Langit Kelabu Di Atas Mekah/5

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

5. Di hadapan Negus.
* * *


Kedua utusan Quraisy itu langsung menghadap Negu di Istana Fiashor dengan diantar oleh seong pembesar kerajaan. Mereka merasa dirinya hina kecil ketika mereka sudah melewati gerbang isna yang dikawal oleh pasukan ber senjata. Dan ki- kanan gang yang dilalui mereka berdiri pengawal ng serem-serem ber senjata lengkap.

Negus Shamah bin Abgar duduk diatas singgasanya yang berbentuk seekor singa yang berlapis emas n ber bantal beledru berwarna hijau. Disampingnya duk permaisurinya Puteri Hishai dan seorang puteraa Hator. Dan sidamping yang lain duduk Pendeta Ber Garihan dan Menteri Besar Tihanos. Dan didepannya mai beberapa orang pembesar kerajaan duduk dengan rtib diatas kursinya masing-masing.

Seorang pengawal menyembahkan bahwa ada dua ong duta dari Mekah akan masuk menghadap. Negus nemri isyarat supaya utusan itu dipersilahkan menghap. Maka majulah Amru bin Ash dan Amrah bin Walid ngan membawa barang-barang persembahan mereka. Ieanya lalu ber sujud dihadapan baginda dan Negus mpersilahkan kedua utusan itu duduk di kursi yang dah tersedia.

Negus mulai bertanya:

" Tuan-tuan utusan dari Mekah?"

" Ya, baginda yang mulia."

" Dari yang mulia Rasul Nabi Muhammad?"

Keduanya menggelengkan kepalanya.

" Harap diampun paduka yang mulia, " jawab Amru bin Ash," kami bukannya utusan dari Muhammad. Tetapi ami adalah utusan dari pembesar Quraisy yang sedang emegang tampuk kekuasaan di Mekah pada waktu ini. an maksud kedatangan kami yang pertama ialah akan empersembahkan sedikit oleh-oleh dari para pembesar uraísy untuk paduka tuanku.

Bungkusan itu dibuka dan kelihatanlah aneka acam perhiasan yang indah-indah dan mahal gemerlapan kena pantulan sinar matahari. Demikian pula bermacam-macam pakaian yang serba indah, terbuat dari ahan-bahan yang amat mahal dan sangat elok. Wajah egus ber seri-seri melihat persembahan itu. Apalagi atu Hishai.

" Kami mengucapkan terima kasih atas hadiah-hadiah ini," ujar Negus lalu memerintahkan supaya ersembahan itu dibawa kedalam.

Kemudian barulah mereka menyampaikan apa tujuan ang sebenarnya kedatangan mereka.

Ampun tuanku Negus yang berkuasa dan bijaksana," sembah mereka. " Kemudian maksud kedatangan ami ialah akan mencari serombongan pelarian yang melarikan diri dari Mekah. Kabarnya mereka sudah datang e negeri tuanku dan berlindung dibawah naungan tuanku."

Negus menggelengkan kepalanya. " Kami belum pernah mendengar tentang mereka itu," jawab baginda.

" Tetapi mereka pasti datang kemari, tuanku. Dahulu pernah juga datang melarikan diri kesini. Banyaknya lima belas orang dan mereka sudah kembali ke Mekah."

" Heran, kami belum pernah mendengar tentang kedatangan mereka itu. Mungkin Menteri kami belum melaporkan kedatangan mereka. Berapa orang banyaknya?"

" Cukup banyak, tuanku ada kira-kira seratus prang. Kedatangan mereka hanya akan merepotkan tuanku saja dan akan membuat ke onaran dan kekacauan dalam negeri tuanku ini."

" Seratus orang?" ulang baginda.

" Ya, seratus orang, tuanku."

" Dan mengapa mereka melarikan diri kemari?"

" Oh, tuanku. Mereka adalah manusia-manusia yang paling engkar dan tidak mau tunduk kepade pemerintahan kota Mekah. Mereka hidup menyendiri dan berlainan agama dengan kami. Mereka enggan menyembah dewa-dewa seperti nenek moyang mereka. Mereka tidak membenarkan Uzza dan Lata dan menganggap rendah dan hina terhadap para pembesar kota Mekah.

Dimana mereka tinggal pastilah mereka akan membuat onar dan kekacauan. Sedangkan di kampung halaman mereka lagi begitu pekerjaannya. Apalagi nanti di negeri tuanku. Asal saja mereka mendapat kesempatan pastilah mereka akan menghasung rakyat, mengadu domba, memecah belah, memfitnah, pendeknya dengan semua kerja-kerja yang bertentangan dengan undang-undang. Dan bahaya yang paling besar yang di timbulkan mereka ialah mereka akan membawa rakyat tuanku memasuki agama mereka dengan berbagai macam cara dan siasat. Maka agama dan negara tuanku berada dalam bahaya dan mala petaka asal saja mereka mendapat kesempatan sedikit saja. Tuanku sendiri akan ikut-ikutan terseret dan akan timbullah perpecahan dalam kerajaan tuanku. Pecah antara tuanku dengan pembesar, pecah antara tuanku dengan keluarga, pokoknya : semua akan berantakan asal mereka sudah ikut campur....."

Kedua utusan itu berdiam dan merasa gembira dan rasanya saran mereka pasti akan mendapat angin. Malahan mungkin Negus akan menjatuhkan hukuman kepada mereka. Atau semuanya akan dimasukkan kedalam penjara di kota Aksum. Dan,... baru tahu rasa mereka!

Negus menghadap kepada para pembesarnya dan bertanya:

" Siapakah diantara tuan-tuan yang sudah mendengar tentang kedatangan mereka itu?"

Menteri Tihanos menyembah kepada Negus dan berdatang sembah:

" Ampun tuanku! Patik memang sudah mendengar tentang kedatangan mereka yaitu rombongan yang dimaksud oleh tuan-tuan ini. Dan ketua rombongan itu sudah melaporkan kepada patik. Di tangan patik juga sudah ada daftar nama-nama mereka semuanya. Dan hamba menjanjikan akan membawa ketua rombongan itu ghadap tuanku. Dan kebetulan sekali pada hari ilah patik akan menyembahkan kedatangan mereka pada tuanku. Tetapi ternyata tuan-tuan ini sudah buru lebih dahulu datang menghadap tuanku dan meampaikan hal itu kepada tuanku. Untuk ini harap anku akan mengampuni patik...."

Menteri Tihanos menatap dengan rasa agak jengl kepada kedua utusan itu. Karena mereka langsung ja menghadap tanpa melaluinya.

Negus juga dapat merasakannya dan maklum.

" Kami dapat merasakan apa yang menjadi peraan menteri. Dan baiklah kita anggap saja kedua tusan ini ialah duta istimewa yang datang dari Meah dan menyampaikan satu hal yang amat penting. Tujuan kedatangannya ialah untuk dibawa ke Mekah. Bagaimana pendapat tuan-tuan?"

Pendeta Besar Garihan berdatang sembah:

" Menurut pendapat patik sebaiknya rombongan itu diserahkan saja kembali kepada kedua utusan ini sebab sebagai kata beliau tapi kedatangan rombongan itu hanya akan membuat kekacauan, perpecahan, dan akan membahayakan bagi kedudukan agama agama kita: Nestoria. Kita tidak mengetahui apakaj kesalahan mereka atau icsa mereka sehingga sampai melarikan diri ke negeri kita. Kedua tuan-tuan ini dan para pembesar di MEkah lah yang lebih mengetahuinya. Dan merekalah yang ber hak mengasihinya. Jadi supaya jangan kita sampai di tulari mengapa itu dan merembet-rembet kepada kita sebaiknya rombongan i-

ia kita serahkan kepada kedua utusan ini dan disuruh pulang kembali ke negerinya."

"Dan menyerah kepada kebijaksanaan tuanku. Tuanku sendiri belum berjumpa dengan ketua rombongan itu. Jadi kita baru mendengar keterangan sepihak saja. Ketua rombongan itu sudah menyatakan bahwa mereka datang ke negeri kita ialah untuk mohon suaka kepada tuanku. Ia menerangkan bahwa di negerinya ia di tindas, di aniaya dan perbuatan keji lainnya.

"Nah, tuanku sudah mendengar bagaimana asungan dan fitnah mereka," Amru bin Ash menyela.

"Jarangkali sebaiknya tuan berdiam diri dahulu dan tidak mengeluarkan pendapat. Sebab ini adalah urusan kami antara pembesar-pembesar dalam kerajaan kami. Tuan-tuan belum perlu ikut campur." Sabda Negus dengan tajam.

"Baiklah," titah Negus lagi, "bawalah ketua rombongan itu besok menghadap kita. Besok boleh kita saling berhadapan dan tidak saling buruk memburukkan sebelum mendengar keterangan dari kedua belah pihak. Walaupun demikian kita ingin juga mendengan lebih dahulu bagaimana tingkah laku ketua rombongan itu sebelum kita bertemu muka dengan beliau besok."

Kedua utusan Quraisy itu tersenyum karena merasa mendapat hati kembali.

"Paduka tuanku yang mulia boleh mempersaksikannya besok. Lihatlah bagaimana caranya mereka memberi penghormatan kepada tuanku. Mereka akan ber kap tidak sama dengan bangsa Arab yang lain dan uh sekali dari adat istiadat di negeri tuanku ini."

" Itu memang lumrah. Kalau demikian kami ingin endak bertemu muka lebih dahulu dengan ketua rombongan mereka. Dan sesudah kami ber tanya jawab dengan mereka barulah kami dapat menyimpulkan tentang ereka dan menentukan sesuatu sikap. Sebab mereka kini berada dalam wilayah kekuasaan kami dan kedatangannya sudah di laporkannya secara resmi kepada Menteri Besar kami.

Jadi kami belum dapat memutuskan masalahnya sebelum kami bertanya kepada mereka, Dan kami juga belum dapat menentukan apakah mereka bersalah atau tidak.

Untuk sementara kami tidak akan menyerahkannya kepada tuan-tuan dan tidak akan mengusirnya begitu saja dari negeri kami, disana mereka sudah minta perlindungan kepada kami.

Demikian juga tentang perbedaan agama. Itu bukan soal. Setiap manusia bebas menganut kepercayaan yang di yakininya asal saja jangan mengganggu kepada agamma yang lain. Dan kalau mereka benar-benar bersalah, dan bersalah melanggar undan-undang negeri tuan-tuan akan kami serahkan dengan resmi kepada tuan-tuan. Dan adilah secara undeng-undang negeri tuan-tuan di negeri tuan-tuan pula. Dan jika mereka bersalah melanggar undang-undang negeri kami akan Kami adili pula dengan secara peradilan negeri kami pula.

Dan kepada Menteri Tihanos kami perintahkan supaya ketua rombongan itu besok datang menghadap. Kalau perlu dengan beberapa orang temannya. Dan kepada Pendeta Besar Gariham kami perintahkan pula supaya membawa besok pendeta-pendeta terkenal dari negeri ini dengan membawa kitab sucinya masing-masing."

Besoknya lebih ramai lagi di penghadapan istana Negus. Ketua rombongan kaum Muslimin datang bersama dengan beberapa orang temannya. Pendeta-pendeta di Aksum hadir pula dengan pakaian kebesarannya dan mengepit kitab sucinya masing-masing. Kedua utusan Quraisy itupun sudah berada di penghadapan. Mereka yakin bahwa apa yang menjadi tujuan misi mereka ke negeri Habsyi akan berhasil dengan baik. Ke seratus orang pelarian itu akan di giringnya kembali ke Mekah sebagai menggiring seratus ekor unta yang melarikan diri dari kandangnya.

Ketika utusan kaum Muslimin memasuki ruangan penghadapan benar saja mereka tidek ber sujud kehadapan raja seperti rakyat yang lain. Mereka hanya memberi hormat saja dengan mengucapkan salam sejahtera untuk Negus.

Amru bin Ash dan Amrah bin Walid mulai berkerjapan mata dan melirik kepada Negus dengan sudut matanya. Negus tetap tenang dan membeku.

Amrah bin Walid yang duduk dekat baginda membisikkan kepada Negus:

" Tuanku perhatikanlah! Betapa kurang ajar dan kurang adatnya mereka. Yang lain-lain ber sujud kepada tuanku tetapi mereka tidak."

Negus diam saja hanya menatap penuh selidik kepada ketua rombongan kaum Muslimin itu. Negus bertanya :

" Ma lakum la tasjuduna lil malik?" ( Mengapa kalian tidak ber sujud kepada raja ?)

Ja'far yang menjadi ketua mereka menjawab dengan tegas tetapi cukup hormat:

" Inna la nasjudu illa lillahi 'azza wa jalla" Bahwasanya kami tidak ber sujud melainkan kepada Allah Yang Mahamulia dan Maha tinggi ).

Amru bin Ash membisikkan kepada Negus lagi:

" Wahai tuanku yang berkuasa ! Tidakkah tuanku melihat dengan mata kepala tuanku sendiri bagaimana kesombongan mereka dan tidak sudi menghormati tuanku dengan cara adat istiadat tuanku?"

Negus tidak menanggapi perkataan Amru itu, hanya bertanya kepada ketua rombongan kaum Muslimin:

" Apakah yang mengalangi kalian untuk ber sujud kepada ku dan kalian menyampaikan penghormatan kepadaku dengan penghormatan yang sudah lazim di hormatkan orang kepadaku?"

Dengan tegas Ja 'far menjawab:

" Demi Allah, bahwasanya kami tidek ber sujud melainkan hanya kepada Allah."

Negus bertanya lagi:

" a lima malik?" ( Mengapa begitu?)

Ja 'far menjawab lagi:

Karena bahwasanya Allah sudah mengutus seorang utusanNya diantara kami dan utusan itu memberi Perintah kepada kami bahwa kami janganlah ber sujud melainkan hanya kepada Allah Yang Maha mulia dan Maha tinggi. Dan ia sudah memberitakan kepada kami bahwa cara memberi penghormatan ahli surga itu dengan salam. Maka oleh sebab itu kami memberi hormat kepada tuanku sebagaimana cara penghormatan yang sudah berlaku diantara kami dengan yang lain.

Dengan senyum cemooh utusan Quraisy itu berkata pelan kepada Negus:

" Ya, tuanku raja. Sesungguhnya mereka ini nanti akan mengganggu keamanan di negeri tuanku ini sebab mereka adalah dari golongan orang bodoh-bodoh belaka. Mereka tidak mau menghormati orang lain walau ia seorang raja sekalipun. Di Mekah sendiri mereka hanya menimbulkan keonaran, persengketaan, perselisihan, perkelahian, kekacauan dan menanamkan bibit permusuhan sesama bangsa sendiri.

Sebab musababnya ialah karena mereka tidak mau mengikut agama nenek moyangnya dan sudah mengikut agama baru yang di datangkan oleh seorang laki-laki pendusta, lagi papa sengsara dan mengaku-ngaku menjadi nabi dan rasul Allah.

Memang keterlaluan tuanku. Di Mekah tidak ada orang yang mau mengikut agama baru itu hanya kaum keluarganya dan kalangan orang bodoh-bodoh yang dapat ditipu dayanya.

Maka itulah tugas kami tuanku supaya tuanku segera menyerahkan orang-orang itu kepada kami dan akan kami bawa ke Mekah kembali. Jadi mereka tidak dapat lebih lama membuat kesukaran bagi tuanku. Negus tidak menjawab, ia melancarkan pertanyaan kembali kepada Ja 'far: "Agama apakah namanya itu yang tujuannya mencerai beraikan persaudaraan kaum kamu dan mengapa kamuu tidak mengikut agamaku dan tidak pula kepada salah asatu agama raja -raja ?"

" Wahai Negus yang mulia. Kami ini dahulunya adala segolongan orang - orang yang hidup dalam kebodohan , menyembah berhala. Kami suka makan bangkai, kejahatan, suka memutuskan persaudaraan, jahat kepada tetangga, yang kuat nekan yang lemah, dan peri kejahatan-kejahatan lainnya.

Demikianlah keadaan kami selama berkurun masa. Kemudian dibangkitkan oleh Allah beberapa orang utusan kepada orang - orang yang terdahulu dari kami. Dan utusan itu dari bangsa kami juga yang kami ketahui silsilah dan keturunannya, kebenarannya, kejujurannya, kepercayaannya, dan terpeliharanya dari melakukan perbuatan -perbuatan yang tidak senonoh. Jika ia terseru mengajak kami supaya kami ingat kepada Allah Yang Maha tinggi supaya kami mengesakannya dan menyembah kepadaNya dan supaya kami melepaskan apa -apa yang disembah oleh orang tua-tua kami terdahulu. Yaitu cara penyembahan selain daripada Allah. Kami menyembah batu, kayu patung-patung dan sebagainya. Dan ia memerintahkan kepada kami supaya kami menyembah Allah dan memerintahkan pula pada kami supaya kami mengerjakan shalat, mengeluarkan zakat, dan berpuasa sebagai yang dilakukan oleh nabi-nabi yang terdahulu. Dan ia memerintahkan lagi kepada kami supaya kami berkata benar, menunaikan kepercayaan orang lain, mengekalkan persaudaraan, berbuat baik kepada tetangga, memelihara diri dari perbuatan yang merusak dan menumpahkan darah. Dan ia melarang kami melakukan pekerjaan-pekerjaan yang buruk dan dilarang menuduh orang yang jujur. Oleh sebab itu kami membenarkannya, kami percaya kepadanya, dan kami mengikut apa-apa yang disampaikannya. Itulah beliau Nabi Muhammad Rasullulah.

Tetapi tuanku ketahuilah bahwa segolongan kaum kami yang lain memusuhi kami supaya kami menyembah berhala lagi dan membolehkan berbuat yang keji-keji. Karena kami tidak mau menurut kemauan mereka yang munafik itu maka mereka menyiksa kami, mereka menganiaya kami, menyempitkan kehidupan kami. Terutama mereka berusaha sekeras-kerasnya untuk memisahkan kami dengan agama kami itu. Itulah sebabnya kami melarikan diri ke negeri tuanku ini. Kami memilih negeri tuanku dan kami mohonkan perlindungan tuanku dan kami mengharapkan jangan kami sampai teraniaya dihadapan tuanku yang sudah terkenal adil dan bijaksana."

Negus termenung mendengar perkataan ketua rombongan kaum Muslimin itu. Kedua utusan kaum Quraisy itu mulai pucat pasi mukanya mendengar penuturan kaum Muslimin yang " bodoh-bodoh " itu. Suara ngaungan mulai terdengar dalam ruangan itu.

Baginda Negus bertanya pula: " Hal 'indaka syai uun mimma jaa bihi ?"

Adakah padamu sesuatu dari apa yang disampaikan utusan itu?)

Ja'far menganggukkan kepalanya dan menjawab:

" Ya, ada tuanku!"

Negus berkata pula:

" Faqru u 'alayya...!" ( Coba bacakan kepadaku)

" Baiklah tuanku, " jawab Ja'far lalu ia membacakan sebuah ayat yang berkenaan dengan agama Kristen. Ja'far membacakan dengan suara yang merdu yang demikian maksudnya :

Dengan nama Allah Yang Pengasih lagi Penyayang,

Kaf Ha Yaa 'Ain Shad,

Suata peringatan dari rahmat Tuhan kepada HambaNya Zakaria,

Ketika dia berseru kepada Tuhannya dengan suara lembut ( berbisik ),

Dia berdoa: Wahai Tuhanku! Sesungguhnya tulang-tulangku telah lemah, dan kepalaku sudah beruban, dan aku belum pernah yang tidak beruntung dalam memohonkan doa kepada Engkau wahai Tuhanku!

- Dan sesungguhnya aku cemas akan turunan dibelakangku karena perempuanku mandul; sebab itu berilah aku seorang turunan dari sisi Engkau,

- Yang akan mempuskai aku dan mempusakakan keluarga Yaqub dan jadikanlah dia wahai Tuhanku seorang yang disukai,

- Hai Zakaria, sesungguhnya Kami menyampaikan berita gembira kepada engkau ( akan beroleh ) seorang anak laki-laki namanya Yahya yang belum kami berikan

sebelumnya nama yang serupa itu,

- Dia berkata : Wahai Tuhanku! Bagaimana aku akan memperoleh anak, sedang perempuanku mandul, dan sesungguhnya aku telah sampai kepada usia yang sangat tua ?

- Dia menjawab: Begitulah ( kejadiannya ), Tuhan engkau sudah berkata: Itu buat aku adalah perkara mudah, dan sesungguhnya Aku telah menciptakan engkau sebelum ini sedang engkau ( ketika itu ) belum apa-apapun,

- Dia ( Zakaria ) berkata: Wahai Tuhanku! Berikanlah kepadaku tandanya! Dia menjawab: Tandanya ialah bahwa engkau tidak ber cakap-cakap dengan manusia tiga malam sedang engkau masih sehat ( bukan bisu ),

- Lalu dia keluar kepada kaumnya dari tempat sembahyangnya dan disampaikannya kepada mereka, supaya mereka memuji Tuhan di pagi hari dan senjakala,

- Hai Yahya! Peganglah Kitab itu dengan sungguh-sungguh,

- Dan kami berikan kepadanya hikmat ( kebijaksanaan ketika dia masih kanak-kanak,

- Dan perasaan belas kasihan dan kesucian dari Kami: dan dia adalah seorang yang memelihara dirinya - dari kejahatan,

- Dan dia berbakti kepada ibu bapanya dan bukanlah dia seorang yang sombong lagi durhaka,

- Dan kesejahteraan untuk dia dihari dilahirkan dihari wafatnya dan dihari dia dibangunkan kembali,

Dan ingatlah! - riwayat - Maryam didalam Kitab ketika dia berangkat meninggalkan keluarganya, ke suatu tempat disebelah timur,

Dan dia mengadakan tutup ( bersembunyi ) dari mereka lalu Kami utus kepadanya Roh kami, dan kelihatan olehnya serupa seorang laki-laki yang sempurna,

Dia berkata: Sesungguhnya aku berlindung diri dari engkau kepada Tuhan Yang Pemurah, jika engkau ada seorang yang menjaga diri - dari kejahatan -

Dia menjawab: Aku hanyalah utusan dari Tuhan engkau, akan memberikan kepada engkau seorang anak laki-laki yang suci,

Dia berkata: Bagaimana aku akan beroleh seorang anak laki-laki, sedangkan aku belum perneh disinggung oleh manusia dan aku bukanlah seorang perempuan jahat,

- Dia menjawab: Begitulah ( kejadiannya ). Tuhan engkau telah berkata: Hal itu buat Aku adalah perkara mudah, dan peristiwa itu hendak kami jadikan keterangan bagi manusia dan rahmat dari Kami dan jadi satu perkara yang sudah diputuskan,

- Kemudian dia mengandungnya da.. menyingkir ketempat yang jauh,

- Ketika sakit akan bersalin maka dia datang bernaung ke pohon korma. Dia berseru mengatakan:

Aduhai nasibku! baiklah aku meninggal dunia saja sebelum ini, dan aku menjadi hal yang melupakan orang. - Lalu (satu suara) menyeru keapdanya dari sebelah bawah: Janganlah berdukacita; sesungguhnya Tuhan engkau mengalirkan dibawah engkau sebuah sungai,

- Dan goyangkanlah pohon korma itu, niscaya dia akan menjatuhkan kepada engakau buah korma yang baru masak,

- Dan makanlah, minumlah, dan senangakanlah hatimu

- Dan kalau ada seorang manusia melihat engkau katakanlah: Sesungguhnya aku telah berjanji (bernazar) dengan Tuhan yang Pemurah untuk berpuasa sebab itu pada hari ini, aku tiada akan ber cakap-cakap dengan siapapun,

-Dan dia datang membawanya kepada kaumnya. Mereka mengatakan: Hai Maryam! Sesungguhnya engkau telah membuat sesuatu perkara yang aneh,

- Tetapi Hai saudara Harun! Bapamu bukanlah seorang laki-laki yang buruk dan ibumu bukanlah seorang perempuan jahat,

- Tetapi dia mengisyaratkan kepadanya, mereka berkata: Bagaimana kami akan ber cakap-cakap dengan seorang kanak-kanak yang dalam buaian?

- Dia berkata: (Isa) Sesungguhnya aku ini hamba Allah diberikanNya kitab kepadaku dan aku dijadikannya seorang nabi,

- Dijadikanya aku pembawa berkat dimana saja aku berada dan diperintahkanNya kepadaku mengerjakan sembahyang dan membayar zakat selama aku hidup,

- Aku berbakti kepada ibuku dan tiadalah aku dijadikannya seorang yang sombong dan celaka, Dan kebahagian untuk aku, dihari aku dilahirkan dan dihari aku wafat dan dihari aku dibangunkan hidup kembali,

Itulah Isa anak Maryam , ucapan kebenaran mereka perselisihkan kebenarnnya,

Tiadalah sepatutnya Tuhan mengambil anak - Maha suci dia - apabila dia memutuskan untuk urusan hanyalah dia berkata: Jadilah! Lalu jadi,

Dan Sesungguhnya Allah itu Tuhan aku dan Tuhan kamu, sebab itu sembahlah Dia; itulah jalan yang lurus.

Surat Maryam ayat 1 sampai 36

Sesudah Ja'far bin Abi Thalib membacakan surat itu dihadapan Negus dengan segala para pendeta itu kelihatan mata baginda ber kaca-kaca dan air mata mengucur dari kedua belah matanya lalu menetes ke pipinya. demikian pula para wanita itu termenung semuanya dengan penuh haru. mereka serempak berkata:

"Sesungguhnya kalimat - kalimat itu berasal dari satu sumber yang menjadi asalnya kalimat saidina Rasul Al Masih.

Negus sendiri bangkit dari singgasananya lalu memeluk Ja'far dengan penuh haru sedang jenggotnya sudah basah kena air matanya. ia berkata:

"Demi Allah, sesungguhnya ini dan yang dibawa oleh Isa Al Masih kedua-duanya keluar dari satu jendela." ( Wallahi, inna haza wallazi jaahihi 'Isa ayakhrujuna min miskatin wahidah.....). Negus berkata lagi:

"Sekarang kami mengerti mana yang benar dan mana yang bohong antara tuan-tuan. Ketahuilah wahai sahabat bahwa kami menganut agama Kristen paham Nestoria. Kami mempercayai dan meyakini ajaran- ajaran kristen tetapi tidak sesuai dengan keterangan bahwa Isa itu ialah anak Tuhan dan tidak percaya bahwa Isa itu mati di tiang salib. Jadi bersamaan paham antara kita.

Dan dalam ayat-ayat kitab Injil banyak ditemui ayat-ayat yang menerangkan bahwa akan datang seorang nabi lagi sesudah Nabi Isa. Dan Itulah ia beliau Nabi Muhammad s.a.w yang tuan-tuan sudah mengikuti segala ajaran-ajarannya dengan segala kepatuhan.

Wahai Tuan Pendeta Gariham yang terhormat!

Cobalah telaah buku tuan-tuan itu dan carilah ayat-ayat yang berkenaan dengan akan lahirnya Nabi Muhammad. Karena dalam sebahagian kitab suci keadaaan itu di pupus atau di sembunyikan dan tidak di akui oleh sebahagian penganut agama kita.

Negus berkata lagi:

"Sekarang untuk yang ter akhir wahai sahabat. Apakah kata utusan yang mulia tentang anak Maryam."

Ja'far menjawab:

"Beliau mengatakan bahwa Maryam itu Roh Allah dan kalimahnya Allah telah mengeluarkan dari pada gadis Maryam yang belum pernah didekati oleh seorang manusia pun.

Wajah Negus Shamah bin Abgar kian ber seriseri mendengar keterangan Ja'far demikian. Ia berkata pula:

"Berbahagialah tuan- tuan dan siapa-siapa yang sekarang bersama tuan- tuan. Kami pun mengakui bahwa sesungguhnya ia Rasul Allah dan bahwa hanya dia ia telah diberitakan oleh Isa. Dan Sekira-kiranya aku tidak dalam tugas kerajaan tentu aku akan datang kepadanya sampai aku sempat mencium terompahnya.

Kemudian Negus menghadap kepada utusan Quraisy itu dan bertanya:

"Sekarang akan kami dudukkan persolan antara tuan-tuan dengan kami dengan seadil- adilnya. Sehingga di muka paduka yang mulia Negus masalah ini akan selesai dengan baik. Dan kami mohon tuanku menyampaikan soal- soal ini kepada mereka."

Negus memalingkan mukanya kepada Ja'far sebagai bertanya.

"Wahai tuanku yang mulia," sembah Ja'far. Cobalah tanyakan kepada kedua utusan itu apakah kami ini termasuk kedalam golongan hamba sahaya dan melarikan diri dari tuannya? kalau benar demikian, hendaklah tuanku mengembalikan kami kepada mereka.

Negus menghadap kepada kedua utusan itu dan menanyakan apakah rombongan itu termasuk hamba saha yanga melarikan diri dari tuannya.

"Tidak, sekali-kali tidak yang mulia. Mereka adalah orang-orang yang merdeka."

"Sekarang cobakan lagi kepada mereka: Apakah anatara kami ada yang pernah menumpahkan darah atas lan yang tidak benar sehingga ia boleh menuntut

pesan dari kami. Dan apakah kami pernah mengambil harta benda mereka dengan cara yang tidak benar, lalu kami wajib membayarnya?"

Negus menanyakan pula hal itu kepada kedua utusan itu. Keduanya menjawab serempak:

"Tidak, paduka yang mulia!"

Dengan melalui Ja'far lagi Negus bertanya : "Apakah mereka ada mempunyai utang piutang yang wajib mereka bayar?"

"Juga tidak paduka yang mulia."

"Demi Allah! Kami tidak akan menyerahkan mereka kepada tuan-tuan karena tak ada sangkut pautnya perkara tuan-tuan dengan mereka.

Mereka adalah segolongan kaum yang patuh kepada namanya. Sedangkan tuan-tuan berada dalam dunia lain yang kami sangsikan kebenarannya.

Namun tuan-tuan akan memberikan sebuah gunung emas kepada kami mereka tidak akan kami serahkan.

Kecuali kalau atas kehendak mereka sendiri untuk kembali ke negerinya.

Sekarang mereka berada dibawah perlindungan kami. Dan selama kami masih berkuasa dan masih sanggup tuan-tuan takkan dapat membawa mereka. Dan tuan-tuan segeralah pergi dari sini. Mereka tidak akan kami serahkan kepada tuan-tuan." Dan kepada salah seorang menterinya Negus berkata:

"Kembalikan kepada mereka hadiah-hadiah yang diberikannya kemarin. Satupun jangan ditinggalkan. Kita tidak memerlukannya..." Wajah Amru bin Ash dan Amrah bin Walid pucat pasi. Mereka bungkem, terbisu tidak bisa berkata-kata lagi. Misi mereka mengalami kegagalan total sama sekali. Menentang wajah Negus saja tidak berani bagi mereka. Hadiah-hadiah yang diserahkan kemarin ditumpuk kembali di muka kaki mereka dengan tidak kurang sebijipun. Lalu kepada mereka diperintahkan supaya meninggalkan Aksum pada hari itu juga.

Beberapa orang pengawal diperintahkan mengantarkan mereka ke pelabuhan Adulis di pesisir laut qalzum. dan kembalilah kedua utusan itu ke Mekah dengan rasa malu, kecewa, ber hampa tangan. Masih untung mereka tidak diapa-apakan oleh Negus.

Negus memerintahkan supaya kepada kaum muslimin diberikan tempat penginapan yang layak dan satu secukupnya. dan tidak dibenarkan siapa saja mengganggu mereka lebih-lebih ketika mereka menjalankan ibadah agamnya.

Negus sesudah mempelajari seluk beluk agama Islam kemudian dengan serela-rela hatinya memasuki agama Islam. Beberapa orang pembesar malahan beberapa orang pendeta berputar seratus delapan puluh derajat.

Tetapi karena memang menganut sesuatu agama tidaklah dengan paksaan tidaklah semua rakyat Abesinia masuk kedalam agama Islam. Sedangkan Negus sendiri tidaklah dengan secara resmi masuk Islam.

Dan peristiwa penting itu menyebabkan turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad s.a.w yang antara lain maksudnya sebagai berikut: Sesungguhnya engkau dapati yang paling keras memusuhi orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, dan sesungguhnya engkau dapati orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman, ialah yang mengatakan kami ini orang-orang Kristen. Ini disebabkan karena diantara mereka kedapatan pendeta-pendeta dan orang-orang yang beribadat dalam gereja ( pendeta ); sudah tentu mereka tidak menyombongkan dirinya.

Dan apabila mereka mendengar apa yang diturunkan kepada Rasul, engkau lihat air mata mereka ber cucuran, disebabkan mereka mengenal kebenaran sampai mereka mengatakan : Wahai Tuhan kami! Kami beriman dan tuliskanlah kami termasuk orang-orang yang menjadi saksi kebenaran.

Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, karena kami mengharap sangat supaya Tuhan memasukkan kami kedalam golongan orang yang baik-baik.

Lalu Tuhan memberikan kepada mereka sorga yang mengalir didalamnya sungai-sungai disebabkan perkataannya itu, dan mereka kekal disitu, dan itulah balasan untuk orang-orang yang tidak beriman dan mendustakan keterangan-keterangan Kami, itulah isi naraka yang menyala-nyala.

Surat Al Maidah ayat 82 - 86

Demikianlah. Tidak satupun yang luput dari pengamatan Tuhan pada masa itu. Dan semua akan ditemui dalam Kitab Suci Al Quran yang disampaikan lewat RasulNya.

Rupanya berita tentangan kedatangan Kaum Muslimin ke Aksum itu sampai juga ke Yaman. Dan menurut yang didengar mereka Nabi Muhammad s.a.w. ikut juga dalam rombongan itu.

Maka berangkatlah sebuah rombongan dari Yaman sebanyak 50 orang. Mereka amat rindu hendak berjumpa dengan Nabi Muhammad. Rombongan itu di ketuai oleh Abu Musa Al Asy'ary.

Sesampainya di Abesinia mereka lalu menanyakan Rasullullah. Tetapi mereka kecewa karena Nabi Muhammad tidak ikut mengungsi ke Abesinia. Yang ditemukan mereka hanyalah ketua rombongan Ja'far bin Abi Thalib. Namun terhibur juga hati mereka sebab dapat berjumpa dengan kaum Muslimin yang datang dari Mekah.

Dengan bertemu dengan Ja'far mereka dapat menambah ilmu pengetahuannya dalam seluk beluk agama Islam. Dan ke lima puluh orang itu akhirnya menetap di Abesinia.

.//.