Waktu yang dipergunakan untuk membuat perahu memakan waktu yang cukup lama. Contoh pembuatan panjaringan 7 larik oleh tukang Kebondadap 4 orang menelan waktu 3 minggu, jadi 3 perahu dalam 2 bulan. Tetapi kalau dikerjakan secara "massal" lebih cepat.
Di seluruh Madura cara-cara pembuatan perahu pada garis besarnya sama saja. Yang berbeda adalah bentuknya dan bahannya. Kebondadap dan Gili suka pada kayu nyamplong, sedang tempat-tempat seperti Sapeken-Sukolilo-Pasongsongan-Sapulu lebih suka pada jati, tetapi yang terbaik adalah kayu "lebban" dari Kalimantan yang dapat menghancurkan karang.
BEBERAPA UPACARA
Uraian pendek ini dimaksudkan untuk melengkapi buku ini agar beberapa upacara yang dimaksud mendapat penelitian tersendiri karena hubungannya dengan "perahu" cukup erat. Upacara yang dimaksud adalah selamatan rokat tase' (selamatan laut). Selamatan ini dianggap "keharusan" agar segala sesuatunya dapat berjalan lancar. Suatu misal saja, yaitu apabila dalam saat "matoron parao" atau sampan, apabila tidak mengikuti saat tradisional, dianggap "menying- gung" tradisi setempat, sehingga perahunya "tidak bisa turun". Hal ini akibat "sihir" dengan "botol", atau kalau pekakas tukangnya "dibuang" perahu yang bersangkutan dapat "tenggelam". Oleh karena itu tradisi selamatan rasolan dan "e rokat" suatu yang tak terpisah dari kehidupan perperahuan Madura. Selamatan ini ada yang diadakan tiap tahun ke tengah laut, dinamakan "rokat tase".
Di Legung dalam mengadakan rokadan ini malam sebelumnya diadakan pengajian "hataman" oleh 7 orang atau 11 orang. Upacaranya dengan mengadakan kerap sapi di pinggir laut "sape-ocolan". Pada waktu itulah sang pemimpin upacara mengadakan selamatan. Lok-alok "sape" yang menyerupai kata-kata mantra, sastra magis, diucapkan. Doa yang dibaca adalah doa "rojung" dan doa "sapu jagad". Semua keluarga yang memiliki jukong berkumpul untuk mengadakan makan bersama nasi rasolan. Sisa makanan yang tidak habis keba- nyakan ditaruh di perahu jukung masing-masing sebagai tanda keselamatan. Kadang-kadang di darat yang memiliki sapi yang biasanya untuk membajak kemudian diadu (tok-tok).
Lagu yang dibawakan pada waktu itu adalah lagu Demmung "Pa' dammong Kanduridan ...", suatu lagu magis biasa. Setelah itu ada
121