Pidato Politik Liem Koen Hian: Darah Tionghoa

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Jump to navigation Jump to search

Tatkala tiga taon doeloe kita oetaraken haloean Indonesier boeat Tionghoa peranakan, kita telah dapet matjem² bantahan, djoega dan kebanjakan dari orang² jang sebetoelnja tida berhak boeat toeroet batjaraken itoe hal, dari sebab mereka terlaloe tida poenja pengetahoean boeat boleh toeroet bitjaraken soal² itoe. Terlaloe banjak alesan² bodoh dan menoendjoeken tida adanja pengetahoean, telah dimadjoeken oleh mereka, jang maoenja dianggep sebage pendekar dan pembela dari bangsa Tionghoa di Indonesia jang lagi maoe di bikin tjilaka.

Oepamanja antara laen² ada orang jang bilang, kaloe peranakan djadi Indonesier, mareka aken moesti anoet djoega igama Islam. Terpisah dari pertanjaan apa tida lebih baek peranakan peloek igama Islam sebaliknja dari pada seperti sekarang tida poenja igama sama sekali atawa tida karoean igamanja.

Terpisah dari itoe pertanjaan, haroeslah dibilang, sekarang boekan lagi waktoenja boeat satoe negri paksa rahajatnja, sekalipoen ambtenaar² tida lagi dipaksa peloek igama jang disoeka oleh negri atawa pemerentah. Sekarang di mana-mana negri pemerentah tinggal neutral dalem oeroesan igama, mengertinja tida toeroet menjataken lebih soeka sama igama jang ini dari pada jang laen.

Tapi lebih penting dari pada sekalian pertimbangan laen, adalah halnja di Tiongkok sendiri, antara bangsa Tionghoa sendiri ada millioenan orang jang peloek igama Islam. Orang² itoe telah mendjabat pangkat tinggi di Tiongkok.

Melaenken orang² jang tida taoe mata soerat dan tida taoe batja hikajat Tiongkok, baroelah bisa madjoeken kebratan seperti jang ditjeritaken diatas dan merasa sajang kaloe peranakan disini peloek igama Islam.

Apalagi jang dalem gelapnja menoendjoeken pada „darah Tionghoa” dalem toeboehnja peranakan dan tida maoe itoe darah ketjampoeran sama laen darah, kaja itoe darah jang dinamaken „darah Tionghoa” tida soedah riboean taon ketjampoeran setaoe beberapa banjak matjem darah laen.

Tiap² bangsa jang dari riboean taon bergaoelan dalem tempo dami dan dalem tempo perang, sama laen² bangsa, nistjaja tida mempoenjai darah toelen lagi, nistjaja mempoenjai darah tjampoeran.

Boleh dibilang sekarang ampir tida ada lagi bangsa jang mempoenjai darah toelen. Kaloe ada bangsa jang darahnja toelen, belon terjampoer sama darah laen bangsa, barangkali jalah bangsa² jang sekarang dinamaken biadab, seperti bangsa Papoea di tengah-tengahnja Nieuw Guinea, bangsa liar di Australia dan laen sebagenja.

Aken tetapi ini bangsa² jang berdarah toelen makin lama makin habis mati, hingga dalem ini doenia tida ada ketinggalan laen dari pada bangsa² darah tjampoeran setaoe dari berapa matjem bangsa.

Ada baek jang sekarang satoe soerat-kabar nationalistisch seperti „Sin Po” toeroet bikin melek mata pembatjanja boeat liat itoe kebeneran jang apa di namaken „darah Tionghoa” sebenernja ada darah tjampoeran dari setaoe berapa matjem bangsa.

„Sin Po” menoendjoek pada boekoe karangan Dr. Chi Li jang diterbitken di Harvard, Amerika, jaitoe boekoe pertama jang ditoelis oleh seorang Tionghoa tentang keadaan bangsa Tionghoa dalem pemandengan anthropological.

Dr. Chi Li oendjoeken, pertjampoeran darah bangsa Tionghoa soedah terdjadi ampir sama dengen pertjampoeran darah bangsa² di Europa.

Lantaran tjampoer adoek, tida poen heran orang Tionghoa ada dari segala matjem model, potongan dan warna.

Ada jang poetih seperti orang Europa, ada jang koening koelit langsep, tapi ada djoega jang item seperti keling.

Nationaliten peranakan jang soeka bersilat sama darah Tionghoa toelen, toeroenan Han dan laen² nonsense lagi, berboeat baek boeat dirinja sendiri dan boeat orang banjak dengen loeasken doeloe pengetahoean dan pemandengannja sebelon terbirit-birit, teroetama merabah pena dan pentang moeloet tentang hal² prihal mana mereka tida poenja pengertian barang sedikit.