keadaanku, pasalnya aku terus menangis. Dokter berpesan agar aku tidak banyak kegiatan dulu. Harus istirahat penuh, agar kesehatanku memulih.
Aku sangat sedih jika harus berlama beristirahat. Aku tidak ingin begitu lama meninggalkan bangku sekolahku, bukannya aku takut ketinggalan pelajaran, tetapi aku takut jika teman-teman membezukku ke rumah. Maka, mereka akan tahu tentang sejatinya ayahku.
Dalam sakit ini, sering aku berharap agar lekas sembuh, Berharap supaya teman-temanku tidak membezukku. Dan berharap ayah ada disini, menemani ibu menugguiku. Aku kasihan melihat ibu, yang tejaga di sampingku. Walau matanya sudah berat dan ingin sekali tidur, tetapi ia bersikeras menahan kantuknya. Ibu tidak Pernah mengeluh. Dengan sabar dia menyuapiku dan memberi obat. Sebenamya ibu lah yang paling oke yang kumiliki,
Ternyata tak satupun harapanku terkabul. Sudah tiga hari aku tidak masuk sekolah. Begitu juga harapan tentang ayah. Semuanya nihil. Ibu masih sendiri menjagaku. Sering aku melihat ibu menangis ketika menjagaku. Aku sadar, ibu sama sepertiku, sama-sama merindukan ayah.
Teman-teman begitu mengkhawatirkan aku. Karena Sudah tiga hari tidak masuk sekolah. Betul dugaanku, sore ini mereka membezukku. Aku sangat cemas, jika teman- teman menanyakan perihal ayah. Aku takut kebohonganku selama ini terbongkar. Betapa malunya aku. Ibu menyambut kedatangan teman-temanku. Aku menajamkan indera pendengaranku. Aku berharap mereka tidak menanyakan di mana keberadaan ayah kepada ibu. Tapi harapanku pupustah sudah, ketika aku mendengar tka bertanya kepada ibu.
“Sendiri Tante, ayah Icha mana?”
Mendengar pertanyaan Ika, jantungku berdegup kencang. Tak pernah aku berpikir cerita yang kurangkai
15