Kritias

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Kritias
oleh Plato
.
Logo Wikipedia
Wikipedia memiliki artikel yang berkaitan dengan:Kritias (dialog).

Timaios: Betapa bersyukurnya aku, Sokrates, bahwa pada akhirnya aku telah sampai, dan, seperti seseorang yang letih akibat perjalanan panjang, sekarang saatnya beristirahat! Aku berdoa pada dia, yang telah terungkap olehku, agar menjadikan kata-kataku bertahan lama seandainya aku mengatakanya dengan benar dan dapat diterima olehnya; akan tetapi jika secara tidak sengaja aku telah mengatakan hal yang salah, semoga aku diberi ganjaran yang setimpal, dan ganjaran yang setimpal bagi orang yang berbuat salah adalah dijadikan benar. Aku juga berharap dapat berkata hal benar di masa depan mengenai generasi para dewa, aku bedoa padanya agar memberiku pengetahuan, yang merupakan benda yang paling baik dan sempurna. Sekarang setelah doaku selesai, sesuai perjanjian kita aku persilakan Kritias untuk mengutarakan pendapatnya.

Setiap dewa memiliki wilayahnya sendiri-sendiri di muka bumi ini. Tempat manusia membuat kuil dan melakukan pengorbanan untuk para dewa. Poseidon memperoleh pulau Atlantis, dan mendapat anak dari seorang wanita biasa.

Pulau-pulau itu menghadap ke lautan. Di tengah-tengah pulau terdapat dataran subur tempat segala jenis tumbuhan bisa hidup. Di dekat daratan, sekitar 50 stadia dari dari pusat pulau, terdapat gunung yang tidak terlalu tinggi dilihat dari sisi manapun. Di gunung itu berdiam seorang lelaki bernama Evenor bersama istrina yang bernama Luikeppe. Mereka memiliki seorang putri bernama Kleito.

Ketika Kleito beranjak dewasa, kedua orang tuanya meninggal dunia. Poseidon jatuh cinta padanya. Mereka melakukan hubungan seksual, dan Poseidon membuat lubang besar di permukaan tanah dan menutupi bukit tempat Kleito tinggal. Posieodn juga mengubah laut dan daratan menjadi membesar dan mengecil, dan saling melingkari satu sama lain. Ada dua daraatn dan tiga laut yang diubah oleh Poseidon dengan kekuatannya. Tiap lingkaran laut dan daratan memiliki jarak yang sama dengan pusat pulau. Sejak itu tidak ada orang yang bisa mencapai pulau tersebut dengan menggunakan kapal.

Poseidon kemudian menjadi dewa tempat itu. Ia tidak memiliki kesulitan menetapkan aturan bagi pulau tersebut. Dari dasar bumi muncul dua jenis mata air. Satu mata air hangat, satu lagi dingin. Segala jenis tumbuhan untuk berbagai bahan makanan tumbuh subur di atas pulau. Poseidon mendapat lima pasang anak lelaki dari Kleito. Kemudian Poseidon membagi pulau Atlantis menjadi sepuluh bagian. Untuk putra sulungnya ia memberikan tanah kelahiran Kleito, dan daerah sekitarnya yang merupakan wilayah terluas dan terbaik. Sang putra sulung juga ia tetapkan sebagai raja di antara saudara-saudaranya, yang diangkat sebagai pangeran. Mereka masing-masing memperoleh daerah yang luas dan memerintah banyak orang.

Posiedon memberikan nama untuk semua putranya. Putra tertua yang menjadi raja pertama ia beri nama Atlas. Sejak itu seluruh pulau dan lautan yang mengitarinya disebut Atlantik. Saudara kembar Atlas ia beri nama Eumelos. Pasangan kembar kedua, yang satu ia beri nama Amferes, dan yang satu lagi Evaemon. Anak tertua dari pasangan kembar ketiga ia beri nama Mnesios, dan adiknya diberi nama Asli. Pasangan kembar keempat, yang lebih tua diberi nama Elasippos, dan yang lebih muda diberi nama Mestor. Pasangan yang kelima, yang lebih tua diberi nama Azaes, yang lebih muda diberi nama Diaprepes.

Kelak keturunan mereka selama sekian generasi adalah penguasa dari penduduk yang berdiam di pulau-pulau dengan laut terbuka. Dan seperti yang sudah aku ceritakan, Kekuasaan mereka telah menggetarkan dunia sampai pilar Herakles hingga sejauh Mesir dan Thirenia.

Atlas kemudian memiliki keluarga besar terhormat yang menjadi penguasa kerajaan. Tiap anak sulung melanjutkan kekuasaan pada tiap generasinya. Mereka memperoleh kejayaan yang tidak pernah dimiliki oleh raja manapun, dan tidak akan pernah ada yang bisa menyamai. Segala keperluan tersedia untuk setiap apa yang mereka butuhkan, baik bagi kota maupun daerah-daerah sekitarnya. Karena kebesaran kerajaan meeka, banyak benda yang diberikan pada mereka berasal dari negeri lain. Pulau itu sendiri menyediakan apa yang mereka butuhkan dalam hidup.

Dari dalam perut bumi mereka menggali apa saja yang bisa ditemukan. Dalam penggalian, ditemukan sebuah benda padat yang sekarang tinggal nama. Tetapi dulunya lebih dari sekedar nama, orikhalkum. Benda itu itu digali dari dasar bumi di banyak tempat di pulau tersebut. Nilai benda itu melebihi nilai benda apapun pada waktu itu, kecuali emas.

Di pulau tersebut kayu sangat melimpah ruah untuk diolah oleh tukang kayu. Juga cukup untuk dijadikan perlengkapan guna memelihara hewan ternak dan berburu hewan liar.

Lebih dari itu, terdapat banyak gajah di sana. Gajah-gajah berbagi tempat dan makanan dengan hewan-hewan lainnya, baik hewan yang hidup di sungai dan danau maupun hewan yang hidup di gunung dan dataran tinggi. Termasuk juga dengan hewa-hewan paling besar dan paling buas di antara mereka.

Akar, kayu, dan buah-buahan yang intisarinya menghasilkan bau yang wangi terdapat melimpah di pulau itu. Buah-buahan yang sengaja ditanam dapat dibedakan menjadi dua jenis. Pertama adalah buah kering yang dijadikan sebagai makanan. Kedua adalah buah-buahan dengan kulit keras. Digunakan sebagai minuman dan obat penyakit kulit. Sementara buah sarangan dan sejenisnya memberikan kesenangan dan hiburan. Buah-buahan yang telah disimpan dapat digunakan sebagai hidangan penutup setelah makan malam, setelah puas menikmati segala jenis makanan di pulau ini. Usai semua itu, tibalah saatnya untuk menikmati cahaya matahari. yang melimpah ruah secara menakjubkan.

Dengan segala keberlimpahan yang mereka dapatkan, mereka membangun kuil, istana, pelabuhan, dan galangan kapal. Dan mereka mengatur keseluruhan negeri dengan aturan sebagai berikut:

Pertama-tama, mereka menghubungkan tiap tempat yang dipisahkan oleh laut yang mengelilingi metropolis kuno. Membangung jalan dari dan ke istana raja. Pertama sekali mereka membangun istana yang dimaksudkan sebagai tempat berdiam dewa dan nenek moyang mereka. Tempat yang kemudian terus dipelihara dari generasi ke generasi mereka. Setiap raja selalu mengungguli raja sebelumnya yang telah pergi, dalam hal kekuasaan. Hingga akhirnya tempat itu menjadi suatu keajaiban karena ukuran dan keindahannya.

Kemudian mereka menggali kanal yang dimulai dari arah laut. Kanal itu mmeiliki lebar tiga ratus kaki, kedalaman seratus kaki, dan panjangnya lima puluh stadia. Mereka menggalinya hingga tempat terjauh dari laut sampai terbentuk rute yang dapat dilalui dari laut yang kemudian menjadi pelabuhan. Sisanya biasa diajdikan tempat kapal-kapal besar berlabuh.

Bagian dalam istana yang dilingkari oleh tembok yang kokoh dibangun dengan ketentuan sebagai berikut. Pada bagian dalamnya terdapat kuil yang dipersembahakan untuk Poseidon dan Kleito. Di sekelilingnya dihiasi lempengan emas. Tidak semua orang bisa masuk ke tempat itu. Di sinilah keluarga dari sepuluh pangeran pertama kali melihat cahaya. Dan di tempat ini setiap tahunnya rakyat mempersembahakan buah-buahan yang dibagi menjadi sepuluh macam.

Di sinilah terletak kuil Poseidon dengan lebar satu stadium, jarak setengah stadium, dan tinggi yang proporsional. Kuil itu memiliki tampilan yang asing. Semua bagian di luar kuil, kecuali bagian puncaknya, dilapisi perak Sedangkan bagian puncaknya dilapisi dengan emas. Atap pada bagian dalam kuil terbuat dari gading gajah. Secara menakjubkan, bagian itu dilapisi dengan emas, perak, dan orikhalkum. Sementara bagian dinding, lantai, dan tiangnya hanya dilapisi dengan orikhalkum.

Keseluruhan negeri, sebagaimana cerita Solon, sangat tinggi dan terjal pada bagian sisi dekat laut. Negeri-negeri yang mengelilingi kota adalah dataran yang juga dikelilingi oleh gunung-gunung yang terus menurun ke arah laut. Terlihat halus dan datar. Satu bujur tajam memanjang menuju satu arah sejauh tiga ribu stadia. Bagian dari pulau ini terlihat mengarah ke selatan. Dari arah utara, tempat itu tidak terlihat.

Gunung-gunung yang melingkupi dataran itu dipuja karena keindahan, ukuran, dan jumlah mereka. Di luar itu, terdapat pedesaan dengan penduduk yang sejahtera. Sungai, danau, dan padang rumput menyediakan makanan yang cukup untuk hewan ternak dan hewan liar. Kayu-kayu beragam jenisnya melimpah ruah bisa digunakan untuk berbagai keperluan.

Kemdian, dataran yang dibentuk oleh alam dan para pekerja yang diperintahkan oleh raja setiap generasinya pada masa yang sangat lama. Sebagian besar membentuk persi dan bujur yang mengikuti garis luurs pada parit melingkar. Dalam dan panjang parit ini sangat mengagumkan. Sehingga mmeberi kesan itu sebuah pekerjaan yang besar. Sebagai bukti untuk banyak orang bahwa ini bukanlah buatan.

Parit itu digali dengan kedalaman ratusan kaki dengan luas satu stadium pada tiap bagiannya. Membentang ke seluruh daratan dengan panjang sepuluh ribu stadia. Parit itu menerima aliran dari sungai-sungai kecil dari pegunungan yang kemudian menyatu dan mengalir ke arah kota. Kemudian bermuara ke laut.

Jauh ke pedalaman, kanal lurus dengan lebar ratusan kaki yang mengalir dan memotong daratan itu kemudian mengalir bersama dengan parit menuju ke laut. Kanal-kanal itu berjarak seratus stadia. Melalui kanal, kayu-kayu dikirimkan dari gunung menuju kota. Buah-buahan diangkut dengan kapal melalui daratan yang terpotong antara satu kanal dengan kanal lainnya dan kemudian sampai di kota.

Dua kali dalam setahun mereka memanen buah-buahan. Pada musim idngin mereka mendapatkan keuntungan dari hujan yang turun dari langit. Dan pada musim panas, air mereka dapatkan dengan membuat saluran pada kanal.

Perintah militer berlaku di kota kerajaan. Sementara di sembilan kota lainnya, bervariasi.

Mengenai jabatan dan penghormatan, pada awalnya diatur sebagai berikut. Tiap raja dari sepuluh raja pada wilayah mereka masing-masing memiliki kekuasaan yang absolut terhadap rakyat.

Sekarang dibuat ketentuan dan hukum yang lebih tinggi di atas mereka. Dan hubungan timbal balik antara mereka diatur oleh Poseidon yang menguasai setiap hukum dan ketentuan. Semua ini dituliskan oleh raja pertama pada Pilar Orikhalkum yang terletak di tengah-tengah pulau pada kuil Poseidon. Tempat para raja berkumpul setiap enam tahun sekali. Memberi penghormatan yang sama untuk urutan ganjil dan genap.

Ketika mereka berkumpul mereka mendiskusikan tentang keinginan masing-masing. Saling menanyakan siapa di antara mereka yang telah melanggar segala sesuatunya kemudian memberikan pertimbangan dan keputusan. Sebelum mereka menjatuhakn keputusan, mereka saling berjanji dengan cara seperti ini: terdapat banyak sapi yang beada di sekitar kuil Poseidon. Setelah mereka memanjatkan doa sehingga mereka bisa menangkap korban yang bisa diterima dewa. Mereka memburu banteng tidak dengan senjata, tetapi dengan menggunakan helaian papan yang diikat dengan besi dan jeratan. Banteng yang berhasil mereka tangkap dibawa ke pilar. Di atas pilar itu mereka memotong kerongkongannya sehingga darah menetes di atas tulisan suci.

Pada pilar itu, selain undang-undang, juga terdapat tulisan sumpah untuk kutukan hebat bagi yang melanggar. Setelah mengorbankan banteng dengan cara tertentu, mereka kemudian membakar sisanya. Mereka menuangkan satu mangkuk anggur kemudian memberikan segumpal darah untuk masing-masing dari mereka, Sisa dari korban mereka bakar setelah dibersihkan terlebih dahulu. Mereka menuangkan persembahan untuk dewa yang diambil dari mangkuk pada piala emas. Mereka berumpah bahwa mereka akan mengambil keputusan berdasarkan ketentuan hukum yang terdapat pada pilar. Menghukum siapa saja di antara mereka yang telah melanggar janji mereka. Dan sebisanya pada masa yang akan datang, mereka tidak akan melakukan kesalahan terhadap apa yang telah tertulis pada pilar. Tidak akan memberi perintah atau menerima perintah dari siapa saja yang melanggarnya. Mereka akan bertindak sesuai dengan hukum-hukum yang ditetapkan oleh ayah mereka, Poseidon.

Ini adalah doa yang mereka panjatkan untuk diri mereka dan keturunannya. Pada saat yang sama mereka minum dan mempersembahkan piala tempat minum mereka di kuil dewa. Mereka meneguk dan memuaskan kebutuhan. Waktunya, ketika gelap sudah datang dan api pengorbanan menjadi dingin. Mereka semua mengenakan jubah biru langit yang sangat indah. Mereka duduk di bekas bara api pengorbanan, tempat mereka telah bersumpah. Mereka memadamkan semua api yang ada di dalam kuil.Mereka akan memebri dan menerima hukuman jika ada dari mereka yang memiliki tuduhan pada yang lainnya. Ketika malamnya memberikan hukuman, maka pada saat fajar mereka menuliskan hukuman itu di atas catatan berwarna keemasan bersama dengan jubah mereka sebagai tanda peringatan.

Terdapat banyak hukum dan ketentuan tertulis pada kuil yang mempengaruhi raja. Tetapi yang terpenting di antaranya adalah mereka tidak akan berperang satu sama lain. Dan mereka akan saling membantu jika salah seorang di antara mereka hendak dijatuhkan. Seperti nenek moyang mereka, mereka akan bersama-sama mengahdapi perang dan berbagai masalah lainnya. Memberi kekuasaan tertinggi untuk keturunan Atlas.

Dan para raja tidak memiliki kekuasaan atas hidup dan matinya rakyat, kecuali ia mendapat persetujuan mayoritas dari sepuluh orang raja. Itu adalah kekuasaan sangat besar yang diberikan pada pulau yang hilang, Atlantis.

Selama sekian generasi, segala sifat kedewaan bertahan pada mereka. Mereka patuh pada hukum-hukum dengan penuh perasaan cinta pada dewa yang telah menciptakan mereka, untuk setiap kebenaran yang mereka miliki dan jalan untuk ruh agung. Bersatu dengan segenap kebajikan dalam hidup. Mereka mengenyampingkan semua hal kecuali kebaikan. Meneirma sedikit untuk kehidupan mereka dan tidak terlalu memikirkan kepemilikan terhadap emas dan barang-barang lainnya yang mereka lihat kelak akan terkubr. Mereka juga tidak dimabukkan kemewahan. Kekayaan juga tidak mencabut kontrol mereka atas diri sendiri. Tetapi mereka adalah orang-orang yang bijak dan melihat dengan jelas bahwa kenimatan dari benda-benda itu bisa didapatkan dalam kebaikan dan persahabatan. Walaupun mereka telah tiada, tetapi persahabtan selalu ada di antara mereka.

Masa berganti, kualitas hidup mereka meningkat tetapi sifat kedewaan mereka mulai pudar. Sifat itu semakin tipis dan mulai bercampur-baur dengan kekerasan. Sifat dasar manusia telah diangkat dari mereka. Mereka kemudian tidak lagi mendapatkan keberuntungan. Mereka tidak lagi berjalan bersama dan saling memandang secara sederajat. Mereka telah kehilangan rasa adil sebagai sebagai hadiah berharga bagi mereka. Tetapi bagi mereka yang tidak mampu melihat kegembiraan yang sesungguhnya, mereka merasa menang dan diberkati setiap mereka menunjukkan ketamakan dan penyalahgunaan kekuasaan.

Zeus, pemimpin para dewa yang memerintah berdasarkan undang-undang dan mengetahui segala sesuatunya, menyadari rasa terhormat berada dalam keadaan menyedihkan. Ia ingin memberikan hukuman pada mereka. Sehingga mereka berhati-hati dan memperbaiki diri . Ia mengumpulkan semua dewa di tempat mereka yang paling suci, yang terletak di pusat dunia tempat segala sesuatu diciptakan. Dan ketika ia memanggil mereka semua, dia berbicara....