Tuan rumah hanja sebagai pemimpin rapat dan memberi pendjelasan. Tiap2 utusan merdeka mengemukakan kehendaknja. Kebulatan dari permufakatan delegasi2 itulah jang didjalankan dan disiapkan oleh tuan rumah.
Orang jang sudah pernah bergaul dengan orang India tentu mengetahui bahwa mereka ini suka berbitjara, suka bertanja, ingin mengetahui sampai jang ketjil2. Dalam perkundjungan ke Tiongkok itu, hal inipun ternjata, sehingga dari banjaknja hal2 jang dimadjukan mereka dan dimintak lihat, kita merasa ikut pula mendapat manfa'atnja.
Dalam satu pertemuan jang diadakan oleh Pemerintah Pusat di Peking, dipimpin oleh Perdana Menteri Chou En-lai, dihadiri oleh semua delegasi, diberi kesempatan untuk bertukar pikiran dari hati kehati, setjara bebas dalam suasana persaudaraan. Apa sadja boleh tanja, sebagaimana halnja dalam mengatur program, apa sadja boleh lihat. Begitulah dalam pertemuan itu pertanjaan? jang dikemukakan menundjukkan bahwa dari pihak tamu tidak ada segan? untuk memadjukan pertanjaan, mengenai segala lapangan terutama mengenai stelsel ekonomi dan politik. Sampai ada jang bertanja : »Apakah ada maksud Tiongkok hendak menggantikan kedudukan Djepang dulu, sebagai negara kuat hendak mempengaruhi dan expansi keseluruh Asia dengan sembojannja Asia buat Asia, tapi njatanja kita sudah maklum semua?”
Ketua rapat mendjawab dengan senjum, kira2 begini: ,,Kita mengerti apa jang telah diderita oleh bangsa2 Asia selama pendjadjahan Eropah/Amerika dan sewaktu penindasan Djepang. Tiongkokpun ikut menderita dan hidup melarat. Karena itu kita bangkit dan madju kedepan untuk membela rakjat. Bangsa jang telah menderita oleh penindasan, setelah berdjuang mati2an puluhan tahun untuk melenjapkan penindasan itu, apa mungkin akan melakukan sendiri penindasan itu terhadap bangsa lain!? Berbuat apa jang bertentangan dengan pendirian kita sendiri? Kejakinan kita ialah, selama diantara bangsa? berlaku tindas menindas dan peras memeras, selama itu keamanan tidak akan tertjapai, walaupun ada sendjata jang bagaimana lengkap dan modernnja. Jang kita kehendaki bukanlah penindasan, akan tetapi persaudaraan jang djudjur dan ichlas "untuk mentjiptakan perdamaian di Asia dan diseluruh dunia. Dimana ada penindasan, pendjadjahan dan pemerasan imperialis, haruslah dilawan dengan segala Kekuatan jang ada. Marilah berdjuang, dan untuk Tiongkok, kami sudah dapat berkata bahwa dengan kemenangan gilang gemilang dari Tentara Kemerdekaan (Pembebasan) Rakjat, jang dibantu oleh seluruh rakjat tani dan buruh, pintu untuk penindasan dan pemerasan imperialis asing, sudah tertutup buat pertama kali dalam sedjarah dan untuk seterusnja. Pintu Tiongkok sudah dikuntji rapat bagi kaum imperialis dan agressor, dan kita sanggup menutup pintu itu dengan Kekuatan jang ada pada rakjat kita. Pintu Tiongkok hanja terbuka bagi persaudaraan jang djudjur dan ichlas, bagi mentjiptakan perdamaian jang sehat dan kekal. Marilah bekerdja keras”.
Demikianlah kira2 isi pendjawaban dari Perdana Menteri Chou En-lai, jang dalam pertemuan itu hampir seluruh waktunja terpakai buat mendjawab pertanjaan dari delegasi? Asia. Dengan senjum beliau terpaksa memintak ma'af pada delegasi2 Eropa jang kemudian disambut oleh pihak Russia dengan mengutjapkan terima kasih atas persaudaraan jang djudjur dan hati ichlas dari tuan rumah. Kemurahan hati dan budi baik Tiongkok ini, rasanja tak ada tolok bandingannja di seluruh dunia.
Pembatja mungkin berkata, ja, karena tamu! Betul, memang kita tamu. Tapi siapa jang sudah pernah mengurus tamu dari luar negeri, djangankan ratusan, dibawah sepuluhpun, agaknja dapat membuat perbandingan. Djangankan sampai kepada soai makanan dan soal? keperluan ketjil, soal penginapan sadja kita di Indonesia sudah repot dan sering membuat malu. Tapi dalam pergaulan antara mereka pun dapat dilihat bahwa ketegangan tidak ada. Seorang pegawai umpamanja dalam bergaul, bersikap dan berkata terhadap orang jang lebih tinggi pangkatnja, sikapnja sama sadja, Seperti berbitjara dengan teman sadja. Pakaian, makan dan duduk tidak ada berbeda2 dan kaku. Terhadap Perdana Menteri Chou En-lai sendiri, djurubahasa umpamanja, kalau ada keliru atau kurang, biasa sadja menegurnja. Dan dari atas, bila ternjata jang dibawah jang benar, ja, menurut pula. Antara opas dan pegawai tinggi, antara pelajan dengan kepala dihotel atau antara pekerdja biasa dengan direktur perusahaan umpamanja, tidak ada kita melihat perbedaan jang menjolok mata atau djarak jang mendjauhkan satu dari jang lain. Kalau si direktur berbadju hitam, si pekerdja begitu pula dan karena musim dingin, ja sama2 berbadju wol. Dikalangan tentara, walaupun tidak banjak kami melihatnja dikota2 jang telah dikundjungi, jang bertemu dipasar, didjalanan atau lain2 tempat, sukar kita membedakan mana jang opsir dan mana jang serdadu biasa. Oto mundar mandir tidak karuan, tidak ada. Malahan kalau tidak mobil dinas, hanja memakai batu arang sadja, djadi berdjalan dengan kekuatan uap, seperti kereta apj, tapi mesinnja ditempelkan disebelah belakang dan pakai saluran kebaling2 dimuka. Pendeknja salah satu hal jang paling mena'djubkan dan menawan hati sehingga kagum melihatnja, ialah : Kesederhanaan dari atas sampai kebawah. Bukan karena tidak ada, sebab produksi Tiongkok tjukup banjak. Hanja sadja djangan lupa bahwa rakjat berdjumlah 500 djuta. Untuk memenuhi dan meratakan segala perbaikan untuk seluruh rakjat masih akan makan tempo dan harus kerdja keras dan banting tulang betul2 lagi dan rupanja tidak (belum) waktunja sekarang untuk bermewah dan melagaklagak, selama kemewahan itu belum dapat disebarkan Kesegenap lapisan rakjat, terutama kaum tani dan buruh. Djangan kita lupa bahwa 80% dari rakjat Tiongkok adalah terdiri dari kaum tani. Djadi walaupun ada kota jang berpenduduk sampai enam djuta seperti Shanghai, dibandingkan dengan djumlah jang 500 djuta itu penduduk kota sadja berarti belum banjak.
Djakarta, Desember 1951.
B.
II. TELAGA KEKUATAN DAN KEMENANGAN
REVOLUSI RAKJAT.
Tjinta Tanah Air.
Soal kesederhanaan jang kita lihat dimana2, begitu pula sikap ramah tamah dan perlakuan baik jang kita djumpai, adalah asli, tidak di-buat2, keluar dari hati sutji jang ichlas, budi tinggi dan peri kemanusiaan jang betul2 teruntuk bagi, dan hendak dilimpahkan pada manusia umumnja dengan tidak memandang adanja perbedaan, kulit, agama, faham d.l.Il. Melulu berbuat begitu, karena kesedaran dan keinsjafan rochani jang telah memuntjak tinggi, terlatih ber-abad2 lamanja dengan menempuh zaman jang sudah silih berganti, sedjak ribuan tahun jang lalu.
Ada alasan kita-untuk menerka pegitu, jaitu bila kita dapat menjelami djiwa dan bathinnja bangsa Tionghoa. Sifat2 asli jang murni masih banjak, hanja sadja selama ini laju karena pimpinan negara dan masjarakat jang tidak berdaja, lemah, tiada kesanggupan memantjarkan sinar jang menghidupkan dan mendorongkan tenaga2 jang sanggup mentjipta, lahir dan bathin. Kita katakan laju, sebab tidak mungkin djiwa kebur dajaan jang sudah terbentuk sedjak ribuan tahun jang lalu dan. telah mendjadi pantjaran hidup jang njata dimana, sampai terkenal dan mengagumkan seluruh dunia. Djiwa asli itu tidak (belum) mungkin mati disebabkan pendjadjahan asing dan pemerasan tuan2 besar berbagai roman dan bentuk kekuasaannja, dimasa berpuluh2 tahun jang achir ini. Dan salah satu diantara sifat2 bathin jang sutji murni itu, ialah Tjinta Tanah Air. Dimasa jang lalu pantjaran amal dari patriotisme jang me-njala2 itu, hanjalah dipergunakan untuk Kesenangan beberapa orang, baik bangsa sendiri, maupun bangsa asing, sedang rakjat bagian terbesar tetap hidup melarat dan terumbang-ambing.
Tjinta Tanah Air ini sudah terkenal di mana2. Tidak ada seorang Tionghoa, dimanapun ia berada akan sudi dikatakan tidak tjinta tanah air. Dan semua orang Tionghoa akan rela berkorban, berdjuang dan membanting tulang bila dikatakan, gunanja itu adalah untuk membela dan membangun Tanah Air. Karena tjinta tanah air, djuga sedia bersatu, lenjap segala pertentangan dan perbedaan golongan, partai atau faham.
Sekarang, setelah Tentara Pembebasan Rakjat mendapat kemenangan jang gilang-gemilang, jang pertama kali dalam sedjarah Tiongkok jang ribuan tahun itu, berdirilah Republik Rakjat dibawah pimpinan Pemerintah Rakjat untuk mengatur dan mempersembahkan segala pantjaran amal dari Tjinta Tanah Air jang meluap2 setelah pembebasan itu, kepada mereka jang sangat ditjintai, jaitulah Sang Rakjat, jang akan mendjadi tiang, sendi dan benteng jang maha hebat dari Tiongkok Baru. Inilah tekad, hanja inilah nampaknja satu2nja ethik jang dikenal oleh para pemimpin Tiongkok sekarang, jaitulah Ethica Populia, mengabdi kepada kepentingan Sang Rakjat. Hidup dan mati bersama Rakjat, timbul atau tenggelam bersama2 dengan rakjat.
Dan hasil daripada perdjuangan, praktek dari Tjinta Bangsa dan Tjinta Tanah Air, bukti jang njata dari patriotisme jang me-njala2 itu, jang berpusat disekitar pribadi, djiwa raga dan rochnja Abdi Rakjat jang terbesar pernah saja lihat dan bertemu, Ketua Mao Tse Tung, sudah terhampar dihadapan mata kita jaitu sewaktu menjaksikan pawai pada tg. 1 Oktober 1951 dilapangan besar Tien An Men di-ibu kota Peking. Barisan angkatan perang jang lengkap, darat, laut dan udara (jang belakangan ini bukan orangnja sadja tapi juga pesawat2 bermatjam djenis turut parade dibelakang tentara, diudara, persis muntjulnja dibelakang barisan djuru2 terbang dan parachutis), kaum tani dan buruh, pemuda dan peladjar, wanita dan pahlawan kerdja, militia dari berbagai propinsi, barisan kebudajaan jang mena'djubkan (manusia itu disini se-olah2 dilukis mendjadi gelombang bunga jang warna warni, lengkap dengan segala, musik, berdjalan sambil menari (tari dari segala matjam suku bangsa) dan menjanjil, diikuti lagi oleh rakjat umum dan berbagai organisasi dari kota Peking. Djumlahnja semua jang menjertai pawai itu tidak kurang dari 400 sampai 500 ribu orang. Demikian ta'djubnja kita melihat barisan itu, se-olah2 kena pesona, dan hampir tidak terasa bahwa kita telah berdiri sedjak pk. 10 pagi sampai pk. 3 sore dengan pergi minum-istirahat sebentar kebawah tribune, sehingga sampai pada waktu sendja masih mem-bajang2 segala apa jang dilihat pada siang harinja. Lebih2 lagi, karena waktu sendja itu, diteruskan dengan permainan bunga api jang luar biasa indahnja. Entah dikendalikan oleh apa, kita tidak tahu, perasaan sedih entah girang, entah keduanja, tapi pada malamnja tangan dan djari, sudah bergerak memegang pena diatas kertas, dan hasilnja adalah sebuah sadjak seperti dibawah ini:
DJADI SAKSI:
Terhampar tubuh, benda berbagai rupa,
Mengalir laksana arus air bah jang turun;
Warna warni dihadapan mata membentang segala rupa,
Besar ketjil, indah, permai, lagi jang perkasa.
Tak kusangka, tak terhingga, banjaknja kekajaan,
Mendjelma, keluar dari perbendaharaan djiwa dan alam,
Selama ini hanja mendjadi sebutan disebelah Selatan,
Tapi, kini, kusaksikan njata, disuluhi surja pelita alam.
Wahai Pemimpin, benarkah engkau ada,
Penundjuk djalan, pelopor tjita2 menudju bahagia?
Disini, dihadapanmu, tersedia segala rupa.
Didjadikan perlengkapan dan alat perintis djalan,
Enjah, musnah, terhindarlah segala hambatan,
Dan bebas, bergerak, madjulah Pahlawan !
Ach aku, kini disini,
hanja sebagai saksi :
Tidak pelaku dalam tjerita,
dari permulaan, menudju puntja.
Achirnja ...... ? ......
Rakjat menanti ribuan djuta,
bila gerangan djadi saudara;
Timur, Selatan, Barat, Utara,
rukun damai, seia sekata ......!
Peking, malam 1/2 Oktober 1951.
Kembang api, warna warni,
djadi pelita pembuka hati ......
Demikianlah kesan jang ditinggalkan oleh perajaan 1 Oktober didalam kalbu kita. Kembang api jang kita saksikan di malam 1-2 Oktober itu, adalah laksana sinar jang membawa tjahaja baru, mendjadi pelita jang menerangi kalbu. Mungkin karena hausnja djiwa kita selama ini, ingin melihat sesuatu, hasil tjiptaan dan kreasi dari rakjat jang berrevolusi........... bertahun2 ditunggu............... hatta hingga kini, sesudah kembali dari Peking. Malah jang telah kita saksikan sesuatu jang menggembirakan ditahun 1945/46, sekarang sudah laju, mungkin telah mati, terbang lenjap dari kalbu dan djiwa manusia Indonesia. Dan kalau begitu, kemanakah gerangan lagi akan ditjari......... ?
| Sebuah gambar seharusnya muncul pada posisi ini dalam naskah. Jika Anda bisa menyediakannya, lihat Wikisource:Pedoman gambar dan Bantuan:Menambah gambar sebagai panduan. |
III. SEDIKIT SEDJARAH.
Kita masih-ingat, sesudah penjerahan tentara Djepane ditahun 1945, daerah Tungpei (Manchuria) adalah diduduki oleh tentara USSR. Diwaktu itu pusat daerah2 jang telah dibebaskan oleh TPR (People's Liberation Army) ialah di Yen-an. Disanalah berkedudukan putjuk pimpinan pemerintahan Kungchangtang.
Sedjak tahun 1937, tentara Merah dan tentara Kuomintang adalah dalam berperang dengan Djepang. Daerah2 jang diperintah dan didjaga oleh tentara Chiang Kai Shek dari tahun ketahun bertambah habis, sehingga mundur sampai ke Chungking. Disana mereka bertahan dan disana, bukan sadja tentara Tiongkok jang ada, akan tetapi djuga tentara Amerika, lebih: sesudah Djepang menjerang Teluk Mutiara. Satu ironi jang sangat tadjam mengedjek Chiang Kai Shek. dengan regiemnja : Dalam ia beserta segala kekuatan jang ada, berdjuang melawan Djepang, katanja, artinja melawan masuknja tentara asing jang menodai kedaulatan negara dan bangsa, maka sedjalan dengan itu, diizinkannja pula tentara Amerika masuk dan tetap tinggal di Chungking dan lain2 tempat, se-olah2 adanja tentara asing (Amerika) itu tidak pula berarti noda bagi kedaulatan bangsa dan negara Tiongkok. Njatanja, adanja tentara Amerika itu, tidak sedikitpun membawa kemadjuan dalam melawan Djepang. Sebaliknja tentara Kungchangtang dari tahun ketahun semakin banjak djuga rakjat dan semakin luas djuga darah jang menerima mereka dengan tangan terbuka.
Banjak kedjadian2 dari masa itu jang menundjukkan tragedi jang hebat2 jang dihadapi mereka, disebabkan adanja perintah dari komando tertinggi, bahwa selama peperangan dengan bangsa asing berlaku, tidaklah holeh berkelahi atau bertjektjok dengan tentara Kuomintang. Walaupun sebelum tahun 37, mereka tak putus2nja di-kedjar2 dan dibom oleh tentara Chiang Kai Shek. Keduanja harus berdjabatan tangan, walaupun sebenarnja pahit, terutama. bagi pihak TPR sebab harus serimg menerima permintaan rakjat, melindungi mereka dari sikap dan perbuatan tentara Chiang Kai Shek, jang kadang2 sangat kedjam dan tidak menaruh belas kasihan terhadap rakjat, lebih2 kalau mereka mundur teratur, terdesak oleh serangan2 Djepang. Maka untuk menghindarkan adanja penderitaan2 rakjat jang tidak perlu, TPR mengatur pendjagaan di satu2 daerah, jang anggota2nja terdiri dari pemuda2 daerah itu sendiri, sedang mereka sendiri madju berhadapan dengan tentara Djepang.
Pun terhadap kekedjaman2 tuan2 tanah, barisan pendjaga ini harus dapat melindungi rakjat. Biasanja tuan2 tanah itu bekerdja sama dengan tentara Kuomintang dan tidak keberatan pula bekerdjasama dengan Djepang. Dapat dipahamkan betapa sulitnja posisi tentara Kungchangtang pada ketika itu dan sanggupnja mereka mengatasi segala kesukaran, itulah jang menjebabkan mereka sangat populer didaerah2 jang pertama dibebaskan. Dibebaskan, artinja : bebas dari ketakutan terhadap tentara Kuomintang, bebas dari pemerasan dan kekedjaman tuan2 tanah, dan lega hati mereka karena musuh (tentara asing) telah dapat diusir atau dibasmi.
Delapan tahun TPR mendapat kesempatan untuk melatih diri mengatasi segala kesukaran itu, sambil mendidik dan melindungi rakjat, bertempur pula dengan musuh. Dengan begitu keunggulan mereka sudah terang dan njata, bila dibandingkan dengan tentara Chiang Kai Shek. Populariteit djangan dikata lagi. Pantas dan memang sudah sepantasnja mereka dianugerahi kemenangan jang gilang gemilang, jang belum ada taranja dalam sedjarah jang ribuan tahun pandjangnja itu. Tjotjok dengan adjaran agama Islam : Bila sungguh2 kamu menjerah (meniadakan kepentingan diri) meminta dan berusaha (berdjuang untuk kepentingan bersama dan kebahagiaan umat manusia), pastilah kemenangan itu akan beserta kamu ! Tapi, bila kemenangan sudah diperoleh, awas kalau takbur, sombong, bermegah2 dan melupakan kepentingan ummatmu, nistjaja (djuga pasti) keruntuhan akan menanti kamu.
Arkian maka pada pertengahan tahun 1945 terdjadilah penjerahan Djepang karena kedjatuhan bom-atom di Hiroshima. Kekalahan Djepang ini tidak diduga semula dan tak disangka pahwa datangnja selekas itu. Oleh karena itu dipihak Sekutu tidak ada bersiap2 untuk menerima penjerahan itu. Diseluruh front kedudukan tentara masih tetap sebagai dalam pertempuran. Begitu djuga djalannja dan tempatnja persediaan2 dari masing2 negeri Sekutu. Keadaan ini bagi Tiongkok jang diduduki Djepang selama perang sangat menjulitkan, terutama bagi pihak Chiang Kai Shek jang sudah mundur djauh kebagian pedalaman dari negerinja.
Dalam pada itu tentara Sovjet sudah menduduki hampir seluruh Manchuria dan Korea. Menurut perdjandjian diantara negeri2 Sekutu, bila habis perang dan Djepang kalah, maka daerah Tiongkok akan diserahkan semuanja kepada Pemerintah Tiongkok, termasuk djuga Taiwan dan Manchuria. Jang tersebut belakangan ini harus diserahkan oleh Sovjet kepada Pemerintah Tiongkok, jaitu Kuomintang regime. Begitu menurut perdjandjian.
Sesudah musuh Tiongkok, Djepang, tidak berdaja lagi di Tiongkok, maka pihak Kuomintang dan Kungchangtang kembali bertempur satu sama lain. Kita masih ingat berita2 dari Tiongkok tentang perundingan2 jang dilakukan antara kedua belah pihak untuk mendapat persetudjuan. Rupanja perundingan itu sengadja digagalkan, sebab perlunja bagi Chiang Kai Shek ialah untuk mendapat tempo guna mendatangkan sendjata2 Amerika. Atas nasehat pihak Amerika maka diadakan gentjatan sendjata. Perundingan gagal, pihak Kuomintang atas advies Amerika merasa sudah waktunja untuk menjerang kembali. Dengan setjara tidak djudjur penjerangan2 dilakukan dengan sekonjong2. Yen-an pun dibombardir. Segala usul dari pinak Kungchantang tidak diindahkan oleh Chiang Kai Shek. atas advies Amerika lagi. Kedjadian gentjatan sendjata seperti inilah jang dichawatirkan oleh pihak Korea dan Tiongkok baru2 ini dalam peperangan di Korea. Mereka tidak pertjaja bahwa Amerika akan tjukup djudjur untuk mendjalankan gentjatan sendjata dan mentjapai persetudjuan dalam perundingan. Amerika, walaupun bagaimana manis mulutnja, tetaplah di pandang sebagai negara kapitalis-imperialis jang djika perlu akan melakukan agressi untuk kepentingan kaum modal dan kepentingan kaum modal dan penghasut2 perangnja. Maka sampai pada hari inipun, kita lihatlah bahwa perundingan di Korea tidak sedikit mendapat kemadjuan, sekalipun korban Amerika dari hari kehari bertambah banjak, disebabkan pihak Korea dan Sukarela Tiongkok sudah semakin maklum bagaimaria taktik jang harus didjalankan untuk menghantjurkan tentara Amerika. Lebih2 dimusim dingin. Waktu diadakan pertundjukan mengenai hasil peperangan di Korea, kita sudah melihat dengan mata kepala sendiri, berapa banjaknja surat2 bertimbun jang diambil dari tentara Amerika jang ditawan atau mati. Begitu pula berbagai matjam alat sendjata, ringan dan berat, sampai kepada bagian2 dalam dari pesawat udara, jang bertjap dan bertulisan2 Amerika. Jang sangat menarik hati ialah kebanjakan surat2 itu adalah dari kekasih2 dan hulu sendjata pistol opsir ada jang dihiasi dengan gambar perempuan telandjang. Semuanja itu menundjukkan betapa moral dan semangat serdadu Amerika didalam peperangan Korea.
Begitulah pertempuran berkobar antara Kungchantang dengan Kuomintang, sedang Sovjet masih menduduki Manchuria. Tibalah waktunja bagi Sovjet untuk mengundurkan diri dari sana. Chiang Kai Shek atas advies Amerika belum bersedia menerima pengoperan dari Sovjet, oleh sebab itu dimintanja pada Sovjet supaja suka tinggal lebih lama lagi. Sovjet mengabulkan permintaan itu dan tinggal lebih lama. Pihak Kungchantang barang tentu memadjukan protes, sebab dengan begitu tenaga Chiang Kai Shek jang dipersendjatai oleh Amerika itu dipusatkan dan tertudju kepada mereka.
Pembatja barangkali akan berkata bahwa Sovjet akan lebih mendengarkan protes Kungchantang itu. Tidak! Djawabnja kepada Ketua Mao Tse Tung ialah: Sekalipun kawan sefaham, akan tetapi kewadjiban jang diletakkan diatas bahu kami sebagai pihak jang ikut menanda-tangani perdjandjian adalah lebih berat daripada persahabatan.
Untuk kedua kali Chiang Kai Shek meminta lagi agar Sovjet tinggal lebih lama setelah waktu jang didjandjikan tadi sudah tiba sa'atnja. Jang kedua inipun masih dikabulkan oleh Sovjet. Dalam pada itu sendjata Amerika semakin membandjir. (Ingat penasehat Marshall !).
Ketika Chiang Kai Shek untuk ketiga kalinja memintak diundurkan penarikan kembali tentara Merah dari Manchuria itu, pihak Sovjet tidak dapat mengabulkan lagi, dan tentaranja pun ditarik dari seluruh Manchuria digantikan oleh tentara Kuomintang. Keterangan ini bukan tjerita jang saja dengar di Peking akan tetapi dapat dibatja dalam buku ,,New China", Three Views, karangan Van der Spenkel, Michael Lindsay dan Robert Guillain, orang Inggeris dan Amerika sendiri.
Pembatja sendiri sudah dapat meneruskan sedjarah ini. Sesudah Manchuria berada ditangan tentara Chiang Kai Shek maka pukulan Kungchantang bertubi2 pukulan jang bersembojan Musuh djangan dikasih bernafas! Shenyang (Mukden), Chinchow, Chinhwangtao, Tangshan dan Tientsin berturut2 djatuh ketangan T.P.R. sedang Peking menjerah dengan tidak melawan lebih dulu. Dengan begitu seluruh sendjata Amerika jang berada di daerah Manchuria dan jang sedang ditengah djalan djatuh ketangan tentara Kungchantang. Tidak heran dan agak synis kalau kita mendengar perkataan dari pihak pembesar RRT bahwa jang pertama membantu mereka dalam persendjataan ialah... Amerika sendiri.
Setelah melihat keadaan di Mukden dan sekitarnja, sampai kedesa2, tidak heran, kalau Amerika mengadakan spekulasi besar-besaran dalam membantu Chiang Kai Shek dengan sendjata. Betapa tidak, daerah Manchuria adalah terkenal se bagai sumber tenaga kekuatan Djepang. Djepang dengan tidak ada Manchuria, rasanja tempo hari tidak akan sanggup memulai peperangan dengan menjerang sekonjong2 Teluk Mutiara.
Daerah Tungpei itu memanglah daerah jang makmur. Tanahnja subur. Ada padi, djagung, gandum d.1.1. dan kaja pula akan beberapa matjam barang tambang. Perhubungan kereta apinja adalah sangat baik dan paberik2 berbagai matjam banjak sekali.
Diwaktu keliling kota di Shenyang (sight-seeing), kota besar dan modern itu, kelihatan sebuah gedung besar. Rupanja sebelum perang kepunjaan Amerika. Kabarnja kapitalis2 Amerika banjak mendapat keuntungan dari sana dengan kerdjasama dengan Djepang. Tidak heran kalau Amerika sebagai negeri kapitalis, karena itu harus imperialistis, ngiler sekali melihat daerah Tungpei itu. Untung2an, bila Chiang Kai Shek menang, tentu akan mendapat apa2, entah konsessi, entah apa. Tapi tentu akan mendapat, sebab Chiang Kai Shek telah berada dalam genggaman kukunja.
Beruntunglah rakjat Tungpei dan Tiongkok umumnja, tentara Chiang Kai Shek itu tak berdaja untuk menahan serangan Kungchantang, sekalipun persendjataan jang diterimanja dari Amerika sudah tjukup dan lengkap. Dengan tergopoh2 beberapa paberik dirusakkan mereka mesin2nja dan sambil lari ada djuga jang dibawanja keselatan. Tapi kaum buruh Shenyang tidak bodoh. Mereka tahu bahwa mesin itu adalah tiang penghidupan mereka. Oleh sebab itu, sebelum berhadapan dengan Kungchantang, tentara Chiang Kai Shek itu dikatjaukan oleh kaum buruh sendiri, baik jang laki2, lebih berani lagi buruh wanita, sehingga kadang2 satu pasukan Chiang Kai Shek dibikin tidak berdaja oleh mereka. Sistem perlawanan buruh itu diteruskan ke Selatan, kota2 besar lainnja seperti Tientsin, Nanking, Shanghai, Kanton d.1.1. Dengan begitu dalam tempo jang sangat pendek pasukan Chiang Kai Shek itu telah terusir dari seluruh daratan Tiongkok dengan terpaksa meninggalkan sendjata jang diterimanja dari Amerika. Malahan Peking sama sekali wutuh djatuh ketangan Tentara Pembebasan Rakjat.
Bukan Chiang Kai Shek dan gerombolannja sadja jang terusir akan tetapi tentara Amerika pun harus angkat kaki dari pangkalan lautnja di Tsingtao, tempat mana diberikan Chiang Kai Shek untuk mendjadi tempat kedudukan kapal2 perang Amerika.
Dengan kemenangan T.P.R. itu, djangankan kapal perang asing, satu orang tentara asingpun tak ada lagi didaratan Tiongkok, sehingga dengan begitu, kedaulatan Tiongkok jang selama ini ternoda dengan bermatjam2 djalan (ingat Shanghai, kota metropol jang hampir semuanja berada dalam tangan bangsa asing, jang selain mendudukkan angkatan perang masing2 disana, djuga mempunjai kepolisian sendiri jang lengkap).
Setelah menjaksikan keadaan kota Shanghai maka dapatlah pula dimengerti, bahwa terusirnja bangsa asing dari sana itu berartilah mereka kehilangan satu mutiara jang sangat berharga di Timur Djauh. Tidak heran, kalau hal ini menjebabkan mereka panas hati dan berusaha sedapat mungkin, agar dapat duduk kembali di Shanghai. Tapi keadaan baru di Tiongkok sekarang tidak mengizinkan lagi kembalinja kekuasaan orang asing kesana.
Kedudukan Tiongkok jang selama ini ternoda, sudah disutjikan untuk pertama kali dan seterusnja. Keadaan rakjat Tiongkok Baru sekarang akan dapat mendjamin terpeliharanja kedaulatan Bangsa dan Tanah Airnja. Pemimpin2 RRT sekarang jakin betul akan hal itu, sebab mereka telah membuktikan tjintanja pada rakjat dan akan seterusnja mengabdikan diri bagi kepentingan dan keselamatan Rakjat. Bukan dengan omong, pidato atau amanat atau rentjana ahli berbagai matjam, jang tak berdjalan akan tetapi dengan bukti jang njata dan langsung dapat dirasakan oleh rakjat itu dalam kehidupannja sehari2.
Sembarang pelantjong sadja akan dapat melihat kontrasi jang menjolok mata, bila ia, setelah menjaksikan keadaan di Tiongkok Baru, lantas pergi pula kenegeri Thailand (Bangkok). Satu sudut sadja di Bangkok sudah tjukup membuktikan perbedaan jang menjolok mata itu. Kalau di Tiongkok tidak satu pun barang Amerika, maka di Pasar Bangkok akan kelihatan bahwa semuanja barang adalah made in U.S.A. sampai kepada barang keperluan jang seketjil2nja. Kalau di Tiongkok dulu banjak kekuasaan orang asing dan di Bangkok hanja 8-9 orang bangsa Amerika, maka sekarang di Tiongkok, semua jang berbau asing (jang membahajakan) sudah tidak ada tapi di Bangkok sudah ribuan orang Amerika.
Demikianlah sekedar perbandingan riwajat, dahulu dan sekarang,
IV. SOAL PERSATUAN DAN KEAMANAN.
Dengan terusirnja kliek Kuomintang dan bangsa asing jang orang bahwa di Tiongkok itu tentu akan timbul kekatjauan, setidak2nja pertentangan. Kekatjauan, karena menurut sangka orang, Kungchantang tidak akan sanggup mengurus perekonomian dan menjehatkan keuangan. Apa lagi kalau diblokkade terus oleh Amerika. Pertentangan, karena barang tentu, menurut pendapat orang jang hanja tahu adanja logika (djuga dalam kedjadian2 dalam masjarakat) dan tidak kenal pada dialektika, barang tentulah Chiang Kai Shek meninggalkan banjak kakitangannja untuk membuat provokasi, menghasut2 dan barang tentu pula orang asing jang telah diusir kekuasaannja, lebih2 Amerika, tidak akan segan2 mengeluarkan ongkos, langsung atau dengan perantaraan Chang Kai Shek, untuk menimbulkan pertentangan dan kalau mungkin, pertarungan2 dan pertempuran didalam masjarakat jang telah dikuasai Kungchangtang itu, sebagaimana halnja dulu ketika Revolusi Rusia telah mendapat kemenangan dibawah pimpinan Lenin, pihak feodal-burdjuis-kapitalis Rusia (jang disebut Rus Putih diluar negeri) dan kawan2nja diluar negeri (Perantjis, Inggeris, Amerika dan Djepang) bertahun2 lamanja. menimbulkan kekatjauan dan membelandjai perlawanan terhadap kekuasaan Sovjet jang telah terduduk itu.
L'histoire s'est répéte, begitu sangka orang jang hanja berpikir menurut logika, djadi kedjadian di Sovjet dulu itu, tentu akan timbul dan ditimbulkan pula di RRT. Kemungkinan tentu ada, oleh sebab itu para pembesar RRT sudah bersedia2 menghadapinja dan sebaik ada, dengan tidak kenal ampun segala kaum reaksioner dan anti-revolusioner terus dipukul, diberi gandjaran jang setimpal dengan deradjat ke-reaksionerannja. Jang tidak begitu berbahaja, akan dibimbing kedjalan jang benar dan jang segera mungkin merugikan dan membahajakan pada djalannja revolusi menudju kemenangan, lantas dibasmi. Inilah salah satu segi daripada pengertian diktatuur rakjat demokratis (People's Democratic Dictatorship), bahwa segalanja didasarkan kepada kepentingan rakjat dan kemenangan revolusi rakjat. Untuk mentjapai itu, segala tenaga harus dipakai, tidak seorangpun akan ditolak dalam barisan pembangunan dan pertahanan masjarakat rakjat jang demokratis. Diatas segala2nja harus diingat bahwa pemerasan dan penindasan oleh seorang atas orang lain, harus lenjap. Harga menghargai dan hormat menghormati.
Dari itu ditjiptakan sebagai lambang Tiongkok Baru, empat bintang dibenderanja, jang berarti pengakuan terhadap 4 golongan rakjat, menurut lapang pekerdjaan dan kewadjibannja, jaitu: tani, buruh, burdjuis ketjil dan burdjuis nasional. Ke-empat-empatnja adalah duduk sama rendah dan tegak sama tinggi. Bintang besar disamping bintang jang empat itu berarti bahwa golongan buruhlah jang memegang pimpinan dalam mentjapai kemenangan bagi revolusi.
Djadi antara kapital dan arbeid bukanlah diadu atau dipertentangkan akan tetapi didamaikan. Kapital djangan rugi dan kaum buruh djangan sampai ditindas dan diperas. Adanja golongan dan partaipun demikian pula. Bukan untuk dipertentangkan dan diadu satu sama lain, akan tetapi untuk diadjak bekerdja sama, cooperate satu dengan jang lain. Masing2 mempunjai tugas kewadjiban terhadap negara dan masjarakat. Tidak ada golongan atau partai jang boleh menganggap dirinja lebih dari jang lain. Tidak ada jang kiri dan tidak ada kanan. Ukuran hanja satu, bekerdja untuk negara dan masjarakat. Setiap orang bisa, asal ada kemauan, maksud baik kedjudjuran dan keichlasan. Kesempatan dibuka seluas2nja, ditolong, njata. Tidak mementingkan diri atau golongan akan tetapi mengutamakan kepentingan bangsa dan Tanah Air dan pembangunan masjarakat baru. Inilah jang sudah mendjadi kenjataan di Tiongkok Baru, sekalipun baru dua tahun lamanja berdiri. Semua orang dan golongan bekerdja dengan tidak banjak bitjara. Hasil pekerdjaanlah jang diutamakan, bukan debat mengenai alasan2 kosong, dengan istilah2 muluk: wetenschappelijk, juridis, staatsrechtelijk, standing internasional dsb., sedang dalam kenjataan terbukti semua kosong melompong, tidak berisi.
Memang kita di Indonesia ini susah memahamkan apa jang terdjadi dan terlaksana di Tiongkok sekarang, sebab adanja tjara berpikir jang hanja logis intellektualistis, jang menganggap dan mengira tidak akan bisa terdjadi atau terlaksana sesuatu, bila menurut pendapatnja tidak mungkin didjalankan menurut logika dalam otaknja sendiri, tidak tahu bahwa diluar otaknja jang segenggam itu masih banjak jang bisa terdjadi. Hal ini dapat dimengerti karena tak ada pengalaman dan kemampuan, hanja teori melambung kelangit. Tiongkok sudah kembali kepada aslinja, lahir dan bathin materil dan geestelijk, philosofis, cultureel dan wetenschappelijk. Sedang kita di Indonesia, namanja sadja merdeka. Pengaruh asing masih tetap ada, sedang di Tiongkok sudah bersih sama sekali. Bila dipikir dalam2, maka di Indonesia, orang bukan mentjapai persatuan, kerdjasama dan cooperate satu dengan jang lain, melainkan ternjata sekarang masjarakat kita sudah mengalami per-sate-an, akibat anggapan jang hanja tahu ,,benar sendiri", orang lain salah dan tidak betul. Tjuriga mentjurigai, tjemburu mentjemburui, jang satu menganggap dirinja lebih pandai dan lebih berdjasa dari jang lain, sekalipun njatanja dalam masjarakat belum ada bukti2 bahwa sudah banjak djasa jang telah diberikan guna perbaikan nasib rakjat.
Di Tiongkok demokrasi palsu tidak ada. Bila orang hendak menjogok, jang memberi dan jang menerima, kedua2nja disapu. Pengaruh dan kekuasaan asingpun tidak ada. Rakjat dari bawah sampai keatas sudah terpelihara daripada mulut manis dan gemerintjingannja dollar jang mengintip2 dari negara2 jang menganut faham burgerlijke demokrasi itu untuk meratjun rasa persatuan. Mengintip seperti maling boleh, tapi awas, kalau masuk. Begitulah kita lihat sekarang tekadnja Tiongkok Baru. Dengan begitu persatuan dikalangan rakjat terpelihara adanja. Persatuan jang aktif, kerdja dan hasil usaha, bukan omong.
Selain faktor lahir ada pula jang penting bagi persatuan, jaitu faktor bathin. Apa sebab? Menurut pendapat kita, orang jang telah rusak achlaknja, bedjat moralnja, sudah dekat kepada tabi'at chewan. Dan kalau chewan, maklumlah.
Maunja bertjakar-tjakaran sadja dan terkam-menerkam dan bila manusia sudah dekat kepada tabi'at chewan maka bukan sadja perbuatannja jang banjak tertjela, akan tetapi mulutnjapun sudah kotor, dalam arti suka membohong, putar lidah setjara pokrol bambu mentjari alasan untuk membenarkan dirinja, suka djandji tapi tak dipenuhi, memutar2 keadaan menurut kemauannja, sekalipun tidak tjotjok dengan kenjataan, dari sehari kesehari dan dari bulan kebulan, omongnja putar2 sadja. Dari ja, bisa mendjadi tidak, dan dari tidak bisa mendjadi ja, tergantung dari keadaan, menguntungkan atau tidak bagi dirinja atau pihaknja.
Soal kebenaran tidak dipikirkan dan memang dikalangan chewan tidak ada pikiran apa2, kalau dia terkam kawannja sampai mati, malahan dia merasa gagah dan menang. Kemenangan chewan atas kawannja masih njata, akan tetapi kemenangan jang dianggap manusia jang rusak achlak dan budi pekertinja, adalah kemenangan pokrol bambu belaka, hocus pocus atau sunglap. Jang bengkok djadi lurus, jang lurus dianggap bengkok. Dengan djual omong, bitjara, amanat, pidato atau rentjana diatas kertas, teori jang tergantung diawang2, segala pangkat dan kedudukan dari jang paling tinggi dalam negara, sampai kepala djawatan berbagai rupa, dapat diperoleh dan diduduki, ada jang dengan nama partai. ada pula jang dengan nama ,,ahli, titel academicus atau berdjasa" dan sekali duduk, tetap duduk seperti pusaka dari nenek mojang. Kalau manusia sudah mulai tak dipertjaja mulutnja maka perbuatannja pun sudah harus ditjurigai, sebab membohong sudah dekat pada menipu dan mentjuri atau korrupsi itu tidak djauh dari orang jang suka menipu dan membohong atau putar lidah.
Pemimpin2 di RRT nampaknja maklum akan hal ini, oleh sebab itu sedapat mungkin mereka tak berpropaganda dengan omong akan tetapi dengan bukti dan kenjataan. Jang ditengok adalah hasil kerdja. Biar silangit dia, kalau hasil kerdjanja tidak ada tidaklah masuk hitungan. Di RRT orang berbitjara dengan bukti dan hasil usaha. Baik tani, buruh, pedagang dan pengusaha, maupun menteri, pegawai tinggi, propesor, seniman, pengarang, ahli technik, tukang sapu djalan, dokter, pelajan d.s.b. semuanja bitjara dengan kerdja, hasil kerdja. Hasil kerdja sama penting bagi masjarakat dan pembinaan negara. Antara dokter, djururawat dan pasien seperti saudara. Dari djurusan inilah kita memandang banjaknja pameran2 (exhibition) jang dikundjungi oleh ratusan ribu manusia ditiap2 tempat, malah dikota besar oleh djutaan orang. Ditiapz matjam barang jang dipertundjukkan, selalu sedia orang jang mendjelaskan, bagaimana membuat barang itu, dimana diperdapat, djumlah penghasilannja, alat2 jang diperlukan, proses membuatnja, kegunaannja, hubungannja dengan kehidupan masjarakat dsb. Dengan djalan begitu semua anggota masjarakat harga menghargai dan hormat menghormati satu sama lain. Dengan begitu rasa persatuan terpelihara. Pokrol bambu dan streber/avonturier tak ada.
Selain dari djurusan funksinja seseorang atau segolongan. dalam masjarakat, rasa harga menghargai dan hormat menghormati itu dipelihara pula dari djurusan kebudajaan, rakjat Tiongkok terbagi empat menurut funksinja dan lapangan pekerdjaannja, maka dari djurusan kebudajaan pembagian itu. adalah atas (suku2) bangsa, nationaliteiten. Kalau pembagian pertama kita pandang menurut garis membudjur dari kiri kekanan (horizontaal) maka pembagian kedua adalah vertikaal, menurut garis tegak melintang dari atas kebawah. Soal nationaliteiten ini adalah terutama mengenai kebudajaan, jaitu: kesusasteraan, kesenian musik, tari dan tonil, agama, adat istiadat, tjara berpakaian, makanan dan njanjian, faham dan pikiran, d.s.b. Dari djurusan ini sangat banjak bisa diusahakan timbulnja rasa persatuan, terutama jang mengenai bathin.
Salah satu daripada sikap Pemerintah Pusat Tiongkok jang sangat mena'djubkan kita ialah sikap tegas untuk membimbing, bukan sikap memaksa atau mendiktekan, atau dekreet-dekreet Segala sesuatu jang ada pada rakjat, diseluruh bagian negara jang luasnja tak terhingga itu, dipupuk, dan dituntun untuk berkembang, menempuh kemadjuan jang setinggi2nja. Segala perlainan dan perbedaan jang ada bukan untuk diadu dombakan akan tetapi untuk di-harmonikan sehingga masing2 perbendaharaan bangsa jang ada mendjadilah mutiara jang kilau kemilau dalam mahkota kebesaran dan keperkasaan Tiongkok Baru. Dengan sikap tegas seperti itu, tidak ada satu golongan, satu suku bangsa atau satu pihakpun jang tidak ingin turut dalam pembangunan negara, bekerdja mati2an. membanting tulang, diberi tjontoh lebih dulu oleh para pemimpin dari atas, jaitu tjontoh meniadakan/membelakangkan kepentingan diri sendiri. Penghargaan dan dorongan serta tjontoh jang diperlihatkan oleh Pemerintah Pusat di Peking itu, mendjadilah satu tjetusan semangat bekerdja jang berapi2, sehingga tidak satu daerah, tidak satu suku bangsa atau golongan jang mau ketinggalan. Semua mendjadi patriot dan pahlawan kerdja. Sembojan hanja satu: Bekerdja, Menghasilkan, Mentjipta dan Menabur-djasa! Guna kepentingan dan pembelaan Bangsa dan Tanah Air jang sangat ditjintai. Sembojan inilah jang mengikat seluruh rakjat Tiongkok sekarang mendjadi satu massa jang bulat, jang dapat digolongkan atau dikerahkan kearah djurusan jang dikehendaki, menurut keadaan, tempat dan waktu. Bila perlu untuk memukul hantjur agressor, siapa sadja. Atau untuk mendjabat tangan siapa sadja jang berhati djudjur, ingin bersahabat, berdamai dan bersaudara dengan Tiongkok Baru, persaudaraan dan perdamaian jang keluar dari hati jang sutji dan bersih. Naga Tiongkok Baru sekarang memang seram dipandang sebagai musuh akan tetapi amat lunak lembut dan halus budi bila dipandang dan didekati dengan hati sutji dan maksud baik.
Tingkat dan mutu persatuan rakjat begitu rupa menjebabkan tugas Pemerintah Pusat mendjadi sangat ringan dalam soal mendjaga keamanan dalam neger. Sikap polisi jang sangat menarik, bukan terhadap kami sebagai tamu, melainkan terhadap rakjat umum, bila kebetulan kita menoleh dari djendela, hotel kedjalan raja dan ada rakjat jang bersalah. Polisi tidak main tangkap akan tetap bersikap mendidik dan melindungi rakjat, dengan tidak pilih bulu. Miskin, kaja gagah atau lemas, laki2 dan peremuan, sama sadja, oleh sebab itu pihak rakjat umumpun tidak ragu2 memandang dan mempertjajai polisi.
Soal tentara, boleh dikata sangat sedikit menarik perhatian, karena tidak banjak kelihatan, dan kalau kebetulan nampak, adalah jang sedang mendjaga pos atau jang sedang istirahat rupania, berdjalan kaki, pakaian sederhana, zonder bintang atau strip jang mengkilat, tak dapat diketahui dan dibedakan, mana jang opsir dan mana jang pradjurit biasa. Semua sama. Dan kalau mereka agak banjak jang sedang berdjalan2 itu, maka kita lihatlah mereka berkumpul dengan anak2, pemuda-pemudi, orang tua, d.l.1. bersama melakukan sesuatu permainan jang sangat menarik hati kedua belah pihak. Suasana antara rakjat dan tentara adalah seperti suasana dalam satu rumah tangga, ada orang tua, ada adik laki2 dan ada adik perempuan, saudara tua d.s.b. Tidak kaku dalam pergaulan, tapi lepas, sehingga antara satu dengan jang lain seolah2 tidak ada perbedaan tugas kewadjiban, tak ada perbedaan pangkat dan kedudukan. Suasana sendjata atau berkelahi atau suasana perang tidak kelihatan sedikitpun. Di Mukden sendiri, jang tidak begitu djauh dari Korea, tidak ada hal jang menundjukkan adanja peperangan di Korea, ketjuali sekali-kali, pasukan sukarela pulang untuk istirahat. Mereka jang pulang inipun sikapnja seperti mereka tidak pulang dari medan perang, biasa sadja, kerdjanja biasa kembali sekalipun mereka terus memanggul sendjata. Selain tentara itu ada lagi militia rakjat jang dipersendjatai dan dilatih. Mereka tetap rakjat dan bekerdja serta hidup sebagai rakjat biasa.
Suasana antara laki2 dan perempuan tidak kaku atau intai mengintai, biasa sadja seolah2 laki2-perempuan jang sedang bermain, bekerdja dan berdjalan2, atau laki2 semua atau perempuan semua. Seolah2 begitu! Perbedaan sekse itu tidak diingat, jang dipikir hanja kewadjiban dan kerdjanja itu agar berhasil. Apakah romantiek hidup hilang dengan begitu, saja sendiri belum tahu, tapi ditaman2 bunga, kelihatan djuga keluarga2 jang membawa anak berdjalan2 atau pasangan2 jang sedang makan angin. Tapi semuanja berdjalan biasasadja. Dengan djalan begitu, soal keamanan di Tiongkok bukanlah hal jang memusingkan kepala instansi Pemerintah, akan tetapi rakjat itu sendiri telah mengatur dan mendjaganja dalam perhubungan dan pergaulan sehari2. Djanganlah pembatja lupa, bahwa manusia Tionghoa itu adalah sudah hasil daripada kebudajaan (cultuurmensch) jang sudah berdjalan ribuan tahun lamanja. Kota Peking umpamanja, umurnja sudah berapa tahun. Mesdjid Besar jang ada disana sadja sudah berumur paling sedikit 6 à 700 tahun.
Dalam masjarakat jang anggota2nia bersatu lahir dan bathin, diikat oleh rasa kewadjiban terhadap negara dan rakjat, selalu memikirkan hasil usahanja supaja berarti, tjukup pekerdjaan dan lapangan untuk mengolah tenaga dan pikiran, berada dalam ruang jang penuh dengan rasa harga menghargai dan hormat-menghormati, pikiran dan tangan selalu berisi...... dalam masjarakat jang begitu rupanja dalam kenjataan, maka keamanan itu tidaklah djadi soal.
Inilah jang saja lihat sudah tertjapai oleh Pemerintah. Pusat dalam tempo dua tahun telah berkedudukan diibu kota Peking, dengan nama Pemerintah Rakjat dari Republik Rakjat Tiongkok. Tiongkok sekarang memanglah kepunjaan rakjat, dari rakjat oleh rakjat dan untuk rakjat dalam kenjataan dan kehidupan sehari2. Inilah jang akan diusahakan terus, dengan tiada bantuan dan pertolongan bangsa/negara asing. Dan menurut keterangan Perdana Menteri Chou En-lai dalam satu pertemuan dengan para tamu, tenaga rakjat sekarang sudah bisa mendjadi sendi dan modal kebangunan Tiongkok Baru, berkat kerdja keras dan membanting tulang selama dua tahun ini. Kami sudah bisa djalan terus, dan mesti djalan terus, dengan tenaga rakjat kami sendiri, sekalipun masih akan memerlukan tempo beberapa tahun, sebab pekerdjaan kami memang besar, dan rakjat kami sangat banjak dan bumi tanah air kami maha luas, begitu kata Chou En-lai ketika mendjawab pertanjaan anggota delegasi, jang berbunji: Apakah Tiongkok tjukup mempunjai tenaga membangunkan negara dan masjarakat baru ini, dengan tidak dibantu dari luar?
Dalam hubungan dengan luar ini beliau menerangkan lagi bahwa persahabatan jang djudjur akan diterima dengan tangan terbuka, darimana dan siapapun datangnja dan bahwa. perbedaan nationaliteit faham dan gama, susunan politik dll. tidaklah mendjadi halangan untuk mengikat persahabatan dan mentjapai kerdja sama diantara bangsa2 dan negara2 di Asia dan seluruh dunia. Dari kejakinan ini dapatlah kita memandang bahwa perdamaian dunia itu dapat ditjapai dan harus diusahakan dengan djudjur dan Tiogkok ingin serta berusaha keras untuk mentjapai perdamaian jang berdasarkan harga menghargai dan hormat menghormati.
V. APAKAH PEMERINTAH RAKAT?
Untuk memahamkan apa jg. dinamakan Pemerintah Rakjat di Tiongkok sekarang, perlulah kita menoleh sebentar kebelakang, sebelum RRT berdiri dan sebelum Djepang memulai peperangan ditahun 1827. Kebanjakan orang diluar negeri tentu menjangka dan mengatakan bahwa Pemerintah Rakjat itu hanja nama belaka, sedang jang sebenarnja pada sangka mereka, Pemerintah Rakjat itu tidak lain daripada Pemerintah Komunis, diktatuur jang mengganas kekiri dan kekanan.
Mungkin begitu pula sangkaan setengah orang di Indonesia, lebih2 di Indonesia jang sekarang sudah hampir tidak dapat diketemukan lagi pikiran sehat dan tjara berpikir jang bebas, sudah kebanjakan terpengaruh oleh ,,standing internasional", hanja melihat kepada jang lahir sadja, jang tjemerlang sebentar dan memuaskan nafsu dan dahaga sekedjap. Memandang sampai djauh dan mendalam, menjelami jang hakikat, jang sebenarnja, sudah pajah. Semua dangkal, dan hanja pandai menari diatas lantai jang litjin sadja, dilitjinkan orang pula maka litjin.
Oleh karena itu keadaan di Tiongkok dipandang tjukup diketahui sadja dari berita2 koran dan kantor berita Inggeris-Amerika, toh keadaannja tidak djauh beda dengan keadaan Indonesia dimasa pendjadjahan dulu. (Ingat plakat di Shanghai: Tionghoa dan andjing terlarang masuk; di Indonesia: Verboden voor Inlanders en honden). Sangka mereka, bagaimanakah Tiongkok bisa hidup, kalau terus diblokkade Inggeris-Amerika......... karena tempohari, dimasa revolusi Indonesia berkobar, rupanja keadaan di Indonesia ini tidak tertahankan lagi oleh para pemimpin dan tuan2 baru golongan atas, sekalipun semangat rakjat berdjuang berkobar2. Mereka menganggap, Indonesia diblokkade, tapi di Tiongkok tidak begitu anggapan orang, terbalik. Bukan Tiongkok jang diblokkade Amerika, tapi negara2 imperialis dan kapitalis itulah jang diblokkade oleh Tiongkok Baru, sehingga satu butir barang ketjil dari negeri imperialis-kapitalis, tidak dapat masuk. Itu sebabnja maka Inggeris, Amerika, Perantjis dll. marah pada RRT. sebab dengan diblokkir itu, mereka kehilangan mutiara mahkotanja di Timur, kehilangan sumber2 kesenangan, kehilangan ,,sjorganja" di Shanghai, satu kapal perang tidak boleh sampai lagi ke ,,The Bund", pelabuhan Shanghai jang maha besar itu. Karena itulah bangsa asing itu marah, semuanja sekarang sudah berada ditangan rakjat, oleh rakjat dan untuk rakjat. Pelabuhan, paberik, toko barang2 entah apa lagi jang tidak. Semua pekerdjaan dan barang keperluan hidup diatur dan diusahakan sendiri.
Dengan pimpinan Pemerintah Rakjat, seluruh Tiongkok sekarang diblokkir oleh rakjat sendiri, untuk kepentingan. rakjat, barang asing tidak boleh masuk, kalau pemasukan itu berarti memundurkan produksi rakjat. Bertukaran barang, boleh, seperti dengan India, asal diatas dasar dan perhitungan saling membawa manfa'at bagi kedua belah iphak. Inilah jang diterangkan oleh Pemerintah pada rakjat, dan inilah jang disambut dengan tangan terbuka oleh rakjat, sebab sama terasa, sudah sama menderita dimasa lampu. Perhitungan Pemerintah Pusat tepat, diterima dan disambut oleh seluruh rakjat dengan tangan terbuka, dengan memulai segala matjam usaha, ketjil dan besar, dengan alat sederhana atau dengan mesin. Apa jang ada. Dan pembatja tahu sendiri, bagaimana semangat bekerdja dan kegiatan bekerdja menjala2 didada rakjat dan bangsa Tionghoa umumnja. Diluar Tiongkok hal itu dapat disaksikan dengan mata sendiri, dan di Tiongkok orang akan kagum melihat bukti daripada semangat dan keuletan bekerdja itu, bila melihat hasil2 kebudajaan jang banjak, batu dan logam jang sekeras2nja diolah dan dilukis untuk menghiasi keindahan hidup, jaitu hidup materil dan hidup bathin (agama, kesenian d.s.b.) dengan pendirian hendak mengabdikan diri pada kehidupan dan hidup-manusia jang abadi. Gedung2, telaga2, tjandi2, patung2 Budha jang seperti raksasa besarnja (dari bawah lutut sampai ketumitnja sadja, lebih besar daripada orang biasa), tiang2 dan bangunan2 jang melulu dari batu marmer atau logam. Ini semua adalah mendjadi pertanda dan saksi jang njata dari keradjinan, keuletan dan kesabaran djiwa Tiongkok untuk bekerdja, menghasilkan dan mentjipta. Betul2 bulat menjerah pada pekerdjaan dan kewadjiban.
Inilah jang akan dipelihara, dipupuk terus dan dibimbing oleh Pemerintah Pusat, dan ia tahu bila ini dapat tertjapai, ditundjukkan bukti kebenarannja dengan berupa kenjataan, maka seluruh rakjat akan dapat digenggam, dalam arti pelukan, tjinta-kasih jang mesra. Dalam hal itu, nistjaja, disuruh menjelami lautan api sekalipun, maka rakjat akan selalu siap dan bersedia.
Bangsa asing djuga tahu akan hal ini. Bila rakjat Tiongkok diberi kesempatan untuk bekerdja, melatih dan mempraktekkan bakat dan ketjakapan jang ada padanja, nistjaja kesempatan untuk memeras dan melakukan politik pendjadjahan dan menimbulkan ekonomi kolonial jang sangat enak dan menguntungkan bagi mereka di Tiongkok itu tentu akan hilang sama sekali. Ini pula salah satu sebab maka mereka marah betul terhadap Pemerintah Rakjat dan Republik Rakjat sekarang.
Segala jang diterangkan diatas, adalah kejakinan, pendirian, sikap dan pedoman bertindak bagi Pemerintah Pusat di Peking, hasil perdjuangan dan latihan djiwa dan raga jang berpuluh tahun, terutama para pemimpin Kungchantang. Dada mereka lapang, pemandangannja djauh kemuka dan pendiriannja luas meliputi seluruh rakjat jang warna warni dalam hidup dan kehidupannja lahir dan bathin, tahu membedakan lojang dari mas, pandai memandang jang sebenarnja berharga, kekal dan abadi, tidak silau melihat jang tjemerlang sebentar. Djiwa besar jang akan sanggup menghadapi soal dan pekerdjaan besar. Bahwa seluruh rakjat akan didjadikan komunis, tidak mungkin, dan tak guna. Bahwa hanja Partai Komunis jang menguasai segala2nja di Tiongkok, tidak mungkin, tidak perlu dan berbahaja. Oleh sebab itu satu2nja pendirian dan sikap jang benar ialah kerdjasama, bersama segala golongan dan partai membentuk front nasional, persatuan perdjuangan, mengedjar tjita2 bersama, kebesaran dan kemuliaan bangsa dan Tanah Air, untuk rakjat dan negara Tiongkok jang ditjintai. Dimana sadja, golongan apa sadja, bisa bekerdja, tjinta pada negara dan bangsa, mau berkorban untuk kebesaran Tiongkok. Oleh sebab itu kooperasi diantara segala golongan, inilah satu2nja sikap, dan itulah jang didjalankan dan telah berdjalan sekarang.
Untuk memahamkan jang diatas ini, pembatja dapat menoleh kebelakang sedikit, banjak hal2 jang masih diingat, sebab baru kedjadian. Diantaranja ialah: Setelah Djepang kalah, Kungchantang tidaklah lekas2 bermusuhan dengan Kuomintang, walaupun jang belakangan ini sebenarnja bermaksud hendak membasmi habis jang tersebut duluan. Untuk kepentingan kerdjasama itulah maka Mao Che-tung bersedia pergi ke Chungking untuk berembuk, pada bulan Agustus 1945.
Principe kerdjasama dari Partai Komunis itu telah mendjadi kejakinan di Tiongkok dan sudah ada sedjak zaman Sun Yat-sen. Permusuhan mulai, sesudah bapak Republik Tiongkok itu wafat, dan pihak Kuomintang tidak mau tahu dengan kerdjasama. Perang saudara berkobar sesudah Chiang Kai-shek dibeberapa tempat melakukan pembunuhan besar2an terhadap komunis, tar dan buruh jang revolusioner. dan progressief. Dalam bulan Mei 1927, Chiang Kai-shek membubarkan dan melarang serikat2 tani dan buruh. Kaum Kungchantang lalu mengatur perlawanan dan memundurkan diri kesebelah Kiangsi. Perang saudarapun berkobar. Lamanja 10 tahun. Tahun 1937, melihat kemadjuan2 dari tentara Kungchantang, maka diadakan perdamaian, dan didirikanlah Front Persatuan, dengan pengakuan pada Tentara Merah sebagai Tentara ke-VIII. Tahun berikutnja berdiri pula Tentara ke-IV jang terdiri dari geurilla2 Kungchantang di Tiongkok-Tengah.
Djadi untuk melandjutkan kerdja-sama itulah maka Ketua Mao Che-tung terbang ke Chungking. Beberapa bulan sebelum itu beliau telah mengeluarkan brosure, dimana diterangkan bagaimana mentjapai satu Pemerintah-Koalisi.
Tapi apakah djawab dari pihak Kuomintang? Dalam bulan Djuli 1946 terdjadilah pembunuhan atas dirinja Wen Yi-to dan Li Kung-po dan bulan Maret 1947, tentara Kuomintang membombardir dan menduduki Yen-an, ibu-kota Kungchantang. Dalam bulan Desember tahun itu djuga, barulah Ketua Mao Tse Tung menjatakan bahwa Perang Revolusi telah berobah, dari mengambil sikap defensief (bertahan) selama ini, mulai sekarang harus mendjadi perang offensief, menjerang. Musuh tak ditjari, bila bersua pantang dihindarkan! Dalam bulan April 1048, Yen-an telah dapat direbut kembali. Sedjak itu berturut2lah kemenangan gemilang jang ditjapai oleh Tentara Pembebasan Rakjat. Disamping kemenangan2 militer itu, dimana2 principe kerdja-sama itulah jang didjadikan pedoman bagi mengatur pemerintahan ditiap2 propinsi dan daerah ketjil. Kerdja sama diantara segala nationaliteit jang ada (seperti diketahui golongan Islam diakui sebagai salah satu nationality, jang mempunjai tjara hidup, adat istiadat dan kebudajaan sendiri, jang sudah turun temurun dari abad ke abad), kerdja-sama diantara segala partai jang ada, kerdja-sama diantara keempat golongan jang ada (tani, buruh, burdjuis ketjil dan burdjuis nasional menurut lapangan kerdja dan funksinja masing2), kerdja sama menurut keadaan disatu2 tempat dan propinsi.
Diantara suku2 bangsa itu, bangsa Han-lah jang terbanjak. Tapi disatu daerah umpamanja, dimana sedikit suku bangsa Han, maka mereka tidak banjak menduduki kursi2 dewan perwakilan, sedang untuk mendjadi pembesar, bukan partai atau golongan atau suku bangsa jang mendjadi ukuran, akan tetapi pengalaman, ketjakapan dan kepertjajaan rakjat kepada orang itu. Adanja orang Islam mendjadi Kepala Daerah Gubernur Propinsi di Sinkiang, bernama Burhan dan anggota Pemerintah Pusat dari sana, Saifuddin, dapatlah dipandang dari sudut penghargaan dan kerdjasama jang mendjadi sikap dan pendirian Pemerintah Pusat. Anggauta kabinet jang otonom di Tungpei (Manchuria), jang mendjadi menteri Perdagangan ialah orang Islam, begitu djuga kepala Department Store di Shenyang (Mukden) jang mengontrole keluar masuk dan pembagian barang ketoko2 dan paberik2 adalah teman sekolah sdr. Ismail Banda di Al Azhar, Cairo, bernama Abdul Madjid. Waktu diadjaknja kami berbahasa Arab, ternjata tidak sanggup, maka ketika itulah kami merasa sajang dan sungguh rugi sekali jang Hamka tidak diperbolehkan oleh partainja pergi, dengan alasan, kaum Islam disana hidup tertindas.
Padahal tidak sedikit diantara orang Islam rakjat Tiongkok, jang sedjak dahulu ikut dalam gerakan revolusioner untuk melepaskan bangsanja dari belenggu kapitalis dan imperialis asing dan birokrat-koruptor bangsa sendiri. Apa bedanja di Indonesia, hanja sadja, kalau tak salah, sdr. Hamka tidaklah termasuk kedalam orang pergerakan Islam, jang memperajuangkan kemerdekaan politik, mentjapai Indonesia merdeka, dizaman pendjadjahan Belanda dulu.
Dan setiap orang jang berpendirian progressif dan berfaham revolusioner adalah mendapat penghargaan dan penghormatan jang sepantasnja, asal sadja bukan hanja dimulut, bitjara dan pidato atau amanat, akan tetapi dibuktikan dengan perbuatan dan peramalan sehari2. Soal agama dan suku bangsa, begitu djuga soal2 dan kedjadian jang lampau, tidak mendjadi rintangan untuk madju. Tiongkok Baru tidak mengenal sifat dendam, chizid dan dengki akan tjemburu2an. Tiongkok tjukup luas dan pekerdjaan tjukup banjak untuk berlomba dan berkompetisi (bukan berkonkurensi), menabur djasa, menunaikan bakti terhadap Tanah Air dan Bangsa, terhadap negara dan masjarakat jang maha luas dan berpantja warna jang indah2. Djiwa ketjil tak dikenal di Tiongkok lagi. Robert Payne, penulis buku ,,Mao Che Tung, Ruler of Red China", jang diwaktu perundingan antara Kuomintang dan Kungchantang di Chungking, djuga berada disana, telah mendapat kesempatan untuk bertjakap2 dengan Mao Che-tung sendiri. Jang menarik perhatian dalam hubungan dengan tulisan ini ialah pertanjaan jang dikemukakan oleh R. Payne. Katanja: Lao Tse berpendapat bahwa memerintah itu adalah sama mudahnja dengan memasak ikan2 ketjil; Sependapatkah tuan dengan dia?
Sambutan Mao Che-tung seperti berikut: ,,Tidak akan ada gubernemen (pemerintah), rakjat jang akan memerintah. Dan didaerah2 jang sudah dibebaskan oleh Kungchantang, tentu tuan akan melihat, bahwa rakjat itulah jang memerintah dirinja sendiri".
Waktu Mao Che-tung mengatakan pada Payne, bahwa akan datang lagi banjak ,,Long Marches", jang belakangan dengan lantas bertanja: Apakah peperangan akan berdjalan terus? Jang didjawab dengan: Mesti, ketjuali Kuomintang membolehkan (setudju) rakjat akan memerintah dirinja sendiri.
Djadi soal Pemerintah Rakjat itu bukan nama jang ditjari2 atau dipilih2 agar muluk didengar telinga, tidak. Soal itu ada- lah kejakinan, hasil pikiran dan perdjuangan Mao Che-tung, sebagai ketua dari Kungchantang, dan mendjadi kejakinan pula dari seluruh kader, jang sudah mempraktekkannja dimana2, sebelum mereka mendapat kemenangan dan sebelum terdjadi Proklamasi Republik Rakjat. Pemerintah Rakjat bukan perhiasan bibir belaka, tapi sudah mendjadi kenjataan diseluruh Tiongkok, kenjataan jang membuktikan bahwa kekuasaan politik tidaklah dimonopoli oleh partai Kungchantang, melainkan pemerintah koalisi jang disusun dimana2, disertai dan dibentuk bersama oleh segenap partai jang ada, semua golongan dan suku bangsa jang ada ditiap2 daerah.
Djuga Robert Payne menerangkan bahwa Mao sedikit sekali mengetahui tentang Sovjet Russia ketika itu, sehingga tak mungkin buah pikiran dan filsafatnja itu ditiru2 dari sana, melainkan bersumber dari djiwa dan sedjarah Tiongkok, dari hasil pengalaman, latihan dan perdjuangan jang pahit2 berpuluh tahun, ditengah rimba, dipadang pasir, dalam gua, dalam pukulan panas dan dingin silih berganti, lapar dan dahaga.
Robert Payne jakin betul bahwa Revolusi jang telah menang di Tiongkok sekarang ini, bukanlah dapat inspirasi dari Moskow, akan tetapi tumbuh dan meletus oleh kodrat jang ada dalam kandungan djiwa Tiongkok sendiri, sepandjang sedjarahnja jang sudah begitu lama. Dan tidaklah bersandar pada teori Marx-Lenin, ketjuali beberapa hal jang mengenai susunan lahir dan bentuknja. Pada hakekatnja adalah asli Tiongkok.
VI. PERHUBUNGAN DENGAN SOVJET UNI.
Orang selalu salah mengerti, mungkin karena salah informasi, dan menjangka bahwa segala kekatjauan di Eropah sekarang adalah disebabkan maksud2 agressi dan expansi dari Sovjet Uni, artinja, begitu dikatakan orang dari pihak tertentu dan orang jang mendengar jang tak berpikir pandjang dan tak punja pikiran merdeka, karena selalu dituntun dengan kili2 (sepotong kaju jang ditaruh dihidung kerbau) kili2 jang berupa dollar, pertjaja selalu, nerima terus. Untuk mengobati orang seperti itu, (saja harap tidak ada dikalangan pembatja) maka haraplah suka membatja dulu buku jang ditulis oleh John Gunther, ,,Behind the Curtain", agar mendapat gambaran sedikit, bagaimana wataknja Sovjet-Uni didalam pergaulan internasional, djudjurkah atau tidak, diakah jang rendah atau orang lain jang tak dipertjaja mulutnja. Diakah jang banjak telah melanggar perdiandjian2 dari Perang Dunia ke-II atau pihak lain jang melanggar! Sovjetkah jang ingin damai, atau Amerika (negerinja John Gunther) sendiri jang mengatjau dinegeri2 orang, menghasut2 perang dan memetjah belah.
Kalau mau tahu lebih djelas lagi, batjalah buku jang ditulis. oleh Konni Zilliacus, seorang anggauta Parlemen Inggeris dari Labour Party, jang telah lebih suka mengorbankan keanggautaan Parlemen-nja dari pada harus didikte sadja dari atas, terutama tidak dapat menjetudjui sama sekali politik Kabinet Buruh Inggris jang selalu membuntut pada Amerika, begitu djuga politiknja jang kolot dan tidak progressif terhadap negara2 Eropa, sehigga menurut pendapatnja, politik luar negeri kabinet Attlee, serupa sadja dengan politik partai konservatif, Churchill. Bukunja itu berisikan reportage dan uraian jang djelas dan gedokumenteerd, bernama ,,I Choose Peace", dapat dianggap suaranja golongan opposisi didalam Labour Party dan menentang politik Attlee dan Bevin almarhum. Djadi kedjatuhan kabinet Attlee itu baru2 ini, mungkin disebabkan makin banjaknja anggauta jang tidak setudju dan keluar dari partai, sehingga partai konservatif memperoleh kelebihan suara dalam pemilihan.
Begitulah Zilliacus menerangkan dengan djelas, apa sebenarnja jang terdjadi di Italia sehabis perang jang baru lalu ini, di Junani dll. negeri. Terutama dikedua negeri jang tersebut itu, orang banjak menjangka, bahwa Sovjet telah turut tjampur dalam perang saudara dan pertentangan politik negeri luaran, padahal menurut Zilliacus, sedikitpun tidak dapat dibuktikan tentang tjampur tangannja Sovjet Uni. Adanja panitia2 penjelidikan hanja untuk membuka kesempatan bagi Amerika Inggeris, untuk mentjari kontak dan dalam hal ini Inggeris Amerika tidak segan membuang ongkos jang tidak sedikit djumlahnja, dan tidak segan pula bekerdja sama dengan pengchianat bangsa jang membantu Hitler, kalau perlu ,,membeli" mereka untuk dipergunakan mendjadi alat kapitalisbeka. imperialis Amerika. Hal inilah jang menjebabkan berkobarnja pertempuran di Junani dan kaum geurilla jang melawan nazi Djerman tidak senang melihat keadaan seperti itu. Jang bertempur di Junanipun, bukanlah jang dinamakan kaum kanan melawan kaum partisan, pedjuang, buruh dan tani, akan tetapi tentara Inggeris dan Amerikalah jang membunuhi kaum patriot dan pentjinta bangsa dinegeri itu. Dibarisan muka dan belakang ditaruhlah bekas andjing2 Hitler, diberi sendjata setjukupžnja dan dibiarkan pula melakukan korupsi besar2an, agar dengan begitu achlak mendjadi merosot dan moral mendjadi bedjat sama sekali, sehingga kwaliteitnja tidak lebih lagi dari pada budak belian jang main-inggih sadja pada tuannja, hanja bedanja sedikit dari budak sebenarnja, ialah, budak modern ini bisa hidup mewah disamping membunuhi dan menganiaja bangsanja sendiri. Begitulah diterangkan olch Zilliacus dalam bukunja.
Inilah sekedar bandingan, agar orang djangan terlalu lekas pertjaja apa jang ditiup2 dari seberang lautan, dari negeri2 jang dikatakan demokratis dsb. itu. Menangnja Kungchantang di Tiongkok-pun dikatakanlah karena bantuan Sovjet dan karena itu Tiongkok adalah negara-sateliet Sovjet, padahal kita sendiri telah melihat dengan mata sendiri, bahwa di Tiongkok tidak ada sedikitpun tanda2 bahwa negeri itu ,,didjadjah" oleh Sovjet, dan penulis Robert Payne sendiri telah membantahnja.
Kalau begitu apakah sebenarnja perhubungan antara RRT dengan Sovjet Uni? Untuk mendjawab ini, tidak begitu mudah. Pertama harus ditengok dari sudut sedjarah. Selama ini, sedjak pemerintah Tzaar diruntuhkan dan diganti dengan pemerintah Sovjet, Russia itu tak pernah menundjukkan sikap dan maksud djahat terhadap bangsa asing, istimewa terhadap Tiongkok. Sun Yat Sen, sekalipun bukan komunis, tapi memandang Sovjet sebagai sahabatnja. Sedjak pemerintah Chiang Kai Shek mendjadi reaksioner, maka madame Sun Yat Sen selalu mendjadi opposisi, sekalipun isteri Chiang aKi Shek adik kandungnja sendiri.
Rakjat Tiongkok memandang sebaliknja terhadap Amerika, Inggeris, Perantjis dan Djepang terutama. Kemelaratan dan kesengsaraan, kehinaan dan noda jang melekat pada Tiongkok adalah disebabkan sikap dan perbuatan negara2 imperialis itu. Hanja Chiang Kai Shek dan gerombolannja jang memandang Amerika sebagai penolongnja, karena itu bersedia dipalut hutang sama sekali pada Amerika. Hasil korupsi telah penuhi kantog dan sudah safe ditaruh di bank2 di Amerika, berupa andil, deviezen, mas dll. Inilah perbandingan bukti dari sedjarah, dan semua rakjat Tiongkok sudah tahu akan hal ini. Perbandingan dimata Tiongkok, antara negara Sovjet Uni dengan negara2 ,,demokratis"-burdjuis, kapitalis-imperialis jang dikepalai oleh Amerika.
Disinilah salah satu kepopuleran Kungchantang dan Mao Che-tung, kalau ditanja rakjat biasa sadja akan didjawabnja: Ketua Mao tak punja uang dan badjunja sama sadja dengan saja. Istananja tak ada, makannja sama dengan kita, d.s.b. Sebaliknja dengan Sovjet, sekalipun kadang2 ada mempunjai konsessi diluar negeri, malahan tidak diexploitir dan kalau mau diusahakan sesuatu tambang umpamanja, adalah bersama2 dengan pemerintah negeri jang memberi konsessi itu.
Tidak lama sesudah berdirinja RRT, pemerintah Sovjet lantas bersedia menjerahkan kembali Dairen (Port Arthur) dalam suatu perdjandjian persahabatan, dan sekarang memang RRT-lah jang berkuasa didaerah pelabuhan itu. Bukan itu sadja, ahli2 Sovjet pun datang membantu dengan systeem begitu rupa, sehingga tidak perlu mereka datang banjak2, tapi dengan seorang ahli umpamanja dapat berdjalan kembali beberapa fabrik. Djuga tak perlu banjak2 pergi ke Moskow, seperti orang di Indonesia beramai2 ke Amerika, Nederland dll. Entah kapan pulangnja dan keahlian apa jang bisa didapat dengan menindjau bolak balik berbondong2, menghabiskan deviezen, memperbanjak hutang, membuang ongkos untuk jang tidak berguna.
Sikapnja bukan mengatur, memerintah, kasih instruksi atau minta gadji besar2an, tidak, melainkan mereka datang dengan maksud membimbing dan menuntun, sehingga dalam tempo jang tertentu seorang mandur sudah bisa naik mendjadi baas, seorang masinis sudah bisa naik mendjadi kepala bagian paberik dsb. Dengan begitu dari tahun ketahun, kader bertambah banjak, dan paberik dapat berdjalan terus. Pokoknja produksi djalan, itu dulu jang diutamakan. Bukan karena kurang produksi itu, lantas barang Sovjet membandjiri Tiongkok, tidak. Jang boleh masuk dari Sovjet hanjalah jang perlu bagi RRT, seperti alat2 dan mesin?. Itupun tidak usah dalam djumlah besar, sebab sesampai di Tiongkok lantas ditiru, kalau perlu, orang Russia datang memberi petundjuk. Systeem ini dapat dilakukan karena Tiongkok sendiri sudah mempunjai paberik induk, artinja peleburan wadja dan logam lainnja, begitu djuga pentjetakannja.
Keperluan dari pihak Tiongkok dan kesediaan dari pihak Sovjet inilah jang segera merapatkan perhubungan antara Sovjet dan RRT. Inilah djuga jang mendjadi perbintjangan antara lain, sewaktu ketua Mao berkundjung ke Moskow dalam bulan Desember 1949 dan tinggal disana kira² 3 bulan lamanja. Sebab sebagai ketua jang bertanggung djawab terhadap rakjat jang ratusan diuta itu, beliau tentu tidak merasa tjukup dengan mengirim utusan² sadja atau penindjau2 belaka, tapi harus dijakinkan sendiri, apakah betul2 maksud Sovjet itu baik terhadap Tiongkok dan dapatkah kira2 dipertanggung-djawabkan pada rakjat!
Selain dari itu, ada lagi jang menjebabkan terikatnja tali persaudaraan antara kedua negara raksasa itu. Selain letak jang geografis. Russia lebih dulu telah memenangkan revolusi. Hanja pengalaman² mengenai tani dan buruh jang pahit2 jang dapat dipergunakan sebagai peladjaran di RRT, sehingga dengan begitu korban² dan kegagalan² pertjobaan Sovjet dulu, tidak usah terulang lagi di Tiongkok. Baik Tiongkok, maupun Russia, kedua2nja adalah negeri agraria sewaktu mengalami revolusi. Betul ada industri, akan tetapi belum begitu dewasa. Dengan susah pajah, Sovjet dapat madju terus, dengan tidak usah terikat kepada negeri2 kapitalis-imperialis, sehingga kemenangan revolusi dapat terhindar dari bahaja dan antjaman dari luar. Kekuatan Sovjet sudah terbukti dalam perang jang baru lalu, berkat hasil dan perasan keringat sendiri dan terpeliharanja Sovjet dari tjengkeraman pengaruh asing sedjak tahun 1917.
Pindjaman jang diberikan Sovjet pada RRT bukan seperti pindjaman jang lazim diberikan oleh negeri kapitalis-imperialis. Kedua belah pihak merasa sama2 berkewadjiban untuk memperlihatkan pada dunia, bahwa ada djalan lain dan tjara lain untuk berhubungan ekonomi antara satu negara dengan jang lain, dengan tidak usah salah satu mendjadi korban, artinja, jang satu memeras dan jang lain diperas, seperti halnja perhubungan ekonomis dengan dan diantara negara2 kapitalis-imperialis, jang tidak boleh tidak, mesti menimbulkan ekonomi kolonial dan monopoli kapital asing di negara jang banjak memindjam. Tjontohnja sudah banjak, hanja sadja rupanja banjak orang jang belum mau mengerti, sebab terasa enak djuga, persis seperti orang minum tjandu, atau.... orang jang sudah bergelimang dengan kotoran, tidak tahu dan tidak merasa bahwa ia kotor, seperti orang jang tinggal diatas kandang kerbau, tidak merasa bahwa tempatnja itu berbau tahi kerbau....
Begitulah! Perhubungan jang ada antara RRT dan Sovjet Uni, oleh kedua belah pihak sama2 terasa perlunja dan manfa'atnja, diperlukan oleh praktek dan usaha, sehari2 dalam mewudjudkan tjita2, karena itu lambat laun perhubungan itu mendjadilah persaudaraan jang akrab sekali.
Demikianpun persahabatan dengan Tiongkok itu bukanlah monopolinja Sovjet Uni. Dengan siapa sadja RRT mau bersahabat dan berhubungan baik, asal dengan maksud dan tudjuan jang sama2 akan menguntungkan kedua belah pihak, diatas dasar harga menghargai dan hormat menghormati. Tengoklah pertumbuhan dan perkembangan perhubungan antara RRT dengan negara raksasa jang ketiga, jaitu India.
Dipandang dari sudut praktis, adakah satu negeri luar jangakan sanggup menggantikan kedudukan Sovjet dalam perhubungannja dengan RRT itu? Sebaliknja pihak Sovjet, sekalipun RRT banjak beladjar dan mentjontoh dari dia, tidaklah diperlihatkannja sikap tjongkak atau menggagah terhadap Tiongkok. Diluar negeri, kepentingan RRT dibelanja seperti kepentingannja sendiri, dengan tidak mengharapkan upah atau balasan, berupa konsessi atau ini-itu. Apa jang dapat diperbuatnja untuk kepentingan RRT, diusahakannja sebaik2nja. Sahabat dan saudara jang setia dan djudjur ichlas, begitulah pandangan kita terhadap perhubungan jang ada sekarang antara RRT dengan Sovjet Uni.
Sebagaimana RRT memandang pada Sovjet, tentu begitu pulalah Korea Utara memandang pada RRT. Ketjuali geografis, banjak lagi hal2 dan keadaan jang mengharuskan Korea Utara mesti bergandengan tangan dengan RRT. Kelain djurusan ia tidak dapat menoleh mentjari kawan, diseberang lautnja, ada Djepang, bekas pendjadjah dan pemeras dinegerinja. Hanja sadja jang terasa sangat aneh, ialah bahwa Korea Selatan harus berlindung pada Amerika Serikat, jang djarak antara keduanja ribuan mil. Lebih aneh lagi, jang Amerika dan kawan2nja merasa pada tempatnja, sudah mengirim tentara ke Korea itu, pada hal tiada bahaja sedikitpun jang akan mengantjam batas negerinja masing-masing. Oleh Korea Utara tidak akan terantjam dan oleh RRT pun tidak. Tapi rupanja begitulah sifat dunia ini. Isi dada jang tersembunji selalu dilemparkan pada orang lain, agar maksud djahat jang disembunjikan dalam lubuk hati djangan ditjari orang padanja.
Lain halnja dengan RRT. Mustahil satu negara besar, sekalipun baru dua tahun umurnja, akan tetap tinggal berpangku tangan, kalau perbatasan negerinja sudah mulai dilanggar orang. (Ingat, pesawat Amerika sudah membom desa2 didaerah RRT). Bila dibiarkan, berarti hasil revolusi akan diindjak2 orang kembali, dan rakjatpun akan merasa tertipu, bila pemerintah RRT membiarkan tentara asing mengindjak Tanah Airnja. Kalau begitu, sama sadja dengan Chiang Kai Shek. Begitu akan kata rakjat. Oleh sebab itu, satu tahun jang lalu 25 Oktober 1950 rakjat dengan serentak memperlihatkan giginja, waktu Amerika sudah ditepi sungai Yalu. Dibentuklah pasukan sukarela. Perajaan satu tahun terbentuknja pasukan sukarela itu, kami hadiri sendiri di Shanghai. Barang tentu Pemerintah tak dapat melarangnja.
Soal Tibet sendiri harus dipandang dari sudut persatuan dan keamanan belaka, bukan sekali2 soal expansi atau agresi, sebab dimasa pemerintahan Kuomintangpun, Tibet adalah bagian dari Tiongkok Raja hanja sadja tidak begitu diindahkan oleh Nanking. Sebaik RRT berdiri, Tibet harus mendjadi perhatian dan karena itu dengan segala kebidjaksanaan masuklah Tentara Pembebasan Rakjat kesana. Bagi Tibet, jang selama ini diabaikan, kedatangan TPR itu berartilah satu keuntungan dan kemadjuan dan dipandang dari katjamata Peking, Tibet itu, bila tetap seperti sediakala, berartilah persatuan seluruh Tiongkok masih sumbing, karena satu suku bangsa besar tidak dibawa kedalam pergaulan masjarakat negara Tiongkok Baru.
Menurut pengalaman di Sovjet Russia, setelah revolusi Bolsjewik mendapat kemenangan, masih Ima pihak luar, kapitalis-imperialis jang sekongkol dengan kaum reaksioner dan anti-revolusioner jang lari dari Rusia, terus menerus melakukan perlawanan dengan diongkosi oleh kapitalis-imperialis asing, seperti Inggeris, Perantjis, Amerika dan Djepang. Dari sebelah Barat dan Timur, malah dari Utara, mereka mentjoba meneruskan dan menghantjurkan kemenangan jang telah tertjapai. Berkat pimpinan Lenin jang bidjaksana, semua usaha tersebut tidak ada jang berhasil, sekalipun banjak pengorbanan jang harus diberikan, jang sedianja tidak perlu, bila adjakan damai dari Lenin diterima oleh negeri2 kapitalis Barat dan Djepang.
Kungchantang jang telah mendapat kemenangan di Tiongkok sekarang ini pun tidak ingin, tidak suka dan merasa sedih, bila harus memberikan korban jang tidak perlu, artinja untuk mentjegah pengorbanan dan penderitaan rakjat, lebih baik diselesaikan lekas2. Dengan alasan2 jang dapat dimengerti ini, mereka memasuki Tibet dan dengan begitu tertjegah daerah Tibet untuk didjadikan orang asing sebagai pusat komplotan dan provokasi atau djadi pangkalan anasir2 jang hendak bermaksud djahat terhadap RRT. Dapat dimengerti, karena itulah maka pihak India tidak ada merasa apa2, sewaktu TPR memasuki Tibet, sekalipun dari pihak kaum imperialis dihasut2, dengan mengatakan dan berteriak2, bahwa masuknja Tentara Kemerdekaan Rakjat ke Tibet adalah satu tanda expansi dan maksud agressif jang ada pada RRT. Tapi India, jang langsung berbatasan dengan Tibet, tidak ada bilang apa2, malah kaum imperialis jang teriak2 setinggi langit, dengan maksud jang tidak baik, jaitu agar India djangan berdjabatan tangan dengan RRT. Tapi njatanja, dengan perkundjungan kami ke Tiongkok itu, terbukti bahwa Indialah satu2nja negara, jang mengirimkan delegasi sampai 17 orang djumlahnja, terdiri dari berbagai ahli, diantaranja iparnja PM Nehru sendiri, dan tidak hanja untuk menghadiri perajaan 1 Oktober akan tetapi djuga sebagai satu goodwill-mission jang mempeladjari berbagai soal dan keadaan.
Memang sangat tidak enak dimata kaum pendjadjah, imperialis dan agressor, bila Tiongkok dan India bersahabat dan berdjabatan tangan, sebab rakjat keduanja sudah hampir seribu djuta djumlahnja, djadi seperdua dari penduduk dunia. Apa lagi bersahabat ketiganja, dengan Sovjet lagi........ Kaum imperialis tentu akan geger. Mungkin hilang akal, dan tidak lain jang diteriakkan setinggi langit kesegenap pendjuru mata angin, lebih2 jang berada dalam lingkungan pengaruh dollar dan pound, bahwa Sovjet dan RRT hendak menjerang, expansi dsb. Jang sebenarnja ialah, sebagaimana Lenin dulu memaksakan supaja perdamaian diikat dengan Djerman, dan seterusnja ingin damai, mesti ada suasana damai untuk memperlihatkan pada rakjat bahwa kita telah berrevolusi dan mau merobah nasib rakjat, harus bekerdja agar djangan dituduh tukang bitjara sadja......... maka sebagaimana keadaan Sovjet dulu itu, mengharuskan dan membutuhkan adanja perdamaian, maka begitu pulalah sekarang, Tiongkok Baru ingin damai, anti pada perang, sebab pekerdjaan lain banjak sekali, jaitu pekerdjaan membangun, berusaha memperbaiki hidup manusia dan menolong perikemanusiaan umumnja. Salahsatu segi dari peri kemanusiaan itu menurut anggapan dan kejakinan Tiongkok Baru, ialah perdamaian dan dapat mempertahankan perdamaian dan berdjuang untuk mentjapainja dengan sungguh2 dan sekuat tenaga.
Sudahlah pada tempatnja bila salah seorang anggota delegasi India dalam satu pertemuan di Shanghai mengatakan, bahwa di Tiongkok, ia telah melihat type baru daripada hero (pahlawan) jaitu: ,,Builders of Humanity" (Pembangun Perikemanusiaan), sebagai pengganti type lama dari hero jang di adjarkan Barat terutama, ialah ,,Killers of Humanity", (Pembunuh, Perusak Perikemanusiaan).
Kalau tak salah ingat, jang berkata itu, seorang ahli pikir dan sudah lama berdjuang mentjari kebenaran di India, pengikut Gandhi dan Nehru. Selama di Tiongkok, ia mendapat kabar (kawat) ditengah djalan, di Nanking, bahwa tjutjunja telah lahir..
VII. PEREKONOMIAN DI TIONGKOK BARU.
Ekonomi Tiongkok Baru mempunjai lima type atau tjorak, jaitu: 1. ekonomi perseorangan dari tani dan pengusaha, ketjil dan menengah (burdjuis ketjil). 2. Ekonomi koperatif (koperasi, setengah sosialistis). 3. Kapitalisme partikelir atau burdjuis nasional. 4. Ekonomi tjampuran antara partikelir dan pemerintah (keduanja sebagai kapitalis bekerdja sama, kapitalisme negara). 5. Ekonomi umum, negara, jang bersifat sosialistis.
Pokok2 dan tudjuan pembangunannja ialah untuk memperkembang penghasilan setinggi2nia guna memenuhi kebutuhan masjarakat dengan mengingat dan memperhatikan kepentingan umum, kepentingan perseorangan, kepentingan buruh dan kepentingan kaum madjikan, bekerdja sama diantara kota an desa dan djuga melaksanakan terusnja pertukaran barang antara Tiongkok dan negeri2 luaran. Dasar semuanja ialah kerdja sama dengan pimpinan daripada ekonomi-negara. Koordinasi dan saling membantu perlu, terutama mengenai tata-usaha, persediaan bahan2 mentah, pasar pendjualan, perlengkapan tehnik, politik keuangan, dagang dan harga.
Kelima matjam ekonomi itu sama2 diakui haknja untuk hidup dan masing2nja mempunjai peranan sendiri2 jang amat penting bagi tertjapainja kemakmuran masjarakat. Djadi ekonomi Tiongkok Baru bukanlah ekonomi komunis, malahan tidak djuga (belum) sosialistis. Ekonominja adalah tjampuran dalam arti kerdja sama, antara ekonomi jang berdasarkan hak perseorangan (tani, burdjuis ketiil atau kapitalis nasional) dengan ekonomi jang berdasarkan hak koperatif (diantara orang2 dan badan partikelir) dan ekonomi jang berdasarkan hak rakjat umum (staatsekonomie) jang bersifat dan tjorak sosialistis.
Selama di Tiongkok, kami telah melihat masing2nja tjorak itu. Diantaranja sekarang jang terbanjak ialah ekonomi jang berdasarkan hak perseorangan. Kota Shanghai sebagai daerah industri, tidak ada sepersepuluh perusahaan negara, malahan kalau ada satu perusahaan negara, disampingnja sudah ada 30 à 40 perusahaan partikelir, djadi antara 2 dan 3% sadja. Didaerah Tungpei (Manchuria) lain keadaannja, sebab disana dulu banjak perusahaan2 Djepang dan orang asing lainnja. Itu semua barang tentu didjalankan oleh Pemerintah.
Dilapangan pertanian boleh dikata belum ada jang berdasarkan hak koperasi (kollektif) dan bila tentara madju dilapangan pertanian, hanja sekedar memelopori dan memberi tjontoh, dan tanah itu akan dibagikan pada rakjat, atau tentara itu sendiri kembali mendjadi petani, dengan dasar hak perseorangan.
Dibeberapa tempat ada tanah kepunjaan negeri, diusahakan bergelandangan, atau djahat dll.), tapi itu hanja dimaksudkan bersama, terutama oleh orang2 jang dikumpul dari kota (jang sebagai latihan. Perusahaan koperasi (kollektif) hanja akan didjalankan dan dibantu oleh Pemerintah, bila anggauta2nja sudah betul2 jakin bahwa mereka akan sama mendapat keuntungan jang lebih besar kalau bekerdja kollektif daripada berusaha sendiri2. Kalau tidak begitu, tidak ada gunanja. (Ingat pengalaman Sovjet). Sungguh berat untuk melaksanakan pekerdjaan jang begitu besar dan sukar, apa lagi bila diingat betapa luasnja daerah kekuasaan Tiongkok dan banjaknja rakjat jang berdjumlah 1.k. 500.000.000.
Daerah Indonesia, betul luas, dari Sabang sampai ke Irian akan tetapi entah mana jang banjak, air atau darat. Dari Timur ke Barat di Tiongkok memerlukan penerbangan paling sedikit sepuluh djam, djadi antara 5 dan 6.000 km sedang dari Utara ke Selatan paling sedikit 12 djam, djadi antara 6 dan 7.000 km garis lurus diudara, bukan pandjangnja djalan kereta api jang sebenarnja. Pekerdjaan raksasa, untuk rakjat ratusan djuta, didaerah jang maha luas, satu ekonomi dunia sendiri.
Di Tiongkok, kalau menghitung perdjalanan bukan dengan djam, akan tetapi dengan hari, kalau berkereta api, dan kalau berkendaraan motor berbulan (karena itu djarang dilakukan orang, ketjuali jang dekat2) dan bila berkendaraan tjara dulu (kereta kuda atau unta) harus dihitung beberapa bulan. Djadi umpamanja, bila barang dari Kanton mau dibawa ke Utara atau Barat laut, perdjalanannja djauh lebih pandjang dari pada keluar negeri. Barang itu seolah2 barang jang diimport dari luar negeri, padahal masih didalam negeri. Belum lagi perbedaan iklim jang menjebabkan hasil dibeberapa tempat tidak sama, persis seperti perbedaan hasil Indonesia dengan hasil Eropah. Kalau industri Tiongkok dapat memenuhi keperluan dalam negeri sadja, berartilah sama halnja dengan sebuah negara di Eropah jang mempunjai tanah djadjahan di Timur atau di Amerika-Tengah. Sumber bahan mentah ada dan disamping hasil industri ada pula.
Kajanja Tiongkok dengan suku bangsa bukan main, entah berapa puluh. Semua orang Asia jang mempersaksikan pameran (exhibition) suku2 bangsa, dan sebagian dari orang Eropah jang datang ke Peking itu mengatakan bahwa ada diantara suku bangsa itu jang sama dengan bangsanja sendiri. Bukan soal roman muka atau type sadja, akan tetapi soal pakaian, soal kebiasaan hidup, alat2 musik, pakaian, tulisan d.s.b. Jang serupa dengan huruf Arab, ada, dengan tulisan India, ada, Birma ada, Viet Nam ada, djangan dikata lagi persamaan dengan bangsa Mongolia (Republik Rakjat Mongolia) dan Korea. Saja melihat diantara tulisan2 dan huruf2 itu, jang tidak djauh bedanja dengan huruf Batak jang ada di Tapanuli. Bukan tulisan sadja, tapi djuga tjara pakaian kaum tani jang serupa dengan rakjat jang berdiam dipegunungan Danau Toba. Patung2 dsb. banjak sekali jang serupa dengan jang terdapat dipulau Nias, dan Tapanuli Utara. Perhiasan sendjata, tempat2 penjimpanan barang, perkakas dapur d.s.b. Saja sebutkan tjontoh ini karena masih belum kena pengaruh Hindu atau Budha. Kalau jang sudah dipengaruhi agama Budha banjak sekali persamaan dengan suku2 bangsa di Indonesia. Disebelah Utara saja lihat gedung? dan ukiran2 serta perhiasan dan bentuk2 didalam rumah, jang sama betul dengan ukiran serta tjara berhias Arab. Kata sdr. Armijn Pane, entah mana jang dahulu itu sekarang, kebudajaan di Tiongkok Utara atau jang di negeri Arab dan India. Arabkah jang meniru atau Tiongkok jang kena pengaruh kebudajaan Arab?
Diantara pembatja tentu banjak jang tahu, bahwa dizaman Nabi Muhammad sendiri kebudajaan Tiongkok sudah terkenal dan termasjhur, djadi 1400 tahun jang lalu, sampai ada kata2: Tuntutlah ilmu, sekalipun kebenua Tiongkok sendiri (karena terkenalnja hasil kebudajaannja dimasa itu).
Begitulah gambaran kekajaan negara Tiongkok, jang akan diatur perekonomiannja dengan pengakuan terhadap 5 type perekonomian tadi, dituntun dan dipimpin oleh Staatsekonomie. Pekerdjaan maha besar, pekerdjaan raksasa, dan hanja dengan djiwa besar ia dapat dihadapi dan diselesaikan. Djiwa2 ketjil jang kotor dan pitjik akan tenggelam, bila berhadapan dengan kebesaran Tiongkok itu. Tjontohnja, lihatlah gerombolan Chiang Kai-shek. Dan tenggelamnja djiwa2 ketjil, biasanja dalam kemewahan, dus soal ekonomi, kekajaan uang dan godaan sjeithan. (Dizaman modern ini, nama sjeithan dapat diartikan, orang atau gerombolan jang hendak mendjerumuskan penghidupan sesuatu bangsa kedalam djurang kemiskinan dan kemelaratan dan kehinaan, sehingga bangsa itu lupa kehormatan diri, hilang budi pekerti, lupa agama, lupa Tuhan dan lupa kebenaran).
Sebab hidup sekarang bukan hidup perseorangan atau sekedar keluarga lagi, akan tetapi paling sedikit hidup berbangsa dan bernegara, untuk madju terus dan meningkat kepada hidup kollektif antara beberapa bangsa dan negara, seterusnja menudju kearah kesatuan dunia, internasionalisme, (kebulatan dan kesempurnaan). Menurut agama Islam, kebulatan/kesempurnaan itu hanja ditangan Tuhan, Esa, qulhuallahu ahad.....
Salah satu daripada hasil usaha di Tiongkok Baru jang sangat mena'djubkan kita, ialah tertjapainja kedamaian antara modal dan kerdja, antara madjikan dan buruh, sehingga kelihatan dalam hidup sehari2, mereka adalah seperti saudara, jang satu memerlukan jang lain, dan sebaliknja. Buruh tidak melarat, dan keuntungan madjikan masih tetap djutaan rupiah setahunnja.
Untuk djelasnja baik kita bagi soal2nja, masing2 akan digambarkan sepintas lalu. Jang terpenting ialah soal pertanian, jang mendjadi sendi produksi. Tiongkok dan berhubung dengan adanja perobahan tanah, jang mendjadi klas dan tiang teras daripada segala perobahan2 dan kemadjuan2 serta keamanannja Tiongkok Baru.
1. Perobahan Tanah.
Seorang pembesar berkata dalam suatu pertemuan dengan delegasi2: Perobahan tanah ini sangat susah dan berbahaja sekali. Sungguhpun begitu harus dan wadjib kami teruskan, dan gagalnja itu berarti liang kubur bagi kami (Pemerintah Rakjat) sedang kalau berhasil berarti satu kemenangan politik pemerintah, mendapat kepertjajaan sepenuhnja, dari seluruh rakjat, dan Tiongkok Baru akan sehat, kuat dan perkasa, tahan udji buat selama2nja.
Dari sinilah kita dapat melihat bahwa tekad, kejakinan dan keberanian pemimpin2 RRT untuk meneruskan perobahan tanah itu, berarti dan telah mendjadi satu tanggung djawab jang mahaberat jang terpikul dan dipikulkan diatas bahu mereka, tanggung djawab terhadap nasib Bangsa dan Tanah Air dikemudian hari. Dan mereka jakin, bahwa tugas itu akan dapat diselesaikan, karena mendapat sokongan penuh dari rakjat. Mereka sudah insjaf rupanja, bahwa satu2nja politik jang benar ialah politik jang disokong dan dituruti oleh rakjat, menguntungkan bagi rakjat dan bahwa Pemerintah disatu negara hanja akan kuat bila mendapat kepertjajaan dari Rakjat. Siapa jang mempunjai rakjat itulah jang akan dapat tahan udji sepandjang masa. Begitulah sembojan mereka.
Oleh sebab itu perobahan tanah mesti djalan terus, dan menurut keterangan, nanti dimusim semi dan panen tahun 1952, perobahan tanah itu akan selesailah diseluruh Tiongkok.
Sebelum RRT berdiri, perobahan tanah itu sudah mulai berdjalan didaerah2 jang pertama kali dibebaskan oleh Tentara Kemerdekaan Rakjat. Nasib tani Tiongkok sebelum perobahan tanah sungguh menjedihkan. Di Indonesia sistem tuan tanah begitu tidak dikenal, ketjuali ditanah jang digadaikan oleh pemerintah Belanda almal'un kepada kaum partikelir (bangsa asing).
Di Tiongkok sistem tuan tanah itu sudah berabad2, seolah2 sudah harus dan mesti begitu susunan masjarakat, susunan feodal jang sangat kolot dan sangat kedjam. Sesudah revolusi tahun 1912 dan Republik Tiongkok berdiri, keadaan tidaklah berobah. Setelah Sun Yat Sen wafat, maka aliran jang dianut oleh Chiang Kai Shek, sama sekali tidak menuruti dan membimbing perobahan itu menudju kemadjuan, akan tetapi lambat laun ia dan kawan2nja semakin reaksioner. Salah satu bukti jang njata ialah, bahwa Madame Sun Yat Sen selalu bersikap opposisi dan menentang politik Chiang Kai Shek. Jang menjebabkan beliau lebih mendekati pihak Sovjet, terutama ialah karena reaksionernja politik jang didjalankan oleh Kuomintang.
Keadaan di desa sedjak tahun 1925 tidak berobah. Hampir semua tanah pertanian jang ada, adalah mendjadi hak milik tuan tanah. Kekuasaannja tuan tanah itu bukanlah sekedar orang kaja sadja jang menjewakan tanahnja pada orang, akan tetapi djuga mempunjai kekuasaan politik, kepolisian dan pengadilan. Pendeknja didaerahnja, ia adalah radja bermahakuasa.
Apa sebab? Pemerintah Kuomintang tidak merobah keadaan itu, mungkin karena tidak sanggup, tapi lebih mungkin lagi karena menguntungkan bagi golongan mereka. Dengan adanja tuan tanah, pemerintahan tidak perlu banjak kerdja didesa2, ongkos tidak perlu besar dan karena itu perbelandjaan negara mudah disunglap untuk korupsi dsb.. Seorang gubernur disatu propinsi djuga mendjadi djenderal. Mereka semua bersandar pada tuan2 tanah jang ada didaerahnja. Keuntungan dsb. tidak sedikit mereka peroleh dari tuan tanah. Gubernur jang biasanja djuga djenderal itu sendiri tidak memperhatikan keadaan rakjat, melainkan dimana perlu, satu gubernur dengan lain gubernur sering berkelahi, mengadu pasukannja masing2.
Selain pasukan resmi dari si gubernur, ada lagi pasukan2 liar jang hanja melihat2 angin, dipihak mana jang lebih beruntung berdiri. Kalau perlu mereka berdiri sendiri pula. Dalam keadaan begitu situan tanah tentu mesti mempunjai kekuatan pula. Disediakannja beberapa orang bersendjata, namanja untuk mendjaga keamanan dsb. akan tetapi dalam praktek, ialah untuk dapat bermahakuasa terhadap petani jang menggarap tanahnja.
Dengan begitu sipetani adalah mendjadi bulan2an dan mangsa bagi beberapa pihak. Oleh situan tanah ia diperas, oleh pasukan liar ia dirampok, dan dimana perlu oleh sigubernur didjadikan umpan peluru.
Bagaimana perhubungan hukum antara sitani jang menjewa tanah dan situan tanah jang menjewakan, tidak diatur sama sekali. Terserah 100% pada situan tanah. Oleh sebab itu penderitaan sitani tidak terhingga pahitnja. Tjerita2 jang menggambarkan penderitaan itu, kadang2 seperti mimpi, sebab tak masuk diakal, masih mungkin dan bisa kedjadian diabad 20 sekarang ini. Tapi rupanja di Tiongkok - Chiang Kai-shek, biasa sadja hal dan kedjadian jang seperti itu. Bukti2 penderitaan itu sekarang dikumpulkan, ditempat2 besar, seperti barang kuno, dan dapat dilihat oleh publik. Badju2 jang berdarah karena ditusuk atau dipukul oleh tuan tanah, jang kadang2 umur badju itu ada jang sampai 30 à 40 tahun, tak sanggup menukarnja. Pakaian, perhiasan dan sendjata2 tuan tanah jang penuh dengan kemewahan. Buku2 hutang jang bertimbun2, hutang jang tak kundjung selesai turun temurun, sebab selain hutang, bunga mesti dibajar, sewa tanah tak pernah lunas, dari tahun ketahun malah bertambah besar. Lebih hebat dari lintah darat. Dan bila sitani tiba sa'atnja untuk diusir, umumnja karena sesuatu maksud situan tanah tidak tertjapai, dan biasanja dalam hal ini anak perempuan sitani jang mendjadi perkara, maka pengusiran itulah jang merupakan puntjak dari kesedihan dan penderitaan. Biasanja jang diusir itu bunuh diri. Diusir dianggap lebih berat dari pada ditusuk mati oleh situan tanah. Kedjadian seperti ini biasa sadja di Tiongkok dulu dengan sistem tuan tanahnja, dan sekalipun katanja sudah diperintah oleh pemerintah nasional Chiang Kai Shek.
Kalau kita tahu bahwa lebih dari 80% dari rakjat Tiongkok, terdiri dari kaum tani, maka dapatlah dibajangkan bahwa Tiongkok dulu itu adalah gudang penderitaan dan pertumpahan darah, betul2 dihisap dan diperas oleh bangsa sendiri dan bangsa asing. 80% dari 480 djuta sadja sudah 384 djuta orang. Penderitaan 380 djuta orang, jang hidup seperti budak belian, dipandang dan diperlakukan tidak beda dari chewan, sungguh tidak djauh lagi dari neraka dunia, penuh kezaliman dan keganasan. Noda ini, jang mendjadi noda seluruh bangsa dan jang mendjadi tjatjat dan pokok kelemahan Tiongkok selama ini, sekarang harus dihapuskan, diachiri atas tanggung djawab Pemerintah Rakjat. Kinilah baru ada satu pemerintah jang berani merobah keadaan itu, setjara radikal, sebab dari situlah tergantung nasib Tiongkok dibelakang hari, dari situ tergantung soal hidup dan mati Tiongkok, timbul atau tenggelamnja dimasa datang. Oleh sebab itu dengan tidak ragu2, apapun jang akan terdjadi, soal landreform ini harus diteruskan dan diselesaikan.
Dimasa jang lampau, dari abad keabad, hidupnja manusia jang ratusan djuta itu adalah melulu untuk kesenangan beberapa orang sadja, baik bangsa sendiri maupun bangsa asing. Kekuatan bangsa jang sesungguhnja tidak pernah lahir, sebab memang system feodal jang bobrok tidak sesuai dengan zaman modern lagi dan karena itu dilain negeri system itu sudah lama masuk liang kubur, hanja mendjadi ingatan sedjarah sadja lagi.
Dengan adanja landreform, maka sitani akan bekerdja untuk kepentingannja sendiri. Dengan sehatnja kehidupan sitani itu, kehidupan masjarakat dan bangsa akan sendirinja sehat pula. Mereka tahu, setelah diberi bagiannja masing2, bahwa tanah jang dikerdjakannja itu adalah kepunjaannja sendiri. Tidak ada orang jang akan mengganggunja lagi dalam hal itu. Bukan itu sadja, hasilnjapun akan mendjadi hak miliknja melulu. Tidak ada orang jang dapat menguasai atau merampas hasil itu nanti setelah dibawa pulang, sehabisnja panen. Terserah padanja untuk mempergunakannja, atau mendjualnja untuk mendapat keperluannja jang lain.
Dari seluruh perobahan jang terdjadi di Tiongkok soal perobahan tanah ini adalah jang terpenting, mendjadi basicproblem dari segala problem, mendjadi tiang teras dari revolusi jang akan mentjiptakan masjarakat dalam negara Tiongkok Baru.
Sewaktu kami berkundjung kedesa2, kira2 30 à 40 km dari kota Peking dan Mukden pernah saja tanja seorang tani: Berapakah sdr. harus mendjual djagung untuk mendapat satu pasang pakaian? Djawabnja Enam gantang! Dan kalau saja tjukupi pakaian keluarga saja, masih ada banjak jang tinggal. Itupun setelah saja serahkan sebagian untuk makanan umum (public grain) jang diurus oleh Pemerintah (sematjam padjak in natura). Hasil tanah saja bukan djagung sadja, tanah tak pernah kami tinggalkan begitu sadja, ketjuali kalau turun saldju. Selalu ditanami. Atau dengan bahan makanan, atau dengan bahan pakaian, kapas atau rami atau lainnja, bahan2 mentah untuk paberik kain, goni dan tali atau kertas. Hasil djagung sadja, saja peroleh sampai 5 à 6 pikul, ada lagi padi ketjil atau gandum. Ternak sajapun sudah ada, ajam, bebek, kambing atau babi. Tahun jang lalu saja beli induk babi dan sekarang tinggal 6 ekor, sesudah ada jang dipotong dan ada jang didjual. Diwaktu tuan tanah dulu, tidak pernah bisa kami memotong ternak, dizaman Djepang dirampok semua apa jang ada. Bukan itu sadja, rumah untuk melindungkan diri diwaktu malam dan dimusim dinginpun tidak ada. Sekarang saja sudah dapat satu ruangan, jang dulu mendjadi rumah tuan tanah. Rumah tuan tanah itu bisa dipakai untuk 20 keluarga.
Begitulah tjerita sitani, jang kelihatan dengan djelas sudah sehat badannja, ada pakaiannja dua tiga salin, anak2nja didesa itu bulat2 semua, bukti bahwa makanan telah tjukup sebab tidak mungkin anak2 itu digemukkan dalam beberapa hari sadja, karena akan ada tamu dari luar negeri menengok mereka. Disepandjang djalan jang kami tempuh keadaan serupa sadja. Waktu kami berkumpul dimuka satu rumah, keluarlah katjangrebus, ubi rebus, djagung rebus jang berasap2, masih panas, nikmat betul rasanja dimusim dingin seperti pada sa'at itu. Ada lagi jang menjuruh bawa, tetapi pagaimana akan membawa djagung mentah jang pandjangnja sehesta. Sebagai tjontoh, utusan India ada djuga jang membawanja terus ke India.
Sebelum diproklamirkan RRT, kira2 daerah jang berpenduduk 100 djuta (disebelah Utara dan Baratlaut) sudah mengalami perobahan tanah itu, dipelopori oleh rakjat sendiri, sebagai hakim. Jang belum, ialah daerah jang kira2 mempunjai penduduk tani sebanjak 300 djuta. Daerah inilah jang mengalami perubahan tanah sedjak berdirinja RRT dan akan selesailahnanti pada musim semi dan panen ditahun 1952 ini.
Dengan selesainja perobahan tanah itu maka Tiongkok mempunjai tenaga menghasilkan jang utama, jaitu tenaga tani merdeka, jang mendjadi dasar bagi segala kemadjuan dan kemenangannja nanti dilapangan ekonomi. Tani merdeka jang berdjumlah lk. 400 djuta itu adalah mendjadi konsumen jang besar sekali djumlahnja bagi industri dan sebaliknja industri Tiongkok akan tjukup mendapat bahan mentah dengan bebasnja kaum tani dari segala ikatan dan belenggu feodalisme dan kolonialisme jang menekan djiwa, mematikan semangat bekerdja dan merendahkan deradjat sebagai manusia.
Kalau dizaman sebelum petani dibebaskan, mereka semuanja menghasilkan untuk situan tanah dan kaum pemeras lainnja maka dewasa ini kaum tani bekerdja untuk dirinja sendiri, untuk negara, untuk masjarakat dan untuk peri kemanusiaan umumnja. Hasil tenaga itu akan sangat besar djumlahnja, hasil jang tidak ada taranja dinegeri luar manapun djuga. Pertama karena tidak ada negara lain didunia ini jang mempunjai petani sebanjak di Tiongkok itu. Ke-2 karena tanahnja maha luas, sekalipun masih banjak jang harus dikerdjakan untuk mendjadikan seluruh tanah Tiongkok itu baik untuk pertanian, terutama jang mengenai pengairan. Pengairan dalam arti, bagaimana daerah kering bisa diairi dengan air dan bagaimana daerah jang banjak air bisa dikeringkan agar terpakai untuk pertanian atau perternakan, atau perikanan dll. Jang belakangan ini berhubungan rapat dengan soal pengendalian air sungai jang di Tiongkok sering menjebabkan bandjir jang banjak mendatangkan kerugian dan meminta korban. Menurut tjatatan kedjadian sedjak dari tahun 1949 sampai sekarang, sudah banjak kemadjuan jang diperoleh dilapangan itu, artinja, bahaja bandjir sudah dapat dikurangi sedikit dan waduk2 jang digali sudah mempunjai ruang jang djumlahnja djutaan meter kubik. Ini adalah pekerdjaan jang sukar dan berat dan menurut keterangan pembesar2 jang bersangkutan, soal itu masih akan memakan tempo beberapa tahun untuk dapat dibereskan betul. Tapi diingatkan oleh mereka, bahwa daratan bumi Tiongkok dibandingkan dengan djumlah air jang ada (telaga, danau, sungai dll.) tidaklah air itu terlalu banjak, malahan masih kurang. Soalnja tinggal, bagaimana mengendalikan semua air jang ada itu, dan soal ini, walaupun berat dan masih makan tempo banjak, tentu dapat dan harus dapat diselesaikan. Begitulah kejakinan para pembesar itu, setelah memperoleh pengalaman dan melihat kesungguhan rakjat untuk bekerdja.
Dalam pada itu, tanah pertanian jang sudah ada sekarang sadja sudah tidak terhingga luasnja. Dahulu kebanjakan tanah itu adalah hak milik tuan tanah lebih dari 60%. Pemakaiannja tidak effisiën. Banjak diantaranja jang terpakai untuk kesenangan. Tani jang mengerdjakannja tidak sungguh2, sebab tahu bahwa hasilnja toch tidak untuk mereka, dan banjak hasilpun tidak akan menolong, hutang tak djuga akan lunas2. Bila seorang tani agak banjak penghasilan, maka tipu daja situan tanah banjak sekali, agar semua hasil itu djatuh ketangannja, dengan berbagai djalan jang tidak sjah. Alhasil, banjak tidak banjak hasil jang diperoleh sitani, hidupnja toch sama sadja, habis panen hasil djatuh ketangan tuan tanah dan mereka hiduplah dari mentjari upah, sesuap pagi sesuap petang, kasarnja, mendjadi budak 100% dari situan tanah, jang kadang-kadang ada djuga mempunjai berbagai matjam perusahaan.
Sesudah tanah dibagi2 sekarang, tak usah disuruh, dengan sendirinja sitani mengusahakan bagiannja sebaik2nja. Mereka merasa berhutang budi betul pada kekuasaan jang memungkinkan adanja pembagian tanah itu. Apa kekuasaan itu komunis atau tidak, bagi mereka tak djadi soal. Lebih2 lagi berlipat ganda mereka membanting tulang sesudah tahu bahwa Pemerintah Tiongkok jang sekarang bukanlah pemerintah gerombolan korupsi dan pemeras, bukan kakitangan imperialis asing, tapi mereka tahu bahwa Ketua Mao Che-tung sendiri tak punja rumah atau bikin villa, tak punja uang, pakaiannja dan makannja serupa sadja dengan mereka, tidak tinggal digedung besar jang berlebih2an, tidak banjak pidato dan amanat2an, tapi hasil pimpinannja terasa bagi seluruh lapisan masjarakat, terutama pak tani.
Demikianlah gambaran suasana disekitar perobahan tanah. Dan bagaimanakah penghasilan pertanian, sesudah Tiongkok berada dibawah pimpinan Pemerintah Rakjat?
Hasil pertanian jang terutama ialah bahan makanan dan bahan industri (kapas). Jang dua inilah jang harus diutamaharuslah diusahakan oleh tiap2 pemerintah jang merasa berkan, sebab sebelum lain2 soal mendjadi pikiran, lebih dulu tanggung djawab didalam negara, agar rakjat mendapat makanan dan pakaian. Soal tempat tinggal masih bisa kongsi2, soal makanan dan pakaian tak bisa kongsi2, karena perut sewalaupun ini termasuk kebutuhan hidup jang primair. Tapi seorang tak dapat kenjang dengan kenjangnja perut orang lain, walaupun sebangsa atau sekeluarga sekalipun. Begitu djuga penutup tubuh. Lebih2 bagi Tiongkok soal ini adalah soal besar, rakjat ratusan djuta dan keamanannja akan terganggu bila perut ratusan djuta orang itu tidak berisi. Ini adalah kebenaran jang tak dapat disangkal oleh hocus pocus, sunglap, pokrol bambu-isme, alasan2 wetenschappelijk, juridis, internasional dll. Karena itu tugas pertama dari Pemerintah Rakjat ialah memberi makanan dan pakaian pada rakjat.
Dizaman Chiang Kai Shek-regime djustru dua soal itulah jang mendjadi kesukaran terutama, maka ekonomi Tiongkok ambruk sama sekali, mendjadi negara kolonial dan tempat pemerasan jang tak ada bandingannja. Gandum dan kapas mendjadi barang import jang utama. Amerika memberikan terus. Tiongkok dipalut hutang terus. Chiang Kai Shek makin dalam tergenggam oleh kuku imperialisme, konsessi dll. diobralkan, penutup ketekoran dan korrupsi jang meradjalela. Makin banjak hutang, makin banjak import, semakin mendjadi dan berkembang pula korrupsi. Hampir semua pembesar dan pegawai mendjadi kaki-tangan imperialis, kalau tak korrupsi, bukan pegawai namanja. Tiongkok dengan demikian runtuh seruntuh-runtuhnja.
Industri Tiongkok bisa berputar dulu, kalau kapas datang dari Amerika. Buruh dan rakjat bisa makan, kalau makanan datang dari Amerika. Pemerasan di Tiongkok mendjadi sempurna. Barang keperluan hidup untuk sebagian besar rakjat harus datang dari Amerika.
Kini, dibawah pimpinan Pemerintah Rakjat, tani dibebaskan dan tanah dibebaskan mendjadi miliknja rakjat. Rakjat berusaha, membanting tulang, perdjuangan hidup dan kehidupan. Semua ingin makan, semua ingin berpakaian, memalut badan dan melindunginja terhadap panas dan dingin. Kesempatan dibuka seluas2nja. Hasil tani membandjir.
Sebelum perang, hasil gandum dll. jang pernah ditjapai setinggi2nja di Tiongkok ialah 281.000 djuta kati setahun atau 2.810 djuta pikol. Tahun '49, '50 dan '51 dari mulai penghasilan 212.500 djuta kati naik terus mendjadi 237.500 djuta kati dan kira2 267.000 djuta kati tahun 1951, terdiri dari padi, djagung dan berbagai matjam gandum. Belum lagi pala widjo, katjang berbagai matjam, ubi, sajuran, buah2an dsb. Tidak heran kalau Tiongkok sekarang sudah bisa export makanan ke India. Kalau di Indonesia kita berhitung dengan ratusan atau ribuan quintaal maka di Tiongkok orang berhitung dengan ratusan atau ribuan djuta pikol. Dengan begitu bukan sadja makanan mendjadi ada, tapi ragamnja dan rasanjapun berbagai matjam pula. Perusahaan makanan dikaleng (buah, ikan, daging dll.) berkembang dan bertambah madju, lebih2 karena tidak disaingi lagi oleh barang2 made in USA. Salah seorang pengusaha makanan dikaleng itu, dari Shanghai, seorang kapitalis nasional, berdjumpa dengan kami dirumah perwakilan Indonesia di Peking. Dia mendjadi tamu disana seminggu lamanja, kenalan baik dari salah seorang pegawai kita. Atas pertanjaan ia menerangkan: Apa perlunja Pemerintah mengambil over paberik saja, belum tentu baik djalannja kalau diambil, tapi jang sudah terang sekarang, dalam pimpinan saja, madju. Apa jang perlu, saja dibantu Pemerintah. Bahan, perkakas, mesin dll. Dengan begitu produksi tambah baik dan meningkat, inisiatif dan kegiatan rakjat berkembang. Semua orang giat berusaha dan radjin bekerdja. Apa ini tidak lebih untung?
Hasil kapas begitu pula. Dulu dikatakan, Tiongkok tidak baik untuk penanaman kapas, kwaliteit rendah dsb. menurut kata dan ukuran standing internasional. Dari itu pemerintah Chiang Kai Shek bikin kontrak untuk memasukkan kapas dari Amerika, jang ber-standing internasional. Dengan begitu semua paberik tenun di Tiongkok, nafasnja tergantung dari Amerika. Tapi sesudah RRT berdiri, keadaan lain. Entah sekonjong2 alam berobah entah bagaimana! Tentara sendiri mentjoba penanaman kapas disebelah Barat-laut dan Tiongkok Tengah, dekat Tibet dsb. Hasilnja bagus dan kapasnja bisa mendjadi bahan bagi paberik tenun. Diseluruh Tiongkok orang lantas menanam kapas. Ada jang bagus dan ada jang kurang, tapi pokoknja, bahan untuk paberik kain ada dan pakaian diperdapat dari bahan itu. Keperluan rakjat djadi tersedia, tidak perlu di-import dari luar negeri. Ini jang pokok. Perkara kwaliteit, dibelakang hari bisa diperbaiki. Pembesar, pegawai tinggi, rakjat tani, buruh dll. semuanja memakai kain jang ditenun sendiri itu. Tjontoh jang diberikan para pemimpin, kesederhanaan jang murni, mendjadi mode kesegenap lapisan masjarakat. Kapas ditanam, paberik memintal dan menenun, kain jang dihasilkan sendiri laku dan dianggap mulia memakai itu, sekalipun pembesar jang paling tinggi, tidak ada gila2an lagak dan standing pakaian internasional, lagak jang gila jang maksudnja hanja untuk membuka pintu lebar2 bagi importnja textiel buatan luar negeri (imperialis). Jang diperlukan pakaian penutup badan. Jang lain2 soal nanti, jang penting, masjarakat dan rakjat sudah merdeka. Merdeka dari sunglap dan pemerasan imperialis. Tiongkok merdeka, njata, dapat dilihat dan dirasai sehari2. Makan merdeka, pakai merdeka, mau manis ada gula, atau dari sematjam (suikerbiet) tebu.
Tahun 1949 Tiongkok telah menghasilkan 850 djuta kati, atau 8.500.000 pikol kapas. Ini djumlah tidak ketjil. Satu kilo kapas sudah dapat berapa meter kain!? Dari hasil kapas Tiongkok sadja, sudah diperoleh puluhan djuta meter kain, satu kali panen. Dua kali panen!? Tahun berikutnja, hasil itu sudah berlipatganda, 1.500 djuta kati dan tahun 1951 lebih dari tiga kali lipat, 2500 djuta kati lebih.
Dengan begitu dua soal penting sudah dapat diselesaikan sendiri. Dalam soal makanan Tiongkok sekarang sudah betul2 dapat memenuhi keperluan rakjat malah lebihnja di-export. Dalam soal kapas masih kekurangan, tapi belum beberapa tahun ini sudah bisa pula memenuhi keperluan industri kain. Djangan pembatja lupa bahwa sutera, wol berbagai matjam, belum terhitung! Sutera terutama dihasilkan untuk export, ke India dan Sovjet Rusia. Entah berapa matjam pula bulu jang ada dan dipakai di Tiongkok. Bulu ajam, bebek, kambing, kibas, lembu, marmot, sematjam tikus, kuda, binatang2 llar dsb. tidak ada jang terbuang di Tiongkok. Semua masuk paberik dan semua didjadikan pakaian jang mahal2. Jang paling mahal dan bagus ialah dari sematjam binatang jang lebih besar sedikit dari tupai. Apa lagi! Dimusim panas ada kain, musim dingin sedia wol.
Selain untuk ditenun, beberapa matjam bulu, didjadikan pakaian dengan tidak ditenun. Bulu dan kulit binatang jang bersangkutan lantas dikeringkan dan mendjadi kuat. Dari sebelah dalam kulit itu lantas dilapis dengan sutera atau kain. Biasanja dengan sutera. Sesudah begitu dipertemukan mendjadi bahan jang berkaju lebar?. Barulah digunting dan didjahit mendjadi berbagai matjam pakaian, terutama untuk musim dingin dan pakaian lux. Dalam pekerdjaan ini, rasanja tidak ada satu bangsa lain jang lebih ahli daripada orang Tionghoa. Jang bagus2 dan mahal harga bukanlah didjual, dibeli atau dihadiahkan untuk para pembesar atau pemimpin tapi di-export dan dengan deviezen itu dapatlah dibeli keperluan rakjat, pertanian dan perindustrian. Hidup mewah harus ditunda rupanja dulu, terutama diberi tjontoh oleh para pemimpin dan pembesar.
Untuk bahan kertas, karung guni, tali temali dll. djangan dikata lagi. Tidak satu rumput jang terbuang di Tiongkok. Tidak sedjengkal kain usang terbuang pertjuma. Semuanja berdjalan menudju paberik kertas. Kelihatannja rumput sadja, dipinggir kali atau sekitar ladang, tapi nanti bila sudah tjukup umur, semuanja dibabat dan pergi kepaberik. Pimping, gelagah dsb. tidak ada jang terbuang. Satu paberik kertas jang kami kundjungi menghasilkan 53 matjam kertas, dan itu belum. paberik jang terbesar. Baru di Tientsin. Tiap kota besar punja paberik kertas. Jang besar2 mempunjai lagi paberik belerang dll. barang kimia jang perlu untuk perusahaan kertas itu.
Ini semua adalah hasil tanah, pak tani jang sudah bebas dan dibebaskan dari belenggu pemerasan. Ia sekarang mentjipta, dan sering2 mereka dari desa dibawa kekota untuk mempersaksikan pekerdjaan para pengurus organisasi, jaitu pameran, exhibition dari berbagai matjam hasil, pekerdjaan, alat2, mesin2 dll. dan diterangkan hubungannja dengan usaha mereka didesa itu. Exhibition, dalam mengatur ini dan mentjari tjara jang menarik hati, rupanja mendjadi keahlian Tiongkok pula. Barisan kesenian/kebudajaan dalam soal ini banjak mengambil bagian. Selain dari sudut keperluannja (zakelijke zijde) dipentingkan pula soal keindahan dan ketjantikan, jang menarik hati dan menghidupkan perasaan.
Menurut buku Van der Sprenkel jang telah disebut duluan, petani Tiongkok jang mengerdjakan tanah tidak kurang dari 350 djuta sedang jang hidup dari perburuhan, kerdja tangan, dagang dll. ada sedjumlah 130 djuta (dikota2). Inilah jang bekerdja sekarang saban hari untuk menjediakan keperluan rakjat Tiongkok. 2. INDUSTRI DAN PERBURUHAN.
Pada waktu Tiongkok dibebaskan oleh Tentara Kemerdekaan Rakjat, keadaan ekonomi sangatlah buruknja, bangkrut sama sekali. Pemerasan Djepang beberapa tahun, dan sesudah Djepang kalah, korupsi besar2an membikin keadaan lebih buruh lagi. Dari bulan kebulan dan dari tahun ketahun (sesudah perang dunia selesai) keadaan bertambah buruk djuga dan tidak ada satu djalan jang kelihatan, tidak satu ichtiar jang sungguh2 dari regime-Kuomintang, untuk memperbaiki keadaan, malahan sebaliknja, karena reaksionernja pemerintah itu, makin lama, negara dan masjarakat semakin dalam djatuhnja kedalam djurang dan lumpur kekatjauan dan kemelaratan.
Pada achir tahun 1948, pembatja barangkali masih ingat, puluhan djuta uang Tiongkok hanja dihargai satu dollar Amerika dan kesudahannja, penghargaan terhadap uang itu, hanja dihitung per kilo sadja lagi.
Paberik banjak rusak sedjak zaman pendjadjahan Djepang dan sesudah Kuomintang mengover kekuasaan, paberik2 lantas mendjadi kepunjaan beberapa orang, spekulasi, korupsi, suap, sogok d.s.b. menjebabkan djalannja industri dikota2 tidak keruan sadja. Mana bahan harus di-import. Perdagangan dengan luar makin tidak teratur, selundup d.s.b. biasa sadja. Djawatan Pemerintah, pegawainja tidak pikir lain daripada mengisi kantong sendiri, langgar aturan, dilarang wet d.s.b. masa bodoh. Pokoknja mendapat. Lurus ja boleh, tapi bengkokpun tidak keberatan. Malahan jang bengkok itulah sudah dianggap lumrah. Ajo beramai2 menumbangkan negara dan membawa masjarakat kedalam djurang kerusakan dan lumpur kekatjauan. Bantuan Amerika pada waktu itu sedang membandjir pula. Masih ada pelabuhan, serahkan sadja semua untuk dipakai, oleh bangsa asing.......
Pada waktu kami di Shanghai dan pergi mengundjungi paberik besar kepunjaan partikelir, pemiliknja bertjerita tentang kesukaran2 dizaman Djepang dan Kuomintang, terutama mengenai bahan2 dan mesin2. Karena itulah, katanja seterusnja, jang bisa bertahan sampai sekarang hanja saja sendiri, sedang jang lain2, untuk menghindarkan segala kesukaran itu, bila ada tawaran, lantas didjual sadja, atau karena kurang keberanian dan tanggung djawab, menjerahkan sadja pada pembesar2 Kuomintang. Sesudah terdjual, mereka pergi, biasanja ke Hongkong. Disana toh bisa bikin paberik baru, pikir mereka.
Memang sesampai di Hongkong kami dengar banjak tentang tjerita itu, tapi bukan jang dimaksudkan oleh si industrialis di Shanghai itu sadja. Jang lebih banjak malahan, pembesar dan djenderal Kuomintang, jang karena takut, sebelum berdjuang, siang2 sudah pergi ke Hongkong, beli rumah, bikin paberik d.l.1. Diantara mereka tidak sedikit jang ajadi korban pentjulikan dan pembunuhan. Rupanja ada djuga rakjat jang marah, atau karena hendak memperoleh hartanja, entah bagaimanalah, tapi njatanja ada jang mati terbunuh dan ada jang hilang lenjap sadja. Begitu tjerita kawan di Hongkong. Orang asing tentu mengatakan, mereka lari karena RRT.
Djadi orang jang pada pergi dari Shanghai dll. tempat itu memang sudah dasarnja orang takut, untuk mentjari selamat dan lain2, siang2 sudah angkat kaki, tjari tempat jang paling aman, bagi dirinja, hartanja dan kantongnja.
Setelah pemerintah Chiang Kai Shek tempo hari berkedudukan kembali di Nanking, maka ia dapat pindjaman dari Amerika 1.000.000.000 dollar untuk pembangunan, diluar soal tentara dan persendjataannja. Tapi dari djumlah jang sebanjak itu tidak satupun mesin jang bisa didatangkan untuk memperbaiki kerusakan dan kerugian jang terdjadi selama perang.Apa bedanja di Indonesia, bertahun2 orang memesan mesin dari Amerika, haram kalau ada jang datang, hanja para pembesar jang tetap buta mata dan hatinja, tidak mau mengerti sunglap imperialis. Satu mesin jang bisa menghasilkan satu barang sadjapun tidak masuk ketika itu. Jang masuk hanja mobil2 bagus dan mengkilap, radio berbagai model dan merk, minjak wangi, pupur, tjat bibir dll. barang lux lagi. Paberik2 jang ada jang hampir semuanja berada ditangan empat keluarga besar (keluarga Chiang Kai Shek, T. V. Soong, H. H. Kung dan Chen Li Fu) memang memberikan keuntungan luar biasa djuga besarnja, tapi bukan karena tenaga atau djumlah penghasilannja, melainkan dari hasil korupsi. Jang tidak punja paberikpun, tapi mendjadi pegawai, resmi atau tidak resmi, ikut djuga „beruntung" dalam arti mendapat „bagian" dari pindjaman jang diberikan Amerika sebanjak seribu djuta itu. Sekarang mau diapakan uang jang seribu djuta dollar itu oleh Amerika? Diminta bajar atau akui oleh RRT? Seudjung rambut pun tak dapat diharapkan. Benar pula bukan, hanja orang jang tolol mau menerima hutang, jang dihabiskan orang lain untuk meratjun dan merusak rakjat dan bangsa sendiri. Lain halnja kalau orang jang menerima itu, mengakui hutang itu mendjadi hutangnja atau hutang keluarganja sendiri turun-temurun, tidak mendjadi hutang masjarakat dan negara. Seperti dalam hal Tiongkok itu, kalau keluarga Chiang Kai Shek dll. itu mengakui jang seribu djuta itu mendjadi hutang mereka, tentu RRT tidak keberatan, sekalipun itu tidak berarti bahwa mereka tidak akan diusir dari Taiwan.....
Djadi perindustrian Tiongkok sewaktu berdirinja RRT sangat menjedihkan dan kutjar-katjir betul. Kaum buruh menuntut, karena sudah bebas. Kaum madjikan mengatakan bahwa mereka tetap akan dilindungi oleh Pemerintah Rakjat. Bentrokan terdjadi, paberik tak djalan, produksi mandek. Ini tidak dikehendaki oleh Pemerintah. Produksi harus djalan, walaupun apa jang akan terdjadi. Tindakan diambil, musjawarat ditjari, perundingan dilangsungkan, segala ichtiar dan usaha didjalankan, siang malam, tak putus bekerdja, terutama mereka jang menamakan dirinja atau telah diakui sebagai kader. Mereka harus banting tulang, pangkat dan posisi bukan untuk gojang kaki dan duduk enak diatas kursi jang empuk, akan tetapi untuk memberi pimpinan dan tjontoh dimana2 diwaktu rakjat memerlukan, dimana rakjat tidak sanggup dan dimana rakjat tidak tahu djalan pemimpin baru, madju dahulu. Dalam segala hal jang demikian, pemimpinlah jang harus menerobos lebih dulu, merintis dan memelopori djalan, dimana buntu, agar roda revolusi djalan terus, manusia dan masjarakat baru lahir dan mentjipta. Funksi pemimpin dan pembesar seperti itulah jang telah dibuktikan di Tiongkok guna melahirkan Tiongkok Baru. Bersama2 dengan rakjat, segala kesukaran, satu demi satu diatasi. Di Tiongkokpun bukan tidak ada pertentangan, lebih2 pada permulaan revolusi. Pihak buruh ada jang memadjukan tuntutan terlalu banjak dan pihak madjikan ada pula jang tidak mau tahu dengan datangnja perobahan baru. Tapi pimpinan tahu, bila pertentangan dan perbedaan dibiarkan terus mendjadi perdjuangan, nistjaja produksi tidak ada djalan dan masjarakat akan katjau terus. Orang akan kebanjakan omong sadja, bertengkar, sedang kerdja sedikit. Djalan tengah harus ditjari dan didapat. Buruh tak boleh diperas tenaganja dan modal tidak boleh rugi. Keduanja perlu, untuk berdjalannja terus produksi industri. Keduanja mempunjai tugas dan kewadjiban masing2 dalam pembinaan dan pertahanan masjarakat.
Industri Tiongkok, bukanlah satu industri jang telah tjukup dewasa. Tiongkok masih tetap sebagai negara agraria. Seperti diterangkan diatas, industri jang ada, kebanjakan adalah kepunjaan empat famili sadja. Sesudah kembali ke Nanking, keempat famili itu ada kesempatan untuk memperbaiki jang rusak dizaman Djepang dan menambah jang kurang. Pindjaman dari Amerika ada 1.000 djuta dollar, tapi mereka tidak mempergunakan kesempatan itu. Kantong dan simpanan masing2 diluar negeri jang dipentingkan. Pindjaman dari Amerika, kembalilah ke Amerika, berupa simpanan beberapa orang, uang, mas dsb. Dari Amerika kembali ke Amerika, itulah sembojan kliek Chiang Kai Shek dan kalau Nanking tidak aman, boleh pindah ke Taipeh dan dari sana tak keberatan pula nanti pindah ke Amerika. Simpanan dan pemiliknja berkumpul dan tidak akan terganggu di Amerika...... rasa-rasanja. .
Besarnja industri Tiongkok belum mentjukupi kebutuhan sendiri. Perbandingannja dengan pertanian kira2 1 dan 9. artinja 10% dari penghasilan nasional adalah dari industri dan dari pertanian 90%. Djumlah orang jang bekerdja tani kira2 350 djuta dan djumlah pekerdja dipaberik pengangkutan, bekerdja sendiri dll. ada kira2 40 djuta. Untuk mendjadikan Tiongkok sebagai negara industri, perbandingan itu harus dirobah mendjadi kira2: 40% industri dan 60% agraria. Djumlah pekerdja, akan tidak kurang dari 180 djuta orang. Djadi perbandingan penduduk kota dan penduduk luar kota harus pula berobah, dalam arti, kaum tani harus dikurangi djumlah buruh harus ditambah. Berhubung dengan soal tanah, rentjana itu berarti perbaikan, apa lagi kalau diingat bahwa sekarang tenaga mesin belum banjak dipakai dalam pertanian. Tapi untuk mendjadikan penduduk desa mendjadi buruh paberik, tidak begitu mudah, sebab paberiknja harus tjukup. Pun untuk mendapat buruh jang baik, harus ada latihan dan didikan. Kader harus banjak. Kedjurusan inilah kita lihat perkembangan jang ditudju oleh Pemerintah di Tiongkok. Sistem kader-vorming jang berdjalan sekarang ditiap2 paberik, baik kepunjaan negara maupun kepunjaan partikelir, adalah menudju kearah itu. Dengan begitu maka dari tahun-ketahun. Tiongkok akan mempunjai djumlah kader jang bertambah besar djumlahnja.
Dari sudut itu pula kita harus melihat, adanja perkembangan jang pesat dilapangan Serikat Sekerdja, jang diakui dan diatur dengan undang2. Tiap2 perusahaan, buruhnja harus mengadakan Serikat Sekerdja, dan wakil2 dari Serikat Sekerdja itu turut bertanggung djawab atas djalannja dan kemadjuannja perusahaan.
Ditiap2 perusahaan jang kami kundjungi, selalu kami diperkenalkan lebih dulu kepada tiga pihak jang bertanggung djawab atas produksi, pertama, peminpin perusahaan atau pemilik paberik, kedua, wakil Serikat Buruh dan ketiga, pahlawan kerdja (labour hero). Masing2 pihak itu didjelaskan funksinja dan hubungannja serta kerdja sama antara ketiganja dalam memelihara dan mendjaga baiknja djalan perusahaan. Djangan sampai mundur dan djangan sampai kalah dari perusahaan lain.
Li Li-san, anggauta Dewan Pemerintah Pusat ada menerangkan tentang Serikat Sekerdja itu sbb.: „Serikat Sekerdja kita haruslah mendjadi sekolah, tempat peladjaran, didikan dan latihan untuk Demokrasi Baru bagi segenap anggautanja. Demokrasi Baru dalam arti bagaimana mengurus negara dalam segala tjabang2 dan lapangan pekerdjaannja; bagaimana mendjalankan, mengurus dan memimpin perusahaan, paberik mesin dll."
Keterangan Li Li-san diatas memang pendek sadja, tapi bagi orang jang mengerti dan ada hati untuk memahamkannja, keterangan itu tidak kosong, tapi penuh isi jang harus dikerdjakan, bukan untuk dipidatokan atau diteori-teorikan. Mempeladjari urusan memerintah negara adalah meliputih banjak ilmu pengetahuan, politik, ekonomi, kekuangan, hukum, filsafat dll. sedang mempeladjari bagaimana mengurus perusahaan dan paberik mengandung andjuran untuk berlatih didalam paberik sambil beladjar tehnik mengetahui seluk-beluk mesin2, tata usaha bahan mentah dan pertanian, pengangkutan, penghasilan, perdagangan, pasar dan harga dsb. Dengan begitu Serikat Sekerdja bukan untuk tempat menghasut2, sebab di Tiongkok hasutan itu tak perlu. Jang punja paberik bangsa sendiri, jang memerintah bukan kakitangan imperialis dan koruptor, modal jang didjalankan bukan hak milik orang asing, hasil jang diperoleh bukan untuk mengisi kantong kapitalis asing, tapi segala²nja adalah untuk bangsa sendiri, masjarakat sendiri, rakjat sendiri dan negara sendiri jang sudah merdeka dan bebas dari tekanan dan pendjadjahan asing. Itulah sebabnja buruh giat bekerdja, giat berlatih dan beladjar, berlombah² untuk mendjadi ahli ini dan itu, pahlawan kerdja, mengeluarkan hasil jang melebihi rentjana. Itu pula sebabnja maka dipaberik atau perusahaan2 tidaklah asing soal bekerdja 8 djam, 10 djam, atau 12 djam, Malah kaum buruh djuga insjaf bahwa mereka harus melipatgandakan tenaga jang diberikan, sebab paberik harus berputar terus, berhubung dengan djumlahnja belum mentjukupi. Buruhnja masuk setjara aplosan, dua tiga kali dalam sehari semalam. Tjerobong asap mengepul terus siang malam. Dengan begitu djumlah paberik jang 10 umpamanja, mendjadi 20 atau 30, hasilnja idem sebab bekerdjanja 2 kali atau 3 kali lebih banjak. Soal kekurangan paberik dengan djalan begitu sebahagian sudah dapat dipenuhi. Keuntungan perusahaan dengan begitu bertambah banjak pula. Seorang jang punja paberik soda dan sabun di Tien-tsin, sdr. Ir. Komentjeritakan pada kami bahwa keuntungan jang diperolehnja, tahun jan lalu berdjumlah 2.500.- djuta rupiah (artinja sesudah uang Tiongkok kita kurskan ke uang rupiah Indonesia).
Begitu Serikat Sekerdja itu ditiap2 paberik mempunjai daftar peladjaran bagi anggautanja. Anggauta itu sekali seminggu harus musjawarat, mempersoalkan djalannja serta madju mundurnja pekerdjaan. Hasil dari rapat anggauta dibawa kerapat kepala2 bagian dipaberik dan hasil rapat kepala2 bagian dibawah kerapat pimpinan perusahaan, jang didalamnja djuga hadir wakil2 Serikat Sekerdja. Pengetahuan buruh tambah lamah tambah tinggi, djuga jang mengenai tehnik. Kemadjuan ini lantas diwudjudkan dengan perobahan kedudukan. Dengan begitu djumlah kader naik terus dan djumlah buruh jang tjakap demikian pula. Ini perlu untuk perluasan nanti. Djadi tiap2 perobahan kedudukan ada alasannja, dapat dipertanggung djawabkan didalam rapat Serikat Sekerdja dan terhadap pimpinan perusahaan. Orang tidak bisa naik2 sadja, zonder ketjakapan, umpamanja karena kawan, famili sistem atau karena pandai omong, putar lidah, main pokrol bambu dan hocus pocus, pidato-amanat jang tidak ada isi. Dengan segala sunglap dan putar lidah djual pidato apa pun orang tidak bisa naik kedudukan kalau tidak dibarengi dengan isi, ketjakapan dan kepertjajaan buruh kepadanja. Untuk mendjaga nama baik Serikat Sekerdja, perlu didjaga betul agar tiap2 perobahan dan kenaikan sungguh2 telah pada tempatnja. Sebaliknja bila perlu, Serikat Sekerdja djualah jang lebih dulu akan menjuruh tendang orang, kalau sudah kelihatan mulai djual omong, pandai bitjara tapi tidak sanggup kerdja. Orang seperti itu diturunkan dan harus dilatih dan dididik lagi. Pun tidak sembarang orang bisa djadi pahlawan kerdja dan begitu djuga untuk djadi pemimpin atau kader. Bila perusahaan itu kepunjaan negara, maka untuk didjadikan kepala disana, sa- ngat sukar. Biasanja orang jang didjadikan kepala itu termasuk golongan kader, artinja disiplin keras, hukum jang berlaku baginja tidak hukum sipil biasa akan tetapi hukum militer. Dalam tingkat pembangunan seperti di Tiongkok sekarang, sesuatu paberik memang tak bisa diserahkan kepada sembarang orang. Hantjur bila djatuh ketangan orang jang pandai putar lidah. Tanggung djawabnja berat, terutama terhadap masjarakat. Apa lagi harus didjaga dan diawasi betul, paberik itu djangan sampai mendjadi sumber perasaan tidak senang, tak puas, mengomel d.s.b. Diomeli rakjatpun tidak boleh, umpamanja karena kerdjanja tidak tjukup mengeluarkan hasil sebagaimana mestinja. Mesin diwaktu sekarang berarti sebagian njawa dari Tiongkok Baru. Oleh sebab itu seorang pemimpin paberik berarti salah satu pendjaga djiwa dan njawa masjarakat dan negara. Sedikit kesalahan, akibatnja besar, karena itu hukumannja pun harus istimewa kalau salah. Paberik atau perusahaan tempat korupsi mengisi kantong dan mentjari kekajaan bagi diri sendiri menghabiskan uang negara dengan pembelian ini itu, ... djangan diharapkan bisa terdjadi lagi di Tiongkok. Dosa inilah terutama jang tidak dapat dima'afkan oleh rakjat, dan karena bergelimang dosa itulah maka regime-Ch. K. Shek begitu lekas ambruknja karena djiwanja sudah bokrok, moral rendah, Neratja dan keadilan Tuhan memang selalu datang tepat pada waktunja, tidak terlambat dan tidak terlalu lekas. Tiap2 kezaliman pasti hukumannja akan datang. Tjara menghukumnja? Banjak djalan dan kesempatan terbuka atau dibukakan. Tuhan jang maha kaja, dan maha kuasa, dibumi dan dilangit, diseluruh alam semesta ini tidak ada jang tersembunji bagi Allah. Dimana sadja berbuat zalim dan dosa, siapa sadja orangnja, rakjat biasa, pemimpin, guru atau ulama berpangkat tinggi d.s.b. semuanja tidak akan lepas dari neratja dan pengadilan Tuhan, sama rata, tidak pilih bulu.
Soal upah djuga adalah terutama Serikat Sekerdja jang memegang rol dalam menentukannja. Pemerintah berdiri ditengah, memberi pertimbangan dan petundjuk, sedang jang menentukan dan memutuskannja adalah antara Serikat Sekerdja dengan madjikan.
Berhubung dengan tidak adanja harga uang sama sekali diwaktu pemerintah Kuomintang meninggalkan Tiongkok dalam kekatjauan dan kebangkrutan jang sehebat2nja, maka pada permulaan sangatlah sulitnja mentjari djalan bagaimana supaja soal upah dan gadji bisa sebanding dengan keperluan hidup, artinja dengan tidak pakai tundjangan2 berbagai matjam. Agar jang menerima upah dan gadji dapat pertjaja bahwa ia akan hidup dari apa jang diperolehnja. Dengan sendirinja soal ini ada hubungan dengan harga dengan uang, dengan barang, dengan produksi, pengangkutan d.s.b.
Dalam keadaan katjau dan bangkrut seperti pada ketika itu, apakah jang bisa diambil sebagai perpegangan, agar pemerintah dapat bertindak terus! Mengingat kusutnja kesulitan2 jang ada, maka pihak luar negeri dan kliek Ch. K. Shek jang mundur ke Taiwan, tetap jakin dan menanti, bahwa didalam soal keuangan dan ekonomi inilah akan datang dan kelihatan kegagalan dari Pemerintah Rakjat, sebab menurut pendapat mereka, Kungchantang tidak akan sanggup mengatasinja, sekalipun dilapangan militer telah mendapat kemenangan jang gilang gemilang.
Pendapat inilah jang dipropagandakan terus oleh mereka, sekalipun sekarang tidak tiotjok dengan kenjataan. Mereka merasa malu sekarang, bahwa pendapatnja tidak betul, sangkaannja meleset samasekali. Karena itu alasan ditjari2 untuk mempropaganda: Tiongkok sudah dalam genggaman Sovjet, Tiongkok akan disuruh menerdjang kekiri-kanan membikin revolusi Komunis, Tiongkok agressif, Tiongkok perlu expansi dan hendak menaklukkan Asia d.s.b. Jang sebenarnja mereka malu dan tjemburu bahwa Pemerintah Rakjat dapat mengatasi segala kesulitan satu per satu, penjakit kotor jang ditinggalkan Ch. K. Shek dan penasehatnja, dengan tidak ada bantuan luar negeri kapitalis sama sekali. Djuga tidak dari Sovjet, selain moreel dan mengulurkan tangan persaudaraan jang djudjur dan ichlas. Pindjaman jang disanggupi Sovjet sebanjak 300.000.000 dollar-Amerika pada Tiongkok, malah ditertawakan kaum imperialis dan buntut2nja, sebab Tiongkok begitu besar dan diberikan dalam tempo lima tahun pula berangsur2, mindering! Begitu kata mereka.
Begitu pula kata orang jang ikut2an dengan aliran itu. Memang kalau tjara orang lain diturut, tidak mungkin ada arti, sebab Ch. K. Shek sendiri pindjaman seribu djuta dollar sebentar sadia habis dikorupsikan dan disunglap, sehingga kembali lagi ke Amerika untuk membajar mobil, barang2 lux d.l.1. Di Junani idem, di Italia idem. Dimana2 pindjaman dikorupsikan atau disunglap sadja mendjadi barang2 lux untuk konsumpsi jang tidak ada harga sedikitpun bagi pembangunan masjarakat dan negara baru, mematikan semangat dan meratjun djiwa.
Tapi tjaranja Sovjet memberi pindjaman tidak seperti tjaranja negeri kapitalis-imperialis, begitu djuga tjaranja RRT memindjam dan minta bantuan, tidak seperti tjaranja negara2 asing jang namanja sadja merdeka, tapi djiwa raganja lahir dan bathinnja tetap budak, sifat nerimo, main inggih 'ndoro sadja, hidup dan kehidupannja, isi perut, dari telapak kaki sampai keudjung rambutnja, tetap seperti hidupnja orang jang diperbudak ditanah djadjahan, menerima dan mengharapkan selalu belas kasihan dan perbantuan paduka tuan besar kapitalis-imperialis dan modal asing. Jang dulu dikatakan buto idjo, raksasa angkara murka ..... sekarang mendjadi jang dipertuan besar jang suka belas kasihan sama bangsa jang terdjadjah dan karena itu telah dimerdekakan dengan belas kasihan pula ......
Tiongkok dan Sovjet tidak begitu berhubungan dan tjara pindjam memindjamnja. Pindjam tinggal pindjam, tapi Tiongkok tinggal Tiongkok dan Sovjet tinggal Sovjet. Keduanja saling mengerti dan merasa bahwa latihan beratlah, penderitaan, sanggup mengatasi kesulitan dan memberikan pengorbanan mereka sama mengerti bahwa sifat2 dan watak jang terlatih seperti itulah jang akan sanggup tahan udji, menghadapi dan mengatasi segala kesukaran dan bahaja2 jang mungkin masih akan banjak lagi dibelakang hari. Lebih2 mengingat nafsu dan kerakusan imperialis jang angkara murka jang selalu mengintip dan menanti kesempatan untuk memukul. Terhadap itu, Sovjet dan Tiongkok sama2 harus bersedia, sebab angkara murka tidak bisa dilawan dengan omong, pidato atau rundang-runding melainkan peluru harus disambut dengan peluru, bom dengan bom, meriam dengan meriam. Hanja orang tolol jang bisa dan mau menghadapi bajonet dengan mulut manis, ketawa lemah lembut, mengadjak dan menjerukan: Silakan masuk kenegeri saja, bawalah barang sebanjak-banjaknja!
Begitulah, dari pindjaman jang 300 djuta tadi, Tiongkok sampai sekarang baru mengambil dan memakai kurang dari dua perlima. Djadi usaha perbaikan jang didjalankan boleh dikata adalah atas tenaga dan tjurahan keringat rakjat Tiongkok sendiri. Jang djelas ada pada permulaan dan bisa dikuasai 100% ialah pengangkutan walaupun banjak rusak. Dengan menguasai pengangkutan Pemerintah bisa mengontrole barang. Dengan andjuran produksi, Pemerintah dapat mengetahui berapa kekuatan persediaan jang mungkin diadakan dimasing2 tempat. Kota dengan kota, kota dengan desa, perhubungannja didjaga rapi. Biar siapa tidak boleh mengangkut barang. Pengangkutan barang hanja dilakukan oleh Pemerintah. Paberik, perusahaan, toko2, kota, daerah jang memerlukan barang, katakan sadjalah pada Pemerintah, ingin barang diangkut dari sana kesana, maka orang itu tahu terima beres. Pertukaran barang dapat diatur, bukan itu sadja, kepada jang mendjual dan jang membeli barang dapat dilakukan aturan, jaitu aturan harga dan bila perlu ongkos pengangkutan tidak usah diberatkan pada harga barang pemerintah jang membajarnja pada perusahaan kereta api,
Selangkah demi selangkah, daerah, kota, desa d.s.b. bisa diatur keluar masuknja barang dan bergantung pada perputaran barang itu dapat ditentukan harga buat daerah, kota atau tempat itu. Setelah itu meningkat kepada penetapan harga didalam satu daerah besar (beberapa propinsi) dan pada waktu kami berkundjung kesana, diseluruh Tiongkok harga itu sudah sama dan stabil. Belilah umpamanja rokok, atau sabun, atau bahan badju, maka harganja di Mukdne akan sama dengan harga di Kanton, sekalipun djarak antara keduanja sudah ribuan mil dan lebih seminggu perdjalanan kereta api siang malam. Heran, memang kami sendiri merasa ta'djub ketika disasana, ta'djub sesudah mentjoba dengan diam2 beli sesuatu. Begitupun, tidaklah dikatakan „all is running well", tapi kenjataan itu sendiri jang berbitjara! Bukti dan hasil! Tengok sadja!
Sedjalan dengan soal menguasai barang maka diusahakan pula kesatuan upah dan gadji. Di Tiongkok gadji tidak didasarkan pada mata uang akan tetapi kepada kesatuan jang dinamakan fun. Satu fun itu adalah satu kesatuan keperluan hidup, didalamnja sudah termasuk beras, garam, sajur-daging, minjak-makan, sabun, pakaian d.l.1. Djuga sewa rumah bila perusahan atau Pemerintah tidak menjediadakan tempat tinggal. Umpamanja harga beras satu kilo, Rp. 3,- maka untuk keperluan satu orang buat satu hari, diambil setengah kilo, maka kedalam satu fun itu dimasukkan harga setengah kilo, jaitu Rp. 1,50. Begitu djuga keperluan lain2nja masuk kedalam satu fun tadi, sehingga satu fun itu, bila dinilai dengan uang akan berharga Rp. 5,50 umpamanja. Maka ditetapkanlah gadji seseorang, katalah 50 fun, dan ini ada minimum di Tiongkok, untuk pekerdja jang masih ladjang. Djadi nilai gadjinja dengan uang sama dengan 50 X Rp. 5,50 = Rp. 275.—.
Si pegawai atau pekerdja boleh menerima gadjinja dengan uang, boleh dengan barang, boleh pula separo2. Bila ia hendak menerima barang, dipaberik atau perusahaan d.1.1. sudah tersedia. Ini masuk pekerdjaan tata usaha. Bila siburuh hendak menerima dengan uang itu ia akan mendapat barang jang sama dengan djumlah kalau diterimanja dari perusahaan sadja. Pikir punja pikir, rugi kalau menerima uang sebab kepasar buang tempo, ongkos betja d.l.1. karena itu biasanja mereka terima barang sadja kebanjakan.
Untuk berbelandja ada dua matjam toko, partikelir dan toko Pemerintah jang diurus oleh Department Store. Harga pada keduanja sama sebab salah satu gunanja toko Pemerintah itu ialah agar toko2 partikelir djangan main2 spekulasi, atau menaruh harga jang bukan2. Semua toko ada harga dan sipembeli menerima tanda pembelian, barang apa dan harganja berapa jang lantas ditjap oleh toko jang mendjual. Dengan sistem itu segala pihak turut membantu pengawasan harga, tidak perlu bikin pegawai ini, pegawai itu, polisi ini dan itu. Masjarakat dan rakjat ada kontrole mengontrole dalam arti jang baik. Tjatut hilang, spekulasi lenjap, semua orang merasa aman dan dilindungi, ada rechtszekerheid, ada kepertjajaan pada Pemerintah, pada masjarakat dan pada diri sendiri. Kepribadian masing2 anggauta masjarakat dengan begitu diadjar dan terlatih menudju keutamaan. Tjemburu, chizid, dengki, pukul memukul dan djatuh mendjatuhkan tidak ada, siapa mau hidup bekerdjalah dan kesempatan bekerdja terbuka seluas2nja, bagi setiap orang. Inilah namanja merdeka dalam kenjataan dan kehidupan sehari2, bukan merdeka dibibir dan mulut sadja, atau merdeka dalam teori, merdeka dengan adanja pemerintah nasional sadja jang belum karuan pendirian, sikap dan haluannja, merdeka-merdekaan dan main negara2an, sedang pada hakekatnja semuanja diatur dan ditentukan oleh pengaruh dan tenaga modal asing, seperti halnja dengan Kuomintang-regime, jang djuga sudah dikenal dan dirasai oleh rakjat lebih dulu. Sesudah ada perbandingan, maka djelaslah siapa jang betul2 merdeka dan siapa jang betul2 hendak membimbing rakjat kearah kebebasan mengatur hidup menudju kesentausaan dan kemakmuran. Right of selfdetermination mendjadi kenjataan dan ditindakkan sehari2 oleh seluruh rakjat, bukan hanja disebut2 oleh segerombolan pembesar atau pemimpin jang pandai bitjara dan putar lidah terus karena perutnja dapat kenjang.
Bukan soal upah dan gadji itu sadja, akan tetapi perbandingan gadjipun ada menjenangkan dan menggembirakan kaum pekerdja, sebab kalau buruh bergadji minimum 50 fun maka pemimpin perusahaan (biasanja golongan kader) hanja 300 fun dan diantara pegawainja ada jang lebih dari itu gadjinja, umpamania karena keahlian dan ketjakapan luar biasa, mkaa diberi gadji sampai 500 à 600 fun sebulan. Sistem fun ini tidak bisa dipengaruhi lagi oleh turun naiknja harga. Ia tetap, konstant, tidak perduli harga naik atau turun.
Hal jang mengagumkan lagi dalam soal perburuhan ini ialah adanja usaha untuk mempertinggi deradjat buruh sebagai manusia, baik dilapangan ilmu pengetahuan, maupun dilapangan kesenian olah raga dan kebudajaan umumnja. Buruh itu djuga manusia, seperti djuga manusia2 lain, jang djadi pembesar, opsir, menteri, guru, propessor, presiden dll. Oleh sebab itu deradjatnja sebagai manusia harus didjaga sebab bila sesuatu anggauta atau golongan masjarakat diabaikan, berartilah membikin suatu luka jang menjebabkan sakit didalam tubuh negara dan bangsa, dan ini tentu akan menjebabkan kelemahan jang lambat laun akan menarik seluruh masjarakat ketingkat jang lebih rendah, merasa takut, katjau atau bertentangan dan bermusuhan, sehingga dengan begitu nanti tak dapat dihindarkan lagi kerusuhan menudju kerubuhan. Tiap2 penindasan dan pemerasan jang dilakukan dan berlaku terhadap sesuatu golongan didalam masjarakat, berartilah ini menanam bibit kelemahan bagi masjarakat itu sendiri. Inilah nampaknja jang mendjadi kejakinan dan pendirian di Tiongkok Baru sekarang, oleh sebab itu sembojannja: Timbul atau tenggelam bersama2 seluruh rakjat, sakit senang sama2 dirasakan. Tidak pandang golongan, partai atau kelas.
Tjaranja mempertinggi deradjat itu seperti berikut:
Buruh masuk kerdja umpamanja djam 8. Djam bekerdjanja 10, artinja mulai dia masuk paberik, sampai nanti meninggalkannja, lamanja 10 djam. Bila tiba waktu mengasch, mereka tidak pulang. Membuang tempo. Dipaberik sudah sedia makanan jang diurus oleh pihak paberik dan siburuh hanja membajar harga bahan jang dimakannja sadja. Soal bumbu, minjak dsb. tidak. Ini perlu, agar siburuh tahu apakah jang disediakan untuk dia itu betul sebanjak jang dia bajar. Makanan ini selalu diperiksa oleh pengurus Serikat Buruh, jang selalu ada ditiap perusahaan, begitu djuga ruangan makan, mandi dll. Sehabis makan kaum buruh pergi menudju ruangan jang disukainja. Taman pembatjaan ada, tempat beladjar ada, ruangan musik ada (kebudajaan umumnja), mau menggambar ada, mau mempeladjari tubuh manusia, soal makanan, kesehatan dll. ada. Itu semuanja disediakan oleh perusahaan. Bila habis kerdja, menudju kelapangan olah raga lagi. Bermatjam2 permainan sudah tersedia lengkap dengan alat2nja. Habis itu baru pulang, naik speda atau djalan kaki, biar pangkat tinggi, maupun kuli petjok. Didalam bermatjam2 ruangan dan lapangan olah raga itupun, tidak ada perbedaan tinggi dan rendah, semua rata, sebab belum tentu seorang pangkat tinggi lebih pandai main tjatur umpamanja dari seorang buruh biasa. Dalam pekerdjaan boleh dia jang memerintah dsb. akan tetapi dalam permainan tjatur dia harus mengaku kalah dari jang lebih pandai, sekalipun buruh biasa. Begitulah halnja dalam segala kegiatan, pekerdjaan dan permainan itu. Seseorang dan sesuatu dihargai menurut tempat, keadaan dan waktunja. Sembojan: Sekali menteri, duduk dikursi jang empuk, tetap menteri, disegala waktu dan tempat, tidaklah dikenal di Tiongkok. Lebih tidak dikenal lagi sembojan: Suami menteri, isteri djuga harus Njonja Menteri dll. biar dipasar, didapur, dalam pertemuan atau dikakus sekalipun. Sembojan atau sikap gila2an dan tolol seperti itu tidak sedikitpun kelihatan oleh kami di Tiongkok, diseluruh tempat jang kami kundjungi, sehingga kadang2 ragu kita siapakah jang menteri, walikota, gubernur, pegawai biasa, pemimpin dll. bila sama2 berada didalam satu pertemuan atau sedang makan. Kalau suami menteri, tidak lantas isterinja ikut kemana2, resepsi, pertemuan dll. Seseorang itu dihargai karena dirinja dan pekerdjaannja sendiri, tidak karena membontjeng dsb.
Tidakkah pantas buruh merasa dihargai dalam masjarakat dan pergaulan jang begitu rupa? Tidakkah sudah pada tempatnja, bila diantara kaum buruh ada perlombaan untuk mengusahakan dirinja mendjadi Pahlawan-Kerdja? Tidakkah sudah sewadjarnja bila diantara buruh ada jang bersedia bekerdja 12 djam sehari? Dalam perhitungan djam bekerdja seperti diatas? Adakah terlintas lagi dipikiran, bahwa dalam keadaan dan suasana sedemikian, buruh akan mogok dan begini begitu lagi?
Djadi bila dikatakan "orang", Tiongkok negara totaliter, karena disana tidak boleh mogok, itu tidak betul. Bukan tidak boleh mogok, tapi tidak ada orang jang mau mogok. Kebebasan adalah seluas2nja, terbukti diwaktu permulaan kemenangan, apa dan siapa sadja jang tidak mengemukakan dan menuntut hak. Pertentangan hebat pun terdjadi. Tapi bila sudah dirembuk, didapati persetudjuan, kedua pihak sudah menerima, haruslah dalam pelaksanaan teratur, tertib dan disipliner. Itu namanja orang berbudi dan berachlak tinggi, berani menerima hak dan berani pula menunaikan wadjib dan tugas jang terkandung didalamnja. Bila mau enaknja sadja, itu namanja bukan manusia beradab. Chewan djuga maunja jang enak2 sadja buat dia.......
Dalam pertjakapan2, kita mendapat kesan, bahwa para pembesar dan pemimpin di Tiongkok selalu hendak menegaskan pada kita, bahwa mereka baru berada dalam permulaan, belum mentjapai apa2 jang dimaksud. Masih banjak kerdja, masih djauh djalan jang harus ditempuh. Tidakkah ini satu kesederhanaan dan perbahasaan jang menundjukkan keluhuran budi dan didalamnja terkandung rasa tanggung jawab jang besar dalam memikirkan dan mengusahakan perbaikan2 bagi negara dan rakjat!?
Dalam pada itu orang jang melihat hasil kerdja mereka semua sudah kagum, dalam tempo dua tahun telah dapat mentjapai hasil jang begitu rupa. Lebih2 lagi kalau diingat, betapa keridlaan para kaum hartawan jang mempunjai bermatjam2 paberik itu. Segala usaha sosial dikerdjakan untuk pemeliharaan buruhnja, lahir dan bathin. Ketjuali jang sudah disebut diatas, pemilik paberik atau Pemerintah, harus pula mengadakan: pemeliharan anak2 jang ibunja bekerdja, polikliniek tempat berobat buat seluruh keluarga sadja, akan tetapi ada djuga jang lama, opname), dokter dan djururawat, banjaknja menurut besar ketjilnja djumlah buruh jang bekerdja disitu. Bagi jang tidak berkeluarga disediakan pula asrama, baik laki2 maupun perempuan, kalau mau. Kamar mandi, tempat berenang dll. Di Tiongkok jang belakangan ini penting, sebab ada kalanja mandi dengan air dingin dan ada musimnja jang harus dengan air panas. Itu semua disediakan oleh pegusaha karena buruh tak sanggup menjediakan itu. Begitulah banjaknja hal2 jang harus disediakan, namun dalam kalkulasi perusahaan harus mendapat keuntungan jang pantas. Bila pengeluaran untuk usaha2 sosial itu terlalu banjak menurut kapasiteit paberik, maka Pemerintah akan memberi bantuan, atau donasi buruh sendiri, tapi sjarat2 jang telah ditentukan itu harus ada dan tersedia, sehingga keadaan perburuhan diseluruh Tiongkok tidak berbeda2. Menurut tempat tidak, menurut pemilik pun tidak, sebab kewadjiban jang di letakkan. Pemerintah kepada orang (umpamanja menurut undang2) maka Pemerintah sendirilah jang lebih dulu memberi tjontoh. Kapitalisme tetap ada akan tetapi pengaruhnja jang buruk2 dan mengombang-ambingkan nasib buruh dan masjarakat telah dikikis dengan djalan2 tersebut diatas. Inilah suatu tanda adanja dan perlunja tuntunan dari State Economy, sehingga kapitalisme itu tidak meradjalela dengan sifat2nja jang angkara murka, akan tetapi dituntun kearah jang baik, mempunjai tugas dalam pembangunan dan pembinaan masjarakat baru, agar dengan begitu dapat diperoleh sendi2 jang kuat bagi keamanan dan kedamaian, pergaulan hidup antara manusia dan diantara bangsa2, suatu sjarat bagi mempertinggi dan memelihara keluhuran budi dan peri kemanusiaan umumnja. Diluar organisasi buruh dan perusahaan2, ada lagi di Tiongkok jang dinamakan ,,Kindergarten", jaitu tempat2 dimana anak2 boleh tinggal sampai seminggu lamanja, bertjerai dari ibu dan orang tua, diambil hari Sabtu sore dan diantar lagi pada hari Senin pagi. Djadi dalam seminggu anak itu tinggal 2 malam pada orang tuanja. Selebihnja di ,,Kindergarten", jang diurus oleh organisasi2 wanita sendiri.
Apakah perkembangan itu semua akan menudju kearah sosialistis, komunistis, religieus atau lainnja, itu soal nanti. Sebab tiap2 perobahan jang akan datang baru bisa kuat bila didukung dan dilahirkan oleh kodrat jang ada didalam masjarakat itu, menurut perbandingan kekuatan jang ada, mana jang akan menang dan menentukan Tidak bisa umpamanja tertjapai tjorak perobahan perobahan itu. masjarakat kearah jang berwatak dan bertjorak Islam, bila didalam kalangan orang2 Islam itu sendiri tidak ada kekuatan jang njata, melebihi kekuatan2 lain jang djuga ada dalam masjarakat. Kekuatan jang reëel dan njata, bukan sekedar kebenaran ajat atau hadits atau sekedar memudja mudji tarich Islam dan kebesaran jang telah pernah ditjapai orang dan bangsa asing dinegerinja. Merk dan tjap Islam sadja tidak berdaja apa2, bila didalamnja tidak ada isi, hampa atau kosong belaka. Inilah satu kebenaran jang telah diudji dan dibuktikan oleh sedjarah dan bukti sedjarah ini mendjadi perhatian dan tauladan bagi orang di Tiongkok. Mereka tidak gila untuk memaksakan masjarakat komunis, karena tahu, bahwa kodrat, watak dân djiwa komunisme itu belum meliputi tubuh masjarakat sekarang, belum mendalam berpikiran dan tjara hidup sehari2. Tentang usaha dan ichtiar, itu adalah wadjibnja tiap2 orang jang mau hidup terus. Siapa sadja. Sampai tidaknja, itu tergantung pada keadaan dan sjarat2. Manusia adalah berichtiar, sedang jang menentukan pasti adalah Tuhan.........
Pada tempatnja, dibawah ini kita tuturkan perkataan Liu Shao-chi, orang jang nomor dua dalam Partai Komunis Tiongkok, tentang ilmu dan teori kommunisme, kata2 jang dihadapkan kepada para burdjuis dan kapitalis nasional sbb. :
,,Sebagai komunis kami harus menganggap dan pertjaja bahwa tuan2 menarik keuntungan dari tenaga buruh. Kami insjaf bahwa pada tingkat dewasa ini keadaan seperti itu tak dapat dihindarkan sekarang, malahan masih perlu. Jang kami inginkan ialah, supaja tuan2 berusaha sekuat tenaga untuk mendapat kemadjuan, memperbesar produksi selekas mungkin sampai setinggi2nja dan kami berdjandji akan berbuat segala sesuatunja untuk dapat menolong tuan2.
Mungkin djuga bahwa mulai sekarang tuan2 sudah takut pada sosialisasi, akan tetapi kechawatiran itu tidaklah pada tempatnja. Bila tuan2 berbuat pekerdjaan jang bermanfa'at bagi masjarakat dengan memadjukan perusahaan tuan2, dan anak2 tuan2 dididik dan dilatih agar mendjadi kaum technici jang ulung, maka tuan2 akan tetap mendjadi orang jang utama dilapangan industri, dan tuan2 akan mengalami dan mejakini nanti bahwa tuan2 sebagai pemimpin dari perusahaan2 negara jang disosilisir akan lebih beruntung daripada tetap mendjadi pemiliknja, jang harus bertanggung djawab atas segala2nja, atas kemungkinan2 jang akan datang, atas nasib perusahaan seluruhnja, atas ,,ups and downs" jang mungkin akan dialami dimasa datang".
Demikianlah keterangan pemuka Partai Komunis itu, jang dengan tidak pakai tedeng aling2, membukakan duduknja perkara setjara terus terang, setjara persaudaraan dan ini dapatlah dipandang sebagai pendirian partai komunis dalam soal perindustrian dan pembangunan di Tiongkok, sekarang dan untuk seterusnja. Djadi tidaklah main rampok atau sita2an atas harta dan milik orang. 3. PERHUBUNGAN, PENGANGKUTAN DAN LAIN2.
Soal pengangkutan di Tiongkok masih menghendaki pembangunan jang terus menerus, karena luasnja daerah negara, mulai dari Port Arthur (Dairen) disebelah Timur sampai ke lembah sungai Tarim diutara Tibet dekat perbatasan Sovjet dan India, jang djaraknja tidak kurang dari 6.000 km garis lurus. Dan dari sungai Amur disebelah Utara sampai keperbatasan Birma disebelah Selatan jang djuga tidak kurang dari 5.000 km garis lurus. Luasnja daerah daratan negara Tiongkok diluar Tibet adalah 9.997.000 kilometer persegi. Djumlah djalan kereta api sebelum perang adalah 25.000 km. Dan sekarang sudah bertambah dengan kira2 4.800 km. Tahun jang akan datang dan seterusnja djalan kereta api ini akan diperluas terus. Maklumlah jang ada sekarang baru sedikit bila dibandingkan dengan luasnja daerah negara. Terutama disebelah Utara dan Baratlaut, pembikinan djalan kereta api sangat berat, mahal dan berbahaja, tapi sungguhpun begitu, daerah2 jang paling sukarpun telah dimulai dengan meneruskan djalan kereta api baru, seperti dipropinsi Szechuan, dari Chungking ke Chengtu, dipropinsi Kansu, dua daerah jang sangat sukar, berbukit2 dan penuh djurang, sehingga penggalian teroowngan tidak sedikit djumlahnja. Dipropinsi Kwangsi dan Yunnan jang berbatas ke Viet-nam dan Birma, usaha itu berdjalan terus djuga.
Mengenai djalan2 pos sekarang djumlahnja sudah melebihi 900.000 km. djumlah mana berarti sudah 60% melebihi pandjang djalan pos dari tahun 1937 (permulaan agresi Djepang). Perhubungan telipon sekarang sudah mentjapai duaseperempat kali dari djumlah sebelum perang. Begitu juga perhubungan kawat sudah sampai ke Sovjet. Dalam pada itu penerbangan sipil semakin madju dan sangat diandjurkan dan dilapangan ini bantuan Sovjet tidak dapat dilupakan. Waktu kita berada disalah satu lapangan terbang, maka kelihatan beberapa puluh pesawat jang sedang dikerdjakan, dibuka semua mesin2nja. Diantara jang bekerdja itu kelihatan beberapa orang kulit putih, mungkin orang Rus dan beratus2 orang Tionghoa. Rupanja tjaranja mereka itu beladjar bukan dengan beramai2 pergi ke Moskow atau lain tempat di Sovjet, akan tetapi tetap tinggal dinegeri sendiri. Pesawat ada, instruktur ada, beladjar terbang dapat, sambil memahirkan segala tehnik mengenai mesin2. Berbondong2 pergi ke Moskow, tak perlu, tidak guna, membuang tempo dan ongkos. Inilah perhitungan jang tepat dan hemat, sesuai dengan keperluan dan kebutuhan zaman dan keadaan dimasa pembangunan, hemat dalam waktu, hemat dalam ongkos dan hemat dalam tenaga, effektif dan effisien senantiasa. Sebab propaganda jang terbaik bukanlah pidato atau teori-rentjana muluk2 akan tetapi hasil kerdja dan kenjataan. Ini jang dapat dilihat oleh mata dan dirasakan oleh rakjat, sedang hocus pocus belum tentu orang mengerti atau mau dengar udjung dan pangkalnja. Melihat soal dan lapangan perhubungan dan lalu lintas ini sadja, bukan main banjaknja dan beratnja pekerjaan jang harus diselesaikan, sehingga tidak ada pikiran orang untuk bertengkar dan berdebat, tak ada tempo untuk gembar-gembor dan berteori tentang ideologie, partai dll. Segala soal ini mendjadi ketjil bila mengingat dan berhadapan dengan soal2 di lapangan pembangunan jang harus dibereskan, setjepat mungkin. Apakah arti partai, ideologie, bertengkar tentang kiri dan kanan, tentang merah, hidjau, kuning dsb. kalau perut sadja tak dapat diisi dengan hasil usaha sendiri, tubuh akan telandjang bila tidak dengan belas kasihan orang/modal asing?? Faham dan kejakinan haruslah dilatih dan dibentuk mendjadi watak, dengan lambat laun tak dapat diburu2kan dalam 2 à 3 minggu, sedang keperluan hidup harus diusahakan saban djam, saban hari.
Dan soal2 hidup jang dihadapi Tiongkok bukan soal perhubungan sadja, lebih besar dari itu ada lagi, perobahan tanah dan pertaniannja jang akan menudju kearah mechanisasi, industri jang harus meningkat pada dewasa, mentjukupi keperluan rakjat dan masjarakat, perdagangan dalam dan luar negeri, perkapalan dan......... pertahanan, sebab dizaman kaum imperialis dan agressor sudah dihinggapi oleh demam perang, karena hasutan dan desakan pebrik2 sendjatanja sendiri, tidaklah tjukup orang menghendaki dan ingin perdamaian dengan menjatakan dengan mulut sadja, akan tetapi perdamaian itu harus ditjapai, diperdjuangkan dengan tenaga dan kekuatan jang reëel dan njata. Pemimpin harus tahu merasakan dan membuktikan tanggung djawab, tidak tjukup hanja sekedar pandai pidato, bitjara dan pintar lidah sadja.
Soal pengangkutan dan lalu lintas ini sangat erat hubungannja dengan soal perdagangan. Sampai sekarang jang terpenting bagi Tiongkok ialah soal perdagangan dalam negeri, sedang soal dagang keluar belum dapat diharapkan, melihat situasi sekarang. Hanja India, Eropah Timur dan Sovjetlah terutama jang berdagang dengan Tiongkok, tapi itupun tidak sedikit artinja, sebab negeri2 tersebut adalah negara2 raksasa, luasnja daerah dan djumlah rakjalt jang ratusan djuta.
Djadi pertukaran barang jang diutamakan dan harus beres dulu ialah antara kota dan desa dan antara daerah dengan daerah. Diluar Republik Rakjat Mongolia (Mongolia Luar) di Tiongkok terdapat 8 daerah besar jang mempunjai pemerintah atau kabinet sendiri, langsung dibawah Pemerintah Pusat di Peking, jaitu: 1. Daerah Baratlaut 2. Tibet, 3. Daerah Baratdaja, 4. Daerah Tiongkok Selatan dan Tengah, 5. Daerah Tiongkok Timur, 6. Daerah Tiongkok Utara, 7. Daerah Timurlaut (Tungpei) dan 8. Daerah Otonom Mongolia Dalam. Sungguhpun hanja dalam negeri sadja, perdagangan jang meliputi daerah jang begitu luas bukanlah soal ketjil.
Pertukaran dan perputaran barang antara kota dan desa tidak melulu hanja mengenai segi dagangnja akan tetapi penting pula bagi ekonomi desa dan kota, sebab paberik2 dikota mendapat bahan mentah sekarang dari desa, bukan dari luar negeri lagi. Barang2 jang tersedia dikota agar djangan bertumpuk harus pula dibagikan kedesa2. Sekuat2 paberik menghasilkan masih kurang untuk rakjat jang banjak itu dan sebanjak2 penghasilan bahan mentah didesa masih kuranguntuk djadi makanan" paberik dikota. Dengan demikian kedua belah pihaknja harus bekerdja keras.
Dalam pertukaran barang ini jang harus didjaga betul ialah timbulnja dagang spekulasi, tjatut jang menjebabkan harga gila2an dan banjak orang jang litjin2 mendapat keuntungan dalam tempo jang pendek sekali dengan tidak bekerdja betul, hanja dengan spekulasi modalnja, bisa menerkam orang2 jang sedang dalam kesulitan atau kekurangan. Spekulasi jang begini jang djuga biasanja mendjadi pekerdjaan memeras dan memperdaja silemah oleh sikuat, harus dibasmi sama sekali. Pada waktu perkundjungan kami ke Tiongkok memang hal itu sudah dapat dikuasai. Inilah sebabnja maka keadaan harga mendjadi stabiel, diluar dugaan semua orang, diluar dugaan Ch. K. Shek dan penasehatnja, Amerika. Alat jang terutama untuk membasmi dagang spekulasi seluruh pengangkutan. Kedua, mengatur pendjualan dan pembelian kedesa dan seba liknja kekota. Ketiga, dengan adanja Department Store Pemerintah jang seolah2 mendjadi pemimpin dilapangan pertukaran dan perputaran barang ini. Keempat, dengan djalan memusatkan seluruh keuangan di Tiongkok, dibawah pimpinan Bank Rakjat (Negara). Bukan berarti bahwa bank2 partikelir sudah hilang, tidak. Mereka tetap berdiri, hanja tuntunan dan peraturan bagi seluruhnja bank disatukan, dalam soal penjimpanan, pemberian kredit, soal bunga d.1.1. jang mengenai kegiatan2 dan pergaulan diantara bank2, dan diantara bank dengan pedagang dan pengusaha. Dengan djalan begini, soal uang di Tiongkok mendjadi terkendali seratus persen. Nafsu kepada mentjari uang jang banjak tidak ada. Artinja orang tidak memasukkannja kedalam peti besi d.s.b. akan tetapi tjukup dengan surat berbagai matjam, sebab pokoknja toh, dapat membeli atau menerima harga pendjualan barang. Dimana letaknja duit itu tak djadi soal. Dikalangan rakjatpun nampaknja nafsu memegang uang itu tidak begitu besar, sebab bila ia mendjual hasilnja dengan sebentar itu djuga dapat membeli keperluannja jang lain, dengan tidak usah tunggu datang dulu barang dari Amerika. Keperluan2 hidup sekarang bukan datang dari luar, sehingga tak ada kechawatiran, besok lusa kursnja ada turun naik. Uang luar negeri dilarang keras, tidak seperti dizaman Ch. K. Shek, pembesar2 sendiri lebih suka pegang uang Amerika daripada uang negerinja sendiri, karena tak ada harga.
Bila pedagang dll. tidak bersedia membeli sesuatu barang jang tersedia, maka Pemerintah bersedia membelinja seluruhnja dan bila sesuatu paberik sukar atau dengan harga mahal harus membeli bahan mentah maka dari Pemerintah ia bisa mendapat bahan jang diperlukannja itu dengan harga resmi. Ini djuga menambah tjepatnja hilang segala dagang spekulasi dan tjatut. Memang peranan jang dimainkan oleh Department Store dalam soal pertukaran barang dan pengawasan harganja, tidaklah ternilai besarnja, oleh sebab itu pula orang2nja harus jang pilihan, biasanja golongan kader pula jang banjak terpakai disitu, kader, jang kepadanja berlaku dan dilakukan hukum militer. Segala bahan mentah jang ada di Tiongkok ada pada Department Store dan segala barang hasil industri jang ada di Tiongkok ada pula pada Department Store.
Soal pasaran? Dengan sendirinja sudah bisa dikendalikan. Tidak ada lagi terdjadi disesuatu tempat sesuatu matjam barang terlalu banjak, sehingga pasarannja turun. Djuga tidak terdjadi bahwa sesuatu barang dengan sekonjong2 bisa lenjap sehingga dengan begitu pasarannja naik dan harganja membubung kelangit. Untuk mendjaga ini, pihak Department Store berhak melarang sesuatu barang untuk diangkut ketempat jang tertentu dan sebaliknja bisa menjuruh pedagang membawa barangnja kekota atau daerah jang tertentu. Bukan sekedar perintah, instruksi atau andjuran belaka, akan tetapi pada ketika itu diuga bersedia mengadakan alat pengangkutannja. Soal pengangkutan tetap dalam tangan Pemerintah. Tidak ada uang sogok kepada kereta api atau kekapal atau alat pengangkutan lainnja, sebab semua diawasi dengan keras. Tidak ada soal kongesti, atau penumpukan barang jang tidak karuan sehingga seolah2 sudah seperti sampah ditempat penumpukannja sedang ditempat lain orang kekurangan dan haus padanja. Tidak ada kehilangan barang ditengah djalan, sehingga barang jang tiga ton umpamanja sesudah sampai ditempat jang ditudju tahu2 sudah tinggal hanja 22 ton sehingga harga barang itu terpaksa harus dinaikkan, mengedjar jang hilang, sebab sipedagang tentu tidak tidak mau rugi, bukan!
Hal2 jang berketjil2 nampaknja itu, semuanja seolah2 sudah dapat dilihat lebih dulu oleh para pemimpin dan pembesar di RRT, oleh sebab itu untuk menghilangkan semua hal2 jang menjukarkan dan mengatjaukan harga dan perputaran barang itu, harus diambil tindakan2. Bukan lantas mereka main tangkap, atau main tembak2an peluru, bila ada kedjadian jang mengganggu dan berdjumpa dengan orang bersalah, tidak. Tangkapan hampir tak dilakukan, dan kalau ada orang bersalah atau mentjuri dsb. bukan dibawa kependjara, akan tetapi ketempat pendidikan buruh, dimana ada kerdja tangan dan ada kerdja otak, kursus dll. Tapi untuk sampai kesana, harus sudah tiada djalan lain lagi untuk memperbaikinja dan mendjamin tidak terulangnja lagi kesalahan dan kedjahatanitu.
Djalan jang ditempuh untuk mentjegah semua jang tidak diingini dalam soal perdagangan, pasaran dan harga ini ialah pendidikan kursus, memberi keinsjafan bagi segala golongan apa hubungan pekerdjaannja itu dengan kehidupan masjarakat seluruhnja. Apa manfa'atnja, apa pula kemungkinan2 jang tidak baik, bila ia tidak mendjalankan tugasnja menurut rel jang benar.
Satu tjontoh sbb.: Pegawai2 kereta api seluruhnja dikursus, selain mengenai pekerdjaannja masing2, djuga tentang funksi kereta api itu didalam masjarakat. Diterangkan hubungannja dengan hasil pertanian rakjat didesa. Bila hasil sudah banjak, tapi tidak ada jang mengangkut kekota maka harganja akan djatuh, begitu djuga produksi2 lokal berhubung perbedaan iklim, dar Utara ke Selatan umpamanja, kedua daerah jang mempunjai hasil jang berlainan itu perlu tukar menukar agar djangan bertumpuk disatu tempat dan dilain tempat berkurangan. Bagaimana hubungan pengangkutan kereta api dengan harga pasar, bahwa lantjarnja perhubungan itu dapat membantu stabilnja harga dan menurut peil jang dikehendaki. Bahwa akan baik keuntungan pedagang, buruh dan pemilik paberik, bila pengangkutan bahan mentah dan hasil paberik tidak terhalang. Kerugian kalau sebaliknja. Kereta api dapat membantu bila terdjadi ketjelakaan atau kelaparan dsb. Bantuannja dalam soal pengiriman pos, pengangkutan tentara, bila ada peperangan, dapat membantu tertjapainja kemenangan atau menjebabkandideritanja kekalahan dll. lagi.
Itu semua dikursuskan kepada pegawai2 kereta api agar tahu harga kerdjanja itu bagi kepentingan umum, lantjarnja dan teraturnja pergaulan hidup. Dengan perantaraan pameran, segala keterangan diatas disampaikan pula kepada rakjat umum agar orang luar dapat pula menghargai pekerdjaan orang kereta api itu. Begitulah seterusnja dengan djawatan2 lain dan usaha2 lain jang ada didalam masjarakat. Pendeknja tentoonstelling itu satu alat penerangan di Tiongkok jang betul2 dapat membantu tertjapainja harmoni, rasa persatuan dan harga menghargai diantara segala golongan dan lapisan dalam masjarakat. Satu tanda bahwa dalam soal pembangunan pada umumnja ini ada pimpinan, tahu pula para pemimpin, kearah mana jang akan ditudju, mana jang harus didahulukan dan mana jang dapat dikudiankan. Mana jang wadjib dan mana jang harus menurut waktu, tempat dan keadaan. Dengan begitu pimpinan itu terasa dalam kehidupan sehari2 dan karena hasil pimpinan itu terasa bagi orang, maka orang jang bersangkutan merasa bersjukur dan sangat berterima kasih atas kebidjaksanaan para pemimpin jang duduk diatas. Propaganda dengan omong, bitjara atau pidato dan amanat sedikit sekali di Tiongkok. Orang pidato kalau masjawarat dan berunding sadja, mentjari djalan dan usaha baru, menambah hasil.
Didalam upatjara jang besar2, seperti hari nasional d.l.l. itu orang tidak mengingat akan memberi pidato pandjang-lebar atau amanat jang bukan2, akan tetapi hasil kerdjalah jang diutamakan dan itulah jang diperlihatkan dalam upatjara itu. Heran barangkali para pembatja kalau kita katakan bahwa pada hari Ulang Tahun RRT jang kami hadiri di Peking itu, tidak sepatah katapun Ketua Mao Che-tung mengeluarkan pidato. Hanja djenderal Chu Teh sebentar keliling memeriksa tanah lapang, kemudian bitjara sedikit pada seluruh tentara dan rakjat, pendek sadja jang kemudian didjawab oleh seluruh rakjat dengan memperlihatkan apa jang telah ditjapai masing2 selama tempo satu tahun jang lalu. Inilah isinja pawai jang lima djam lamanja itu. Kalau petani memperlihatkan hasil taninja, kalau buruh memperlihatkan tingkat produksi jang telah ditjapainja, kalau peladjar memperlihatkan kepandaiannja, dan barisan kesenian dan kebudajaan demikian pula. Pendeknja dengan demonstrasi jang kita lihat pada hari itu dapatlah kita suatu gambaran jang djelas tentang isi Tiongkok, kekuatannja dan kekajaannja mengenai materil dan kedjiwaan, hasil tjiptaan alam, tangan, pikiran dan otak manusia.
Untuk menggiatkan segala tenaga dan usaha mentjipta itu maka diatur pula sistem padjak dan kredit jang sangat memuaskan. Bila seseorang hendak memindjam untuk modal, maka perlu diketahui, dianja itu hendak membikin perusahaan apa? Kalau umpamanja usaha itu akan menghasilkan barang2 jang berguna untuk umum, seperti garam, minjak makan d.l.1. maka uang jang dipindjamnja itu hanja diberarti bunga paling tinggi 3%. Makin perlu barang jang dihasilkannja itu bagi masjarakat, makin rendah bunga pindjamannja.
Tidak hanja itu sadja, akan tetapi sistem padjak demikian pula. Padjak jang dikenakan pada perusahaan2 jang penting bagi kehidupan orang banjak, sangat rendah, umpamanja padjak perusahaan garam hanja 0,1%, akan tetapi bila perusahaan barang2 lux, padjaknja sangat tinggi, ada jang sampai 50 à 60%. Demikian pula barang2 dari luar. Bila barang jang akan masuk itu merugika atau mendesak barang penghasilan dalam negeri maka akan dipungut tjukainja antara 500 à 600%. Tapi kalau barang2 jang perlu bagi perusahaan dan paberik2, tidak pakai tjukaipun boleh masuk. Asal orang dapat memasukkannja sudah sjukur dan merasa untung.
Demikianlah padjak, bunga dan tjukai itu di Tiongkok mempunjai funksi jang sangat baik, jaitu funksi memimpin dan menuntun, bagi perkembangannja segala kegiatan dan usaha rakjat. Padjak jang dikenakan pada kaum tanipun harus dipandang dari sudut itu, sebab padjak innatura itu perlunja agar pemerintah mempunjai persediaan besar, agar dengan begitu dapat mengontrole harga. Ketjuali hasil padjak, pemerintah membeli pula.
Padjak jang dipikul kaum tani itu berdjumlah antara 10 à 20% pada permulaan tempohari dan makin lama makin kurang, sebab bila harga sudah stabiel dan produksi mentjukupi, harga gila, dagang spekulasi dan tjatut sudah hilang, maka masjarakat itu akan mengatur sendiri perputaran barangnja dan penetapan harganja. Funksi mengatur dan mempertinggi peil penghidupan ada pula pada sistem padjak jang didjalankan. Jang kaja2 dapat diturunkan sedikit kemewahannja dan kaum buruh dan tani dapat dinaikkan keatas. Dan perbaikan ini, semua orang jang telah berkundjung ke Tiongkok telah menjaksikan dan merasa kagum, melihat hasil pimpinan jang amat bidjaksana itu. Biar lawan maupun kawan sama2 mengakuinja. Musuh tentu ketjewa melihatnja...... Ketjewa melihat sudah tjukup makan dan ada pakaian di Tiongkok Baru.
Sesungguhnjalah pimpinan itu suatu hasil dari perhitungan jang tepat, hasil pikiran dan perdjuangan serta latihan jang bertahun2 dari para pemimpin Kungchantang. Bagi rakjat umum tidak soal, apa pimpinan itu hasil otak dan dilaksanakan oleh Kungchantang atau tidak, jang penting ialah hasilnja. Hasil jang diperoleh dan telah dirasai sehari2 itu toh tidak akan berobah atau berkurang, hanja karena ia lahir dari pikiran dan aliran tertentu, entah merah, atau hidjau atau kuning d.s.b. Apa pula gunanja memudja2 aliran putih atau kanan (barangkali maksudnja sebelah kanan Amerika atau Inggeris) umpamanja, kalau hasilnja tidak ada, perubahan tak terasa, pimpinannja melempam dan ngelamun sadja membatja2.........
Pimpinan tegas jang ada sekarang di Tiongkok itu adalah bersumber dari penderitaan pahit, perjtobaan dan pengalaman, perhitungan jang tepat jang telah dapat membawa rakjat Tiongkok seluruhnja memperoleh kemenangan jang gemilang dan jang belum ada taranja dalam sedjarah. Bukan sadja di-lapangan militer tapi djuga dilapangan ekonomi dan pembangunan umumnja. Garis2 pimpinan jg. djadi pedoman umum rupanja telah ditetapkan pada tg. 23 Maret 1949 dalam sidang Sentral Komite Partai Komunis Tiongkok, djadi sebelum diproklamasikan berdirinja RRT. Bunjinja sebagai berikut :
- Berhubung dengan gagalnja revolusi 1927, maka pusat perdjuangan revolusioner pindah kedesa untuk mengumpul tenaga, mengepung kota2 dan merebutnja, bersama2 dan bersatu dengan kaum buruh. Politik jang didjalankan ialah dari desa mengambil kota. Masa perdjuangan demikian telah lampau, jaitu masa pimpinan dari desa menudju kota. Sekarang pimpinan adalah dari kota kedesa. Kedua2nja sama pentingnja, kota dan desa, hanja pusat sadja jang pindah kekota.
- Partai harus beladjar memimpin rakjat dikota, bersatu dengan seluruh kaum pekerdja, intelligentsia, burdjuis ketjil dan burdjuis nasional.
- Kuntji dari pembangunan dikota ialah produksi industri, jaitu: kepunjaan partikelir, kepunjaan negara, kaum pengusaha dan keradjinan tangan. Seluruh badan2, partai2 dan organisasi2 jang ada harus turut ambil bagian dalam menaikkan produksi dan memadjukan usaha.
- Menjerukan kepada segenap kawan didalam partai agar sekuat tenaga beladjar dengan sungguh2soal2 tehnik dan urusan tatausaha dan pimpinan perusahaan dan tjara menghasilkan, begitu djuga dalam urusan bank, perdagangan d.l.l. jang berhubungan dengan produksi.
Mengawaskan: Bila kita gagal dalam menaikkan produksi dalam tempo jang sesingkat2nja guna perbaikan hidup
- dan kehidupan rakjat banjak, maka partai dan pemerintah rakjat tidak akan sanggup mempertahankan kedudukannja, tidak akan sanggup mempertahankan pimpinannja dan karena itu akan menemui kegagalan atau kerubuhan.
- Diktatur rakjat jang demokratis berarti: dituntut oleh kaum buruh, bersendi pada persatuan buruh dan tani dan menuntut pada partai agar berusaha keras mempersatukan segala pekerdja, seluruh tani, intelligentsia progressief dan revolusioner untuk mendjadi dasar dan tenaga terus daripada pimpinan diktatur rakjat ini. Djuga agar mempersatukan kaum burdjuis ketjil, kaum liberal dan intellekt, partai2 dan perkumpulan2 politik, untuk bekerdjasama dengan partai dalam usaha membasmi dan menghalau kekuatan2 imperialis dan reaksioner didalam negeri, agar segeralah dapat memadjukan produksi, guna membawa Tiongkok dari tingkat agraris mendjadi negeri industri dan menaikkannja dari negara-demokrasi-baru mendjadi negara-sosialis.
- Mendjalankan politik djangka pandjang dan politik kerdjasama dengan semua tenaga demokratis diluar partai. Terhadap hasil revolusi diawaskan betul dan diperingatkan dengan keras agar djangan sampai menjombong atau merasa sudah puas. Kemenangan perdjuangan (militer) dalam revolusi barulah sekedar langkah pertama dipermulaan djalan revolusi jang masih pandjang terbentang dihadapan kita, karena itu kewadjiban2 kita masih berat jang meminta tenaga luar biasa sepenuhnja dan pengorbanan jang besar serta meminta pengabdian jang tak putus2nja.
- Meminta dengan sangat agar semua kawan tetap memperlihatkan tjara bekerdja jang tertib dan teratur, kerdja keras dan membanting tulang memeras keringat, bebas dari segala kesombongan dan rasa-puas, agar terus diperoleh kemadjuan usaha jang lebih besar untuk membina Tiongkok Baru. Sebab, walaupun industri kita belum dewasa, sidang pertjaja akan keberanian bekerdja, keuletan dan kegiatan rakjat dalam menghasilkan dan mentjipta.
Demikianlah garis2 dan pedoman bekerdja dalam memimpin perdjuangan revolusi dan menurut djiwa dan semangat garis2 itulah didjalankan pimpinan dimana2, sehingga mendatangkan hasil jang ada seperti sekarang ini, dan jang kami telah mempersaksikannja dengan mata kepala sendiri.
Bukanlah satu kerugian, melainkan satu keuntungan besar, bila banjak dari bangsa Indonesia dari segenap lapisan dan golongan dapat mempersaksikan tjara bekerdja dan hasil pekerdjaan jang telah ditjapai oleh rakjat Tiongkok disegala lapangan, hampir melulu dengan tenaga, pikiran dan usaha sendiri, jang sebagian besar bukan dengan mempergunakan mesin akan tetapi hanja dengan mempergunakan tangan dan otak. Begitupun hasil tjiptaan mereka rasanja tidak ada jang dapat menandinginja diseluruh dunia, dalam tempo jang sesingkat itu, dari tiada mendjadi ada dan jang sudah ada mendjadi lebih besar dan lengkap. Jang mengagumkan lagi, pengaruh luar negeri tidak ada kelihatan sedikitpun, jang biasanja pengaruh itu diartikan orang: kekuatan modal, kelengkapan tehnik dan keahlian. Dari tiga matjam „pengaruh” itu, satupun tida ada jang mempunjai djedjak dan tak ada tempat berpidjak di Tiongkok lagi, sekarang buat pertama kali dalam sedjarah dan untuk seterusnja dimasa jang akan datang. Kemerdekaan Tiongkok tidak ada sudutnja jang kosong lagi, telah di-isi semua oleh hasil tjiptaan dan usaha putera dan puterinja sendiri. Tinggal melengkap dan menjempurnakannja lagi.
„Tiongkok merdeka ... satu2nja negara dan bangsa jang bisa merdeka di Asia, Afrika dan Europa sehabis perang dunia ke II. Malah diseluruh dunia negara merdeka jang ketiga, jaitu sesudah Sovjet dan Amerika Serikat ...” begitulah kalimat jang melintas dipikiran kita sewaktu meninggalkan daerah RRT jang penghabisan.
Setelah sampai di Hongkong lagi, kita tidak merasa bahwa daerah itu masih ditangan Inggeris. Mengapa ......? VII. KEHIDUPAN DAN SUASANA POLITIK
Orang luar mungkin akan menjangka bahwa suasana politik di Tiongkok sekarang adalah tegang dan kaku, berhubung dengan, pada sangka mereka, jang berkuasa dan menguasai sekarang, ialah komunisme. Terhadap persangkaan itu, untuk sekedar mendjadi perbandingan akan kita kemukakan beberapa hal, jang kita telah saksikan sendiri disana.
Jang pertama kali akan tergambar dimata orang jang datang ke Tiongkok, ialah kegiatan dan kesibukan bekerdja. Kalau batja di koran, maka jang akan kelihatan terutama, djuga berita2 kegiatan dan hasil kerdja. Berita2 mengenai partai ini dan partai itu tidak ada, atau sedikit sekali. "Statement" dan "interview" djarang sekali kelihatan disurat kabar. Berita2 tentang perdebatan disidang ini atau itu, tidak ada. Djuga tidak pernah kelihatan, bagaimana pendapat partai ini atau itu tentang politik diluar negeri, dimuat dalam surat kabar. Berita2 luar negeri jang dimuat, hanja jang langsung ada hubungannja dengan politik luar negeri Tiongkok: soal perdamaian, soal bahaja perang, pendirian negeri ini atau pembesar itu tentang sesuatu persoalan internasional, jang mungkin akan menimbulkan konflik besar, terutama jang menarik perhatian ssk. ialah adanja dan menggambarkan adanja pertentangan dan perbedaan antara pendirian blok Amerika dengan negeri jang bersangkutan dengan persoalan itu. Sebagai tjontoh, soal minjak Iran dan terusan Suez. Pertentangan dan perbedaan antara pendirian Iran dan Mesir disatu pihak dan bagaimana pula rol jang akan didjalankan oleh Amerika didalamnja.
Berhubung dengan tidak begitu banjak hubungan ekonomis sekarang antara Tiongkok Baru dengan blok Amerika, maka tidak begitu banjak pula soal² luar negeri jang menarik perhatian rakjat umum, terutama kaum pedagang, industrialis, golongan bank d.l.l. sebab toh tak ada hubungannja dengan peker djaan mereka sehari², karena terhadap uang, pasaran d.l.l. tak ada lagi pengaruh asing. Dengan begitu, suasana politik pada umumnja adalah tenang. Masjarakat tidak gelisah oleh karena pertjaturan politik dunia, dan tak pula bingung karena pertengkaran partai² jang ada dalam negeri. Rebutan kursi, rebutan pengaruh, pertentangan parlemen dan kabinet, kemungkinan bubar atau berganti², tidak ada. Kalau ini akan diambil sebagai alasan untuk mengatakan tidak adanja demokrasi, terserahlah, tapi di Amerika untuk masa jang tertentu (empat tahun) tidak ada pertukaran kabinet. Perkataan demokrasi sudah terlalu banjak diulang², dikadji² dan dianalisir. Segala orang menjatakan dirinja demokrat, bebas d.l.l. Amerika menjatakan dirinja pendekar demokrasi, Perantjis begitu pula. Kata orang, Indonesia sekarang inipun adalah negara demokrasi, Djepang dengan keizernja, Filipina, Thailandia d.l.l. itu semuanja dikatakan demokratis. Jang dapat kita katakan ialah, bahwa Tiongkok memang tidak mengatakan dirinja negara demokrasi, akan tetapi negara demokrasi baru. Susunan pemerintahannja agak lain dari di Indonesia, lain dari di Djepang atau Thailandia atau Filipina dan Amerika. Perlainan itu ada, oleh sebab itu perlainan arti dan makna demokrasi itupun tentu ada. Jang sudah djelas kita lihat sendiri, perlainan keadaan dalam kenjataan dan kehidupan sehari2: Demokrasi di Indonesia dan demokrasi baru di Tiongkok, manakah jang betul? Mungkin dua-duanja betul, artinja di Indonesia orang mengatakan ada demokrasi, tapi adanja itu baru dalam angan2, dalam teori dan bitjara sadja karena itu tjukup namanja demokrasi sadja, demokrasi tok, sedang di Tiongkok dikatakan ada demokrasi, bukan dalam angan2 dan teori2an diatas podium atau gembar-gembor dalam surat kabar akan tetapi dalam kenjataan dan praktek hidup sehari2, oleh sebab itu dinamakan demokrasi baru, untuk membedakannja daripada demokrasi lama, demokrasi kolot, demokrasi-teori dan demokrasi burdjuis-liberal, demokrasi ,,siapa kuat boleh terkam dan telan jang lemah", demokrasi ,,siapa kuasa boleh tangkap dan tutup orang jang tak berdaja", met of zonder alasan. Inilah perbedaannja demokrasi di Tiongkok dengan demokrasi dibeberapa negeri jang telah disebut tadi.
Bagaimanakah susunan pemerintahan di Tiongkok sekarang?
Dizaman Ch. K. Shek-regime, Tiongkok disebut negara nasional, pemerintah nasional, tidak totaliter, tapi demokratis. Diwaktu itu tuduhan apa2 terhadap Tiongkok, satupun tidak ada. Semua berdjalan baik, "all is running well". Menurut istilah orang luar, terutama Amerika. Tapi bagaimana dalam kenjataannja? Jang berkuasa ialah Ch. K. Shek dengan kontjo2nja sadja jang senang sama dia, jang merasa beruntung berkawan dengan dia, karena itu memudji2 politiknja, agar dengan begitu terpakai sebagai pembesar, sebagai menteri, sebagai djenderal, sebagai duta d.s.b. lantas bebas mendjalankan korupsi dan karena kawan sefaham dan sependirian dalam politik, mau diambil tindakan, eman2, kasihan, kawan sih! Kawan dalam membagi untung dan rezeki jang datang dari Amerika, sekalipun rakjat tetap buntung dan hidup megap2. Diwaktu itu pemerintah 100% ditangan orang Kuomintang. Bukan karena tidak ada partai lain, akan tetapi karena partai lain itu tidak tjotjok dengan politiknja, oleh sebab itu harus dipandang lawan, musuh, tidak boleh duduk sedjadjar, harus dilempar keluar atau dimasukkan dalam pendjara. Opposisi dipandang dosa dan dosa ini harus dihukum. Tangkap, tutup, tembak mati, biasa sadja dizaman regime Ch. K. Shek, terutama sedjak tahun 1927. Para mahasiswapun bila berani buka mulut dan demonstrasi, disapu sadja. Ini namanja demokratis, dipudji2 oleh luar negeri; Ch. K. Shek orang besar, orang berpengaruh, orang kuat, pahlawan nasional bapak negara, djenderal ulung, tak ada orang jang sanggup menggantikannja d.s.b. "All is running well", menurut ukuran dan tafsiran orang luar, terutama jang berbau imperialis. Satu per satu pelabuhan Tiongkok berada dibawah pengawasan dan kekuasaan asing. Tentara, polisi, kapal perang, persenjataan asing, dengan merdeka masuk di Tiongkok. All is running well! Makanan, pakaian, bahan mentah d.s.b. mengalir ke Tiongkok. All is running well! Suasana politik diwaktu itu, satu negeri luarpun tidak ada jang mentjela. All is running well ....
Djepang ambil Manchuria, orang luar anggap biasa sadja, karena Djepang djuga imperialis, bisa bagi untung sama2 nanti, kalau Manchuria sudah lepas dari Tiongkok. Ch. K. Shek tidak melawan, Manchuria djatuh ketangan Djepang, orang asing pada minta bagian di Manchuria. All is running well! Djepang dianggap demokratis karena mau membagi keuntungan di Manchuria dengan orang. Tahun 1937 Djepang mendobrak ke Selatan. Ch. K. Shek melawan hanja setelah ditjulik dan dipaksa. Pura2 perang melawan Djepang. Orang lain tidak bilang apa2, sebab baik dari Djepang maupun dari Ch. K. Shek ada mendapat apa2. Djepang dobrak terus, ja tidak apa, kalau perang kurang lama, Ch. K. Shek boleh dibantu dengan sendjata. Djepang mendobrak lagi ke Teluk Mutiara. Ch. K. Shek lari ke Chungking, dibantu oleh Amerika. Tahun 1945, Djepang kalah, Ch. K. Shek tidak sanggup bangkit dari Chungking, perlu dibimbing oleh Amerika. Untuk duduk kembali diistananja di Nanking, Amerika harus membantu, kasih pindjam seribu djuta jang lantas dibagi2. All is running well! Mao Che-tung adjak damai, bentuk pemerintahan koalisi. Ch. K. Shek menolak, karena telah merasa kuat oleh bantuan Amerika. Sendjata mengalir ke Tiongkok, jang lantas ditelan semua oleh tentara Kungchantang. Mulailah keadaan tidak running well lagi, Tiongkok tidak lagi nasional, tidak lagi demokratis, tapi sudah merah. berbahaja, mau aggressi, mau expansi, mendjadi negara boneka Sovjet Russia, mau menerdjang dan membikin merah seluruh Timur Djauh dan seluruh Asia. Dengan sekonjong2 sadja demokrasi sudah lenjap dari Tiongkok, tak ada harapan lagi. Sebagai ichtiar penghabisan Ch. K. Shek jang bertachta di Taiwan dibudjuk2 lagi, diurut dan dipidjet seluruh tubuhnja agar segar dan kuat kembali, semoga dapat mendemokrasikan daratan Tiongkok kembali. Dalam pada itu.... kalau, toh tidak berhasil, gantinja sudah sedia ...... Djepang sekarang sudah mulai demokratis, diadjar dan dilatih mendjadi negara demokrasi, pengganti Tiongkok dan bila perlu......... menghantam Tiongkok. Sebagai djembatan sudah ada Korea, jang tadinja kepunjaan Djepang. Seluruh dunia demokrasi mempunjai tentara di Korea, kenapa pula Djepang sebagai negara demokrasi jang telah dididik, tidak ikut mengirim tentara!? Kalau tidak 'kan pajah melatih sadja Amerika! Tidak djauh meleset........... Yoshida sudah mulai mendjandjikan akan mengirim tentara ke Korea. Seterusnja ........? Perantjis perlu pula dibantu, mendemokrasikan Bao Dai.
Gambaran jang diatas inilah jang sebenarnja dan pada pokoknja meliputi pikiran orang di Tiongkok sekarang ini. Disekitar persoalan dan perkembangan keadaan jang begitu itulah orang menetapkan pendirian dan sikapnja. Politik inilah jang meliputi suasana dan keadaan di Tiongkok Baru. Meliputi segenap partai dan meliputi seluruh lapisan rakjat, terutama buruh dan tani jang sudah bebas. Inilah soal politik jang harus dipetjahkan. Antara sesama bangsa tidak ada dan belum perlu main politik-politikan atau memperuntjing2 keadaan dan perhubungan antara satu partai dengan jang lain, antara golongan ini dan golongan itu. Sebab, bila keadaan dan perhubungan diperruntjing, bila sesama bangsa bertengkar dan berkelahi, tangkap menangkap dan bunuh membunuh, tidak lain jang akan ketawa, jang beruntung dan merasa bersjukur, melainkan bangsa asing djua, terutama jang telah terusir sebagai pendjadjah dan sebagai imperialis-agressor dari Tiongkok. Mereka inilah jang akan ketawa karena itu mereka itupun tidak akan segan2 membuang ongkos, asal pertentangan dan perkelahian antara sesama bangsa dapat ditiup2, dihidup2kan dan diperbesar mendjadi bentrokan, perang saudara. Inilah politik biasa jang dihadapi para pemimpin dan pembesar di Tiongkok. inilah jang harus dipetjahkan dan harus didjaga dan diawasi dengan segala tenaga jang ada. Kalau perlu dengan kekerasan dan paksaan. Untuk keselamatan nusa dan bangsa, untuk negara dan rakjat Tiongkok. Dalam hal ini segenap partai, segala golongan dan lapisan masjarakat di Tiongkok adalah sefaham, sependapat, sependirian dan mengambil sikap dan tindakan jang sama. Inilah sebabnja maka ketegangan dalam suasana politik di Tiongkok tidak ada. Semua orang hendak turut berusaha agar politik sederhana jang tadi itu dapat dipetjahkan. Semua partai dapat ambil bagian dan turut membantu dalam hal ini, seluruh rakjat bisa turut bekerdja untuk mendjaga politik jang berbahaja dan masih akan mengantjam Tiongkok itu beberapa lama lagi.
Dari itu jang diutamakan sekarang di Tiongkok, bukanlah bagaimana menjusun undang2 dasar, bagaimana membentuk parlemen, mengatur pemilihan dan pembagian kursi menurut standing internasional dan disukai oleh „internasional" jang tertentu, akan tetapi, sebelum itu semua dapat mendjadi soal dan dipersoalkan, haruslah lebih dulu politik jang satu tadi dapat dipetjahkan, sehingga tidak mengantjam keselamatan langsung hidupnja R.R.T. lagi. Dari itu jang utama dan diutamakan sekarang ini ialah soal pelaksanaan Program Bersama. Program, kerdja, hasilnja pekerdjaan ...... inilah jang paling utama, bukan bentukan kabinet atau susunan parlemen atau rumah tangga presiden perlu memakai djenderal atau tidak, pembagian kursi d.s.b. Kalau program itu tidak terlaksana dengan berhasil, betapapun baiknja dan muluknja segala rentjana dan bentukan demokratis d.s.b. itu, kalau program tidak djalan, maksudnja tidak tertjapai dalam tempo jang tertentu, ada harapan negara dan bangsa terantjam kembali oleh pendjadjahan, oleh imperialisme dan oleh aggressi. Inilah politik di Tiongkok dan untuk soal2 tersebutlah orang mendjalankan politik. Terserah pada pembatja menamakannja itu, politik apa!
Apakah isi program bersama itu?
Lebih dahulu kita harus mengetahui, kira2 bagaimanakah djalannja pikiran orang di Tiongkok, maka begitu sederhana (njata, ada maksud dan isi jang dikedjar) kehidupan politik mereka, atau boleh djuga ...... maka begitu terang dan sutji bersih kehidupan politik dan perdjuangan politik mereka. Tidak ada tjakar2an, tidak ada debat2an, hantam-menghantam, pukul memukul dan djatuh mendjatuhkan, pendeknja tidak ada main demokrasi2an diantara partai2, diantara kabinet dan parlemen, tidak ada presiden menolak atau membatalkan angkatan menteri, berperang statement dan interview dalam surat kabar ...... tidak ada politik-maha-tinggi-demokratis seperti itu di Tiongkok jang sekarang.
Para pemimpin di Tiongkok barangkali berpikir kira2 sebagai berikut: Kita sekarang adalah dalam revolusi. Berperang dengan pertanian. Berdjuang mati2an dengan mesin2 di paberik. Mengusir segala anti-revolusioner dan reaksioner dari bumi Tiongkok dan menghalau agressor jang hendak menodai kedaulatan negara dan rakjat kita. Kita mau melahirkan Tiongkok merdeka, bebas dari segala antjaman, ketakutan dan kemiskinan. Kita mau melahirkan masjarakat Tiongkok Baru dengan usaha dan tenaga kita sendiri. Pertama sekali, ialah: revolusi jang sudah menang djangan sampai kalah lagi, negara jang sudah dibersihkan dari segala kutu2 pendjadjahan dan penindasan/pemerasan, mesti selamat dan terdjamin terus kelangsungan hidupnja. Inilah jang terutama dan pertama kali tugas jang harus diselesaikan. Inilah jang harus masuk dalam Program Bersama. Sesudah itu selesai, barulah soal2 lain dikemukakan dan dikerdjakan pula nanti. Phase pertama harus batang-tubuh dulu, dengan tidak main tracee2an baru, maha baru d.s.b.
Politik, apakah politik itu didalam negara? Begitu seterusnja djalan pikiran mereka. Politik atau kekuasaan dan susunan politik itu bukanlah jang terpenting didalam negara. Tidak guna diatur2 dan ditentukan2 begitu sadja. Ia tergantung dari keadaan lain didalam masjarakat, jang lebih penting lagi, jaitu kekuatan ekonomi. Susunan politik itu hanjalah bajangan (weerspiegeling) daripada perbandingan dan keadaan kekuatan kekuatan ekonomis jang ada dimasjarakat. Kalau masjarakat negeri itu ekonomisnja koloniaal, maka susunan undang2 d.s.b. tentu kolonial pula. Bukan hukum jang menentukan tjorak dan keadaan masjarakat, tapi hukum itu adalah sekedar legalisasi (pengakuan) terhadap dan karena itu ditentukan oleh masjarakat sendiri, oleh keadaannja jang sebenarnja. Bila diumpamakan negara itu sebagai gedung, maka politik itu adalah hanja atapnja belaka, sedang ekonomi mendjadi sendi dan fondamennja. Manakah jang terpenting, atap atau fondamen? Adakah orang mendirikan gedung, dengan tiada fondamen? Sebaliknja, dengan kemadjuan tehnik dan architektur sekarang, gedung2 besar dan tinggi2 itu malahan tidak pakai atap lagi. Tjukup loteng dari tingkat jang teratas sadja dipandang sebagai atap, walaupun seringkali fungsinja loteng teratas itu sama sadja dengan loteng lain-nja, jakni untuk dipidjak2 dari sebelah atas.
Djadi diantara politik dan ekonomi jang primair lalah ekonomi dan politik itu sekundair. Tak guna bertjakar-an atau berdebat dan hantam2an mengenai politik, demokrasi dsb. kalau ekonomi tidak beres. Sebab walaupun kerdja hanja omong, kalau terlalu banjak, ja pajah djuga. Ada kalanja lapar, ada kalanja minta ganti pakaian karena keringat banjak. Obat lapar dan menutup badan ini harus ada. Kalau itu tergantung dari orang/modal asing, berarti perut dan tubuh kita dikendalikan olehnja dan karena mereka jang mengendalikan perut, ja lama2, mulut jang bitjara itupun mereka djualah jang mengendalikannja. Pukul, katanja, dipukul. Hantam, katanja, dihantam, walaupun bangsa sendiri dan kadang2 famili dan saudara sendiri.
Ini akibat kehidupan politik jang terlalu tinggi, sedang disamping itu ekonomi berada dibawah nol, kosong, habis semua diangkut/dikuasai orang/modal asing.
Untuk menghindarkan bahaja ini, maka diaturlah: sebelum mendjalankan politik jang terlalu tinggi dan „demokratis” itu, lebih dulu harus beres politik jang sederhana sadja, tapi njata mengandung isi, jaitu politik menudju merdeka dalam arti seluas2nja.
Begitulah djalan pikiran orang di Tiongkok dalam mengatur dan menentukan program mereka. Program itu ditetapkan dalam sidang lengkap jang pertama dari Madjelis Permusjawaratan Politik Rakjat Tiongkok, pada tg. 29 September 1949.
Bab pertama, pasal 1 memuat keterangan, bahwa „RRT adalah satu negara demokrasi baru (demokrasi rakjat), mendjalankan kediktatoran demokrasi rakjat jang dipimpin oleh kelas buruh berdasarkan persatuan buruh dan tani dan menjatukan semua golongan demokratis dan semua suku2 bangsa (nationaliteiten), melawan imperialisme, feodalisme dan birokratis (monopoli) kapitalisme untuk mentjapai kemerdekaan, demokrasi, perdamaian, persatuan, kemakmuran dan kekuatan Tiongkok.”
Urutannja soal2 jang akan ditjapai djelas, pertama kali merdeka dulu, baru jang lain2. Terang pula bahwa jang akan mentjapai tudjuan itu bukan partai komunis sadja, tapi seluruh rakjat dan diantara rakjat itu memang ada dibedakan, karena sebenarnjapun tidak semua sama. Disatu pihak buruh, tani bersatu dan diakui bahwa pimpinan berada ditangan kelas buruh. Dilain pihak golongan burdjuis ketjil, burdjuis nasional dan intelligentsia progressief revolusioner. Kesemuanja itu menjatukan tenaga untuk bersama2 mentjapai maksud dengan dituduh orang kita diktatur dan totaliter, itu bukan salah kita, kata ketua Mao dalam keterangannja mengenai kediktatoran demokrasi rakjat itu, sebab bukan kita jang melahirkannja, penghargaan jang sama terhadap seluruhnja atas usaha masing2, hanja sadja, fungsinja berbeda. Ini perlu, sebab memang tidak semua orang bisa djadi pemimpin dan tidak semua orang bisa mengepalai paberik atau mendjadi presiden perguruan tinggi dsb. Ini adalah pembagian kerdja dalam arti pengakuan terhadap keahlian seseorang, dengan tidak pandang bulu. Soalnja asal tjakap, biar siapa boleh djadi kepala sebab untuk djadi pemimpin atau pembesar tidaklah mendjadi haknja beberapa gelintir orang sadja, seolah2 hak miliknja, pusaka dari nenek mojangnja.
Dari golongan mana sadja mungkin lahir pemimpin, sebab kebenaran dan kebesaran djiwa (kurnia Tuhan) tidaklah mendjadi monopoli orang atau pihak tertentu, sekalipun diantara mereka ada jang pernah kebetulan mendjadi pemimpin dsb. Manusia tak dapat mentjetak orang besar, (dengan memberi nama Si Langit umpamanja) djiwa besar dan sifat2 luhur lainnja, itu adalah hak Tuhan untuk mengurniakannja kepada jang dikehendaki-Nja. Dihadapan Tuhan semua manusia sama sadja, hanja jang satu dilebihkan dari jang lain, karena djasanja, peramalannja, sikapnja dll. selama didunia, baikkah atau tidak bermanfaatkah atau tidak bagi ummat (rakjat)nja dan bagi perikemanusiaan umumnja. Beginilah nampaknja djalan pikiran jang hendak mempersatu-padukan ke-empat golongan besar dari rakjat di Tiongkok itu. Djasa diatas djasa, bukan djasa diatas kata2.
Kediktatoran rakjat itu dan pimpinan kelas buruh adalah hasil kemadjuan sedjarah dan pengalaman. Kalau karena itu melainkan adalah prakteknja demokrasi burdjuis, seperti jang diperlihatkan oleh Ch. K. Shek, selama 22 tahun.
Lebih djauh dibawah ini kita turunkan perkataan Mao Che-tung sendiri, sebagai berikut:
"Pengalaman2 jang dikumpulkan dalam beberapa puluh tahun oleh rakjat Tiongkok menjuruh kita harus mendjalankan kediktatoran demokrasi rakjat, jaitu: hak berbitjara dari kaum reaksioner/kontra-revolusioner harus dihapuskan dan hanja rakjatlah jang dibolehkan mempunjai hak berbitjara. Siapakah „rakjat" jang disebutkan disini? Pada tingkat sekarang di Tiongkok ialah kaum buruh, tani, burdjuasi ketjil dan burdjuasi nasional. Kelas2 ini bersatu untuk membentuk negaranja sendiri dan memilih pemerintahnja sendiri untuk mendjalankan kediktatoran terhadap kaki tangan imperialis, kaum tuan tanah, kaum kapitalis-birokrasi dan kaum reaksioner Kuomintang serta agen2nja jang mewakili golongan2 tsb., hanja membolehkan mereka berlaku baik2, dan tak membiarkan mereka berbitjara atau berbuat semau2nja. Djika mereka berbitjara dan berbuat sesuka2nja, mereka akan dilarang dan dihukum dengan segera. Sistem demokrasi dilaksanakan diantara rakjat, diberikan hak bersuara, bersidang dan berkumpul. Hak memilih hanja diberikan pada rakjat dan tak diberikan pada kaum reaksioner. Keduanya ini, demokrasi diantara rakjat dan kediktatoran terhadap kaum reaksioner, bergabung mendjadi kediktatoran demokrasi rakjat.
"Mengapa harus berbuat demikian? Sudah terang, djika tidak berbuat demikian, revolusi pasti gagal, rakjat akan menderita bentjana dan negara akan musnah.
"Jang dinamakan demokrasi dari negeri2 zaman sekarang, seringkali kekuasaan dimonopoli oleh kaum burdjuasi dan didjadikan perkakas penindas rakjat djelata, sedang dasar Hak-Rakjat dari RRT adalah milik bersama dari rakjat djelata umumnja dan bukan milik partikelir kepunjaan golongan jang terketjil. Dasar hak rakjat jang tersebut adalah sesuai dengan demokrasi rakjat atau demokrasi baru. Tatanegara jang hanja boleh dimiliki oleh rakjat djelata bersama2 dan tidak boleh dimiliki oleh kaum burdjuasi sadja sendiri, dan djika itu ditambah dengan pimpinan kaum buruh maka mendjadilah tatanegara kediktatoran demokrasi rakjat.
"Ch. K. Shek berchianat pada Sun Yat Sen dan telah memakai kediktatoran kaum tuan tanah dan kaum kapitalis-birokrasi sebagai perkakas dan alat untuk menindas dan memeras rakjat murba Tiongkok. Kediktatoran jang bersifat kontra-revolusioner ini telah berlaku untuk 22 tahun lamanja, dan baru sekaranglah kediktatoran itu dapat ditumbangkan oleh rakjat djelata. Kaum reaksioner negeri2 asing menuduh kita mendjalankan "kediktatoran" dan "tjara totaliter", sebetulnja mereka itulah jang mendjalankan kediktatoran dan tjara totaliter. Mereka mendjalankan kediktatoran dan tjara totaliter dari sesuatu kelas ketjil, jaitu kelas burdjuasi terhadap kaum proletar dan rakjat jang besar djumlahnja. Merekalah jang disebut Sun Yat Sen sebagai kaum burdjuasi jang menindas rakjat djelata dibanjak negeri pada zaman sekarang. Dari kaum reaksioner inilah Ch. K. Shek beladjar untuk mendjalankan kediktatorannja jang bersifat kontra revolusioner itu.
"Tju Sji, seorang ahli filsafat dizaman dynastie Sung, banjak menulis buku2 dan mengutjapkan banjak perkataan2 jang telah kita lupakan. Akan tetapi ada satu kalimat jang belum dilupakan, jakni: Balaslah kepada orang lain apa jang telah dia perbuat padamu!
Demikianlah jang kita kerdjakan, inilah jang kita hendak praktekkan, jakni: membalas pada kaum imperialis dan kakitangannja, pada kaum reaksioner Ch. K. Shek apa jang telah mereka perbuat pada kita dimasa jang lampau. Hanja begitu sadja, lebih tidak.
"Kediktatoran jang bersifat revolusioner dan kediktatoran jang bersifat kontra-revolusioner pada azas dan hakekatnja adalah bertentangan. Jang satu mau revolusi dan jang lain mau menindas revolusi. Jang terdahulu adalah beladjar dari jang tersebut kemudian. Peladjaran ini sangatlah pentingnja, sebab djika rakjat revolusioner tidak faham akan tjara ini, jakni tiara memerintah kelas kontra-revolusioner, ia tak akan dapat menjelamatkan revolusi dan mempertahankan kekuasaannja, dan kekuasaannja itu akan dirobohkan kembali oleh kaum reaksioner dalam dan luar negeri, lalu akan kembali memerintah dan mendjadjah Tiongkok jang akan membawa bentjana dan malapetaka pada rakjat revolusioner.
"Dasar kediktatoran demokrasi rakjat ialah perserikatan kaum buruh dan tani dan burdjuasi dikota2, dan jang terutama ialah perserikatan kaum buruh dan tani, oleh karena mereka sadja sudah menduduki djumlah l.k. 90% (380 djuta + 40 djuta = 420 djuta) dari seluruh rakjat Tiongkok (500 djuta). Tenaga jang terutama untuk menumbangkan kaum imperialis dan kaum reaksioner Kuomintang, ialah tenaga dari kedua golongan ini. Peralihan dari demokrasi ke sosialisme, terutama djuga tergantung kepada mereka.
"Kediktatoran demokrasi rakjat memerlukan pimpinan dari kaum buruh, karena hanja buruhlah jang berpandangan luas dan djauh, bersifat adil, revolusioner dan disipliner, tidak bersifat perseorangan melainkan mempunjai rasa persaudaraan dan keteguhan hati untuk berdjuang. Segenap sedjarah revolusi telah membuktikan bahwa dengan tiada pimpinan kaum buruh, revolusi tentu gagal. Kaum burdjuasi ketjil dan burdjuasi nasional telah berkali-kali memimpin2 revolusi, tetapi gagal semua, ini adalah bukti jang njata.
"Kaum burdjuis nasional (bangsa sendiri), adalah memainkan rol jang sangat penting dan harus diawasi. Imperialis masih berdiri disamping kita dan musuh ini sangatlah bengis dan djuhat. Untuk mentjapai kemerdekaan sedjati dalam lapangan ekonomi, Tiongkok memerlukan waktu jang pandjang. Hanja apabila industri Tiongkok telah diperkembang, dan tidak lagi tergantung dari negeri asing, kemerdekaan sedjati dan lengkap barulah tertjapai.
"Kaum imperialis meramalkan bahwa kita tidak sanggup mengurus pekerdjaan ekonomi dengan baik. Mereka berdiri disamping, mengintai dan menengok serta menunggu ............ kegagalan kita".
Demikianlah kata2 dari ketua Mao jang mendjelaskan politik jang bagaimana harus didjalankan dan djalan mana jang harus ditempuh, lengkap dengan segala alasan2nja jang njata. Itu jang mengenai dan meliputi keadaan didalam negeri, sedang politik terhadap luar negeri, djuga tidak kurang tegas dan djelasnja diuraikan beliau sebagai berikut:
"Berserikat dengan bangsa2 jang bergaul dengan kita atas dasar persamaan diatas dunia ini dan dengan rakjat dari negeri2 lain untuk bekerdja bersama2. Ini berarti berserikat dengan Sovjet-Uni, berserikat dengan negara2 demokrasi baru dan berserikat dengan kaum proletar dan rakjat djelata jang terbanjak dari negeri2 lain, membentuk suatu garis persatuan (front) persatuan perdjuangan dan diluar negeri demikian perdjuangan dunia."
Djelas bahwa politik luar negeri Tiongkok ini sedjalan dan sebagai kelandjutan serta berpangkalan kepada keadaan dan politik dalam negerinja. Didalam negeri mereka menarik garis pula. Djelas, sini atau sana, bukan! Situ tidak ada. Tidak ada netral²an, tidak ada bunglon²an, kesana djadi, kesini pun boleh. Putjuk aru jang menengok angin sadja, atau kiambang jang tak berurat sampai kebawah, dibawa lalu oleh biduk kemana sadja djadi .......... jang seperti ini tidak dikenal di Tiongkok. Timbul atau tenggelam, menang atau kalah, hidup atau mati, to-be or not-to-be. Ini perdjuangan hidup dan mati. Hidup bagi rakjat berarti mati bagi imperialis dan reaksioner, sedang hidup bagi imperialis dan reaksioner berarti mati bagi rakjat, sebagaimana telah terbukti puluhan tahun lamanja.
Sikap dan pendirian tegas ini dapat dipahamkan orang di Tiongkok, ketjuatli klik Ch. K. Shek tentu. Sebab dimasa jang lampau sudah sama menderita, walaupun sekarang hidupnja orang kaja agak turun sedikit, tapi hidupnja tani dan buruh membubung keatas. Apa ini adil atau tidak? Terserah pada pembatja.
Mao Che-tung sendiri merasa ada sesuatu jang kurang tepat terutama bagi orang diluar negeri, karena itu, dengan terus terang dikemukannja pada rakjat sbb.:
„Orang mungkin menuduh kita bersandar pada satu pihak. Betul! Pengalaman 40 tahun dari Sun Yat Sen dan pengalaman kita selama 28 tahun (1885-1925 dan 1921-1949) menjebabkan kita jakin dengan sesungguhnja bahwa untuk memperoleh dan memperkokoh kemenangan, kita haruslah berdiri hanja pada satu pihak. Pengalaman² 40 dan 28 tahun itu menunjukkan bahwa rakjat Tiongkok harus bersandar atau pada pihak imperialisme atau pada pihak sosialisme, sekali² tidak boleh ada tawar menawar dan pengetjualian. Sikap duduk diatas tembok dengan kaki didua belah pihak tidak dapat. Djalan jang ketiga tidak ada. Kita menentang kaum reaksioner Ch. K. Shek jang bersandar pada pihak imperialisme, kita djuga menentang angan² dan hocus pocus akan adanja djalan ketiga. Bukan hanja di Tiongkok melainkan didunia ini seluruhnja, djika tidak bersandar pada pihak imperialisme, ia akan bersandar pada sosialisme, sekali² tidak ada pengetjualian dan tawar-tawaran. Sifat netral atau bebas adalah suatu barang samar dan penjamaran sedang djalan lain tidak ada lagi. Pasal 2 dari Program Bersama mengatakan: „Pemerintah Rakjat Pusat dari Republik Rakjat Tiongkok berwadjib melangsungkan Perang Kemerdekaan Rakjat sampai achirnja, untuk membebaskan segenap daerah dan rakjat Tiongkok, dan mentjapai persatuan Tiongkok.” sedang dalam pasal 8 tersebut: Tiap2 warga negara dari Republik Rakjat Tiongkok berwadjib mempertahankan tanah airnja, mengikuti undang, mendjalankan disiplin kerdja, melindungi harta benda umum, melakukan kewadjiban pekerdjaan umum dan militer dan membajar beaja (iuran negara), sedang fasal 9 mengatakan: Segenap bangsa didalam Republik Rakjat Tiongkok mempunjai hak dan kewadjiban jang sama.
Pasal 10 antara lain mengatakan: Kekuatan bersendjata dari RRT, jaitu Tentara Kemerdekaan Rakjat, kekuatan (alat2) keamanan umum dari rakjat dan polisi rakjat adalah kepunjaan rakjat. Kewadjibannja, mempertahankan kemerdekaan, kebulatan daerah, kedaulatan Tiongkok dan untuk mempertahankan hasil revolusi dan segenap hak dan kepentingan jang sjah dari rakjat Tiongkok. Pemerintah Rakjat Pusat RRT akan bergiat mengokohkan dan menambah kekuatan bersendjata rakjat, sehingga dapat melaksanakan kewadjibannja dengan effektif.
Pasal 11 dari Program itu, bagian I (Dasar Umum), berbunji sbb.: „RRT akan bersatu dengan segenap negara dan rakjat jang tjinta perdamaian dan tjinta kemerdekaan diseluruh dunia, terlebih dahulu dengan Sovjet Uni, segenap negara demokrasi rakjat dan segenap bangsa jang tertindas. Akan berdiri dikalangan perdamaian dan demokrasi internasional, melawan serangan imperialis untuk mempertahankan perdamaian dunia jang kekal.”
Inilah dengan singkat jang mendjadi dasar umum dari program itu jang djuga dapat kita pandang sebagai dasar politik jang didjalankan oleh pemerintah RRT dan diikuti oleh segenap partai, golongan dan seluruh rakjat. Pada dewasa ini memang Tiongkok Baru barulah dipermulaan djalan, sebagaimana Ketua Mao mengatakan: „Baru langkah pertama didjalan jang pandjangnja 5.000 kilometer.” Oleh sebab itu, walaupun kita telah melihat hasil jang banjak (kemenangan dilapangan ketentaraan, kemenangan dilapangan pertanian dan pembangunan dilapangan perindustrian dan perburuhan, stabiliteit dalam keuangan dan harga) namun mereka mengatakan: baru sedikit. Djadi kalau digambarkan apa jang ditjita2kan oleh mereka, apa sadja mungkin ada di Tiongkok dibelakang hari. Satu usaha besar jang belum ada tolok bandingannja. Begitu besarnja, sehingga tidak ada tempo dan tidak boleh tenaga terbuang untuk bertengkar dalam hocus pocus dan „politik tinggi”. Sesungguhnjalah dapat dimengerti bahwa bila ada orang diantara satu bangsa jang tidak bersedia bekerdja, berdjuang dan berkorban (korban tenaga, pikiran ataupun perasaan dan nafsu), sudah pada tempatnjalah orang... Itu dipaksa dengan kekerasan, atau ia harus keluar dari tanah air. Pemerintah jang insjaf dan merasa bertanggung djawab atas nasib dibelakang hari, sudah selajaknja berbuat demikian, tapi ini baru akan terasa kalau pemimpin2 negara itu sendiri sudah insjaf, terlatih dan bersatu dengan hidup serta susah-senangnja rakjat, tahu kemana rakjat akan dibawa, tahu apa sebenarnja arti dan tjita2 merdeka. Bila pemimpin terpisah dari rakjat maka mereka tidak akan mendjadi pelopor, pembimbing dan pelindung rakjat lagi, melainkan lambat laun akan mendjadi lawan dan musuhnja rakjat, sebagaimana halnja dengan Ch. K. Shek c.s. Mereka bukan meneruskan dan memenangkan revolusi lagi, melainkan mendjadi pembunuh semangat dan tenaga revolusi, mendjadi kontra-revolusioner. Sedjak tahun 1927 memang tidak sedikit tenaga2 revolusioner disegala lapangan jang telah ditindas dan disapu di Tiongkok, oleh golongan Ch. K. Shek (ditangkap, ditahan, disiksa dan dibunuh). Duapuluh dua tahun lamanja ia meradjalela dan 22 tahun pula lamanja menanti, agar sebagian besar dari rakjat Tiongkok dapat melihat dan insjaf serta bersedia dan bersatu hati dan tenaga, untuk memukulnja sampai hantjur.
Dengan menerangkan sedikit tentang dasar umum dari Program Bersama itu, maka dapatlah kita sekedar gambaran tentang suasana di Tiongkok Baru. Kalau perlu, memang orang jang bertele-tele tidak karuan, harus diinsjafkan, kalau perlu dengan kekerasan, sebab diantara manusiapun apa bedanja dengan didunia hewan: Ajam tjukup disisj-kan sadja, sudah takut, tapi kerbau, harus dipukul dengan rotan! Orang jang beragama Islam tentu telah mengetahui, bahwa membuka Qur'an itu sadja tidak tjukup, batja2 atau kemendjan2, melainkan: Bila kebenaran dan keadilan hendak berlaku, hendaklah ada kekuatan. Bukalah Qur'an disamping pedang jang terhunus, asal sadja sudah hasil musjawarat dan untuk kepentingan rakjat terbanjak bukan kepentingan dan keselamatan beberapa gelintir orang. Vox populi, Vox Dei, suara rakjat, suara Tuhan. Inilah, kepentingan rakjat terbanjak inilah, jang kita lihat sebagai pangkalan dan tiang kehidupan dan kegiatan politik di Tiongkok. Apa itu diktatur atau totaliter, terserah pada pembatja menimbangnja.
Kekuasaan politik di Tiongkok pun diatur menurut dasar umum itu. Kekuasaan jang tertinggi didalam negara adalah ditangan rakjat, diwakili oleh Persidangan Rakjat Seluruh Tiongkok. Ini termaktub dalam fasal 12 (bagian II, Badan2 Kekuasaan Negara). Persidangan itu dapat disamakan dengan Kongres Rakjat, seperti di Amerika Serikat. Disamping persidangan itu ada Pemerintah Rakjat, sebagai pelaksana, mulai dari Pusat sampai kedaerah2. Djadi dipusat upamanja terdapatlah Persidangan Rakjat Seluruh Tiongkok disamping Pemerintah Rakjat Pusat. Pemerintah itu dipilih oleh persidangan dan persidangan itu dipilih oleh rakjat seluruh Tiongkok setjara umum. Sebelum Persidangan Rakjat dibentuk dengan pemilihan umum maka... Madjelis Permusjawaratan Politik Rakjat Tiongkok akan melaksanakan kewadjiban dan kekuasaan Persidangan (Kongres) Rakjat Seluruh Tiongkok, membentuk dan menentukan Hukum Organisasi Pemerintah Rakjat Pusat dari Republik Rakjat Tiongkok memilih Dewan Pemerintah Rakjat Pusat dan memberikan hak kepadanja untuk melaksanakan kekuasaan negara. Sesudah Persidangan Rakjat nanti dibentuk dengan pemilihan umum, M.P.P.R. dapat menjampaikan usul tentang politik pokok jang berhubungan dengan pekerdjaan pembangunan negara dan djalan lain jang penting, kepada Persidangan Rakjat atau Dewan Pemerintah Rakjat Pusat (fasal 13 Program Bersama).
Pemerintah Pusat itu terbagi dua. Pertama, Dewan Pemerintah Rakjat Pusat dan kedua, Dewan Administrasi Pemerintah Rakjat Pusat jang mendjadi pelaksana sehari-hari. Jang belakangan ini dapat disamakan dengan jang kita sebut di Indonesia Kabinet.
Dengan adanja Madjelis Permusjawaratan Politik Rakjat Tiongkok, maka dipusat didapatilah dua badan perwakilan (satu seperti kongres dan satu lagi seperti parlemen) dan dua badan pelaksana. Dewan Pemerintah Rakjat Pusat dan Dewan Administrasi Pem. Rakjat Pusat. Soal ketentaraan diurus oleh badan tersendiri, tidak berada didalam kabinet (dewan adm. pem.) sedang soal pengadilan dan kedjaksaan berdiri pula disamping Pemerintah dan Perwakilan rakjat dipusat itu.
Djadi di Tiongkok sekarang ini tidaklah ada Presiden sebagaimana dikenal orang di Amerika atau Perantjis atau Indonesia. Dewan Pemerintah Rakjat Pusat itu terdiri dari 1 orang ketua, 6 orang wakil ketua dan 56 orang anggauta, dipilih oleh sidang lengkap dari Madjelis Permusjawaratan Politik rakjat jang mendjalankan djuga kewadjiban dan kekuasaan daripada Persidangan Rakjat, sebelum dewan (kongres) ini dibentuk menurut pemilihan umum. Jang mendjadi ketua dari Dewan Pemerintah Pusat itu dapatlah dipandang sebagai Presiden dari RRT dan wakil-wakil ketuanja sebagai wakil presiden, hanja sadja mereka tidak berdiri sendiri-sendiri, melainkan sebagai satu badan satu dewan dan bertanggung djawab atas nama dewan itu. Ketua jang sekarang ialah Mao Che-tung sedang para wakil ketua ialah: 1. Chu Teh, 2. Liu Shao Chi, 3. Soong Ching Ling (Mm. Sun Yat Sen) 4. Li Chi Sen, 5. Chang Lan, 6. Kao Kang.
Diantara anggauta jang 56 orang terdapatlah Saifuddin, seorang Islam dari propinsi Sinkiang. Djangan pembatja mengira bahwa semuanja wakil-wakil ketua dan anggauta itu anggauta partai Komunis. Tidak! Malahan dipilih begitu rupa sehingga segala golongan ada didalamnja.
Madjelis Permusjawaratan Politik Rakjat itu terdiri dari wakil-wakil segenap partai jang ada, segala golongan, perkumpulan rakjat, Tentara Kemerdekaan Rakjat, segenap daerah, seluruh suku bangsa, perantau Tionghoa dan elemen-elemen patriot dan demokratis lainnja diseluruh negeri. Persidangan Rakjat Seluruh Tiongkok itu (sekarang belum dibentuk) nanti akan dibentuk menurut pemilihan umum diseluruh negeri, djadi tidak disebutkan anggautanja siapa, partai atau golongan apa, melainkan terserah sama sekali nanti pada rakjat, siapa jang dipilihnja. Berlainan dengan M.P.P.R. jang dengan tegas disebutkan bahwa madjelis ini adalah organisasi dari front persatuan demokrasi dari seluruh rakjat Tiongkok jang maksudnja untuk mempersatukan segenap kelas jang demokratis dan segenap bangsa diseluruh Tiongkok dengan membentuk persatuan dari segenap partai dan golongan dan perkumpulan rakjat. Djadi di Tiongkok tidak ada politbiro disamping Pemerintah Pusat. Jang ada ialah Madjelis Permusjawaratan Politik Rakjat (pleno) sedang badan pekerdjanja disebut Komite Nasional. Sesudah penutupan sidang lengkap maka jang bekerdja terus ialah Komite (Panitia) Nasional itu jang mempunjai kewadjiban:
- Mendjamin djalannja keputusan-keputusan.
- Merundingkan dan menjampaikan usul-usul kepada Pemerintah Rakjat Pusat.
- Membantu pemerintah dalam memobilisir rakjat untuk ikut serta didalam pekerdjaan revolusi demokrasi rakjat dan pembangunan negara.
- Merundingkan dan menjampaikan daftar dari tjalon kesatuan-kesatuan jang ikut dalam M.P.P.R. untuk pemilihan wakil-wakil bagi Persidangan Rakjat Seluruh Tiongkok.
- Menentukan kesatuan-kesatuan, djumlah dan pemilihan wakil kesidang lengkap jang berikut dan melangsungkannja.
- Memimpin-pekerdjaan front persatuan demokratis daerah.
- Merundingkan dan mempersoalkan hal-hal lain mengenai pekerdjaan M.P.P.R.
Panitia Nasional itu dibentuk pula diseluruh daerah-daerah, sehingga dalam sidang lengkap dapatlah M.P.P.R. tiap-tiap kali mengetahui keadaan, memperbintjangkannja dan mentjari djalan baru untuk menambah kemadjuan. Soal undang-undang d.s.b. dengan sendirinja dapat diatur mana jang perlu dulu dan mana jang kurang perlu. Undang-undang lama sama sekali tidak dipakai, karena itu historisrecht d.s.b. pusaka ordonansi, reglement, verordering d.s.b. dari keadaan koloniaal dulu sama sekali tidak ada menghambat-hambat atau merintangi usaha dan pekerdjaan dalam pembentukan masjarakat baru dan pembangunan negara baru. Seluruhnja mendjadi baru dan akan diperbaharui terus. Bau dan sisa-sisa kolonial, imperialis d.s.b. terkikis habis sebersih-bersihnja. Bagian dari Program Bersama (fasal 17) menjatakan: Menghapuskan segala hukum, peraturan dan sistem kehakiman dari pemerintah reaksioner Kuomintang jang menindas rakjat itu. Mendjalankan hukum dan peraturan untuk melindungi rakjat dan membentuk sistem kehakiman dan pengadilan rakjat. Pemerintah Rakjat Pusat ditentukan pula tugasnja, tidak main sembarangan atau main terserah sadja, mentang2 Pemerintah Pusat, tidak. Ditentukan pula apa jang harus dikerdjakannja oleh M.P.P.R. sehingga dengan begitu soal tracée-baru, maha baru dan lain2 djalan jang menjimpang dan belok2 tidak keruan tidak dapat memainkan rol menurut kemauan, pendapat dan pikiran orang2 jang kebetulan duduk diputjuk pemerintahan. Semuanja ada garis, ada pedoman dan garis itulah jang akan dan harus diturut, biar siapa orangnja, biar apa pangkatnja, kedudukannja, sekalipun bapak negara, bapak revolusi, kepala negara d.s.b. Sjukurlah di Tiongkok Baru tidak ada seorang diantara warganja jang pernah menjebut dirinja berposisi dan berkedudukan seperti jang disebutkan itu. Mao Chetung sendiri tidak pernah menepuk dada tapi selalu, bila bertjara dengan orang asing, mengemukakan rakjat, kepentingan rakjat, pendidirian rakjat, tjita2 rakjat dan perdjuangan rakjat, dan ia sendiri termasuk didalam rakjat itu. Memang ini penting, kalau dipikir dalam2, sebab bila orang luar dapat melihat bahwa seseorang pembesar mau dipudji2 atau disandjung2 dan diangkat2, alamatlah pembesar itu akan dipisahkan dari rakjat dan djarum imperialis d.s.b. pasti akan masuk dengan berbagai tjara jang sangat halus2, sehingga tidak terasa. Inilah jang didjaga betul di Tiongkok, sehingga politik halus dan berbahaja: ,,Mulut disumbat dengan pisang (mentega atau kedju), badan dipalut dengan kemewahan tjemerlang dan standing internasional, tapi ..... ekor dikait dengan duri, achirnja masuk pisau belati mengenai ulu hati, darah habis dihisap, sedikit demi sedikit", politik nina-bobo seperti ini tidak mungkin dimasukkan lagi ke Tiongkok sekarang. Boleh datang ,,perang-tjandu" dsb. akan tetapi jang menanti sudah siap sedia.
Politik memisah2 dan mengadu domba diantara sesama bangsa, dengan memudji jang satu serta mentjela jang lain, sudah dapat dihambat dengan adanja program jang memberikan tugas kepada masing2 orang dengan tidak pilih bulu, setiap orang sesuai dengan kesanggupannja, disetudjui dan diakui akan tetapi tidak boleh menjimpang dari garis jang sudah ditetapkan bersama. Begitulah Dewan Pemerintah Rakjat Pusat itu diberi tugas jang berikut ini; setelah disebut dalam fasal 7 dari Hukum Organisasi Pemerintah Rakjat Pusat, bahwa: ,,Dewan Pemerintah Rakjat Pusat akan sesuai dengan Program Bersama jang ditetapkan oleh Sidang Lengkap Madjelis Permusjawaratan Politik Rakjat dan mendjalankan hak :
- Menetapkan dan menafsirkan hukum negara, mengumumkan peraturan pemerintah dan mengawasi pelaksanaannja.
- Menetapkan politik administrasi negara.
- Menghapuskan/memperbaiki setiap keputusan dan pemerintah Dewan Administrasi Pemerintah jang tidak sesuai dengan hukum dan peraturan negara.
- Mensjahkan, menghentikan/memperbaiki perdjandjian negara dan persetudjuan jang dilakukan oleh Republik Rakjat Tiongkok dengan negeri asing.
- Mempersoalkan perang dan perdamaian.
- Menjetudjui memperbaiki belandja negara dan rentjana keuangan.
- Mengumumkan perintah grasi dan amnesti.
- Menentukan dan memberikan tanda2 djasa, bintang dan gelaran penghormatan negara.
- Melantik/memetjat pendjabat Pemerintah.
- Mempersiapkan dan melangsungkan Persidangan Rakjat Seluruh Tiongkok.
Dalam mendjalankan hak dan tugas ini bukanlah Ketuanja jang bertindak sendiri, melainkan dewan itu sebagai badan. Inilah salah satu bukti jang mendjelaskan bahwa pemerintah Tiongkok sekarang bukanlah diktatorial akan tetapi memakai sistem dewan, djadi demokratis dan tidak ada di Tiongkok pemegang kekuasaan seorang (éénhoofdig bestuur), sebaliknja dengan di Amerika, dimana presidenlah jang memegang kekuasaan eksekutif seluruhnja. Bukan pula totaliter, karena anggota2 dewan itu bukan diambil dari satu atau dua partai sadja melainkan dari segenap partai dan golongan jang ada. Pokoknja asal progressief dan sesuai dengan aliran dan kemauan revolusi, djangan reaksioner dan kontra revolusioner.
Dalam fasal 9 dari Hukum Organisasi Pemerintah Rakjat Pusat disebutkan: Wakil2 Ketua dan Penulis-umum (sek. djen.) membantu ketua dalam pekerdjaannja sedang fasal 10 mengatakan: Sidang Dewan Pemerintah Rakjat Pusat akan dilangsungkan sekali setiap dua bulan. Ketua dapat melangsungkan sidang lebih dahulu atau menundanja bila keadaan memintak atau karena permintaan dari lebih sepertiga djumlah anggota dewan atau dengan permintaan daripada Dewan Administrasi Pemerintah (kabinet). Lebih dari separoh anggota dewan merupakan quorum dan penerimaan setiap keputusan memerlukan persetudjuan lebih daripada separoh djumlah anggota jang hadir dalam sidang.
Begitulah diatur hak2 dan tjara mendjalankannja, djadi bukan main dekreet2an atau perintah setjara halus dalam membatalkan peraturan dan menolak menteri2 dan pembesar jang tidak disenangi karena aliran dan politiknja lain atau karena tidak ikut memudja-mudji dan mendewakan standing internasional, atau menerima jang sebaliknja, tidak. Semuanja gitu satu pembesarpun tidak ada jang mungkin dipantjing2 oleh politik nina-bobok luar negeri, sampai mabuk mendewakan mati rakjat, mati semangat bekerdja dan bersifat pengemis kembali, mengharapkan belas kasihan Sang Butoidjo dari luar negeri sadja lagi. Jang mendjadi ketua pada Dewan Pemerintah Rakjat Pusat bukanlah pula mendjadi ketua dari Dewan Administrasi (kabinet). Perdana Menteri RRT sekarang ialah Chou En-lai sedang ketua Dewan Pemerintah seperti disebut diatas tadi ialah Mao Che-tung.
Pasal 15 dari Hukum Organisasi Pem. Rakjat Pusat menerangkan bagaimana sifat dan pekerdjaan Dewan Administrasi Pemerintah itu, sbb. :
"Dewan Administrasi Pemerintah akan berdasarkan pada dan melaksanakan Program Bersama jang ditetapkan oleh Madjelis Permusjawaratan Politik Rakjat, hukum dan perintah negara serta politik administrasi jang ditetapkan oleh Dewan Pemerintah Rakjat Pusat: mendjalankan hak2 jang berikut ini :
- Mengumumkan keputusan dan perintah serta mengawasi pelaksanaannja.
- Menghapuskan/memperbaiki keputusan dan perintah dari Panitia, Kementerian, Komisi, Akademi, Administrasi, Bank dan Pemerintah daerah dari segenap tingkatan, jang tidak sesuai dengan hukum dan perintah negara dan dengan keputusan dan perintah dari Dewan Administrasi Pemerintah.
- Menjampaikan usul2 pada Dewan Pemerintah Rakjat Pusat.
- Mengatur, menjatukan dan memimpin perhubungan, organisasi didalamnja dan pekerdjaan umum dari Panitia, Kementerian, Komisi, Akademi, Administrasi, Bank dan badan2 lain jang dibawahnja.
- Memimpin pekerdjaan Pemerintah Rakjat Daerah di-seluruh negeri.
- Melantik/memetjat/memperkenankan pelantikan/pemetjatan dari pendjabat administrasi tertinggi dari tingkatan kabupaten dan kota dan jang diatasnja, jang tidak termasuk dalam fasal 7 ajat 9 (pendjabat2 negara jang tinggi2 jang mendjadi haknja Dewan Pemerintah Rakjat Pusat).
Demikianlah garis besar dari pekerdjaan kabinet RRT. Sebagaimana Dewan Tentara Rakjat Revolusioner, Mahkamah Rakjat Tertinggi dan Kedjaksaan Rakjat Tertinggi, maka Dewan Administrasi Pemerintah ini adalah didirikan oleh Dewan Pemerintah Rakjat Pusat dan karena itu bertanggung djawab kepadanja.
Seminggu sekali Dewan Administrasi itu mengadakan sidang dan perdana Menteri dapat melangsungkannja terlebih dulu atau menundanja bila keadaan meminta atau dengan permintaan dari lebih sepertiga anggauta dewan. Lebih dari separo anggauta jang hadir (fasal 17). Jang mendjadi Perdana Menteri sekarang ialah Chou En-lai dan empat Wakil Perdana Menteri :
1. Tung Pi-wu, 2. Chen Yun, 3. Kuo Mo-jo, 4. Huang Yen-pei. Sebagaimana telah diterangkan lebih dulu maka badan pelaksana pemerintahan itu dilandjutkan kedaerah2 dengan bertingkat2, mulai daerah besar, propinsi dan kota sampai kepada daerah kabupaten dan desa. Masing2 tingkat pemerintahan itu ada pula Persidangan Rakjat disampingnja dan dalammana peralihan sekarang ini ialah Komite Nasional.
Ketenteraan tidaklah mendjadi urusan kabinet, tapi diurus oleh badan tersendiri, Dewan Tentara Rakjat Revolusionernamanja jang djuga diketuai oleh Mao Che-tung, sebab bukan nama pangkat panglima, uniform dan bintang strip jang berkilat2 jang dipentingkan, melainkan peker djaannja, membangun dan mendidik T.K.R. supaja tangguh, mentjintai dan ditjintai rakjat, mendjadi pelindung rakjat dan pembela kemenangan Revolusi. Terhadap inipun Ketua Mao ada dan haruslah bertanggung djawab.
Djelas bagaimana pemerintahan di Tiongkok itu betul2 berasal dari rakjat, oleh rakjat dan untuk rakjat. Fasal 2 dari Hukum Organisasi Pemerintah Rakjat menerangkan: „Pemerintah Republik Rakjat Tiongkok adalah suatu pemerintahan dari sistem persidangan rakjat jang berdasarkan pada sentralisme-demokrasi."
Artinja pimpinan harus dita'ati betul2 dan didjalankan dengan disipliner dan tertib. Kekuasaan jang didjalankan itu berasal dari rakjat guna kepentingan dan kemadjuan rakjat. Pegawai2 Pemerintah dipilih oleh rakjat dan jang didjalankannja ialah putusan dari persidangan rakjat jang kita namakan di Indonesia Pamong Pradja-kepala daerah, di Tiongkok tidak ada sebab mulai dari desa sampai kepusat tidak ada pemegang kuasa satu orang, semuanja terdiri dari dewan, ada ketua, wakil ketua, anggauta dan penulis. Begitu di Pemerintah Pusat, begitu pula sampai kedesa. Sistem Pemerintahan adalah sistem dewan. Djadi selain dari badan perwakilan, pemerintah itu sudah dapat dikontrole oleh anggauta2nja sendiri.
Dalam keadaan peralihan sekarang, Persidangan Rakjat dan M.P.P.R. merupakan satu badan, karena jang tersebut duluan belum terbentuk, belum diadakan pemilihan umum. Jang mendjalankan kewadjiban dan kekuasaannja ialah M.P.P.R.
Ketjuali didalam perwakilan rakjat jang tertinggi, suara rakjat itu keluar pula didalam Persidangan2 Rakjat berbagai tingkat, didaerah besar, dipropinsi dll. sedang Panitia Nasional didaerah2 menjampaikan segala sesuatu dari daerahnja masing2 kepada Panitia Nasional Pusat jang dibentuk dari dan oleh M.P.P.R. Para anggauta M.P.P.R. ini setiap sidang lengkap dengan djalan itu dapat dirobah dan diperlengkap dan bila perlu anggauta2 jang sudah ada bisa ditarik kembali oleh partai, golongan, kesatuan, perkumpulan rakjat atau suku bangsa jang bersangkutan.
Sistem ini menundjukkan adanja kontrole jang terus menerus. Pun terhadap anggauta2 dewan perwakilan. Tidak ada sembojan: Sekali presiden, tetap presiden, sekali pembesar tinggi, tetap pembesar tinggi, sekali anggauta parlemen, tetap anggauta parlemen, walaupun orangnja ternyata tidak sanggup, omong dan pidato tidak karuan, bikin rentjana dan penindjauan jang tak putus2nja menghabiskan dan menghamburkan uang negara, tapi tidak pernah terlaksana, karena hanja berdasar teori diawang2, tidak menurut kenjataan dan keadaan serta kemauan rakjat jang sebenarnja.
Selain dari itu sikap tegas jang menghapuskan segala hukum dan peraturan lama menjebabkan lenjapnja semua hambatan jang berupa historis recht, konsessi recht, internasional recht, monopoli recht dll. matjam recht jang menekan dan menindas segala kegiatan dan kemadjuan rakjat dalam berusaha selama ini. Negara baru, masjarakat baru, dengan hukum2 baru akan membina dan mempertahankan Tiongkok Baru, bebas merdeka dari segala pengaruh jang berbau imperialis dan koloniaal jang merendahkan deradjat bangsa dan Tanah Air dimasa jang silam.
Tiongkok merdeka, maha benarlah arti kata ini, terutama bila dihubungkan dengan kegiatan rakjat berusaha, sebab tangan, pikiran dan otaknja sudah dibebaskan dari segala ikatan dan rantai belenggu jang telah mengungkungnja puluhan, ja ratusan tahun lamanja. Perkara apa djadinja nanti, itu tergantung dari usaha seluruh rakjat. Tapi rasanja tidak akan djauh dari kebenaran hukum Tuhan jang berbunji:
Apa jang kamu tanam sekarang, itulah jang akan tumbuh dan kamu ambil hasilnja nanti. Nasib manusia diachirat (nanti), tergantung dari perbuatan dan peramaiannja didunia (sekarang). Bila padi ditanam, akan padilah jang tumbuh dan memberi hasil, tapi bila kamu tanam lalang, akan lalang pulalah jang tumbuh dan hasilnja. Terserah kamu! Padi bukan lalang dan lalangpun bukan padi.
Soal kapan akan berhasil, itupun takluk pula pada hukum Tuhan: Demi-masa. Kalau padi ditanam, lima bulan baru berhasil, tapi kalau lalang ditanam, beberapa minggu sudah dapat dipotong, tapi kalau musimnja pula tidak tjotjok, hukum itu tidak berlaku lagi sebab orang jang akan menanam padi dimusim panas, maka uratnja akan kering kepanasan, hudjan tidak turun dan irigasi tak sanggup membikinnja. Padi jang aturannja menghasilkan, mendjadi pertjuma, buang tenaga, tempo dll. Memang sesungguhnjalah manusia itu akan merugi, bila tidak dapat memakai waktu dan mempergunakan kesempatan jang baik. Manusia dalam arti berbangsa djuga.
Berapa lamakah Tiongkok akan harus membanting tulang, putar otak dan peras keringat, agar dapat merasai nikmat dan hasilnja? Dengan keterangan hukum Tuhan (hukum alam) jang diatas, para pembatja telah dapat mengira-ngirakannja. 1. SUSUNAN KABINET (DEWAN ADMINISTRASI).
Susunan kabinet di Tiongkok, lain sekali dengan apa jang kita lihat di Indonesia. Apakah karena kita baru merdeka di Indonesia? Tidak, sebab di Tiongkok sekarangpun orang menghadapi pekerdjaan serba baru. Seperti diterangkan oleh Mao Che-tung sendiri: „Diantara pekerdjaan2 jang sudah kita ketahui, beberapa akan lekas terbuang kesamping, tidak terpakai dan kita harus mengerdjakan pekerdjaan2 jang belum kita pahami. Inilah kesulitan. Kaum imperialis meramalkan bahwa kita tidak sanggup dan menunggu kegagalan kita dan mengharapkan agar kita pada achirnja minta bantuan pada mereka. Tapi dilapangan internasional, kita termasuk kepihak garis perdjuangan anti-imperialis dan bantuan sedjati jang berdasarkan persaudaraan hanja dapat ditjari dari pihak garis perdjuangan anti-imperialis ini, dan tidak dapat ditjari dari pihak imperialis.”
Karena itulah dalam segala soal, tidak terpakai bantuan dari negara2 imperialis, baik mengenai susunan politik, undang2 dsb. lebih2 lagi jang mengenai ekonomi. Tidak perduli apa kata orang dari negara2 imperialis, toh kita djuga jang merasai nasib kita sendiri, kalau baru ubi jang ada, ja sama2 makan ubi, kalau baru belatju jang ada, ja sama2 memakai badju belatju, kalau hanja tombak dan bambu runtjing baru jang ada, ja kita usir imperialis dan pendjadjah dengan tombak dan bambu runtjing. Kalau undang2 dan hukum belum ada, ja kita buat undang2 dan hukum sendiri. Untuk kita, bukan untuk kaum imperialis, karena itu harus oleh kita sendiri, dengan tenaga dan pikiran kita sendiri.
Begitu djalan pikiran orang di Tiongkok dan karena itu susunan kabinetnjapun agak gandjil bagi orang luar, barang-kali. Didalam kabinet itu bukan kementerian sadja jang ada. Pertama kali ada beberapa komite, seperti Komite Urusan Politik dan Perundang-undangan, mempunjai ketua, wakil2 ketua, sekertaris dan ang gauta2. Komite2 lainnja ialah: Komite Urusan Keuangan dan Ekonomi, jang mempunjai enam biro, jaitu: Biro Planning Keuangan dan Ekonomi, Biro Personil Keuangan dan Ekonomi, Biro Tehnik dan Administrasi, Biro Perusahaan2 Partikelir, Biro Perusahaan2 dan Administrasi Koperasi dan Biro Perusahaan2 Kepunjaan orang asing.
Sesudah itu ada lagi Komite Urusan Kebudajaan dan Pendidikan, Komite Pengawasan (Kontrole) Rakjat jang bertanggung djawab atas pengawasan atas segala pelaksanaan tugas dari instansi2 dan pendjabat2 (dari bawah sampai pangkat tinggi) pemerintah. Kontrole ini dinamakan djuga Pengawasan Umum.
Kementerian semuanja berdjumlah 21 dan diantaranya ada 14 jang mengenai ekonomi umumnja, termasuk Keuangan dan Bank Rakjat Tiongkok. Administrasi ada empat, diantaranja Penerangan dan Pabean. Satu Urusan Akademi Ilmu Pengetahuan dan tiga Komisi, diantaranja urusan Perantau Tionghoa dan Urusan Suku Bangsa. Kedalam Komisi Suku2 Bangsa ini termasuk pula urusan agama, sebab di Tiongkok penganut sesuatu agama itu, bila sudah turun temurun, dipandang sebagai suku bangsa jg. mempunjai tjara hidup dan kebudajaan sendiri.
Kabinet jang begitu besar dan banjak urusannja, luas lapang pekerdjaannja, tidaklah mungkin dipimpin oleh Perdana Menteri sadja, lebih2 kalau mengingat, bahwa perlu sekali mengadakan koordinasi dan kerdjasama jang erat antara beberapa kementerian. Tinggal lagi, tiap2 keputusan dan perintah baru akan berlaku bila telah ditandatangani oleh Perdana Menteri, atau oleh Perdana Menteri dan disertai tanda tangan Ketua Panitia (Komite), menteri, Ketua Komisi d.l.l.
Adanja Komite (panitia) didalam kabinet itu dapatlah dipandang sebagai alat koordinasi dan kerdjasama. Satu tjon-toh. Komite Urusan Politik dan Perundangan2 adalah meliputi dan memimpin pekerdjaan Kementerian2 Dalam Negeri, Keamanan Umum, Kehakiman dan Komisi2 Urusan Perundangan dan (suku) Bangsa2. Komite Urusan Keuangan dan Perekonomian lebih banjak lagi kementerian jang dipimpinnja. Tiap2 Ketua Panitia bertanggung djawab pula didalam lingkungannja dan ia memberi laporannja pada Perdana Menteri, jang dibantu oleh para wakil Perdana Menteri dan seorang penulis umum. (Sek. djen.)
Orang2 jang sudah terpilih mendjadi anggauta Dewan Administrasi (kabinet) dapat merangkap beberapa djabatan, seperti Ketua Panitia atau Komisi dan sebagai Menteri, atau beberapa kementerian. Perdana Menteri, wakil2 Perdana Menteri, Penulis Umum Dewan Administrasi Pemerintah dan anggauta anggauta Dewannja adalah dilantik oleh Dewan Pemerintah Rakjat Pusat. Djadi penulis umum itu sama deradjatnja dengan anggauta2 kabinet lainnja.
Dewan Administrasi Pemerintah itu sebagai satu badan ada pula mempunjai satu sekertariat jang mengurus segala pekerdjaan harian dan bertanggung djawab atas segala penjusunan bundel, arsip dan tjap daripada Dewan. Peraturan2 organisasi dari Dewan Administrasi itu ditetapkan dan disjahkan oleh Dewan Pemerintah Rakjat Pusat. Jang berhak mengadakan perubahan mengenai organisasi Dewan Administrasi itu, berupa penambahan atau pengurangan djumlah, atau mengenai peleburan Panitia, Kementerian, Komisi, Akademi, Administrasi, Bank dan Sekertariat, ialah Dewan Pemerintah Rakjat Pusat.
Djadi kepada perwakilan rakjat, Dewan Administrasi itu tidaklah bertanggung djawab, sebab jang membentuknja ialah Dewan Pemerintah Rakjat Pusat berdasarkan kekuasaan jang diberikan oleh dewan perwakilan rakjat (Madjelis Permusjawaratan Politik Rakjat) jang telah bersidang untuk pertama kali, dari tg. 21—30 September 1949, diikuti oleh 662 utusan dari berbagai partai, golongan dan lapisan rakjat, termasuk didalamnja para utusan dari kaum buruh, kaum tani, tentara, wanita, pemuda, suku2 bangsa, Perantau Tionghoa, wakil2 kaum industri, kaum dagang dan golongan2 patriot, lainnja. Dalam sidang pertama itulah dipilih anggauta2 dan para wakil ketua Dewan Pemerintah Pusat, dengan Mao Che Tung sebagai ketuanja. Sidang itu pula jang menetapkan Program Bersama, Peraturan Hukum Organisasi Pemerintah Pusat dan Hukum Organisasi M.P.P.R., dsitu pula dipilih anggauta2 tetap buat Komite Nasional sedjumlah 180 orang. Besoknja hari penutupan sidang pleno itu diumumkanlah keseluruh dunia Proklamasi berdirinja Republik Rakjat Tiongkok, tg. 1 Oktober 1949.
Komite Nasional tersebut mempunjai Badan Pekerdja pula jang anggautanja dipilih oleh dan dari jang 180 orang tadi, sedjumlah 28 orang, diantaranja seorang kettua dan 5 orang wakil ketua. Jang mendjadi ketuanja ialah Mao Che-tung.
Badan Pekerdja itu mempunjai beberapa sub-komite, jaitu: 1. Urusan Politik dan Perundang2an 2. Urusan Keuangan dan Perekonomian 3. Kebudajaan dan Pendidikan 4. Urusan Luar Negeri 5. Pertahanan Nasional 6. Urusan nationaliteiten 7. Urusan Perantau Tionghoa 8. Urusan Agama2. Djadi ada persamaan dengan pembagian panitia dalam kabinet.
Masing2 sub-komite itu mempunjai ketua sendiri. Badan Peker dja ini beker dja terus sehari2 disamping Pemerintah. Dengan begitu Pemerintah Rakjat Pusat mempunjai pembantu jang setjukup2nja. Disatu pihak menerima bantuan, berupa usul d.l.l. jang berasal dari wakil2 rakjat (Badan Peker dja Komite Nasional jang dibentuk dari dan oleh M.P.P.R.) dan dilain pihak mempunjai alat negara sebagai pelaksana berupa Dewan Administrasi Pemerintah Rakjat Pusat jang mendjalankan Pemerintahan sipil sehari2, dan dipihak lain lagi mempunjai Dewan Tentara Rakjat Revolusioner jang memimpin dan pegang komando tertinggi dari Tentara Kemerdekaan Rakjat. Dengan adanja tiga matjam tenaga ini disamping Dewan Pemerintah Rakjat Pusat, maka dapatlah dikatakan bahwa pimpinan negara jang didjalankan dimasa peralihan seperti di Tiongkok dewasa ini, sudah bisa dipertanggung djawabkan. Tjukup bentara kanan dan bentara kiri. Kebenaran sudah dapat didekati. Keinginan dan tjita2 disampaikan oleh para wakil rakjat jang menjelidiki dan menindjau dari segala sudut kegiatan dan usaha rakjat. Kesanggupan tenaga dapat diketahui dari kabinet dan kekuatan tentara tersedia pula bila ada kesukaran atau kesulitan2, baik didalam negeri maupun jang mungkin mengantjam dari luar. Pikiran, tenaga, sendjata, sudah berkumpul djadi satu dalam pimpinan Negara dan Masjarakat.
Sesungguhnja sudah pada tempatnja, kalau banjak diantara tetamu jang datang mempersaksikan keadaan Tiongkok Baru, heran dan ta'djub setelah melihat dan mengetahui kebidjaksanaan pimpinan dan hasil jang diperolehnja dalam tempo jang sependek itu. Memang bila kita berhadapan muka dengan ketua Mao Che-tung, melihat kesederhanaannja dan sikapnja dan roman mukanja, serta menemui sinar mata bila memandang pada kita, terasalah seolah2 ada jang berkata kepada kita: „Djiwa Besar, menghadapi pekerdjaan besar, bersedia menunaikan kewadjiban besar untuk bangsa dan negara jang besar, memulai sedjarah baru, Tiongkok Merdeka!” Dan seakan² pandangan itu, mengadjak dan mempersilahkan kita: „Mari, datanglah dan lihat sendiri, jang ada hanja ini baru...... bekerdja terus! Bekerdja, bekerdja, madju terus, djangan terlambat, djalan masih djauh! Kesana, kita mesti sampai!”
| Sebuah gambar seharusnya muncul pada posisi ini dalam naskah. Jika Anda bisa menyediakannya, lihat Wikisource:Pedoman gambar dan Bantuan:Menambah gambar sebagai panduan. |
Di Shanghai, kota terbesar di Tiongkok dan satu jang terbesar di Timur, banjak sekali paberik berbagai matjam. Pada gambar ini nampak para tamu berbagai negeri sedang berkeliling dipaberik kain jang besar, tjukup dengan segala alat kliche untuk mentjetak kain jang berkembang berbagai matjam dan tjorak.
2. KEADAAN PARTAI-PARTAI.
Sebagaimana seorang anak jang memperoleh satu barang permainan baru tidak dapat lagi menimbang atau memikirkan bahwa ada lagi jang lebih baik diatas dunia ini dari jang dipunjainja itu, begitu pulalah banjak diantara orang dewasa, bila mendapat sesuatu jang diingini jang selama ini tidak tertjapai, lantas pertimbangan hilang, dan tidak mau tahu, bahwa ada lagi diatas dunia ini jang lebih baik daripadanja dan jang ada padanja. Dalam soal faham atau ideologi, keadaan seperti itu sering menimbulkan dogma dan fanatisme, hanja memudja2 faham dan ideologi itu sadja, tidak mau tahu dengan perwudjudannja dan pelaksanaannja didalam perdjuangan hidup sehari2, agar mendjadi kenjataan jang sesungguhnja dialami. Orang seperti itu sering hanja tinggal batja2 sadja, pidato dan bitjara ke bitjara sadja, kadang2 malahan tidak mengerti sendiri bahwa utjapan2nja sudah banjak jang bertentangan satu sama lain, dan djauh meleset dari faham atau ideologi jang sebenarnja. Lama2 ia hanja menafsirkan nja sesuka hatinja sadja, mana jang enak dan mengenakkan bagi dirinja sendiri.
Bila orang seperti itu bertemu pula dikalangan pendjabat, berposisi dan kedudukan jang tinggi, jang tak pernah di-impikannja sedjak dari nenek mojangnja, tahu2 dapat, wah ......... penjakit anak ketjil tadi melekat pula. Tidak tahu apa jang diperbuat, tidak tahu bagaimana mengerdjakan jang sebenarnja, jang dia tahu, hanja terima gadji jang teruntuk bagi pangkat itu dan segala keuntungan dan kesenangan jang melekat padanja. Soal kewadjiban ...... nanti dulu, perkara dibelakang, semua bisa diundur dan diulur dengan ...... bitjara, rentjana, dan putar lidah sana sini. Keadaan seperti itu pasti membawa kemunduran, sebab akal hilang, pertimbangan lenjap, ichtiar tidak ada. Seperti ternak jang digemukkan untuk dipotong! Keluar masuk kantor, lain tidak untuk bitjara sadja, namanja berunding, musjawarat, rapat kerdja, rapat dinas, sidang pleno, rapat tertutup dsb. Semuanja berwudjud ...... omong dan bitjara belaka. Memang benarlah adjaran agama jang mengatakan bahwa: orang jang hendak djatuh dan rubuh itu, lebih dulu akalnja jang ditjabut oleh Tuhan .........
Penjakit seperti jang digambarkan diatas inilah jang mesti hilang dari masjarakat Tiongkok sekarang, maka ketua Mao Che-tung membuat satu uraian jang berkepala ,,On Practice", bagaimana hubungan jang harus ada antara teori dan praktek, antara mengetahui (menganut, mendjabat dsb). dan memperbuat (melaksanakan, mewudjudkan dsb.), antara tahu dan pandai (sanggup) mengerdjakan. Doktriner, fanatik, mengekor dan memudja2 bersandar pada huruf, kata2 dan kertas semuanja adalah musuh daripada pertimbangan kritis dan perbuatan njata, kegiatan mentjipta, mengadakan jang belum ada dan memperbanjak dan memadjukan jang sudah ada, musuh dari progressiviteit dan revolusionarisme, musuh kemadjuan dan perdjalanan masa (sedjarah).
Oleh sebab itu pulalah maka dalam sidang lengkap dari Madjelis Permusjawaratan Politik Rakjat Tiongkok, ditentukan suatu pedoman umum jang akan mendjadi pegangan bagi seluruh partai, segenap organisasi dan perkumpulan rakjat, bahwa maksud mereka ialah: "untuk menjatukan segenap kelas jang demokratis, segenap suku bangsa di Tiongkok, dengan membentuk front persatuan perdjuangan dari segenap partai dan golongan dan perkumpulan rakjat, agar sanggup berusaha bersama-sama dalam melaksanakan demokrasi baru, melawan imperialisme, feodalisme, kapitalisme birokratis-monopoli, merobohkan kekuasaan reaksioner Kuomintang, membasmi kekuatan kontra revolusioner jang terbuka dan rahasia, supaja dengan begitu sanggup pula mengobati luka perang, mengembalikan dan mengembangkan perekonomian, kebudajaan dan pendidikan rakjat, memperkokoh pertahanan negara dan bersatu dengan segenap bangsa dan negeri jang memandang Tiongkok dengan persamaan, sebagai saudara."
Dan diantara kewadjiban jang diletakkan oleh Komite Nasional pada seluruh anggautanja (partai-partai jang dianut mereka) ialah: "Membantu Pemerintah didalam memobiliser rakjat, ikut serta dalam pekerdjaan melaksanakan revolusi, demokrasi rakjat dan pembangunan negara."
Pekerdjaan ini akan diteruskan untuk mentjapai terbentuknja Republik Rakjat jang kokoh, merdeka, demokratis, damai dan bersatu, makmur dan sedjahtera, dengan kediktatoran demokrasi rakjat jang dipimpin oleh kaum buruh berdasarkan persatuan buruh dan tani."
Partai-partai jang turut dalam permusjawaratan itu ialah: 1. Partai Komunis Tiongkok. 2. Partai Kuomintang Revolusioner. 3. Lembaga Demokrasi Tiongkok. 4. Persatuan Kebangunan dan Demokrasi Nasional. 5. Perkumpulan untuk Memadjukan Demokrasi. 6. Partai Demokrasi Buruh dan Tani. 7. Partai Chih Kung Tang. 8. Perkumpulan Chiu San. 9. Lembaga Demokrasi dan Otonomi Taiwan. 10. Lembaga Pemuda Demokrat Tiongkok.
Kesepuluhnja partai-partai politik diatas ini semuanja ada turut didalam berbagai dewan-dewan atau Panitia dan didalam Dewan Pemerintah Rakjat Pusat dan Dewan Administrasi Pemerintah Rakjat Pusat (Kabinet), sehingga dengan begitu satu partai pun tidak ada jang ketinggalan untuk ikut menjumbangkan tenaga dalam pembangunan dan pertahanan negara. Pedoman bagi semua partai untuk bekerdja, ialah seperti jang telah disebutkan diatas tadi. Tingkat bertingkat keadaan dan kemadjuan jang akan didjapai dan untuk mentjapainja, kebulatan tenaga dan persatuan kemauan dan kebulatan tekad perlu, maha perlu, sebab pekerdjaan jang dihadapi bukanlah soal ketjil dan bukan pula dapat diselesaikan dalam tempo setahun dua tahun oleh satu golongan atau partai sadja.
Berlomba-lomba2 menabur djasa. Republik Rakjat harus berdiri tegak dulu, kemudian merdeka 100%, kalau sumbing tidak mau. Terlaksana demokrasi bagi segala partai dan seluruh rakjat, dalam kenjataan, bukan dalam teori dan angan2. Suasana damai tertjipta dengan persatuan jang harmonis dengan tidak menghilangkan atau mengurangi harga, deradjat dan kedudukan jang lajak bagi setiap golongan dan partai. Djasa diatas djasa, bukan djasa diatas bitjara. Dalam kesatuan jang harmonis itu tertjapai pula hendaknja kemakmuran dan kesedjahteraan bagi seluruh rakjat, susah sama susah, dan kalau senang, ja sama2 senang. Apa jang ada sama2 dimakan dan jang belum ada sama2 diusahakan. Patriotisme jang meluap2 dan tjinta bangsa jang bergelora, akan dapat mendjadi tali pengikat bagi semua partai dan semua golongan. Kebangunan dan pertahanan Tanah Air inilah hanja jang mendjadi sembojan. Dikatakan terus terang. Sembojan lain tidak ada tempatnja dan bukan waktunja sekarang. Soal standing internasional dan luar negeri, masa bodoh. Perkara tjorak masjarakat dan tjorak segala undang2 nanti, tergantung dari perkembangan keadaan dan kemadjuan faham, pikiran dan djiwa serta hasil usaha masjarakat.
Terus terang pula dikatakan, bahwa jang bersembojan lain, djangan turut, tidak diberi tempat, dan tidak diberi bersuara, sebab njata hendak mengatjaukan suasana jang harmonis, hendak membuat front persatuan mendjadi retak, bersibak dua atau tiga atau empat. Keadaan petjah belah, pertentangan dan permusuhan tidak diberi kesempatan diantara sesama bangsa. Sebab sudah pasti akan menimbulkan bahaja, memberi kesempatan pada orang asing untuk melakukan politik divide et impera. Bahaja jang sudah pasti, sebab musuh mengintai dan menunggu kesempatan, musuh diluar dan didalam negeri, kaum imperialis-agressor dan golongan pengchianat dan reaksioner Kuomintang, kaki2 tangannja jang sefaham dan sependirian dengan imperialis. Kata Ketua Mao: Kita menentang kaum reaksioner Ch. K. Shek jang bersandar pada pihak imperialisme; kita djuga menentang angan2 akan adanja djalan ketiga (Kompromis dan rundang-runding). Bukan hanja di Tiongkok, tapi didunia ini pula, bila tidak bersandar pada pihak imperialisme, ia akan bersandar pada pihak sosialisme. Dengan tidak ada keketjualian, tidak ada tawar menawar.
„Kita memerlukan bantuan Inggeris Amerika? Sun Yat Sen pernah berkali2 memintak bantuan pada negeri2 kapitalis, tapi gagal, sebaliknja ia dapat pukulan maha hebat. Selama hidupnja Sun Yat Sen hanja sekali mendapat bantuan dari luar negeri, jang datang dari Sovjet Uni, Sun Yat Sen dalam pesannanja tidak menjuruh rakjat kita mengharap bantuan dan memintak modal (pindjam) dari negeri imperialis, akan tetapi memesan kita dengan tulus ichlas, „berserikat dengan bangsa2 jang bergaul dengan kita atas dasar persamaan.”
"Pada waktu sekarang ini di Amerika Serikat dan Inggeris jang berkuasa masih tetap kaum imperialis. Apakah mereka akan memberikan bantuan pada negara kepunjaan rakjat? Djika mereka sudi memindjamkan uang kepada kita berdasarkan sjarat2 jang menguntungkan bagi kita, apakah sebabnja? Sebabnja ialah kaum kapitalis itu mau mentjari untung uang, bankier2 mereka mau dapat bunga uang untuk menjelamatkan diri mereka dari krisis mereka sendiri. Semua itu bukan bantuan pada rakjat.”
Demikian kata beliau.
Maka dalam Program Bersama fasal 3 disebutkan: Kita berwadjib menghapuskan hak2 istimewa dari negeri2 imperialis jang ada di Tiongkok, mensita kapital dan modal birokrasi dan mendjadikannja kepunjaan negara rakjat. Memperkembangkan ekonomi rakjat jang bersifat demokrasi baru dan berangsur2 merobah negeri dari suatu negeri pertanian mendjadi negeri perindustrian, dengan melindungi hak umum dan hak milik perseorangan.
Memang djelas ditarik garis perpisahan, jang menundjukkan dengan terang, siapa kawan dan siapa lawan, siapa masuk golongan kita dan siapa jang berdiri diseberang sana. Kalau bukan disini, harus berada disana, diseberang. Kalau bukan revolusioner, adalah kontra revolusioner. Kompromis tidak ada. Per djuangan ini adalah perdjuangan hidup atau mati, to be or not to be. "Kita wadjib melangsungkan Perang Kemerdekaan Rakjat sampai achirnja”, untuk kepentingan dan kebahagiaan Sang Rakjat. Jang tidak berdiri dipihak Rakjat adalah musuh Rakjat.
Djadi politik sembunji2 tidak ada di Tiongkok, politik memukul orang dengan alasan jang bukan2, dengan alasan samar2 dan main gelap-gelapan, bila berhadapan dikatakan tidak ada apa2, tidak ada larangan, tidak bermusuhan d.s.b. tapi dibalik belakang nanti main tangkap, main tutup, main asingkan, main geledah, main beslag, main machtsvertoon dengan alasan jang ditjari2 dan tidak masuk akal, alasan pendjadjah jang berbau koloniaal dan imperialis dengan kekuatan alasan hukum kolonial lama: Untuk mendjaga keamanan dan ketertiban Umum, orang2 harus meringkuk dalam pendjara, zonder enige vorm van proces, „karena saja pemerintah, saja berkuasa, dus saja berhak menahan dan memendjara, kalau perlu berbulan dan bertahun2, untuk kepentingan saja dan kontjo2 lainnja.”
Tidak ada politik-tidak-djantan dan tidak-laki2 seperti itu di Tiongkok, politik jang bersifat pengetjut, lempar batu sembunji tangan, kalau berhadapan dikatakan demokrasi, politik bebas dsb. tapi dibalik belakang diktatur dan fascisme jang kerdja sehari2. „Hanja saja jang benar, lain orang semua salah. Djalan baru saja jang betul, djalan2 lainnja semua meleset. Partai pemerintah jang benar, partai2 lain semua salah. Kamu tidak betul, aku jang betul, karena itu harus ditahan dan meringkuk dalam pendjara. Untuk kepentinganku."
Politik seperti ini tidak didjumpai di Tiongkok, karena itu suasana politik pun tidak tegang tapi harmonis, harga menghargai dan hormat menghormati. Keadaan partai2 politik pada umumnja adalah masing2 berlomba untuk mempertahankan hak hidupnja dan membuktikan kesanggupannja dan kebenaran politik jang didjalankannja, dihadapkan kepada rakjat, dengan kartu terbuka, agar rakjat dapat melihat dan merasa gunanja berpartai, perlunja memasuki partai, ada hasilnja, bukan untuk beberapa gelintir orang sadja.
Diatas segala2nja, jang diutamakan ialah kerdja sama dan persatuan dalam bertindak dan berusaha, agar rakjat djangan bingung, djangan bertanja2, siapa ini jang benar, kemana kita ini akan dibawa oleh si A atau si B. Pimpinan harus satu, tegas, walaupun jang mendjalankan ada banjak. Sebab rakjat itu terutama bukan harus dipropagandai dengan omong, melainkan dengan jang dapat dimengerti dan dirasakannja. Bukti dan hasil jang njata. Inilah nampaknja jang sudah dimengerti di Tiongkok Baru.
Memang di Tiongkok djarang sekali kita melihat merek2, nama partai ini atau partai itu, didjalanan, dikampung atau dipaberik2. Jang diberi merek hanja jang ada didalamnja. Perkara siapa jang mengusahakannja atau turut bekerdja didalamnja, itu soal nanti. Dan kalau akan diberitahukan djuga, maka ditjarilah jang bersifat persatuan, jang tidak mengemukakan diri seseorang atau sesuatu golongan atau partai sadja upamanja perkataan: Rakjat, Nasional, Negara d.l.l. djadi umum.
Semua partai jang ada di Tiongkok adalah turut dimana2. Buktinja: Disalah satu kota kita tanjakan: Pembesar itu djuga anggauta Partai Komunis? Djawabnja: Tidak, ia adalah pemimpin dari Partai Kuomintang!
Dengan terkedjut, sdr. Armijn Pane dan saja menajakan lagi lebih landjut: Apa Kuomintang masih boleh berdiri? Djawabnja: Kenapa tidak, mereka toh banjak jang berdjasal Mereka sedjak dulu banjak jang tidak setudju sama Ch. K. Shek, dan sekarang merekalah jang memimpin dan meneruskan partai Kuomintang dengan tambahan nama, Revolusioner ..........
Pembatja barangkali mungkin djuga terkedjut kalau disini diterangkan bahwa Ketua dari Executif Komite Kuomintang sekarang, Li Chi Shen, adalah mendjadi wakil Ketua dari Dewan Pemerintah Rakjat Pusat, bersama2 dengan Madame Sun Yat Sen (Soong Ching Ling), disamping ketua Mao. Dari partai2 lain demikian pula, tiada ketinggalan dan tak ditinggalkan.
Ini adalah gambaran jang terang dari keadaan dan perhubungan partai2 di Tiongkok pada dewasa ini. Seterusnja ....? Itu soal nanti, perkembangan keadaan. Satu kebaikan, walaupun sebesar zarrah, tidaklah akan hilang, bila diperbuat dengan kejakinan dan niat jang baik bagi masjarakat, bagi ummat dan perikemanusiaan umumnja. Tidak didunia, nanti diachirat, kebaikan jang seperti itu pasti mendapat balasan jang berlipat ganda dari Tuhan. Pertjaja tidaknja, terserah! Dan tiap2 kebaikan jang kita buat adalah untuk kita djua adanja, bukan untuk orang lain.
| Sebuah gambar seharusnya muncul pada posisi ini dalam naskah. Jika Anda bisa menyediakannya, lihat Wikisource:Pedoman gambar dan Bantuan:Menambah gambar sebagai panduan. |
IX. KEBUDAJAAN TIONGKOK BARU.
Revolusi jang telah berdjalan di Tiongkok adalah revolusi jang sungguh2 tidak mengenal mundur dan kompromis, jang konsekwen mengenai segala lapang penghidupan dan meliputi seluruh lapisan masjarakat, revolusi dalam arti membaharui bangsa, merobah bangsa jang didjadjah dan diperas seselama ini, mendjadi bangsa jang betul2 merdeka, revolusi jang melahirkan masjarakat dan negara baru, merobahnja dari masjarakat jang pintjang dan tindas menindas mendjadi masjarakat jang stabil dan harmonis bekerdja sama, merobah negara jang selama ini diperalat untuk penindasan dan pemerasan rakjat mendjadi negara kepunjan rakjat, dari rakjat, oleh rakjat dan untuk rakjat. Revolusi jang menderu dilapangan ekonomi, revolusi jang menggelora dilapangan semangat dan perdjuangan sendjata dan politik, revolusi jang berkumandang didalam djiwa dan hati sanubari, melahirkan dan mentjipta kesenian dan kebudajaan baru, jaitulah, Kebudajaan Tiongkok jang sekarang merobah roman dan semangat kebudajaan lama jang feodal berdjiwa budak dan jang dipertuan mendjadi kebudajaan rakjat, untuk rakjat, jang akan mendendangkan dan melukis keindahan dan kebahagiaan hidupnja Sang Rakjat. Semangat dan djiwa kebudajaan baru jang ingin damai dan menenteramkan hidup guna mempertinggi nilai dan harga2 kehidupan dan perikemanusiaan umumnja, dan disamping itu, mempertahankan djiwa ksatria jang perkasa, sanggup dan bersedia senantiasa menghadapi segala rintangan dan gangguan jang mungkin didjumpai dalam perdjalanan menudju tjita2 ...... Kekuatan dan pedang terhunus, bukan untuk menjiksa dan meratjun hidup akan tetapi guna melindungi dan menjelamatkan hidup, memperindah hidup menudju kesempurnaan dan kekekalan jang abadi.
Inilah jang kita lihat garis besar jang diguratkan dan akan ditempuh oleh masjarakat Tiongkok Baru dilapangan kebudajaan. Ada maksudnja dan ada tudjuannja jang tertentu. Tidak sekedar permainan, sekalipun permainan keindahan, permainan seni. Seni buat seni melulu, nampaknja tidak mendjadi persoalan di Tiongkok sekarang. Hidup ini ada gunanja, ada tudjuannja, karena itu segala lapang kehidupan pun mempunjai guna dan tudjuan jang tertentu. Begitulah!
Soalnja tinggal lagi, apa maksud itu, kemana jang ditudju?
Tiongkok sebagai satu bangsa jang bersedjarah ribuan tahun dan karena itu mempunjai sedjarah kebudajaan jang ribuan tahun pula, kini mungkin telah tiba didjalan persimpangan, dimana mereka hendak menoleh dulu kebelakang untuk menetapkan langkah seterusnja. Djalan jang telah ditempuh itu sudah djauh nian, akan tetapi jang akan ditempuhpun masih pandjang sekali. Jang lama mau ditutup dan jang baru mau dibukakan. Apa jang lama itu, mereka telah dapat membahasanja, karena sudah banjak nian jang telah dialami, silih berganti dari zaman kaisar, zaman djenderal, zaman pendjadjahan dan setengah djadjahan, zaman diperintah dan dikuasai oleh jang dinamakan Pemerintah Nasional a la Ch. K. Shek, zaman revolusi jang sudah bolak balik dan berulang2 terdjadi di Tiongkok. Banjaknja pengalaman dan jang telah dialami dalam sedjarah Tiongkok itu, menjebabkan mereka jang memimpin bangsanja sekarang telah mendapat tjukup bahan2 untuk mempertimbangkan dan mengambil kesimpulan bahwa zaman lama itu sudah patut dan sudah waktunja sekarang ditutup. Berani menutup jang lama berarti berani membuka djalan dan tudjuan hidup baru. Itu namanja bertanggung djawab. Perkara kata orang, sangkaan orang, risiko, dsb. itu soal nomor dua. Kalau takut kena lumpur djanganlah turun membadjak sawah dan kalau takut kena getahnja djanganlah inginkan hendak makan nangka jang manis. Bila takut menghadapi risiko, djanganlah pura-pura berani mengemukakan diri, sebagai pemimpin revolusi, bapak revolusi, presiden revolusi, partai pelopor, nasionalis ulung, berdjihad didjalan Allah dan sebagainja. Omong memang gampang, tapi berbuat, berani berbuat dan pandai berbuat, adalah soal jang lebih penting dan sangat sulit. Kalau gampang tentu semua orang sudah djadi pahlawan, djadi pudjangga, pelopor berdjiwa besar dsb. Sedang njatanja kini, dikalangan manusia ini lebih banjak jang takut hidup dan takut mati, daripada jang berani hidup dan berani mati. Bimbang putjak aru .........
Perkataan Ketua Mao sewaktu masih di Yen-an adalah menundjukkan sikap tegas didalam menghadapi soal2 dilapangan kesusasteraan, kesenian dan kebudajaan umumnja. Kata beliau :
„Untuk siapakah seni dan sastera digubah dan dikarang? Djawabnja: Untuk rakjat. Rakjatlah jang mendjadi penerima seni dan sastera, maka timbullah masalah untuk „mengenal dan mengerti akan rakjat”... Pekerdjaan menggubah dan mengarang memang harus kita kerdjakan, akan tetapi jang harus dan lebih diutamakan lagi ialah pekerdjaan mengenal dan mengerti akan segala golongan rakjat. Dulu kita tidak kenal dan tidak mengerti. Apakah jang dikatakan tak kenal? Tak kenal orangnja; jakni, pekerdja seni dan sastera tak kenal akan jang dilukiskannja dan orang2 jang melihat gubahannja, malah kerap kali sangat asing bagi mereka. Apakah jang dikatakan tak mengerti?
Jakni, tak mengerti akan bahasanja. Kamu orang berbahasa kaum intellek, sedang mereka berbahasa rakjat djelata. Rasa dan pikiran pekerdja seni dan sastera harus digemblengkan dengan rasa dan pikiran massa rakjat, buruh, tani dan tentara. Akan menggembleng itu, haruslah terlebih dulu mempeladjari kata-bahasa massa. Djika bahasanja sadja tidak mengerti, tjara bagaimanakah kita hendak mentjiptakan seni dan sastera? Segala pengadjaran dan pendapat kita tidak dimengerti dan dihargai oleh rakjat, makin kita berlagak pandai dan ulung, makin segan pula rakjat menerimanja. Oleh sebab itu untuk dapat dimengerti oleh rakjat, haruslah kita mengambil keputusan tetap untuk menempuh latihan dan udjian jang pahit2, sukar dan lama ..........”.
Lebih djauh didjelaskan beliau lagi: "Memang ada seni dan sastera djauh kaum pemeras dan penindas semata2. Seni sastera untuk kaum tuan tanah, jakni seni sastera feodal; demikian pula ada kesenian untuk kaum berkuasa dan memerintah dizaman Tiongkok-feodal. Terus sampai sekarang, seni sastera sematjam ini masih sangat berpengaruh di Tiongkok. Seni sastera bagi kaum burdjuis ialah seni sastera burdjuis. Jang mewakili seni sastera ini sering mulutnja mengatakan bahwa seni tidak berkelas, seni hanja untuk seni, tetapi pada hakekatnja mereka berhaluan seni sastera burdjuis dan menentang seni sastera proletar dan rakjat djelata dengan mengatakan tendensieus dsb. Ada pula seni sastera imperialis, jaitu kesusasteraan budak, kesenian budak. Masih ada lagi matjam senisastera, jaitu seni sastera kaum s.s. (secret service), jang tampaknja sangat revolusioner tapi isinja sebenarnja tidaklah berlainan daripada jang tiga matjam tersebut tadi. Bagi kita seni sastera bukanlah untuk orang2 tersebut diatas, melainkan untuk rakjat djelata. Pernah kita katakan bahwa Kebudajaan Baru di Tiongkok pada masa sekarang adalah kebudajaan rakjat, dibawah pimpinan kaum proletar jang menentang imperialisme dan feodalisme. Pada masa sekarang ini, hanja apa2 jang dipimpin oleh kaum proletar dapat berguna dan mendjadi kepunjaan rakjat benar2. Segala apa jang dipimpin oleh kaum burdjuis tak mungkin akan mendjadi kepunjaan rakjat djelata. Demikianlah pula dengan seni dan sastera baru dari kebudajaan baru. Kita tidak menolak mempergunakan bentuk model lama dari kaum feodal dan burdjuis, asal berada didalam tangan kita, harus berada didalam tangan kita dan setelah dirobah dan ditambah dengan sari inti baru, bentuk model kolot tadi akan berobahlah mendjadi revolusioner dan inilah jang berguna bagi rakjat.
"Maka siapakah jang disebut rakjat djelata? Rakjat jang paling terbanjak. Lebih dari 90% penduduk seluruh Tiongkok adalah tani, buruh, tentara dan kaum burdjuis ketjil. Maka seni sastera kita terutama ialah untuk kaum buruh jang memimpin revolusi, kedua untuk kaum tani, karena mereka adalah sekutu jang paling kuat dan terbanjak; ketiga ialah kaum pekerdja dan tani jang bersendjata; mereka adalah tenaga pokok dalam perdjuangan ini; ke-empat ialah untuk kaum burdjuis ketjil jang djuga mendjadi sekutu dalam revolusi kita dan jang dapat kerdja sama dengan kita dalam waktu jang pandjang. Ke-empat matjam orang ini mendjadi bagian terbesar dari rakjat Tiongkok.
"Seni sastera kita haruslah dibuat untuk ke-empat golongan tersebut. Jang tiga tersebut duluan adalah paling utama sebab burdjuis ketjil djumlahnja sedikit, dibandingkan dengan jang lain2, dan sifat djiwa revolusinja lemah, dan djuga deradjat pendidikan/pengertian mereka lebih „tinggi” adanja. Maka dari itu seni sastera kita terutama bagi kaum buruh, tani dan tentara dan jang kedua barulah untuk kaum burdjuis. Tidaklah patut kita membalikkannja. Disinilah letaknja kesukaran bagi sebagian saudara2 kita untuk menetapkan dengan tepat soal: untuk siapakah kesenian dan kesusasteraan kita...
„Dalam merundingkan sesuatu soal kita harus beralasan pada keadaan dan hal2 jang sebenarnja dan tidaklah harus memulai dengan mengadji segala definisi. Djika kita mentjari dan mendapatkan batasan arti dari kesenian dan kesusasteraan (sesuatu definisi) menurut beberapa buku dan pendapat beberapa orang jang dikundjung2 dan disiter2 berhalaman2, dan sesudah itu menggunakan batasan pengertian itu untuk menetapkan arah dan tudjuan pergerakan kesenian dan kesusasteraan kita pada dewasa ini, serta menimbang dan memutuskan benar tidaknja rupa2 pendapat, maka itulah ada satu djalan jang sangat tidak tepat (salah). Kita tidak boleh menindjau sesuatu soal dari dasar batasan pengertian jang abstrak (kabur diawang2), tapi kita harus memandang segala sesuatu dari keadaan dan hal2 jang sebenarnja, jang tampak bentuk lahirnja; maka hendaklah kita mentjari pedoman, siasat dan daja upaja dengan djalan mengadji dan beralasan pada hal2 jang sebenarnja (kenjataan). Dalam soal kesenian dan kesusasteraanpun tidak terketjuali.”
Dilain bagian dari Pidato2 di Yen-an mengenai perundingan Kesenian dan Kesusasteraan itu, ketua Mao mengatakan lagi:
„Maxim Gorki menjusun sedjarah paberik2, memimpin korespondensi kampungan (dengan orang2 desa) serta pula membimbing peladjaran bagi anak2 umur belasan tahun. Djuga Lu Hsun telah memakai banjak temponja untuk korespondensi dengan anak2 sekolah. Para ahli sastera kita haruslah menaruh banjak perhatian pada „berita2 tembok” dari massa rakjat dan sastera serta korespondensi pekampungan. Para ahli sandiwara kita harus menaruh perhatian pada rombongan2 sandiwara ketjil dalam pasukan2 dan kalangan rakjat kampung. Para ahli musik kita harus menaruh perhatian pada lagu2 jang dinjanjikan oleh rakjat dan para ahli seni lukis kita harus memperhatikan seni lukisnja massa. Semua saudara jang tsb. haruslah berhubungan rapat dengan saudara2 jang sedang mengerdjakan perataan seni dan sastera jang sederhana dan asli itu diantara massa rakjat. Disatu pihak membantu dan membimbing mereka, dilain pihak beladjar pula dari mereka, dengan melalui mereka untuk memperoleh pengalaman dan peladjaran dari massa dan dengan demikian memelihara dan memperkaja diri sendiri agar supaja keahliannja tidak mendjadi sematjam „istana diawang2” jang djauh terpisah dari rakjat dan sama sekali tak berdjiwa, hampa, tiada isi.
„Kita harus menghargai ahli2 kita, sangat penting dan berharga mereka bagi kita. Akan tetapi kita harus mengatakan pada mereka, bahwa semua pekerdjaan seniman dan sasterawan rakjat revolusioner hanja akan ada harga dan artinja, bila mereka menghubungkan diri dengan rakjat, menterdjemahkan perasaan dan suara hati massa rakjat, dan membuat diri sendiri mendjadi djuru bitjara dan abdi massa jang djudjur dan ichlas. Hanja dengan mewakili rakjat dapat kita mendidik rakjat, hanja dengan mendjadi murid2 dari massa dapat kita mendjadi guru dari mereka.
Apabila menganggap diri sebagai tuan dari massa, berdiri dan memerintah diatas pundak rakjat atau sebagai kaum bangsawan jang menduduki kepala „manusia rendah”, maka meskipun akan bagaimana pintar dan pandainja mereka, taklah nanti akan disukai oleh rakjat, dan semua pekerdjaan mereka tidak mempunjai harapan dan tempat sama sekali.
„Walaupun karanganmu seindah „Yang Chuen Pai Shueh” (sebuah sja'ir Tionghoa kuno jang sangat indah dan sukar dimengerti), massa akan tetaplah menjanjikan „Sia Li Pa Ren” (sebuah pantun rakjat). Djikalau kamu hanja mentjela dan tidak membantu meninggikan deradjat mereka, maka segala tjelaan dan kritikmu akan sia2 belaka. Jang harus mendjadi soal kini ialah: bagaimana mempersatukan „Yang Chuen Pai Shueh” dengan „Sia Li Pa Ren”, jaitu soal mempersatukan perasaan (popularisasi) dan mempertinggi mutu. Dengan tiada kesatuan ini, segala kesenian dari ahli2 jang paling pintar dan pandai pun tidaklah akan luput dari kesepian dan kesempitan (berguna hanja bagi beberapa orang tertentu). Bila kamu mengatakan bahwa djustru itulah keagungan, maka itulah hanja keagungan dan kurnia untukmu sendiri, sedang massa tidak akan mengakuinja.”
Inilah beberapa pendapat dan garisan njata untuk dipedomani dalam pembangunan dan memadjukan kebudajaan baru. Politik memang bukan seni dan seni djuga bukan politik. Ukuran dan pandangan politik memang berlainan dari ukuran dan pandangan seni. Tapi walaupun bagaimana, toch politik itu ada maksudnja dan ada tudjuannja, demikian djuga seni. Politik untuk politik dan hanja untuk sekedar permainan politik, adalah utjapan kosong didalam ruang dan lingkungan jang abstrak, begitu pula seni untuk seni dan hanja untuk seni adalah keindahan jang tergantung diawang2, antara langit dengan bumi, tidak berputjuk keatas dan tidak berakar bersendikan pada bumi kenjataan. Untuk sembojan2 jang „muluk2 dan agung” seperti itu, diruang abstrak jang mengawang2, tidaklah ada tempat didalam kebangunan kebudajaan baru di Tiongkok sekarang. Pandangan hidup dan dunia jang tidak beralaskan kenjataan dan kehidupan masjarakat adalah laksana istana jang indah jang tergantung diawang2, tidak berpondamen dibumi jang njata dan tiada penghuni jang menikmatinja, ketjuali iblis dan sjeithan atau malaikat jang berkeliaran didunia abstrak dan bajang2. Untuk apa dan siapa ......? Tudjuan hidup ini toch ada!?
Demikianlah kira2 djalan pikiran orang di Tiongkok dalam menghadapi soal2 kesenian, kesusasteraan dan kebudajaan umumnja. Dan jang djadi pangkalan bagi operasi pembangunan dan mentjiptakan kebudajaan baru itu ialah djiwa bebas dan perkasa jang bersemadjam dalam gubahan Lagu Kebangsaan Tiongkok Baru sekarang, jaitu: Chung Hua Jenmin Kung-ho Kuo-Kuoko, jang ditjiptakan oleh Nieh Erh dalam tahun 1932 untuk menentang agresi asing (tahun '31 Djepang merampas Manchuria) dengan nama: Madju Barisan Sukarela. Lagu itu pertama kali dipersembahkan kemuka chalajak ramai didalam film „Putera dan Puteri didalam Taufan". Diwaktu itu krisis hebat telah mengantjam segala apa jang berharga nasional. Setelah Djepang menjerang dalam tahun 1937, lagu itu mendjadi sangat populer, dinjanjikan oleh segala orang diseluruh negeri. Pada tg. 27 September 1949 lagi itu disahkan mendjadi Lagu Kebangsaan Tiongkok Baru oleh Madjelis Permusjawaratan Politik Rakjat Tiongkok. Isi sedjaknja kira2 begini :
Bangkitlah, hai sekalian jang menolak untuk djadi budak.
Dengan darah dan daging kita, Satu „Tembok Besar" akan berdiri lagi.
Kinilah bangsaku menghadapi bahaja-mengantjam jang terbesar. Keluarlah suara, berteriak setiap djiwa dengan seru: Bangkitlah, Bangkit!
Djumlah jang djutaan, hati hanja satu ;
Menentang sinar api, peluru-musuh, Madju !
Menentang sinar api, peluru-musuh, madjulah, madjulah, Madju!
Salinan merdeka, tidak unutk lagu, tapi hanja sadjaknja sadja.
Kemudian perhatikanlah gambar disebelah ini, sebagai hasil pertama daripada operasi djiwa bebas jang bangkit dan madju, memutus dan melemparkan segala ikatan dan belenggu. Hasil tjiptaan dan Lukisan tjat minjak dari Hu Yi-chuan, dengan nama „Pembebasan".
Djiwa bebas jang sudah dilepaskan dari belenggu itulah jang akan membikin operasi disegenap lapang kesenian dan kebudajaan. Kebebasan jang teratur dan berdisipline, bukan kebebasan jang meradjaleia atau kebebasan jang hanja mengingant kepentingan diri, kebenaran sendiri dan kenjangnja perut sendiri. Pun dilapangan kebudajaan ini ada garisan tertentu jang harus dipedomani, termaktub didalam Program Bersama, jang telah disebut lebih dulu. Dalam fasal 41 antara lain diterangkan bahwa: Kewadjiban pokok dari Pemerintah Rakjat dilapangan pendidikan dan kebudajaan ialah meninggikan tingkatan kebudajaan rakjat, melatih orang bekerdja untuk pembangunan negara, menjapu bersih ideologi feodal, komprador dan fascis serta mengembangkan ideologi jang mengabdikan diri pada rakjat. Seterusnja dalam fasal 42 dikatakan: Memadjukan tjinta pada tanah air, tjinta pada rakjat, tjinta pada kerdja dan tjinta pada ilmu pengetahuan dan sajang akan harta dan perbendaharaan umum sebagai semangat umum dari segala warga negara RRT. Dalam fasal 45 teristimewa disebutkan untuk kesenian umumnja, bahwa Pemerintah berusaha: Memadjukan kesusasteraan dan kesenian untuk mengabdi pada rakjat, untuk membangunkan kesadaran politiknja dan untuk menaikkan semangat bekerdjanja. Memadjukan dan memberi hadiah pada buah pekerdjaan kesusasteraan dan kesenian jang baik serta memperkembangkan kesenian tonil dan film dari rakjat.
Demikian garis2 besarnja.
Istimewa dilapangan kebudajaan sangatlah penting adanja suku2 bangsa di Tiongkok jang masing2 telah mempunjai sedjarah kebudajaan jang sudah lama dan menilik banjaknja suku bangsa itu (nationaliteiten), maka djika kepalang tanggung pimpinan jang membimbingnja, sukarlah diharapkan hasil jang baik dari perkembangan masing2nja. Oleh sebab itu rasa persatuan jang memertjikkan udara dan suasana persaudaraan jang harmonis perlu. Tapi tidaklah begitu mudah untuk mentjapai harmoni diantara perlainan jang banjak ragam dan tjoraknja. Untuk ini perlu kedjudjuran dan keichlasan hati serta kegiatan jang tak putus2nja, memperhubungkan jang satu dengan jang lain dalam wudjud dan perbuatan jang njata. Wudjud itu adalah terutama dilapangan kesenian dan kebudajaan umumnja.
Fasal 50 Program Bersama mengatakan: Segenap bangsa jang tinggal didalam daerah R.R.T. adalah sama. Mereka akan membentuk persatuan dan saling membantu diantara mereka sendiri, dan akan melawan imperialis dan musuh bersama, supaja RRT akan mendjadi satu keluarga besar dengan persaudaraan dan kerdja bersama diantara semua bangsa. Menentang nasionalisme jang berperasaan besar (merasa lebih) dan mau meradjalela dan menentang djuga nasionalisme jang sempit dan pitjik. Melarang tindakan jang bersifat diskriminasi, penindasan dan perpetjahan diantara pelbagai bangsa. Segenap bangsa mempunjai kemerdekaan untuk memperkembangkan bahasanja, memelihara atau merobah adat istiadatnja, kebiasaan dan kepertjaan agamanja. Pemerintah Rakjat akan membantu segenap bangsa untuk memperkembangkan pekerdjaan pembangunan dilapangan politik, ekonomi, kebudajaan dan pendidikan.
Demikianlah garis umumnja harus dipedomani agar dalam memperkembangkan usaha dilapangan kesenian, tertjapailah persatuan jang mengandung harmoni, kedamaian dan rasa tenteram dan aman bersaudara. Dengan begitu dapat diusahakan atau ditekan timbulnja hal2 jang tak diingini jang mung| Sebuah gambar seharusnya muncul pada posisi ini dalam naskah. Jika Anda bisa menyediakannya, lihat Wikisource:Pedoman gambar dan Bantuan:Menambah gambar sebagai panduan. |
Pembebasan: Demikian kalimat lukisan Hu Yi-chuan, ialah pembebasan pedjuang rakjat Tiongkok dari belenggu Kuomintang. kin merusak suasana damai dan kerdja-sama itu. Harga menghargai dan hormat menghormati. Hargailah orang lain dan jang ada padanja, lahirnja dan bathinnja agar dengan begitu kamu peroleh pula penghargaan dan penghormatan atas dirimu, lahir dan bathin. Inilah nampaknja sembojan dan pedoman bekerdja bagi setiap orang dan golongan di Tiongkok. Sikap memaksa atau memperkosa atau mentjela atau merendahkan pada orang lain tidak ada sama sekali. Disebut pula dalam fasal 49 antara lain sbb.: Melarang mempergunakan pers untuk tjelaan jang merusak kepentingan negara dan rakjat dan untuk menghasut2 perang. Memberikan perhatian pada penerbitan buku2 dan harian2 umum jang menguntungkan bagi rakjat.
Demikianlah garisan umum jang memang dipedomani oleh para seniman di Tiongkok Baru sekarang. Perhatikanlah pahatan dibawah ini, tjiptaan Wang Lin-yi jang menggambarkan suasana persatuan jang harmonis dan penuh rasa persaudaraan dan saling menghargai dan menghormati diantara suku2 bangsa jang ada di Tiongkok. Persatuan dan Persaudaraan diantara suku2 bangsa di Tiongkok.
Demikianlah, djiwa bebas di Tiongkok itu bukan hendak menerdjang dan meradjalela berbuat sesuka hatinja, mentang2 sudah bebas, tidak. Ia mengadjak kekiri dan kekanan, menerangi kemuka dan menjuluhi orang jang dibelakang, agar bersama2, tetap didalam lingkungan persaudaraan dan persamaan, harga menghargai dan hormat menghormati. Ia merangkup kesekitarnja, membimbing dan menuntun serta mengangkat orang jang hendak djatuh, memberi air pada jang haus dan memberi makan pada jang kelaparan. Jang kepanasan dilindungi dan jang kedinginan diselimuti. Djiwa seni Tiongkok adalah djiwa damai, jang kalau perlu, bersedia menghunus pedangnja untuk menghalau segala apa jang hendak mengganggu kedamaian dan suasana harmonis jang terpelihara dan hendak diabadikan itu, kekal buat selama2nja untuk kebahagiaan dunia dan ummat manusia.
Karena pekerdjaan dilapangan kesenian itu sangat luas dan mengingat pula bahwa Tiongkok adalah negara besar dalam arti rakjatnja bermatjam tjara hidup dan adat istiadatnja dan karena banjak sekali kekajaan didalam perbendaharaan djiwa tiap2 suku bangsa, maka untuk meratakannja itu serta mempertingginja dengan rentjana teratur, bukanlah suatu pekerdjaan mudah, melainkan satu usaha besar jang meminta tenaga besar, perongkosan jang besar, kesabaran dan ketjakapan jang sudah mesti terlatih. Berhubung dengan itulah maka di Tiongkok pekerdjaan dan kegiatan2 dilapangan kesenian dan kebudajaan itu pada ummunja adalah dituntun, terketjuali beberapa rombongan sandiwara jang sudah terkenal. Apakah keadaan serupa itu tidak mengurangi kemerdekaan dan kebebasan djiwa para seniman? Mungkin begitu akan tanja orang. | Sebuah gambar seharusnya muncul pada posisi ini dalam naskah. Jika Anda bisa menyediakannya, lihat Wikisource:Pedoman gambar dan Bantuan:Menambah gambar sebagai panduan. |
Pertemuan Penulis dan Pengarang jang diadakan di Peking pada waktu perkundjungan delegasi dari 14 negeri, jang menghadiri perajaan Ulang Tahun ke-II berdirinja RRT.
Dimuka sekali, jang paling tua ialah delegasi dari Birma seorang pengarang jang sudah berdjuang 50 tahun dengan pena dan jang pakai dasi, tjelana hitam dan badju abu-abu, ialah Ilja Ehrenburg. Setelah kiri dibelakang, dua orang pakai petji, delegasi dari Indonesia, sdr. Armijn Pane dan Barioen A. S.
Hal ini tidak dapat diperbintjangkan setjara sepintas lalu sadja, sebab masing-masing tentu memakai katjamata dan memandang dari sudut pendiriannja. Oleh sebab itu benar tidaknja, baik buruknja ada tuntunan itu, biarlah kita serahkan sadja pada pertimbangan para pembatja masing-masing. Jang kita hendak uraikan sedikit, ialah apa jang telah kita lihat sendiri, dan jang telah kita saksikan itu sangat banjak adanja, mengagumkan dan menadjubkan kita. Tidak heran, sebab Tiongkok adalah negeri dan bangsa jang berkebudajaan ribuan tahun umurnja dan menempuh perkembangannja. Tapi satu pertanjaan, apa sebab dimasa jang lampau tidak begitu banjak jang bangun dan berkembang, umpamanja dimasa regiem Ch. K. Shek? Walaupun kata orang pemerintah nasional, demokratis d.s.b. itu. Diwaktu itu toh elemen-elemen jang sekarang ini sudah ada djuga!? Kenapa tidak hidup dan tidak bangun serta berkembang ......? Karena tak ada tuntunan? Djadi manakah jang lebih penting, persoalan abstrak mengenai demokrasi, kebebasan, keindahan d.s.b. itu dengan tidak atau sedikit sekali mementingkan kenjataan dan hasil jang berharga (artinja berharga dimata dan untuk rakjat) ataukah lebih baik mengutamakan kebangunan dan kegiatan2 serta tjiptaan2 jang berguna dengan tidak mengambil sikap memperkosa terhadap seseorang atau sesuatu? Mana jang penting ......!?
Satu pertanjaan umpamanja jang kami madjukan disekolah tinggi Musik, di Tientsin, kepada mahagurunja: Bagaimanakah maksud saudara mendidik peladjar2 mahasiswa jang berdjumlah lebih dari 4.000 orang (belum terhitung peladjar sekolah menengah)? Kemanakah mereka ini nanti semua?
Pertanjaan itu kami madjukan, setelah mendapat keterangan bahwa para mahasiswa itu dibelandjai oleh pemerintah, alat2nja disediakan, ketjuali alat musik jang mendjadi kesenangan seseorang, artinja bila seorang mahasiswa mengambil vak piano umpamanja, maka jang disediakan ialah piano dan bila ia senang lagi biola, maka biola ini ia beli sendiri sadja. Djawab mahaguru itu: Mengapa saudara2 tanja begitu? Tiongkok toh negeri besar, bangsa besar jang banjak suku2 bangsanja, kebudajaannja berlain2 ...... Untuk memenuhi keperluan masjarakat Tiongkok, djumlah 4.000 itu belum berarti apa2. Terpaksa lagi kami, (mahaguru beserta mahasiswa) sewaktu2 dan berganti2 pergi mengunjungi daerah2 dan disana beladjar pada rakjat dan sebaliknja memberi latihan pula pada pemain2 musik jang ada. Usaha ini harus digiatkan agar dalam tempo jang tidak terlalu lama, kami dapat memenuhi sebahagian dari keperluan masjarakat.
Seterusnja kami tanja lagi. Apakah mahasiswa itu, karena mereka dibelandjai Pemerintah, harus bekerdja semua nanti menurut petundjuk Pemerintah?
Pada umumnja, ja, katanja. Tapi bila ada orang jang mau bekerdja sendiri atau pergi keluar negeri, bisa djuga. Dalam keadaan seperti sekarang malahan lebih baik menurut apa jang diaturkan oleh Pemerintah, sebab diluar belum tentu banjak pekerdjaan. Usaha partikelir tidak banjak, ongkos besar pendapatan kurang. Lain kalau sudah ternama betul. Dan dimana Pemerintah memerlukan tenaga, kita tentu sedia membantu, sebab pekerdjaan itu djuga pekerdjaan kita.
Disini timbul pula persoalan baru. Manakah jang lebih baik, usaha partikelir jang demokratis, tapi tak ada uang, ataukah dituntun oleh pemerintah dan disediakan belandjanja sekali? Soal ini sangat sulit, lebih2 bagi Indonesia. Baik Pemerintah maupun partikelir, kedua2nja sama kekurangan belandja, sebab kekajaan negara ditangan dan dikuasai orang dan modal asing pada umumnja. Membikin gedung sederhana sadja belum tentu sanggup, sekalipun Indonesia terkenal banjak bambunja, banjak kajunja dan banjak segala2nja, sampai kepada kemiskinannja pun banjak sekali ...... Miskin disetiap lapangan. Di Peking ada sekolah tinggi kesenian. Setelah kami kundjungi, sebenarnja adalah tempat latihan, untuk praktek lebih banjak. Teori tentu ada djuga. Jang satu bernama Central Academy of Dramatic Arts dan jang kedua People's Academy of Arts. Mahasiswa jang diterima disana ialah jang sudah tammat sekolah menengah dan sesudah diudji bakatnja untuk kesenian, atau music, menari, bermain tonil atau kepandaian lainnja seperti permainan athletiek, acrobatic dsb. Pengarang2 djuga masuk didalam sekolah tinggi itu.
Djuga dari sekolah2 ini (begitu djuga jang ada dikota2 lainnja) selalu pergi kedaerah2 dan berganti2 untuk beladjar dan memberi peladjaran, sebab sembojan mereka: Dari rakjat, oleh rakjat dan untuk rakjat, djuga dalam hal kesenian dan kebudajaan. Dari itulah didalam sekolah2 tinggi kesenian itu, berbagai matjam tari, alat musik, lagu dan pakaian jang kita lihat. Lagu2 itu sebenarnja banjak jang asli dari daerah, hanja mutunja dipertinggi dan susunannja (komposisinja) dipermodern. Nanti itu semuanja dibawa kembali kekalangan rakjat, diperdengarkan dihadapan rakjat. Dibawah ini kita sadjikan beberapa matjam tari.
Diantara tari2 jang banjak di Tiongkok, adalah Tari Yangko jang paling populer dan sudah tersebar diseluruh negeri. Boleh dikata tari itu hampir serupa dengan berdansa orang Eropah, tapi tidak berpeluk2an. Laki dan perempuan berdiri dalam lingkaran, dua baris, sebaris laki2 dan sebaris lagi perempuan. Jang sering kami dengar, lagu jang dinjanjikan sambil menari itu ialah: do-re-mi-fa... sadja. Mungkin untuk tiap2 daerah supaja mengisi kata2 lagu itu sendiri2. Tapi jang sebenarnja, tari Yangko itu ada lagu untuk mengikutinja jaitu lagu: „Angin Timur-laut” jang sangat hidup dan penuh gembira, mendendangkan sifat2 rakjat Tiongkok jang penuh vitaliteit itu.
Tari dan lagu itu sangat populer diseluruh negeri. Asal mulanja ialah tari dimusim menanam. Untuk mengelu2kan tetanaman, agar lekas tumbuh, berputjuk, bersemi dan menghasilkan buah, sambil memudji2 Kurnia dan kebesaran alam. Kira2 sebaliknja dari mendendangkan anak tidur, maka iramanja itu sangat hidup.
Orang jang sudah berdiri didalam lingkaran dengan dua baris itu, lantas menjanji, kalau tak ada musik dengan tepuk tangan sadja sambil mengutjapkan do-re-mi ...... itu. Dalam menari sambil menjanji itu, dan terus berkeliling pula, laki2 dan perempuan, hanja berkaitan tangan sadja, sampai disiku2, sehingga keduanja lantas berdirinja bersampingan, dengan arah muka jang bertentangan, djadi kalau mereka tidak lurus berdirinja sehingga djedjer betul, bisalah pandang memandang, sambil sama2 menari dan bernjanji. Ada kalanja tidak seluruh lingkaran sekali menari, melainkan sebagian, dan jang sebagian lagi lantas menjanji sadja, sambil bertepuk tangan. Dengan begitu, tari ini dimana sadja bisa dilangsungkan, sedikit orang atau banjak orang, sama sadja. Begitu djuga tidak tergantung betul dari adanja musik. Gerak langkah d.s.b. bisa berganti, asal tetap menurut irama.
Seringkali, distasiun, sambil menunggu berangkatnja kereta api, jang mengantarkan kami, pemuda-pemudi lantas memperlihatkan tari Yangko itu diperron. Malahan diantara tamu jang datang ada djuga jang diadjak ikut, masuk kedalam lingkaran.
Sebagai permainan bisa djuga, umpamanja diantara jang muda2. Ditengah lingkaran lantas disuruh berdiri seorang. Entah karena tidak dapat mendjawab atau menerka jang ditanjakan padanja, lantas harus menari dengan orang tertentu, buat beberapa keliling jang tertentu pula. Dalam pada itu kawan2nja semua menjanji dan bertepuk tangan. Atau jang lain2 itu diam dan jang sepasang itu, sambil menari keliling, menjanji pula dengan pantun2nja sekali.
Tari Yangko ini sudah diperbaharui dan dipermodern. Nampaknja dapat memenuhi keinginan mereka jang ingin menari berpasang2an, dalam mentjari saluran gelora djiwa, tapi tidak mengganggu perasaan, dan tidak terlalu menjolok mata orang Timur.
Tapi bukan tari dan musik sadja jang diteorikan dan dipraktekkan dalam sekolah2 atau jajasan2 kesenian itu, melainkan djuga kombinasi dari keduanja, jaitu kesenian tonil, jang memerlukan lagi tentu pada tjerita2 jang sudah siap. Dengan begitu mendjadi lengkaplah mereka didalam sekolah itu: Kesenian musik, tari, tonil dan pertundjukan, dengan segala keperluan2nja, seperti soal kostuum, schmink, dekor, d.l.l. Istimewa dalam hal kostuum ini keadaan dan tingkat jang telah tertjapai di Tiongkok sudah sangat memuaskan dan mena'djubkan. Betapa tidak! Perbendaharaan djiwa jang begitu besar, pengalaman dan sedjarah jang sudah pandjang sekali serta kekajaan bangsa jang berwarna-warni dengan adanja sekian banjak suku2 bangsa.
Mutu dari kesenian tonilnjapun sudah sampai ditingkatan jang amat tinggi. Sebelum dipertundjukkan satu tjerita dimuka umum, didalam sekolah sudah lebih dulu dilatih, latihan mana dihadiri oleh guru2 dan penulis karangan sendiri. Jang dilatih terutama ialah pembawaan, sehingga pada seorang pelaku itu tidak lagi kelihatan bahwa ia hanja pelaku sadja, melainkan jang mengalami isi tjerita itu, seolah2 hidupnja sendiri. Dari itu mutu permainan selalu tinggi. Para penonton tidak dapat melihat pada pelaku2 bahwa mereka bermain tonil dan sebaliknja para pelaku seolah2 tidak mengetahui bahwa mereka dalam bermain itu ada dipersaksikan oleh penonton jang banjak. Begitu aslinja permainan itu, sehingga kita tak melihat pada orangnja sebagai pemain tapi orang jang hidup dan mendjalankan hidup didalam sesuatu ketika, keadaan dan tempat. Kesadja-an (ik-heid, bukan persoonlijkheid) dari si pemain, jang sering mengganggu, tidak ada. Jang diutamakan hasil, bukan diri. Jang dipertundjukkan bukanlah melulu tjerita2 baru, akan tetapi banjak djuga tjerita2 lama, bentuk lama tapi dengan semangat dan djiwa baru. Dengan begitu tenaga jang terpakai dan perlu pada sekolah2 kesenian itu bukan main banjaknja. Mereka semuanja adalah dibelandjai oleh Pemerintah. Hampir ditiap2 kota ada, dan djikalau kota besar ada jang dua-tiga atau lebih sekolah keseniannja. Inilah semuanja jang berganti2 mengundjungi daerah seluruh Tiongkok dengan nama Barisan Kebudajaan. Diantara mereka jang terpilih, banjak djuga jang pergi kemedan pertempuran. Pekerdjaan ini sudah sedjak lama didjalankan di Tiongkok, jaitu dipihak Kungchantang. Sedjak dari masih berkedudukan di Yen-an dan sebelumnjapun. Sewaktu peperangan dengan Djepang dan achirnja sewaktu mengusir segala tentara Ch K. Shek dari bumi Tiongkok, Barisan Kebudajaan ini adalah mengambil bagian jang tidak ketjil dalam perdjuangan.
Bukan hanja seniman2 sadja jang ikut dalam barisan itu, tapi djuga pengarang2 dan penjair2. Sebagaimana para seniman mempersembahkan hasil seninja untuk rakjat, maka para pengarang dan penjairpun semuanja berusaha untuk menghasilkan tjiptaan2 jang dimengerti oleh rakjat, perlu bagi rakjat dan mendjadi kesenian rakjat jang sungguhnja. Dalam perdjalanan mengelilingi daerah2 itu, atau dalam perkundjungan ketempat2 rakjat bekerdja, terutama rakjat buruh dan tani, para pengarang dan penjair itu mengikuti kehidupan rakjat. Dengan begitu dapatlah mereka memahamkan bahasa rakjat, gerak djiwa dan suara hati rakjat dan dapatlah mereka mendjadi penterdjemah dari segala perasaan dan tjita2 rakjat. Djadi sembojan dan pedoman jang diberikan oleh Ketua Mao dalam soal kesenian dan kebudajaan, sungguh2 mendjadi praktek dari para seniman setiap hari, jaitu sembojan: Dari rakjat, oleh seniman rakjat dan untuk rakjat.
Kesenian dan kebudajaan memang telah memegang peranan jang sangat penting dalam pembangunan masjarakat dan manusia baru di Tiongkok sekarang. Salah satu tjontoh jang menggambarkan sifat luhur jang dipegang oleh peranan seni itu, dibawah ini kita kutipkan sedikit dari karangan Chai Chuan-jo, jang berkepala: „Tawahan orang Amerika”, jang menggambarkan adanja peri kemanusiaan pada tentara rakjat, sekalipun mereka berada ditengah2 api peperangan, karena itu harus bersikap keras, sedia membunuh dan dibunuh. Bunjinja seperti berikut : "Orang Amerika sama tidak mengerti tentang politik tawanan dari Tentara Rakjat Sukarela, seperti djuga halnja dengan pasukan Syngman Rhee, jang tidak ada pula pengertiannja tentang keadaan jang sebenarnja di Korea; sebenarnja mereka telah dibikin bodoh oleh dusta kaum imperialis Amerika jang mengatakan bahwa: Mendjadi tawanan itu sama artinja dengan mati.
Sewaktu orang kita menjuruh para tawanan berkumpul dengan beberapa isjarat, maka mereka saling memandang satu pada jang lain, dengan ketakutan. Malah beberapa diantaranja telah menggerak2-kan lehernja mendjadi pandjang, dan dengan menutup mata mereka mengambil sikap putus asa sebagaimana sikapnja orang jang menunggu sa'at lehernja dipenggal. Ada pula jang tidak mau berkumpul seolah2 hendak berkata: Bunuh sadjalah kami disini, biar lekas selesai. Hanjalah sesudah didjelaskan betul pada mereka bagaimana sebenarnja politik kita terhadap orang2 tawanan, maka merekapun mulai merobah sikapnja jang menertawakan itu. Sajang, kita tidak mempunjai banjak djuru bahasa, sehingga seringkali kita membikin mereka mengerti dengan djalan memberi isjarat dan tanda2 sadja. Mula2 kita tundjukkan gerak "membunuh" jang segera diikuti dengan gerak "geleng kepala". Tentara kita memberi mereka makanan apa jang paling baik ada. Air direbus untuk minuman mereka dan untuk mentjutji muka mereka. Dengan lambat laun mereka menginsjafi politik kita jang sebenarnja dan sesudah itu barulah mereka mulai gembira dan segera mendjalankan kereta berbagai matjam dan model bikinan Amerika sendiri jang telah kita dapat.
Seorang tawanan luka parah dan telah kehilangan banjak sekali darahnja. Ternjata lukanja itu menimbulkan kesakitan jang tidak terperikan. Berulang2 ia ulurkan tangannja dan mengerang: "Tan — bai ......" (perkataan Korea jang artinja rokok). Salah seorang djuru rawat kita jang masih muda, sebaik mengetahui bahwa dengan rokok, sakitnja bisa terasa berkurang bila merokok, maka lantas menggelinting sigaret beberapa lusin. Setiap kali tawanan Amerika itu telah menghabiskan sebatang, djururawat wanita kita itu lantas mengambil jang lain, diberikannja kedalam mulutnja dan dipasangnja dengan hati2 sekali.
Kepala seksi jang mengurus tawanan itu tahu bahwa orang jang luka parah tidak bisa memakan makanan biasa, maka segeralah disuruhnja menjediakan makanan istimewa jang lunak2. Pun diberikannja berganti2 kopi dan tjoklat ......
Seksi jang dikepalai oleh sdr. Chang Kuang-yu itu memelihara sebelas orang tawanan. Djururawat dan tukang masak kita memandang pada mereka sama dengan tentara kita sendiri. Untuk menjatakan rasa terima kasih dan sjukur mereka, sering mereka memegang erat2 tangan tentara sukarela kita, seolah2 mereka tidak mau berpisah lagi. Datanglah waktunja resimen kita mesti madju menudju garis lintang 38°, dan komandan resimen, sdr. Chiao Chun datanglah mengutjapkan selamat tinggal. Dengan perantaraan dua djurubahasa, satu dari bahasa Tionghoa kebahasa Djepang dan jang lain (tawanan orang Korea Selatan) dari bahasa Djepang kebahasa Inggris, ia tjoba mendjelaskan pendirian tentara rakjat sukarela kita, sebagai berikut: „Saudara2 bangsa Amerika jang kami sajang! Kami, tentara sukarela rakjat Tionghok adalah berdjuang untuk melindungi Tanah Air kami, untuk perdamaian di Timur Djauh dan perdamaian seluruh dunia. Kami menentang serbuan imperialisme Amerika di Korea dan agresi jang akan memulai perang baru oleh penghasut2 perang dari Wall Street. Rakjat Tionghok dan Korea bersama2 dengan seluruh bangsa didunia jang mentjintai perdamaian akan memukul tiap2 serangan jang dilakukan oleh imperialisme Amerika. Tapi kami tidaklah bermusuhan dengan rakjat Amerika. Tuan2 telah diperbodoh oleh penghasut2 perang dari Wall Street jang telah menghalau tuan2 kemedan perang Korea untuk didjadikan umpan meriam. Kami merasa sajang sekali akan hal itu. Kami harap tuan2 dapat bangun lagi dan menentang kaum imperialis Amerika jang mendjadi musuh bersama dari seluruh peri kemanusiaan ........”
Satu per satu kata2 itu telah mengenai hati kaum tawanan Amerika itu. Inilah buat pertama kali mereka mendengar kata2 seperti itu dan mereka telah mendjadi insjaf dan tidak ragu2 lagi. Sampai djuga jang mendapat luka paling berat mengusahakan dirinja untuk duduk baik2 dan mengutjapkan banjak2 terima kasih pada Tentara Sukarela kita. Mereka menjatakan kechawatirannja bahwa mereka akan menderita, akan mati, bila ditinggalkan.
Berhubung dengan itu diadakanlah konperensi dengan pembesar2 Korea dan putusannja disampaikan pada para tawanan, sebagai berikut: 1. Keselamatan para tawanan didjamin 2. Makanan dan perlindungan didjamin. 3. Tentara Korea Utara dan Sukarela Tionghok diminta menjediakan obat2an jang perlu untuk menjembuhkan luka2 mereka.
Sebagai tambahan maka Tentara Sukarela Rakjat Tionghok memberikan lagi pada tiap2 tawanan itu tigaratus uang Korea sebagai uang saku mereka. Mendengar ini para tawanan dengan perasaan tenteram berpisahan dengan tentara sukarela.
Seorang serdadu tawanan jang sudah tua, bernama Thomas, terbaring sadja karena lukanja jang parah. Ia usahakan dirinja buat mengutjapkan beberapa kata. „Saja sudah 18 tahun dalam dinas”, katanja, „dan sudah pergi keberbagai medan perang, tidak kurang dari 20 negeri jang telah saja ikuti sebagai tentara dan sudah menjaksikan banjak pertempuran2, tapi belum pernah saja djumpai tjara dan semangat berdjuang seperti tuan2. Dan sesungguhnja belum pernah saja lihat tentara jang memperlakukan tawanan seperti tuan2. Saja tidak akan pernah bisa melupakan tuan", katanja lagi sambil berusaha meluruskan badannja untuk bersalaman, matanja telah penuh berlinangan, menetes air mata dengan tidak tertahan lagi ............
Pada waktu tentara Amerika madju menudju sungai Yalu, mereka tidak mengerti tentangan politik tawanan kita, karena itu sedikit sadja jang berani menjerah. Oleh hal jang demikian maka pada perkelahian2 kita jang pertama pihak kita telah membinasakan atau melukai tiga kali lipat banjaknja daripada sekarang, dibandingkan dengan djumlah jang kita tawan. Tapi tentara sukarela rakjat Tiongkok dengan perlahan2 telah memperbanjak djumlah orang2 tawanan setelah banjak melampaui kesukaran2 dan hal ini adalah mengingat dasar ksatria jang ada pada kita, keadilan jang revolusioner.
Banjak diantara tawanan2 jang terdiri dari orang2 Amerika, Mexico, Turki dan Filipina, jang ditawan sesudah perkelahian jang seru, sebab mereka telah terpengaruh oleh slogan imperialis Amerika: „Kamu berdjuang di Korea adalah untuk melaksanakan keputusan Persatuan Bangsa2 madju sampai garis lintang 38° dan kemudian kembali kerumah pada hari Natal." Mereka tidak merasa akan kepalsuan propaganda seperti itu dan karena itu bersedia pergi untuk mendjadi umpan pelor di Korea hanja dengan pembajaran 3 dollar sehari. Kira2 sebulan sesudah mereka berkenalan dengan kita, barulah mereka mengerti. Let. Kol. Clark Campbell jang berpangkat tinggi sebagai penasehat didalam Divisi ke-VII, Tentara ke-II dari angkatan perang Korea Selatan Boneka, menerangkan: „Saja merasa beruntung mendjadi tawanannja Tentara Sukarela Rakjat Tiongkok, sebab saja telah merasakan kenjataannja bahwa tuan2 telah memberikan kami perlakuan jang sebaik2nja didalam kekuasaan tuan2. Kita berdiam didalam rumah jang serupa dengan tuan2 dan memakan makanan jang sama pula; tidak ada diantara kami jang merasa diperlakukan tidak baik. Banjak hal2 jang saja djumpai jang sebelum tertawan saja anggap sebagai suatu hal jang mustahil adanja.
Waktu ditanja, siapakah jang bertanggung djawab atas adanja perang ini, mereka semuanja mendjawab: „Mac Arthur; anaknja andjing betina itu tinggal beratus mil dari front, sedangkan kita harus mati untuk kaum kapitalis. Kerdjanja tidak lain daripada minum2 anggur dan berdansa2 di Djepang. Kami harap, tuan2 dapat menangkap anak liplap itu untuk menghadjarnja."
Demikian perkataan mereka. Tentara Sukarela Rakjat Tiongkok telah mendjawab „offensif tahun baru" Mac Arthur dengan memberi pukulan2 jang djitu kepada tentaranja dan tentara boneka Syngman Rhee sehingga tidak bisa pulang kerumah sesudah tiba waktu hari Natal.
Karena sangat merasa terharu oleh perlakuan tentara kita jang baik terhadap para tawanan itu seorang diantara serdadu Amerika jang tertangkap, dengan sukarela telah mengirim surat jang mengandjurkan supaja kawan2nja jang masih berdjuang lebih baik menjerah sadja. Sebelum suratnja diteruskan, dilain medan pertempuran telah menjerah pula sedjumlah besar tentara Amerika. Lebih dari duaratus orang dari resimen XIX dari Divisi XXIV melemparkan senapannja dan meluntjurkan badannja kedjurusan pihak kita. Sesudah itu mereka menaikkan bendera putih dan dengan barisan jang teratur mereka datang. Tapi sekonjong2 datanglah pesawat2 pembom Amerika jang lantas menembaki mereka dengan senapan mesin. Inilah salah satu puntjak kedjahatan jang melekat pada kebiadaban kaum imperialis jang ganas itu. Tetapi mereka telah tetap untuk menjerah dan dengan berpentjar mereka sampai ditempat kita. Hanja seratus sembilan orang jang terlepas, semuanja jang lain itu telah mati atau luka oleh tembakan pihak mereka sendiri".
Demikianlah sedikit kutipan dari karangan Chai Chuan-jo, sebagai hasil dari perkundjungannja dan ikut sertanja didalam barisan sukarela rakjat. Kalau rakjat pergi kemedan perang, pengarang dan penjairpun ikut, sebagaimana halnja dengan seniman2 lainnja. Tidakkah djelas tergambar pada tulisan jang dikutip itu bahwa rakjat Tiongkok bukanlah berperang karena untuk perang sadja dan kalau bisa mereka tidak usah membunuh orang malahan memelihara dan menjantuni orang jang kesukaran dan menderita dalam pertempuran. Dengan rasa perikemanusiaan jang melimpah2 disertai tjinta kasih, mereka mentjoba mendapat kemenangan, disamping kesediaan dan keberanian untuk menghadapi musuh dengan bajonet terhunus, sehingga kelebihan persendjataan Amerika jang digembar-gemborkan itu tidaklah dapat memaksa Korea Utara dan Sukarela Tiongkok tunduk begitu sadja dalam tempo tertentu sebagaimana diharapkan oleh „offensif tahun baru MacArthur”, jang telah terbukti hanja angan2 dan impian belaka dari seorang jang telah dimabuk oleh bau bangkai manusia dan darah mengalir dimedan pertempuran.
Pun karangan Chai Chuan-jo itu memperlihatkan pada kita adanja didikan dan latihan djiwa-budaja, dimana digambarkan Amerika adalah musuh jang sebesar2nja akan tetapi disamping itu rakjat Amerika sebagai manusia adalah disajangi, ditjintai dan dipelihara, seolah2 pengarangnja hendak berkata pada rakjat Tiongkok: Amerika sebagai musuh ada beda dengan orang Amerika sebagai manusia. Jang kita musuhi ialah jang berbahaja bagi kita dan bagi perdamaian dan peri kemanusiaan, jaitu imperialis jang ganas dan buas, sedangkan orang Amerika sebagaimana halnja dengan semua bangsa didunia adalah teman dan saudara kita, bila mereka mendatangi kita sebagai saudara. Persaudaraan dan berdjabatan tangan diantara semua bangsa jang tjinta damai, biarpun berlainan faham, susunan politik, tata negara, agama, warna kulit, iklim, kekadjaan alam d.s.b. ...... Mungkin ada diantara pembatja jang lantas mengatakan: Itu bukan seni lagi, bukan kesusasteraan jang baik d.s.b. Terserahlah! Memang Tiongkok sekarang tidaklah lagi Tiongkok dahulu. Dengan meninggalkan dunia dan anggapan lama, iapun hendak mengutjap-kan selamat tinggal kepada faham dan ukuran lama jang terlalu terikat pada norm, definisi, pikiran dan pandangan lama ...... jang beku dan kaku, jang bersandar pada huruf dan rangkaian kata2 belaka, karena itu mati, lemah dan tidak berdiwa, miskin, merana dan menderita. Menderita oleh karena „tingginja", jang dikatakan orang, „kemadjuan dan peradaban internasional", ditiup dan dihembuskan oleh hawa dan nafsu dari Barat keseluruh podjok dunia. Tiongkok Baru hendak memulai hidup baru, lepas dari anggapan dan faham2 lama jang terikat dan mengikat dia, mau bebas dan giat mentjipta, segala apa jang berguna dan mungkin mendatangkan bahagia dan mempertinggi hidup serta memperindah kehidupan ini, sehingga ia bukan siksa lagi seperti sediakala dan selama ini, melainkan sentosa dan gembira. Hidup bukan derita, tetapi hidup ini adalah bahagia ...... bukan bagi setengah orang sadja melainkan bagi seluruh ummat manusia. Manusia ditjiptakan kedunia ini adalah paling mulia diantara segala machluk, dan berlain2 satu sama lain, adalah untuk berkenalan dan bergaulan baik diantara sesamanja, tidak untuk tjakar2an dan bunuh membunuh seperti chewan. Manusia-budaja, dalam arti kata jang sebenarnja ...... mungkinkah Tiongkok akan memelopori dunia? Entahlah, tapi kerdja sungguh2 dengan niat jang baik sudah kelihatan disana. Mengabdi untuk rakjat, untuk seluruh peri kemanusiaan berwudjud njata dalam kenjataan dan kehidupan sehari2. Bukan seni untuk seni melainkan seni adalah djuga untuk tjita2. Tiadalah kehidupan seni dengan tidak adanja manusia dan manusia itu tidaklah terpisah dari ke-manusia-annja, tidak mesti lari daripadanja, dan turun merendahkan diri mendjadi binatang atau melambung tinggi keawang2, di langit jang ketudjuh, tempatnja bersemadjam iblis dan sjeithan, mambang dan peri ................
Pekerdjaan maha besar dilapang kesenian di Tiongkok adalah dilaksanakan oleh tidak kurang dari 400 Barisan (rombongan) Kebudajaan, masing2 lengkap dengan pemain disegala lapangan, djuga pengarang, pelukis d.l.l. Ini adalah menurut angka dari tahun 1950 dan seniman segala rupa jang ikut serta didalamnja tidak kurang dari 40.000 orang djumlahnja. Mereka mengunjungi rakjat, beladjar dari rakjat untuk kemudian memberi pimpinan dan tutunan pada rakjat, sehingga meratalah hasil kesenian itu dikalangan rakjat, mendjadi kepunjaan rakjat dan kesenian rakjat jang sesungguhnja.
Dalam rombongan jang 400 itu belumlah termasuk sekolah2 tinggi, jang kadang2 djuga pergi mengunjungi daerah2. Dimana sadja rakjat berada, bekerdja dan berdjuang, disitu sudah datang pula rombongan kesenian. Soal ongkos dsb. adalah ditanggung oleh pemerintah. Dari djurusan inipun, adalah uang rakjat itu dipergunakan untuk keperluan rakjat pula bukan untuk kesenangan dan kemewahan beberapa gelintir manusia, sekalipun kebetulan mendjadi pemimpin, pembesar agung dan pegawai tinggi, kebetulan ikut menompang dalam revolusi dengan bitjara dan omong semata.
Selain dari rombongan itu ada pula pertundjukan film. Di Tiongkok ada 7 buah filem studio. Empat diantaranja dipunjai oleh partikelir dan tiga kepunjaan pemerintah. Dua pertiga dari keperluan Tiongkok sudah dapat dipenuhi oleh ketudjuh studio itu sedang jang kekurangannja didatangkan dari luar negeri. Gedung pertundjukan bioskop ada 206 buah kepunjaan pemerintah, 251 kepunjaan partikelir dan 10 buah dipunjai bersama2 oleh pemerintah dan partikelir. Gedung pertundjukan untuk kesenian berbagai rupa ada 152 buah disebelah selatan dan 82 buah disebelah utara, dengan mengambil batas Tembok Besar.
Kalau kita melihat pembangunan gedung2 di Tiongkok (pekerdjaan ini berdjalan dengan pesatnja) maka terutama adalah teruntuk bagi: 1. industri 2. gedung sekolahan dan 3. gedung kesenian dan kebudajaan. Gedung2 besar jang ada, djuga terutama dipergunakan untuk keperluan2 jang tersebut tadi, ditambah lagi untuk keperluan kantor2 pemerintahan. Gedung besar untuk djadi rebutan diantara para pembesar tinggi atau pemimpin besar d.s.b. tidak kita djumpai di Tiongkok. Kepentingan seseorang harus mengalah bila berhadapan dengan kepentingan umum, sekalipun orang itu kebetulan pembesar tinggi, tertinggi atau maha tinggi. Betul pula, bila dipikir pandjang2, sebab betapapun tingginja posisi seseorang, toh dia itu tidak ada guna dan tidak ada arti bila umum (rakjat banjak) tidak ada, malahan adanja posisi tinggi dan maha tinggi itu ialah karena adanja rakjat, untuk keperluan dan kepentingan rakjat. Zonder rakjat apa bisa ada pangkat dan kedudukan tinggi? Pembesar untuk rakjat, pemimpin untuk rakjat, dan bukan sebaliknja: rakjat untuk dikuda2 pemimpin dan pembesar guna kepentingan dan kesenangannja sendiri, perdjuangan rakjat ditjatut dengan mulut besar, pidato kanan kiri, berteriak diatas podium, memberi wedjangan, amanat, uraian juridis, wetenschappelijk, staatsrechtelijk dengan alasan pokrol bambuisme, pura2 bersemangat revolusioner, pelopor revolusi, bapak rakjat d.s.b. tapi bila ada perdjuangan lebih dulu lari dan menjerah kalah atau bila ada damai hanja tahu bikin rentjana muluk2 jang tak pernah djalan, karena kekurangan ahli, modal, alat d.s.b. jang ber-standing internasional, bukan ahli jang dapat bekerdja dikalangan rakjat dan bersama rakjat, bersedia mengikuti susah senangnja rakjat, pahit manisnja penanggungan rakjat.
Dalam soal pemakaian gedung2 sadja, kita sudah dapat melihat di Tiongkok bahwa jang diutamakan ialah kepentingan umum, bukan kepentingan orang, golongan atau partai. Seperti istana Ch. K. Shek di Nanking adalah dipergunakan untuk kepentingan sekolah tinggi dan maha siswa-nja, tamannja didjadikan tempat penanaman bibit dan tumbuh2an jang berguna bagi fakulteit kedokteran dan kimiah. Gedung pertemuan dan tempat bersenang² kaum berkuasa dizaman diktatur Kuomintang reaksioner, sekarang didjadikan Lembaga Kebudajaan Buruh, dengan segala matjam usaha, pekerdjaan dan pendidikannja. Tjukup memberi kesan bahwa dunia lama memang hendak dirombak mendjadi dunia baru jang dihuni dan didiami oleh manusia baru jang berfaham dan pendirian baru. Tidak ada satu pembesar di Tiongkok jang mempunjai rumah gedung jang besar, seperti dizaman Ch. K. Shek dulu. Tidak ada main istana²an atau presiden²an jang ada menurut setahu kami di Peking, ibu kota, ialah kedudukan Pemerintah Rakjat Pusat.
Pemantjar² radio jang tidak djuga kurang pentingnja bagi memadjukan kebudajaan baru, banjak sekali di Tiongkok. Dari djumlah 83 pemantjar, ada 32 jang dipunjai dan diusahakan oleh partikelir dan 51 buah diurus oleh pemerintah sendiri. Dalam mempertinggi faham dan keinsjafan rakjat akan suasana dan keadaan baru, pemantjar² radio itu memegang peranan jang besar sekali. Pendidikan setjara besar²an meliputi penduduk kota terutama, banjak sekali didjalankan dengan perantaraan tjorong radio. Gerak badan, sport d.l.l. banjak dipimpin dan dikendalikan dengan perantaraan radio. Dengan begitu, kemadjuan itu lekas meningkat dan merata.
| Sebuah gambar seharusnya muncul pada posisi ini dalam naskah. Jika Anda bisa menyediakannya, lihat Wikisource:Pedoman gambar dan Bantuan:Menambah gambar sebagai panduan. |
1. SOAL PENDIDIKAN.
Mass-education (pendidikan massa) adalah soal jang sangat penting dan dipentingkan di Tiongkok. Masjarakat lama tidak akan terangkat ketingkat baru jang lebih tinggi, bila rakjat jang terbesar djumlahnja tidak diangkat lebih dulu, bisa menjamai atau mendekati peil jang telah dipunjai oleh golongan lainnja. Kejakinan inilah nampaknja jang mendjadi pedoman dan dorongan untuk melakukan mass-education itu setjara sungguh2.
Bagi pelaksanaan mass-education itu, penduduk dibagi empat. Pertama golongan tjampuran, terdiri dari orang tua dan muda, guru2, pegawai2 lama, saudagar, pekerdja lainnja. Untuk mereka terutama dikursuskan keinsjafan dan pengetahuan tentang keadaan baru dan tudjuan revolusi. Dalam tahun 1950, kursus2 sematjam ini telah mempunjai djumlah kursis sebanjak 500.000 orang.
Kedua ialah golongan pemuda, jang masih bersekolah dan jang tadinja terhenti peladjarannja karena perdjuangan, dan sekarang berkumpul lagi dengan teman2nja menghadapi peladjaran. Tudjuan didikan mereka terutama ialah untuk menginsjafkan dan mengumpulkan mereka didalam satu organisasi jang diberi nama Lembaga Pemuda Demokrat Tiongkok Baru. Pada akhir tahun 1950, 25% dari seluruh peladjar sudah tergabung didalam organisasi tersebut.
Ketiga ialah golongan buruh dan penduduk kota lainnja. Mereka ini dididik diluar pekerdjaannja sehari2 dengan maksud agar deradjatnja sebagai manusia bertambah tinggi, terutama dalam soal pengetahuan dan kebudajaan. Barang tentu diantara mereka masih banjak jang harus beladjar membatja dan menulis dulu. Di tahun 1950 pendidikan seperti ini telah dapat menaikkan deradjat dan pengetahuan sedjumlah buruh jang banjaknja antara 600 sampai 800.000 orang. Didalamnja belum terhitung jang mendjadi peladjar dalam sekolah2 jang sengadja diadakan untuk kaum buruh, jang dinamakan spare-time-schools. Waktu istirahat atau dimana temponja terluang kaum buruh itu masuk dalam sekolah2 jang sudah tersedia dan teruntuk bagi mereka. Djumlah sekolah seperti itu jang sudah ada di tahun 1950, tidak kurang dari 14.000 buah.
Ke-empat ialah pendidikan untuk kaum tani. Mereka ini djuga masuk sekolah dimasa pekerdjaan tidak terlalu berat, atau waktu malam. Di musim dingin mereka banjak sekali tempo terluang untuk beladjar. Dari itu sekolah2 mereka dinamakan Winter-study-groups. Laki2 dan perempuan, tua dan muda, ikut beladjar membatja dan menulis. Hasil jang sudah ditjapai dalam tahun 1950 memang belum besar, bila dibandingkan dengan banjakna kaum tani di Tiongkok. Djumlah jang ditjapai baru 12 djuta orang. Adanja sistem kader, djumlah ini akan tjepat melompat2, tiga, empat dan 5 kali lipat sebab seseorang jang sudah pandai, wadjib mengadjari kawan disekitarnja dan bertanggung djawab atas kemadjuan mereka.
Sekarang bila kita berkundjung ke desa2 di Tiongkok, nistjajalah akan kita lihat ditjap2 desa itu satu tempat, dimana kaum tani dapat membatja bersama2 atau memindjam buku. Selain buku2, djuga surat kabar dan madjallah. Pekerdjaan mendidik rakjat tani ini bukan hanja dikerdjakan oleh pemerintah, melainkan djuga oleh perkumpulan dan partai2. Terutama Serikat Tani jang tentu ada ditiap2 desa, memikul tanggung djawab jang berat djuga dalam soal pendidikan tani ini. Dengan rakjat jang buta huruf, bagaimana mau berpolitik, mengatur negara dan mendjalankan pemerintahan dengan berhasil, begitu kata seorang pengurus, waktu kita bertjakap2 dengan mereka disatu desa. Deradjat Tiongkok tidak akan naik, bila tingkat rakjat taninja terutama, tidak bertambah tinggi, sebab mereka adalah sendi bangsa dan tiangkehidupan masjarakat, katanja lagi.
Kewadjiban Pemerintah Rakjat dilapangan pendidikan dan kebudajaan ialah :
- Membimbing dan meninggikan tingkat kebudajaan rakjat.
- Melatih rakjat untuk pembangunan negara.
- Menjapu bersih segala ideologi jang reaksioner: ideologi feodal, ideologi komprador dan ideologi fascis.
- Menanamkan ideologi jang mengabdikan diri pada kepentingan rakjat.
Jang nomor empat itulah terutama perpegangan. Ideologi jang tidak usah menimbulkan perang saudara, tjakar2an, tuduh menuduh dan tangkap menangkap. Pengabdian kepada kepentingan rakjat. Ini dapat mendjadi tali pengikat, sekalipun faham berlainan, agama tidak sama, bentuk organisasi tidak serupa. Sebaliknja, betapapun muluknja bentuk, susunan dan merk atau nama, kalau tidak ada isi dan hasil untuk rakjat, gunanja apa? Rakjat tidak dapat mengambil faedah daripadanja. Bukan sadja pikiran dan pendapat ini dianggap betul untuk bangsa di Tiongkok sadja, tapi djuga untuk bangsa2 seluruh dunia, sebagaimana pernah dinjatakan oleh Chou En-lai dalam satu pertemuan dengan delegasi2 jang telah berkundjung ke Peking itu. Bagi seluruh suku bangsa di Tiongkok, pikiran itu sudah mulai dan sedang dilaksanakan perwudjudannja, sekarang ini. Faham kesatuan di Tiongkok karena itu sudah lebih madju kita lihat. Jang dianggap satu kesatuan itu bukan golongan lagi, atau partai, atau suku d.l.l. lagi jang ada dalam masjarakat manusia, melainkan jang dipandang satu dan bisa satu dan harus satu menurut tingkatan kemadjuan dunia sekarang, ialah negara dan rakjatnja semua. Berabad2 lamanja manusia telah menempuh kemadjuan, manusia jang pada mulanja hanja mengenal keluarganja, sukunja dan golongannja, lambat laun telah mengenal dan membentuk kesatuan jang lebih besar dan luas dalam pergaulan hidup, hingga tertjapailah jang dinamakan sekarang ini negara dan bangsa. Orang sudah lama mengenal bangsa, membentuk negara, tapi sampai sekarang belum atau hampir tidak ada jang konsekwen mempertahankan hasil pikiran dan bentukannja itu. Didalam satu negara, didalam satu bangsa, tindas menindas masih berlaku, tjakar²an, bunuh membunuh setjara halus dan kasar, bermusuhan satu sama lain, jang lain golongan dan partainja dianggap dan dipandang lain, diperlakukan sebagai lawan dan musuh, sekalipun diteriakkan keluar bahwa mereka adalah satu bangsa dan jang berdiam dalam satu negara takluk pada hukum dan undang² jang sama. Bermatjam² hukum diatur, undang² diadakan, mengenai pergaulan didalam negara, pergaulan diantara bangsa² dan negara² (hukum nasional dan internasional) tapi semuanja hukum itu tidak ada jang menentukan bahwa satu bangsa dan negara itu adalah kesatuan, jang tidak terpisah², dan bahwa tudjuan membentuk negara itu adalah untuk mengumpulkan jang selama ini bertjerai berai, supaja hidup bersama didalam satu kesatuan, tolong menolong dan bantu membantu karena telah satu bangsa. Filsafat hukum dan filsafat negara, sudah banjak dikadji dan berdasarkan pengadjian itu dibentuklah kekuasaan politik. Kesemuanja itu, hingga kini, belum atau hampir tidak ada jang sanggup mendjamin adanja kedamaian, persatuan dan kerukunan didalam satu bangsa dan satu negara sadja pun. Djangan diimpikan lagi buat seluruh dunia! Adanja perlainan diakui dan ditondjol²kan, sehingga menimbulkan pertentangan dan perdjuangan, sampai permusuhan kadang², dialami dalam kenjataan hidup sehari², padahal dialam raja ini terbentang segala apa sadja jang tidak, jang kesemuanja itu tidak sama, satu sama lain berbeda. Toh alam ini damai djuga, dari bumi sampai ke tjakrawala jang penuh dengan djutaan bintang², satu sama lain berlain², bentuknja, besarnja dan perdjalanannja pun. Alam ini ditjiptakan memang dengan perlainan, dan perlainan itu dimaksudkan agar manusia dapat mengambil manfa'at daripadanja, mendjadi rachmat. Tapi sekarang seolah² atau sesungguhnja mendjadi laknat (bagi sebagian besar ummat), hanja karena pikiran dan perbuatan manusia djua.
Djiwa Tiongkok Baru memang akan disuruh mengenal segala apa jang berlainan dan bertentangan, tapi bukan supaja dengan perkenalan itu lantas ganggu-mengganggu dan bermusuhan, tidak. Diterangkan apa jang sebenarnja musuh, disamping mendjelaskan siapa jang mendjadi kawan, sahabat dan saudara. Didalam lingkungan rakjat Tiongkok sendiripun, hal itu didjelaskan, tidak disembunji²kan. Terus terang, ini musuh, ini tidak. Amerika adalah musuh, tapi didalam Amerika itu ada djuga kawan. Tiongkok bisa satu dan harus satu, dunia bisa satu dan harus satu ............... Dasar pikiran dan pandangan ini adalah mendjadi pedoman bagi mendjalankan pendidikan guna pembentukan djiwa baru di Tiongkok. Lingkungan jang harus ditjapai sekarang djuga, paling ketjil ialah jang meliputi seluruh rakjat Tiongkok, dengan tidak memandang partai apa, golongan mana, suku bangsa apa d.s.b. Seluruh Tiongkok dan jang ada didalamnja harus berdjiwa satu sadja, sedang pakaiannja boleh bermatjam-matjam. Jang senang putih, pakailah pakaian putih, dan jang senang merah atau biru, pakailah jang merah dan jang biru. Apakah pakaian itu djuga harus sama, harus satu? Itu soal nanti. Bergantung pada kemadjuan dan perkembangan djiwa baru itu sendiri. Bila seluruh Tiongkok nanti menghendaki hanja warna merah sadja atau warna putih sadja, siapakah jang dapat menghalanginja? Sebaliknja bila dari sekarang dipaksakan agar semua orang harus berwarna hidjau sadja umpamanja, keuntungankah atau kerugian jang akan diperdapat? Setidak-tidaknja kekatjauan akan timbul, sebagaimana halnja djuga, bila orang telah mulai tjela mentjela, jang satu mengatakan: Merah itu tidak baik, dan jang lain berseru pula: Hidjau itu adalah berbahaja. Tjorak atau aliran atau faham, bila karena dipaksakan maka dianut orang, atau dikatakan sadja telah menganut aliran tertentu pada hal sebenarnja tidak, maka itu adalah seperti memaksakan masaknja sepotong daging, aturan setengah djam, diburukan lima menit sadja, maka dari luar mungkin masak kelihatannja, sedang sebenarnja didalam masih mentah dan berdarah. Bila dimakan tentu sakit perut.
Jang terang bisa dan tidak berbahaja ialah: Seluruh rakjat harus berdjiwa Tiongkok, tjorak Tiongkok, semangat Tiongkok, dan bekerdja untuk kepentingan Tiongkok, kebesaran Tiongkok dan kekuatan Tiongkok. Didikan Tiongkok, Kebudajaan dan Kesenian Tiongkok, Ekonomi Tiongkok, Pemerintah Tiongkok, politik djuga Tiongkok. Ini bisa dan inilah jang didjalankan sampai sekarang sedjak terusirnja kaum dan kekuasaan reaksioner Kuomintang jang monopoli itu, jang tidak sedikitpun memikirkan nasib Tiongkok dibelakang hari dan hanja mengharapkan rachmat dan bahagia dari imperialis Amerika, dalam pada itu membunuh dan meniadakan segala apa jang berharga dan mempunjai tenaga untuk pembelaan dan kebangunan Tiongkok jang merdeka.
2. PERGURUAN TINGGI.
Orang barangkali akan menjangka bahwa dengan perginja bangsa asing dari Tiongkok, perguruan tingginja akan kutjar-katjir, lebih2 mengingat bahwa dimasa jang lampau beberapa sekolah tinggi disana ada diurus oleh bangsa asing melulu dan mahaguru bangsa asing banjak di-sekolah2 tinggi lainnja. Tapi keadaan jang sebenarnja sekarang adalah sebaliknja. Perguruan tinggi madju pesat, malahan lebih baik lagi keadaannja bila dibandingkan dengan keadaan dahulu. Sekolah tinggi bukan bertambah kurang, tapi bertambah banjak.
Menurut angka tahun 1950 djumlah sekolah tinggi jang sudah berdjalan ada 235 buah dengan mahasiswa tidak kurang dari 145.000. Djumlah ini ditahun 1951 ini bertambah besar, karena keadaan sudah semangkin stabiel dan peladjar2 dari daerah2 sudah bisa mengalir keperguruan tinggi, ditambah lagi kedatangan para peladjar dari luar negeri, baik perantau Tionghoa maupun bangsa asing sendiri. Ditempat jang tidak kita sangka2 pun ada sekolah tinggi, seperti di Hangchow, satu kota jang indah terletak ditepi (sekitar) danau jang sudah diperindah bentuknja dengan membikin djalan dan pulau ditengah2nja, disanapun kita dapati sekolah tinggi kebudajaan, meliputi beberapa tjabang kesenian dan ilmu barang2 kuno (archaeologie).
Sekolah2 tinggi itu tidak semuanja diurus oleh pemerintah. Dari djumlah jang tersebut diatas, 94 buah adalah diurus oleh partikelir, hanja sadja sistem dan aturannja disemua sekolah tinggi sama. Jang segera menarik perhatian orang bila mengunjungi sekolah tinggi di Tiongkok ialah adanja kuliah revolusioner.
Mereka jang tadinja sebagai peladjar dan ikut dalam perdjuangan jang lalu, harus kembali lagi beladjar. Jang sudah masuk tingkatan sekolah tinggi lantas tidak ditjampur terus dengan mahasiswa biasa, walaupun sama2 disekolah tinggi itu djuga. Bekas pedjuang ini mempunjai tempat tinggal sendiri, olahraganja sendiri, disiplin tenteranja masih dipakai, ada jang djaga dsb. Mereka ini tidak mementingkan betul bangku dan medja jang bagus2, ditanah lapang dan dibawah pohonpun bisa djuga mendengarkan kuliah. Sesudah liwat nanti masa peralihan, barulah mereka digabungkan dengan mahasiswa lainnja.
Mungkin orang bertanja, bagaimana memetjahkan soal tenaga „ahli“ untuk professor! Satu tjontoh akan dituturkan dibawah ini.
Pada perguruan tinggi kedokteran di Nanking, jang ditempatkan dibekas istana Ch. K. Shek, kami telah melihat, bagaimana mereka beladjar. Dulu di Nanking itu banjak professor bangsa asing. Orang Tionghoa sedjak zaman purbakala adalah sudah mempunjai banjak kepandaian tentang obat2an, karena itu banjak sekali tumbuh2an jang mengandung zat obat jang mereka kenal. Adanja professor2 bangsa asing itu dahulu, banjak sekali diantaranja jang mendjadi mata2, atau lebih tegas lagi, jang mentjuri kepandaian Tiongkok jang lantas dikirim kenegerinja. Umpamanja djenis tumbuh2an, mengandung zat apa, mendjadi obat penjakit apa. Keterangan itu beserta tjontoh dari tumbuh2annja dikirim kenegerinja dan disana orang lantas membuat proefschrift, dapat titel, dapat uang, padahal tjurian dari Tiongkok. Bukti2 daripada kelakuan professor2 bangsa asing ini telah kami lihat di Nanking, berupa surat2, korespondensi, tanda pembajaran dsb. Nama2 orangnja dan gambarnjapun ada.
Demikianlah di Nanking itu sekarang para mahasiswa jang ribuan djumlahnja itu, selain beladjar, djuga memelihara tumbuh2an itu sendiri, tidak pakai tukang2 kebon dsb. Masing2 mahasiswa mengikuti sesuatu perkembangan tanaman jang tertentu. Jang memimpin mereka (djadi professornja) ialah maha2 guru jang dikatakan berdiploma internasional dan djuga dokter2 Tionghoa jang biasanja kita sebut di Indonesia ini Sinshe. Kepandaian mereka itu digabung dengan kepandaian dokter-internasional itu dan deradjatnjapun sama. Dari pimpinan gabungan itu maka diharapkan mahasiswa akan dapat memperoleh hasil jang lebih baik. Teori dan praktek adalah sebanding. Tidaklah mahasiswa itu disuruh sadja menghafal stelling, definisi dll. dari text-book dan buku peladjaran sadja, melainkan disamping itu diutamakan betul soal praktek. Malahan inilah salah satu tjorak baru dalam peladjaran di Tiongkok sekarang: mendidik diri sendiri. Mahaguru melatih mahaguru, dosen melatih dosen, insinjur melatih insinjur, ahli sesuatu melatih dan memperbesar djumlah dan kesanggupan golongannja sendiri, mahasiswa berlatih bersama dengan mahasiswa lain jang masih dibawah tingkatannja. Djadi kedalam beladjar inipun, sistem kader itu dibawakan. Dengan begitu, seorang mahaguru tidak terhalang menghadapi mahasiswa jang ratusan, bahkan ribuan djumlahnja.
Di Kanton kami melihat sekolah tinggi dimana para mahasiswanja menanam sendiri tebu, tembakau dll. dan mengerdjakan tanahnja sendiri. Bahkan sampai pada soal mendirikan asrama2 tempat tinggalnja pun mereka djuga. Beladjar terus dan bekerdja pun terus djuga. Dalam tempo lebih dari setahun, Nam Fang University jang dibangunkan di Kanton sudah hampir selesai seluruh komplex gedung2 jang perlu. Bila mendirikan gedung jang bertingkat2 sampai sepuluh barulah tukang betul jang mengerdjakannja, seperti jang kita lihat pada Sun Yat Sen University jang hendak diperluas tempat penjelidikannja (laboratorium). Seperti diketahui daerah Kanton itu terus keselatan sudah termasuk mempunjai iklim jang panas, tumbuh2annja sudah seperti di Indonesia. Karetpun sudah bisa ditanam dan dipulau Hainan sekarang tidak sedikit kebun karet dan kelapa jang diusahakan dengan bantuan pemerintah. Tempat2 penjelidikan jang perlu bagi sekolah2 tinggi itu di Tiongkok berdjumlah 107 (angka tahun 1950) diantaranya ada 93 buah untuk penjelidikan ilmu2 alam melulu (natuurwetenschappen). Begitu pula alat2 dan perkakas segala laboratorium jang perlu adalah dibikin di Tiongkok sendiri. Tempat pembikinannja ada 46, diantaranya 29 berupa paberik dan 17 berupa jajasan.
Sambil beladjar ada djuga kita lihat mahasiswa jang membikin sendiri perkakasnja, seperti pada sekolah tinggi pertanian di Peking, mahasiswa itu kadang2 sudah seperti buruh kelihatannja. Membikin parit jang dalam dan besar, sendiri. Selokan2 jang perlu untuk memperhatikan perdjalanan air dibikin sendiri, ada jang lurus ada jang bengkok, ada jang miring dan ada pula untuk air terdjun dsb. Pipa2 segala matjam dan bentuk, besar ketjil adalah diatur dan dipasang oleh mahasiswa sendiri. Pendeknja disekolah tinggi jang satu itu kita merasa seperti dipaberik es atau paberik getah jang banjak memakai air. Mempeladjari instrumen2 begitu pula. Si mahaguru umpamanja memanggil beberapa mahasiswa. Diterangkan sampai djelas dan ditjoba sekali dengan praktek. Nanti beberapa mahasiswa itu masing2 menghadapi satu instrumen dan memanggil sekumpulan mahasiswa pula untuk mendengarkan kuliahnja. Dengan begitu seorang mahaguru memberi kuliah entah berapakali tingkat, sehingga ia dapat menghadapi banjak sekali mahasiswa. Kekurangan professor, ahli dsb. itu di Tiongkok dengan begitu dapat diatasi sebagian sedang jang masih kekurangan bukan diomelkan dan diteriakkan dan lantas mundar-mandir keluar negeri mentjari ahli, tidak. Kekurangan itu dipenuhi sendiri dengan mentjari djalan sendiri, walaupun sukar tapi toh sudah dapat dipenuhi keperluan para peladjar, mahasiswa jang sangat penting bagi bangsa dan masjarakat di belakang hari, melaksanakan dan menjempurnakan pembangunan dan pembaharuan jang sudah dimulai. Pokoknja djangan terhenti dan tergenang, tapi harus djalan terus. Dalam berdjalan, perbaikan ditjari pula.
Sistem sekolah menengah di Tiongkok sama dengan di Indonesia sekarang, dari kelas satu sampai enam. Ada djuga sekolah menengah jang melulu untuk anak2 gadis tapi pada umumnja lebih banjak sekolah tjampuran. Djumlah sekolah menengah di Tiongkok ada 3.960 dengan djumlah peladjar 2.200.000 orang sedang sekolah rakjat ada 224.980 buah dengan muridnja berdjumlah 19 djuta. Semuanja menurut angka jang ada pada tahun 1950.
Keadaan anak2 di Tiongkok dahulu sangat menjedihkan. Pada umumnja jang masuk sekolah itu adalah anak orang jang mampu dikota, dan didesa anaknja tuan tanah dan keluarganja. Telah kita lihat sekolah didesa itu, umumnja letaknja didalam lingkungan rumah tuan tanah. Keadaan itu sekarang sudah berubah sebab tuan tanah tidak ada lagi. Jang mendjadi soal besar sekarang ialah djumlah anak kaum tani dan buruh, jang dimasa lampau sangat diabaikan tapi sekarang berhubung dengan suasana baru dan pendapat baru, bahwa masjarakat Tiongkok itu sendinja adalah tani dan buruh, maka haruslah diusahakan perbandingan jang betul diantara anak tani dan buruh jang masuk sekolah dengan anaknja golongan2 lain. Dalam sekolah tinggi soal ini belum bisa dipetjahkan, sebab RRT baru dua tahun berdiri. Tapi disekolah rendah dan menengah sudah mulai ditjari penjelesaiannja, sehingga menurut keterangan jang kita peroleh diwaktu mengunjungi sekolah2 menengah dan rendah, dewasa ini dibeberapa tempat sekolah menengah telah mempunjai peladjar jang djumlahnja 50 sampai 60% teridiri anak2nja kaum tani dan buruh. Disekolah rakjat sudah lebih. Usaha ini akan didjalankan terus, sehingga nanti sesudah beberapa tahun, mulai dari sekolah rendah sampai sekolah tinggi, djumlahnja anak kaum tani dan buruh sudah memperoleh perbandingan jang betul menurut djumlahnja penduduk tani dan buruh di Tiongkok, jang menurut taksiran kasar tidak kurang dari 90%.
Soal melatih diri dan produktiviteit sedjak sekolah rendah sudah dimulai. Satu tjontoh waktu kami mengunjungi sekolah rendah, didinding kelihatan gambar tergantung, ada jang bikinan tangan dan ada seperti jang ditjetak. Waktu kami tanjakan siapa jang membuat gambar itu, gurunja mendjawab: Murid2. Jang ditjetak itu djuga, tanja kami lagi. Ja, djawabnja, sambil diperlihatkannja pada kami sepotong papan jang sudah dipahat. Rupanja dalam beladjar menggambar, anak2 djuga sudah diadjarkan membuat klise, sehingga dengan adanja klise itu, simurid bisa menghasilkan gambar jang serupa, dalam djumlah jang banjak sekali. Pada hal anak jang bersangkutan baru duduk dalam kelas empat.
Dalam soal gerak badanpun mahasiswa adalah pelopor. Tidak ada lapangan pembangunan jang tidak disertai dan dipahamkan oleh mahasiswa. Sistem baru jang telah didjalankan diseluruh perguruan tinggi di Tiongkok sekarang adalah hasil pertjobaan dan pengalaman di Yen-an, dimana, sebelum menjerang mengusir Kuomintang, bertahun-tahun lamanja Ketua Mao Che-tung ikut sendiri memetjahkan beberapa soal dilapangan perguruan tinggi. Diwaktu itu, seperti diketahui, Yen-an telah dibandjiri oleh para peladjar dan mahasiswa jang tidak setudju dan karena itu menentang politik dan perbuatan-perbuatan reaksioner dari regime Chiang Kai Shek.
Peladjaran bahasa tidak banjak memakan tempo disekolah menengah, sebab selama disekolah itu, si anak hanja disuruh beladjar salah satu diantara dua bahasa asing: Rus atau Inggeris. Dengan salah satu bahasa ini, disamping bahasa Tionghoa, simurid sudah bisa masuk sekolah tinggi dengan tidak usah chawatir akan kekurangan buku-buku peladjaran dalam dua bahasa.
Soal buku di Tiongkok tidaklah kekurangan. Pada salah satu Universiteit di Peking kita mendjumpai buku jang djumlahnja tidak kurang dari dua djuta. Itu baru jang umum, sedang masing-masing fakulteit mempunjai bibliotheek sendiri-sendiri lagi. Segala bahasa ada. Bagaimana membatjanja, tanja pembatja barangkali. Di Tiongkok peladjaran bahasa jang luas, baru dimulai disekolah tinggi. Ada spesial sekolah tinggi untuk bahasa2 asing. Bahasa apa sadja jang tidak.
Dapatnja dipetjahkan soal kesulitan buku, selain dari simpanan jang lama, diantaranja sudah banjak jang diangkut Djepang, ialah karena di Tiongkok orang tidak terikat pada perdjandjian internasional mengenai penerbitan. Sesuatu buku jang perlu, bila sudah ada di Tiongkok, mereka mentjetaknja persis seperti tjontoh itu. Tidak sedikitpun dirobah.
Ditahun 1950, dari bulan Djanuari sampai dengan Maret, penerbitan pemerintah telah mengeluarkan buku sedjumlah 40 djuta buah sedang penerbitan partikelir mengeluarkan 52 djuta buah. Disamping toko2 partikelir, pemerintah djuga mempunjai toko buku, jaitu Hsinhua Bookstore jang mempunjai 887 tjabang di Tiongkok. Dengan djalan begitu harga bukupun dapat dikendalikan dan mendjadi stabiel, sebagaimana harga barang2 lainnja.
| Sebuah gambar seharusnya muncul pada posisi ini dalam naskah. Jika Anda bisa menyediakannya, lihat Wikisource:Pedoman gambar dan Bantuan:Menambah gambar sebagai panduan. |
Satu diantara kegandjilan diatas dunia: Tembok Besar disekitar Peking. Para delegasi berbagai negeri Asia dan Eropah pergi pula mengundjunginja untuk mempersaksikan pekerdjaan maha besar jang mengherankan dan mena'djubkan seluruh dunia itu. Tembok besar, seolah² seperti garis biasa sadja membentang ratusan kilometer pandjangnja, turun bukit dan naik tebing ..... entah bagaimana dulu mengerdjakannja itu. Para delegasi nampak sedang berkumpul dibawah tembok, disatu tempat dimana didirikan patung ahli tehnik Tionghoa jang melalukan djalan kereta api didaerah jang sukar itu. Diantara universiteit itu ada pula jang mempunjai pertjetakan sendiri. Mahasiswa mengeluarkan surat kabar dan mentjetak buku2 dan alat2 peladjaran lainnja. Dilapangan kebudajaan djangan dikata lagi. Peranan jang dimainkan oleh mahasiswa besar sekali. Pendeknja Perguruan Tinggi di Tiongkok itu membentuk dunia dan masjarakat sendiri, tapi tidak berlainan dan tidak terpisah dari masjarakat besar, seolah2 tjontoh dari masjarakat besar, tempat para mahasiswa berlatih dan mengolah tenaga, agar nanti tidak tjanggung menghadapi masjarakat besar. Pergaulan antara mahasiswa dan mahaguru adalah seperti orang bersaudara sadja. Seringkali djuru2 bahasa untuk tetamu diambil dari para mahasiswa, bukan sekedar meladeni bitjara sadja, tapi djuga meladeni keperluan tamu. Dengan begitu mereka sudah mulai masuk pergaulan internasional. Banjak pikiran dan persoalan2 jang dikemukakan oleh para tamu dengan sendirinja sampai kepada mereka, sebab djurubahasa dalam hal seperti itu, bukan asal pandai bitjara bahasa asing sadja tetapi djuga harus mengerti dalam banjak persoalan dan tjabang2 pengetahuan. Selain dari itu mahasiswa diadjar berkenalan dan bersaudara dengan orng luar.
| Sebuah gambar seharusnya muncul pada posisi ini dalam naskah. Jika Anda bisa menyediakannya, lihat Wikisource:Pedoman gambar dan Bantuan:Menambah gambar sebagai panduan. |
Sesudah difoto dan ditjutji maka gambar² untuk film tjorak dipertemukan sampai berpuluh dan beratus meter pandjangnja.
X. PENUTUP.
Dengan sepintas lalu telah kita pandang beberapa pekerdjaan besar jang sedang dilaksanakan sekarang ini di Tiongkok. Kesungguhan jang kita lihat pada semua lapang pekerdjaan menjebabkan kita tertarik pada tjara mereka bekerdja dan mengurangkan keraguan jang mungkin ada pada kita, akan berhasilnja usaha mereka dikemudian hari. Walaupun tingkat jang sudah tertjapai sekarang masih djauh dari memuaskan, terutama bagi para pemimpin dan pembesar di Tiongkok sendiri. Karena itu diawaskan betul, djangan sampai orang merasa sudah puas dan bangga akan hasil2 jang sudah tertjapai. Kesederhanaan ini menambah kejakinan bahwa para pemimpin Tiongkok Baru sekarang akan dapat mentjapai apa jang ditjita2kan mereka.
Maka dalam segala usaha dan pekerdjaan besar di Tiongkok itu, kita lihatlah sebagai pelaku jang utama Tentara Kemerdekaan Rakjat. Dimana sadja mereka kelihatan ikut serta. Dalam pekerdjaan jang paling sukar, merekalah jang djadi pelopor. Membikin subur tanah jang kering, mereka memulai. Menggali waduk, terusan dll. untuk menghindarkan bahadja bandjir, mereka pula djadi pelopor. Perhubungan djalan, pendirian paberik, melandjutkan perdagangan dan pertukaran barang, mereka ikut membantu. Dilapangan kebudajaan, mereka tidak ketinggalan. Dilapangan politik, tentara rakjatpun ikut serta menentukan dan mengendalikannja. Inilah tentara rakjat, jang betul2 masuk kedalam rakjat, disegala lapisan dan lapangan kerdja.
Kalau ada peperangan jang mengantjam tanah air, mereka lebih dulu madju menghadapi musuh dan bila peperangan tidak ada, mereka masuk kembali kedalam masjarakat rakjat. Ikan dalam air, begitulah tentara itu, sebagaimana jang ditjita2kan dan diharapkan oleh Ketua Mao, dan tidak tinggal tjita2 dan pengharapan sadja, melainkan diwudjudkan dalam kenjataan dan kehidupan sehari2. Tentara Rakjat dalam Negara Rakjat dipimpin oleh Pemerintah Rakjat. Pelopor zaman baru untuk mentjapai dunia baru, itulah peranan dan fungsi tentara itu kita lihat di Tiongkok.
Satu kedjadian. Disalah satu stasiun banjak orang turun. Seorang perempuan jang agak tua mempunjai bagasi dua. Sukar nampaknja ia mendjundjung dan mendjindjing. Rupanja jang sedianja mendjemput dia tidak datang, hendak mentjari kuli, mungkin sajang pada uang. Dengan pelan2 diangkatnja bebbannja jang dua itu. Selfhelp, begitu fikirnja barangkali. Sekonjong2 seorang tentara datang. Bagasinja hanja satu. Diambilnja beban orang tua itu satu dan diadjaknja berdjalan sama2......... Inilah kedjadian jang kita lihat sendiri dari djauh. Tidak djelas bagi kita apa itu pradjurit biasa atau opsir, sebab di Tiongkok soal strip dan bintang tidak diobralkan. Dalam pikiran kita terbajang....... kalau begini sikap dan laku tentara, semua orang bersedia mati untuk membela kepentingan nusa dan bangsa......... Kereta api djalan terus, dengan tidak kita sadari.
Didalam tentara banjak djuga wanita. Jang mengikuti Long March jang terkenal itu djuga banjak wanita, dan banjak djatuh ditengah djalan, tapi jang sampai djuga ada. Kalau tak salah kira2 20 orang wanita lebih jang telah lulus dalam „udjian Long March”.
Dimana sadja kita lihat ada wanita, mulai dari pemerintah pusat sampai kedesa2, kaum wanita tidak ketinggalan. Inikah jang dikatakan emansipasi? Tapi emansipasi di Amerika dan Eropah tidak begitu kelihatannja. Dalam pergaulan sadja sudah kelihatan perbedaannja. Di Barat seolah2 wanita itu disandjung dan dimuliakan, tapi dibikin2, sedang pada hakekatnja wanita itu tidak terhormat. Orang lain sadja jang pura2 menghormati dan memuliakan, bukan mulia dan terhormat karena dan oleh wanita sendiri......... Wanita di Tiongkok lain, karena dalam melakukan pekerdjaannja setiap hari, barangkali lupa bahwa ia wanita, sebab kita lihat dari sikapnja, begitu. Dari pihak lelaki begitu pula, tidak nampak oleh kita sikap jang menundjukkan bahwa ia berhadapan dengan wanita. Biasa sadja. Sehingga pada suatu kali, sdr. Armijn Pane bilang pada saja: Apa orang disini tidak mengenal keindahan dan romantiek ! Apa terhadap wanita djuga orang harus zakelijk sadja !
Memang kelihatannja begitu. Pihak wanita sendiri hanja bersikap zakelijk sadja. Mungkin ada kalanja untuk romantiek dll. tapi itu ada waktunja, rupanja. Ditaman bunga kita lihat djuga orang berpasang-an, tapi tidak pula menarik perhatian istimewa. Biasa sadja kelihatannja semua.
Soal wanita, tempat wanita, kedudukan wanita dsb. adalah soal lama dan soal besar. Nampaknja di Tiongkok orang sudah mulai mentjari penjelesaiannja dan dalam hal itu, wanita sendiri jang memegang peranan terpenting.. Artinja adanja perbedaan sekse antara laki2 dan perempuan tidak dan djangan sampai menimbulkan hal2 jang mengganggu perasaan, mengganggu ketertiban dan djalannja serta harmoninja pergaulan hidup. Bahwa soal ini mendjadi perhatian istimewa, terbukti dari adanja salah satu pertundjukan (exhibition) jang melulu memperlihatkan perhubungan antara laki2 dan perempuan, dalam masjarakat, dalam rumah tangga, dalam perkawinan, antara anak dan orang tua, atau antara mertua dengan menantu dsb. Djuga peranan wanita dalam pemeliharaan anak, kewadjiban laki2 dalam rumah tangga, kewadjiban wanita dalam masjarakat. Bahwa soal wanita itu sudah terpetjahkan di Tiongkok, tidak dapat kita mengatakan, akan tetapi dalam praktek dan kehidupan masjarakat sehari2, nampaknja sudah dimulai mentjari pemetjahan itu. Jang nampak dari luar ialah, bahwa dalam bekerdja atau dinas, wanita itu sama sadja pakaiannja dengan laki2, tjelana, djas tutup dan malah ada jang pakai pet. Hanja rambutnja tetap pandjang, lebih pandjang dari laki2 dan leher badjunja kadang2 dihiasi putih. Soal lain lagi ialah soal orang2 miskin. Pun ini mendjadi perhatian istimewa dan umumnja orang miskin dan jang melakukan kedjahatan ketjil2 itu, dipelihara dalam Pendidikan Buruh (Labour Education). Kalau masih anak, dimasukkan dalam Pemeliharaan Anak Jatim (Orphanage). Bila kita memperhatikan tjaranja, kesungguhan dan kesabaran pengurus dalam memelihara dan mendidik orang2 jang terlantar itu (jang sering disebut dengan istilah sampah masjarakat) maka tergambarlah keichlasan hati jang melimpah2 dalam menjantuni orang jang tidak berdaja. Pekerdjaan seperti ini biasanja sukar dan berat, tapi melihat praktek di Tiongkok itu, pertjajalah kita bahwa usaha mereka akan berhasil, tidak beda mereka seperti memelihara anak sendiri dan mendidik saudara dan keluarga sendiri dan nistjaja dalam tempo jang tidak lama keadilan sosial jang tidak digembar-gemborkan di Tiongkok, tapi diperbuat dan dikerdjakan sehari-hari, nistjajalah akan terasa dan dapat dialami oleh seluruh anggauta masjarakat sampai dan terutama jang dibawah.
Kepintjangan dalam masjarakat adalah seperti luka dan penjakit jang menular, karena itu harus lekas disembuhkan dan dibasmi. Sebaliknja keadilan sosial, bila telah terasa dan dialami oleh seluruh anggauta masjarakat dalam satu bangsa atau negara sampai kelapisan jang paling bawah, maka itu adalah akan mendjadi pokok dan modal, mendjadi tiang teras dan tonggak besar tempat bersandarnja masjarakat itu, kokoh dan kuat menghadapi segala tjobaan dan angin taufan jang sering mengamuk dari masa kemasa, menumbangkan masjarakat jang sudah lapuk, berpenjakit, penuh kepintjangan dan ketidak adilan, penuh kezaliman dan perbuatan haram jang munafik. Ini adalah bukti sedjarah jang djadi pedoman dan dipedoman: di Tiongkok.
Membuat revolusi bukanlah berarti berlala2, dengan begitu menanti saat agar ditumbangkan pula oleh revolusi lain, tapi gunanja berrevolusi adalah untuk mewudjudkan perubahan dan perbaikan, merombak apa jang dirasa selama ini tidak baik, tidak adil dsb. dan menggantikannja dengan jang lebih baik, jang lebih adil dan lebih sesuai dengan perasaan dan anggapan anggauta masjarakat jang terbanjak, jang akan mendjadi pendukung dan pendorong serta pembela dari keadaan baru jang diidam-idamkan itu.
Sudah dapatkah Tiongkok Baru sekarang ini, memperoleh pendukung, pentjipta dan pembela dari keadaan dan susunan baru jang ditjita-tjitakannja? Setelah melihat dan mengetahui apa2 jang telah dikerdjakan tjara mengerdjakan dan maksud mengerdjakannja semua usaha besar ketjil, jang ada dan harus ada dalam sesuatu masjarakat jang berkemadjuan, maka setidak-tidaknjalah kita akan boleh mengatakan bahwa Tiongkok Baru ini akan dapat terus merdeka, karena ia mau merdeka, berani merdeka, pandai merdeka dan sanggup merdeka, sungguhpun dengan susah pajah dan kerdja mati-matian. Berakit2 kehulu, Berenang2 ketepian, Bersakit2 dahulu, Bersenang2 nanti kemudian......... Berbahagialah rakjat Tiongkok mempunjai pemimpin2 jang djudjur dan tulus ichlas, jang memandang kewadjiban berat sekarang ini sebagai tugas hidupnja, panggilan djiwanja menurut suara hatinja, tulus ichlas mengabdikan dirinja dan menjerahkan hidupnja untuk kepentingan dan kebahagiaan Sang Rakjat jang ditjintai jang ratusan djuta banjaknja, terumbang-ambing hidupnja berabad-abad lamanja dimasa lampau.
Mengangkat deradjat ummat dari kehinaan ketingkat kemuliaan memang bukan pekerdjaan mudah, tapi mahaberat. Karena itu amat mulia disisi Tuhan. Tapi djarang disanggupi orang.
Karena itulah maka sukar betul untuk mentjari orang2 jang mulia disisi Tuhan itu, sekalipun banjak diantara manusia jang hidup sekarang dikatakan atau dipanggilkan dengan berbagai matjam kata2 jang terhormat seperti : Jang Mulia, Jang Amat Mulia, Paduka Jang Mulia d.s.b., itu bukanlah berarti bahwa orang jang dimaksudkan itu telah mulia disisi Tuhan, tidak, melainkan kebanjakan malahan djustru diberikan kata2 itu pada mereka, adalah dengan maksud untuk menjembunjikan kekotoran djiwa dan kerendahan moral dan kelakuan buruk daripada orang2 jang diberi gelaran baik2 itu. Dunia memang masih penuh dengan tipuan dan kepalsuan jang menjesatkan orang banjak, sehingga kadang2 lama sekali orang harus menanti agar tabir jang menjelimuti kekotoran dan kepalsuan itu tersingkap dan biasanja untuk menjingkapkannja perlulah tindakan radikal jang berwudjud perbuatan spontan dan njata dari mereka jang berdjumlah besar, setelah insjaf akan tipuan dan kepalsuan jang memperdaja dan mengumbang-ambingkan nasib mereka selama ini. Entah itulah barangkali jang dinamakan revolusi, dan kalau begitu revolusi akan masih datang terus, selama kepintjangan dan kedzaliman serta kepalsuan dan penipuan meradjalela. Ditengah2 rakjat, membikin kutjar-katjir hidupnja rakjat. Tidak dapat dipisahkan dari djalannja sedjarah, djalan sedjarah jang tidak boleh tidak, pasti menudju kepada neratja keadilan Tuhan, kalau perlu dengan mengambil korban jang tidak sedikit, sampai tertjapai satu kebulatan jang bebas, sama rasa dan sama kewadjiban.
Dari djalan dan hukum sedjarah itu tidak satu bangsapun diatas dunia jang bisa melepaskan diri, hanja sadja, satu dan lain ada jang terdahulu dan ada jang terkemudian, sebabnja ialah karena faktor2 jang ada didalam sesuatu bangsa dan negara itu tidak sama, begitu djuga perdjalanan jang telah ditempuhnja (sedjarahnja) tidak sama pandjang dan lamanja. Tapi achirnja, semuanja akan menudju kepada jang satu itu djua, jaitu jang haq, jang benar dan jang diizinkan dan diridhai oleh Tuhan adanja dan beradanja. Hutang dibajar dan piutang diterima. Tidak ada jang hilang. Selalu lengkap dan harus lengkap, tetap satu, Esa. Mudah2an manusia bertambah insjaf mendekatinja, sekalipun sukar, maha sulit, lebih2 karena banjaknja godaan jang untuk gampangnja dinamakan sadja iblis dan sjeithan. Jang tidak sanggup melawannja akan djatuh, tersiksa dan menderita terus. Siksaan dan penderitaan itulah jang hendak dilemparkan djauh-djauh dan dikuburkan buat selamanja oleh seluruh rakjat, djangan berulang lagi di Tiongkok Merdeka. Sekali merdeka akan tetaplah merdeka, karena seluruh rakjat mau merdeka, sanggup merdeka dan pandai merdeka. Berkat latihan dan pengalaman-pengalaman pahit jang telah dideritanja dimasa jang lampau. Persis seperti kata orang-orang pandai: Bila penderitaan telah memuntjak tinggi ketawalah, sebab suatu tanda bahwa perobahan sudah dekat.
Hanja sadja pertolongan itu djangan ditjari pada orang asing, melainkan tjarilah didalam diri dan tubuh sendiri, dengan pikiran dan tenaga sendiri. Nasibmu berobah hanja karena dan oleh kamu djua. Inilah jang diperbuat dan dilaksanakan oleh Tiongkok sekarang. Semoga mendjadi suri tauladan bagi jang lain-lain, jang belum sampai kedjalan dan tingkatan itu.
Tammat.
| Sebuah gambar seharusnya muncul pada posisi ini dalam naskah. Jika Anda bisa menyediakannya, lihat Wikisource:Pedoman gambar dan Bantuan:Menambah gambar sebagai panduan. |
Para delegasi mengundjungí Kindergarten, pemeliharaan anak² di Shanghai. Badan² seperti ini, jang diurus oleh organisasi wanita dan ada jang dibantu oleh Pemerintah, banjak sekali terdapat di Tiongkok. Anak² boleh tinggal disana, mulai Senin pagi sampai Sabtu sore. Djadi 2 malam dalam seminggu anak itu bersama orang tuanja. Keadaan ini banjak sekali membantu bagi para kaum ibu jang bekerdja diberbagai djabatan atau perusahaan atau bekerdja untuk umum dalam organisasi atau partai. LAMPIRAN:
UNDANG-UNDANG PEROBAHAN TANAH
DARI
REPUBLIK RAKJAT TIONGKOK
[Diumumkan oleh Pemerintah Rakjat Pusat pada tanggal 30 Djuni, 1950]
BAGIAN I
DASAR UMUM
Fasal 1
Tjara memiliki hak tanah oleh kelas tuan-tanah jang bersifat penghisapan feodal harus dihapuskan, dan tjara memiliki hak tanah oleh petani harus dilaksanakan, untuk membebaskan tenaga produksi pertanian didesa, dan memperkembangkan usaha penghasilan pertanian, guna membuka djalan untuk industrialisasi Tiongkok Baru.
BAGIAN II
PENSITAAN DAN PEMUNGUTAN TANAH
Fasal 2
Fasal 3
Tanah2 milik klenteng nenek-mojang, tjandi, tempat2 pendeta, geredja, sekolah dan organisasi2 serta tanah umum lainnja dalam desa harus dipungut (diambil). Tetapi terhadap usaha2 rumah sekolah, rumah anak jatim-piatu, rumah pemeliharaan orang jang berusia landjut dan rumah sakit dll., jang hidupnja bergantung pada pendapatan dari tanah tersebut, pemerintah rakjat daerah harus mengambil tindakan jang bidjaksana dalam menjelesaikan beajandja.
Dengan persetudjuan kaum muslimin jang bertempat dimana ada mesdjid, maka tanah2 kepunjaan mesdjid dapat dibiarkan menurut keadaan.
Fasal 4
Perindustrian dan perniagaan harus dilindungi dari tiap2 gangguan.
Perusahaan perindustrian dan perniagaan jang diusahakan oleh tuan-tanah serta tanah dan harta benda mereka jang langsung digunakan untuk perusahaan perindustrian dan perniagaan tidak boleh disita. Didalam menista tanah feodal dan harta benda lainnja, tidak diperkenakan mengganggu perindustrian dan perniagaan.Tanah dan perumahan tani didesa kepunjaan kaum pengusaha industri dan kaum pedagang harus dipungut, tetapi harta benda mereka lainnja didesa dan perusahaan jang sjah harus dilindungi dari gangguan.
Fasal 5
Anggauta tentara repolusioner, keluarga pahlawan-gugur, buruh, pegawai, pekerdja merdeka, pendjadja (pedagang berkelilling) dan lainnja jang menjewakan tanah sebagian ketjil karena terikat dalam pekerdjaan lain atau karena kekurangan tenagakerdja tidak dimasukkan dalam golongan tuan-tanah. Djika djumlah tanah kepunjaan mereka rata2 setiap orang tidak melebihi 200% dari djumlah tanah kepunjaan rata2 setiap orang didaerah itu, maka tidak akan disinggung (umpamanja, djika djumlah tanah rata2 setiap orang dua "mou" *) ditempat itu, dan djumlah tanah mereka rata2 setiap orang tidak melebihi empat 'mou"). Djika melebihi perbandingan ini, maka tanah kelebihan itu dapat dipungut. Djika tanah itu sungguh2 dibeli dengan pendapatan dari pekerdjaannja sendiri atau djika orang2 jang usianja sudah landjut hidup sendirian, jatim-piatu, orang tjatjat, djanda2 perempuan atau laki2 jang tidak mampu bekerdja lagi, jang semua hidupnja bergantung dari tanah itu, maka meskipun djumlah tanah kepunjaan mereka rata2 setiap orang melebihi 200%, dapat dibiarkan menurut keadaan mereka masing2.
Fasal 6
Tanah kepunjaan tani-kaja jang diusahakan olehnja atau oleh buruh-tani, dan harta benda lainnja harus dilindungi dari tiap2 gangguan.
Tanah sebagian ketjil disewakan oleh tani-kaja tetap tidak disinggung. Tetapi didaerah istimewa jang tertentu, tanah jang disewakan oleh tani-kaja dapat dipungut sebagian atau semua dengan persetudjuan pemerintah rakjat dari tingkatan propinsi atau jang lebih atas.
Djika luas tanah jang disewakan oleh tani-kaja jang bersifat setengah tuan-tanah melebihi tanah jang dikerdjakan olehnja atau oleh buruh-tani, maka tanah jang disewakan harus dipungut.
Tanah jang disewakan oleh tani-kaja harus dibandingkan dengan tanah jang disewa untuk dikerdjakan.
Fasal 7
Tanah dan harta benda lain kepunjaan tani-sedang (termasuk tani-sedang jang kaja) harus dilindungi dari gangguan.
Fasal 8
Sesudah dilakukan pembebasan daerah, pemindahan atau pementjaran dengan tjara pendjualan, penggadaian, pemberian atau dengan tjara lain, dari tanah jang me-
- ) Satu mou adalah 1/16 hektar nurut undang² harus disita atau dipungut, adalah tidak sjah. Tanah tersebut harus dimasukkan dalam djumlah tanah jang akan dibagikan kembali. Akan tetapi djika petani jang membeli atau menerima gadai itu menderita kerugian jang agak besar, harus diambil tindakan untuk memberi pengganti jang lajak.
Fasal 9
Penetapan jang sjah tentang tuan-tanah, tani-kaja, tani-sedang, tani-miskin, buruh-tani dan kelas² lain dalam masjarakat desa akan ditegaskan kemudian.
BAGIAN III
PEMBAGIAN TANAH
Fasal 10
Segala tanah dan alat² produksi lain jang sudah disita atau dipungut, selain jang menurut penetapan undang² ini telah didjadikan milik negara, harus dikuasai oleh serikat tani "sjiang" *), untuk dibagikan dengan tjara sematjam, adil dan lajak kepada tani-miskin jang kekurangan atau tidak mempunjai tanah dan jang tidak mempunjai alat² produksi lain. Kepada tuan-tanah diberikan bagian jang sama, supaja mereka dengan bekerdja sendiri mendapat nafkah untuk hidupnja, dan dengan kerdja dapat merobah diri sendiri.
Fasal 11
Tanah harus dibagikan dengan melalui "sjiang" atau desa administratif jang sama deradjatnja dengan "sjiang" sebagai kesatuan dan atas dasar pemberian tanah kepada jang mengerdjakan pada waktu itu. Tanah akan dibagikan dengan tjara jang sama menurut djumlah penduduk. Atas dasar pemberian tanah kepada jang
- ) Sjiang adalah kesatuan administratif jang meliputi beberapa desa. mengerdiakan, milik2 tanah bisa diatur dengan mengingat akan djumlah, baik-buruknja, djauh-dekatnja tanah itu. Tetapi serikat tani kawedanan atau kabupaten dapat mengatur seperlunja antara pelbagai „sjiang" atau desa administratif jang sama deradjatnja dengan „sjiang". Didaerah jang luas dan penduduknja djarang, untuk memudahkan pekerdjaan tjotjok tanah, kesatuan untuk melakukan pembagian tanah dapat lebih ketjil dan dibawah tingkatan „sjiang". Tanah jang terletak diperbatasan dua „sjiang" harus dibagikan kepada „sjiang" jang didiami tani-pekerdja semula.
Fasal 12
Atas dasar pemberian tanah kepada jang mengerdjakannja, tanah kepunjaan tani-pekerdja semula tidak boleh ditjabut untuk dibagikan. Kalau tanah sewaan ditjabut untuk pembagian, maka kepentingan tani-pekerdja semula harus diingat sepantasnja. Tanah jang didapatnja dari pembagian tanah (ditambah dengan tanah kepunjaannja, djika ada), sepantasnja harus melebihi sedikit dari tani jang kekurangan atau jang tidak mempunjai tanah, sesudah pembagian didaerah itu. Ini sesuai dengan dasar bahwa tani-pekerdja semula dapat memiliki tanah jang mendekati djumlah rata2 tanah kepunjaan setiap orang didaerah itu. Djika tani-pekerdja semula mempunjai hak-permukaan dari tanah jang disewakan, maka sebagian tanah jang sesuai dengan harga hak-permukaan tanah ditempat tersebut harus disediakan baginja, apabila tanah jang disewakannja ditjabut untuk pembagian.
Fasal 13
Waktu pembagian tanah, beberapa soal istimewa terhadap penduduk jang tidak mempunjai tanah atau kekurangan tanah, harus diperlakukan sebagai berikut :
(f) Kaum buruh jang menganggur serta keluarganja jang pulang kedesa dan mempunjai surat keterangan dari pemerintah rakjat kota atau serikat buruh harus diberi bagian tanah dan alat2 produksi lain sebesar pembagian kepada petani, djika mereka meminta tanah dan dapat mendjalankan pekerdjaan pertanian dan djika keadaan tanah ditempat itu mengidzinkannja.
Fasal 14
Fasal 15
Waktu pembagian tanah, pemerintah rakjat setingkat kabupaten atau jang lebih atas dapat menjediakan sebagian tanah menurut keadaan tanah daerah tersebut untuk didjadikan milik negara dan dipergunakan sebagai kebun pertjobaan pertanian atau sebagai model kebun pertanian negara bagi satu kabupaten atau lebih. Tanah itu dapat disewakan kepada petani untuk dikerdjakan sebelum kebun pertanian tersebut didirikan.
BAGIAN IV
PENJELESAIAN SOAL-SOAL TANAH ISTIMEWA
Fasal 16
Hutan, kolam ikan, perkebunan teh, perkebunan minjak tung, tanaman murbei, hutan bambu, kebun buah-buahan, padang alang2, tanah tandus jang telah disita atau dipungut serta tanah lain jang dapat dibagikan, harus menurut perbandingan jang sepantasnja didjadikan sebagai tanah biasa, dan dibagikan dengan tjara sematjam. Untuk kepentingan produksi, tanah ini sedapat mungkin harus terlebih dahulu diberikan kepada petani jang hingga kini mempergunakannja. Jang mendapat tanah sematjam ini, dapat diberi sedikit atau tidak diberi pembagian tanah biasa. Djika pembagian sematjam ini menghalangi usaha produksi, maka tanah dapat diusahakan oleh pemerintah rakjat daerah sebaik-baiknja dengan penjelenggaraan jang demokratis, mengikuti kebiasaan jang didjalankan.
Fasal 17
Fasal 18
Hutan rimba besar, bangunan pengairan jang besar, tanah tandus jang luas, pegunungan luas jang belum dikerdjakan, tempat pengambilan garam jang luas, tambang/ serta danau, rawa, sungai dan pelabuhan, harus didjadikan milik negara, dan diselenggarakan serta diusahakan oleh pemerintah rakjat. Jang diusahakan oleh modal perseorangan semula, harus terus diusahakan oleh penjelenggara semula, menurut undang2 jang diumumkan oleh pemerintah rakjat.
Fasal 19
Lapangan pertanian, kebun bibit, lapangan pertjobaan usaha pertanian, jang dikerdjakan dengan mesin atau perlengkapan lain jang madju serta perkebunan bambu jang besar, perkebunan buah-buahan jang besar, perkebunan teh jang besar, perkebunan minjak tung jang besar, perkebunan murbei jang besar dan lapangan peternakan jang besar, dimana diperlukan teknik harus diusahakan terus oleh pengusaha2 semula dan tidak boleh dipentjarkan. Tetapi djika tanah itu kepunjaan tuan-tanah, maka tanah itu setelah disjahkan oleh pemerintah rakjat setingkat propinsi atau jang lebih atas, dapat didjadikan milik negara.
Fasal 20
Segenap pekarangan kuburan dan pohon2 jang ada didalam lingkungannja harus dibiarkan dengan tidak diganggu pada waktu didjalankan pensitaan dan pemungutan tanah.
Fasal 21
Fasal 22
Tanah tandus jang dibuka sesudah pembebasan, tidak boleh disita pada waktu pembagian tanah, dan harus terus dikerdjakan oleh sipembuka. Ini tidak dimasukkan dalam djumlah tanah jang dibagikan.
Fasal 23
Tanah sedjumlah ketjil jang hasilnja diperlukan untuk beaja perbaikan djembatan dan djalan, untuk beaja „tempat mengaso" *), penjaberangan umum dan keperluan umum lainnja, dapat dibiarkan menurut kebiasaan.
Fasal 24
Terhadap tanah dan rumah kepunjaan perantau Tionghoa harus diadakan tindakan-tindakan jang tepat jang ditetapkan oleh pemerintah rakjat (atau panitia ketentaraan dan administratif) dari pelbagai daerah administrasi besar **) atau oleh pemerintah rakjat propinsi menurut dasar melindungi kepentingan perantau Tionghoa dan sesuai dengan dasar umum daripada undang-undang ini.
Fasal 25
Tanah pasir dan tanah dangkal kepunjaan tuan-tanah atau kepunjaan badan umum, harus didjadikan milik negara dan diurus menurut tjara-tjara jang tepat jang ditetapkan oleh pemerintah rakjat setingkat propinsi atau jang lebih atas.
Fasal 26
Tanah ditepi djalan kereta-api, djalan raja, sungai dan bendungan sungai jang diperlukan sebagai pelindung atau tanah jang dipergunakan untuk lapangan pesawat-
- ) Gardu dimana disediakan teh untuk umum dengan tjuma2
- )Beberapa prpinsi digabungkan mendjadi satu daerah administrasi terbang, pelabuhan dan benteng tidak dapat dibagikan. Tempat2 jang direntjanakan untuk bangunan djalan kereta-api, djalan raja, saluran sungai serta lapangan pesawat-terbang, jang waktu pembangunannja sudah ditetapkan harus disediakan dengan seidzin pemerintah rakjat setingkat propinsi atau jang lebih atas.
Fasal 27
Orang2 partikelir jang mengusahakan tanah kepunjaan negara tidak boleh menjewakannja, mendjualnja atau membiarkannja dengan tidak terpelihara. Djika pengusaha partikelir itu tidak lagi memerlukan tanah tersebut, maka harus dikembalikannja kepada negara.
BAGIAN V
BADAN DAN TJARA PELAKSANAAN
PEROBAHAN TANAH
Fasal 28
Untuk memperkuat pimpinan pemerintah rakjat dalam peker djaan perobahan tanah, pemerintah rakjat setingkat kabupaten atau jang lebih atas, selama perobahan tanah harus menjusun panitia perobahan tanah, terdiri dari orang2 jang dipilih oleh dewan perwakilan rakjat atau orang2 jang dilantik oleh pemerintah rakjat jang tingkatannja lebih atas. Panitia ini bertanggung djawab untuk memimpin dan menjelenggarakan segala soal mengenai perobahan tanah.
Fasal 29
Fasal 30
Setelah perobahan tanah selesai, pemerintah rakjat akan mengeluarkan surat tanda milik tanah, serta akan mengakui hak2 segenap pemegang tanah untuk mengusahakan, djual-beli serta menjewakan tanah dengan merdeka. Segala perdjandjian tanah jang dibuat sebelum perobahan sistim tanah, dihapuskan dan tidak berlaku.
Fasal 31
Penetapan kedudukan kelas harus didjalankan menurut keputusan tentang pembagian kelas didesa jang diumumkan oleh Pemerintah Rakjat Pusat. Ini harus ditetapkan dengan taksiran setjara demokratis dan keputusan dalam rapat tani didesa atau „sjiang” serta konperensi perwakilan tani dibawah pimpinan pemerintah rakjat desa atau „sjiang” dengan djalan melaporkan diri dan perundingan umum. Djika salah seorang jang akan ditentukan kedudukan kelasnja itu, bukan anggauta serikat tani, diapun harus diundang untuk turut serta dalam penaksiran dan keputusan dalam rapat, dan diberikan kesempatan untuk mengeluarkan pendapatnja tentang keadaannja. Pemerintah rakjat desa atau „sjiang” harus melaporkan penaksiran dan keputusan itu kepada pemerintah rakjat kawedanan untuk disjahkannja. Kalau orang jang ditentukan itu atau orang lain, tidak setudju dengan keputusan tersebut, selama 15 hari sesudah pengesjahan itu diumumkan, dia boleh mengadu kepada pengadilan rakjat kabupaten, jang akan memberikan keputusan dan mendjalankannja.
Fasal 32
Didalam waktu diadakannja perobahan tanah, harus dibentuk pengadilan rakjat ditiap-tiap kabupaten untuk mendjamin terlaksananja perobahan tanah. Pengadilan ini harus berkeliling kepelbagai tempat, mengadili dan menghukum menurut undang2 terhadap pendjahat besar jang pernah melakukan kedjahatan jang sangat buruk, jang dibentji dan diminta oleh massa rakjat untuk dituntut kepngadilan, dan segenap pendjabat jang melawan atau merusak penetapan undang2 dan perintah2 perobahan tanah. Dilarang keras menangkap, memukul atau membunuh orang dengan sewenang-wenang, menjiksa badan atau siksaan lain jang serupa.
Peraturan mengenai susunan dari pengadilan rkjat ditetapkan kemudian.
Fasal 33
Sebelum perobahan tanah selesai, untuk mendjaga ketertiban sewaktu perobahan tanah dan untuk melindungi kekajaan rakjat, dilarang keras menjembelih atau menebang pohon tidak dengan idzin, serta dilarang keras melalaikan tanah, merusak alat2 pertanian, bangunan2 pengairan, bangunan2 rumah, tanaman atau barang2 lain. Pelanggar2 ini harus diadili dan dihukum oleh pengadilan rakjat.
Fasal 34
Untuk mendjamin supaja segala tindakan perobahan tanah sesuai dengan kepentingan dan kemauan massa rakjat, maka pemerintah rakjat dari pelbagai tingkatan, harus bertanggung djawab tentang pendjagaan sungguh2 terhadap hak2 demokrasi rakjat. Kaum tani dan wakilnja harus mempunjai hak untuk dengan bebas mengkritik dan menuntut anggauta pendjabat dari pihak dan tingkatan manapun disegenap persidangan. Barang siapa mengganggu hak2 tersebut, akan dihukum menurut undang2.
BAGIAN VI
TAMBAHAN
Fasal 35
Undang2 ini berlakuk untuk daerah desa pada umumnja, tetapi tidak untuk daerah disekitar kota2 besar. Tjara perobahan tanah untuk daerah disekitar kota besar, akan ditetapkan kemudian.
Jang dinamakan kota2 besar dalam fasal ini, akan ditentukan oleh pemerintah rakjat (atau panitia ketentaraan dan administratif) dari pelbagai daerah administrasi besar menurut keadaan kota2 tersebut. Fasal 36
Undang2 ini tidak berlaku untuk daerah2 jang didiami bangsa2 minoritet. Akan tetapi, didaerah dimana bangsa Han adalah jang terbanjak, waktu mendjalankan perobahan tanah didaerah tersebut penduduk bangsa minoritet jang terpentjar itu harus disamakan dengan rakjat bangsa Han menurut undang2 ini.
Fasal 37
Undang2 ini tidak berlaku didaerah, dimana perobahan tanah pada pokoknja telah diselesaikan.
Fasal 38
Disegenap daerah jang mulai mendjalankan perobahan tanah sesudah undang2 ini diumumkan, ketjuali daerah2 jang ditentukan dalam Fasal 35, 36 dan 37 dalam undang2 ini, harus dilangsungkan berdasar atas undang2 ini. Waktu untuk mulai mendjalankan perobahan tanah dipelbagai tempat akan ditentukan dengan perintah dan diumumkan oleh pemerintah rakjat (atau panitia ketentaraan dan administratif) dari daerah administratif besar dan pemerintah rakjat propinsi.
Fasal 39
Sesudah undang2 ini diumumkan, tiap2 pemerintah rakjat propinsi dapat mengikuti dasar jang ditetapkan dalam undang2 ini, dan keadaan jang konkrit (sebenarnja) ditempat tersebut, menentukan peraturan2 dalam mendjalankan perobahan tanah ditempat itu, dan menjampaikan kepada pemerintah rakjat (atau panitia ketentaraan dan administratif) dari daerah adminisrasi besar dan setelah disjahkan harus dikerdjakannja. Peraturan tersebut harus djuga disampaikan kepada Dewan Administrasi Pemerintah dari Pemerintah Rakjat Pusat untuk ditjatat.
Fasal 40
Undang2 ini akan berlaku sesudah disjahkan dan diumumkan oleh Dewan Pemerintah Rakjat Pusat.
OF THE
INDONESIAN PEOPLE'S DELEGATION
Jang menghadiri upatjara ulang tahun RRT ke-II,berangkat dari Djakarta tg. 23 September
dan kembali tg. 5 Nopember 1951.
Beberapa hari lagi kami akan meninggalkan Kanton dan dengan begitu meninggalkan daerah RRT. Kami merasa perlu meninggalkan sebuah keterangan sebelum kami pulang menudju Tanah Air kami, Indonesia.Lebih dulu kami sampaikan terima kasih kami jang tidak berhingga kepada organisasi2 jang mengundang kami datang kenegeri ini, jaitu Komite Perdamaian Dunia dan Menentang Agressi Amerika seluruh Tiongkok, Federasi Wanita Demokrat Seluruh Tiongkok, Federasi Kesusasteraan dan Kesenian Seluruh Tiongkok, sehingga dengan undangan itu kami mendapat kesempatan untuk melihat keadaan Tiongkok Baru dengan mata sendiri dan mendengar keadaannja dengan telinga sendiri. Mengutjap terima kasih pula kami kepada tjabang2 organisasi-organisasi itu serta tjabang2 organisasi Buruh dan organisasi Pemuda Demokrasi Baru didaerah2 jang kami kundjungi, jaitu: Peking, Shenyang, Tientsin, Nanking, Shanghai, Hangchow dan Kanton. Tidak lupa pula berdjabatan tangan dengan perantaraan tulisan ini, dengan Pemerintah Pusat dan Pemerintah didaerah2, jang dimana2 banjak menundjukkan perhatiannja dan memberi bantuan kepada perkundjungan dan perdjalanan kami itu.
Pada achir perkundjungan ke RRT ini kami mendapat kesempatan datang di Hangchow, tempat jang indah. Disinilah kami mendapat kesempatan membulatkan bahan2 jang sudah kami pendapat. Disinilah kami mengheningkan pikiran kami seradja memandang kembali apa2 jang sudah kami lihat dan dengar serta membatja pula sedikit-sedikit. Statement ini ialah hasil dari mengheningkan pikiran dan perhatian ditempat jang indah itu. Keadaan Tiongkok sekarang mengagumkan kami, didalam dua tahun sudah tertjapai keadaan jang stabil dalam lapangan keamanan, ekonomi, politik dan kebudajaan. Kesatuan dan harmoni tampak djadi kenjataan antara Partai Komunis dengan partai2 dan golongan lain, terutama perlu kami sebutkan: golongan burdjuis ketjil dan burdjuis nasional, sehingga mereka ini dengan giat bekerdja dibawah pimpinan Pemerintah Rakjat dan serta aktif didalam pemerintahan ini, dan dengan djalan begitu turut bekerdja untuk kemadjuan petani dan buruh, golongan2 jang dulunja sangat diabaikan nasibnja, sehingga dengan keaktifan mereka itu, merekapun turutlah serta memperkuat dan membawa sendi2 masjarakat Tiongkok kearah stabilitet jang fundamental.
Bangsa2 minority (nationalities) merasa bebas, berhubung politik Pemerintah Rakjat jang berdasarkan pemandangan jang luas dan djauh kemuka.
Kerdjasama antara kapital dan buruh dan adanja aturan kerdjasama itu adalah mendjadi teladan jang baik kepada negeri2 lain. Pendeknja sangat menarik hati tentang keadaan di RRT ini. Kapital dapat berkembang djuga didalam susunan state-economy, sehingga private-economy itu tetap dapat bertugas, tetapi dengan menghilangkan pengaruh2nja jang sangat mengombang-ambingkan nasib dan kehidupan rakjat terbanjak.
Kami lihat djuga, kebudajaan sangat diperhatikan, malahan kesenian dan kesusasteraan mendjadi njata bertugas kepada rakjat buruh dan tani chususnja dan kepada seluruh masjarakat umumnja. Orang2 kesenian dan kesusasteraan adalah ditengah2 perdjuangan dan pembangunan bangsa dan negaranja.
Usaha besar dan prinsiplieel jang mengagumkan, satu hal jang tidak boleh dilupakan, ialah landreform. Berhasilnja ini dan beraninja meneruskan dan melaksanakan usaha jang maha besar itu, ada mendjadi pertanda keteguhan hati dan keichlasan hati para pemimpin Tiongkok jang sekarang, dibawah pimpinan ketuanja, Mao Che-tung. Ketua Mao ialah perlambang bangsa Tionghoa sekarang. Beliaulah perlambang Tiongkok Baru sekarang ini. Lain dari stabilitet itu, sudah kenjataan pula pada kami, disegala lapangan tampak bukti2 perkembangan tentang kemadjuan. Stabilitet dan tendens itu, tidak boleh tidak, ialah berarti suatu faktor keinginan suka damai, dan berarti suatu kesanggupan mempertahankan kemerdekaannja, sedang keinginan dan suka damai itu dibarengi lagi oleh Tjinta Tanah Air jang sutji, sehingga kedua kekuatan itu djadi djaminan dan djadi pendorong bagi tertjiptanja Masjarakat Baru jang kuat, kokoh dan sempurna.
Kami makin bertambah jakin, perhubungan jang baik antara RRT dengan Indonesia mendapat pintu untuk bertambah erat. Perhubungan jang erat itu akan membawa keuntungan bagi kedua belah pihak, dan jang mendjadi suatu mata rantai kesatuan dan kerdjasama jang rapat antara negara2 di Asia. Kesatuan dan kerdjasama itu dengan sendirinja mendjadi suatu faktor perdamaian jang kuat dan sangat penting untuk seluruh dunia.
Sebagai penutup statement ini, kami berseru :
- Hidup Ketua Mao Che-tung !
- Hidup Rakjat dan Negara Tiongkok-Baru !
- Hidup Rakjat dan Negara Indonesia !
- Hidup presiden Indonesia, Sukarno !
- Hiduplah Kesatuan Asia !
HANCHOW, 27 OKTOBER 1951.
Delegasi dari Rakjat Indonesia:
Tertanda:
Armijn Pané.
M. Tabrani.
Pertjetakan Hamilton