Kidung Tantri Kediri

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Kidung Tantri Kediri adalah sebuah teks dalam bahasa Jawa Pertengahan yang kemungkinan besar berasal dari Bali pada abad ke 17. Di bawah ini saya sajikan cuplikan dari karya sastra ini. Teks ini mengenai seorang raja yang menikah setiap hari. Akan tetapi kebiasaan buruknya ini dihentikan oleh Tantri, putri sang patih, yang mengajari sang raja supaya menghentikan perbuatan buruknya dengan bercerita. Ceritanya mirip cerita 1001 Malam.


Raja Aridarma yang Mengenal Bahasa Hewan[sunting]

Alkisah adalah seorang raja bernama Prabu Aridarma yang pergi berburu di hutan, di sana beliau melihat Putri Naga, Nagini, berkawin dengan seekor ular biasa.

Lalu dipukulnya Nagini yang pulang dengan menangis dan dibunuh si ular karena ini tidak pantas. Kemudian sang Raja Naga bertanya kepada putrinya mengapa ia menangis, katanya ia mau diperkosa Prabu Aridarma. Sang Raja Naga menjadi murka ingin membunuhnya, lalu beliau pergi ke istana Prabu Aridarma. Di sana ia berubah bentuk menjadi seekor ular kecil dan bersembunyi di bawah tempat tidur sang Raja di mana ia mendengar cerita sebenarnya, ternyata putrinya yang salah.

Lalu Prabu Aridarma diberi anugerah mampu mengerti bahasa hewan dengan syarat tidak boleh menceritakannya ke siapapun juga.

Setelah itu Prabu Aridarma sedang bermain cinta dengan istrinya. Maka ada sepasang cicak di atasnya yang membicarakan sang Prabu beserta istrinya. Lalu sang Prabu tertawa terbahak-bahak. Sang permaisuri marah dikira menertawakannya, sudah dijelaskan oleh Prabu Aridarma tetapi ia tetap tidak mau mengerti, lebih baik mati saja jika tidak diberi tahu. Prabu Aridarma setuju dan bahkan ingin ikut mati saja karena mencintai istrinya.

Akhirnya sebuah panggung pembakaran mayat disiapkan dan mereka berdua siap mati terjun ke api. Tiba-tiba muncullah sepasang kambing dari semak belukar. Yang betina sedang hamil dan meminta yang jantan mengambilkan daun dari panggung pembakaran mayat. Yang jantan tak bersedia dan si betina ingin mati saja. Terserah kata yang jantan, ia tidak seperti Prabu Aridarma yang mendengarkan kata-kata istrinya. Prabu Aridarma terperanjat lalu ia tidak jadi menjatuhkan dirinya ke api. Kemudian sang permaisuri dan si kambing betina terjun ke dalam api. Prabu Aridarma pulang ke keraton.