Halaman:RerumNovarum.djvu/8

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini telah diuji-baca


tidak boleh diganggu gugat. Sesudah itu ditetapkan, marilah melangkah maju untuk menjelaskan, di mana terdapat upaya-­upaya yang dicari untuk menanggulangi kendala­-kendala itu.

Tindakan Gereja

14. Pokok ini kami dekati penuh kepercayaan, karena memang sepenuhnya termasuk kewenangan kami. Sebab persoalan tidak dapat dipecahkan dengan baik tanpa mengacu kepada agama dan Gereja. Karena agama dan hal­-hal yang termasuk tanggung jawab Gereja terutama tercantum dalam reksa kegembalaan kami, terus mendiamkannya saja akan dipandang sebagai kelalaian menunaikan kewajiban kami. Sudah pasti di samping kami dibutuhkan pihak-­pihak lain juga, untuk mengerahkan usaha­-usaha mereka menanggapi persoalannya, yakni: para pejabat pemerintah, kaum majikan dan para pemilik upaya-­upaya produksi yang kaya, akhirnya juga mereka yang kepentingannya kami bela, rakyat yang tak empunya. Akan tetapi tanpa ragu­ragu kami tekankan, bahwa langkah-­langkah mana pun yang mau dipilih, semuanya itu akan sia­-sia kalau Gereja tidak diikutksertakan. Sudah jelas Gerejalah, yang dari ajaran Injil menimba kekuatan yang memadai untuk mengakhiri konflik, atau setidak­-tidaknya meredam rasa pahitnya. Gereja jugalah yang berusaha melalui pedoman-­pedomannya bukan melulu memberi penyuluhan kepada akalbudi, melainkan membimbing perihidup dan kesusilaan siapa pun juga. Gereja mengelola organisasi sangat efisien, untuk mendukung terwujudnya kondisi-­kondisi yang lebih baik bagi mereka yang serba tak empunya. Gereja mendesak semua golongan untuk bekerja sama dalam pemikiran dan tindakan untuk menghasilkan pemecahan sebaik mungkin bagi masalah-­masalah kaum buruh. Gereja mempertahankan, bahwa negara harus melaksanakan kewenangannya di bidang administratif dan legislatif demi tujuan itu juga, sejauh dibutuhkan oleh situasi.

Ketimpangan-Ketimpangan dan Jerih Payah Kerja Tidak Terelakkan

15. Pertama perlu dikemukakan, bahwa masyarakat harus menerima kenyataan masalah­-persoalan manusiawi: dalam masyarakat memang mustahil bagi rakyat di lapisan bawah untuk menyamai mereka di tingkat atas. Itu dengan gigih ditentang oleh kaum sosialis; tetapi percuma saja mereka melawan kenyataan. Memang besar dan banyaklah perbedaan-­perbedaan yang de facto terdapat antara orang­-orang. Tiada kesepadanan dalam bakat­-kemampuan, atau keterampilan, atau kesehatan, atau kekuatan. Dan perbedaan­-perbedaan yang tak terhindari itu dengan sendirinya menimbulkan ketidak­samaan kondisi hidup. Jelas itu menguntungkan juga bagi perorangan maupun masyarakat. Sudah selayaknya masyarakat merangkum pelbagai kemampuan untuk tindakan dan dapat memanfaatkan aneka jasa-­pelayanan. Orang-­orang sangat terdorong juga untuk melengkapi semuanya itu dengan perbedaan­-perbedaan kondisi mereka.