Muslihat/Bab1

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

A. Iklim Perjuangan[sunting]

Republik Indonesia yang didirikan pada tanggal 17 Agustus 1945 berada dalam perjuangan yang hebat dahsyat. Percakapan yang berhubungan dengan Indonesia Merdeka diteruskan oleh MR. APAL, TOKE, DENMAS, PACUL, dan GODAM. Dalam hal merundingkan muslihat yang patut dijalankan ini pun nyata bahwa masing-masing pembicara terkungkung oleh sifat golongan sendiri-sendiri.

SI PACUL : Merdeka!

BERSAMA : Merdeka, Cul! Perubahan besar, Cul, buat engkau dari ucapan selamat pagi, apa kabar sampai merdeka! Kami kira engkau akan menyerbu dengan Kyai Kebal ke Surabaya! Sudahkah engkau terima jimat dan berkahnya Kyai Kebal. Mukamu berseri seperti baja saja, penuh kepercayaan.

SI PACUL : Betul saya percaya tetapi tidak atas kekebalan diriku sendiri. Saya percaya atas kekebalan 70 juta rakyat Indonesia. Asal saja semua syarat perjuangan dipahamkan dan MUSLIHAT dijalankan 70.000.000 manusia takkan dapat dijajah kembali.

SI TOKE : Apa kabar yang paling akhir? Bagaimana keadaan kita sekarang?

SI PACUL : Saya juga bukan ahli, Kek! Saya juga mendapat pertanyaan dari surat kabar dan radio. Tetapi semalam kebetulan berjumpa beberapa teman yang baru kembali dari semua medan pertempuran kecuali dari seberang.

SI TOKE : Kabarkan, Cul, bagaimana keadaan pertempuran kita?

SI PACUL : Bermula marilah kita sebentar mengheningkan cipta buat ribuan rakyat dan prajurit perwira Indonesia yang tewas dalam medan pertempuran. Kedua, marilah kita peringatkan pula bahwa kini tiga setengah bulan Republik Indonesia berdiri. Bandingkanlah perubahan jiwa Rakyat Indonesia, di masa 3½ abad di bawah telapak imperialisme Belanda dan 3½ tahun di bawah telapak imperialisme Jepang dengan 3½ bulan di bawah iklim kemerdekaan.

SI TOKE : Berbeda Cul, seperti siang dan malam. Jiwa berserah sekarang menjadi jiwa dinamis berontak. Semangat takluk dan percaya pada pimpinan asing, sekarang bertukar menjadi semangat melawan dan percaya pada pimpinan negara sendiri, sama diri sendiri, bahkan sama tombak bambu dan golok sendiri. Siapa sangka Cul, penjelmaan yang begitu besar bisa terjadi dalam tempo sependek itu.

MR. APAL : Baru saja saya kembali dari perjalanan dari Anyar ke Surabaya. Terlampau melebihi kalau saya katakan bahwa sepanjang jalan tiap-tiap km diperhentikan. Oleh siapa? Bukan oleh musuh polisi Belanda atau kempei Jepang. Melainkan oleh rakyat jelata Indonesia atas dorongan kalbunya sendiri. Siang malam mereka berjaga-jaga mengawasi mata-mata musuh yang memang berkeliaran mencari-cari kelemahan.

DENMAS : Di masa Diponogoro cuma rakyat Jawa Tengah saja yang berjuang, tak pula seluruhnya. Di masa Imam Bonjol cuma sebagian kecil rakyat Minangkabau yang bertempur dengan Belanda. Di masa Teuku Umar, cuma rakyat Aceh saja yang berperang. Tetapi sekarang seluruh Jawa sudah bertempur. Seluruh Sulawesi, seluruh Kalimantan, dan seluruh Sumatera sedang bangun serentak mengikuti jejaknya Jawa.

MR. APAL : Perjuangan sekarang ialah perjuangan nasional yang sebenarnya! Inilah yang diimpikan oleh kaum nasionalis semenjak 40 tahun ini.

SI TOKE : Perjuangan Indonesia sudah betul-betul menjadi perjuangan internasional. Dewan Selong menyatakan simpatinya terus terang berpihak Indonesia. Buruh Australia memergoki kapal Belanda yang mengirimkan senjatanya ke Indonesia buat memukul Republik Indonesia. Tentara Australia membantu pemberontak Indonesia di Kalimantan. Rusia dan Tiongkok mengakui Republik Indonesia. Dari Amerika pun terdengar suara simpati dari sebagian penduduk di sana. Begitu pula dari sebagian kaum buruh Inggris. Tetapi Cul, apa jawabnya pertanyaan saya yang bermula? Apa kabar yang paling akhir? Bagaimana keadaan pertempuran kita?

SI PACUL : Semuanya yang direntangkan di atas memang berhubungan rapat dengan keadaan kita sekarang. Tentang keadaan pertempuran lebih kurang amat menyenangkan. Kabar radio dan kabar temanku yang baru kembali dari Surabaya mengatakan bahwa Surabaya yang hampir rusak binasa itu sudah digenangi air. Inggris dan Gurkha-nya boleh terus menduduki Surabaya tetapi tank, truk, dan meriam besarnya baiklah mereka angkut saja ke tempat yang kering. Sebagian besar dari rakyat yang tak ikut bertempur sudah menyingkirkan diri. Biarlah Inggris-Nica dan seluruhnya insyaf bahwa rakyat Indonesia selain jiwa raganya juga siap sedia mengorbankan semua. Katanya buat membela kemerdekaan negaranya. Rakyat Indonesia juga insyaf bahwa di luar kota “mesinnya” tentara Inggris yang modern itu sudah kalah, mustahil berjalan terus!

SI TOKE : Bagaimana keadaan di lain tempat?

SI PACUL : Magelang, bekas benteng Belanda yang dahulu amat kuat itu sudah kita rebut kembali. Tentara Inggris sekarang terkepung dalam rawa, juga benteng Belanda, yang dahulu dianggap kuat. Di Jakarta dan sekitarnya pertempuran hebat terus menerus berlaku. Di Bandung dan sekitarnya, rakyat mendesak ke dalam kota. Di mana-mana gedung besar-besar dipertahankan oleh pemuda dengan gagah berani, di luar dugaan bermula. Di Bandung pemuda-pemuda pun tak ketinggalan. Seringkali Jepang dipakai oleh Inggris melawan Indonesia. Begitu keadaan di Jawa, Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatera. Umumnya tentara Indonesia lebih ulung dan lebih berani dari tentara Inggris-Belanda. Tetapi kekuatan senjata tak berbanding. Tank Inggris bermaharajalela di jalan raya, meriam besar mereka tak ada lawannya. Kapal terbang dan kapal perang amat leluasa. Walaupun begitu tak sedikit tank yang ditangkap, kapal perang ditenggelamkan, dan kapal terbang ditembak jatuh oleh prajurit kita. Bermacam-macam senjata, seperti pistol, senapan mitraliur, meriam dll dirampas oleh rakyat jelata dengan bambu runcing, golok dan tinju saja.

SI TOKE : Jadi rupanya rakyat Indonesia dengan tombak bambu, golok dan tinju melawan Inggris-Nica-Jepang yang bersenjata modern buat tentara darat, laut dan udaranya!

SI PACUL : Tetapi ada senjata yang tak ada pada mereka dan ada di pihak kita.

SI TOKE : Apa Cul?

SI PACUL : Kebenaran! Keadilan! Akhirnya, Rakyat Murba!

B. Diplomasi dan Diplomasi[sunting]

SI PACUL : Aku yakin bahwa kita dalam kebenaran dan keadilan. Aku juga percaya bahwa rasa kebenaran dan keadilan yang ada bersarang dalam hati sanubari rakyat di negara luar, akhirnya kan menyambut teriak kebenaran dan keadilan dari pihak kita. Lagipula kita sudah yakin bahwa Rakyat Murba kita tak menghitung laba rugi lagi dalam melaksanakan perasaan kebenaran dan keadilan itu. Tetapi diplomasi apa yang mesti kita jalankan supaya perjuangan rakyat sekarang ini berhasil, inilah yang saya ingin dengar dari Tuan sekalian yang hadir di sini.

SI TOKE : Memang diplomasi itu penting sekali. Denmas memang beradik berkakak dengan diplomasi. Cobalah bentangkan paham Denmas perkara diplomasi itu lebih dahulu.

DENMAS : Yang menjadi dasar diplomasi itu buat saya ialah kekuatan kita sendiri. Diplomasi itu mesti kita jalankan menurut kekuasaan kita sendiri, berbanding dengan kekuatan musuh. Kekuatan kita seperti sudah dijelaskan tadi, di udara, di laut, di darat adalah kurang sekali daripada musuh.

SI TOKE : Jadinya kita mesti bertekuk lutut lebih dahulu? Kemudian tunggu saja apa yang dihadiahkan oleh Sekutu kepada kita?

DENMAS : Oh, tidak.... tidak persis begitu!

SI PACUL : Jadi bagaimana persisnya Denmas?

DENMAS : Sebab dengan kekerasan kita agak susah mendapatkan pengakuan dari negara luar, maka diplomasi kita juga mesti disandarkan atas simpati luar negeri.

SI GODAM : Pengakuan luar negeri itu bukanlah syarat hidupnya Republik Indonesia.

SI PACUL : Diam dulu, Dam! Aku sudah maklum mau ke mana engkau pergi.

SI TOKE : Memang kita mau mendapatkan simpati dari semua negara lain di dunia. Kalau kita tidak bisa mendapatkan simpati dari semua negara lain, cukuplah sudah dari Sekutu saja. Tetapi bagaimana jalan mendapatkan simpati Sekutu itu?

DENMAS : Tuhan membentuk manusia serupa dengan bentuknya sendiri. Sekutu juga akan lebih menyetujui bentuk negaranya sendiri. Sekutu sudah berperang menghancurkan fasisme. Sekarang bentuklah negara yang tiada bercorak fasisme! Tentu akhirnya Sekutu akan akui.

MR. APAL : Memang bentuk Republik dan isi demokrasilah yang cocok dengan perasaan Sekutu. Maka dari itu marilah kita adakan tata negara yang demokratis, pemerintah yang dipilih menurut kehendak rakyat. Akhirnya perlakukanlah rakyat asing di negara kita ini menurut Undang-Undang Internasional dan akuilah kehendaknya Sekutu! Dengan begitu kita akan mendapat simpati, persetujuan, dan pengakuan dari Sekutu.

SI TOKE : Tetapi bagaimana kalau Inggris mau memakai Belanda- Nica sebagai perisai? Bagaimana kalau Inggris seperti imperialismenya di Afrika, Asia, dan Indonesia, membikin perjanjian buat diinjak-injak dan menipu saja? Di mana imperialisme Inggris pernah berlaku jujur terhadap bangsa berwarna? Apakah kita sendiri tidak akan dianggap berkhianat terhadap Negara Indonesia, jika kita sandarkan sikap kita atas kepercayaan pada kejujuran satu imperialisme yang belum pernah berlaku jujur, dalam sejarahnya yang sudah kita kenal?

SI PACUL : Inggris katanya diserahi oleh Sekutu pekerjaan buat melucuti senjata Jepang. Tetapi di mana-mana Inggris mengadu Jepang dengan Indonesia. Di Magelang dan Semarang Jepang dibohongi oleh Inggris. Katanya orang Indonesia sudah membunuh para pembesar Jepang. Di Bandung Jepang tiba-tiba menyerang rakyat atas persetujuan Inggris. Di Pesing, dekat Jakarta, serdadu Jepang diperintah oleh Inggris menembak orang Indonesia. Begitu pula di Palembang dan semua tempat lain. Berapa ribu rakyat Indonesia mati karena politik Inggris mengadudomba Jepang dengan rakyat Indonesia.

SI TOKE : Sebenarnya Republik Indonesia bisa, wajib, dan berhak melucuti senjata Jepang. Itu mulanya dilakukan oleh rakyat Indonesia di Surabaya, Yogyakarta, Magelang, Bandung, dan Malang. Semuanya bisa berjalan baik, kalau di belakangnya Inggris tidak memerintahkan Jepang menggempur rakyat Indonesia.

SI PACUL : Lagipula Inggris katanya cuma mau melayani orang tawanan Eropa! Tetapi apa yang dikerjakannya? Inggris memasukkan Nica bersenjata lengkap dari luar negeri buat menghancurkan Republik Indonesia. Dia memakai organisasi damai seperti Palang Merah dan RAPWI buat mempersenjatai dan mengerahkan tawanan Belanda buat menyerang rakyat Indonesia di mana-mana.

SI TOKE : Satu kali Inggris duduk di satu tempat, di sana Nica keluar, memperkosa merampas harta dan menembaki rakyat Indonesia. Apalagi tempat itu kacau, karena rakyat Indonesia melawan, maka Inggris adakan pemerintah militer. Ini artinya membatalkan pemerintah Republik.

SI PACUL : Jadi teranglah sudah maksud Inggris yang sebenarnya ialah: Duduki satu kota Indonesia, keluarkan Nica buat mengacau dan adakan pemerintah militer. Kalau semua tempat penting sudah diduduki tentara Inggris, ketentraman tercapai, maka dari kantongnya imperialisme Inggris akan dikeluarkan bonekanya, yakni Nica. Sesudah beres maka kapitalis kebun, minyak, dan pabrik Inggris akan kembali ke Indonesia menguasai arah-arahnya hasil Indonesia dan menguasai hasil itu sendiri, lebih dari sebelum masa perang. Bersama dengan jagoannya Belanda maka rakyat Indonesia akan diperas, ditelanjangi, dan ditendangtendang buat membangunkan negeri Belanda dan Inggris yang jatuh ke lembah kemiskinan dan kemelaratan itu.

SI GODAM : Bajing itu bisa hilang bulunya, tetapi tak akan hilang nafsunya buat mencuri kelapa. Selama giginya ada, tak ada kelapa yang boleh dipercayakan kepadanya. Muslihat yang benar ialah mencabut giginya atau memotong lehernya sama sekali.

SI PACUL : Perumpamaan lagi. Pastikan saja!

SI GODAM : Selama peraturan ekonomi, politik, dan sosial Inggris masih seperti sekarang, yaitu kapitalis, selama itulah pula nafsunya buat menjajah negara lain bergelora. Imperialisme Inggris bisa pura-pura jujur kalau ada “pelor” di depan dadanya. Persis seperti kucing patuh jinak selama ada tongkat di depannya. Begitu juga Belanda.

SI PACUL : Betul sekali ususnya prajurit Inggris dan Belanda tak kuat menghadapi pelor Jepang pada peperangan di Malaka dan Indonesia. Sekarang pun ususnya kendor kalau bertemu muka dengan prajurit Indonesia. Golok atau bambu runcing saja sudah membikin serdadu Inggris atau Nica gementar seperti tikus melihat kucing. Belum pernah tentara Inggris atau Nica dalam perjuangan seorang lawan seorang. Tetapi dalam tank baja dan kapal udara yang terbang tinggi mereka amat berani.

SI GODAM : Tetapi muslihat kita tak bersandarkan senjata lahir semata-mata.

SI PACUL : Apa senjata muslihat kita?

SI GODAM : Pertama keyakinan dan konsekuensi. Syarat adanya Republik Indonesia terletak semata-mata atas kemauan rakyat Indonesia saja. Pengakuan negara lain tiadalah menjadi syarat adanya republik kita. Melainkan syarat buat berhubungan baik dengan negara lain. Berhubung dengan sahnya Republik Indonesia menurut keyakinan kita, maka diplomasi kita mesti dipusatkan pada daya-upaya lahir dan batin memberi keyakinan pada dunia lain, bahwa kita mau dan bisa berlaku sebagai satu Negara Merdeka yang mempunyai “kehormatan atas diri sendiri”.

SI PACUL : Jadi dengan berpikir, berkata, dan berlaku seperti orang merdeka, kita bisa merebut hati, simpati, persetujuan, dan pengakuan Rakyat Merdeka atau Rakyat yang mau Merdeka di dunia luar.

SI GODAM : Tepat Cul! Bukan dengan sikap masa bodoh dengan tipuan dan kecerobohan negeri asing “Kalau sudah ditipu terus percaya. Sudah ditendang terus minta terima kasih”. Sikap budak semacam itu tidak akan mendapatkan pengakuan sebagai negara merdeka, melainkan sebagai budak, lagipula persetan sama putusan Sekutu, yang tidak diketahui apalagi disetujui oleh rakyat Indonesia, nyata pula negara besar seperti Rusia, Tiongkok, dan Amerika tiada menyetujui tindakan Inggris, perfide Albion itu. Diplomasi Indonesia Merdeka bukanlah diplomasi mengemis dan menerima! Diplomasi berjuang dan merebut, itulah diplomasi kita.