Lompat ke isi

Halaman:Amerta - Berkala Arkeologi 3.pdf/32

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi

menunggu lama, maka pk. 3.25 kami diberitahu, bahwa pesawat udara tidak datang dan karena itu harus menginap semalam lagi di Jambi. Untunglah keluarga Walikota dan keluarga A. Gaffar Dung tetap membuka pintu rumah mereka selebar-lebarnya bagi kami.

Selasa, 16 Maret 1954

Pagi hari kami menghabiskan waktu dengan melihat-lihat kota dengan tiada bertujuan. Tak ada lagi sesuatu yang perlu dan dapat kami kunjungi.

Sebelum pk. 12 kami sudah di Palmerah. Pk. 1.10 Heronnya datang, dan pk. 1.25 kami terbang ke Palembang, di mana Sdr. Budenani meninggalkan rombongan kami.

Kira-kira pk. 5 waktu Jawa kami tiba di Kemayoran.

3. Daerah Pasemah.

Sabtu, 6 Maret 1954

Pk. 12.30 dengan kereta api dari Palembang kami menuju Lahat dan tiba disana pk. 6:30. Di sini kami menginap di Hotel 'Lematang". Malam harinya kira-kira pk. 8 kami memerlukan berkunjung ke rumah Sdr. Wedana Lahat, di mana kami disambut dengan gembira oleh beliau. Kepada beliau kami jelaskan maksud kedatangan kami itu dengan panjang lebar dan mengharapkan bantuan dari padanya, terutama mengenai kendaraan yang kami butuhkan untuk keesokan harinya. Bantuan yang kami perlukan itu disanggupi oleh beliau.

Kira-kira pk. 9.30 kami minta diri untuk meneruskan kunjungan kami ke Pak Bupati, tetapi oleh karena Pak Bupati pada waktu itu tidak ada di kota (sedang bepergian ke Bandung untuk berobat), maka kami kembali ke penginapan kami.

Minggu, 7 Maret 1954

Pk. 9 pagi kami mengunjungi Pak Patih Lahat. Sambutan beliau atas kedatangan kami itu sangat memuaskan, begitu pula perhatian beliau akan kepurbakalaan sangat besar seperti ternyata pada pertanyaan-pertanyaan dan pembicaraan-pembicaraan kami itu.

Arca Batu di Tinggihari, Lahat

Pk. 11 siang kami minta diri dari Pak Patihdan meneruskan perjalanan kami ke Kampung Manggul, yang letaknya 5 km dari Lahat. Dari sini kami meneruskan perjalanan ke Dusun Keban,di mana tersimpan dua buah batu pusaka kepunyaan penduduk di situ, yang masih menjadi pujaan mereka itu. Dengan berjalan kaki dari Manggul tadi kami menempuh Dusun Keban ini selama 1½ jam. Ketika kami tiba di sini kami hampir-hampir tak menemui orang-orang di situ, karena hampir semua penduduk pergi ke ladang. Untunglah kami masih dapat menjumpai beberapa orang perempuan dan anak-anak. Atas permintaan kami, maka kepala dari dusun itu dipanggilnya. Sambil menunggu kedatangan kepala dusun tadi, kami melihat-lihat di sekitar dusun tadi, untuk mendapatkan sesuatu yang berguna bagi kami. Setengah jam kemudian datanglah kepala dusun dan kami pun memperkenalkan diri. Dengan perantaraan Sdr. Pasirah, yang mengikuti perjalanan kami dari Lahat, dijelaskanlah maksud kedatangan kami itu kepada dusun itu dan dimintakan izin untuk melihat dan menyelidiki batu-batu yang ada di situ, yang tersimpan di sebuah rumah kecil bertiang empat (tingginya kira-kira 2 m). Kepala dusun tersebut tidak berani memberikan izin, dan menyerahkannya kepada Jurai Tuwa (orang dari keturunan yang paling tua di dusun itu), karena dialah ber-

27