Lompat ke isi

Halaman:Tjempaka Merah.pdf/48

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi

kesempatan ! Dengan tjepat puntung jang menjala itu saja lemparkan kemukanja hingga tepat mengenai hidung dan didekat matanja. Dalam kegugupan ini setjepat-tjepatnja saja lompati dan pergumulan terdjadi.

Pistolnja terlempar sudah.

Kami bergumul dengan serunja. Beberapa kali muka saja kena gotjoh dia. Mau rasanja untuk mengalah begitu sadja karena gotjohan jang keras itu, tetapi njawa saja tergantung dari menang kalahnja pergumulan ini. Djadi satu-satunja djalan hanja harus menang dalam berkelahi. Satu-satunja djalan ! Leher badjunja saja angkat. Tidak peduli perut saja disodoknja. Sekuat tenaga saja dorongkan kearah dinding dan tepat kepalanja kena dinding itu. Menggeliat sedjenak, kemudian diam. Pingsan barangkali.

Pistol segera saja ambil dan dengan sempojongan saja tinggalkan gudang gelap itu.

Sepuluh menit berputar-putar sekitar lorong² gudang, barulah tampak sinar jang memberi harapan. Dengan hati² sekali saja keluari tempat tjelaka itu. Kepala masih pening rasanja.

Diluar tak ada apa². Tak seorangpun lalu, dan tak sebuah kendaraanpun terdapat disana. Hanja djalan jang sunji sadja. Gudang ini gudang apa ? Tampaknja seperti kelder dibawah tanah. Mungkinkah itu bekas perlindungan jang dipakai waktu perang jang lalu ? Mungkin pula disana bersarangnja pendjahat² itu.

Terdengar desau angin jang menerdjang daun-daun dan desau ombak laut. Tak salah lagi, disini tepi laut. Kemanakah jang hendak saja tudju sekarang ? Hanja orang jang pingsan itu sadja dapat saja djadikan penundjuk djalan. Pikiran inilah jang menjebabkan saja kembali memasuki gudang itu dan menemui orang jang pingsan itu sudah sadar tetapi masih susah untuk bangun.

Segera saja pegang leher badjunja dan saja dorong dengan todongan pistol pada punggungnja.

48