Langit Kelabu Di Atas Mekah/6

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

6.Air mata mengalir dibawah bukit Safa.

Tiga tahun lamanya aksi pemboikotan kaum Quraisy berlangsung terhadap Nabi Muhammad s.a.w. dengan semua pengikutnya. Bagi mereka merupakan suatu cobaan cobaan yang tidak alang kepalang hebatnya. Namun mereka tetap teguh dalam keimanannya, sedikitpun tidak goyah dan tidak mundur barang setapakpun.

Selama itu pulalah Nabi Muhammad dengan semua pengikutnya seolah-olah terpisah di satu dunia lain yang terpencil. Mereka tinggal dekat bukit Safa.

Selama itulah mereka tak dapat membeli makanan atau pakaian. Tidak boleh berhubungan dengan siapa aja kecuali dengan kaumnya sendiri. Menjalankan dakwahpun sangat terbatas sekali. Hanya dalam musim haji saja mereka dapat melakukan dakwah. Sebab pada waktu itu menurut peraturan kaum Quraisy sendiri tidak boleh menganiaya siapa saja.

Ketika itulah mereka dapat berhubungan dengan dunia luar dan melakukan dakwah. Namun Abu Lahab dkk, tetap menguntit Nabi Muhammad dan menjaga tindak tanduknya dengan kejam dan bengis.

Sangatlah sengsaranya kaum Muslimin pada waktu itu. Makan apa yang dapat saja sehingga tubuh mereka udah kurus-kurus seperti hewan yang kelaparan. Pakaian begitu pula. Sudah compang-camping. penuh dengan tambalan. Daun-daunan, kulit-kulit pohon di kikis tipis-tipis dan dijadikan makanan. Tulang rusak sudah dapat dihitung. Namun semangat mereka tak pernah luntur. Semakin mereka sengsara semakin khusyuk mereka beribadat kepada Tuhan. Semangat mereka tak pernah padam dalam menegakkan agama Allah. Pada waktu a mereka tetap menjalankan ibadat. Dan tak lupa berdoa kepada Tuhan.

Tetapi tidaklah semua mereka berhati buas dan kejam serta tidak ber prikemanusian. Ada juga anggota mereka yang termasuk keluarga dekat nabi Muhammad. Atau mempunyai darah keturunan yang sama. Atau siapa saja yang antara mereka yang mempunyai rasa belas kasihan.

Dengan diam-diam dan sembunyi- sembunyi mereka mengumpulkan bahan-bahan makanan dan pakaian. Dan semuanya mereka kirimkan dengan secara rahasia ke bukit Safa. Biasanya hal itu dilakukan pada tengah malam sewaktu alam sunyi senyap. Sebab mereka takut kalau tindakan mereka diketahui oleh Abu Jahal dkk. Kalau ketahuan yang bersangkutan akan disiska dengan amat kejamnya.

Tetapi ratap tangis anak- anak yang kelaparan, yang kedinginan berselimut embun dibawah kaki bukit Safa, mencengkam dan mengunggah perasaan mereka. Sehingga sellau saja ada bantuan rahasia itu yang dikirimkan ke bukit Safa.

Tetapi apalah artinya bagaikan setetes embun dipagi hari. Namun kaum Muslimin tak pernah melupakan welas kasih penduduk Mekah yang masih mempunyai hati yang penyantun itu. Ada pula kaum hartawan dan dermawan. Mereka mengumpulkan bahan makanan dan pakaian lalu dimuatkan keatas punggung seekor unta. Dan pada tengah malam unta itu di halau menuju bukit Safa.

Akhirnya dari kalangan pembesar Quraisy sendiri tak tahan lagi mengingat kekejaman yang dilakukan oleh teman sebangsanya terhadap kaum sebangsanya pula, kaum Muslimin yang berhati teguh itu.

Maka muncullah seorang tokoh dari mereka itu. Namanya Hisyam bin Amr. Setiap malam telinganya bagai mendengar ratap tangis anak-anak yang kelaparan dikaki bukit Safa. Dan ter bayang-bayang diruang matanya kaum sebangsanya yang hampir telanjang diamuk kedinginan dibawah bukit Safa. Sedang mereka sendiri hidup dengan berkecukupan. Cukup sandang, cukup pangan.

Tak tertahankan lagi bayangan itu oleh Hisyam. Lalu dicarinya, teman-temannya yang sefaham. Mereka akan berusaha mencabut undang-undang yang tidak mempunyai prikemanusiaan itu. Dalam zaman Jahiliah tak pernah terjadi kelaliman seperti yang dilakukan mereka terhadap bangsanya sendiri.

Semuanya hanya disebabkan perasaan benci yang menggebu-gebu dari Trio pembenci Islam ialah Abu Jahal dan Abu Lahab dan Ummu Jamil.

Maka dijumpainya seorang temannya yang rasa-rasa sepaham bernama : Zuhair bin Umayah. Didapatinya kawannya itu sedang makan dengan nikmatnya. Didepannya terhidang roti, korma, manisan, buah-buahan dan lain-lainnya. "Hai Zuhir," kata Hisyam, " sudah merasa puaskah engkau makan yang serba enak ini? Dan merasa gembirakah engkau memakai pakaian yang serba indah ini?"

"Ya, tentu,...tentu, "jawab Zuhair sambil mereguk sejenis minuman yang sangat lazat.

"Tetapi adakah terbayang dalam ingatan kaum keluarga kita yang makan daun-daun kering, makan kulit kayu dan berpakaian compang-camping, nun dibawah bukit Safa? Tak ingatkah engkau disana saudara-saudaramu keturunan Bani Hasyim dan Bani Muthalib kelaparan dan menderita?

Itu semua adalah disebabkan oleh maklumat kita yang digantungkan di Kaabah selama ber tahun-tahun. Lupakah engkau?"

Zuhair termenung, tenggorokannya rasa tersendat. Setetes air mata titik dari kelopak matanya.

"Ya, akupun dapat merasakannya, Hisyam. Keyakinan mereka adalah keyakinan mereka. Tetapi bagaimana dengan anak-anak, wanita-wanita dan orang-orang tua? Ya, benar hatiku rasa di iris-iris, perih bagai luka di bubuhi asam. Tetapi apa yang harus kita perbuat?"

"Kita harus berusaha supaya aksi pemboikotan itu dihabisi. Masa tiga tahun mengazab mereka apakah masih kurang cukup? Dan apakah dosa dan kesalahan mereka? Sedang keimanan mereka tak pernah goyah. Dan mereka tidak sudi menyerahkan nabinya yang mulia itu. Rasanya tak perlu lagi aksi pemboikotan itu. Perbuatan itu amat keji dan kejam. Binatang buas takkan berlaku demikian terhadap bangsanya." Hisyam tersenyum dan berkata:

"Aku bersedia menjadi kawanmu, Zuhairi!"

"Benar ? Benar ?"

"Sudah lama ku pikirkan hal ini, Zuhair!"

"Kalau begitu kita cari kawan seorang lagi. bertiga adalah lebih baik dari berdua."

Mereka berdua lalu menemui seorang temannya lagi yang bernama: Mut'in bin Ady. Kepada Mut'in disampaikannya bagaimana penderitaan kaumnya yang berada ibawah bukit Safa itu. Dan meninjau pendirian temannya. Mut'in menjawab:

"Ya, memang sudah lama teringat olehku untuk embela mereka. tetapi aku takut mengeluarkannya. khawatir jika tak ada teman- teman yang menanggapinya pa dayaku karena aku hanya sendiri. Tak ada kawan, sekiranya ada teman - teman yang sefaham."

Hisyam dan Zuhair merasa gembira. sekrang mereka sudah bertiga.

Zuhair berkata:

"Sekarang engkau sudah menjadi tiga."

Mut'in berkata:

"Tetapi jika kita mendapat teman seorang lagi kita akan semakin kuat. Sebab berempat lebih baik dari ber tiga. dan semakin banyak sekutu kita maka Abu Jahal dan Abu Lahab semakin tak berani menentang kita. Sebab kita adalah tokoh- tokoh yang disegani dalam kaum Quraisy. Hayo kita cari seorang lagi. Dan kalau dapat berlima akan semakin baik. Berlima merupakan tenaga yang tidak tanggung- tanggung kuatnya. Lihatlah kepalan tangan yang berdiri lima jari. "Jika dengan empat jari tinjunya tidak kuat, tetapi kalau dengan lima jari tenaganya bukan kepalang kuatnya."

Lalu mereka cari seorang kawan lagi. Tokoh yang empat ini Abdul Bakhtari namanya. Tetapi sebagai rencana bermula empat kurang cukup lalu mereka cari seorang teman yang sepaham Teman nomor lima ini mereka dapat pula. Namanya : Zam'ah bin Al Aswad.

Maka lengkaplah mereka berlima. Dan kita jangan lupa bahwa dibelakang mereka berdiri pula para pengikut dan teman-temannya yang lain. sehingga dalam waktu yang terdesak mereka akan merupakan satu pasukan yang kuat, sehingga mereka yakin bahwa usaha mereka untuk mengakhiri masa celaka itu akan berhasil dengan sukses.

**** 

Tetapi sebelum usaha lima sekawan itu dimulai terjadilah sesuatu. Terjadi sesuatu atas maklumat yang sudah hampir tiga tahun tergantung di tempatnya. Dan selama itu pulalah aksi pemboikotan itu berlaku.

Pada suatu malam Nabi Muhammad saw kedatangan wahyu dari Allah. Wahyu itu menyatakan bahwa maklumat sial itu sudah habis dimakan anai-anai rayap). Hanya yang tinggal sekeping tulisan dari sisa maklumat itu yang berbunyi:

"Bismika Allahuma!" (Atas nama Engkau ya Allah). Pada pagi-paginya Muhammad menyampaikan kepada pamannya Abu Talib kedatangan wahyu itu.

" Apakah Tuhanmu sudah memberi tahukan hal itu kepadamu, Muhammad ?" tanya Abu Thalib.

" Ya," jawab Muhammad.

" Tidakkah engkau berdusta ?" tanya Abu Thalib ragu-ragu.

" Cobalah paman terangkan bilakah aku pernah berdusta? Dan jika paman tidak percaya marilah kita buktikan bersama-sama kebenaran wahyu itu!"

" Ya, benar, mari kita lihat ber sama-sama!"

Abu Thalib segera mengumpulkan kaumnya yang terkenal gagah berani itu. Lalu be ramai-ramai mereka mendatangi pembesar Quraisy. Nabi Muhammad sendiri jalan paling depan.

Para pembesar Quraisy terkejut melihat iring-iringan itu datang. Dimuka sekali mereka melihat Nabi Muhammad.

Beberapa orang pembesar Quraisy yang akrab dengan Abu Jahal dan Abu Lahab mulai senyum-senyum pencong. Seorang berkata:

" Nah, akhirnya berhasil juga usaha kita! Lihat tuh, Abu Thalib muncul dengan mengiringkan keponakanya yang tentu akan diserahkannya kepada kita."

Seorang bertampang serem,- tampang pembunuh menyeletuk,- :" Aku sedia menjadi algojo sesudah Abul Hakam menentukan pembunuhan macam apa yang akan di timpakannya kepada tukang sihir itu.."

Tetapi alangkah kagetnya mereka sesudah berhadapan dengan Abu Thalib dan kaumnya. Abu Thalib Seru:

"Wahai tuan-tuan pembesar Quraisy! Tuan-tuan jangan mengira bahwa kedatanganku dengan membawa si Muhammad akan menyerahkannya kepada tuan-tuan. Biar bagaimana juga dia tidak akan ku serahkan.

Tetapi maksud kedatangan kami kesini ialah untuk membuktikan kebenaran kata Muhammad. Ia malam tadi kedatangan wahyu yang mengatakan bahwa maklumat tuan-tuan itu sudah habis dimakan anai-anai. Hanya tinggal satu kalimat lagi yang berbunyi: Bismika Allahumma.

Tuhan sudah memerintahkan bahwa maklumat itu tidak ada gunanya lagi.

Jadi kami ingin membuktikan apakah wahyu si Muhammad itu benar. Kalau ternyata tidak benar, dan tidak ada baktinya maka saat ini juga Muhammad akan kami serahkan kepada tuan-tuan. Tetapi kalau benar maka nyatalah bahwa Muhammad memang seorang Rasul Allah. Tuhan tidak membenarkan lagi pemboikotan tuan-tuan itu berlaku.

Dan jika ternyata benar, Muhammad tidak akan kami serahkan, malahan akan kami jaga lebih ketat lagi dengan mempertaruhkan selembar nyawa kami."

Heranlah para pembesar Quarisy mendengar perkataan itu. Merekapun amat ingin hendak melihat apakah yang disampaikan Abu Thalib itu benar.

Lalu beramai-ramai mereka memasuki Kaabah dan melihat maklumat itu. Dan memang benar! Maklumat itu tinggal sekeping lagi dan pada sisa kepingan itu tertulis kata-kata: Bismika Allahumma. "Nah, Muhammad tidak bohong," ujar Abu Thalib. "Apa yang sudah disampaikan kemanakanku tidak salah, benar semuanya. Dan untuk apa lagi tuan-tuan meneruskan pemboikotan itu yang sudah membuat kesengsaraan selama ber tahun-tahun kepada saudara-saudara tuan-tuan sendiri?"

Tetapi seorang pembesar Quraisy tampil kedepan dan berkata:

"Lagi-lagi ini perbuatan sihir kemanakan engkau hai Abu Thalib, kami belum dapat menerimanya. Tak mungkin semuanya ini terjadi jika tidak dengan perbuatan sihir...."

Abu Thalib kembali ke tempatnya.

Dalam pada itu komplotan yang ingin maklumat itu dicabut mengadakan rapat rahasia bertempat di rumah Hisyam Bin Amr. Hasil keputusan rapat mereka bahwa besok mereka akan pergi beramai-ramai memasuki masjidil haram dan akan menurunkan maklumat itu. Kemudian akan pergi ke Bukit Safa dan membawa semua orang pengasingan itu pulang kembali ke Mekah. Mereka akan menghimbau kaum Bani Hasyim dan Bani Muthalib supaya kembali ke Mekah dan hidup sebagai sedekala.

Pagi-paginya beramai-ramai mereka membuat arak-arakan untuk masuk kedalam Kaabah. Arak-arakan mereka semakin panjang setelah diketahui apa maksudnya. Tak peduli apa resikonya! Perang saudarapun boleh. Sesudah masuk kedalam Kaabah merekapun tawaf beberapa kali sekeliling Kaabah. Kemudian Zuhair mengumpulkan mereka dan mengadakan pidato ringkas:

Isi pidatonya

"Wahai saudara-saudaraku penduduk kota Mekah. Dan khusus kepada kaum Curaisy. Tuan-tuan sampai hari ini masih dapat makan kenyang, berpakaian bagus dan bebas kawin dengan siapa yang saudara-saudara kehendaki. Tetapi disana, nun dibawah kaki bukit Safa serombongan saudara-saudara kita dari kaum Bani Hasyim dan Bani Muthalih hidup terasing, mereka menderita, mereka kelaparan, mereka kedinginan, dan mereka kita pencilkan dari dunia kita. Untuk apa? Untuk apa ini semua??

Tegakah saudara-saudara semuanya membayangkan hal itu terjadi? Dan apakah kesalahan mereka terhadap kita? Bersuka citakah saudara-saudara mendengar apalagi melihat nasib mereka?"

"Tidak,....tidak..." seru mereka beramai-ramai.

"Sediakah saudara-saudara menjemput orang-orang yang diasingkan itu"?

"Ya,...suka...suka," jawab mereka.

"Nah, kami tidak akan keluar dari Kaabah ini sebelum maklumat itu dicabut. Tidak ada gunanya lagi."

Aku Jahal yang datang kemudian dan menghadiri upacara itu berteriak dengan geramnya:

"Zuhair, jangan kau ganggu dan lakukan itu! Demi Uzza dan Lata!" Tetapi pada saat itu sebelum maklumat itu tempat disentuh putuslah tali tempat gantungannya dan terjatuhlah maklumat itu ke tanah. Zuhair mengambil maklumat itu merobek-robek sisanya sampai hancur dan kemudian diinjak-injaknya dengan kakinya. Berakhirlah semuanya!

Abu Jahal berdiri dan bersiap akan menantang Zuhair. Tetapi Zuhair dengan teman-temannya bersiap maju kemuka dan siap menanti apa saja yang akan terjadi. Aku Jahal menjadi ciut nyalinya dan tidak berani berbuat apa-apa lagi.

Ia mengatupkan bibirnya dan tak berani berbuat apapun. Ia merasa bahwa dukungan baginya sudah kian lama kian berkurang....

Kemudian Zuhair dengan rombongannya beramai-ramai pergi ke Bukit Safa. Zuhair menyeru mereka itu:

"Wahai saudara-saudaraku kaum Bani Hasyim dan Bani Muthalib! Semua pengasingan saudara-saudara sudah berakhir. Bersiap-siaplah dan marilah kembali ke Mekah!"

Maka bertampilanlah wajah-wajah yang kurus-kurus, tubuh yang lisut-lisut tak ubahnya kerangka bernyawa. Banyak antara anggota rombongan Zuhair menangis mengucurkan air mata melihat nasib mereka. Lalu dibawalah mereka kembali ke Mekah.

Mereka disambut penduduk Mekah beramai-ramai. Dan hampir semuanya menangis mengucurkan air mata, tak tahan melihat nasib mereka, saudara-sau dara mereka yang di asingkan selama tiga tahun itu karena mempertahankan keyakinannya sendiri. Berpakaian compang camping, berwajah pucat-pucat dan anak-anak telanjang berperut buncit karena kurang makan.

Banjir air mata dari kedua belah pihak karena keharuan.....

Dan berebutanlah penduduk Mekah memberikan sesuatu kepada mereka. Makanan, pakaian, uang dan sebagainya. Disediakan makanan berlimpah-limpah untuk menjamu mereka itu. Dan tidak sedikit antara mereka yang tiba-tiba jatuh pingsan karena kebuluran. Sesudah tak pernah makan apa-apa lalu tiba-tiba mendapat makanan yang banyak.

Langit kelabu yang menutup Mekah berangsur-angsur terkuak. Dan dibaliknya kelihatan lima wajah tersenyum ria karena usaha mereka berhasil mengakhiri pemboikotan yang sangat keji dan kejam itu.

Seakan-akan sebuah perlambang bahwa dalam tempoh yang tidak lama syi'ar agama Islam akan memancar-mancar dari tanah suci itu dengan lima rukunnya ke seluruh jagat dunia ini.......