Langit Kelabu Di Atas Mekah/4

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

4. Di kota Aksum

Rombongan pengungsu kaum Muslimin itu sampailah di pelabuhan Adulis di pantai laut Kolzum (laut Merah). Dari sana mereka meneruskan perjalannnya menuju Adua. Disana mereka berhenti istirahat. Mereka juga menyusun rencana bagaimana nanti acara mereka sesampai di ibu kota Abesinia, Aksum.

Semua anggota rombongan lengkap dan utuh semuanya sebagai pada awal perjalanan.

Kemudian barulah mereka melanjutkan perjalanan menuju Aksum yang tidak jauh lagi. Setelah menyeberangi sungai Tacazze sampailah mereka di gerbang sebelah utara kota Aksum yang bernama: Inhyo. Mereka masuk kota dengan aman-aman saja tidak seorangpun yang bertanya-tanya.

Besoknya barulah Ja'afar bin Abi Thalib dengan dua orang temannya masuk menghadap untuk menemui Menteri Besar Tihanos. Mereka melaporkan diri kedatangannya di Abesinia dan memohon untuk dapat menghadap Negus.

Ketiga utusan itu disambut oleh Menteri Besar Tihanos diruang kerjanya.

"Tuan-tuan datang dari mana?" tanya Menteri Tihanos.

"Kami adalah wakil rombongan kaum Muslimin yang datang dari Mekah, paduka yang mulia, jawab Ja 'far dengan hormat. Menteri Tihanos berdiam diri sejenak seakan-akan memikirkan sesuatu.

" Kalau saya tak salah beberapa waktu yang lalu ada pula rombongan yang datang dari Mekah. Dan mereka sudah kembali. Dan adakah mereka semuanya selamat sampai di kampungnya?"

" Ada paduka yang mulia, " jawab Ja 'far dengan hormat.

" Untunglah! Jadi maksud kedatangan tuan-tuan kemari untuk apa? Dan berapa orang anggota rombongan tuan semuanya?"

" Itulah yang akan kami laporkan kepada paduka yang mulia. Di negeri kami, kami sudah tertindas oleh suatu golongan yang sedang berkuasa. Sehingga kami terpaksa mengungsi dan mohon suaka di negeri paduka yang mulia. Sebab Raja Habsyi terkenal kemana-mana sebagai seorang raja yang pengasih dan menaruh perasaan tolong menolong kepada sesama ummat manusia."

" Ya, benar. Saya nanti akan melaporkan kepada yang mulia Negus akan kedatangan tuan-tuar. Berapa orangkah jumlah anggota rombongan tuan?"

" Cukup banyak juga yang mulia. Mungkin akan merepotkan yang mulia dan yang mulia Negus juga."

" Berapa orang?"

" Seratus satu orang terdiri dari delapan puluh tiga orang laki-laki dan delapan belas orang perempuan. Dan ketua rombongan ialah saya sendiri nama saya Ja 'afar bin Abi Thalib."

" Ah, negeri kami cukup makmur untuk memberi empat dan makan bagi rombongan tuan yang hanya sebanyak itu. Asal saja mereka memenuhi peraturan-peraturan di negeri ini dan tidak membuat kacau atau mengembangkan faham mereka."

" Kami berjanji tidak akan membuat sesuatu ang melanggar peraturan di negeri ini yang berlaku. sal saja yang mulia jangan melarang kami melakukan badah dengan cara kami pula."

" Setiap manusia bebas melakukan ibadah agamaya dengan caranya. Agama kami ya agama kami dan agam uan-tuan ya agama tuan-tuan. Tuan-tuan di izinkan er ibadah secara agama tuan-tuan dan tidak seorang kan melarang dan mengganggu. Semua kehidupan ber aama bebas di negeri ini..."

Sangatlah senangnya hati Ja'far mendengar jaaban dari Menteri Besar Tihanos itu. Lalu Ja'far emberikan selembar kertas ber tulisakan nama-ama seluruh rombongan yang di pimpinnya.

Menteri Tihanos membaca semua nama-nama kaum uslimin yang ber hijrah ke negeri Habsyi itu.

" Ja'far bin Abi Thalib dan isteri Asma binti mis, sebagai ketua rombongan. Usman bin Affan dan sterinya Ruqayah binti Muhammad. Abu Salamah, abullah bin abdul Asad isterinya Hindun Ummu Salamah bu Sabrah bin Abi Rahmi isterinya Ummi Kalsum binti ahal........dsb. nya..........dsb.nya.

Dan Menteri Tihanos segera pula mengenali nama sman bin Affan sebagai ketua rombongan yang datang pertama kali dahulu.

Kemudian Menteri berkata Lagi:

" Nah, sekarang menantilah tuan sampai saya eri tahukan kapan tuan-tuan dapat menghadap egus. Saya akan melaporkan lebih dahulu kedatangan tuan-tuan kepada Negus. Dan saya akan memerintahkan kepada pegawai-pegawai saya supaya menyiapkan tempat tinggal dan jatah makanan untuk semua rombongan tuan. Semoga tuan-tuan akan merasa senang di negeri ini."

Dengan gembira Ja'far kembali menemui kawan-kawannya

+++

Kita kembali ke Mekah.

Abu Jahal dan kawan-kawannya agak terlambat mengetahui keberangkatan kaum pengungsi itu ke Habsyi. Sehingga mereka tak bisa bertindak apa-apa lagi terhadap kepergian mereka.

Dengan segera rapat kilat diadakan. Mereka akan mencari keputusan tindakan apa yang akan dilakukan Dalam mengatasi kasus pelarian mereka itu.

" Bagaimana pendapat tuan-tuan?" tanya Abu Jahal dengan air muka keruh dan tegang. " Dari informan kita sudah tahu bahwa seratus satu orang Muslimin suah melarikan diri pula ke negeri Habsyi. Bagaimana pendapat, saran atau usul tuan-tuan untuk mengatasi al ini?"

Seorang kaum Quraisy mengeluarkan pendapatnya:

" Ya, saya memang sudah mendengar juga ya Abul akam. Sekarang mereka yang tinggal hanya sebanyak 2 orang laki-laki dan 29 orang perempuan. Maka smakin mudah bagi kita untuk menumpas mereka. Apalagi-

gi dengan pemboikotan terhadap mereka, maka kian hari mereka kian lumpuh. Dalam beberapa hari lagi mereka tentu takkan ber daya lagi dan akan menyerah kepada kita. Disana nanti baru kita bereskan satu persatu,"

" Ah, kau jangan melamun! Yang akan kita perhitungkan ialah mereka yang melarikan diri ke negeri Habsyi itu. Jadi kau anggap enteng saja mereka yang pergi ke Habsyi itu? Disana mereka akan menghasut Negus dan raja itu akan memberikan bantuan kepada mereka untuk menyerang kita....

Kerajaan Habsyi punya pasukan yang kuat. Dan kalau mereka minta bantuan menyerangkita dengar pasukan itu,.... kehancuran sudah di puncak hidung kita....."

Abul Hakam alias Abu Jahal sudah membuat momok yang di ciptakannya sendiri.

Seorang lagi mengeluarkan pendapat :

" Kita pasang pula jebakan ya Abul Hakam. Kita pancing mereka supaya mereka kembali. Dan nanti baru ita siksa mereka, kita jemur di panas matahari ampai kering mersik sehingga tinggal tulang belulangnya saja....."

" Tolol!" hardik Atu Jahal. " Mereka takkan e gampang itu lagi masuk jebakan. Apalagi dalam ombongan itu terdapat Usman bin Affan yang dulu memang dapat kita kibuli. Dan taktik usang itu sekarang tidak akan mempan lagi. Kita harus mencari ikhtiar lain."

" Kalau begitu bagaimana pikiran tuan ya Abul akam?" " Begini! Kita harus mencari beberapa orang utusan dan kita perintahkan supaya segera pergi ke Habsyi. Mereka harus membawa barang-barang berberga ntuk di hadíahkan kepada Negus. Dan kemudian dengan elicinan lidah mereka Raja Habsyi itu harus dipengaruhi. Kemudian kita mohonkan kepada baginda supaya aum pelarian itu di usir kembali kemari. Dan jika ereka sudah kembali berada dalam tangan kita selanjutnya sudah soal gampang."

Semua yang hadir sangat setuju dengan saran itu. Pada hari itu juga mereka cari utusan yang akan ikirim kenegeri Habsyi itu. Dapatlah dua orang utusan sebagai yang dimaksud. Keduanya ialah: Amru bin sh dan Amrah bin Walid.

Dengan segera pula mereka menghimpunkan alat-lat perhiasan yang indah-indah dan mahal harganya erbuat dari mas dan perak. Kemudian pakaian yang mahal-mahal untuk dipersembahkan kepada Negus Habsyi. an diberi pula petunjuk bagaimana cara mereka menghadap dan menyampaikan permohonan itu kepada Negus. ereka tak perlu diajari lagi sebab keduanya sudah erkenal fasih berbicara dan amat pintar putar belit. Yang putih bisa dikatakannya kuning, yang biru isa dikatakannya hijau.

Dan kedua utusan itu memang utusan yang serba angkas. Dan sebelum Ja'far bin Abi Thalib sempat enghadap, kedua utusan itu sudah lebih dahulu sampai dan masuk menghadap Negus Samah bin Abgar.

.//.