Fragmen

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Fragmen
oleh Chairil Anwar

Dari Yang Terampas dan yang Putus (antologi); tidak disebutkan bahwa itu saduran dan terjemahan
diterjemahkan dari puisi Conrad Aiken, Preludes to Attitude / Preludes for Memnon LIII ("Nothing to say, you say?")

Tiada lagi yang akan diperikan? Kuburlah semua ihwal,
Dudukkan diri beristirahat, tahanlah dada yang menyesak
Lihat keluar, hitung-pisah warna yang bermain di jendela
Atau nikmatkan lagi lukisan² di dinding pemberian teman² kita.
Atau kita omongkan Ivy yang ditinggalkan suaminya,
jatuhnya pulau Okinawa. Atau berdiam saja
Kita saksikan hari jadi cerah, jadi mendung,
Mega dikemudikan angin
-- Tidak, tidak, tidak sama dengan angin ikutan kita............

Melupakan dan mengenang --

     Kau asing, aku asing,

Dipertemukan oleh jalan yang tidak pernah bersilang

     Kau menatap, aku menatap

Kebuntuan rahsia yang kita bawa masing-masing

Kau pernah melihat pantai, melihat gunung?
Lupa diri terlambung tinggi?
Dan juga
diangkat dari rumah sakit satu ke rumah sakit lain
mengungsi dari kota satu ke kota lain? Aku
sekarang jalan dengan 1 1/2 rabu.

Dan
Pernah percaya pada kemutlakan soal........
Tapi adakah ini kata-kata untuk mengangkat tabir pertemuan
memperlekas datang siang? Adakah--

     Mari cintaku

Demi Allah, kita jejakkan kaki di bumi pedat,
Bercerita tentang raja² yang mati dibunuh rakyat;
Papar-jemur kalbu, terangkan jalan darah kita
Hitung dengan teliti kekalahan, hitung dengan teliti kemenangan.

Aku sudah saksikan
Senja kekecewaan dan putus asa yang bikin tuhan juga turut bersedu
membekukan berpuluh nabi, hilang mimpi dalam kuburnya.

Sekali kugenggam Waktu, Keluasan di tangan lain
Tapi kucampurbaurkan hingga hilang tuju.
Aku bisa nikmatkan perempuan luar batasnya, cium matanya, kucup rambutnya, isap dadanya jadi gersang.

     Kau cintaku--

Melenggang diselubungi kabut dan caya, benda yang tidak menyata,
Tukang tadah segala yang kurampas, kaki tangan tuhan--
Berceritalah cintaku bukakan tubuhmu di atas sofa ini

Mengapa kau selalu berangkat dari kelam kekelam
dari kecemasan sampai ke-istirahat-dalam-kecemasan;
cerita surya berhawa pahit. Kita bercerai begini--

Tapi sudah tiba waktu pergi, dan aku akan pergi
Dan apa yang kita pikirkan, lupakan, kenangkan, rahsiakan
Yang bukan-penyair tidak ambil bagian.