Pers Delict Kwee Thiam Tjing

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Soeara Publiek, 12 Djanoeari 1926.

Tadi pagi Landraad di kepalai oleh Mr. Wienecke sebagi voorzitter, preksa perkara’nja toean Kwee Thiam Tjing jang minggoe laloe dimoendoerken lantaran ia poenja pembela Mr. Jaarsma sakit.

Delict pertama, jang ditoentoet, adalah commentaar, jang toean Kwee Thiam Tjing boeboehi atas satoe toelisan dalem Ind. Crnt. W.J.E, tentang toekang mindring, dimoeat dalem Soeara Publiek 19 September 1925.

Commentaar itoe berboenji begini:

Kita moefakat, djika ada seorang Arab, Tionghoa, Blanda atawa Boemipoetra, jang lepas oewang panas, berlakoe begitoe koerang adjar boeat, oepama, masoek dalem kamar tidoer boeat tjari apa² jang mereka rasa ada berharga boeat di djadiken pentjitjilan dari pindjeman, itoe orang jang sematjem begitoe tida oesah goenaken banjak omong, hanja lebih doeloe kemplang sadja kepalanja, lebih keras lebih baek.

Perkara oetang tinggal oetang, tapi djika lantaran satoe pindjeman lantas si pioetang kira, bahwa ia djoega boleh pindjem orang poenja antero milik, ini kira’an moesti lantas dikasih laloe dengen djalan palang pintoe naek di kepala. Perkara tinggal belakangan.

Dengen menoelis ini commentaar toean Kwee Thiam Tjing didakwa dengen mengasoet orang poekoel sama palang pintoe kepalanja toekang² mindring, jang berani masoek kedalem orang poenja kamar tidoer boeat ambil barang jang bisa diketemoeken aken didjadiken pentjitjilan dari oetangnja itoe orang.

Mr. Jaarsma, dalem ia poenja pledooi bilang:

Satoe perboeatan bisa dibilang mengasoet, djikaloe perboetan itoe dilakoeken dengen sengadja. Ini artian dari perkata’an mengasoet ada dimoefakat oleh pengarang² tentang wet hoekoem, seperti Polenaar, Noyon, Simons. Djoega Hoog Raad di Nederland ada timbang begitoe, sebagimana ternjata dari itoe raad poenja arrest tanggal 28 Oktober 1889, Weekblad van het Recht No. 5792. orang jang lakoeken itoe perboetan mengasoet djadinja mesti taoe, itoe perkara, boeat mana ia asoet orang lakoeken, ada satoe perkara jang bisa dihoekoem.

Tapi dalem ini perkara ada disangkal jang pesakitan taoe, itoe perkara, boeat mana ia asoet orang lakoeken, ada satoe perkara jang bisa dihoekoem. Pesakitan tadinja kira dan sekarang poen masih kira, sebagimana ada dikira djoega oleh segala orang jang tida djadi achli wet, orang jang tinggal dalem satoe roemah ada hak boeat oesir seorang, jang masoek dalem roemahnja dan tida maoe berlaloe dari itoe roemah, dengen goenaken segala djalan, djoega dengen goenaken palang pintoe. Djadinja dalem ini perkara tida ada ternjata, pesakitan sengadja soedah mengasoet dan sebab itoe tida bisa di hoekoem.

Atas pertanja`an dari voorzitter, toean Kwee Thiam Tjing poen menerangken, ia kira, segala orang, jang masoek dalem roemahnja laen orang dan tida maoe berlaloe dari itoe romah, boleh dioesir dengen goenaken segala djalan zonder bisa dihoekoem.

Sesoedah menimbang sebentar dalem raadkamer, Landraad kasih poetoesan, toean Kwee Thiam Tjing betoel soedah bersalah, seperti jang didakwa padanja dan boeat itoe kesalahan padanja didjatohken hoekoeman pendjara tiga boelan. Kamoedian Landraad bersidang preksa toean Kwee poenja perkara jang kedoea.

Berhoeboeng dengen pemboenoehan pada satoe agent politie oleh satoe toekang sate bangsa Madoera dalem boelan Djoeli taon doeloe, toean Kwee Thiam Tjing ada soeroeh moeat satoe toelisan tentang itoe pemboenoehan, jang pengabisan berboenji begini:

Kadang² ada baek djoega, bila publiek jang merasa dirinja sama sekali tida ada harganja di moeka matanja politie rendah (tida perdoeli jang masoek golongan Boemipoetra atawa jang koelit poetih) bikin satoe atawa doea pemboenoehan.

Ini toelisan dianggep mengasoet orang² boeat boenoeh orang politie.

Dalem ia poenja pleidooi Mr. Jaarsma bilang:

Wet tida ada kasih artian jang tentoe dari perkata’an mengasoet. Mengasoet bisa dibilang "Mengandjoerin", membangoenken orang boeat lakoeken apa²". Djadinja perkara mengasoet ada mempoenjai arti sedikit loeas dari perkata’an "memantjing".

Si pembikin wet telah bikin perboeatan mengasoet jang membawa kesoedahan dan jang tida membawa kesoedahan, djadi satoe artikel sadja. Doeloe bisa dihoekoem melaenken perboeatan mengasoet jang membawa kesoedahan. Satoe perboeatan jang bisa dibilang mengasoet, djikaloe perboeatan itoe dilakoeken dengen sengadja. Asoetan itoe moesti ditoedjoeken pada satoe perkara jang bisa dihoekoem.Kedjahatan memboenoeh tida bisa ada zonder orang jang diboenoeh dan orang jang memboenoeh. Tapi dalem ini perkara doea² tida, jaitoe tida ada orang jang diasoet boeat diboenoeh dan orang jang diasoet boeat memboenoeh.

Dalem koetiban diatas dari itoe toelisan tida ada dibilang, siapa jang moesti diboenoeh. Djoega tida dibilang, siapa jang moesti lakoeken itoe pemboenoehan. Laen sekali adanja, tjoba pesakitan telah oetjapken itoe perkata’an² pada publiek jang ada di djalanan, jaitoe pada sekoempoelan orang². Tapi sekarang itoe perkata’an publiek sama sekali tida ada artinja. Pendeknja tida ada tjoekoep keterangan boeat bilang, siapa jang moesti djadi pemboenoeh. Djikaloe Landraad dengen tida diharep tida moefakat sama ini keterangan, maka saja hendak mengoendjoek lagi pada halnja si pembikin telah rampet perkara mengasoet jang membawa kesoedahan moesti di hoekoem banjak lebih enteng dari asoetan jang membawa kesoedahan. Djoega tida patoet adanja boeat tahan pesakitan dalem preventief, kerna mengasoet zonder ada kesoedahannja. Toelisannja pesakitan baroe betoel berbahaja, tjoba sesoedah terbit toelisan itoe, djoemlah pemboenoehan pada orang politie bertambah banjak. Tapi ini tida ada ternjata. Sesoedahnja menimbang sebentar dalem raadkamer, Landraad kasih poetoesan, toean Kwee Thiam Tjing betoel salah, seperti didakwa dan padanja didjatohken hoekoeman pendjara anem boelan.

Boeat doea-doea poetoesan itoe toean Kwee teeken appel.


Suara Publik, 12 Januari 1926.

Tadi pagi Landraad dikepalai oleh Mr. Wienecke sebagi voorzitter, periksa perkaranya tuan Kwee Thiam Tjing yang minggu lalu dimundurkan lantaran ia punya pembela Mr. Jaarsma sakit.

Delict pertama, yang dituntut, adalah commentaar, yang tuan Kwee Thiam Tjing bubuhi atas satu tulisan dalam Ind. Crnt. W.J.E, tentang tukang mindring, dimuat dalam Suara Publik 19 September 1925.

Commentaar itu berbunyi begini:

Kita mufakat, jika ada seorang Arab, Tionghoa, Belanda atau Bumiputra, yang lepas uang panas, berlaku begitu kurang ajar buat, upama, masuk dalam kamar tidur buat cari apa² yang mereka rasa ada berharga buat dijadikan pencicilan dari pinjaman, itu orang yang semacam begitu tidak usah gunakan banyak omong, hanya lebih dulu kemplang saja kepalanya, lebih keras lebih baik.

Perkara utang tinggal utang, tapi jika lantaran satu pinjaman lantas si piutang kira, bahwa ia juga boleh pinjam orang punya antero milik, ini kiraan musti lantas dikasih lalu dengan jalan palang pintu naik di kepala. Perkara tinggal belakangan.

Dengen menulis ini commentaar tuan Kwee Thiam Tjing didakwa dengan menghasut orang pukul sama palang pintu kepalanya tukang² mindring, yang berani masuk ke dalam orang punya kamar tidur buat ambil barang yang bisa diketemukan akan dijadikan pencicilan dari utangnya itu orang.

Mr. Jaarsma, dalam ia punya pledooi bilang:

Satu perbuatan bisa dibilang menghasut, jikalu perbuatan itu dilakukan dengan sengaja. Ini artian dari perkataan menghasut ada dimufakat oleh pengarang² tentang wet hukum, seperti Polenaar, Noyon, Simons. Juga Hoog Raad di Nederland ada timbang begitu, sebagimana ternyata dari itu raad punya arrest tanggal 28 Oktober 1889, Weekblad van het Recht No. 5792. orang yang lakukan itu perbutan menghasut jadinya mesti tahu, itu perkara, buat mana ia hasut orang lakukan, ada satu perkara yang bisa dihukum.

Tapi dalam ini perkara ada disangkal yang pesakitan tahu, itu perkara, buat mana ia hasut orang lakukan, ada satu perkara yang bisa dihukum. Pesakitan tadinya kira dan sekarang pun masih kira, sebagaimana ada dikira juga oleh segala orang yang tidak jadi ahli wet, orang yang tinggal dalam satu rumah ada hak buat usir seorang, yang masuk dalam rumahnya dan tidak mau berlalu dari itu rumah, dengan gunakan segala jalan, juga dengan gunakan palang pintu. Jadinya dalam ini perkara tidak ada ternyata, pesakitan sengaja sudah menghasut dan sebab itu tidak bisa dihukum.

Atas pertanyaan dari voorzitter, tuan Kwee Thiam Tjing pun menerangkan, ia kira, segala orang, yang masuk dalam rumahnya lain orang dan tidak mau berlalu dari itu rumah, boleh diusir dengan gunakan segala jalan zonder bisa dihukum.

Sesudah menimbang sebentar dalam raadkamer, Landraad kasih putusan, tuan Kwee Thiam Tjing betul sudah bersalah, seperti yang didakwa padanya dan buat itu kesalahan padanya dijatuhkan hukuman penjara tiga bulan. Kamudian Landraad bersidang periksa tuan Kwee punya perkara yang kedua.

Berhubung dengan pembunuhan pada satu agent politie oleh satu tukang sate bangsa Madura dalam bulan Juli tahun dulu, tuan Kwee Thiam Tjing ada suruh muat satu tulisan tentang itu pembunuhan, yang penghabisan berbunyi begini:

Kadang² ada baik juga, bila publik yang merasa dirinya sama sekali tidak ada harganya di muka matanya politie rendah (tidak perduli yang masuk golongan Bumiputra atau yang kulit putih) bikin satu atau dua pembunuhan.

Ini tulisan dianggap menghasut orang² buat bunuh orang politie.

Dalam ia punya pleidooi Mr. Jaarsma bilang:

Wet tidak ada kasih artian yang tentu dari perkataan menghasut. Menghasut bisa dibilang "Menganjurin", membangunkan orang buat lakukan apa²". Jadinya perkara menghasut ada mempunyai arti sedikit luas dari perkataan "memancing".

Si pembikin wet telah bikin perbuatan menghasut yang membawa kesudahan dan yang tidak membawa kesudahan, jadi satu artikel saja. Dulu bisa dihukum melainkan perbuatan menghasut yang membawa kesudahan. Satu perbuatan yang bisa dibilang menghasut, jikalu perbuatan itu dilakukan dengan sengaja.

Hasutan itu musti ditujukan pada satu perkara yang bisa dihukum. Kejahatan membunuh tidak bisa ada zonder orang yang dibunuh dan orang yang membunuh. Tapi dalam ini perkara dua² tidak, yaitu tidak ada orang yang dihasut buat dibunuh dan orang yang dihasut buat membunuh.

Dalem kutipan di atas dari itu tulisan tidak ada dibilang, siapa yang musti dibunuh. Juga tidak dibilang, siapa yang musti lakukan itu pembunuhan. Lain sekali adanya, coba pesakitan telah ucapkan itu perkataan² pada publik yang ada di jalanan, yaitu pada sekumpulan orang². Tapi sekarang itu perkataan publik sama sekali tidak ada artinya. Pendeknya tidak ada cukup keterangan buat bilang, siapa yang musti jadi pembunuh. Jikalu Landraad dengan tidak diharap tidak mufakat sama ini keterangan, maka saya hendak mengunjuk lagi pada halnya si pembikin telah rampet perkara menghasut yang membawa kesudahan musti dihukum banyak lebih enteng dari hasutan yang membawa kesudahan. Juga tidak patut adanya buat tahan pesakitan dalam preventief, karena menghasut zonder ada kesudahannya. Tulisannya pesakitan baru betul berbahaya, coba sesudah terbit tulisan itu, jumlah pembunuhan pada orang politie bertambah banyak. Tapi ini tidak ada ternyata.

Sesudahnya menimbang sebentar dalam raadkamer, Landraad kasih putusan, tuan Kwee Thiam Tjing betul salah, seperti didakwa dan padanya dijatuhkan hukuman penjara enam bulan.

Buat dua-dua putusan itu tuan Kwee teekan appel.