megang pistol itu hadir. Kalau tidak, sudah tentu tamparannja itu saja balas dengan bunganja sekali.
„Saudara tak bisa menangkap saja, sedangkan mentjari djedjak sadja sudah ketahuan! Tentu mau lapor, dimana letak gudang, dimana saudara dipukul orang dan siapa-siapa sebagian dari orang jang mendjadi perisai saja, tetapi, itu takkan botjor! Karena saudara tidak akan pulang begitu sadja !”
Teringat tiba-² pada Renny. Renny jang berteriak waktu saja didalam kamar dan kemudian disambut oleh dua orang dengan pukulan.
„Dimana Renny?” tanja saja sambil memandang kuat-² pada orang itu.
„Renny?! O, Renny!” djawabnja: „He,” katanja sambil berpaling pada kedua temannja jang memegang pistol: „dimana Renny? Ah, nona Renny!”
„Dirumahnja!” djawab mereka berdua, sambungnja: „Bersama-sama dengan Razak !”
„Diam!” bentak kepalanja ketika keduanja menjebut nama Razak, Razak! Tak lain dialah pelajan itu. Razak! Tak salah dia salah seorang anggauta gerombolan ini. Andaikan saja dapat melepaskan diri dari dalam gua ini, sungguh akan ada penangkapan dirumah Renny. Tetapi mengapa Renny ditinggal dan tetap dirumahnja? Mungkinkah untuk mengabui mata polisi dan bagi saja untuk mengabui mata Haris bahwa tak ada terdjadi apa-² dirumah Renny terhadap diri saja? Mungkin demikian !
„Saudara tahu, nona Renny dirumahnja!” kata orang itu pula dengan lagak mengedjek, sambungnja pula sambil mendjongkokkan kepala saja hingga terangguk saja dibuatnja :
„Sampai bertemu lagi, saudara!” Kemudian dia pergi meninggalkan gudang itu. Kedua temannja itu ikut. Lalu salah seorang berhenti dipintu dan duduk diatas sebuah peti kosong jang dibalik.
Seorang inilah satu-satunja kesempatan untuk melarikan diri. Tetapi setelah lama saja pikir, hendak kemana sesudah berhasil usaha saja kelak? Gedung jang berdinding kuat-²
46