Halaman:Amerta - Berkala Arkeologi 2.pdf/44

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini tervalidasi
AMERTA, 2, 19854



  1. SEBUAH CANDI TIMBUL KEMBALI


  1. V.R. van Rommondt


Pada bulan Nopember 1936 Dinas Purbakala mendapat berita, bahwa di daerah Yogya, sedikit sebelah selatan Desa Gebang, ditemukan sebuah arca Gajah pada sebuah tempat, dari mana penduduk biasa mengambil batu-batu untuk bangunan rumahnya. Tidak seorang pun dapat menduga, bahwa ini adalah langkah pertama yang akan mewujudkan kembali sebuah candi kecil dari zaman awal Jawa Tengah. Candi kecil itu sendiri mungkin tidak begitu penting, tetapi caranya ia ditimbulkan kembali dan keistimewaan-keistimewaan yang ada padanya, menimbulkan perhatian kita untuk mengikuti sejarah pembangunannya kembali.

Sebagai biasa setelah ada laporan, maka diadakan penyelidikan oleh Dinas Purbakala bagian Bangunan, yang pada waktu itu kantor besarnya ada di Prambanan, tidak jauh dari situ. Patung itu berupa Ganeça yang sangat indah. Yang aneh ialah bagian lapiknya, yang terang menyatakan, bahwa patung itu tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian dari sebuah bangunan. Inilah yang menyebabkan diperluaskan penyelidikan pada tempat temuannya. Penyelidikan demikian itu biasanya terdiri atas pemeriksaan tempat itu untuk mengetahui batu-batu macam apakah yang ada di atas tanah di situ itu. Dari pemeriksaan ini seringkali dapatlah sudah ditentukan apakah ada yang diharapkan. Kadang-kadang di antara batu-batu itu ada pecahan-pecahan patung yang indah buatannya atau bagian-bagian suatu bangunan dengan bingkai-bingkai yang dihiasi. Di Gebang ini tidaklah demikian halnya. Oleh penduduk telah banyak sekali batu-batu itu diambil, hingga tinggal sedikit saja bangunan kuno yang telah hilang itu. Tetapi patung Ganeça itu memberikan kepastian niat untuk menggali alur-alur percobaan, guna menyelidiki apakah ada sesuatu yang terpendam di dalam tanah. Penyelidikan menghasilkan cukup batu-batu, yang ternyata berasal dari sebuah candi, sehingga dapatlah dilanjutkan penyelidikan itu. Lambat laun timbullah batu-batu candi yang masih saling berhubungan di tengah-tengah batu yang masih saling berhubungan di tengah-tengah batu yang tak beraturan letaknya. Kira-kira dua meter di bawah tanah terdapatlah permukaan tanah yang semula. Batu-batu yang berserak-serak terlepas itu dikumpulkan di suatu tempat tidak jauh dari situ, dipilih dan sedapat mungkin dihubung-hubungkan. Kaki bangunan itu sebagian masih utuh, dan mudah dilengkapi dengan batu-batu lain, yang dahulu merupakan bahagian darinya. Dengan pengumpulan batu-batu yang lain dapatlah bagian atas bangunan itu hampir seluruhnya disusun kembali. Tetapi kemudian batu-batu itu boleh dikata habis. Dari bagian tengah candi itu hampir tidak ada yang tinggal. Hal itu menimbulkan banyak kesukaran, dan rasa-rasanya bangunan itu, yang bentuknya dapat direncanakan kembali di atas kertas dengan hampir pasti, tidak dapat dibangun kembali. Salah

39