Lompat ke isi

Halaman:Tjempaka Merah.pdf/86

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi

„Saja kira tidak !"

Nafas Jacob terengah-engah. Sebenarnja kasihan melihat keadaannja itu. Tetapi djawaban harus diberikan sekarang djuga sebelum terlambat Han lari keluar kota.

„Dimana kira² sebagian uang itu disimpan dan jang hendak dibawa lari?"

Jacob berdiam diri. Setelah saja ulang pertanjaan itu, dia mendjawab:

„Kata dia, disimpan didalam kapok". Saja sendiri tidak mengerti kata²nja itu,"

„Engkau bertanja dan djawabannja begitu ?" tanja saja.

„Ja!"

Kemudian dia pingsan. Karena lelah. Terpaksa sampai sekian sadja pertanjaan jang dapat kami adjukan pada Jacob.

Tinggal memikir : kapok, kapok, kapok! Dimana disimpan sebagian uang itu?

Sekonjong-konjong muntjul pikiran baik pada otak saja. Kata saja sambil menarik Haris keluar dari ambulance :

„Sebagian uang itu diketahui Jacob menjimpannja, tetapi dia masih tidak mau mengaku. Dan kita sendiri tidak usah memaksa dia sekarang djuga. Kelak kalau kesehatannja agak pulih. Hanja sadja, kau tahu Haris, apa jang dimaksud Han dengan „kapok" itu ?"

„Tidak!"

„Fadholie! Dia pendjual kapok, bukan? Dan rumahnja kosong dengan tidak ada pendjagaan polisi dan orang lain. Itu sebabnja, mungkin bagian-dalam rumah dipakai oleh Han untuk gudang uangnja! Kalau tidak ada dirumahnja, kita tjari dikantornja ditepi pelabuhan. Tetapi disana tak mungkin, karena kantor itu sekarang dipakai orang lain setelah Fadholie mati itu!"

„Mungkin benar djuga, Niko! Ajoh, kita kesana sekarang djuga!"

Kommissaris Dahlan diadjak Haris. Polisi² disiapkan, dan dengan begitu kami mulailah pengedjaran dan penangkapan.

——————

86