Memutuskan Pertalian/Menjemput Anak

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

V. MENJEMPUT ANAK

Adat istiadat menurut jamak,
demikian sudah lazim terpakai.
Kemanakan itu seperintah mamak.
berlain haluan, kata bertikai.

Sudah tiga bulan lamanya guru Kasim meninggalkan kota Bukit Tinggi, negeri tumpah darahnya, sekarang marilah kita layangkan pula pikiran kita ke sana, karena pada hari ini amat ramai orang laki-laki perempuan, tua muda, besar kecil, menuju pekuburan kaum keluarganya masing-masing. Pada tiap-tiap pekuburan kaumnya, mereka itu duduk berkumpul-kumpul di bawah pohon kayu yang rindang, di tempat yang teduh, akan melindungkan diri 'dari pada panas. Sungguhpun matahari memancarkan cahayanya dengan cemerlang dan panas terik sangat, akan tetapi banyak juga di antara mereka itu yang sedang asyik bekerja membersihkan kubur orang tuanya, ada yang sedang menyiramkan air cendana dan menaruh bunga rampai di atas kubur saudara yang dicintainya, ada pula yang mendoa membaca salawat untuk sekalian ahli kubur.

Hari itulah hari penghabisan makan siang bagi orang Islam, yaitu pada 30 hari bulan Syakban, dan besoknya mulai puasa bulan Ramadan. Sebelum hari yang baik itu silam, maka pergilah sekalian orang mengunjungi pekuburan kaum kerabatnya yang sudah berpulang ke rahmatullah, akan mendoakan arwahnya, dan memohonkan selamat supaya yang tinggal dan yang berpulang semuanya dipeliharakan Tuhan jua adanya.

Rembang petang berebut dengan senja, hari telah mulai samar muka. Maka kelihatanlah bulan bentuk sabit, sebagai secarik kertas putih di sebelah barat, di puncak Bukit Kepanasan. Tabuh di mesjid sudah berbunyi, tabuh yang banyak berbalas- balasan, akan memberitahukan , bahwa pada keesokan harinya mulai berpuasa.

Sepekan puasa dijalankan , pada kedelapan harinya masuklah sebuah kapal ke pelabuhan Teluk Bayur membawa penumpang dari Betawi. Kebanyakan di antara penumpang itu, ialah saudagar yang pulang merantau dari negeri orang atau saudagar yangbalik membeli barang dari Betawi, untuk dijual di negerinya.Lain dari pada itu ada juga beberapa amtenar yang perlop dan guru-guru yang pulang karena bulan puasa sekolahnya ditutup, misalnya dari Palembang, Betawi, Lampung, Bangkahulu. Mereka itu pulang ke kampungnya mengunjungi orang tua, handai tolan, anak isteri dan sanak saudaranya. Kapal itulah juga yang membawa Kasim, guru kepala sekolah Gubernemen Pontianak. Tatkala kapal merapat ke pangkalan, sekalian penumpang tergesa-gesa turun, karena sangat rindu rupanya mereka itu hendak melihat kampung halaman, kaum keluarganya sekalian. Akan tetapi guru Kasim tidaklah tergopoh-gopoh sebagai orang banyak itu, melainkan biasa saja, tak acuh sedikit jua. Mukanya yang jernih dan berseri-seri dahulu itu sekarang tidak bercahaya lagi, tabiatnya sudah bertukar dengan tenang dari pendiam. Sejak kematian isteri yang dicintainya itu, ia amat suka bermenung dan bersunyi-sunyi seorang diri. Seakan-akan takut rupanya ia bertemu dengan orang, dan kalau bersua diikhtiarkannya mencari jalan supaya dapat menghindarkan diri. Demikianlah pula halnya waktu akan turun dari kapal yang ditumpangnya. Sudah hampir habis sekalian penumpang di kapal itu, ia masih berdiri juga di geladak kapal. Ketika dilihatnya penumpang tak ada lagi, barulah guru Kasim turun ke pangkalan dan terus berjalan ke setasiun. Setelah karcis dibelinya, maka ia pun berangkatlah dengan kereta api pukul delapan lewat dari Teluk Bayur.

Di atas kereta api pun guru Kasim mencari tempat yang sunyi, supaya ia jangan diganggu orang. la duduk dengan tenang, memandang ke luar kereta, melihat pohon-pohonan yang seakan-akan berlari-lari berkejar-kejaran nampaknya. Biarpun demikian keindahan pemandangan masa itu, gunung-gunung kelihatan makin lama makin besar juga, sebagai para puteri yang berbaju sutera hijau yang hendak mengelu-ngelukan jamu rupanya, dan bukit barisan nampak membalam dari jauh, seolah-olah naga yang sedang melancar laiknya, tidak diindahkan sedikit jua oleh guru Kasim. Sungguh pun matanya memandang ke sana, dan hampir tidak dikejapkannya, akan tetapi pikirannya melayang jauh entah ke mana. Pada tiap-tiap halte anak-anak dan perempuan-perempuan berteriak-teriak menyerukan juadah, tetapi semuanya itu sebagai tidak kedengaran olehnya. Ia duduk terpaku dan tidak bergerak-gerak di atas sebuah bangku di sudut deresi. Demikianlah hal guru yang kecewa dan malang itu di atas kereta api. Jika ia tidak memalingkan mukanya melihat tulisan "Fort de Kock" di muka setasiun, tak dapat tiada guru Kasim sudah terus dibawa kereta api ke Paya Kumbuh . Pukul 4 petang tibalah ia di Bukit Tinggi, lalu naik kahar ke Aur Tajungkang. Sampai di muka rurnahnya, ia pun turun dari kahar. Demi dilihatnya pintu rumah terkunci dan di pekarangan penuh rumput-rumputan, serta bunga-bungaan yang ditanamnya dahulu sudah habis layu dan mati semuanya, rasakan pecah dada guru Kasim menahan sedih. Dinding rumah sangat kotor, bercoreng moreng dengan arang, lantai serambi muka penuh dengan sarap. Rupanya rumah itu sejak isterinya meninggal tidak diacuhkan lagi. Sangat pilu hatinya melihat rumah tinggal itu dan tidak diselenggarakan sedikit jua.

Beberapa lamanya kemudian dari pada itu, hati guru Kasim menjadi bimbang. Ragu ia memikirkan, ke mana akan mendapat. Akan pergi ke rumah mentuanya di Banto Darano, isterinya tak ada lagi; akan pulang ke kampung menemui kaum keluarganya, ingin hendak bertemu dengan anaknya tak dapat dikatakan. Maka diputuskannyalah pikirannya hendak ke Aur Kuning, kerumah pamilinya. Pikirnya, "Setelah barang-barang ini kutaruh kan di sana, aku terus ke Banto Darano dengan kahar ini juga." Maka guru Kasim naik kahar, lalu disuruhnya putar ke Aur Kuning, ke rumah pamili yang terdekat kepadanya. Setelah sampai, sekalian barang-barang itu dibawanya naik ke rumah. Pamilinya berkerumun, menanyakan ini dan itu selama guru Kasim meninggalkan kampung. Ada pula yang menceriterakan tentang kematian isterinya, dan menyatakan sedih hatinya mengenangkan anaknya Syahrul yang tak beribu itu lagi. Dan keadaan mereka pergi melawat dilarang Pemerintah, sebab penyakit Jamilah dipandang berbahaya, habis diceriterakannya belaka. Kira-kira setengah jam kemudian, maka diambil guru Kasim barang-barang untuk anaknya, lalu naik kahar pula ke Banto Darano. Tiba di muka rumah sewa kahar pun dibayarnya, dan ia berjalan masuk pintu gapura rumah mentuanya. Baru saja masuk pekarangan rumah, sudah tampak olehnya anaknya bermain-main di halaman. Melihat anaknya itu bagaikan remuk dada guru Kasim. Barang-barang ditangannya jatuh, ia berdiri dan berseru, "Syahrul ..................... !"

Anak yang sedang asyik bermain itu melihat kepada orang yang memanggil namanya. Baru saja ia melihat ayahnya, anak itu berlari-lari, lalu dipagutnya leher ayahnya. Guru Kasim duduk telhenyak, dan dengan air mata bercucuran dipeluk diciumnya anaknya itu. Setelah beberapa lamanya barulah ia insaf, bahwa ia duduk di atas tanah. Dengan segera ia berdiri, Syahrul dipangkunya dan berkata, katanya, "Nenekmu di mana, Rul?"

"Nenek di parak, ayah!" sahut anak itu.

"Panggillah ke mari, katakan ayah datang!"

Dengan tidak menjawab sepatah kata jua pun, Syahrul berlari ke belakang rumah mendapatkan neneknya. Guru Kasim naiklah ke rumah. Sebentar kemudian Tiaman datang, lalu menangis tersedu-sedu, terkenangkan anaknya yang baru meninggal. Setelah Tiaman berhenti daripada menangis, maka ditanyakanlah oleh guru Kasim apa penyakit isterinya yang membawa maut itu. Mentuanya menerangkan, bahwa Jamilah pada suatu petang sakit perut sekonyong-konyong, dan besoknya berpulang ke rahmatullah.

"Sungguh ajaib penyakit Jamilah!" ujar guru Kasim.

"Bukannya dia saja yang meninggal karena sakit perut demikian!" jawab Tiaman sambil menghapus air matanya yang hendak jatuh pula." Orang lain, orang kampung kita ini, banyak pula yang meninggal karena itu. Berpuluh mayat diusung orang ke kubur setiap hari. Amat sibuk masa itu, ngeri badan memikirkannya. Mengingatkan nyawa ini rupanya sangat rapuh ketika itu, tiap-tiap orang dalam ketakutan. Baru dalam minggu ini agak sunyi dan hati orang agak senang sedikit, karena tidak kedengaran lagi ratap tangis orang yang kematian keluarganya."

Mendengar perkataan mentuanya itu, yakinlah guru Kasim, bahwa kematian isterinya itu disebabkan penyakit kolera jua. Lama mereka itu bercakap-cakap; Tiaman menceriterakan bagaimana keadaan negeri selama ditinggalkan menantunya. Guru Kasim pun tidak pula lupa menceriterakan negeri Pontianak. Persangkaan mentuanya yang berlebih-lebihan tentang kayau mengayau di Borneo, diceriterakannya jua, bahwa hal itu hampir tak ada lagi kejadian di pulau itu. Setelah agak jauh malam, sesudah makan dan minum, guru Kasim bermohon diri hendak ke Aur Kuning. Meskipun ia ditahan mentuanya, supaya di sana saja tidur malam itu, tetapi guru Kasim meminta dengan sangat, sebab ada yang perlu hendak diperkatakannya dengan keluarganya. Dengan alasan itu, maka ia pun diizinkan mentuanya ke Aur Kuning, dan Syahrul ikut pula, karena dia tak hendak bercerai dengan ayahnya.

Pada keesokan harinya guru Kasim dua beranak pergi ke kuburan isterinya. Setelah dibersihkannya kubur itu, maka ditanamnya pohon puding emas sebelah atas kepala kubur itu. Setelah itu ia pun menadahkan tangan arah ke langit memohonkan, hubaya-hubaya arwah Jamilah dilapangkan Allah dalam kubur, dan dia dua beranak dipelihara Tuhan dalam segala hal. Ada sepekan lamanya guru Kasim memperbaiki pekuburan isterinya, ditemboknya dengan batu dan pada kepala pekuburan itu ditarahnya sebuah batu marmar yang bertuliskan tanggal hari bulan Jamilah meninggal dunia. Pada keliling kubur itu ditanamnya pula bunga raya akan jadi pagarnya.

Guru Kasim pulang dari Pontianak itu diketahui oleh orang kampungnya. Mereka itu maklum, bahwa guru itu sudah kematian isteri. Maka kedengaranlah desus-desus orang dari kiri kanan hendak mengambil guru Kasim semenda ke rumahnya. Orang yang datang meminta kepada kaum keluarganya bukan sedikit. Bahkan ada yang datang sendiri kepadanya, berkata dengan terus terang memintanya jadi orang semenda. Sekalian permintaan itu ditolaknya sama sekali dengan alasan, bahwa angan-angannya belum ada hendak beristeri. Oleh karena tidak putus-putus orang datang, dan boleh dikatakan setiap hari hal itu saja yang diuruskannya, guru Kasim merasa tidak senang hati dan berniat hendak segera kembali ke Pontianak.

Pada suatu malam, petang Kamis malam Jum'at, sesudah berbuka di rumah mentuanya, guru Kasim berdatang kata kepada Datuk Besar, katanya, "Mamak! Maksud saya, jika tak ada aral melintang, dua hari lagi, yaitu hari Ahad ini saya hendak kembali ke Pontianak."

"Apakah sebabnya Sutan tergesa-gesa benar hendak berangkat?" ujar Datuk Besar. "Bukankah sekolah dibuka lepas puasa enam? Lagi pula hari raya tinggal 8 hari lagi. Manakah yang lebih baik Sutan berhari raya di sini daripada di rantau orang?"

Guru Kasim berdiam diri, perkataan Datuk Besar itu terbenar dalam hatinya. Tiap-tiap orang yang merantau biasanya bulan puasa pulang menemui kaum keluarganya dan berhari raya di kampungnya. Akan tetapi dia dari jauh pulang ke kampung, sekarang hampir akan hari raya hendak balik ke rantau orang. Oleh karena itu ia termenung memikirkan apa akan jawab pertanyaan itu. Setelah dapat olehnya sesuatu sebab yang dicari-cari saja, maka katanya, "Sebenarnya memang saya hendak berhari raya di kampung, mamak! Akan tetapi karena saya perlu tinggal di Betawi barang 3 atau 4 hari akan menguruskan hal sekolah dengan Departement, maka terpaksa saya berangkat hari Ahad di muka ini. Jika saya undurkan dari pada hari itu, tak dapat tiada saya terlambat sampai di Pontianak kelak.

"Tidak dapatkah Sutan meminta perlop barang sepekan lagi? Maka demikian, ketika Jamilah meninggal tempoh hari, mamak Sutan datang dari Paya Kumbuh. Katanya, ia ingin hendak bertemu dengan Sutan, karena ada yang hendak diperundingkannya. Barangkali dua hari akan hari raya, ia sudah ada di sini dengan anak isterinya. Tak mungkinkah Sutan menanti kedatangannya itu, karena dipesankannya benar kepada saya?"

Mendengar perkataan Datuk Besar itu, maklumlah guru Kasim apa yang hendak dipercakapkan Sutan Caniago, mamak isterinya itu dengan dia. Maka pikirnya; Tentu saja yang akan diperundingkan beliau dengan saya perkara perkawinan jua. Bukankah anak saudara isterinya yang sejak kecil dipeliharanya itu sekarang sudah berumur kira-kira 16 tahun? Tidak, saya belumlah hendak beristeri, tak sampai hatiku akan mengganti Jamilah pada waktu ini. Sedapat-dapatnya hal itu kuhindarkan dan saya mesti berangkat dengan selekas-lekasnya." Maka katanya, "Tak mungkin saya meminta perlop, mamak! Pertama, tak ada guru yang akan menerima murid baru kelak, karena sekalian guru-guru teman saya, pulang ke negerinya masing-masing. Kedua, saya sudah berjanji dengan Departement, bahwa sebelum hari raya saya mesti ada di Betawi, Jika janji itu tidak saya tepati, boleh jadi nama saya bercela dalam pekerjaan. Oleh sebab itu tolonglah kiranya mamak sampaikan saja pesan saya kepada beliau, kalau ada yang perlu hendak beliau percakapkan dengan saya, kirim sajalah surat ke Pontianak."

"Kalau begitu susah benar rupanya!" ujar Datuk Besar pula. "Baiklah, insya Allah pesan Sutan itu nanti saya sampaikan kepada mamak Sutan. Jadi Sutan sendiri sajakah berangkat ke Pontianak?"

"ltulah yang akan saya bicarakan dengan mamak," ujar guru Kasim pula sambil memperbaiki duduknya. "Sebenarnya saya pulang ini, ialah berhubung dengan Syahrul jua. Sudah tiga bulan ia terpisah dari pada saya, tak dapat saya katakan bagaimana perasaan saya kepadanya. Lebih-lebih sejak ibunya meninggal, semakin tak luput Syahrul dari ruangan mata saya. Sebab itu, jika sekiranya ada izin mamak, biarlah dia saya bawa dulu ke Pontianak."

Mendengar permintaan guru Kasim itu, Datuk Besar berkata dalam hatinya; "Saya rasa Tiaman tentu takkan mengizinkan cucunya berjalan jauh. Tempoh hari sesudah mendoa menujuh hari Jamilah, ia mengatakan kepadaku, bahwa dia tak hendak bercerai dengan cucunya yang seorang itu. Sungguh amat sulit memikirkan hal itu . Biarlah kucoba mengalang-alanginya, dan jika tak dapat juga, bagaimana yang akan terjadilah kelak." Maka katanya, "Sekiranya Syahrul Sutan bawa, saya rasa akan menyusahkan Sutan saja kelak. Tadi Sutan mengatakan, bahwa Sutan sendiri saja ke Pontianak. Jadi Sutan tentu menumpang membayar makan di sana, bukan? Nah, siapa yang akan menguruskan anak Sutan di rumah sepeninggal Sutan ke sekolah? Sutan sudah tahu akan perangai anak Sutan, sangat nakalnya? Tentu saja sia-sia, karena tak ada yang akan menjaganya. Saya bukannya menahan Syahrul Sutan bawa, tetapi cobalah Sutan pikirkan melarat dan manfaatnya. Menurut pikiran saya, besar melaratnya dan Sutan akan bersusah hati karenanya. Apalagi kalau ia sakit ngelu pening di rantau orang, baru terasa benar sukarnya oleh Sutan. Akan pergi ke sekolah, dengan siapa anak ditinggalkan, akan tinggal menjaga anak, pekerjaan terganggu; jadi serba susah. Lain perkara jika Sutan beristeri, ada yang akan membela dia."

"Tentang melarat dan manfaatnya:sudah saya pikirkan sedalam-dalamnya," ujar guru Kasim dengan agak kesal hatinya. "Mamak tak usah khawatir, insya Allah Syahrul akan selamat dan takkan kurang suatu apa di negeri orang. Jika sekiranya akan menyusahkan saya, tentu dia takkan saya bawa."

"Baiklah! Akan tetapi supaya senang hati saya, cobalah Sutan terangkan, siapa yang akan menjaga anak Sutan di Pontianak, bila Sutan pergi ke mana-mana, ke sekolah misalnya."

"Dengan seorang nenek, induk semang tempat saya membayar makan. Orang tua itu tidak beranak dan tidak bercucu seorang jua, melainkan dia hidup sebatang kara, tidak berkaum keluarga. Nenek itu boleh dikatakan orang berada juga, budi bahasanya sangat baik, pengasih penyayang dan ramah tamah tingkah lakunya. Kepadanyalah Syahrul saya petaruhkan kelak. Sangat besar hatinya, ketika saya katakan, bahwa saya pulang ini akan menjemput Syahrul. Tampak nyata kepada saya kegirangan hatinya itu tidak dibuat-buatnya, dan sangat besar harapannya supaya Syahrul saya bawa juga ke Pontianak."

Jadi Syahrul akan Sutan petaruhkan kepada orang lain yang bukan kaum keluarga kita?" ujar Datuk Besar dengan kurang senang hati rupanya. "Dapatkah Sutan percayakan menjaga Syahrul kepadanya? Sungguh...... ya, kendatipun nenek itu sudah Sutan kenali benar-benar tulus ikhlas hatinya, tetapi saya belumlah percaya akan dia. Maka demikian, karena dia boleh dikatakan orang asing kepada kita, berlain bangsa, berlain bahasa dan tidak sepulau dengan kita. Dalam seminggu saja, saya rasa sudah bosan dia menjaga anak Sutan yang luar biasa nakalnya itu. Dan lagi tentu saja ia menjaga Syahrul tidak sebagai seorang nenek menjaga cucu kandungnya, melainkan dengan setengah hati, yaitu karena jerih menentang laba."

"Meskipun nenek itu berlain bangsa, tidak sepulau dengan kita, tetapi saya yang sudah tiga bulan lamanya bergaul hidup serumah dengan dia berkeyakinan, bahwa orang itu boleh dipercayai dalam hal apa jua pun. Pendeknya pesan tak usah dituruti, petaruh tak usah ditunggui kepadanya. Melihat tertib sopan santunnya, agaknya lebih baik dia menjaga anak dari pamili kita sendiri."

"Ha, ha! Rupanya Sutan salah sangka benar dalam hal itu," ujar Datuk Besar agak mencemooh. "Masakan orang lain yang tidak bersangkut paut dengan kita, akan lebih kasih dan sayang kepada Syahrul dari keluarganya yang sedarah dan seturunan dengan dia. Mustahil, dan tidak termakan pada akal sedikit jua. "

"Boleh jadi juga kata mamak itu !" jawab guru Kasim dengan gelisah. "Akan tetapi biarlah saya coba juga dahulu. Jika sudah sebulan dua Syahrul di sana, dan bersua seperti kata mamak itu, dapat pulalah saya memikirkan apa yang harus saya perbuat. Kendatipun saya terpaksa mesti kawin untuk keperluan anakku, ya apa boleh buat."

Mendengar perkataan guru Kasim itu, Datuk Besar berdiam diri. Rupanya ia agak tersesak oleh guru Kasim. Setelah beberapa lamanya, maka ia pun berkata, "Apa yang terasa di hati, terkalang di mata saya, sudah saya katakan semuanya kepada Sutan. Meskipun kita berlain pendapat, seiring bertukar jalan, sesuai bertukar sebut, akan tetapi lapang rasanya dada saya mendengar jawab Sutan. Bagi saya tak ada alangan Sutan membawa Syahrul ke Pontianak. Sutan tentu lebih maklum bagaimana yang akan baiknya menjaga anak Sutan di negeri orang. Hanya maka saya sebut tadi, supaya kami yang tinggal bersenang hati, karena Sutan dua beranak saja ke rantau orang. Sekarang saya tak sia-sia lagi melepas Sutan, dan dengan suci hati saya izinkan Syahrul Sutan bawa. Sungguhpun demikian, lebih baik Sutan mupakati juga dahulu dengan mentua Sutan. Kita dengar pula apa katanya, agar supaya sama-sama senang hati kedua belah pihak, sebab rantau jauh akan Sutan jelang. Saya harap hal ini sebagai mengambil rambut dalam tepung, rambut jangan putus, tepung jangan terserak. Jangan hendaknya mentua Sutan berkecil hati, sebab cucunya Sutan bawa saja, dan Sutan jangan pula menaruh gusar, jika sekiranya mentua Sutan tidak mengizinkan Syahrul berjalan."

"Sebenarnyalah yang mamak katakan itu!" ujar guru Kasim dengan girang. Mukanya berseri-seri, karena diizinkan membawa anaknya. "Makanya saya mupakati dengan mamak, hal itu jugalah yang saya takutkan. Seboleh-bolehnya, baik yang pergi atau yang tinggal sama bersenang hati hendaknya."

"Ajam!" seru Datuk Besar kepada kemanakannya. "Panggillah ibumu sebentar kemari, karena ada yang akan dibicarakan dengan dia."

Tidak lama antaranya Tiaman pun datang, lalu duduk berhadapan dengan menantunya. Setelah mereka itu merokok sebatang seorang dan Tiaman sudah mengunyah sirih pula sekapur, maka guru Kasim berkata, katanya, 'Ibu! saya terpaksa mesti berangkat hari Ahad ini ke Pontianak. Saya perlu tinggal di Betawi barang 3 atau 4 hari, sebab ada yang hendak saya urus di sana."

"Kalau begitu, tentu Sutan takkan berhari raya di sini!" ujar Tiaman sebagai orang bersedih hati. '"Tidak dapatkah diundurkan sampai pekan datang, Sutan?"

"Tak mungkin, ibu! Saya tinggal di Betawi itu, karena berhubung dengan pekerjaan saya jua."

"Belum cukup Sutan sebulan di rumah, sekarang akan pergi pula. Alangkah canggungnya Syahrul Sutan tinggalkan. Siapakah yang akan membawanya berjalan-jalan nanti waktu hari raya? Malang benar cucuku, ibu mati bapa berjalan!"

Air mata Tiaman telah jatuh bercucuran. Ia menangis tersedu-sedu, terkenangkan nasib cucunya yang malang itu. Oleh karena itu guru Kasim terpaksa berhenti meneruskan perkataannya. la berdiam diri beberapa lamanya, sedih bergelut pula di sanubarinya. Tidak lama kemudian Tiaman pun berhentilah dari pada menangis. Maka guru Kasim berkata pula, "Sebelum ibu ke mari, kami sudah memperundingkan Syahrul, cucu ibu. Menurut mupakat kami, mamak telah mengizinkan Syahrul saya bawa ke Pontianak. Itulah sebabnya ibu mamak panggil, akan memin ta izin dari pada ibu saja lagi."

"Ya, Allah!" jawab Tiaman sekonyong-konyong. Mukanya berubah menjadi pucat, air matanya berlinang-linang pula. Dengan suara putus-putus ia berkata, "Tidak kasihankah Sutan kepadaku? Dengan siapa saya di rumah yang sebesar ini? Sejak isteri Sutan meninggal, hanyalah Syahrul yang saya harapkan lagi. Kasih sayangku sudah tertumpah kepadanya seorang, dialah obat jerih pelerai demam kepadaku. Sekarang dia akan Sutan bawa, tak dapat tiada sengsai saya ditinggalkannya."

Jangankan sedih hati guru Kasim mendengar jawab mentuanya yang disertai dengan air mata itu, malahan bertambah panas hatinya. Terbayang di matanya kejadian tiga bulan yang sudah bagaimana Tiaman menahan isterinya pergi bersama-sama dengan dia ke Pontianak. Maka ia pun berkata sendirinya; "Karena mentuaku ini, tiga bulan aku hidup sebatang kara di negeri orang. Cukuplah aku menahan sedih karena kematian isteriku, sekarang hendak dilukainya pula hatiku dengan jalan menahan anak kandungku. Sungguh, tak menenggang hati orang sedikit jua mentuaku ini. "Sambil menarik napas akan menahan hatinya yang mengkal itu, guru Kasim berkata dengan sabar, katanya, "Tidak mengapa, ibu ? Tiap-tiap bulan puasa kami pulang menemui ibu!"

"Jika Sutan ingin Syahrul tidak bernenek lagi, suka hati Sutanlah. Tak dapat tiada saya mati kejang sepeninggalnya. Saya minta dengan sangat kepada Sutan, janganlah kiranya Sutan bawa cucuku."

"Ibu!" ujar guru Kasim sebagai orang tak sabar lagi. "Sayang ibu atau bapa kepada anaknya, tentu ibu sudah maklum, bukan? Sebab itu ibu tenggang pulalah hati saya sedikit. Bagi saya pun yang saya harap hanya Syahrul pula, karena saya sebatang kara, tidak bersanak saudara. Ibu di kampung, banyak akan perintang hati; jadi tidaklah akan lama ibu menanggung sedih ditinggalkan Syahrul. Akan tetapi saya sendiri saja di negeri orang, lain tidak hanya Syahrul yang akan pengobat hati rusuh kepada saya."

"Tak mungkin rasanya Syahrul berpisah dari padaku, Sutan!" ujar Tiaman dengan agak keras. "Tak dapat tiada aku akan kurus kering, tinggal kulit pemalut tulang, jika saya ditinggalkannya. Akhirnya saya menjadi gila dan mati sesat."

"Asal tidak ibu perturutkan saja hati ibu, takkan demikian benar agaknya. Lagi pula lepas puasa ini Syahrul sudah patut bersekolah. Biarlah dia saya asuh, mudah-mudahan pahit saja darahnya dan dia menjadi orang baik-baik kelak."

"Tentang sekolahnya itu jangan Sutan susahkan!" jawab Tiaman pula dengan kurang senang hati. "Bukankah Syahrul masih ada bermamak yang akan mengasuh dan menyerahkan dia ke sekolah."

Mendengar perkataan mentuanya yang demikian itu, guru Kasim terdiam, mukanya berubah dengan tiba-tiba. Ketika itu insaflah ia akan dirinya, bahwa ia hanya semenda orang di rumah itu. Menurut tilikannya tentang kemanakan seperintah mamak atau semenda ke rumah orang seperti yang diadatkan orang kampungnya sekarang itu, tidak sedikit jua sesuai dengan pikirannya. Maka pikimya, "Jika kukerasi meminta anakku, selisih jua tentangannya dan menurut adat salah jua saya. Tak dapat tiada akhirnya putus anak dengan bapak. Supaya jangan terjadi yang buruk, biarlah aku mengalah saja sekarang. Nanti kubicarakan hal ini dengan kaum keluargaku, bagaimana hendaknya yang harus aku perbuat, supaya Syahrul dapat kubawa ke Pontianak."

"Jika demikian benar keras ibu menahan Syahrul, sudahlah!" ujar guru Kasim sambil memperkatupkan gerahamnya menahan marah. "Saya maklum akan arti kata ibu itu, dan saya tahu pula siapa saya di rumah ini. Saya terpaksa mengalah, karena sungguhpun Syahrul anak kandungku, tapi dia kemanakan mamaknya."

Guru Kasim tidak menanti jawab mentuanya lagi, melainkan terus berdiri dan berjalan hendak turun. Meskipun ia ditahan Datuk Besar yang hendak mencampuri percakapan itu, supaya yang kusut jadi selesai dan yang keruh jadi jernih, tidak diindahkannya sedikit jua. Setelah mencium anaknya yang sedang tidur nyenyak beberapa kali, guru Kasim pun turun, lalu berjalan.