Pola-Pola Kebudajaan/Bab 3

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
III
INTEGRASI KEBUDAJAAN


Ketjorakragaman bentuk2 kebudajaan bisa ditjatat dengan tiada bertanja. Segolongan djenis kelakuan martusia bisa diabaikan dalam beberapa masjarakat tertentu, sehingga hampir2 tiada samasekali, bahkan kadang² sukar untuk memikirkan adanja. Sebaliknja, kelakuan2 tsb. bisa menguasai hampir seluruh tata-kehidupan masjarakat lainnja, sehingga malahan mempengaruhi pula situasi2 jang sangat lain sifatnja. Tjiri2 jang samasekali tiada saling hubungan-sedjarahnja dan jang djuga dalam segi2 lainnja sedikit sekali hubungannja, mendjadi bersatu-padu, dan tak bisa di-pisah2kan lagi. Maka tertjiptalah kelakuan2 jang tak ada di-tempat2, dimana tak terdjadi persatu-paduan sematjam itu. Itulah pula sebabnja, maka ukuran2 dalam berbagai kebudajaan2 jang berlaku mengenai segala matjam kelakuan2, ber-béda2, bahkan bertentangan. Kita boléh djadi memahami, bahwa semua bangsa sependapat dalam mengutuk pembunuhan. Akan tetapi kenjataannja ialah, bahwa sering pembunuhan2 itu diboléhkan, misalnja apabila perhubungan diplomatik antara dua negara telah putus, atau djika adat menetapkan bahwa anak pertama harus dibunuh, atau apabila suami mempunjai kekuasaan penuh atas hidup dan mati isterinja, atau apabila mendjadi kewadjiban anak membunuh kedua orangtuanja sebelum meréka ini akan terlalu tua. Bisa pula terdjadi, bahwa orang dibunuh karena mentjuri ajam atau karena semasa baji gigi atasnja tumbuh lebih dulu, atau karena ia dilahirkan pada hari Rebo. Dikalangan beberapa bangsa, orang meninggal karena menjesal telah membunuh orang dengan tak disengadja; dikalangan bangsa lainnja bunuh diri dianggap tak penting, jang sering terdjadi dalam suatu suku, jakni apabila merasa malu karena dihina. Kadang2 bunuh-diri dianggap sebagai perbuatan tertinggi dan terluhur,jang dilakukan oléh orang bidjaksana. Ada kalanja tjerita tentang bunuh-diri didengarkan orang dengan senjuman jang menandakan kan tidak pertjaja, karena betul2 tak mengerti bagaimana bisa terdjadi hal jang demikian itu. Ada pula jang nenganggapnja sebagai suatu kedjahatan jang diantjam oleh hukuman oléh undang2, atau merupakan dosa terhadap déwa2.

Akan tetapi kita tak boléh puas dengan melihat perbédaan adatkebiasaan2 ini sebagai tjerita sadja. Menjiksa diri sendiri disini, memenggal kepala disana, kesutjian sebelum perkawinan dalam suatu suku dan memuaskan nafsu-kelamin, diantara pemuda-pemudi dalam suku lainnja, kesemuanja itu bukanlah kenjataan2 diatas suatu daftar jang tiada hubungannja satu sama lain; jang dilihat dengan rasa kehéranan kalau dilihat adanja adat jang demikian disini, adat masa tak terdapat ditempat lain. Meskipun larangan untuk nembunuh diri atau membunuh orang lain misalnja tak berdasarkan suatu ukuran mutlak, namun larangan itu tak bersifat kebetulan. Arti kelakuan2 kebudajaan tidak sadja disebabkan karena kelakuan2 itu terikat kepada daérah2 jang tertentu, dan ditetapkan olếh orang2 itu sendiri sehingga mendjelma dalam berbagai bentuk. Masih ada suatu faktor lain lagi, jakni bahwsanja kelakuan2 kebudajaan atjapkali adalah sebagian dari suatu keseluruhan jang tersusun rapi, atau dengan lain perkataan: kelakuan2 kebudajaan itu berintegrasi. Suatu kebudajaan atau peribadi sedikit-banjaknja adalah suatu keseluruhan jang konsekwén jang terdiri dari pikiran2 dan perbuatan2. Dalam tiap2 kebudajaan ada tudjuan2 tertentu, jang mesti ada dalam djenis2 peradaban lain. Dalam usaha mewudjudkan tudjuan2 ini setiap bangsa semangkin lama semangkin memperkokoh pengalamannja, dan sesuai dengan pentingnja motif2 itu kelakuan2 jang semula terlepas2 mendapat bentuk jang kian iama kian saling isi nengisi. Dalam rangka kebudajaan jang berintegrasi dengan baik perbuatan2 jang bertentanganpun ditudjukan kearah tudjuan2 tertentu sering setelah ber-niatjam2 perobahan. Kita hanja bisa nemahami bentuk perbuatan2 ini, dengarr lebih dahulu memahami sumber2 émosionil dan intelếktuil masjarakat.


Kita tak bisa mengabaikan integrasi-kebudajaan ini sebagai suatu detail jang tak penting. Ilmu pengetahuan modérén diberbagai lapangan mengemukakan dalil, bahwa keseluruhan tak hanja merupakan djumlah bagian2nja, melainkan merupakan hasil daripada suatu penjusunan tertentu dan saling berhubungan antara bagian2, sehingga terdjadi suatu keseluruhan jang samasekali baru sifatnja. Bahan peledak tak sadja belirang + arang kaju + selpétér; malahan pengetahuan jang selengkap2nja tentang ketiga zat itu dalan segala bentuknja jang ada dalam alam, tak mampu memberi pendjelasan kepada kita tentang sifat sesungguhnja daripada bahan peledak. Dalam keseiuruhan jang baru itu terdjadi kemungkinan2, jang ,tadinja tak ada dalam bagian2nja, dan reaksi2 jang nampak pada bahan peledak, sifatnja samasekali lain dibandingkan dengan rếaksi manapun dari ketiga bagian itu dalam kombinasi2 lain.


Demikian pula kebudajaan adalah lebih daripada djumlah tjiri2nja. mengetahui semua seluk-beluk adat-istiadat perkawin-an tari2an adat dan wedjangan pubertết sesuatu suku, tetapi tak bisa Kita bisa memahami samasekali kebudajaan sebagai suatu keseluruhan, jang tetap

menggunakan bagian² itu untuk mentjapai tudjuan'nja sendiri. Tudjuan ini memilih dari tjiri² jang bisa dipakai disekitarnja, membuang tjir² lain jang tak bisa dipergunakannja. Jang lain lagi dirobah menurut keperluannja, Tentu sadja hal ini tak perlu terdjadi setjara sadar dalam segala bagian²nja, akan tetapi djika kita tak memperhatikan hal ini dalam menjelidiki keseluruhan kelakuan² manusia, maka jang demikian itu berarti kita menolak kemungkinan untuk memahaminja dengan baik. Integrasi kebudajaan ini tak mengandung rahasia apapun djuga. Prosésnja sama sadja dengan proses terdjadinja dan tjara mempertahankan diri suatu gaja seni. Arsitektur Gothik, jang semula hanja terdiri dari kesukaan akan tjahaja dan ketinggian, kemudian karena berkembangnja beberapa ukuran² dan seléra tertentu dalam penggunaan teknik baru, mendjadi kesenian jang chas dan homogen dalam abad ketigabelas. Beberapa bagian jang tak sesuai ditolak, jang lainnja di sesuaikan dengan tudjuan²nja, ditemukan unsur² baru jang sesuai-dengan tudjuan²nja, dengan selera Gothik, Dalam melukiskan sedjarah kedjadian ini, kita dengan sendirinja mempergunakan istilah? animistis se-olah² ada pilihan dan tudjuan dalam perkembangan dan pertumbuhan bentuk kesenian ini. Akan tetapi hal ini disebabkan karena adanya kesukaran? bahasa. Sesungguhnja tiada pilihan jang sadar dan tiada pula tudjuan. Jang semula hanjalah merupakan suatu penjelewengan sedikit dari teknik dan pemberian bentuk jang sifatnja setempat, kemudian mulai mendjetmakan diri dengan kuatnja, bertumbuh dalam ukuran² jang makin lama makin tertentu sifatnja dan berkembang mendjadj kesenian Gothik.

Apa jang terdjadi pada proses² gajaseni² besar, terdjadi pula pada proses kebudajaan sebagai keseluruhan. Berbagai tjorak kelakuan mengenai pentjarian nafkah, persetubuhan, perang dan pemudjaan dewa, kemudian disesuaikan satu sama Jain menurut ukuran² jang tak disadari jang berkembang dalam kebudajaan. Beberapa bentuk² kebudajaan, seperti halnja dengan beberapa masa²-kesenian, tak berhasil untuk melaksanakan integrasi, dan dari bentuk? kebudajaan jang banjak itu kita mengetahui terlalu sedikit untuk memahami motif² jang mendjiwainja. Akan tetapi disetiap taraf, dari bentuk² kebudajaan jang paling bersahadja sampai pada bentuk²-kebudajaan jang paling tinggi dan pesat perkembangannja, ada peristiwa² dimana integrasi itu terdjadi. Bentuk² kebudajaan itu sedikit banjaknja adalah hasil² baik dari integrasi, dan jang mengherankan ialah, bahwa banjak sekali kemungkinan² jang ada dilapangan ini.

Sampai sekarang, penjelidikan anthropologi untuk sebagian terbesar terdiri dari analisa tjiri² kebudajaan, sehingga sedikit sekali perhatian ditjurahkan kepada penjelidikan kebudajaan² sebagai keseluruhan² jang penuh arti. Hal ini disebabkan karena sifat dan watak uraian² etnologi masa dulu. Para ahli-anthropologi klassik dalam pekerdjaannja tak mempergunakan pengetahuan langsungnja tentang bangsa² primitif. Merkka itu adalah sardjana²-kamar jang mempergunakan anekdot² berasal dari pelanijong² dan missionaris², ditambah dengan uraian² formil dan skematis para ahli-etnologi kuno. Bahan² ini memungkinkan mereka mendapatkan suatu pemandangan umum tentang adatkebiasaan², seperti pentjungkilan gigi, atau meramah dari isi perut binatang, akan tetapi samasekali tak mentjukupi untuk menentukan kedudukan jang dimiliki adatkebiasaan² ini dalam berbagai suku, jang memberi arti dan bentuk kepadanya.

Penjelidikan² kebudajaan seperti The Goiden Bough dan penjelidikan² tradisionil ilmu perbandingan bangsa² adalah tindiauan² anafistis dari berbagai ijiri kebudajaan dan samasekali tak me-njinggung² masalah integrasi. Adatistiadat perkawinan dan kematian didjelaskan dengan tjontoh², jang tanpa pilih² diambil dari berbagai bentuk²-kebudajaan dan oleh karena itu mendjadi sematjam raksasa Frankenstein jang mekanis, jang mata kanannja berasal dari pulau Fidji, mata kirinja dari Eropah, satu kaki dari pulau Api dan kaki lainnja dari Tahiti, sedang kan djari² tangan dan djari² kakinja berasal dari berbagai daerah² lain, Apa jang digambarkan itu tak pernah betul²bada dalam kenjataan, baik sekarang maupun dahulu. Oleh karena masalah? jang utama tetap tak terpetjahkan seperti misinya kalau psykiatri puas dengan suatu katalogus berisi lambang² jang dipergunakan oleh psikopath² dengan mengabaikan penjelidikan keseluruhan? daripada sistim², kompleks-simptom², seperti schizophreni, histeri dan njeri² jang sifatnja manic-depressif, dimana jambang² ini menduduki tempat tertentu. Dalam berbagai peristiwa ini peranan jang dimainkan oleh suatu tanda atau simptom tertentu dalam kelakuan² si sakit, bisa sangat berlainan, baik dalam hubungannja dengan pribadi keseluruhannja, maupun dengan semua segi²nlain dari kelakuan²nja. Apabila kita betul² menaruh perhatian kepada kerdja djiwa, maka kita baru bisa memahaminja setelah kita menetapkan tempat mana jang diduduki oleh suatu lambang chusus dalam seluruh kepribadian individu.

Apabila penjelidikan²: tentang kebudayaan dilakukan dalam semangat jang demikian itu, maka ini akan membawa hasil² jang salah pula. Djikalau kita menaruh perhatian kepada bentuk²-kebudajaan, maka kita baru bisa memahami arti suatu bagian tertentu te hadap dari adatkebiasaan, setelah kita memudjanja dihadapan Jatarbelakang motif² dan nilai² jang dipungut oleh kebudajaan ini dalam lembaga²nja. Dewasa ini jang sangat diperlukan ialah menjelidiki kebudajaan jang hidup berserta memahami alam pikiran dan fungsi² lembaga²nja, dan pengetahuan sematjam itu tak bisa diperoleh dengan mengadakan „Pemeriksaan-majat” dan merekenstruksinja berdasarkan bahan² pemeriksaan sematjam itu.

Malinowski ber-ulang² menundjukkan perlunja penjelidikan² kebudajaan setjara fungsionil. Ja mengetjam penjelidikan? tradisionil jang sifatnja ter-pentjar² sambil menjamakan penjelidikan sematjam itu dengan pemeriksaan majat terhadap organisme², jang lebih baik diselidiki dalam keadaan hidup sewaktunja sedang mendjalankan fungsi²nja. Salah satu penjelidikan jang setjara besar²-an jang terbaik dan terkemuka tentang suatu bangsa primitif, jang telah memungkinkan tertjiptanja étnologi moderen, ialah laporan luas Malinowski mengenai penduduk kepulauan Trobriand di Melangsia. Akan tetapi Malinowski dalam tindjauan²-étnologinja sudah puas dengan pernjataannja jang menegaskan bahwa tjiri² berfungsi selaku bagian dari suatu kebudajaan jang hidup. Kemudian ia menjimpulkan bahwa tjiri² penduduk Trobriand—seperti dalam hal pentingnja memenuhi kewadjiban terhadap satu sama lain, watak setempat daripada magi dan sifat chusus hidup berumah tangga — berlaku untuk semua dunia primitif, dan tidak hanja mengakui struktur kebudajaan-Trobriand sebagai salah satu dari banjak type² jang ada, jang masing² mempunjai susunan²nja tersendiri jang chas dilapangan ékonomi, agama dan kebudajaan.

Akan tetapi penjelidikan kelakuan kebudajaan tak lagi bisa didasarkan kepada pendapat bahwa bentuk²kebudajaan setempat tertentu identik dengan primitif aseli. Para ahli-anthropologi sekarang berpaling dari penjelidikan suatu kebudajaan dan mengalihkan penjelidikannja kepada berbagai kebudajaan primitif dan akibat² peralihan dari jang tunggal ke jang djamak ini baru sekarang terasa pengaruhnja.

Ilmu pengetahuan moderen, dihampir segala lapangan, menegaskan akan maha pentingnja penjelidikan struktur keseluruhan — lawan pengupasan jang terus-menerus daripada bagian²nja. Wilhelm Stern telah membuat hal ini sebagai dasar karja filsafat dan psikologinja. Ditegaskannja bahwa keseluruhan jang tak terbagi² dan pribadilah jang harus didjadikan titikbertolak. Ia melantjarkan ketjaman² terhadap penjalidikan² atomistis, jang hampir menguasai samasekali psikologi introspetif dan psikologi tksperimentil, dan untuk gantinja ia mengadakan penjelidikan terhadap struktur peribadi. Seluruh aliran atau peladjaran struktur ini mentjurahkan karjanja dalam tjara jang sematjam meliputi perbagai lapangan. Worringer menundjukkan betapa besar tjara penindjauan dilapangan éstetika karena meétode ini. Sardjana ini membandingkan dua kesenian jang sudah mentjapai puntjak²nja jang berasal dari dua zaman, Junani dan Byzantin. Kritikseni dahulu, katanja, jang merumuskan kesenian setjara absolut, dan mewudjudkannja dengan ukuran² klasik, mustahil bisa memahami proses-kesenian jang terdjelma dalam senilukis Byzantin atau mozaik. Puntjak² kesenian jang satu tak bisa dinilai dengan ukuran² jang ada pada kesenian jang lain, karena tudjuan² jang hendak ditjapainja, berbeda sekali. Orang² Junanj dalam keseniannja mentjoba mendjelmakan rasa bahagia jang mengisi perbuatan?nja: mereka mentjoba mendjelmakan persewu-djudan vitalitétnja dengan dunia objektif. Kesenian Byzantin dalam pada itu mendjelmakan abstraksi, perasaan terpisah jang dari alam lahir mesra-mendalam, Apabila kita mentjoba memahami dua bentuk² kesenian ini, maka kita dengan harja memperbandingkan ketjakapan seninja, akan tetapi chususnja memperhatikan sifat dan tjorak jang berlainan dalam tudjuan² kesenjan itu. Kedua bentuk kesenian memanglah mewakili keseluruhan² jang berlawanan, akan tetapi ke-dua²nja sama² berintegrasi, dimana masing” mempunjai bentuk² dan ukuran² tersendiri, jang tak ada pada bentuk kesenian jang !ain.

Gestaltpsikologi banjak sekali djasanja ketika ia menundjukkan pentingnja keseluruhan sebagai titikbertolak, dan tidak daripada bagian²nja. Para ahli Gestaltpsikologi telah menundjukkan bahwa bahkan dalam tanggapan² inderia jang paling sederhanapun pengalaman keseluruhan tak bisa diterangkan dengan analisa tanggapan?bagian tersendiri² Tidaklah tjukup untuk membela tanggapan? dalam fragmen² objetif. Rangka pokok beserta bentuk² jang terdjelma karena penga- taman² jang lampau adalah terpenting dan tak dapat dibuang. Disamping mekanisme asosiasi sederhana, jang sudah dianggap tjukup oleh psikologi sesudah Locke, kita harus pula menjelidiki ,,tjiri² keseluruhan” dan ,,tendensi² keseluruhan”, Keseluruhan menentukan bagian²nja bukan sadja dalam-perhubungannja, akan tetapi djuga mengenai wataknja. Antara dua keseluruhan terdapat perbedaan djenis, dan keduanja hanja bisa dipahami apabila watak²nja jang berlainan itu diakui sebagai terpisah dari dan diatas pengetahuan tentang bagian²jang mungkin ada persamaannja. Penjelidikan para ahli-Gestaltpsikologi bergerak dilapangan, dimana pembuktian² setjara éksperimentil dalam laboratorium bisa dilaksanakan, akan tetapi akibat²nja djauh mengatasi pembuktian² se-mata² jang dilakukan dalam penjelidikannja.

Dalam ilmupengetahuan² sosial dahulu Wilhelm Dilthey, menegaskan akan pentingnja integrasi dan struktur keseluruhan, Perhatian chusus ditudjukan kearah filsafat² jang luhur dan tafsiran² hidup. Chusus dalam ,,Die Typen der Weltenschauung”, ia menganalisa bagian² daripada sedjarah pemikiran untuk menundjukkan betapa nisbinja sistim² filsafat ini. Ia melihatnja sebagai bentuk² pendjelmaan ketjorak- ragaman hidup, perasaan² Lebenstimungen, sikap² jang berintegrasi jang penggolongan terpentingnja tak dapat dihilangkan dan diganti satu sama lain. Setjara tabah disangkalnja dalil jang menjatakan bahwa salahsatu diantaranja bersifat terachir. Ia tak menamakan berbagai sikap jang diselidikinja itu sebagai sikap²-kebudajaan akan tetapi karena mendjadi pokok² penjelidikannja ialah keseluruhan2-filsafat jang luhur dan masa²-sedjarah seperti zaman Frederik Akbar, dengan sendirinja karyanja makin lama makin sadar mengarah kesuatu pengakuan dari peranan jang dimainkan oleh kebudajaan.

Oswald Spengler telah menarik konsekwensi daripada pengakuan ini se-djauh²nja. Karyanja „Untergang des Abenlandes” mendapatkan namanja bukan dari pikiran²-ketakdiran, seperti nama jang diberikan olehnja kepada anasir² pemberi tjorak peradaban, melainkan dari suatu thesis jang terletak diluar persoalan kita, jakni, bahwa, keseluruhan² kebudajaan, seperti halnja dengan organisme², mempunjai batas-umur jang tak bisa dilangkahinja. Sebagai alasan daripada theori mengenai runtuhnja peradaban², dikemukakan kenjataan tentang perpindahan pusat² kebudajaan dalam peradaban Barat dan sifat² periodik daripada puntjak² kebudajaan. Ia tambahi pandangan ini dengan suatu analogi, jang tak bisa bersilat lebih daripada suatu analogi, tentang cyclus lahir dan mati organisme² hidup. Ia jakin, bahwa tiap² peradaban mengalami keremadjaan jang riang gembira, kedewasaan jang kuat dan masa tua jang menudju keruntuhal.

Tafsiran sedjarah seperli itulah jang umumnja kita ingat, apabila memperbintjangkan „Untergang des Abenlandes”. Padahal Spengler memberi sesuatu jang lebih berharga dan orisinil dalam analisanja tentangdua bentuk²-struktur jang berlawanan dalam peradaban Barat Ia mengemukakan dua „pikiran² ketakdiran” besar sifatnja sangat berlainan : Paham Ap llonis dari dunia klassik dan paham Faust dari dunia modeden. Manusia appolonis menganggap djiwanja „sebagai kosmos jang tersusun kelompok terdiri dari bagian² jang utama”. Dalam kosmosnja tiada tempat bagi kemauan, dan filsafat demikian itu mengutuk pertentangan² sebagai kedjahatan. Pikiran tentang perkembangan batin peribadi samasekali asing bagi filsafat ini, dan hidup ini dipandang sebagai sesuatu jang terus-menerus diantjam oleh bentjana² dari luar. Klimaks jang tragis selalu dianggapnja sebagai gangguan jang sewenangnja terhadap pemandangan jang njaman dari kehidupan normal. Kedjadian sematjam itu bisa menimpa setiap individu dengan tjara jang sama, dan hasil jang sama pula.

Dalam pada itu ia melukiskan manusia Faust sebagai suatu peribadi, jang dtakdirkan untuk selalu mengatasi halangan². Perdjalanan hidup peribadi dipandangnja sebagai suatu perkembangan batin, dan bentjana² dalam kehidupan adalah akibat² jang tak terhindarkan dari pengalaman² jang dialami dan pilihan² jang diadakan dimasa lampau. Udjud kehidupan adalah pertentangan, dan tanpa" penangan kehidupan peribadi tidak ada artinja, dangkal. Manusia Fausi memerlukan jang-abadi, dan kesenjannjapun hendak menijapai jangabadi itu. Sikap Faustis dan Apollonis ini adalah anggapan² hidup dan nilai² jang berlawanan: jang berlaku dipihak jang satu tiada artinja bagi pihak jang lain.

Peradaban dunia klassik dibangunkan diatas dasar pandangan hidup Apollonis, sedangkan dunia moderen menganut pandangan-hidup Faustis dalam segala lembaga²nja. Spengier mengarahkan pula pandangannja kepada bangsa Mesir, ,,jang melihat dirinja bergerak diatas djalan-kehidupan jang sempit jang diatur setjara keras dan mutlak dan achirnja sampai dihadapan hakim? maut”, Diapun memandang kepada bangsa Magian, jang dengan teguh berpegangan kepada dualisme badan dan djiwa, Akan tetapi pokok persoalan besar Spengler ialah persoatan disekitar watak² Apollonis dan Faustis. Ja berpendapat, bahwa ilmu-pasti, arsitektur, musik dan senilukis mengutjapkan dua filsafat besar jang saling bertentangan ini, jang berasal dari masa² berlainan dalam peradaban Barat.

Kesan katjaubalau, jang membekas setelah membatja buku² Spenger, hanja untuk sebagian sadja disebabkan karena tjara menulisnja. Chususnja kesan katjaubalau itu disebabkan karena kompieksitét jang tak terselesaikan dari peradaban² jang diperbintjangkannja. Peradaban Barat dalam tjorakragam kesedjarahannja, struktur pekerdjaan dan golongannja, kekajaannja jang tak bertara akan berbagai gedjala, masih belum tjukup dipahami untuk bisa dirumuskan dalam beberapa sem- bojan. Manusia Faust, seandai betul² ada, tak bisa menjesuaikan diri dengan peradaban kita, ketjuali dibeberapa kalangan²tjerdikijendekia jang sangat terbatas. Keijuali tokoh²-Faust masih ada pula orang² kuat jang suka akan kegiatan dan Babbit ¹), sehingga penguraian ethrologis peradaban setjara memuaskan, tak bolth pula mengabaikantype jang banjak kedapatan dalam peradaban itu. Memang misalnja bisa setjara mejakinkan melukiskan type² kebudajaan kita ini sebagai pada umumnja bersifat mengarah-keluar (éxtravert) : selalu dalam keadaan situk-keduniawian, sibuk dengan penemuan², politik, dan seperti jang dikata kan oleh Edward Carpentier, selalu siap untuk melontja dalam kereta-api”.

Dilihat dari sudut anthropologi gambaran Spengler tentang peradaban²-dunia ini terpengaruh oleh paksaan dalam tjara bekerdja: nja jang memperlakukan masjarakat jang berkelas ini sebagai suatu kebudajaan-kerakjatan jang homogen (bersatu djenis). Bagi tingkat-




¹ Babbit ialah pedagang Amerika jang sukses dalam buku Sinclair Lengis. pengetahuan kita, fakta2 kesedjarahan kebudajaan Eropah Barat terlalu banjak selukbeluknja dan diffrensiasi sosial telah demikian djauhnja, sehingga sukar untuk menganalisanja. Kitapun berkesimpulan, bahwa betapapun pentingnja dan menariknja tindjauan Spengler mengenai manusia-Faust bagi penjelidikan kesusateraan dan filsafat Eropah, dan betapapun kita bisa pula menghargai titiberat jang diletakkannja kepada kenisbian ukuran2, namun kesimpuian2nja pada keseluruhannja tak perlu mesti benar, meskipun seandainja jang mendjadi alasan hanja lah, karena kita berpihak sepenuhnja melihat soalnja dengan berbagai tjara sehingga kesimpulannjapun akan sangat berlainan sekali. Achirnja mungkin akan ternjata bahwa tidaklah mustahil untuk merumuskan suatu keseluruhan jang begitu besarnja seperti halnja dengan peradaban Barat. Masa sekarang ini, betapapun menariknja dalil Spengler tsb. mengenai pikiran-ketakdiran jang tak terbandingkan, pertjobaan untuk menerangkan dunia Barat berdasarkan suatu tjiri tertentu, hanja akan berachir dengan kesimpulan2 jang membingungkan sadja.


Salah suatu dari dasar2 filsafat untuk menjelidiki bangsa2 primitif mengenai bentuk2-kebudajaan jang lebih sederhana memperdjelas fakta2 sosial, jang kalau tidak akan tak terfahami samasekali. Hal ini lebih2 njata sekali dilapangan bentuk2-kebudajaan jang asasi dan berdiri sendiri terpisah dari jang lainnja, jang menguasai ialah bahwa fakta2 kehidupan se-hari2 dan menentukan pikiran2 dan perasaan2 orang2 jang ini. Seluruh masalah tentang terdjadinja komplếks2-adat kebiasaan individuil dếwasa ini paling mudah bisa dipetjahkan dengan djalan menjelidikinja pada bangsa2 primitif. Ini taklah berarti, bahwa fakta2 dan perbuatan2 jang bisa kita temukan dengan djalan ini, hanja terpakai bagi peradaban2 primitif. Pengaruh2 kebudajaan adalah sama kuat dan pentingnja dalam masjarakat2 jang paling djauh perkembangannja dan paling berselokbeluk sifatnja. Akan tetapi disana bahan penjelidikannja terlalu ruwết dan letaknja terlalu dekat dari mata kita untuk bisa dikerdjakan dengan hasil jang mendukung bentuk2-kebudajaan sebaik2nja.


Djalan jang paling sederhana untuk bisa sampai kepada pengertian tentang prosếs kebudajaan kita sendiri ialah melalui djalan tak langsung. Ketika perhubungan2 sedjarah antara manusia dan nenekmojang-nja jang terdekat dialam hếwani rupa2nja terlalu ber-belit2 untuk dipakai guna mendjelaskan ếvolusi biologis, Darwin kembali kepada struktur belakang. Kedjadian2 jang karena struktur badani manusia jang ber-belit2 nampaknja membingungkan, mendjadi djelas dan mudah dipahami setelah dilihat struktur jang lebih sederhana. Kita membutuhkan pengertian jang bisa timbul setelah mempeladjari pikiranz dan kelakuan2 jang terdjadi pada masjarakat2 jang kurang ber-belit2. Saja telah mernilih tiga peradaban primitif, jang akan saja uraikan agak mendalam. Lebih banjak hasil jang bisa diperoleh untuk mendapat pengertian jang tepat, apabila kita menjelidiki betul² beberapa bentuk² kebudajaan, jang merupakan organisasi² kelakuan² jang utuh, daripada djika kita menguraikan banjak bentuk² kebudajaan tapi hanja setjara sambil-lalu. Perhubungan antara motif² dan tudjuan² dengan kebiasaan² jang berdiri sendiri mengenai kelahiran, kematian, pubertḗt dan perkawinan, tak bisa didjelaskan dengan mengadakan pemandangan umum jang meliputi seluruh dunia,. Kita harus membatasi diri kepada tugas jang tak begitu hébat : pengertian jang lengkap dari beberapa bentuk² kebudajaan sadja.