Halaman:Rimba-Rimba.pdf/9

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi

Satu peluru saja
Berhasil menembus jantung lelaki muda itu,
Maka, aku tak akan pernah ada,
Dan, aku selalu bangga menjadi anak seorang pejuang, seorang mantan tentara PRRI


Novel ini, dipersembahkan untuk Ayahanda, seorang mantan tentara PRRI, kisah-kisah perjuangannya di zaman pergolakan sangat menginspirasi penulisan novel ini. Juga untuk Ibu, yang turut mengungsi dari satu butan ke hutan lain, dari satu kampung ke kampung lain.

Terima kasih, untuk semua kawan-kawan yang membantu, baik secara langsung maupun tidak langsung dalam penulisan novel ini hingga terbit. Kawan-kawan anggota grup Penulisan Novel Rumah Puisi, Da Gr Tf Sakai, Pak Darman Moenis, rekan seperjuangan di Balai Bahasa Provinsi Sumatera Barat. Ucapan terimakasih tak terhingga untuk pegiat Ruang Kerja Budaya yang bersedia menerbitkan naskah novel ini. Terima kasih untuk Abang Ahmed Kamil Pratama, Mas Koko, Uni Ka'bati, Mas Pramono, dan kawan-kawan lain yag tidak disebutkan satu per satu

Terima kasih tidak ternilai juga di-sampaikan buat anak dan istriku, yang merelakan waktunya tersita. Seiring, ucapan maaf juga diaturkan atas penggunaan nama tokoh serta latar tempat, semua itu hanya kebetulan belaka, tidak ada unsur kesengajaan.

Penulis

vii