Tentang Usinara

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian


Usinara, yang menyerahkan jangat dan darahnya untuk
menyelamatkan seekor punai yang terancam kematian,
tahu dewa-dewa tak pernah siap. Mereka makin tua.
Langit menggantungkan dacin pada tiang lapuk
Neraka sejak cinta dibunuh. Timbangan terlambat. Telah tujuh
zaman asap & api penyiksaan mengaburkan mata siapa saja.

Di manakah batas belas, Baginda? "Mungkin tak ada,"
jawab Usinara. Ia hanya menahan perih di rusuknya
ketika tujuh burung nasar sibuk di kamar itu,(tujuh,
bukan satu), merenggutkan dagingnya, selapis demi
selapis.

Sering aku bayangkan raja yang baik hati itu tergeletak
di lantai, memandang ke luar pintu, melihat debu sore
dan daun-daun yang pelan-pelan berubah ungu. Ia ingin
punai itu segera lepas. "Ayo, terbang. Aku telah
menebus nyawamu," ia ingin berkata. Tapi suaranya
tak terdengar.

Sementara itu, di sudut, si punai menangis: "Tak ada
dewa yang datang dan mengubah adegan ini jadi
dongeng!". Usinara hanya menutup matanya. Ia tahu
kahyangan adalah cerita yang belum jadi.