Halaman:ADH 0008 A. Damhoeri - Pengawal Tambang Emas.pdf/41

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini telah diuji baca

-37-

engambil jalan membelit arah kebelakang pondok mereka. Mereka melang-ah dengan sangat hati-hati dan memperhatikan jalan yang ditempuh. eberapa lamanya kemudian kelihatanlah unggun dimuka pondok itu dan ayangan pondok itu.

Mereka lalu berhenti dibalik sebatang pohon yang besar. Tu' Layau erbisik kepada temannya:

" Coba periksa keadaan mereka dan bagaimana kita harus mendatangi mereka." Maka Sibarani pula mendapat tugas itu. Ia lalu melangkah kedepan dengan hati-hati. Dimana perlu ia merangkak atau kadang-kadang tiarap memperhatikan situasi. Tidak berapa lama sampailah ia kesuatu tempat dari mana lokasi tempat itu jelas terlihat semuanya.

Pondok itu dibuat agak kokoh dan pintar sekali tekniknya. Tiangnya dari kayu pelangai yang besar dan cabang-cabang pada ujungnya tidak dibuang. Pada cabang itu dipasang peran pondok. Atapnya terbuat dari sikai yang banyak terdapat ditempat itu. Dindingnya terbuat dari belahan-belahan bambu dan tidak semua bahagian di dinding. Yang didinding hanya sebelah belakang dan sebelah arah ke Taram. Sebelah ari mana Sibarani datang tidak didinding hanya separonya saja. Sehingga selesai saja Sibarani mengintip kedalamnya. Alat-alatnya centang erenang saja dalam pondok itu terletak sebelah arah kesebelah sini.

Setelah di hitung-hitung Sbarani ternyata ada delapan orang jumlah semua kelompok pendulang itu. Yang dua orang sedagn berdiang menghadapi unggun. Tiap sebentar ditambahnya kayu sehingga api unggun itu semakin marak. Apinya membesar dan asapnya membubung tinggi keudara. Yang lain-lainnya ada dalam pondok. Dua orang sudah rebah-rebahan. Yang seorang asyik menyusun-nyusun perian. KElihatannya cukup berat juga perian itu. sudah banyak emas terkumpul didalamnya. Hati Sibarani mendongkol.

Tiga orang sedang bermain, entah apa permainannya dibawah kelap kelip cahaya pelita yang sinarnya selalu menari-nari ditiup angin. Setelah puas melakukan pemeriksaan dan penyelidikan Sibarani kembali menemui teman-temannya. Dengan berbisik-bisik SIbarani melaporkan apa-apa yang sudah dilihatnya. Tak lupa tentang perian-perian yang berat itu.

"Ya, sudah sampai waktunya," kata tu'Layau yang bernada memberi perintah