Lompat ke isi

Halaman:Horison 01 1970.pdf/17

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini telah diuji baca

DALAM ”SYARAFUL ANAM”

DARI PUISI DALAM BARZANDJI

Telah lahir sang kekasih, semacam dia tak pernah lahir
Telah lahir sang kekasih sedang pipinya memerah mawar
Telah lahir umpama bukan lantaran dia tidak dirindu. tanah berpasir
Tidak disebut samasekali tanah larangan dan tempat berikrar
Telah lahir umpama bukan lantaran dia Tiada Qubaa akan dikenang
Tiada nanti tanah Muhashshab sekali-kali menjadi tujuan
Inilah dia bukti janji-Nya, inilah dia
Halus lakunya - duhai yang berlagu - umpama ranting bergoyang lena

Inilah dia yang dikenakan serba pakaian
dan perhiasan, maka bandingnya tak terdapatkan
Inilah dia yang dielukan malaikat langit :
Inilah cahya seluruh alam! Inilah Ahmad!

Kalau ternyata mu'jizat Jusuf pada gamisnya
Demi Allah yang telah lahir lebih lagi daripadanya
Kalau Ibrahim telah diberi petundjuk dirinya
Demi Allah yang telah lahir lebih tertuntun daripadanya

Duhai kelahiran sang terpilih, betapa padamu segala puji
Segala puja mengatas tinggi, segala sebutan yang didapati
Duhai kalian para pencinta, larutkan diri dalam cintanya
Inilah dia seri cemerlang satu-satunya

Kemudian selawat atas sang Nabi dan keluarganya
Setiap hari melangkah lalu, haripun datang esok-paginya

VIII

Terlihat dibulan Rabie' munculnya sebuah bulan
Dari wajah yang melebihi seluruh badwi dan orang negeri
Semua menjulang ketengah maya, dengan malaikat yang mengelilingi
Keindahan yang naik tinggi antara Tieh dan padang Hafari
Maka pada bulan yang begini kelahirannya
Muliakanlah kelahiran sang terbagus makhluk dan manusia
Bertemu seluruh keindahan, sedang dia cuma seorang
Menjulang semua kedalam gambaran
yang melebihi seluruh lukisan

Kalau kulihat, o bahagia, perkampungannya
datanglah padanya. Datang dalanı fikiran bahkan datanglah dalam pandangan
Andai tak sampai ziarah kuburnya, o bahagia, dalam umurku
Sesudah begini tahunan kering, duhai usia yang hilang sirna !
Lantaran cinta telah mencabik setiap luka
Maka dukapun mukim dihati, sedang pelupuk tetap berjaga

Semoga Tuhan Pemilik Tahta mencurah kurnia
Sedang merpati muda mengkuku, dipagihari dan awal senj

IX

(Marhaban ya marhaban !
Marbaban, selamat datang!)

Ya Nabi salam padamu
Ya Rasul salam padamu
Kekasih, salam padamu
Selawat Allah selalu untukmu

Terbit purnama ditengah kita
Maka silamlah semua purnama
Bagai cantikmu tak pernah kupandang
Aduhai wajah kegembiraan

Engkau mentari engkau purnama
Engkaulah cahya diatas cahya
Engkaulah iksir tidak terduga
Engkau pelita ditiap dada

Duhai kekasih duhai Muhammad
Duhai mempelai pendebar kesumat
Duhai penguat, juruselamat
Duhai sang imam kedua Kiblat ⁹)

Bahagia siapa memandang wajahmu
Duhai 'bu-bapa yang penuh keramat
Kolammu jernih sejuk airnya
Tujuan kami dihari kiamat.

Tidak kulihat onta yang putih
Melonjak riang, selain padamu
Awan yang teduh memayungimu
Para malaikat berselawat untukmu

Datang menangis onta yang tua
Minta berlindung pada lenganmu
Binatang rimba dan kijang pelarian
Padamu jua mencari naungan.

HORISON / 17