han Gwat Nio dan Liong Nio, jang tentoe dapet batja akoe poenja nama di soerat kabar, tida kirim soerat".
„Akoe sendiri poen telah beralpa . . . . . . . . ." kata si Hok, „tapi ma'afkenlah, kerna akoe sendiri tida ada batja soerat kabar. Akoe ampir tida taoe dalem doenia terdjadi apa."
„Apakah kaoe kira akoe poenja loeloes dari examen ada beroepa kedjadian jang bisa membikin tergeter saloeroeh doenia?" tanja Sien Nio sambil tertawa.
„Itoe akoe tida taoe, tapi akoe taoe betoel, itoe kedjadian membikin akoe poenja hati berketik lebih keras, nona, lantaran kegirangan."
Kombali Sien Nio memandang pada Hok sambil kasi liat senjoeman jang manis. Lantaran belon biasa mengobrol begitoe getol dengen satoe gadis, parasnja si Hok sabentar berobah merah, sabentar lagi ia rasaken moekanja dingin dan waktoe Sien Nio memandang padanja dengen bersenjoem begitoe, ia terpaksa toendoek.
Samentara itoe iboenja Hok mengobrol dengen iboenja Sien Nio. Itoe doea orang toewa roepanja soeda djadi sobat kental, kerna marika bisa mengobrol dan bitjara memaen dengen roepa girang sekali.
Djoega iboenja Hok diam-diam djadi girang waktoe denger jang itoe pesta sebetoelnja dibikin sebagi tanda girang, bahoea Sien Nio soeda loeloes dan dengen begitoe tida aken pergi berladjar lebih djaoeh.
„Akoe rasa anak prempoean tida oesa dikasi berladjar lebih djaoeh. Lagi poen Sien Nio sendiri bilang ia tida kapingin djadi orang jang terpladjar tinggi, la kapingin djadi njonja roemah sadja."
„Dalem ini hal akoe tida bisa njataken akoe poe-