kah api membinasakan barang sasoeatoe jang ada, boekankah tiap² barang lama kalamaan lapoek atau rusak?[1]
Soenggohpeun pun Brahma, dewa jang teroetama sekali, tetapi banjak orang Hindoe menjembah Wisnoe dengan tiada mengendahkan Brahma dan Siwa; ada poela jang menghormati Siwa lebih dari pada dewa jang lain itoe. Adapoen berhala Siwa di poelau Djawa saparonja moekanja haibat, saparonja seperti orang bertapa, maka dewa jang bertapa itoe dinamai orang Djawa Batari Goeroe. Maka, istri Siwa bernama Doerga, tetapi diseboet oleh orang Djawa Lara Djongrang, maka dewa itoe memperanakkan dewa Ganesa, berhalanja saorang orang jang gemoek badannja, kepalanja kapala gadjah akan alamat dewa itoe berboedi dan bidjaksana.
Lain dari pada dewa jang terseboet di atas ini, ada lagi jang disembah oleh orang Hindoe, misalnja Soerja, jaitoe dewa jang mengoeasai matahari, dan Indra, jang mendjaga sorga.
Maka adalah soeatoe adat orang jang menjembah Siwa: apabila radja atau orang besar² 'mangkat', maka maitnja dibakar, serta segala isteri gondiknja menikam dirinja dengan keris, laloe rebah ke dalam api.
Hatta, maka nama agama Boedha asalnja daripada orang jang membangoenkan agama itoe ± 600 tahun s.b.N.I., maka orang itoe anak radja, namanya Gautama, negerinja di kaki goenoeng Himalaja. Adapoen Gautama doekatjita melihat sangsara manoesia, maka terbitlah niat dalam hatinja hendak membangoenkan agama jang lain. Oleh karena itoe diboeangkannja sekalian kasoekalin dan kebesarannnja, serta ia bertapa enam tahoen lamanja; kemoedian dari pada itoe, ia mendjadi fakir dan mengadjarkan agamanja di Hindoestan.
Maka Gautama digelari oleh moeridnja Boeddha, ertinja jang moelia.
Adapoen perkara agama Boeddha jang teroetama sekali, jaani:
Barang siapa jang memboenoeh nafsoenja dan mengasehi
- ↑ Siwa dinamai juga 'Kala'; kata 'kala' itu sekarang juga artinya waktu, umpamanya: sediakala, tatkala dan sebagainya.