Lompat ke isi

Yin Lan

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas



DITJITAK OLEH:
DRUKKERIJ HAHN & Co
KAMP. DORO — SOERABAIA.







SEDIKIT OETJAPAN :

TJINTA itoe memang ada satoe benda jang adjaib. Kita tida boleh banggaken bahoea kita poenja diri soedah tanggoeh dan tida aken mempan toesoekannja iapoenja panah, sebab banjak terdjadi iapoenja kadatengan ada sawaktoe-waktoe dan di loear kita poenja kainginan,

Banjak orang tida bisa pisahken atawa bedaken tentang antara Tjinta dan Nafsoe.

Satoe waktoe, dengen zonder tersoeroeng oleh Nafsoe boeat poenjain dirinja, kita bisa menjinta pada siapa jang poenjain pengaroe-pengaroe aloes atawa sifat-sifat jang menjotiokin kita poenja perasa’an.

Kita menjinta, kita rampas sa'antero perasa'an dan ka'agoengannja, tapi kita tida reboet dan roesaken iapoenja djasmani, kerna ka-ada'an tida mengidjinken itoe. Inilah ada Tjinta jang sedjati, Tjinta boekan kena tersoeroeng oleh nafsoe-nafsoe kasar.




MOEHOEN DIPERHATIKEN

Perminta'an adres baroe, atau kirim postwissel dari mana djoega, haroes tida di loepaken toelis:

ADRES LAMA

dari sesoeatoe abonne poenja tempat tinggal.

Agar kita bisa oeroes dengen lekas!

Boeat perhatian mana dengen ini di hatoerken banjak trima kasi.

ADM.

YIN LAN

Oleh: CHEN WEN ZWAN.

JIN LAN!

Als dan uw oog welligt op deze bladen staart
En gij aan vroeger tijd met weemoed zult gedenken,
Wijd dan een oogenblik aan hem wien ge alles waart,
En wil zijn naam een deel van uw herin'ring schenken

MULTATULI.

I
SANATORIUM TJIBEULEUM.

15 November 1933

Akoe masih inget betoel itoe tanggal, di mana akoe telah berdjoempah pertama kali pada Yin Lan, dari siapa akoe telah dapetken bahan-bahan boeat karang ini tjerita.

Pada sasoeatoe orang satoe koetika ada terbit itoe pengrasa'an telah dalem lahir dan batin, tida mempoenjai soemanget boeat bekerdja, dengen ringkes satoe pengrasa'an jang membikin kita bentji pada kita-poenja pakerdja'an, merasa ewa pada segala apa jang berada di sakiter kita dan segala apa jang kita lakoeken ada serba terpaksa. Tapi toch pakerdja'an jang kita lakoeken ada mengasih tjoekoep hasil boeat kita hidoep sederhana, dan lebih dari itoe lagi,

kerdja'an journalistiek ada soeatoe pakerdja'an jang sabenernja ada moelia. Ka'ada'an begitoe terbit bila kita soeda bekerdja teroes-menoeroes, dengen keras zonder mengaso. Dikata sakit akoe-poenja toeboeh tida ada jang sakit, dikata tida sakit akoe tida sehat dan pengabisannja dokter nasehatken, soepaja akoe pergi di goenoeng boeat bebrapa waktoe.

Begitoelah akoe soeda beresken akoe-poenja pakean, minta verlof dari akoe poenja chef, dan itoe Johor djoega akoe ikoet satoe autobus sampe di Bui-tenzorg. Dari sini akoe menjewa satoe auto dan teroesken akoe-poenja perdjalanan ka djoeroesan Poentjak, di mana ada letaknja sanatorium Tjibeureum, kapoenja'an kaoem Methodist.

Djalanan menaek teroes, pemandengan di kanan kiri lantas membikin akoe loepa pada kota jang akoe tinggalken. Sepandjang pengliatan tergelar sawah-sawah jang idjo, sedeng di sabelah Selatan tertampak goenoeng Gede dan di sabelah Barat goenoeng Pangranggo jang indah. Di sana-sini kliatan prempoean-prempoean dessa sedeng menanem padi, sedeng paman-paman tani ngiring kerbonja jang emboesken hawa oewap dari moeloetnja, kerna maskipoen itoe waktoe kira-kira ada djam 3 lohor, tapi di djalanan Poentjak hawa ada sanget sedjoek dan matahari saolah-olah tida berkwasa boeat temboesken itoe pedoet jang tebel.

Semingkin lama djalanan semingkin menandjak dan memboelak-biloeknja semingkin keras. Di satoe bagian jang tanahnja sedikit rata ada terletak sanatorium Tjibeureum, jang dari djaoe tertampak seperti djoega kasteel-kasteel dalem tjerita dongengan. Tembok-temboknja jang poetih dan gentengnja jang merah, dikiterin oleh goenoeng-goenoeng jang loegat-legot.

Waktoe akoe sampe di depan itoe sanatorium satoe prempoean moeda dengen berpakean djoeroerawat dateng menjamboet padakoe. Dan koetika akoe liat tampang moekanja, akoe djadi gegetoen, kerna kaloe akoe' tida salah liat, ia ada satoe prempoean Tiong-hoa. Ia masih moeda sekali, akoe doega antara 17 dan 18 taon, alisnja kereng, matanja bening, tapi seperti terlipoet dengen satoe sorot kadoeka'an. Idoengnja bangir, bibirnja jang sabelah atas ada sedikit djeding, tapi djoestroe ini menambahken iapoenja kamanisan. Dan waktoe ia mesem boeat menanjaken ka'ada'an, akoe baroe bisa bilang, jang ia sabenernja ada manis. Sembari djalan masoek akoe pandeng ia dari pinggir, iapoenja koelit tida poetih, tapi jang orang soeka namaken „item-item si goela djawa”, ia ada mempoenjai bebrapa tai laler di moekanja, djoestroe di bagian-bagian moekanja jang tjotjok boeat ia dapet nama satoe prempoean jang menarik hati. Apalagi ia ada memake pakean zuster jang begitoe resik, pas betoel dengen toeboehnja jang sedeng gemoek tida, koeroes poen tida, soenggoe satoe loekisan jang tida gampang boeat diloepaken.

Sembari mengikoetin padanja akoe pikir dan tanjah pada diri-sendiri, bagimana satoe prempoean Tiong-hoa boleh berada di sini sabagi djoeroerawat, sedeng akoe liat, ia ada satoe-saioenja zuster jang ada di sitoe, jang laen-laen semoea ada djoeroerawat-djoeroerawat lelaki dari bangsa Indonesier.

Sedeng ia mengoendjoekin akoe-poenja kamar, ia berkata sembari bersenjoem:

„Saja harep ini kamar bisa menjotjokin pada enko,” ia kata sembari boeka satoe djendela jang mengasih pemandengan jang bagoes pada goenoeng Pangrango.

Ia seboet akoe 'enko', djadi terang sekali jang ia ada saorang Tionghoa.

„Ini kamar ada sanget bagoes,” akoe kata, „apa zuster soeda lama bekerdja di ini sanatorium?”

Ia tertawa, tapi tida mendjawab atas akoe-poenja pertanja'an. Sebaliknja dari itoe ia menanja padakoe: „Enko sakit apa, apa soeda lama enko poenja penjakit?”

Akoe mesem dan menjaoet: „Saja sabetoelnja tida sakit!”

Ia tertawa. Apa ia tertawa sabenernja, atawa ada apa-apa jang ia simpen dalem hatinja, kerna tertawanja ada begitoe aneh. Atawa apa memang ia terpaksa moesti tertawa, kerna ada kawadjibannja sasoeatoe djoeroerawat boeat berlakoe manis boedi pada ia-poenja patiënten. Akoe tida ada tempo boeat berpikir, kerna akoe denger moeloetnja oetjapken lagi ini perkata'an:

„Moestail tida sakit dateng tetirah di sini?”

„Soenggoe, saja tida sakit apa-apa!” akoe mendjawab dengen teroes terang.

„Djoestroe,” itoe zuster kata lagi dengen mesem, „orang jang dateng tetira moesti ada sakitnja, kaloe enko tida sakit di toeboeh, tentoe ada sakit laen.”

Akoe goleng kepala dan merasa seneng bisa beromong-omong dengen itoe djoeroerawat jang manis.

„Saja boekannja dokter,” ia kata lagi dengen swaranja jang enak didenger,” tapi apa saja boleh bilang enko sakit apa?”

„Saja girang, kaloe zuster bisa bilangin saja poenja penjakit,” akoe kata lagi.

Ia berdiam sabentar dan sembari toendoekin kepala ia berkata dengen satoe swara jang laen dari tadi:

„Biasanja kaloe orang tida sakit di toeboeh, tentoe ada sakit jang lebih dalem, sakit di hati atawa di djantoeng, sakit lantaran panahnja . . . . . . .. Amor!”

Akoe djadi tertawa bekakakan dan ia roepanja djadi sedikit terkedjoet mendenger akoe tertawa begitoe' roepa.

„Amor! Amor! Ha, ha, ha!” Akoe tertawa bergelak-gelak, dalem saja poenja oesia?! Tida, nona, itoe soeda boekan waktoenja boeat saja, saja soeda terlaloe toea boeat itoe!”

Ia toendoek dan roepanja sedeng berkoetet dengen pikirannja sendiri. Bebrapa sa'at ia tinggal dalem ka'ada'an begitoe. Ini menerbitken akoe-poenja kaheranan. Kenapa itoe perkata'an jang dikloearken dengen memaen roepanja bagi ia ada mengandoeng arti? Ada menjelip apatah dalem pengidoepannja ini nona jang masih begitoe moeda dan hidoep di pegoenoengan jang begitoe soenji sabagi djoeroerawat?

Akoe doega moesti ada apa-apa, kerna di blakang itoe roman jang berseri-seri ada tersimpen satoe kadoeka'an, jang akoe tida bisa oekoer brapa besarnja.

Kamoedian itoe nona djoeroerawat taro akoe-poenja pakean di dalem lemari jang memang disediaken di sitoe. Ia tertampak hendak kloear dan sembari dorong pintoe dengen satoe tangannja ia berkata pada akoe: „Di sitoe ada bel, kaloe enko perloe apa-apa boleh bel sadja, nanti saja dateng!”

Sa'abisnja berkata begitoe ia toetoep pintoe dan berlaloe. Akoe djadi sendirian dalem itoe kamar. Itoe waktoe djoestroe magrip dan mata-hari baroe sadja berkiser di blakangnja sela-sela goenoeng.

Akoe pergi di djendela dan memandeng ka loear, di mana satoe pemandengan natuur jang eilok ada di hadepan matakoe. Begitoe angker kliatannja itoe goenoeng Pangrango. Akoe poenja pikiran djadi

melajang ka sana-sini dan akoe teriket pada satoe sairan dari Max Dauthendey, itoe penjair Duitsch jang terloenta-loenta di Java, sebab tida bisa poelang ka negrinja, lantaran perang doenia dan telah meninggal di Tosari dalem kasoenjian. Itoe sairan jang mengandoeng sari dari Penghidoepan ada sabagi berikoet:


Du Berg, der hin zum Aether zieht
Des Gipfel über die Zeiten sieht,
Du Ewiger, der nicht altern kann,
Die jahre reichen nicht an dich heran.
Und die Jahrhunderte du kaum fühlst
Wenn du die Stirn im Weltraum kühlst.
Du lebtest, als der erste Mann
Das erste Frauenherz sich gewann,
Du lebst noch, wenn einst das letzte Paar
Hinstirbt, im letzten Menschenjahr,
Wie wichtig sind mir doch meine Sorgen,
Wie wichtig das Gestern, Heute und Morgen,
Du lehrst weit über die Tage zu schauen.
Du lehrst, dem Ewigen zu vertrauen.

Plahan-plahan mata-hari silem di antara sela-sela goenoeng, ka'ada'an soeda ampir gelap goelita, tapi di langit sablah Koelon masih bergoemilapan roepa-roepa sinar berwarna jang berkatja di antara moeka sawah dan berkredep-kredepan, hingga akoe memandeng dengen tida ada bosennja.

Pengidoepan di pegoenoengan roepanja begitoe soenji, begitoe tentrem, paman-paman tani sasoeda poelang dari sawah, tinggal dalem roemah atepnja dengen pikiran poeas menoenggoeken panenan jang bakal dateng. Tapi kita orang kota, saban sa'at pikiran kita bergoelek-goelek, djam-djam seperti djoega

memboeroe-boeroe di blakang kita, kapoeasan tida ada pada kita, orang selaloe maoe tjari apa jang lelih dan kaloe soeda dapet itoe maoe lebih lagi . . . . . . . Tapi apa artinja itoe semoea kaloe kita poelang asal? Harta doenia, kakaja'an, oewang, kasenengan, kaplesiran sama-sekali tida ada, jang katingalan melaenken kakosongan belaka.

Lapat-lapat akoe denger swara bedoeg, tandanja soeda magrib dan tida antara lama lagi akoe denger swara soeling jang memaenken lagoe Soenda jang begitoe tenang, menambahken melajangnja akoe-poenja pikiran.

Akoe tida rasaken hawa jang semingkin lama djadi semingkin dingin, angin goenoeng jang menioep dengen aloes membikin akoe loepa pada segala kadjengkelan dan karoewetan jang sasoeatoe kota besar ada membawa, lama djoega akoe berdiam dalem ka'adaan begitoe.

Akoe djadi kaget waktoe satoe soeara memanggil padakoe: „Enko!”

Koetika akoe menengok akoe dapetken itoe zuster dengen membawa satoe nenampan penosh barang makanan. Ia kombali oendjoek mesemnja jang girang tertjampoer sedih. Akoe liatin ia taroken itoe barang makanan di atas medja, kamoedian ia berkata:

„Daharlah dan loepaken segala kadjengkelan, enko!”

Oh, akoe rasaken itoe swara sama djoega muziek, lebih merdoe dari „If I have a talking picture”, „One hour with you” dan sabaginja jang kita biasa denger di kota!

„Trima kasi, zuster,” akoe djawab dengen tersenjoem dan menghamperin ka medja makan, marilah kita dahar bersama.”

„Merci,” ia berkata dan lagi-lagi oendjoek senjoemnja jang aneh, saja sabentar makan dengen dokter bersama-sama jang laen.”

„Tapi kaoe toch soeka temenin padakoe, boskan?”

Ia mesem dan sendokin nasi boeat akoe, kamoedian berdoedoek di samping medja.

„Apa zuster tinggal djoega d'alem ini kliniek?” akoe tanja sembari makan.

„Di blakang ada satoe paviljoen ketjil jang mengadepin goenoeng Gede, di sitoelah tempat saja,” ia mendjawab, sedeng tangannja ada maenin satoe leontine jang ia pake.

Akoe awasin itoe leontine dan moesti akoeh boeatannja ada bagoes sekali. Itoe leontine tida sabrapa besar, tapi moengil. Ia meroepaken doea hati jang teriket djadi satoe, atas mana masing-masing ada satoe mata berlian, di atas itoe ada lagi satoa mata aan di bawahnja djoega terhias oleh tiga berlian jang ketjilan.

„Satoe leontine jang moengi!!” akoe kata dengen tida sengadja.

Ia roepanja baroe inget, jang ia tida sendirian, kerna ia boeroe-boerce lepasken tangannja dari itoe leontine dan tinggal tersenjoem. Tida antara lama ia toendoekin kepalanja dan mengelah napas. Akoe tida mengerti, baroesan ia baroe mesem, sekarang ia mengelah napas. Ada tersemboeni kadoeka'an apatah di dalem dirinja itoe prempoean moeda?

Akoe djadi kapingin taoe, tapi kasopanan ada menjegah boeat akoe menanjaken terlaloe banjak tentang dirinja. Semingkin lama akoe djadi semingkin merasa sympathie pada itoe nona moada jang akoe tida kenal penghidoepannja, ia roepanja masih gadis, itoe akoe ampir brani menetepken.

Siapatah namanja? Dari manatah ia asalnja, siapatah orang toeanja? Pertanja'annja-pertanja'an begitoe dateng bersaraboetan di kepalakoe. Betsy, brangkali, Hetty, Bertha, ah, akoe tida taoe! Apa ia terpladjar Barat? Boleh djadi, kerna iapoenja ramboet dibobbed. Tapi jang paling perloe toch akoe moesti taoe namanja, akoe tida brani menanja sebab akoe kwatir ia nanti kataken akoe tida taoe adat.

Ditemenin oleh satoe temen jang begitoe manis, akoe dahar banjak, bebrapa kali lebih banjak dari di roemah, segala masakan saderhana akoe rasaken sanget ledzat.

Baroe sadje akoe hendak menanjaken ia asal dari mana atawa pintoe diketok dan satoe djangos masoek dan berkata:

„Zuster Yin-lan, makanan soeda sedia!”

„Baek,” ia mendjawab, „saja lantas dateng!”

Itoe djongos berlaloe dan ia sendiri bangoen dari tempat doedoeknja.

„Saja permissie,” ia kata, kaloe merasa segeran besok pagi koendjoenginlah saja-poenja paviljoen!”

„Trima kasi, zuster, saja tentoe moesti dateng di sana besok pagi!” akoe menjaoet dengen bernapsoe. Itoe gadis mengilang dari pintoe dan akoe tinggal mengawasin iapoenja potongan badan jang tida ada tertjelanja.

Akoe djadi bengong sendirian. Sekarang akoe taoe iapoenja nama, satoe nama jang djoega aneh?

Yin Lan, akoe baroe pernah denger nama begitoe! Tapi toch satoe nama jang boeat akoe itoe waktoe ada sanget enak, sanget bagoes didengernja.

Yin Lan, Yin Lan, sekarang akoe taoe namanja!

Aneh, akoe sama djoega kena lotery dapat taoe itoe. Kenapa toch akoe? Belon brapa djam akoe

berada di itoe tempat, belon brapa lama akoe kenal itoe gadis, kenapa akoe moelai taro perhatian atas dirinja, apa. . . . . . . apa. . . . . . . ah, akoe tida brani seboet, satoe perasa'an jang aneh akoe merasaken.

Itoe malem akoe poeles dengen di bibirkoe basah dengen itoe perkata'an: Yin Lan!




PEMBATJA POEAS
Satelah nanti batja „Yin Lan” sampe tamat.
Tapi pembatja aken poeas djoega kapan nanti telah batjah:
„BIDADARI?”
Ditoelis oleh satoe penoelis jang penanja soedah sering diasah dan aken dimoeat boeat isinja Tjerita Roman October jang aken dateng.


II
TJARI OBAT DAPET PENJAKIT.

Would I could breathe my kisses in the air,
To let them reach your lips. Oh most sweet love,
There is no flower but beareth in its fragrance
The perfume of sweet tenderness. The winds
May whisper in your ears of all my secrets,
They will but tell of love.

Wallis.

ITOE malem akoe dapet satoe impian jang loearbiasa. Di sananja dengen mengadepin goenoeng Pangrango jang angker akoe berdoedoek di bawah satoe poehoen anggoer, poehoen mana memang bisa toemboeh di itoe tempat. Itoe poehoen boeahnja tebet sekali antaranja ada jang soeda mateng dan akoe mengiler boeat memetik, tapi akoe tida brani, kerna akoe taoe, bahoea itoe poehoen boekan kapoenja'ankoe. Tida djaoe dari itoe poehoen anggoer ada mengalir satoe oemboel aer jang sanget djernih jang djoega membikin akoe katarik boeat iroep aernja, tetapi akoe tida brani kerna ka'ada'an di sitoe ada begitoe serem.

Sedeng akoe berada demikian roepa, zuster Yin Lan dateng menghamperin. Ia laloe petik satoe boeah anggoer jang paling mateng dan angsoerken padakoe. Roepanja itoe boeah sanget manis, tapi waktoe sampe di tengorokankoe, akoe rasaken pait!

Akoe djadi bergidik dan braniken hati boeat iroep aer dari itoe oemboel. Akoe sendok dengen kadoea telapakan tangankoe, tapi waktoe itoe aer sampe di bibirkoe akoe tida tahan lantaran dinginnja ada melebihin dari ijs. Akoe berdjengit dan djadi seder, akoe tjelingoekan dan dari djendela ternjata tjoeatja soeda djadi terang.

Hawa oedara betoel sadja ada sanget dingin, hingga akoe rasaken meresep sampe di toelang-toelang, inilah ada hawa Poentjak jang terkenal. Akoe rasaken kakikoe bekoe, bultzak seperti djoega baroe digoejoer dengen aer ijs.

Akoe lontjat dari pembaringankoe dan boeka djendela, oedara ada penoeh oewap, sedeng goenoeng-goenoeng tertoetoep dengen halimoen. Plahan-plahan dengen terkena sorotannja mata-hari itoe pedoet djadi semingkin tipis dan moelai tertampak goeratan-goeratannja goenoeng-goenoeng di sakiternja.

Akoe lantas teken bel dengen pengharepan zuster Yin Lan jang bakal dateng, tapi sebaliknja dari ia moentjoel satoe djongos. Akoe merasa djengkel.

„Mana zuster Yin Lan?” akoe menanja pada itoe djongos.

„Ini hari ia dapet vrij.” itoe djongos mendjawab. Akoe tida brani menanjaken lebih banjak, tapi akoe soeroe itoe djangos sediaken aer panas di kamar mandi.

Sa'abisnja goejoer badan dengen aer anget, akoe laloe toekeran dan pergi di kamar dokter, boekan dengen maksoed boeat dipreksa, tapi lantaran akoe kapingin taoe satoe dan laen tentang Yin Lan. Akoe tida mengerti, pengaroeh apa jang menjoeroeng boeat akoe berboeat begitoe, tapi semingkin lama akoe djadi lebih perhatiken pada itoe nona Tionghoa jang hidoep saolah-olah terhoekoem dalem itoe kasoenjian, djaoe dari karamean doenia, berbeda dengen gadis-gadis modern di kota'an jang dojan plesir dan tida tahan kaloe satoe minggoe tida pergi di tempat dansa atawa bioscope.

Sasoedanja preksa akoe-poenja badan, dokter tida dapetken penjakit apa-apa dalem badankoe, sebab akoe memang tida sakit, tapi ia melaenken nasehatken boeat meng aso kira-kira satoe boelan, lantaran zenuwoverspanning. Akoe taoe itoe dan sasoedanja akoe taoe akoe dirawat oleh Yin Lan, djangan kata soeroe diam di sitoe satoe boelan, biar saoemoer hidoepkoe akoe soeka! Begitoelah itoe perasa'an dateng padakoe, dengen zonder akoe mengataoein dan zonder disengadja.

Begitoe tjepet akoe-poenja kaki bisa membawa padakoe, akoe lantas pergi di bagian blakang dan dapetken di sitoe satoe paviljoen moengil jang mengadepin goenoeng Gede. Akoe harep bisa katemoeken Yin Lan di sitoe, tapi waktoe akoe sampe di sitoe akoe melaenken katemoeken baboenja, jang mengasi taoe padakoe, bahoea Yin Lan pergi di Patjet boeat membeli sajoeran dan boenga-boenga.

Akoe djadi sanget mendongkol. Kenapa Yin Lan tida kasi taoe doeloe padakoe, kaloe ia hendak berpergian? Tapi achirnja akoe djadi maloe dengen mempoenjai pikiran begitoe. Akoe ada hak apatah atas itoe gadis? Tida sama sekali, ia boekan sanak boekan kadang, kenal poen baroe.

Iapoenja tempat tinggal ada diatoer dengen sanget saderhana. Satoe korsi zitje ada di sablah depan, potpot kembang jang toemboe dengen bagoes. Di podjokan ada satoe piano, atas mana ada satoe viool
dan mandoline. Itoe memboektiken jang itoe gadis soeka dengen muziek.

Di tembokan tida tergantoeng portret-portret tjoema bebrapa gambar pemandengan jang indah. Apa itoe gadis tida ada mempoenjai familie atawa laen-laen orang jang ia tjinta, maka tida ada portret sama sekali jang tergantoeng di sitoe? Apa ia tida mempoenjai satoe atawa laen kenalan jang mengasi portret padanja boeat digantoengin di iapoenja tempat tinggal jang soenji itoe? Pertanja'an-pertanja'an begitoe dateng dalem hatikoe, tapi akoe tida bisa dapet djawabannja.

Di depan paviljoennja Yin Lan ada satoe poеhoen anggoer jang soeda berboeah, sedeng di bawahnja ada satoe bangkoe kebon. Akoe laloe bertindak ka sitoe dan teringet pada akoe-poenja impian semalem. Bedanja di sitoe tida ada oemboel aer, tapi sabagi gantinja dari djaoe, djaoe sekali di tebing goenoeng Gede akoe dapet liat satoe goeratan poetih, jaitos aer toempah Tjibeureum.

Akoe berdoedoek atas itoe bangkoe dan akoe sanget boembira menampak pemandangan jang begitoe bagoes di hadepankoe, sama djoega dengen pigoera bikinannja satoe kunstenaar jang oeloeng.

Akoe-poenja pikiran begitoe tertarik oleh itoe pemandengan natuur jang bagoes, hingga akoe tida dapet denger ada orang mendatengin dan taoe-taoe soeda ada di sampingkoe. Itoe orang adalah Yin Lan! Ia sekarang tida memake pakean djoeroe rawat, hanja satoe japon dari soetra crepe, warna idjo poeti, dan sekarang akoe baroe bisa pandeng betoel padanja. la tida tjantik, tapi manis, apalagi iapoenja mesem, itoe mesem jang selaloe tertjampoer dengen sari kasedihan!

„Slamet pagi,” ia kata dengen swara jang empoek, „apa enko soeda lama menoenggoe, saja baroesan pergi di Patjet boeat membeli sajoeran, dokter jang soeroe!”

„Itoe saja taoe,” akoe mendjawab, „doedoeklah kaloe soeka!”

Ia berdoedoek di sablahkoe dan lagi-lagi tangannja maenin itoe leontine jang meroepaken doea hati.

Akoe memandeng iapoenja roepa, matanja soenggoe bagoes dan alisnja kereng: sakoenjoeng-koenjoeng ia djoega memandeng padakoe dan kita-poenja sorotan mata djadi kabentrok. Ia toendoekin kepalanja dan akoe djoega melengos ka laen djoeroesan. Tapi itoe sedikit bentrokan soeda tjoekoep. Ia ada mengandoeng arti, lebih dari riboean perkata'an, akoe dapet perasa'an tida karoean, brangkali djoega ia.

„Semalem saja dapet satoe impian jang aneh,” akoe kata kamoedian, saja mimpi telah doedoek di sini dan kaoe telah petikin satoe boeah anggoer boeat saja. Itoe anggoer roepanja manis, tapi waktoe sampe di tengorokankoe, saja rasaken pait!”

„Ah, impian semoea bohong!” ia kata sembari tertawa,” tjoba nanti saja kasi liat, betoel tidanja itoe impian.”

Ia laloe berdiri di atas bangkoe, hingga akoe liat teges iapoenja potongan kaki jang bagoes, petik satoe boeah anggoer dan angsoerken padakoe.

„Tjoba rasain, pait atawa tida!” ia kata.

Akoe toeroet dan betoel sadja itoe anggoer ada manis.

„Rasanja manis,” akoe menjataken, tapi tida begitoe manis seperti anggoer jang dateng dari loear negri.”

„Tentoe sadja,” ia djawab, „tapi di sini ada tempat satoe-satoenja jang bisa toemboeh poehoen appel dan anggoer.”

„Zuster sabetoelnja asal orang dari mana,” akoe menanja sakoenjoeng-koenjoeng.

„Djangan panggil saja 'zuster',” ia kata dan menjimpang dari akoe poenja pertanja'an, „panggil sadja saja poenja nama, itoe ada lebih baek!”

„Baeklah,” akoe membandel, Yin Lan sabetoelnja asal orang dari mana?”

„Enko soeda taoe saja poenja nama,” ia kata dan lagi-lagi tida perdoeliken akoe-poenja pertanja'an, „apa saja boleh taoe enko poenja nama?”

„Saja poenja nama pake J di depan,” akoe kata.

„J. . . . . . . J. . . . . . . James?”

„Boekan!”

„John!" ia kata dengen girang.

„Betoel!” akoe kata, kaoe pande menebak.”

„Tapi John ada nama sekolah, saja maoe taoe enko poenja nama jang betoel!”

„Bilang doeloe kaoe asal dari mana?” akoe kata dengen tertawa.

„Baeklah, saja panggil kaoe 'enko John,” ia berkata poela, kaoe poenja nama jang betoel toch saja bisa taoe dari boekoe dokter.”

Akoe tida dapet taoe asal oesoelnja Yin Lan, akoe rasa tida pantes moesti mendesek teroes, maka akoe poeter pembitjara'an ka laen djoeroesan.

„Yin Lan, kaoe roepanja demen dengen muziek!”

„O, demen sekali!” ia berkata dengen bernapsoe, „waktoe saja masih ada di roemah, saja selaloe maen muziek dengen saja-poenja soedara-soedara. Apa enko bisa maenin instrument?”

Sekearang akoe taoe dari iapoenja perkata'an baroesan, jang Yin Lan ada mempoenjai bebrapa soedara.

„Saja melaenken bisa sedikit,” akoe kata.

„Marilah kita maen sabentar,” ia mengadjak dan kita laloe bertindak masoek di iapoenja roemah. Ia laloe boeka toetoepan piano, akoe ambil viool dan kita laloe moelai akoerin soearanja.

Bermoela ia maenken lagoe „Caroline Moon” jang akoe ikoetin dengen plahan. Soenggoe gapa iapoenja djeridji-djeridji teken sasoeatoe noot. Kamoedian ia barengin dengen njanjian:

The Moon was shining bright in Carolina,
The night we said good bye as tendeling,
And now that I'm away from Carolina,
Want somebody, tell the moon for me,
Carolina moon keep shining,
Shining for the one who waits for me.

Carolina moon I'm pining,
Pining for the place, I long to be,
How I'm hoping tonight you go,
Go to the right window.
Scatter your light,
Say that I'm all night place do,
Tell her that I'm blue and lonely,
Dreamy Carolina moon.

Sasoedanja kita brenti maenken itoe lagoe, akoe poenja koeping rasanja masih penoeh dengen iapoenja swara jang merdoe. Akoe memandeng pada

ia-poenja ramboet jang bagoes dan waktoe ia menengok lagi sekali matanja kabentrok dengen matakoe dan lagi sekali akoe liat riboean perkata'an dari iapoenja sinar mata jang gilang goemilang.

Kamoedian ia laloe maenken lagoe „When your hair has turned to silver” jang akoe tida ikoetin, kerna akoe ingin mendenger sapenoehnja iapoenja njanjian. Ia menjanji dengen penoeh soemanget, sa'antero sanoebarinja ada pada itoe lagoe dan koetika bibirnja dengen swara berombak-rombak oetjapken: „When your hair has turned to silver, I will love you just the same” akoe dapet liat aer matanja mengembeng dan ia soekoer bisa tindes pengrasa'annja.

Itoe njanjian maoe bilang begini „Biarpoen kaoe-poenja ramboet soeda berobah poetih laksana perak, akoe aken tetep tjintain kaoe!” Kenapa Yin Lan djadi bersedih?

Dengen tida terasa akoe poenja tangan pegang ia-poenja poendak, ia tinggal diam, akoe menanja dengen perasa'an sadjoedjoernja:

„Kaoe menanggoeng kadoeka'an, Yin Lan! Apa saja bisa berboeat apa-apa goena kaoe?”

Ia tida menjaoet, tapi aer-matanja toeroen semingkin deres, ia tida mampoe oempetken lagi kasedihannja dan ia menangis dengen sesenggoekan. Akoe djadi bingoeng dan tida taoe apa jang akoe moesti berboeat, kerna akoe tida taoe apa jang mendjadi sebab dari iapoenja kasedihan.

„Tinggalken saja sendirian,” achirnja ia berkata, „kaloe soeka datenglah soré lagi kemari.!”

Akoe tida bisa berboeat laen dari pada menoeroet. Akoe tinggalken ia sendirian dalem kadoeka'annja dan pergi di akoe-poenja kamar, di mana akoe djadi termenang-menoeng.

Itoe gadis djadi satoe tjangkriman bagikoe. Kenapa ia bersedih sasoeda maenken lagoe „When your hair has turned to silver”, akoe djadi katarik boeat taoe tentang penghidoepannja.

Waktoe akoe meliat ia pertama kali, ia soeda dapetken akoe-poenja sympathie, waktoe matakoe bentrokan dengen matanja boeat kadoea kali, akoe-poenja kantong hati semingkin terisi oleh itoe gadis. Akoe taoe, iapoen ada mendapet itoe pengrasa'an, sebab dalem perkara begini, biasanja sang hati selaloe bergandengan, apa jang dirasaken oleh jang satoe, dirasaken djoega oleh jang laen.

Tapi kenapa ia djadi bersedih?

Akoe-poenja kepala rasanja panas memikirin itoe soeal jang akoe tida bisa mengerti.

Semingkin akoe memikirken halnja itoe gadis, Yin Lan poenja roman semingkin berbajang dan akoe mengerti, jang dengen tida sengadja dan zonder taoenja itoe gadis soeda dapet tjoeri akoe-poenja hati.

Akoe telah tertawaken padanja waktoe akoe baroe dateng, koetika mana ia bilang, jang akoe terkena panahnja Amor. Akoe pikir dalem akoe-poenja oesia 30 taoen, akoe soeda terlaloe toea boeat itoe. Tapi sekarang?

Itoe perasa'an dateng dengen tida dapet akoe tjega dan akoe djoega tida mampoe oesir, sedeng akoe sampe taoe, bahoea tjinta itoe ada satoe penjakit, satoe penjakit jang tempo-tempo tida ada obatnja, dan orang bisa terserang djoega saoemoer hidoepnja oleh itoe penjakit. Akoe insaf betoel dengen itoe, tapi menoesia mana jang dapet menolak itoe, bila itoe perasaan soeda dateng?

Akoe dateng mentjari obat, jang akoe dapet tjoema penjakit, itoelah djailnja sang nasib!

III
BERPISAH.

Hóe klopt mij 't hert bij 't scheiden van deze oorden,
Hoe jaagt mij 't bloed versneld door de adrenheen,
Hoe zoekt mijn geest vergeefs naar afscheidwoorden
En vindt voor klank een enkelen traan alleen.

Van waer die band die hier mij zoo kon binden,
Die zoo mij kwetst, nu haar het lot verscheurt,
'k zal elders toch wat ik hier liet hervinden,
Wat hecht mij hier dat zoo mijn hert betreurt

Multatuli.

PENDOEDOEK Tionghoa, di itoe tempat sanget sedikit dan masing-masing poenja roemah terpentjar djaoe satoe sama laen, tapi pendoedoek priiboeminja ada banjak, marika kabanjakan ada kaoem tani.

Sabagimana biasanja orang-orang di kampoengan, marika tida begitoe perdoeliken dengen soeal kasehatan. Marika takoet pada dokter dan malah kaloe dikasi obat dOkter marika nanti boeang, sebab marika lebih pertjaja pada segala doekoen dan djampe. Maka tida heran kaloe moesin ada penjakit menoelar jang mati di kampoengan ada tida terbilang banjaknja.

Akoe denger, jang waktoe ada menoelar penjakit tjatjar di sakiternja Tjibeureum, pendoedoek kampoeng boekan sedikit iang meninggal doenia dan marika begitoe takoet pada dokter, hingga maskipoen dari roemah sakit Tjibeureum diberiken toeloengan, tapi marika tida maoe goenaken itoe pertoeloengan.

Berhoeboeng dengen ini maka itoe roemah sakit Methodist telah mengadaken samatjem kamopoengverpleging boeat beriken toeloengan pada pendoedoek kampoeng dan boeat beriken penjoeloeh dalem soeal kasehatan, dan orang jang dipiilih boeat melakoeken itoe pakerdja'an adalah Yin Lan.

Dengen iapoenja moedi bahasa jang manis dan tabeat jang welas asih, maka tida antara lama itoe zuster Tionghoa telah dapet kapertjaia'annja pendoedoek kampoeng di sakiternja. Marika begitoe hargaken pertoetoengannja itoe gadis, banjak itoe bapa jang bertrima kasi padanja, kerna anaknja telah tertoeloeng dari bahaja maoet, di antera aaak-nnak Yin Lan terkenal sabagi satoe dewi dari Ka'asihan, sedeng pendoedoek kampoeng jang tahajoel anggep Yin Lan ada satoe gadis jang soetji, jang memang didjelmaken dalem doenia goena menoeloeng marika terhadep pada segela gegodanja iblis penjakit.

Teroetama waktoe penjakit tjatjar menoelar Yin Lan soeda moesti bekerdja berat dan ia masoek kloear roemah boeat beriken toeloengan dengen zonder takoet, jang ia sendiri nanti katoelaran itoe penjakit. Tida, ia bekerdja dang9n gaga, seperti djoega boeat ia kamatian tida ada harganja.

Tida ada satoe orang priboemi di sakiter sitoe jang tida kenal itoe nama Yin Lan!

Satoe hari akoe toeroet itoe gadis pergi di kampoeng 'boeat melakoeken iapoenja pakerdjaan. Akoe saksiken, bagimana pendoedoek indahken padanja sabagi satoe dewi, marika menjembah-njembah kaloe anaknja baroe diberiken obat, marika pandeng dalem

dirinja Yin Lan satoe machloek jang lebih dari menoesia biasa.

Dari satoe roemah Yin Lan masoek ka laen roemah dengen beriken toeloengan di mana jang perloe: Akoe saksiken ia tjoetji dan verband bebrapa, anak-anak jang dapet korengan di 'kakinja dan saben-saben iboe atawa ajahnja itoe anak bef'kata': ,,Noehoen, neng Yin!" (= Trima kasi, nona Yin).

Dan di mana sadja jang ia dateng anak-anak samboet padanja dengen berseri-seri dan perkata'an: ,,Neng Yin!"

,,Soenggoe kaoe di sini sanget dikenal, Yin Lan!" akoe kata sembari djalan di sampingnja boeat menoedjoe ka satoe roemah jang pernahnja di pinggir sawah.

la mesem.

,,Apa kaoe tida merasa tjape dengen moesti beriken toeloengan pada begitoe banjak orang?" akoe tanja .lagi.

,,Oh," itoe gadis berkata, ,,melaenken ini matjem kerdja'an jang bisa bikin saja terhiboer!"

,,Kaoe roepanja mengandoeng. kasoesahan hati, Yin!" ako kata poela, tapi ia. tida beriken penlaoetan dan melaenken mengelah napas.

Tida antara lama kita orang samoea di depan satoe roemah ketjil, jang tertoetoep atep. Pintoenja tertoe­toep dan agaknja seperti kosong, ka'ada'an di sitoe sanget soenji.

,,Dalem ini roemah ada satoe prempoean jang saKit berat," Yin Lan berkata. ,,sakit tjatjar!"

Ahkoe terkedjoet. Itoe penjakit toch sanget menoelar, dan akoe moesti toeroet masoek ka sitoe. Oh, akoe dapet pengrasa'an sanget tida enak dan berkata:

,,Itoe penjakit bisa menoelar, Yin!"

la bersenjoem dan matanja mengawasin padakoe, itoe mata jang selaloe mengandoeng riboean perkata'an.

"Betoel," ia kata, ,,apa kaoe takoet?"

"Kaloe kaoe tida takoet, kenapa saja moesti takoet," akoe kata dengen sanget terpaksa dan mengikoetin Yin Lan ka dalem itoe roemah.

Waktoe kita-orang bertindak masoek ka dalem itoe roemah goeboek, kita dapet satoe pemandengan jang sanget membikin hati djadi terharoe. 5egala apa di sitoe mengoendjoekin kamiskinan. Di satoe bale-bale jang rejot ada mengletak satoe prempoean jang masih moeda, tetapi kliatannja sanget koeroes dan moekanja. penoeh dengen bisoelan. Ia, merinti-rinti plahan. Laen orang tida ada dalem itoe roemah.

,,Bagimana, Alima," tanja· Yin Lan, ,,baekan!"

Itoe prempoean plahan-plahan boeka matanja dan ia kliatan sanget girang waktoe meliat Yin Lan di sitoe.

"Baekan, neng," berkata dengen swara plahan.

,,Apa kaoe poenja iboe belon poelang, Alima?" tanja lagi Yin Lan.

Itoe prempoean goleng kapalania dan meremken lagi matanja. Ia sakit sanget berat, itoe akoe dapet menjataken.

Kamoedian Yin Lan boeka iapoenja koffer obat-obatan dan moelai beriken obat minoem dan zalf pada itoe prempoean. Itoe prempoean kliatan enaokan, kerna ia. boeka kombali matanja dan swaranja ada sedikit segeran waktoe ia menjataken:

,,Oh, kaoe-poenja boedi sanget besar, neng Yin ! Kaloe saja bisa semboeh kombali, adjaklah saia
tinggal bersama-sama kaoe, biar saja djadi kaoe-poenja boedak jang setia!"

,,Asal kaoe tjepet tbaek sadja, Alima!" saoet Yin Lan.

Sasoedanja ia beromong-omong lagi sabentar, kitaorang laloe kloear dari itoe goeboek dan aku lantas isep kombali hawa jang seger, jang membikin akoe dapet perasa'an baroe kloear dari noraka'.

Itoe waktoe soeda temponja kita-orang, berdjalan poelang. Sembari menenteng Yin Lan poenja koffer akoe berdjalan di dampingnja itow gadis. Akoe rasaken ini ada satoe antara bagian jang paling beroentoeng dari akoe-poenja pengidoepan.

,,Kaoe poenja pakerdja'an ada sanget berat, Yin!" akoe berkata.

,,Saja merasa beroentoeng dengen itoe, enko John!" ia, djawab.

,,Apa kaoe tida takoet itoe penjakit menoelar?"

,,Ah," kata itoe gadis, ,,boeat saja hidoep dan mati ada sama djoega! Soeda lebih dari satoe taoen saja merawat segala roepa orang jang sakit berat, tapi saja belon dapet kematian, jang saja toch selaloe harep-harepken!"

Akoe djadi mentjelos meendenger perkata'annja itoe gadis, akoe djadi semingkin kapingin taoe asal oesoelnja Yin Lan, kerna moesti ada tersemboeni apa-apa dalem penghidoepannja, itoe gadls.

,,Djadi, kaoe mentjari kamatian?" akoe menanja, ,,kaoe, satoe gadis jang sabenernjà moesti goembira dalem penghidoepan?"

la berdiam dan kita-orang berdjalan teroes.

,,Yin Lan," akoe kata dengen sadjoedjoernja, ,,anggeplah saja sabagi kaoe-poenja sobat dan ,pertjaiakenlah segala resia hatimoe, bilanglah apa lang mendjadi kaoe-poenja kamosgoelan hati, brangkali saja bisa toeloeng pada kaoe!"

Ia tida menjaoet dan berdjalan teroes dengen toendoekin kepala. Akoe pandeng ia dari samping dan akoe semingkin menjataken, jang maskipoen tida sabrapa eilok, Yin Lan toch ada satoe gadis jang manis.

,,Yin Lan," akoe kata, ,,ini hari ada hari pengabisan jang saja tinggal di sini. Besok saja moesti kombali ka kota, sebab kawadjiban ada menoenggoeken saja di sana. Apa kaoe taoe, Yin, saja merasa berat sekali boeat tinggalken ini tempat?"

la menengok padakoe dan kombali dari matanja ada mengalir itoe riboean perkata'an, jang ia tida dapet mengataken dari moeloetnja.

,,Ini tempat tida pantes boeat kaoe," ia kata, ,,di tempat seperti ini orang tida bisa dapet kamadjoean, tida bisa djadi terkenal. Tempat ini ada koeboeran orang jang, hidoep."

,,Djangan bilang begitoe, Yin," akoe kata, ,,terkenal .... terkenal, oh, kaoe rasa enak orang djadi orang terkenal? Bah, saja soeda merasa ewa dengen itoe. Orang 'terkenal sama djoega boedaknja anggepan. Kita tida boleh berboeat apa-apa menoeroetin kitapoenja pengrasa'an, biarpoen in bagimana bener dan djoedjoer, tapi kaloe djelek dalem anggepan orang, kita tida boleh berboeat. Segala perboeatan kita, orang maoe taoe dan kita berkoetik sedikit lantas orang awasin pada kita. Kalos kita, salah sedikit sadja, lantas orang koetoek kita' abis-abisan, seperti djoega orang terkenal itoe boekan menoesia djoaga, jang bisa berboeat kakliroean. Saja lebih seneng djadi itoe orang dessa jang tida terkenal, tapi boleh berboeat apa jang ia rasa baek, zonder perdoeliken 'anggepan' orang!" „Tapi kaoe toch moesti kombali,” itoe gadis berkata, tapi tida oeroeng dari matanja akoe dapet liat sari kasedihan „bikin apa kaoe di sini!”

„Saja kapingin selamanja boleh berdampingan dengen kaoe, Yin!”

Itoe gadis memandeng padakoe dengen sorot mata jang asih.

„Kaoe taoe, Yin,” akoe kata lagi dengen hati berdebar-debar, „saja kapingin seperti itoe sapasang koepoe-koepoe jang tida dapet dipisaken lagi dengen kaoe!”

la mengelah napas dan sembari toendoekin kepala ia berkata, liwat sakoetika lamanja:

„Djangan bitjara perkara itoe. Djoega saja mengharep tida laen dari begitoe, tapi tapi pengharepan seringkali tjoema impian belaka.”

„Enko John.” kamoedian ia berkata, „biarlah kita serahken diri kita pada sang nasib, tapi saja minta, kaoe seperti djoega saja, djanganlah bertindak lebih djaoe dari kita-poenja perhoeboengan sekarang ini. Biarlah kita djadi sobat, djadi soedara, tapi djangan bertindak lebih djace. Sebab, oh, saja soeda kapok dengen itoe, lantaran itoe saja sekarang teroembang-ambing sendirian di ini tempat jang soenji.”

„Lantara tjinta, Yin?”

la manggoetken kepalanja dan betkata lagi: „Saja pernah menjinta dengen satoeloesnja hati, satoe perasa'an jang boekan tersoeroeng oleh napsoe hati. Saja menjinta dengen zonder disengadja, saja menjinta zonder dibikin, itoe perasa'an dateng dengen tida dapet saja tjegah. Djoega ia menjinta saja, itoe saja taoe, tapi satoe djoerang jang sanget lebar ada mengandang di antara kita, satoe djoerang jang tida dapet kite menjebrangin.”

Itoe gadis ibrenti sabentar dan akoe menoenggoein dengen sabar iapoenja pernjata'an lebih djaoe.

„Sekarang akoe melaenken bisa merasa beroentoeng, kaloe ia di sana dengen anak istrinja poen beroentoeng, tapi saja kwatir, kerna ia dengen istrinja ada doea matiem tabeat jang sanget bertentangan. la tida bisa tjotjokin diri dengen adat istrinja dan ia ada satoe swami jang tida bisa dimengerti oleh sembarangan prempoean. la ada satoe artist dan satoe artist soesah boeat di mengerti, marika ada mempoenjai itoe kakasaran dan ka'aloesan dalem tabeatnja jang tida sembarangan orang bisa mengataoein!”

Dengen tida merasa kita soeda samps di depannja Yin Lan poenja tempat tinggal dan kita laloe berdoedoek kombali di atas itoe bangkoe mengadepin pada goenoeng Gede.

„Saja aken toetoerken saja poenja perdjalanan,” kata lagi itoe gadis, ,,tapi saja aken tida seboet nama-nama. Itoe djoega tida perloe. Tetapi jang perloe kaoe kataoein, jalah kenapa saja berada di sini, di tempat jang begini soenji. Enko John, ini tempat ada saja poenja tempat hoekoeman, tempat boeangan, kerna saja soeda diasingken oleh sanak familie dan orang jang 'sopan’.”

la brenti sabentar dan maenin lagi itoe leontine jang ia selaloe pake dan tjerita lebih djaoe:

„Di itoe kota di mana saja tinggal bersama saja poenja orang toea dan soedara-soedara saja ada mempoenjai banjak sobat, lelaki dan prempoean. Di antara marika ada satoe artist, satoe schilder jang pande. Itoe waktoe saja sendiri soeka mengambar, tapi saja moesti akoeh, iapoenja kapandean ada djao lebih tinggi dari saja, maka saja sering minta diadjarin padanja, jang ia selaloe lakoeken dengen manis boedi. „Boekan begitoe sadja, ini persobatan ada teramat kekel, hingga kita-orang sama djoega soedara poetoesan peroet, ia selaloe bersedia boeat menoeloeng saja di mana jang perloe. Saja djoengdjoeng tinggi japoenja kunst mengambar dan ia selaloe perhatiken kaperloean saja, maski jang bagimana ketjil sekalipoen.

„Lambat laoen saja mendapet taoe, jang ia tjinta saja, biarpoen dari moeloetnja belon perna oetjapken itoe perkata'an. Tapi iapoenja mata ada tjoekoep boeat saja dapet mengerti apa jang terkandoeng dalem hatinja. Dan dengen tida merasa djoega saja mendapet itoe perasa'an.

„Lama sekali kita menjimpen itoe perasa'an dengen zonder menjataken apa-apa, tapi maski bagimana djoega kitapoenja perhoeboengan tinggal sopan.

„Seringkali saja sanget merasa kasian padanja, kerna iapoenja istri, biarpoen ada satoe prempoean jang tiantik, tida bisa mengerti padanja. Satoe sama laen ada mempoenjai tabeat jang bertentangan, ia aloes, istrinja kasar. Dan biarpoen marika soeda mendapet doea anak, satoe lelaki dan satoe prempoean, saja taoe, jang ia tida hidoep beroentoeng dengen istrinja, pertjektjokan lantaran salah mengerti ampir terdjadi saben hari.

„Seperti baroesan saja soeda bilang, perhoeboengan saja dengen ia selaloe sopan, kita-poenja perasa'an satoe sama laen kita simpen seperti satoe moestika jang soetji, sampe pada satoe hari terdjadi satoe perkara jang membikin kita satoe sama laen djadi terpisah.

„Satoe pertjektjokan besar telah terdjadi di roemahnja, kerna iapoenja istri temboerosin saja, dan maski ia kerak-keroek jang iapoenja perasa'an terhadep saja boekan tersoeroesg oleh tjinta-napsoe, tetapi istrinja tida maoe mengerti. Ini hal soeda dapet didenger oleh saja poenja kadoea orang toea, jang lantas sadja maki pada saja abis-abisan. Dan dimatanja doenia jang ‘sopan’ kita ada orang-orang jang berdosa!

„Sampe sekarang saja masih tida mengerti, bagimana perasa'an jang begitoe soetji, dianggep satoe kasalahan dan kadosa'an besar, doenia tida maoe mengerti dan doenia poenja anggepan, diikaloe ada menjelip perkata'an ‘tjinta’ lantas mendoeganja pada jang boekan-boekan, pada hal-hal jang tida bagoes!

„Oleh kerna 'anggepan' orang terhadep pada hal begitoe selaloe dilebih-lebihken, maka saja djadi boeah toetoernja orang, kadoea orang toea saja ampir satiap hari omelin saja, hingga saja_merasa saja moesti menjingkir, kerna saja tida ingin, jang ia satoe kunstschilder jang terkenal nanti djadi terganggoe kahormatannja, kerna orang anggep perhoeboengan saja dengen ia ada tida bagoes.

„Kaoe ada satoe journalist, satoe djoeroe pamikir, apa kaoe djoega poenja anggepan seperti itoe orang-orang, enko John?”

Akoe berdiam sabentar dan akoe rasanja dapet mengerti doedoeknja perkara.

„Sebaliknja,” akoe djawab, „saja sendiri djoeng-djoeng tinggi perasa'an begitoe. Tjinta tida bisa ditolak, djikaloe ia soeda dateng. Perasa'an begitoe tida dateng atawa pergi menoeroet maoenja orang. Perasa'an begitoe dateng dengen tida dapet ditjegah dan bila doea hati soeda berdjoempah satoe sama laen, masing-masing mengerti dan merasaken, dengen zonder oetjapken perkata'an. Perasa'an begitoe boekan moesti dianggep satoe kadosa’an, sebaliknja, sabenernja haroes di'indahken, kerna lantaran itoe perasa'an kaoe-orang soeda korbanken diri dengen tida bertindak meliwatin wates, kerna ka‘insafan, bahoea kaoe-orang ada terpisah oleh satoe djoerang jang lebar, jang tida dapet disebrangin......“

„Kaoe bisa mengerti,” berkata poela itoe gadis, „tapi anggepannja doenia ‘sopan’ tida begitoe! Boeat iapoenja kaberoentoengan dan soepaja ia tida selaloe djadi boeah toetoernja orang, maka saja sengadja tjari pakerdja'an di sini, djaoe dari pergaoelan, djaoe dari anggepannja orang. Di sini tida ada jang bilang saja berdosa, di sini saja ada merdika, boeat siang hari malem, kenangken padanja dan berdoa soepaja ia dengen anak istrinja bisa hidoep beroentoeng.......”

Akoe liat di kadoea matanja itoe gadis ada menngembeng aer-mata, akoe djadi terharoe meliat padanja, tapi akoe tida brani menganggoe ka'ada'annja, kerna akoe anggep soetjinja perasa'an itoe.

„Maka itoe,” ia kata lagi, „bila kaoe djoega ada mempoenjai itoe perasa'an, enko John, simpangkenlah itoe. Saja soeda satoe kali terdjeroemoes dalem kaada'an begitoe, biarlah kita mendjaga sabelon itoe berdjalan terlaloe djaoe. Dan biarlah sekarang kaoe djoega djadi beroentoeng dan marilah kita djadi soedara sadja.”

Akoe tinggal bengong, tapi akoe tida bisa berkata apa² terhadep satoe gadis jang bisa bitjara begitoe, jang hormatken perasa'annja jang gaga begitoe tinggi, akoe lebih baek simpen akoepoenja perasa'an tjinta terhadep padanja dalem akoe-poenja sanoebari saoemoer hidoepkoe dengen tida ada orang jang taoe.

Akoe tida taoe pasti, bagimana perasa'annja itoe gadis sendiri terhadep padakoe, tapi waktoe besokannja akoe ambil slamet tinggal padanja, akoe menampak bebrapa boetir aer-matanja berketjilakan dari iapoenja kadoea mata jang teroes mengawasin padakoe, sampe akoe perpisah djaoe dari itoe sanatorium dan akoe merasa beroentoeng dengen itoe, kerna adalah Multatuli pernah bilang:

„Geef uw lachties aan elk dien gij minder bemint, Maar bewaar toch uw traantjes voor mij !”


HENRI BOREL

Itoe penoelis Blanda jang termashoer ada kata:
„Kembang Traté tida aken dikenalin kaloe ia tida tertoemboe dalem loempoer”.
Begitoe djoega manoesia. la baroe kataoean kasoetjiannja kaloe djoestroe berada antara kahina'an.
Satoe Prempoean tida bisa lebih dari satoe prempoean. Inilah pembatja nanti saksiken dalem:
„BIDADARI?”

IV

YIN LAN = BOENGAH KAPREMPOEANAN.

Alas, how changed was his aspect!
Gone was the glow from his cheek, and the fire from
his eye, and his footstep
Heavier seemed with the weight of the weary heart
in his bosom..

Longfellow.

PADA satoe hari akoe dipanggil oleh akoe-poenja directeur.

„Kita-poenja soerat-kabar perloe pake satoe gambar moeka jang baroe,” kata ia, ,,kaoe tjarilah satoe toekang gambar jang pande dan soeroelah bikin ontwerpnja, tapi saja maoe jang origineel.”

Toekang gambar. Di Betawi akoe tida mempoenjai satoe kenalan jang djadi toekang gambar jang pande, maka akoe bilang dengen teroes terang:

„Saja tida kenal toekang gambar, bagimana saja disoeroe boeat ini?”

„Sebab kaoe bisa lebih kasi mengerti bagimana kita poenja kainginan,” akoe poenja directeur kata lagi, „saja dapet denger di Pantjoran ada satoe toekang gambar dari Preanger, Wen-Liang namanja. Tjoba kaoe katemoeken padanja, saja denger ia ada mempoenjai itoe kapandean!”

Wen-Liang! Wen-Liang! Akoe baroe pernah denger itoe nama, tapi tida oeroeng akoe pergi djoega, a akoe tida menolak atas prentahnja akoe-poenja chef.

Akoe berdjalan ka Pantjoran, itoe bagian dari wijk dagang Tionghoa jang paling rame. Di sitoe ada banjak schildersatelier, tapi semoea jang akog soeda kenal lama, sedeng akoe moesti dapetken itoe schilder baroe dari Preanger.

Akoe menengok ka kanan kiri dan awasin saben merk, tapi tide dapet fiat merk dari toekang gambar ibaroe.

Akoe soeda merasa tjape djalan moendar-mandir di itoe straat dan berpikir hendak kombali sadja ka kantoor, koetika akoe hendak menikoeng di satoe roemah dari bebrapa loteng. Ini roemah ada satoe roemah dagang jang besar dan di saben tingkat ada laen-laen toko, begitoe di tingkatan paling bawah di'isi oleh toekang pakean, di loteng atasan oleh toekang goenting ramboet dandi loteng paling atas, di mana djendela-djendelanja ada memake katja jang poetih boerek, akoe poenja mata ketarik dengen satoe merk dengen perkala'an „Artistick Studio”. Tida bisa salah lagi itoe toekang gambar Wen-Liang bertempat di sitoe, sebab itoe merk akoe baroe dapet liat ini kali.

Akoe fantas menoedjoe ka tangga dan naek ka atas. Akoe mengetok pintoe dan sasoedanja menoenggoe sakean lama, pintoe diboeka dan saorang moeda jang berbadan koeroes dengen memake stofjas ada di hadepankoe. la memegang palet pranti adoekan tjat di tangan kirinja dan satoe penceel di tangan kanannja. Moekanja ada poetiet, ramboetnja awoet-awoetan dan matanja ada mempoenjai itoe kakoerangan sinar, jang sasoeatoe pamoeda sepantaran ia sabetoelnja moesti mempoenjai. Tapi biarpoen begitoe, ia ada satoe pamoeda jang tjakep dan laga-lagoenja kliatan tida begitoe gesit.

Ia manggoet dengen hormat, jang akoe lantas bales dengen satoe manggoetan sembari berkata: „Apa saja berhadepan dengen enko Wen-Liang?”

„Bener,” ia mendjawab, „saja Tjioe Wen-Liang, apa siangseng ada kaperleoan dengen saja?”

„Saja poenja baas soeroe saja dateng di sini,” akoe kata poela, „boeat minta toeloeng dibikinken satoe gambar moeka goena kita-poenja soerat-kabar.”

„Oh, begitoe,” ia kata sambil mengadjak akoe ka dalem, “marilah dan doedoeklah, kaloe soeka!”

Akoe moesti menjataken, jang biarpoen akoe baroe pernah katemoe dengen Wen-Liang, akoe moesti mengakoeh, jang ia ada satoe pamoeda jang manis boedi dan akoe lantas merasa soeka padanja.

Waktoe akoe bertindak masoek dalem iapoenja kamar bekerdja di mana dinding akoe dapet liat banjak gambar-gambar olieverf jang bagoes dari pemandengan natuur dan djoega dari portret-portret. Akoe memandeng lama sekali pada itoe pigoera-pigoera dan akoe moesti mengakoeh, jang Wen-Liang ada sotoe kunstenaar jang pande, begitoe hidoep dan bersoemanget ada semoea gambarnja.

Satoe gambar dari pesisir laoet menarik akoe poenja perhatian. Itoe ombak-ombak ada begitoe hidoep dan akoe merasa seperti djoega mengadepin pemandengan allam jang sabenernja.

„Ini ada satoe pemandengan dari Karang Hawoe di pesisir selatan,” ia berkata.

„Kaoe roepanja sering dan senang papergian di loear kota?” akoe menanja.

„Itoe ada, saja-poenja kasenengan satoe-satoenja!” ia djawab dan akoe merasa aneh, jang sabagi djoega romannja, begitoe poen iapoenja swara ada mengandoeng sari kadoeka'an.

„Apa kaoe banjak djoeal kaoe-poenja gambar-gambar?”

Ia mesem: „Kunst tida bisa dioekoer harganja dengen oewang,” ia kata, „saja bikin saja poenja gambar-gambar, lantaran batin saja jang menjoeroe itoe. Bila kabetoelan ada satoe kunstliefhebber, ia membelilah gambar jang di soekain. Saja sabetoelnja tida biasa membikin gambar-gambar reclame, tetapi boeat toean saja maoe tjoba bikinken, brangkali bisa menjotjokin pada toean poenja kainginan.”

Saja laloe toetoerin padanja begimane itoe gambar kira-kira, haroes dibikin, jang ia mendengerin dengen sabar.

Di satoe podjokan jang mendapet panerangan jang bagoes akoe menampak satoe standaard jang mengadep pada djendela. Itoe gambar roepanja belon rampoeng, sebab akoe liat tjat-tjat jang berantakan di sampingnja dan waktoe baroesan akoe mengetok pintoe poen roepanja Wen-Liang sedeng mengerdjaken itoe gambar.

Akoe laloe menghamperin itoe standaard atas mana ada satoe gambar jang belon rampoeng dan akoe djadi terprandjat waktoe meliat pada loekisan itoe. Zonder merasa akoe-poenja moeloet djadi terboeka dan, kloearken perkata'an:

„Yin Lan!”

Itoe gambar ada begitoe tjotjok dibikinnja, hingga akoe meliat saklebatan sadja akoe lantas dapet kenalin. Iapoenja ramboet ada rmboetnja Yin Lan, iapoenja mata jang bening ada matanja Yin Lan, idoengnja dan moeloetnja jang selaloe bersenjoem poen ada sama betoel dengen Yin Lan dan ia ada memake itoe leontine jang meroepaken doea hati jang djoega dipake oleh Yin Lan!

Waktoe akoe oetjapken namanja itoe gadis, Wen–Liang djadi terprandjat, hingga penceel jang ia pegang di tangannja djadi djato di atas djoebin. Ia memandeng padakoe dengen terlongong-longong dengen moeloet menganggah dan akoe djoega sabentar meliat pada romannja jang djadi rada poetjet dan sabentar pada itoe gambar.

„Kaoe kenal padanja?” achirnja, ia menanja dengen swara rada goemeter, menandiaken bagimana perasa'an hatinja itoe waktoe.

„Saja beroentoeng bisa berkenalan padanja,” akoe mendjawab dan dalem hatikoe lantas mendoega, bahoea adalah ini achli gambar jang ditjintain dan menjinta Yin Lan, sabagimana telah ditoetoerken oleh itoe gadis padakoe.

„Di mana, di mana sekarang ia berada?” ia berkata dan djatoken dirinja di atas satoe korsi sambil toetoep moekanja dengen iapoenja kadoea tangan, ia roepanja teringet lagi pada itoe gadis, itoe loeka dalem hatinja djadi melekah lagi dan akoe terharoe meliat padanja. Wen-Liang, saorang moeda, jang moestinja gaga dan bangga dengen iapoenja kapandean, sekarang akoe liat doedoek bongkok di sana sabagi saorang toea jang soeda poetoes harepan.

Sabenernja Wen-Liang ada akoe-poenja, saingan, kita sama-sama mentjntai itoe gadis, tapi seperti djoega ia akoe-poenja tjinta ada begitoe poetih bersih dan soetji, hingga akoe tida meliat satoe saingan dalem dirinja, terlebih poela lantaran dan insaf, bahoea ia lebih doeloe jang telah djato tjinta lebih doeloe pada itoe gadis, sedeng kita-poenja tjinta belon dibilang doea-doea tida beroentoeng.

„Bilanglah,” ia meratap lagi, „di mana ia sekarang? Soeda satoe taoen saja tjari katerangan di mana ia ada, tapi saja tida dapet taoe ia, mati atawa idoep.”

„Yin Lan sabetoelnja telah pesen pada saja,” akoe berkata dengen teroes terang, „boeat tida kasi taoe tempat tinggalnja pada siapa djoega. Dan kaoe taoe, satoe gadis seperti ia kita moesti indahken pesenannja.”

„Tapi ia toch masih hidoep dan apa ia beroentoeng?” ia menanja lagi.

„Yin Lan hidoep seperti mati..... dan beroentoeng, oh, ia selaloe masih inget pada kaoe!”

Romannja Wen-Liang kliatan tida begitoe poetjet lagi seperti tadi, perkata'an jang ia oetjapken kamoedian djoega tida begitoe bergoemeter lagi.

„Bagimana kaoe bisa taoe, jang ia tida loepaken padakoe?” ia menanja lagi.

„Ia jang tjeritaken padakoe.” akoe mendjawab dengen sedjoedjoernja, „dan ia harep kaoe beroentoeng!”

„Yin Lan, Yin Lan!” berkata itoe toekang seperti saorang diri dan mendeketin pada gambarnja Yin Lan jang ia pandeng dengen mata tida berkesip, „bagimana saja bisa beroentoeng dengen zonder kaoe! Saja tjilaka dan ini saja moesti alamken sampe saja meninggalken ini doenia, Yin! Oh, bagimana kakwasa'an manoesia biarpoen bagimana besar, bisa pisahken kita poenja doea hati. Kita djaoe terpisah satoe sama laen, tapi kita-poenja hati selaloe deket, dan kaloe menoesia maoe pisahken kita sama sekali, orang moesti tjopotin doeloe itoe hati dari dadakoe!” Ia berkata begitoe sembari menoendjoek pada betoelan djantoengnja.

„Kaoe taoe,” ia kamoedian berkata padakoe, ini gambar saja bikin zonder memake tjonto. Apa? Zonder pake tjonto! Tida, toch pake tjonto, itoe tjonto ada teroekir dalem hatikoe dan tida bisa terpoetoes sampe saja mati!”

Akoe merasa kagoem dengen kapandeannja Wen-Liang. Tapi, ja, romannja Yin Lan ia bisa petahken di atas itoe kaen poetih sama dengen orangnja dengen zonder model atawa tjonto, tapi laen orang poenja roman belon tentoe ia bisa petahken model begitoe tjotjok. Ini menandahken kombali bagimana besar pengaroenja tjinta, tjinta djoega bisa menimboelken satoe kunst jang loear biasa.

„Soeda lama kaoe kenal Yin Lan?” achirnja ia menanja padakoe.

„Saja kenal padanja dengen tjara kabetoelan,” akoe djawab, „saja moesti menjataken, ia ada satoe gadis jang manis dan saja kasian dengen iapoenja penghidoepan jang tida beroentoeng, sampe sekarang ia belon menikah!”

„Ja,” Wen-Liang mengelah napas,” itoe semoea ada saja-poenja gara-gara. Kenapa saja boleh djato tjinta padanja dan kenapa saja tjoeri hatinja, sedeng saja soeda poenja anak istri, saja berdosa, saja bersalah, tapi oh, kaloe kaoe taoe!”

Akoe liat jang aer matanja Wen-Liang djadi mengembeng.

„la tentoe koetoek pada saja,” ia berkata lagi, „ia tentoe sekarang bentji pada saja. Oh, sabenernja boeat apa saja moesti hidoep dengen membawa satoe perasa'an jang begitoe berat, bahoea saja berdosa terhadep pada dirinja satoe gadis seperti ia, seperti Yin Lan!”

„Kaoe kliroe, sobat!” akoe kamoedian berkata, „ia tida salahken kaoe. Satoe gadis seperti Yin Lan poenja tabeat tida bisa menjalahken laen orang. la taoe jang perasa'an begitoe dateng sendiri dengen tida dapet orang tjegah, kaoe orang soeda djadi permaenannja nasib jang djail, tapi saja taoe jang kaoe orang poenja perhoeboengan selaloe berdjalan sopan. la tida bentji, tapi masih teroes menjinta pada kaoe dalem sanoebarinja, ia pikoel iapoenja kasengsara'an hati sendirian zonder bengeloeh dan zonder menjelahken pada laen orang. la sekarang djaoe dari antara kita, djaoe dari boeah toetoernja orang, lida menoesia jang djahat tida dapet mengenaken lagi dirinja, ia ada di antara itoe oetan dan goenoeng-goenoeng jang gagoe......“

Akoe toendoekin akoe-poenja kepala dan lajangken akoe-poenja pikiran ka itoe tempat djaoe di pegoenoengan jang akoe telah alamken beserta ia.

Kamoedian ia berdiri dan menoedjoe ka satoe medja. la tarik satoe latji dan ambil satoe boengkoasan ketjil. la boeka itoe dan akoe dapet liat bebrapa lembar ramboet jang item.

„Liat!” ja kamoedian oendjoekin padakoe, „ini ada tanda matanja Yin Lan, ini ada iapoenja ramboet jang ia tinggalin boeat saja jang saja selaloe simpen sabagi satoe barang, moestika jang mahal.”

la menoendjoek pada itoe leontine dan berkata: „Itoe ada tanda mata dari saja, bilanglah waktoe kaoe bertemoe padanja, apa ia masih pake itoe barang?”

„la selaloe pake itoe,” akoe mendjawab dan moesti mengakoeh, bahoea di sini akoe boekan berhadepan dengen satoe perasa'an tjinta jang sembarangan orang gampang oetjapken, tapi satoe perasa'an jang soetji dan tida bisa dipisahken lagi, maski itoe doea orang jang menjinta satoe sama laen terpisah riboean paal atawa masing-masing di tepioedjoeng doenia poenja dijace.

Wen-Liang kliatan bergirang, kamoedian ia angsoerken tangannja padakoe sembari berkata:

„Saja maoe pertjaja, jang kaoe ada sobatnja Yin Lan dan Yin Lan tida sembarangan anggep orang sabagi sobatnja. Kerna begitoe anggeplah djoega saja sabagi kaeo-poenja sobat, jang saja bisa toempahken saja-poenja perasa'an dan resia hati, kerna tjoema kaoe jang saja baroe taoe katemoe, tapi soeda mengerti, bahoea perasa'an saja terhadep Yin Lan boekan ada satoe kadosa'an! Tapi brapa banjak orang jang bisa mengerti itoe, semoea orang anggep saja saorang jang tida taoe diri, toekang permaenken gadis orang, marika tida maoe mengerti kasoetjiannja saja poenja perasa'an. Apa jang doenia sopan namaken ‘tjinta’ itoe tjoema maoe diartiken pada hal jang kotor dan kaloe orang bisa oempetken resia dan tida oendjoek perasa’an hatinja terhadep laen orang. Kaloe orang melakoeken perboeatan-perboeatan boeroek dengen mengoempet di matanja orang, ini doenia sopan tida anggep dijelek. Tapi djanganlah kita oendjoek kita-poenja perasa'an jang poetih bersih dengen teroes terang seperti sekarang saja bitjara pada kaoe, pasti kita aken dikoetoek dan ditjatji!”

Akoe moesti mengakoeh kabenerannja Wen-Liang poenja omongan. Doenia jang dinamaken sopan anggepannja seringkali terbalik dan soeka didjoestaken. Doenia jang sopan lebih indahken orang poera-poera alim, tapi perboeatannja boesoek, teroetama kapan ia ada saorang jang banjak oewang, dari pada orang jang oendjoek perasa'an dengen teroes terang. Doenia anggep orang laki jang koetjoerken aer mata boeat tjinta ada satoe lelaki gedjos, satoe lelaki lemah, orang lelaki maloe boeat koetjoerken aer matanja boeat itoe, ampir tida satoe orang jang bisa hargaken itoe perasadan aloes jang ada dalem dadanja satoe orang dalem ka'ada'an begitoe. Tjinta dalem anggepannja orang-orang jang ‘sopan ampir sama tingkatannja dengen pergaoelan antara lelaki dan prempoean soendel dan doenia’ tida mengerti adanja itoe tjinta antara lelaki dan prempoean, soepaja satoe sama laen beroetoeng maskipoen tida berdjodo djadi swami istri, seperti perhoeboengannja Wen-Liang dan Yin Lan. Tapi pergaoelan jang sopan tida maoe mengerti dengen itoe, maka sekarang! ini doea machloek jang soeda tida beroentoeng diadi kapoenja'annja masing-masing moesti terpisah satoe sama laen, jang satoe tetoembang-ambing di antara tempat jang soenji, jang laen selaloe mengharep-harep seperti orang mengharep datengnja emboen tengari.”

Waktoe akoe berpamitan, akoe tanja djoega pada Wen-Liang, di mana ada iapoenja tempat tinggal, soepaja tempo-tempo akoe bisa koendjoengken padanja.

„Kaoe taoe," ia berkata koetika akoe sampe di pintoe,” Yin Lan tjoema ada satoe nama seboetan!”

„ltoe saja soeda doega,” akoe djawab, „soekalah kaoe bilang, siapa namanja jang aselih dan kenapa ia diseboet Yin Lan?”

„Iapoenja nama jang betoel Hetty Thio,” ia kata poela, „ia doeloe sekola di Tiong Hoa Koan dan pande djoega bahasa Inggris. Itoe nama Yin Lan saja jang beriken, sebab saja anggep, ia ada djadi tboenganja(Lan) dari menoesia(Yin Sifat prempoean). Ini ada berhoeboeng dengen iapoenja tabeat jang soeka menoeloeng sasama menoesia!”

Kita orang berpisa'an sabagi sobat, sedeng toch sabenernja kita ada doea saingan.

V

DOEA MATJEM TABEAT.

„Ik heb de menschen in al hun leed bestudeerd; misplaatsing, dat was de groote bron van hun ellende. Wat niet samenhoorde moest samenzijn, en wat bij elkaar paste werd uit elkaar gerukt of kon niet èèn worden”.

„Saja soeda perhatiken menoesia dalem segala kasengsara'an hatinja. Tida ada katjotjokan, itoelah jang djadi soember dari marika poenja kadoeka'an.
Apa jang tida tjotjok satoe sama laen dapet bersatoe, apa jang moestinja tjotjok dibeset satoe sama laen atawa tida dapet djadi satoe.”

A. S. C. Wallis.

WEN-LIANG telah menikah dengen istrinja, Koei-Nio, lanteran itoe Keetika, dan sasoedanja mempoenjai doea anak djoega, Koei-Nio ada satoe prempoean jang tjantik. Itoe toekang gambar begitoe tertarik oleh katjantikannja Koei-Nio, matanja saolah-olah djadi boeta dan pikirannja djadi gelap. Sabagi saorang moeda jang tida mempoenjai pengalaman, itoe koetika Wen-Liang pandeng dan anggep Koei-Nio dari bagiannja jang bagoes sadja. Ia kira ia tjinta pada itoe prempoean, tapi sabetoelnja ia boeta oleh kaeilokannja Koei-Nio.

Begitoe memang soeda biasanja dengen orang-orang moeda, marika gampang bitjara perkara tjinta, tapi sabetoelinja marika melaenken silo kasorotan kaeilokan, hingga tida dapet memperhatiken laen-laennja dari itoe prempoean jang ia pangenin. Tentang tabeat dan boedi pekertinja itoe waktoe orang tida bisa dan tida pikir boeat oekoerin, tjotjok tida dengen dirinja. Sedeng di dalem pernikahan adalah paling perloe boeat kaberoentoengannja roemah tangga, katjotjokan dan saling mengimbangin masing-masing poenja tabeat! Dan jang paling teroetama, adalah mempoenjai tjara memikir jang bersama'an, kerna di dalem penghidoepan ada begitoe banjak soeal jang haroes dipikir dan bila pokonja soeda tida tjotjok, maski begimana djoega ini selaloe aken djadi soembernja pertjektjokan!

Wen-Liang poenja tabeat ada bertentangan dengen istrinja. Boekan hendak dibilang, jang tabeatnja Koei-Nio ada koerang baek. Ia brangkali aken djadi satoe istri jang baek, bila mempoenjai swami jang tabeatnja laen dari Wen-Liang dan Wen-Liang djoega sebaliknja, sebab pepatah ada bilang: „goede vrouwen worden gemaakt, niet geboren” (Tida ada prempoean jang dilahirken sabagi istri jang baek, marika moesti dibikin djadi istri jang baek). Tapi Wen-Liang tida dapet membikin Koei-Nio djadi istri jang baek dan Koei-Nio sebaliknja djoega tida bisa bikin swaminja soepaja djadi satoe swami jang menoeroet iapoenja ideaal, kerna satoe sama laen tida bisa saling mengerti, saolah-olah dari doea matjem adonan jang sanget bertentangan. Ia soeka menoeloeng pada sesama jang berada dalem kasoekeran, istrinja pandeng itoe tida bergoena, kerna orang haroes menoeloeng lebih doeloe dirinja sendiri. Wen-Liang soeka dengen kasoenjian, istrinja dengen karamean, ia gampang mengampoenin laen orang poenja kasalahan, istrinja dendem teroes dan begitoe sateroesnja marika poenja tabeat djadi tida tjotjok sama sekali, dan pertjektjokan ampir terdjadi satiap hari.

Pada satoe hari Wen-Liang poelang dari iapoenja tempat kerdja dengen pengrasa‘an sanget lelah. Itoe hari ia bekerdja dengen tida mengenal tjape, kerna ia baroe bikin abis satoe pigoera jang dipesen oleh saorang hartawan. Maskipoen begitoe ia merasa girang, kerna ia mempoenjai kapastian, jang dengen mendjoeal itoe pigoera ia bisa toetoep ongkos roemah tangga boeat bebrapa boelan lamanja.

Koetika Wen-Liang masoek dalem roemahnja, kaada'an sanget soenji, istrinja tida ada di roemah dan melaenken ada iapoenja anak prempoean sadja, Rosa, jang soeda beroesia 10 taoen, sedeng iapoenja anak jang ketjilan, Hong-Sian, sedeng tidoer dengen njenjak di atas divan.

„Mana iboemoe, Rosa?” menanja Wen-Liang, sambil oesap-oesap ramboetnja itoe anak.

„Mama ada di roemah oewa Beng,” saoet itoe anak, „apa papa soeda makan?”

„Soeda lama mamamoe pergi di sana, Rosa?” tanja lagi itoe ajah dengen pengrasa'an tida enak, sebab ia taoe di roemahnja oewa Beng sering kaoem prempoean berdjoedi.

„Dari pagi!” saoet itoe anak dengen sabenernja.

Wen-Liang poenja tindakan djadi semingkin lesoe, koetika ia pergi di medja makan dan dapetken di sitoe melaenken nasi pagi jang soeda keras dan bebrapa barang makanan jang soeda dingin.

Tapi kerna peroetnja merasa lapar, ia laloe dahar djoega, tapi ia tida bisa makan banjak. Sabentar-betar kliatan ia goleng kepala dan ia semingkin merasa tida beroentoengnja iapoenja pernikahan.

„Koei-Nio, Koei-Nio!” ia berkata dengen plahan saorang diri, „kaoe ternjata tida perdoeliken segala saja poenja perminta'an. Berkali-kali saja soeda minta, soepaja kaoe tida berdjoedi, tapi saben poelang kaoe tida ada di roemah.”

Pikiran itoe swami jang tida beroentoeng djadi melajang dan ia teringet pada Yin Lan. Oh, bagimana manisnja kaloe Yin Lan djadi istrinja. Yin Lan selaloe bisa mengerti iapoenja kainginan. Dan waktoe Yin Lan masih tinggal deket dengen ia, seringkali djikaloe istrinja tida ada di roemah, Yin Lan kirimken makanan boeat ia dan selaloe bisa menghiboerken hatinja jang pepet dengen omongannja jang manis boedi. Tapi itoe melaenken ada satoe kenangan belaka jang tida dapet diwoedjoedken!

Di waktoe soré istrinja poelang dan Wen-Liang lantas dapet liat, jang istrinja kalah berdjoedi, sebab romannja ada goerem dan kliatannja oering-oeringan.

„Apa kaoe ada doeapoeloe lima perak doeloean?” tanja Koei-Nio achir-achirnja pada iapoenja swami.

„Boeat apa kaoe cewang begitoe banjak, kemaren doeloe saja baroe kasi sapoeloeh roepia,” kata Wen-Liang dengen pengrasa’an mendongkol.

„Saja ada poenja ocetang pada njonja Tjay-Seng jang moesti dibajar,” saoet itoe istri.

„Oetang apa begitoe banjak?” tanja lagi WenLiang dengen djengkel.

„Kaoe kenapa boleh tanja begitoe melit,” saoet Koei-Nio, „apa kaoe tida pertjaja sama saja, saja poenja oetang tentoe boeat kaoe gegares!”

„Ini hari saja tida ada oewang begitoe banjak,” saoet itoe toekang gambar, „kaoe tentoe taoe, kita boekan orang jang hartawan. Saja kira kaoe pake itoe oewang boeat berdjoedi!” „Kaloe kaoe tida maoe saja berdjoedi,” saoet lagi itoe istri jang bandel, „kaoe moesti bisa tjoekoepin sama saja. Kasi saja pake tjoekoep seperti laen orang dan tida moesti gade-mengade saja poenja barang!”

Wen-Liang tida berkata apa-apa lagi. ia taoe kaloe ia ladenin istrinja tentoe aken djadi persetorian, maka ia laloe pake-pakean dan pergi ka loear. Di roemah istrinja masih mengomel pandjang pendek, sedeng Rosa dan Hong-Sian tida terloepoet dari makian.

Sasoedanja kenjang mengomel, Koei-Nio laloe berdoedoek di pekarangan depan dan tekoek moeka.

Dari pekarangan depan kliatan saorang moeda dengen memake openjas Soetoantioe dan topi vilt bertindak masoek.

„Hola, Koei,” kata itoe pamoeda, jang ternjata ada Tjoe-Soei, satoe antara bekas kawan sekolahnja Koei-Nio, „ada apa kaoe doedoek terpekoer begitoe?”

„O, kiranja kaoe, Soei,” dan medadakan romanja Koei-Nio djadi bergirang, „doedoeklah!”

Itoe pamoeda lemparken topinja dan ambil tempat doedoek. Tjoe-Soei ada satoe antara kawannja Koei-Nio waktoe masih di bangkoe sekolah. Soeda sadjek itoe waktoe Tjoe-Soei harep Koei-Nio bisa djdi istrinja, tapi kerna itoe waktoe orang toeanja Tjoe-Soei jang beradat koeno sanget tida setoedjoe pada Koei-Nio, maka itoe perhoeboengan soeda poetoes satengah djalan, tapi maski begitoe Tjoe-Soei dalem dasar hatinja masih menjintain pada Koei-Nio. Wen-Liang kasi kamerdika'an saloeasnja pada iapoenja istri aken bergaoelan pada siapa jang ia soeka demikian djoega segala soerat-soerat boeat istrinja ia belon pernah boeka atawa liat. Pendek Koei-Nio mendapet kamerdika'an loeas, jang satoe istri Tionghoa tida sembarangan dapet.

Wen-Liang pertjaja pada istrinja dan ia beriken kalaloeasa'an pada istrinja aken bergaoel dan toelis menoelis soerat setjara sopan pada bekas temen sekolanja. Tetapi Koei-Nio tida mengerti kabaekan dari swaminja, ia anggep jang Wen-Liang takoet padanja, maka ia djadi begitoe kolokan dan berlakoe bengis terhadep swaminja. Sedeng Wen-Liang beriken kamerdika'an sapenoehnja adalah sebaliknja dengen Koei-Nio jang sanget besar tjemboeroeannja, ia selaloe maoe taoe ka mana Wen-Liang pergi dan tida djarang soerat-soeratnja Wen-Liang djoega ia maen boeka sadja.

Perhoeboengannja Wen-Liang dan Yin Lan poen sabetoelnja ada lantaran gara-garanja Koei-Nio. Wen-Liang dan Yin Lan bermoela berhoeboengan tida lebih dari sobat atawa soedara, betoel marika poenja perhoeboengan sanget kekal, tapi perasa'an tjinta satoe sama laen seperti lajiknja antara prempoean dan lelaki tida ada. Satoe sama laen saling indahken, tapi perhoeboengannja tida lebih dari satoe persobatan jang kekel."

Tapi ini soeda menerbitken kagoesarannja Koei-Nio. Begitoelah lantaran merasa sanget marah, Koei-Nio soeda tjeritaken di loearan dan pada segala sobat-sobatnja, bahoea iapoenja swami telah bertjinta'an pada Yin Lan. Ini omongan pindah dari satoe moeloet ka laen moeloet sampe terdenger oleh ajah iboenja Yin Lan, jang pasti sadja sanget goesar pada gadisnja. Dan kerna itoe omongan soembernja kloear dari istrinja Wen-Liang sendiri, tentoe sadja semoea orang djadi pertjaja.

Begitoelah Yin Lan moelai terasing dari pergaoelan kawan-kawannja, oleh orang toeanja ia diperlakoeken sabagi anak tiri dan dari sinilah moelanja itoe perasa'an dari Wen-Liang berobah djadi merasa tjinta pada itoe gadis, jang ia anggep kerna gara-gara ia djadi terasing oleh sanak familie dan sobat-sobatnja.

Ini kadjadian telah menganggoe djoega nama baeknja Wen-Liang. Itoe omongan semingkin lama semingkin dilebihken, orang anggep jang Wen-Liang djadi toekang ganggoe anak istri orang dan inilah djoega jang menjebabken di waktoe jang blakangan pakerdja'annja ampir tida ada jang maoe beli.

Oleh kerna di roemah ia selaloe dimoesoehken dan djoega oleh orang loear ia dianggep satoe gadis jang bengal, maka pada satoe malem Yin Lan telah melariken diri, kerna ia tida tahan pada segala otjehan dan toedoehannja orang jang boekan-boekan.

Boeat samentara waktoe orang toeanja Yin Lan tjari padanja di sana sini, tapi sasoedanja sakean lama marika anggep itoe gadis soeda mendjalanken hal-hal jang tida bagoes, maka Yin Lan tida ditjari lagi.

Djoega Wen-Liang dengen diam-diam telah tjari taoe, di mana itoe gadis berdiam, tapi tida bisa dapet taoe sampe itoe hari akoe telah kabetoelan bertemoe dengen ia.

Yin Lan telah tida pake lagi nama Hetty, jang ia dapet dari orang toeanja, tapi saterossnja ia goenaken itoe nama dari orang jang ia tjinta, Yin Lan!

„BIDADARI?”
Toenggoelah terbitnja!

VI
SEMINGKIN KOESOET.

Roemah tangga jang roekoen ada seperti sorga,
Tapi jang selaloe setori ada saoepama noraka,
Sebagi mata-hari selaloe tertoetoep mega,
Sabentar terang, tapi kaberesannja langka!


KOEI-NIO laloe soegoehken Tjoe-Soei koewe-koewe dan thee dan melajanin padanja begitoe manis boedi, satoe hal jang ia djarang lakoeken terhadep pada swaminja.

„Soenggoe ini hari saja liat kaoe poenja roman tida seperti sari-sari, Koei,” kata Tjoei-Soei sembari memandeng pada moekanja itoe bekas kawan sekola, roepanja ada apa-apa jang menerbitken kaoe-poenja kadoeka'an. Apa saja poenja kadatengan brangkali tida disoeka lagi oleh kaoe?”

„Kaoe djangan bilang begitoe,Soei,” saoet Koei-Nio, „kaoe pertjaja, jang kaoe-poenja kadatengan selaloe mendjadi saja-poenja hiboeran. Saja soeda tjeritaken sampe abis pada kaoe, tentang saja-poenja pernikahan dengen Wen-Liang, hingga saja tida oesa moesti oelangken kombali.”

„Kaoe dapet setori lagi dengen swamimoe?” tanja lagi itoe pamoeda.

Koei-Nio berdiam dan tjoema manggoetken kepalanja.

„Bagimana bisa begitoe selamanja,” kata lagi Tjoe-Soei dengen pengrasa'an kasian terhadep pada itoe bekas temen sekolah jang ia masih tetep tjintain, satoe hari roekoen, doea hari setori. „Apa toch sabenernja jang diboeat setoni, kaoe-orang sapantesnja moesti hidoep dengen roekoen dan beroentoeng!”

„Kaoe belon pernah beroemah tangga,” kata Koei-Nio lebih djaoe. „mana bisa kata begitoe. Pernikahan kaloe soeda dasarnja teroesak, biar diberesken bagimana, tapi pertjoema sadja!”

„Toch kaoe menikah dengen ia boekan atas paksaannja orang toea, Koei,” kata itoe pamoeda kombali.

„Betoel, tapi kita-poenja tabeat sanget bertentangan, kita satoe-sama-laen selaloe salah mengerti!”

„Tapi djikaloe kaoe-orang soeka mengimbangin satoe-sama-laen dan saling mengalah, saja rasa, itoe ka'ada'an bisa diperbaekin,” kata lagi Tjoe-Soei, „kaoe taoe, Koei, saja selamanja mengharep kaoe-poenja kaberoentoengan!”

Koei-Nio goleng kepala dan berdiam. Liwat bebrapa sa'at baroe ia berkata lagi:

„Itoe djoega saja selaloe tjoba boeat imbangin dengen adatnja saja poenja swami, tetapi ada satoe hal jang selaloe djadi gandjelan hati dan ini saja tida bisa loepaken!”

Tjoe-Soei kliatannja merasa heran atas perkata'annja Koei-Nio jang paling blakang, maka ia menanja lebih djaoe:

„Dan apa saja boleh taoe apa jang selaloe djadi kaoe-poenja gandjelan terhadep kaoe-poenja swami?”

Sakoetika lamanja Koei-Nio tida berkata-kata, tapi kamoedian moeloetnja terboeka dan kloearken swara plahan jang menjeboet nama: „Hetty!”

Tjoe-Soei taoe apa jang di loearan orang omongken tentang perhoeboengannja Wen-Liang dengen Hetty. Ia sendiri tida taoe sampe brapa djaoe kabenerannja itoe omongan, kerna ia kenal Wen-Liang ada saorang pantes dan berpikiran loeas. Tapi boeat menghiboerken hatinja Koei-Nio, ia berkata:

„Kaoe djangan telaloe pertjaja orang poenja moeloet, Koei, moeloet orang memang selaloe maoe mendjelekin dan segala apa soeka di lebih-lebihken. Itoe orang-orang soeka anggep dirinja djempolan, djikaloe soeda bisa karang satoe tjerita djoesta boeat mendjelekin sasamanja. Lagi toch biar bagimana kekel djoega Hetty dan Wen-Liang pernah bergaoel, ia orang belon pernah meliwat dari garis kasopanan dan Hetty sendiri toch sekarang soeda tida ada di sini.”

„Kaoe belon taoe semoea, Soei,” kata Koei-Nio dengen lebih bernapsoe, „sampe sekarang Wen-Liang ternjata masih tjintain itoe gadis!”

„Bagimana kaoe bisa taoe?”

„Sebab koetika saja pergi di iapoenja tempat bekerdja, di sitoe saja dapetken gambarnja itoe prempoean tjilaka dengen dipakein lijst jang bagoes dan itoe gambar saben hari ia taroken boenga-boenga sebagi lakoenja saorang edan!”

Tjoe-Soei tida dapet berkata apa-apa lagi, tetapi apa ia sendiri poenja pengrasa'an terhadep Koei-Nio, jang malahan soeda djadi istrinja orang, ada berbeda dengen Wen-Liang? Djoega ia masih simpen itoe perasa'an di dalem hatinja, tjoema sadja sabagi saorang sopan, ia bisa simpangken itoe perasa'an djadi perasa'an persoedara'an. Tapi apa Wen-Liang djoega tida sabagi ia? Dan apa satoe pengrasa'an jang begitoe soetji jang orang korbanken boeat koeboer dalem hatinja ada satoe perasa'an jang berdosa? Tida, tida, ia sendiri anggep lelaki jang bisa berboeat
begitoe ada satoe lelaki jang haroes di'indahken, kerna marika bisa singkirken segala kanapsoean jang perasa'an demikian ada membawa.

Koei-Nio kliatanja bitjara semingkin sengit, malah dalem iapoenja kasengitan itoe ia berkata: „Saja kepingin boenoeh sadja itoe prempoean doerhaka!”

„Kaoe djangan toeroetin sadja kaoe-poenja napsoe hati, Koei,” menasehatken Tjoe-Soei, „segala perkara jang soeda liwat moesti diloepaken dan dima'afken. Itoe gadis dan djoega swamimoe belon tentoe begitoe salah, seperti jang dalem kaoe poenja kagoesaran kaoe bisa toedoeh. Laginja saja sebagi kaoe-poenja sobat selaloe harepken kaoe-poenja kaberoentoengan dan seperti saja soeda sering bilang, saben waktoe saja selaloe bersedia boeat menoeloeng pada kaoe di mana jang perloe!”

„Apa kaoe poenja perasa'an terhadap saja masih seperti doeloe, Soei?” tanja Koei-Nio, „apa kaoe masih soeka trima saja, biarpoen saja soeda djadi iboe dari doea anak, djikaloe oepamanja saja terpaksa moesti berpisahan dengen Wen-Liang?”

Tjoe-Soei kliatan sanget bergirang. Matanja djadi bersinar terang, apatah sasoedanja menoenggoe sakean lama baroe bisa berwoedjoed iapoenja pengharepan boeat dapetken dirinja Koei Nio?

„Saja-poenja perasa'an tida berkiser barang sedikit, Koei, tjinta saja terhadep kaoe tida dapat dilinjapken dan apa kaoe djoega masih tetep menjinta pada saja?”

Koei-Nia tida menjaoet, tapi memandeng dengen sorot mata jang mengandoeng arti pada itoe pamoeda.

Tjoe-Soei dapet tebak apa jang hendak dioetjapken oleh Koei Nio, dengen tida terasa ia soeda pegang orang poenja tangan jang aloes. Ia soeda djendrongken moekanja boeat beriken Koei-Nio satoe tjioeman, tapi dengen aloes Koei-Nio menolak.

„Tida, tida,” ia berkata dengen plahan, „sekarang tida, soepaja saja tetep dapet mengindahken kaoe, djangan berboeat begitoe. Nanti. . . . . . . . . nanti . . . . . . . . . brangkali!”

Djikaloe Tjoe-Soei memaksa bisa djadi jang Koei-Nio lantas berbalik bentji padanja, sebab maskipoen bagimana keras djoega adatnja Koei-Nio, tetapi di dasar hatinja ia ada satoe prempoean baek jang bisa dipertjaja. Tjoe-Soei poen taoe ini tabeat dari Koei-Nio, maka ia tida bisa berboeat laen dari pada berdoedoek kombali dan bitjaraken laen-laen oeroesan.

Sasoedanja kenjang tjerita ka Barat ka Timoer. Tjoe-Soei berpamitan dan Koei-Nio tinggal doedoek dengen ngelamoen.

„Tabeatnja Wen-Liang biar bagiman djoega tida bisa dirobah,” mengrendeng ia dengen sendirian, „ia tjinta itoe prempoean doerhaka dan orang sabagi Wen-Liang, djikaloe soeda tjinta, ia aken menjinta djoega sampe mati. Apa saja moesti minta bertjaré sadja dari ia?”

Koei-Nio berdiam sabentaran dan berkata lagi dengen saroang diri:

„Dengen Tjoe-Soei roepanja saja bisa lebih beroentoeng, sebab Tjoe-Soei orangnja taoein saja-poenja adat, tida seperti Wen-Liang jang tida begitoe openin pada pada saja. la tida laen dioeroesin tjoema gambar dan lagi sekali gambar!”

Sedeng Koei-Nio lajangken pikiran begitoe, iapoenja anak Hong-Sian kloear dari dalem dan menglendot di pangkoeannja. Kamoedian itoe anak minta makan, membikin Koei-Nio djadi djengkel pada itoe anak, jang ia anggep menggoda sedeng ia enak lajangken pikirannja.

„Minta sama kaoe-poenja entji!” ia berkata dengen bengis dan dorong itoe anak dari dirinja.

„Entji masih bikin iàpoenja huiswerk„ kata itoe anak.

Koei-Nio djadi mengomel pandjang pendek dan kaokin Rosa, saepaja kasi makan pada adenja.

„Maoe djadi apa kaoe!” memaki Koei-Nio pada anaknja jang besaran, „soeda begitoe besar tida bisa oeroes adé, nantinja kaos brangkali seperti si Hetty, itoe gadis jang namanja sadja gadis!”

Teroes ia mengomel pandjang pendek, hingga Rosa tjoema bisa koetjoerken aer-mata, tida taoe ia sabetoelnja dimaki lantaran salah apa. Sasoedanja kenjang memaki, Koei-Nio berdjalan kloear dan pergi kombali di roemahnja oewa Beng boeat tjoba lagi peroentoengannja di lapangan perdjoedian.

Itoe soré Wen-Liang telah dateng di akoe-poenja roemah. Iapoenja roman sanget koesoet dan tindakannja lesoe. Akoe soeroe ia berdoedoek dan soegoehken satoe glas limonade.

„Saja maoe ada perminta'an,” ia moelai berkata, „belon taoe, apa kaoe bisa loeloesken!”

Akoe mengawasin padanja dengen sorot mata menanja. Ia kloearken satae enveloppe dari kantongnja, kamoedian ia berkata lagi:

„Toeloeng sampeken ini soerat pada Yin Lan. Saja tida maoe memaksa boeat dapet taoe di mana ia sekarang berada. Soeda tjoekoep, asal saja taoe ia ada dalem kaslametan. Seperti kaoe liat, ini enveloppe belon ditoelis adresnja, toeloenglah toelisken adresnja dan toeloeng masoekin sekalian dalem bus, postzegelnja soeda ditempelken di sitoe!”

Dengen heran akoe mengawasin pada itoe toekang gambar, iapoenja perasa'an roepanja ada sanget aloes dan soetji. Ia tida maoe memaksa boeat dapet taoe adresnja Yin Lan, satoe tanda jang ia indahken pesenannja itoe gadis. Ia sabenernja akoe-poenja saingan, akoe djoega menjintaken itoe gadis, tapi tida oeroeng akoe ambil itoe enveloppe dari tangannja.

„Baek,” akoe djawab, „ini soerat aken sampe pada adresnja jang betoel, kaoe djangan kwatir!”

„Trima kasi! Trima kasi” Wen-Liang berseroe dengen sorot mata girang, „saja tida taoe, bagimana saja moesti bales kaoe-poenja boedi!”

Kamoedian Wen-Liang berpamitan dan akoe mengawasin iapoenja tindakan jang lesoe dan goleng kepala. Sasampenja di roemah kombali Wen-Liang tida dapetken istrinja dan waktoe ia pergi di medja makan, seperti biasa ia poen tjoema dapetken nasi dan makanan jang soeda dingin. Bagimana perasa'annja satoe swami dalem ka'ada'an begitoe, pembatja bisa bajangken sendiri.


„BIDADARI?”
Ditoelis oleh „Anak Pedoesoenan”, tapi boekan
„Anak Doesoen” dengen patjoel goang!
Hanja dengen pena jang aloes dan tadjem.

VII

LIDA BERATJOEN.

„Men zegt” is de ellendigste lafhartigste kwaadsprekery.


DJIKALO akoe inget pada Yin Lan, akoe djadi moesti hoeboengken dirinja sabagi itoe gadis Cateau dari Multatuli poenja Minne-brieven, satoe gadis jang djoega moesti terloenta-loenta lantaran djadi korban dari lida-lida beratjoen jang memboesoekin dan mempitenah dirinja zonder alesan, tjoema kerna memang soeda djadi tabeat menoesia boeat mendjelekin laen orang, sabenernja terdorong oleh itoe ka'ada'an jang boesoek dari dirinja sendiri, djadi saolah-olah dengen memboesoekin laen orang dapet ditoetoep kaboesoekannja sendiri.

Satoe antara tempat, di mana sasoeatoe roemah tangga tida terloepoet dari persenan jang beroepa satoe kadjelekan, adalah roemahnja oewa Beng. Di sitoe tiap hari berkoempoel oewa-oewa, entjim-entjim dan entji-entji boeat tangkep oedang di atas tiker. Marika kliatannja oeplek sekali, matanja terpoeter-poeter sembari mengedoek sang kartoe, sedeng dari marika poenja moeloet tida laen jang dibitjaraken tjoema laen orang poenja kadjelekan dan kaboesoekan.

Oewa Beng ada mempoenjai satoe gadis, Hiang-Nio, jang saolah-olah satoe boenga mawar jang di tempatken dalem satoe pot jang djelek. Boeat iapoenja oesia 18 taoen Hiang-Nio boleh dibilang ada satoe gadis jang eilok, selaloe manis boedi dan tida soeka toeroet tjampoer dalem itoe perlomba'an saling mendjelekin laen orang. Semalah tempo-tempo ia rasaken koepingnja pengeng, kaloe sedeng diomongin kadjelekannja si A. atawa si B. Baek djoega Hiang-Nio ada mempoenjai satoe pikiran jang terang dan satoe tabeat jang aloes, bila tida pasti ia sendiri soeda djadi satoe pendjoedi besar, tapi selaennja dari melajanin dan soegoehken kopi pada orang-orang jang berdjoedi di roemahnja, Hiang-Nio liwatken temponja dengen membatja boekoe.

Koei-Nio baroe sadja poelang dan itoe kali kombali ia dapet kakalahan besar, ia berlaloe dari sitoe dengen moeka ketjoet dan mengelah napas jang dirinja sanget sialan dan boleh djadi lantaran katoelaran swaminja jang sial. Baroe sadja ia berlaloe atawa itoe orang-orang jang masih berdjoedi lantas menjeritaken dirinja.

„Saja denger,” kata satoe oewa-oewa jang dipanggil entjim Sisir, „Koei-Nio selaloe setori dengen swaminja.”

„Abis bagimana engga maoe setori sadja,” kata enso Anji, „swaminja kapan pernah bertjinta-tjinta'an dengen si Hetty, anaknja njonja Heng!”

„Ah, masa i-ja,” kata lagi satoe swara dari entjim Ladok, „orang soeda poenja doea anak masa satoe gadis masih maoein?”

„Eh, soeka kaga pertjaja orang,” kata lagi swara jang pertama, „nah tjoba tanja njonja Koei sendiri betoel engganja, djaman sekarang soeda oemoemnja gadis tjoema tinggal namanja sadja!”

Hiang-Nio jang sedari tadi mendengerin merasa sanget ewa, kerna ia dan Hetty ada sobat baek dan ia taoe jang Hetty tida nanti aken melanggar kasopanan, tapi Hiang-Nio tida bisa belahken sobatnja jang djadi boelan-boelan dari itoe segala otjehan kedji, kerna Hiang-Nio masih dianggep anak-anak. Sabenernja ia kepengen gampar sadja itoe segala moeloet jang menjeritaken djelek tentang sobatnja.

„Kaloe begitoe Hetty boekan gadis lagi,” kata lagi swara kadoea, sembari menarik kartoe dan mengoenja sirih.

„Taoelah,” kadengeran kombali satoe swara,” djingan siang hari malem marika sering dikatemoeken berdoea-doea dan kaloe kaga begitoe masa itoe gadis sampe sekarang tinggal mengilang!”

„Ia mengilang ka mana?” tanja lagi satoe swara.

„Kabarnja sih ia ada di Bandoeng,” kata lagi enso Anji, jang memang kliwat beratjoen lidahnja, „kaloe satoe gadis soeda salah tindak sakali ka mana lagi parannja? Sekarang lelaki mana djoega boleh panggil padanja, ha ha ha!” Dan ia tertawa boeat perkata'annja sendiri, jang ia anggep loetjoe.

Hiang-Nio sanget tida tahan mendenger segala pitenahan jang begitoe boesoek terhadep jang ia pandeng sabagi soedara sendiri, maka ia menimbroeng:

„Entjim taoe dari siapa, Hetty djadi begitoe?”

Semoea orang djadi menengok pada itoe gadis, sedeng oewa Beng soeda plototin pada gadisnja, tapi Hiang-Nio poera-poera tida liat pada iboenja, ia soeda ambil poetoesan boeat belahken sobatnja, biarpoen ia moesti dapet tjomelan dari iboenja.

„Eh, boleh heran nih anak," kata lagi itoe swara bawel „orang pada bilang begitoe!”

„Ja,” mendesek Hiang-Nio,” siapa itoe 'orang', apa entjim bisa kasi taoe namanja depan ini orang banjak, kaloe entjim poenja omongan ada berdasar atas kabeneran?”

„Oedah orang-orang pada bilang begitoe,” kata lagi oewa Ladok, kaloe orang bilang begitoe, tentoe djoega betoel. Masa ada asep zonder ada apinja?”

„Tapi orang bilang djoega pada saja,” kata lagi Hiang-Nio dengen lebih nekad, zonder perdoeliken lagi pada iboenja jang soeda mlotot-mlotot dari satadian padanja, „jang Hetty masih ada satoe gadis jang soetji, kerna perhoeboengannja dengen enko Wen-Liang tida pernah menjingkir dari garis kasopanan. Orang bilang djoega, ia sekarang tinggal sama familienja di Preanger dan ia masih tetep ada satoe gadis baek!”

„Hetty, satoe gadis jang baek, hm!” mendjengekin satoe swara.

Hiang-Nio kliatan semingkin tjantik dalem iapoenja kasengitan, pipinja djadi berobah merah djamboe dan matanja semingkin bersinar. Ia tida perdoeliken itoe djengekan, tapi berkata lebih djaoe, hingga kadengeran ka laen rombongan orang berdjoedi:

„Hetty poenja pergi, boekan lantaran ia telah berboeat hal-hal jang tida sopan. Tapi lantaran tida tahan denger itoe segala fitenahan kedji dan toedoehan boesoek dari lida-lida beratjoen di ini kota!”

Itoe perkata'an-perkata'an si gadis kloearken dengen tandes, hingga semoea orang djadi mengawasin padanja.

Sekoenjoeng-koenjoeng oewa Beng djadi goesar dan berkata pada gadisnja: „Soeda pergi ka dapoer, Hiang! Kaoe satoe anak kemaren doeloe, di mana taoe oeroesan orang toea. Kaloe kaoe masih membandel, nanti akoe aken adjar kaoe!”

Hiang-Nio tida merasa maloe dimaki di depan itoe sekalian tetamoe, ia pandeng itoe orang-orang ada djaoe lebih rendah dari ia. Dengen angkoeh dan angkat dada ia pergi dari sitoe dan sasampanja di dapoer ia koetjoerken aer-matanja. Ia teringet pada iapoenja ajah jang telah meninggal doenia bebrapa taoen berselang. Koetika ajahnja masih hidɔep, ia-poenja iboe tida soeka berdjoedi, sebab ajahnja paling bentji dengen perdjoedian, tapi sekarang sasoeda ajahnja meninggal doenia iboenja terpaksa temenin orang-orang berdjoedi di roemahnja, sospaja dengen oewang tong ia bisa hidoep dengen gadisnja. Itoe tempat perdjoedian ternjata boekan sadja tempat orang adoe peroentoengan, tapi djoega tempat orang menjeritaken kadjelekannja laen orang. Ia terkenang pada Hetty, itoe gadis jang manis boedi dan selaloe soeka menoeloeng orang jang kasoesahan dan sekarang ia sendiri tida taoe ada di mana, tapi ia merasa pasti, bahoea Hetty melaenken djadi korban dari lida jang djahat sadja. Ia sampe taoe brapa tinggi martabatnja iapoenja sobat itoe. Ia djadi semingkin sedih dengen membajangken, bagimana ia-poenja sobat itoe sekarang moesti terloenta-loenta di sana sini, bisa djadi dalem kamelaratan dan kasoekeran.

Sedeng di dalem kota Yin Lan asik djadi boeah toetoernja orang, jang semingkin lama djadi semingkin memboesoekin dirinja, adalah hal jang sabenernja itoe gadis hidoep dalem katentreman di pegoenoegan. Satiap hari sambangin orang jang mendapet sakit, hingga pantes sekali ia mendapet itoe nama djoeloekan „Kembang Kaprempoeanan”. Ia sekarang hidoep boekan boeat kasenengan dirinja sendiri, tapi ia korbanken iapoenja tempo dan tenaga laen orang jang sedeng kasoesahan dengen tida mengharep bajaran sedikit. Tapi pendoedoek kampoeng ada taro pengharga'an padanja, hingga boekan sedikit orang jang soeka bales boedinja itoe gadis dengen iapoenja djiwa. Satoe antaranja jang merasa bertrima kasi pada itoe gadis adalah itoe prempoean Indonesier bernama Alima. Alima jang doeloe dalem ka-adaan sakit pajah telah dirawat oleh itoe gadis dengen zonder mengenal tjape. Sasoedanja semboeh dari sakitnja lantas Alima mendjadi baboe dari Yin Lan dan ia begitoe tjinta pada Yin Lan, sabagi djoega Yin Lan itoe ada iapoenja soedara sendiri.

Pada soeatoe soré Yin Lan sedeng berdoedoek di atas itoe bangkoe jang mengadepin tebing-tebingnja goennoeng Gede. lapoenja pikiran melajang kean kemari sabagi koepoe-koepoe jang tida taoe di mana ia moesti mentjlok. Ia mempoenjai ajah bonda dan soedara-soedara, sobat-sobat dan djoega orang jang ia tjinta dan menjinta, tapi itoe semoea orang bagi ia ada sama djoega mati, tida ada dan tida berarti bagi ia jang ka'ada'annja sekarang ada saoepama satoe batoe karang jang mentjil sendirian dalem kasoenjian di tengah laoetan jang tenang.

„Neng Yin!” kata baboe Alima sambil mendeketin pada nonanja dan angsoerken satoe soerat, „ada soerat boeat kaoe!”

Yin Lan agaknja terkedjoet dan heran, kerna tida ada satoe orang jang taoe ia ada di itoe pegoenoengan. Dengen tangan sedikit goemeter ia samboetin itoe soerat dan membatja:

Batavia April 1934.

Soedara Yin Lan jang manis boedi,
Soedara! Saja toch boleh seboet kaoe begitoe, boekan? Kaoe pasti aken djadi terkedjoet djika menerima ini sapoetjoek soerat dengen disertaken satoe soerat laen di dalemnja, jang sasoedanja membatja pasti aken membikin kaoe djadi lebih heran lagi. Ja, soedara Yin, doenia ini memang ada satoe kaheranan besar. Segala apa di ini moeka boemi diprentah oleh samatjem kakoeasa'an jang tida kliatan dan tida bisa diseboet apa namanja, jang aken saja seboet sadja „kabetoelan”.
Saja poenja pertemoean dengen kaoe djoega ada satoe hal jang kabetoelan, satoe pertemoean jang sampe saja mati poen saja aken tida bisa loepaken. Kaoe ada satoe prempoean aneh jang tida gampang dapet disingkirken dari hatinja sasoeatoe lelaki jang soeda pernah berkenalan dengen kaoe. Maskipoen saja tida bisa seboet pada kaoe lebih dari itoe perkata'an „soedara”, tapi pertjajalah jang saja-poenja perasa'an terhadep kaoe aken saja simpen sabagi satoe moestika, satoe tanda mata dari kaoe jang saja aken tida linjapken sampe ini doenia djadi kiamat.
Soerat jang saja lampirken berserta ini djoega ada dari saorang sabagi saja, brangkali lebih tida beroentoeng dari saja. Pertemoean saja dengen ia, Yin, djoega ada satoe hal jang kabetoelan sadja. Ia asik membikin kaoe-poenja gambar, satoe tanda jang ia tida bisa loepaken kaoe, satoe gambar jang begitoe saroepa dengen kaoe poenja roman, hingga saja lantas dapet menganalin.
Biarpoen begitoe, Yin, kaoe-poenja pesenan boeat tida bilang pada siapa djoega tentang kaoe-poenja tempat tinggal, saja dan djoega ia, djoengdjoeng tinggi. Saja tida bilang dan ia tida mendesek boeat dapet taoe, tapi ia moehoen pada saja boeat sampeken ini soerat pada kaoe, zonder ia moesti dapet taoe kaoe-poenja adres, jang saja pasti sadja tida bisa menolak.
Sasoedanja trima ini soerat, apatah saja boleh kasi taoe padanja kaoe poenja adres? Saja aken bilang itoe, melaenken djikaloe saja dapet kaoe-poenja idzin.
Batjalah itoe soerat dan djikaloe hendak kirim balesan, boleh dikirim pada saja-poenja adres.

Dari saorang jang
hidoep dalem kenangan
John. Ch.

Sakoetika lamanja Yin Lan tinggal bengong sa'abisnja membatja itoe soerat, iapoenja tangan jang masih memegang soerat jang laennja kliatan djadi bergoemeter. Ia bersangsi boeat boeka itoe soerat, kerna ia taoe itoe ada satoe kabar, satoe swara dari saorang jang terpisah djaoe dengen ia, tapi selaloe deket dalem kenangan.

Plahan-plahan ia memboeka itoe soerat dan batja boenjinja:

Batavia April 1934.

Yin Lan, mata-harikoe,
Djikaloe ini soerat sampe di kaoe-poenja tangan, Yin, saja masih tida dapet mengataoein di mana kaoe sekarang berada. Kaoe telah pesen pada soedara
John Ch. boeat tida kasi taoe sama siapa djoega kaoe-poenja tempat tinggal dan saja aken indahken kaoe poenja pesenan. dear, biarpoen hati saja sabetoelnja berontak-rontak boeat dapet taoe, di mana kadiaman kaoe sekarang.
Oh, dear Yin. saja tida taoe bagimana ka'ada'an kaoe sekarang ini, kaoe terbisah dari ajah iboe, soedara dan kaoe-poenja sekalian kenalan dan sobat-sobat, kaoe saolah-olah itoe bintang njasar jang mentjil sendirian di atas langit jang gelap goelita. Bisa djadi kaoe dalem kasoesahan, bisa djadi kaoe dalem kasoekeran. Yin, itoe semoea ada saja poenja salah, saja poenja gara-gara!
Saja insaf dengen saja-poenja kadosa'an terhadep pada kaoe, saja trima salah dan saja aken trima djoega, djikaloe saja moesti dapet hoekoeman jang paling berat. Tapi, my sweety Yin Lan, apa kaoe bisa koetoek saja, boeat saja-poenja semoea kasalahan itoe, kasalahan saja besar dan tida bisa diampoenken, saja taoe, saja bersalah sebab telah tjoeri kaoepoenja hati, sebab brani menjinta kaoe, biarpoen saja taoe, bahoea antara saja dan kaoe ada satoe djoerang jang sanget lebar.
Tapi itoe perasa'an, Yin, tida dapet saja singkirken sampe sekarang, semalah semingkin kaoe tida berada di deket saja semingkin teringet lagi saja dan semingkin soeker lagi boeat saja bisa meloepaken kaoe!
Djikaloe saja bisa meneboes saja-poenja dosa dengen segala apa jang saja poenja, djiwa saja sekalipoen, saja ridlah boeat korbanken itoe, bila sadja kadosa'an saja terhadep kaoe bisa terteboes, kerna hidoep boeat saja, zonder kaoe, toch soeda tida bergoena.
Saja bisa bilang begitoe, sedeng saja taoe, jang saja sabetoelnja tida dapet mengharepin kaoe dan djoestroe ini perasa'an bagi saja ada mendjadi satoe hoekoeman jang sanget berat.
Djikaloe saja mampoe perbaekin lagi ka'ada'an seperti doeloe, saja seneng boeat toeker seantero njawa saja dengen itoe, tapi apa itoe bisa, haroeslah saja berboeat begitoe, Yin, mata-harikoe?
Saja seboet kaoe saja poenja mata-hari. Ini tida salah barang sedikit. Di sakiter sa ja sekarang saolah-olah gelap goelita, tjoema kaoe-poenja gilang goemilang jang masih tertampak dan dirasaken anget oleh saja, tapi kaoe, mata-hari, ada terlaloe djaoe boeat saja sampeken, saolah-olah kaoe di atas langit, saja di moeka boemi, hingga tida dapet kita bertemoe.
Saja melaenken bisa mendoaken, soepaja kaoe di sana ada dalem kaberoentoengan dan bila kaoe hendak mengoetoek saja, saja aken trima itoe hoekoeman dengen mesem, kerna tida ada, saorang lelaki jang tida nanti aken manda maski moesti masoek di neraka api atas prentahnja satoe bidadari seperti kaoe, Yin Lan!

Saorang jang masih tetep menjintaken kaoe
Wen-Liang.

Bebrapa sa'at lama'nja Yin Lan mengawasin pada itoe perkata'an-perkata'an, jang masing -masing ia ra'saken ada lebih dari tad'jemnja djaroem boeat menoesoek-noesoek iapoenja hati.

Plahan-plahan aer matanja mengallir di antara, kadoea pipi'nja dan berketjitakan di atas itoe soerat jang ia selaloe masih pegangin. Bebrapa, koetika ia berada dalem ka'ada'an begitoe, kamoedian pergi di iapoenja medja toelis, ambil satoe kertas dan moelai menoelis:


Enko Wen-Liang jang tertjinta,
Ibarat satoe poehoen 'jang soeda djadi kering dan ampir rontok lantaran kakoerangan aer, begitoe enko jang tertjinta, ada ka'ada'an saja waktoe menerima koe-poenja soerat. Hati saja rasanja antjoer waktoe membatja itoe semoea perkata'an jang enko soeda toelis dalem enko poenja soerat.

Ma'afken saja, dear, jang saja soeda linjap dengan zonder kasi taoe lebih doeloe pada kaoe dan soeda menerbitken begitoe banjak kasoesahan hati pada kaoe. Saja telah pergi, kerna saja mengharep, kaoe bisa loepaken saja, kerna Oh, maskipoen bagimana besar djoega kita-poenja perasa'an tjinta satoe sama laen, saja sampe tjoekoep insaf, jang kita tida boleh mendjadi satoe. Satoe dosa besar apabila saja berboeat begitoe , berboeat tjoerang terhadep kaoepoenja istri, maka seperti berkali-kali saja soeda oetjapken: „enko Wen-Liang, loepaken saja dan hidoeplah beroentoeng den gen kaoepoenja anak istri”.

Saja boleh di'inget di dalem kaoe-poenja hati, enko Wen-Liang. tapi tida oesa dipikirin, kerna kaoe ada teriket dengen kawadjiban laen dan nasib soeda ingin begitoe.

Mentjnta dalem arti jang soetji, enko, boekan selaloe kita koedoe djadi laki dan istri, tjinta jang aselih haroes diserloken dengen pengorbanan dan saja ridlah korbanken saja-poenja diri, asal kaoe bisa hidoep beroentoeng dengen kaoe-poenja istri.

Dan saja harep dan doaken kaoe bisa begitoe, enko!

Kenapa kaoe moesti tindih kaoe-poenja hati dengan perasa'an, jang kaoe soeda berboeat satoe kasalahan dengen menjinta dirikoe? Tida, tida, itoe boekan salah dan boekan dosa kaoe, perasa'an begitoe dateng sendiri, tida bisa ditjari-tjari dan di bikin-bikin, tapi djikaloe betoei kaoe-poenja tjintao ada soetji, jang saja tida pernah bersangsi barang sedikit, djanganlah bertindak lebih djaoe dari apa jang soeda ada, tapi simpenlah itoe sabagi satoe permata jang mahal sampe di hari toea, asal satoe-sama laen ada dalem kabroentoengan.

Kaoe bisa beroentoeng, enko, djikaloe kaoe bisa mengimbangin dengen adat istrimoe, bagi saja boeat mendapet kaberoentoengan di dalem pernikahan soeda tida boleh mendjadi, tetapi saja aken mentjari kaberoentoengan dengan laen djalan, jaitoe dengan ringanken laen orang poenja kasakitan dan kasengsara'an.

Memang ada terlebih baek jang kaoe tida men dapet taoe saja poenja tempat tinggal sekarang. brapa besar djoega kainginan saja a'ken berdjoempah kombali dengen orang jang saja tjintaken, tapi apa goena, enko, tjoema-tjoema sadja djadi bikin kaoe terlebih berat, kerna, maski bisa berdjoempah, saja bagi kaoe toch seperti djoega soeda mati.

Lagi sekali, siang dan malem tida brentinja saja moehoenken, soepaja kaoe bisa hidoep roekoen dan beroentoeng dengen kaoepoenja istri.

dari kaoe-poenja
Yin Lan

Koetika Wen-Liang batja itoe soerat, jang akoe kasihken padaonja di dalem iapoenja atelier, ia ken dirinja di satoe korsi dan tinggal bingong sakean lamanja saolah-olah ingetannja soeda djadi tida beres. Moeloetnja tjoema bisa oetjapken ini perkata'an dengen pelahan: „Akoe moesti loepaken pada gadis jang begitoe moelia?”

„ia berdiam sabentaran dan berkata lagi saorang diri: Tida bisa!”

„Yin Lan sekarang djadi hidoep goena laen orang,” ia mengrendeng lagi, satoe boenga jang mekar, „kerna ia moesti mekar boeat kasenengannja laen orang, boeat ringanken laen orang dari kasoesahan dan kasakitannja, soenggoe kabetoelan saja namaken padanja 'Boenganja Kaprempoean' atawa Yin Lan (Im Lan|!”

BATOE DJADI INTEN.


Inilah orang tida aken mampoe djadiken. Sebaliknja, Inten poen tida bisa didjadiken Batoe.
Kita bisa pengaroein satoe prémpoean djadi saolah-olah Oeler berbisa, tapi kita tida bisa bikin satoe prempoean berobah laen dari prempoean, dan satoe prempoean itoe adalah boeat ditjinta dan menjinta.
Batjalah Bidadadri?"!


VIII
ACHIRNJA TERPETJAH.

Zijn voet treedt door tegenspoeden en hindernissen de straat over, langs doornen, wel soms in het slyk, maar toch met het hoofd in het licht.

Victor Hugo.


PERNIKAHAN ada satoe persatoean dari hati, boekan dari otak, dengen laen perkata'an di waktoe memilih pasangan oemoemnja orang boekan goenaken otak, tapi toeroetken maoenja sang hati. Orang lelaki di waktoe memilih kawan hidoepnja djarang sekali tilik sifat-sifat dari tabeatnja orang jang ia pilih, maka ada begitoe banjak Socrates jang dapetken iapoenja Xantippes.

Demikian djoega dengen pernikahannja Wen-Liang dan Koei-Nio. Pertjektjokan ampir terdjadi satiap hari di roemah tangganja dan tida ada soeatoe rem jang jang lebih koeat bagi kamadjoeannja satoe lelaki dalem perdjoangan hidoep dari pada roamah-tangga jang seperti noraka.

Beriken satoe lelaki kagagahan, kapandean dan pladjaran, ia aken tida bisa mendapet kamadjoean dalem penghidoepannja. Kagagalannja satoe genie kabanjakan terletak di dapoer.

Wen-Liang saorang jang sepantesnja moesti termashoer boeat iapoenja kapandean mengambar brangkali tida di bawa Chui Teng Hiok

atawa Kasenda, telah djadi satoe achli gambar jang tida berarti, kerna kakoesoetan di dalem hatinja tida bisa beriken padanja itoe soemanget boeat tjiptaken apa-apa jang loear biasa. Sebaliknja, iapoenja kapandean menggambar djadi semingkin merosot, orang dateng membeli gambar dari ia djadi semingkin sedikit, hingga dari sat0e kunstschilder achirnja ia terpaksa moesti bikin segala merk atawa naambord, satoe pakedja'an kasar, jang sabenernja tida berimbang dengen iapoenja talent.

Djoega ini pakerdja'an ia lakoeken dengen zonder soemanget, hingga achirnja Wen-Liang poenja pengasilan djadi bertambah sedikit, kamiskinan mengantjem roemah tangganja, tetapi Wen-Liang tida bisa berdaja laen.

Itoe ada gara-gara dari noraka roemah-tangga jang tida roekoen!

Di loearan orang banjak menjeritaken tentang Wen-Liang. Soeda oemoemnja tabeat menoesia, lebih banjak jang soeka mendjelekin dari pada memoedji laen orang.

Laen orang lagi oetaraken:" Ia pande menggambar, itoe betoel, tapi iapoenja pengidoepan privébah! Djikaloe kaoe ada poenja anak prawan lebih baek kaoe tida kasi ia masoek di kaoepoenja roemah, sebab ia toekang ganggoe gadis orang!"

Seperti djoega Wen Liang itoe ada satoe harimau atawa srigala, jang asal sadja membaoeken daging lantas djadi boeas, seperti djoega orang bisa menjinta pada sembarangan prempoean, melaenken kerna ia ini ada prempoean!

Begitoe itoe omongan dari satoe moeloet pindah ka laen moeloet, ditambahken lagi oleh omongannja Koei-Nio sendiri, hingga boentoetnja Wan-Liang dianggep saorang boesoek.

Di mata manoesia Wen-Liang kamoedian tjoema dianggep sabagi satoe boeaja darat jang glandangan sana sini dengen zonder kerdja'an, sebab betoel djoega soedah lama Wen-Liang tida mendapet kerdja'an apa-apa Segala apa jang bisa digade soedah dimasoeken ka Pandhuis, hingga ia ada saorang jang sanget miskin dan kamiskinan oleh doenia sopan seringkali dianggep „hina".

Wen-Liang soeda tjoba boeat tjari kerdja'an di sana-sini, tetapi tida berhasil, iapoenja tempat bekerdja ia soeda lama toetoep lantaran tida bisa bajar sewa'annja, sobat-sobatnja jang ka'ada'annja sedikit mendingan pada tida maoe bergaoel lagi dengen ia dan begitoelah lantaran terpaksa Wen-Liang terdjebloes dalem kalangan orang-orang jang namanja tida bagoes, seperti boeaja darat dan sebaginja.

Siapa jang tida mendapet roti, pasti aken moesti merasa seneng dengen boeboeknja sadja, demikian djoega orang-orang jang ka'ada'annja seperti itoe toekang gambar. Kaloe orang-orang jang dirinja terhormat dan sopan marasa djidji aken tjampoer dengen orang seperti ia, tentoe terpaksa ia moesti tjari pergaoelan di golongan laen.

Perkoempoelan-perkoempoelan katanja diadaken boeat memperbaekin siahwee, tapi brapa banjak orang-orang jang dalem ka'ada'annja Wen-Liang saolah-olah ada di pinggirnja djoerang, boekan ditoeloeng dan diseret lagi ka tempat terang, tapi didjorokin sekalian soepaja ia terdjebloes dalem itoe djoerang kahina'an? Perkoempoelan-perkoempoelan tjoema theorienja sadja bagoes, tapi praktijknja tjoema tempat seneng-seneng meloeloe!

Pada soeatoe hari Wen-Liang poelang dengen

perasa'an lesoe, sebab itoe hari roepanja ia koerang beroentoeng, di tempat djoedi ia soeda dapet kakalahan, hingga dengan tida mempoenjai oewang satoe sen di kantong ia menoedjoe ka roemahnja. Ia merasa pasti ia aken dapet setori lagi dengen istrinja, kerna Hoe soeda memang soeda kabiasa'annja Koei-Nio, kaloe swaminja poelang dengen zonder membawa oewang.

Koetika Wen-Liang sampe di depan roemahnja ia liat pintoe dirapetin, tapi tida terkontji. Ia laloe dorong dan sebagimana biasa, ka'ada'an di roemhnja ada sanget soenji saolah-olah tida ada pengisinja.

Hatinja Wen-Liang djadi bergoemeter, koetika dari dalem kamar ia denger swara rintihan.

Soeda doea hari dan doea malem Wen-Liang tida dateng di roemah, satoe hal jang soeda djadi biasa lagi, kerna di waktoe jang blakangan ia sering tidoer di roemah djoedi atawa djoega di roemahnja iapoenja kawan-kawan jang djoega terdiri dari kaoem pendjoedi atawa boeaja darat.

Dengen tindakan plahan Wen-Liang, laloe bertindak ka pintoe kamar dan hatinja sanget mentjelos dengen pemandengan jang ia dapetken itoe waktoe.

Di pembaringan terletak ia poenja poetra, Hong Sian, dengen moeka poetjet dan kepalanja teriket oleh sapoe tangan. Matanja merem dan adalah ia jang merintih-rintih dengen plahan.

Ia poenja anak jang besaran berdoedoek di satoe korsi dan menangis, sedeng di pinggir pembaringan ia boekan dapetken istrinja jang seharoesnja moesti adadi sitoe aken merawat anaknja jang sakit, tapi Hiang Nio, gadisnja oewa Beng.

„Sst" kata itoe gadis, koetika Wen-Liang hendak menoebroek pada anaknja, „dia baroe rasa enakan, lebih baek enko doedoek di loear, kedja ia tidoer sabentaran!"

Wen-Liang memandeng pada itoe gadis dengen sorot bertrima kasi dan pergi doedoek di pekarangan loear dengen toendoekin kepal.

Tida antara lama Hiang-Nio kloear sembari menoentoen Rosa.

„Oh, Hiang," kata Wen-Liang dengen bernapsoe, „Hong-Sian sakit apa dan dari kapan?"

Sambil doedoekin Rosa di pangkoeannja Hiang-Nio berdoedoek di satoe korsi.

„Saja kira ia dapet sakit malaria," kata itoe gadis sembari oesap-oesap ramboetnja Rosa," dari kemaren sore ia dapet demem, tapi saja soeda kasi pil kina."

„Dan ka mana perginja saja-poenja istri, apa ia tida perdoeliken sama sekali pada Hong-Sian?" menanja Wen-Liang.

„Satiap hari ia pergi, berdjoedi," saoet itoe gadis dengen sadjoedjoernja, „dan ia minta' boeat saja djagain pada Hong-Sian."

Wen-Liang goleng kepala dan mengelah napas. Ia memandeng pada itoe gadis dan ia moesti menjataken jasg Hiang-Nio soenggoe ada satoe gadis jang eilok.

„Saja soenggoe moesti bertrima-kasi pada kaoe, Hiang," kata lagi Wen-Liang „djikaloe tida ada kaoe bagimana djadinja dengen saja-poenja anak-anak."

„Apa jang saja berboeat tida lebih dari kawadjibannja satoe menoesia," saoet lagi itoe gadis dengen swara aloes dan aer-matanja djadi mengembeng.

Di antara itoe kasedihan dan kamasgoeln Wen Liang mendapet sedikit perasa'an girang, bahoea di atas ini doenia masi ada orang jang maoe tjampoer
dan maoe oeloer tangannja aken menoeloeng iapoenja diri, saorang jang di mata doenia soeda tida berharga.

„Apa kaoe taoe saja sekarang orang apa, Hiang?" tanja lagi Wen-Liang. Dan tatkala si gadis tinggaI diam, ia berkata lagi:

„Saorang jang paling hina, boeaja darat, pentopan! Saorang: hina dan rendah!"

„Djangan bilang begitoe," berkata lagi Hiang-Nio, „saja taoe, kaoe poenja batin masi poetih bersih seperti doeloe!"

Wen-Liang merasa, jang ini gadis mengerti padanja, tapi brapa banjak orang jang bisa, beranggepan seperti itoe gadis? Segala apa di ini moeka boemi teroekoer dari kamenterengan lahir!

„Oh, Hiang, kaloe kaoe djadi istrikoe tentoe kaada'an aken djadi laen......!" begitoe Wen-Liang mengeloeh sambil toendoekin kepalanja.

„Djangan soeka bitjaraken hal jang tida boleh mendjadi, enko," kata itoe gadis," manoesia tida bisa melawan nasib!"

Wen-Liang menengok pada itoe gadis dan Hiang-Nio djoega mengawasin padanja dengen sorot mata ajoe, itoe sorot mata, sabagimana Yin Lan djoega soeka memandeng padanja.

„Kaoe poenja perkata'an bener," kata Wen-liang seperti pada diri sendiri, „apa jang tida boleh mendjadi lebih baek kita tida oesa pikirken, soeda satoe kali saja berboeat begitoe dan saja djadi orang jang paling tjilaka!"

„Hetty?" Hiang-Nio oetjapken.

Wen-Liang manggoetken kepalanja, ia rasa pada ini gadis ia tida oesa mendjoesta.

„Saja laoe," kata itoe gadis, „kaoe masi tetep tjinta pada Hetty, ia memang pantes djadi istrimoe!"

Wen-Liang mengelah napas.

„Dan di mana sekarang Hetty berada?" tanja lagi Hiang-Nio, kerna ia sendiri poen soeda lama merasa kangen pada iapoenja sobat jang baek itoe.

„Saja tida taoe," Wen-Liang mendjawab dengen sedih, „tapi ia, ada djaoe di satoe tempat soenji, jang saja sendiri tida taoe letaknja, ia sekarang hidoep goena laen orang, saja kira sabagi djoeroerawat. Oh, Yin Lan, Yin Lan!"

„Yin Lan? Siapa jang kaoe maksoedken?" tanja Hiang-Nio dengen heran.

„Itoe ada nama jang saja beriken pada Hetty," saoet Wen-Liang.

Marika berdiam samentara waktoe dan hatinja Wen-Liang merasa terharoe memandeng pada, Rosa, jang selaloe masi ada di pangkoeannja Hiang-Nio dan sembari lendotken kepalanja di dadanja itoe gadis telah djadi poeles. Kamoedian Hiang-Nio pondong pada Rosa dan letaken di atas divan.

„Saja moesti poelang doeloe," kata lagi itoe gadis dan hendak berlaloe, tapi Wen-Liang laloe pegang tangannja masing-masing djadi memandeng satoe sama laen.

„Bilang doeloe," kata itoe toekang gambar, „apa kaoe, apa.....?"

la tida bisa teroesken itoe pertanja'an jang terkandoeng dalem hatinja, tapi poeter itoe pertanja'an: „Apa kaoe sajang pada Hong-Sian dan Rosa?"

"Lebih dari itoe," saoet itoe gadis dengen toendoekin kepala," „saja tjinta marika."

„Dan apa itoe perasa'an kaoe bisa bagi djoega sedikit pada saja?" tanja lagi Wen-Liang.

Hiang Nio memandeng pada Wen-Liang dengen sorot mata jang penoeh mengandoeng arti, kamoedian berkata dengen plahan: „Saja ingin kaoe hidoep beroentoeng!"

Dengen aloes Hiang-Nio lepasken tangannja dari pegangannja Wen-Liang dan berlaloe dari sitoe. Wen-Liang tinggal mengawasin padanja dan tjoema bisa mengelah napas.

Sampe di waoktoe soré Koei-Nio belon djoega poelang, sedeng waktoe Hong-Sian mendoesin ia merintih-rintih semingkin keras, hingga Wen-Liang djadi bingoeng. Itoe anak dememnja tinggi dan mengatjo. Sabentar-bentar moeloetnja, memanggil iapoenja iboe.

„Mama, mama!" memanggil itoe anak.

„Tjoba Rosa kaoe panggil kaoepoenja iboe!" kata Wen-Liang pada anaknja jang besaran.

Tida antara lama Rosa kombali, tapi ia tida berserta iboenja, hanja dengen Hiang-Nio.

„Entji Hiang, entji Hiang, mana mama?" menanja itoe anak.

Hiang-Nio pegang kepalanja Hong-Sian dan ia rasaken panas sekali.

„Mana sabentar dateng, Sian," kata itoe gadis dengen hati terharoe, „enko Wen-liaang tjobalah kaoe membeli ijs!"

Sabagi mendenger prentahnja satoe ratoe Wen-Liang lantas berlaloe dan tida antara lama Hong-Sian poenja kepala dikompres sama ijs, tapi ia mengatjo teroes.

„Entji Hiang," kata itoe anak dengen swara dalem tengorokan, „kenapa matakoe d.jödi gelap, oh, saja takoet". Dan Hong-Sian poenja badan djadi bergoemeteran, achirnja ia diam dan pangsan.

„Enko Wen-Liang," kata Hiang-Nio dengen kaget, lantaslah panggil dokter".

Tida antara lama dokter dateng. Sasoedanja ia mamreksa dengen teliti pada badanja Hong-Sian, itoe dokter goleng kepala.

„Apa ini enso poanja anak?" tanja, itoe dokter Tionghoa.

„Boekan," saoet itoe gadis dengen parasa'an sedikit maloe, „saja, tjoema bantoe-bantoe sadja di sini."

„Apa ini sianseng poenja anak?" tanja itoe dokter pada Wen-Liang.

„Betoel, dokter!"

„Menjesel sekali," kata itoe dokter, „ini anak tida bisa ketoeloengan djiwanja, paling lama lagi satengah djam!"

Wen-Liang poenja mata djadi bringas saolah-olah saorang jang koerang beres pikiran, ia djatoken dirinja di satoe korsi dan tinggal bingoeng, sedeng dengen tida terasa Hiang-Nio djiadi sesegoekan dan peloekin pada Hong-Sian, tapi itoe badan soeda ampir dingin. Itoe anak pangsan dan aken tida seder kombali.

Baroe sadja dokter kloear atawa Koei-Nio masoek ka dalem. Bagimana keras djoega iapoenja adat, tapi ia ada satoe Iboe dan satoe iboe, biarpoen bagimana pasti menjajang anaknja. Koetika ia liat bagimana ka'ada'n dalam itoe kamar, ia gabroekin dirinja atas badannja Hong-Sian. Ia taoe ia dateng soeda laat dan ia menangis dengen sesegoekan.

Pemandengan dalem itoe kamar soengg0e membukin hati djadi terharoe. Doea prempoean peloekin badanja, satoe anak jang soeda mait, di satoe podjok si ajah doedoek bingong seperti, saorang jang koerang beres pikiran, sedeng satoe gadis ketjil laen, jalah Rosa, djoega menangis dengen sesegoekan di damping ajahnja.

Matanja Wen-Liang masi bringas. Sakoetika lamanja ia tida berkata, achirnja dengen swara sengit ia berkata pada istrinja:

„Ini semoea ada kaoe-poenja gara-gara! Kaoe ada satoe iboe jang haroes terkoetoeok!"

Sembari masi teroes menangis, Koei-Nio mendjawab: „Boekan saja, tapi kaoe iang djadi sebabnja, apa kaoe kira saja moesti antepken kaoe maen gila dengen Hetty?"

„Saja tida pernah maen gila dengen siapa dioega," saoet Wen-Liang dan dijalian moendar-mandir dalem itoe kamar, „saja poenja perasa'an, padanja......"

„Ah, nonsens sama kaoe-poenja perasa'an," kata Koei-Nio dengen semingkin sengit, „saja djadi pentopan lantaran kaoe, lantaran kaoe jang berdjalan serong!"

„Dan kaoe-poenja perhoeoboengan dengen Tioe-Soei? Apa saja pernah melarang kaoe berhoeboengan dengen ia? Kenapa, kaoe boleh merdika boeat bergaoel dengen siapa jang kaoe soeka, saja tida boleh?"

„Betoel saja bergaoel dengen Tioe-Soei," saoet lagi Koei-Nio, „tapi saja poenja perhoeboengan selaloe sopan, setjara sobat!"

„Apa saja djoega tida boeh bergaoel dengen Hetty setjara soedara? Hm, tida, tentoe tida, sebab prempoean maoe menang sendiri! Kaoe soeda pisahken saja dengen Hetty dengen setjara kedjem, itoe gadis sekarang moesti terloenta-loenta di kampoeng orang, kaoe soenggoe ada satoe prempoean kedjem jang tida ada bandijngannja!"

Itoe swami istri roepanja djadi begitoe sengit, hingga saolah-olah loepa, bahoea marika sedeng dampingken maitnja-poenja poetra dan di sitoe ada satoe gadis jang boekan sanak. Hiang-Nio bergidik tatkala mendenger itoe semoea perkata'an. Djadi sampe mait anaknja poen tida bisa membikin marika djadi roekoen kombali.

„Soeda, enko dan enso Wen-Liang," kata, itoe gadis dengen swara aloes, „boekan waktoenja kaoeorang setori satoe sama laen. Tapi liatlah di sini kaoe-poenja poetra jang haroes dioeroes sabagimana moesti!"

Koei-Nio roepanja baroe inget lagi pada poetranja dan ia menangis lagi dengen keras.

„Ma'afken saja, Hiang," achirnja Wen-Liang ber-kata, „baroesan saja soeda tida indahken lagi pada kaoe, tapi saja-poenja otak rasanja soeda tida beres!"

„Saibar, enko Wen-Liang," menghiboer lagi itoe gadis, „segala apa ada temponja, marilah sekarang kita oeroes Hong-Sian sabagiamna moestinja."

Bebrapa hari telah berselang sadiek apa jang ditoetoerken di atas.

Hong-Sian poenja mait telah dikoeboer dengen sanget saderhana. Selaennja Wen-Liang, Koei-Nio dan Rosa, Hiang-Nio poen toeroet membawa itoe mait sampe di pakoeboeran, di mana itoe gadis poen telah toeroet koetjoeken aer matanja.

Itoe kadjadian telah memobikin perhoeboengan Wen-Liang dan Koei-Nio djadi, semingtkin renggang. Si Swami salahken kamatiannja si anak lantaran gara-gara istrinja jang tida maoe merawat anaknja sebagimana moesti, si istri salahken jang djadi sebabnja ia poenja swami.

Koei-Nio masi teroes dengen iapoenja perdjoedian, satiap hari ia pergi berdjoedi, sedeng Wen-Liang semingkin tama djadi semingkin djarang poelang di roemah, Orang tida taoe apa jang ia kerdjaken dan di mana ia sering berglandangan.

Koei-Nio dan Wen-Liang tida bertjeré, tapi agaknja seperti boekan swami istri lagi. Djikaloe Wen-Liang tempo-tempo soeka poelang ka roemah adalah melaenken boeat tengokin pada Rosa.

Dan satiap kali ia pergi tengokin Rosa, tentoe ia djoega dapetken Hiang-Nio jang selaloe temenin pada anaknja itoe.

„LOVE IS HOLLY”

Atawa Tjinta itoe ada Kasoetjian” kata pepatah Inggris.
Djangan kita bilang: „Ia prempoean matjem apa. Ia tida aken bisa menjinta!” Ini oetjapan ada gegabah. Dengen tida terkatjoeali, segala prempoean bisa menjinta dan ditjinta, dan siapa masih boeka hatinja boewat samboet mentjorotnja sinar Tjinta, ialah tandanja masih dilimpoetin oleh Kasoetjian.
Toenggoelah terbitnja „BIDADARI?”!


IX

DI ANTARA REROENTOEK MENOESIA.

Emas biarpoen terpendem di
dalem loempoer tinggal emas!


MASJARAKAT kita ada satoe masjarakat jang gandjil, segala apa dioekoer dengen oewang dan lagi sekali oewang! Dari pamerentah sampe pada perkoempoelan-perkoempoelan sociaal katanja bermaksoed boeat memperbaekin pergaoelan hidoep, aken tetapi tjaranja itoe memperbaekin ada begitoe roepa, hingga membawa hasil jang sebaliknja. Pamerentah mengadaken pemboeian sabetoelnja meloeloe boekan maksoed menghoekoem pada orang jang berboeat sesat, tapi boekan sedikit orang jang masoek di boei sebagi pentioeri ketjil, tapi sakaloearnja lantas djadi rampok besar. Systeem pemboeian di sini terlaloe didasarken boeat menghoekoem orang, boekan boeat memperbaekin, maka hasilnja soeka djadi sebaliknja.

Demikian djoega dalem pergaoelan hidoep kita. Saorang prempoean jang berboeat kakliroean pertama kali, sabetoelnja sanget gampang boeat ditarik kombali ka tempat jang terhormat, tapi tida ada satoe tangan jang maoe berboeat itoe, tida, orang pada merasa djidji pada machloek begitoe, hingga achirnja terpaksa ia djadi terdjeroemoes teroes.

Djoega orang lelaki jang pernah berboeat soeatoe kakliroean, lantas diasingken dikoetoek, kerna ia tida mempoenjai peti besi jang berisi penoeh. Saorang jang tida mempoenjai pakerdja'an boekan dikasianin. Bener di sana sini ada berdiri segala Werklozenfonds jang katanja bermaksoed menoeloeng, itoe orang-orang-orang jang menganggoer, tetapi tjaranja itoe beriken toeloengan ada demikian roepa, hingga menjoeroe orang djadi males, sebab jang dikasiken boekan pakerdja'an, tapi oewang toendjangan jang achirnja membikin orang djadi males. Adalah toeloengan tjara begitoe tjoema djangan sampe dikataken katerlaloean!

Djikaloe orang soeda merosot terlaloe lama dalem kalangan menganggoer lantas doenia tjap padanja sabagi „boeaja” dan bila orang begini berboeat sedikit salah, ia aken dikoetoek dan semoea tangan menondjoek padanja saolah-olah hendak berkata „J' accuse!” (saja toedoeh), tetapi „boeaja-boeaja” jang lebih kedjem, tjoema kerna ia tinggal di satoe gedong jang bagoes dan namanja brangkali sering diseboet dalem soerat-soerat-kabar sabagi saorang djiatsim, orang-orang begini biarpoen ia berboeat sariboe kasalahan dan kadosa'an, toch orang tinggal hormatken dan lebih lagi orang toendoek di hadepannja sabagi terhadep satoe datoek.

Aken tetapi tida semoeanja antara itoe orang-orang jang diseboet „boeaja darat” mempoenjai liangsim jang bedjat, ada djoega jang pri-kabedjikannja tinggal seperti sediakala, semalah itoe sekolahan dari kagetiran hidoep di antara itoe „reroentoek menoesia” membikin iapoenja belaskasian terhadep sasama menoesia djadi semingkin besar, kerna orang oranq begini taoe apa aritnja, kasoesa'an dan peroet lapar.

Begitoepoen ada ka'ada'annja Wen-Liang sasoedanja ia ditinggal mati oleh anaknja. Semingkin lama kasoesa'an semingkin dorong padanja ka itoe kalangan jang sanasib dengen ia. Orang tida namaken lagi ia satoe „kunstenaar”, tapi satoe „boeaja darat”.

Diliat dari lahir memang Wen-Liang telah berobah banjak. Ia tida begitoe perhatiken lagi iapoenja pakean, hingga seringkali ada sanget dekil, topi jang ia pake soeda djadi tida karoean matjem, pergaoelannja sekarang tjoema dengen marika jang ditjap „boeaja darat”. Ia terpaksa oleh ka'ada'an aken tjampoer dengen marika, kerna orang-orang jang anggep dirinja sopan balikin blakang padanja, tapi di dalem batin Wen-Liang masi tetep Wen-Liang jang doeloe.

Ka'ada'an di satoe roemah djoedi di Gang Klenteng itoe waktoe ada sanget raménja. Di satoe medja pandjang ada berkroemoen orang-orang jang berdjoedi. Di antara marika adalah Wen-Liang.

Seperti soeda djadi kabiasa'annja di roemah begitoe, masing-masing ada mempoenjai djago sendiri-sendiri, kerna tida djarang di dalem roemah perdjoedian begitoe terbit perklaian, sedeng itoe djago-djago disediaken boeat mendjaga ka'amanan.

Wen-Liang itoe koetika tida toeroet berdjoedi, kerna apa jang ia poenja kemaren soeda ambles di itoe medja. Sekarang ia doedoek di satoe podjok dengen terpekoer, tida taoe apa jang ia moesti berboeat, kerna modal boeat berdjoedi soeda ia tida poenja sama sekali.

Di loaar dari itoe roemah djoedi ada kliatan doea orang jang sedeng bitjara di tempat gelap. Satoeantara marika ada berbadan koeroes dan djangkoeng, sedeng jang laen ada berbadan gemoek. Pakeannja djoega ada sanget berbeda. Pakeannja si koeroesada seperti biasa kaoem boeaja darat, badjoe twikim jang dekil, tjelana ouwtioe, sedeng satoe piso blati ada menjelip di badannja. Jang laen sebaliknja berpakean perlente dan kliatannja seperti saorang hartawan.

„Bisa tida kaoe djalanin?” kadengeran itoe orang jang gemoek berkata dengen swara pelahan," inget saja tjoema beriken kaoe kans ini kali!”

„Tapi apa bikinannja aloes,” tanja itoe orang jang koeroes, „saja sabetoelnja belon perna djalanin perkara begini, kaloe kaoe soeroe saja boenoeh orang, brangkali lebih gampang saja djalanin.”

„Bah, saja tida njana kaoe begitoe goblok, Tjoan,” kata itoe orang gemoek lagi. „bikinannja kaoe djangan kwatir, tjoba mari kaoe ikoet padakoe dan liat sendiri.”

Itoe orang koeroes ternjata ada Eng-Tjoan, satoe tjabang atas jang soeda terkenal boeat di bagian Klenteng, sedeng itoe orang jang berbadan gemoek ada terkenal sabagi saorang hartawan dan terhormat.

Marika berdoea laloe menoedjoe ka satoe tikoengan, di mana ada satoe auto. Di sitoe ka'ada'an sanget sepi dan djarang sekali orang liwat.

Si gemoek lantas tjendrongken badannja ka dalem auto dan boeka satoe koffer ketjil. Ia lantas soeloehin dengen battery dan oendjoek pada Eng-Tjoan satoe iketan oewang kertas dari roepa-roepa harga. Si koeroes matanja djadi bertjahaja waktoe meliat itoe semoea.

„Tjoba kaoe preksa sendiri, aloes tida boeatannja,” kata itoe orang gemoek, sambil soeloehin teroes dengen iapoenja lampoe batery.

Eng-Tjoan laloe ambil satoe lembar jang doeapoeloe lima roepia dan boelak-balik di itoe panerangan. Ia kliatannja sanget girang.

„Betoel, enko Kong-Hin,” kata Eng-Tjoan kamoedian, „boeatannja kliwat bagoes, tapi di itoe tempat djoedi ada toeroet maen bebrapa kassier jang soeda biasa pegang oewang dan djoega ada baron dari Tangerang bersama iapoenja ngohouw!”

Kong-Hin mesem dan berkata:„Kaoe takoet, Tjoan, soenggoe saja tida doega dari kaoe, pendeknja maoe tida?”

„Bagimana djandjinja?” tanja lagi Eng-Tjoan jang memang sedeng kliwat kasoekeran oewang.

„Djikaloe kaoe bisa toekar semoea, kaoe dapet separo dan dari kamenangan djoega bagi doea!” kata lagi Kong-Hin.

„Baek, enko Kong-Hin,” achirnja Eng-Tjoan berkta, „kapan kita bertemoe lagi?”

„Besok di soehian Mangga doea, kaoe toch taoe!” Eng-Tjoan manggoetken kepalanja. Kong-Hin kamoedian angsoerken pada sagempelan oewang kertas dan marika laloe berpamitan, tida antara lama Kong-Hin poenja auto soeda berlaloe dari itoe tempat.

Eng-Tjoan tatkala masoek lagi di itoe roemah djoedi kliatannja sanget sangsi. Ia moendar-mandir bebrapa balik dan toendoekin kepalanja seperti sedeng berpikir.

„Apa kaoe djoega kalah, maka kliatannja begitoe poesing, enko Eng-Tjoan,” tanja satoe swara. Dan waktoe Eng-Tjoan menoleh ternjata jang menanja ada Wen-Liang. Eng-Tjoan lantas dapet satoe pikiran.

„Saja tadi siang baroe dapet kamenangan besar di roemah djoedi di Pinangsia, kenapa kaoe tida toeroet maen?” tanja Eng-Tjoan.

„Modal soeda abis” kata Wen-Liang dengen roepa soesah.

„Mari,” mengadjak Eng-Tjoan dan toentoen {{hws|Wen-| Liang ka loear.

Sesampenja di sana ia berkata lagi: „Saja soeka kasi pindjem pada kaoe boeat berdjoedi, apa kaoe maoe?”

Wen-Liang meliat dengen heran pada itoe kawan, sebab belon pernah itoe tjabang atas begitoe baek padanja.

„Kaloe kaoe soeka kasi pindjem, tentoe,” saoet Wen-Liang, „tapi kenapa kaoe tida maen sendiri?”

„Saja kliwat lelah, pergilah maen,” kata itoe tjabang atas lebih djaoe, „saja nanti menoenggoehken kaoe sembari minoem bier, ini ada f 500.― pergilah!”

Dengen perasa'an girang tertjampoer heran Wen-Liang trima itoe sagempel oewang kertas jang merah dan idjo-idjo, tangannja agaknja bergoemeter lantaran soeda lama ia belon pernah pegang oewang begitoe banjak.

„Kaoe roepanja dapet banjak kamenangan,” kata Wen-Liang.

„Soeda djangan tanja, pergilah!”

Wen-Liang laloe menoedjoe ka medja djoedi dan moelai pasang. Eng-Tjoan sendiri laloe pergi di satoe podjokan dan doedoek mengadepin satoe botol bier, jang ia baroesan pesen.

Roepanja Wen-Liang sanget bersinar, matanja bertjahaja, kerna saben-saben ia mendapet kamenangan, hingga oewang kertas soeda djadi menoempoek dihadepannja. Ia soeda dapet pikiran, djikaloe ia dapet kamenangan sedikit besar jang ia boleh goenaken boeat kapitaal ia aken tida maoe berdjoedi lagi.

Sekoenjoeng-koenjoeng saorang di antara marika jang terkenal dengen nama baron Tangerang, berdiri dan pegang satoe oewang kertas jang Wen-Liang baroe taro boeat pasang.

„Ini oewang kertas palsoe!” kata itoe baron dengen swara keras dan ka'ada'an lantas djadi soenji. Tida ada satoe orang jang brani berkoetik dan boeka swara. Semoea mata mengawasin pada Wen-Liang, sebab itoe oewang ia jang baroesan pasang.

„Hadjar padanja!” bertreak itoe baron dengen roepa goesar. Ampat lima orang lantas menerdjang pada Wen-Liang jang djadi sanget goegoep dan tida taoe apa jang ia moesti berboeat.

Antara itoe orang-orang ada jang menjaboet piso, hingga Wen-Liang poenja mata djadi silo meliat itoe sendjata berkredepan. Ia kira jang ia bakal tiwas. Ia moendoer bebrapa tindak dan kena senggol satoe orang, hingga djadi terdjoengkel. Ka'ada'annja djadi sanget kaloet dan Wen-Liang kira jang adjalnja bakal sampe di sitoe.

Tapi sekoenjoeng-koenjoeng lampoe-lampoe djadi padem, hingga ka'ada'an djadi sanget gelap goelita dan kaloet. Swara orang jang bertreak-treak djadi samingkin njata, korsi dan medja pada terbalik. Orang-orang pada merampas pada oewang jang ada di atas medja, di sitoe lantas terdjadi satoe perklaian heibat jang orang tida taoe lagi kawan atawa moesoeh.

Marika saling poekoel dan saling goelet, oewang-oewang perakan kadengeran berantakan ka sana sini, djikaloe noraka hendak dibandingken dengen ka'adaan di sitoe brangkali tida terlaloe salah.

Sekoenjoeng koenjoeng kadengeran satoe ledakan dan samentara waktoe di itoe roewangan djadi terang lantaran api jang dihemboesken oleh itoe sendjata api. Lagi satoe ledakan dan swara merinti-rinti kadengeran, bebrapa badan pada roeboeh di tanah.

Wen-Liang masi kabingoengan dan berdiri dengen goemeter di satoe podjok, perasa'annja seperti djoega hadepken satoe doenia kiamat. Kakinja ia rasaken berat dan pikirannja kalang kaboet.

Sedeng ia berada dalem ka'ada'an begitoe ia rasa satoe satoe tangan memegang pada poendaknja, itoe swara menanja: „Wen-Liang?”

„Oh, kaoe enko Eng-Tjoan, kenapa. . . . . .

„soeda, djangan menanja,” kata itoe swara, „lantas lari, politie tida lama lagi bakal dateng!”

Wen-Liang seperti baroe seder dan baroe inget jang dirinja ada dalem bahaja. Tapi baroe sadja ia hendak bertindak, koetika satoe badan menghalangin padanja dan matanja djadi silo waktos matanja meliat satoe piso berklebatan hendak mengenaken dirinja. Ia meremin matanja, tapi ternjata itoe toesoekan soeda dapet ditangkis oleh Eng-Tjoan. Tida oeroeng Wen-Liang naseken itoe toesoekan mengenaken djoega poendaknja jang ia rasaken sakit sekali.

„Kaoe djago Klenteng,” kadengeran satoe swara, „di sini djago Tangenang!”

Marika lantas beramtem di itoe tempat jang gelap goelita dengen mati-matian, kerna marika memang ada moesoeh sadjek lama.

Koetika Wen-Liang berada di loear, ia rasaken hawa oedara jang seger mengasih kasederan padanja boeat berlaloe salekasnja dari itoe tempat. Tapi ia rasaken poendaknja sanget sakit dan waktoe ia pegang ternjata jang ia dapet loeka, sedeng lengan badjoenja soeda dijadi merah lantaran darah.

„Oh, Allah,” ia berkata, „soenggoe sakit!” Ia merintih dan tinggal berdiri. lantaran ia rasaken poendaknja sanget berat. Sakoenjoeng-koenjoeng ia mendenger swara motor dan lampoe motor mentjorot dari tempat djaoe. Itoe motor-motor mendatengin dan tida bisa salah lagi marika ada orang politie, jang soeda dapet taoe tentang kariboetan dalem itoe roemah djoedi.

Dengen paksaken diri Wen-Liang lantas lari ka tempat gelap. Ia djalan dengen sempojongan di satoe djalanan ketjil. Sabentar-bentar ia melendot pada orang poenja tembokan roemah dan merintih-rintih. Dari blakang ia mendenger swara tindakan.

„Ia lari ka dalem ini gang” kadengeran satoe swara jang ternjata ada orang politie jang mengoeber padanja.

Wen-Liang membiloek lagi ka laen gang dan paksaken dirinja boeat lari teroes. Tapi ia rasaken poendaknja sanget sakit dan ia mengeloearken banjak darah, hingga ia rasaken matanja berkoenang-koenang. Ia paksaken dirinja boeat bertindak lebih djaoe, tapi ia tida koeat, matanja djadi gelap dan achirnja ia djato pangsan.

Kadjadian di atas ada mengoendjoekin sampe di mana satoe boeaja darat sering oendjoek ia poenja pembelahan. Eng-Tjoan pedajain soeroe Wen-Liang dengen oewang kertas palsoe memang ada satoe perboeatan hianat, tetapi koetika ia liat Wen-Liang dalem bahaja, ia lantas pademken lampoe dan koetika itoe djago Tangerang hendak menoesoek, ia soeda belahken dengen matian-matian dan tida tinggal lari. Saorang jang diseboet „sopan” brangkali aken tida berboeat sampe begitoe djaoe, ini ada memboektiken jang di antana marika poen ada terdapet emas jang biarpoen terpendem di dalem loempoer toch tinggal emas djoega.

X

GADIS MOELIA.

I am the very slave of circumstance
And impulse—borne away with every breath!
Misplaced upon the throne—misplaced in. life,
I know not what I could have been, but feel
I am not what I should be.

Byron


KOETIKA Wen-Liang melekin matanja ia dapetken boekan lagi di itoe djalanan gang jang gelap goelita.

Plahan-plahan ia boeka matanja. la mengletak di satoe pembaringan jang klamboenja bersih, biarpoan ka'ada'an itoe roemah boekan ada roemahnja saorang hartawan, kerna itoe roemah tjoema ada satoe roemah bilik jang soeda toea. Di atas satoe media ketjil ada terpasang satoe lampoz minjak tanah jang memantjarken sinarnja jang rada soerem, sedeng doea korsi rejot ada di dalem itoe kamar.

Waktoe Wen-Liang hendak bangoen ia rasaken poendaknja masi sakit, tapi waktoe ia meliat ka itoe bagian dari badannja, ternjata itoe laska soeda diverband dengen kaen poetih. ha baroe inget apa jang terdjadi baroesan dan jang ia tadi telah dioeber-oeber orang politie.

„Apa orang soeda dapet tangkep padakoe?” tanja ia pada saorang diri.

„Tida, kaoe sekarang soeda slamet,” kata satoe swara aloes dan koetika Wen-Liang menengok ternjata di pinggir pembaringan ada berdiri satoe gadis jang eilok.

„Kaoe, Hiang-Nio?” menanja Wen-Liang dengen heran, „apa saja mengimpi?”

„Kaoe tida mengimpi, enko Wen-Liang,” kata lagi itoe gadis, „kaoe ada di dalem kamar saja. Baroesan waktoe saja berada di blakang, saja denger swara orang lari dan djato. Koetika saja bawa lampoe dan menerangin saja terkedjoet, lantaran saja dapetken kaoe sedeng mengletak di tengah gang dengen berloemoeran darah. Dengen koeat diri, saja lantas bawa kaoe ka dalem, koentjiken pintoe blakang dan tjoetji kaoe-poenja loeka. Sedeng kaoe masih tinggal pangsan. Koetika saja sedeng verband kaoe-poenja loeka, di blakang saja denger orang riboet-riboet, Saja laloe mengintip dari sela-sela bilik dan dengerin iaorang berkata-kata. Ternjata marika itoe orang. poiitie.

‘Kaoe kenalin dia siapa?’ tanja jang satoe pada kawannja.

‘Waktoe ia meliwatin itoe bentera saja liat teges, dia ada Wen-Liang itoe bekas toekang gambar!’

‘Apa kita moesti oeber teroes?’ tanja jang pertama.

‘Kenapa?’

‘Bebrapa orang soeda dapet loeka dan satoe orang tertoesoek mati di dalem itoe roemah djoedi,’ kata lagi jang biakangan, ‘saja dapet katerangan WenLiang jang soeda goenaken oewang kertas palsoe, djadi bisa djadi ia jang djadi pemboenoehnija itoe djago Tangerang, maka djoega ia melariken diri!’

'Baek kita soesoel sadja di romahnia,' kata lagi jang satoe.

„Soekoer,” kota Hiang-Nio achir-achirnja, „iaorang tida soeloehin di mana kaoe telah djato, djika tida pasti dari tanda-tanda darah iaorang taoe jang kaoe berada di sini!"

Wen-Liang mengawasin pada itoe gadis jang baek boedi, kamoedian ia paksaken diri boeat berdoedoek, kerna sekarang ia rasaken loekanja tida begitoe sakit lagi.

„Hiang,” Wen-Liang sambil pegang tangannja itoe gadis, „apa, kaoe taoe, jang dengen menoeloeng saja kaoe bisa djadi tjilaika?”

„Saja taoe,” saoet itoe gadis dengen mata bersinar, „tapi apa saja moesti antepken sadja kaoe mengletak di tengah dijalan?”

„Hiang, gadis jang moelia sabagi kaoe di doenia soenggoe soesa ditjari dan apa kaoe pertjaja jang saja ada satoe pemboenoeh?”

Samentara waktoe itoe gadis mengawasin pada Wen-Liang dengen sorot mata jang bilang riboean perkata'an.

„Tida,” ia berkta, „tapi toch kaoe bisa dapet banjak soesah, sebab kaoe soedo mengoenaken itoe oewang kertas palsoe.”

Wen-Liang kamoedian toetoerken padoa itoe gadis, bagaimana ia sedeng berada dalem ka'ada'an soeker dan tida taoe sama sekali jang itoe oewaong kertas ada palsoe.

„Saja, pertjaja pada kaoe,” kata itoe gadis, „tapi politie belon tentoe bisa pertjaja pada kaoe, maka paling baek kaoe melariken diri!”

Wen-Liang tinggal toendoek dan pikir, jang omongannja itoe gadis betoel djoega.

„Apa mama kaoe ada di roemah, Hiang?” tanja Wen-Liang kamoedian.

„Tida, ia pergi berdjoedi, tengah malem baroe ia poelang,” saoet itoe gadis, „dalem ini roemah melaenken ada saja sendirian.”

„Apa kaoe tida takoet, Hiang?”

„Saja soeda biasa,” saoet itoe gadis.

Bebrapa sa’at marika tinggal berdiam. Wen-Liang mengawasin pada itoe gadis jang eilok. Bebrapa tanda darah masih menempel di badjoenja itoe gadis, koetika ia seret Wen-Liang ka dalem. Itoe waktoe Wen-Liang rasaken sakitnja ilang sama sekali. Sasoedanja ia taoe jang satoe gadis jang begitoe eilok telah toeloeng dan korbanken diri goena ia, ia merasa beroentoeng di dalem itoe kasoekeran.

„Hiang-Nio,” kata Wen-Liang kamoedian sambil mengawasin teroes pada moekanja itoe gadis, „bagaimana saja moesti njataken saja-poenja trima-kasi pada kaoe!”

„Saja tida perloe dengen kaoe-poenja trima-kasi,” saoet itoe gadis.

Wen-Liang tarik itoe gadis lebih deket.”

„Tapi kaoe toch tjinta, tjinta pada saja?” tanja ia.

Itoe gadis tinggal diam, tapi Wen-Liang dapet tebak hatinja itoe gadis dan beriken bebrapa tjioeman di mana bibir dan pipinja. Itoe gadis tinggal manda, tapi selang brapa koetika ia berkata dan lepasken dirinja dengen aloes dari peloekannja Wen-Liang.

„Kita tida boleh boeang tempo,” kata ia, „saben waktoe politie bisa tjari kaoe. Ini malem djoega, kaloe ka'ada'an soeda djadi sepi kaoe bisa, berlaloe dari Betawi. Saja rasa baek kaoe menjamar seperti orang Indonesier.”

„Kaoe tega soeroe saja pergi dari damping kaoe, Hiang, dan bagaimana nanti djadinja dengan Rosa?” „Boeat goena kaoe-poenja kaslametan saja moesti minta kaoe berlaloe dari ini kota,” saoet itoe gadis, tapi aer matanja djadi mengembeng waktoe ia berkata, „boeat Rosa enko tida tida oesa kwatir, saja nanti rawat padanja sabagi satoe soedara poetoesan peroet!”

„Sabagi satoe iboe!”

„Baek, sabagi satoe iboe,” saoet lagi itoe gadis, „djangan kwatir, enko, asal sadja kaoe bisa slamet, pertjaja kaoe enko pada saja?”

„Pertjaja,” kata Wen-Liang dengen girang, „saja tida bisa pertjajaken Rosa pada laen orang selaennja pada satoe bidadari sabagi kaoe, Hiang!”

Hiang-Nio laloe pergi sabentar dan tida lama lagi ia bawa nasi dan temen-temennja. Ia taro itoe di atas medja ketjil.

„Daharlah doeloe, enko,” kata ia kamoedian, „bisa djadi_kaoe belon makan, tapi daharlah sa'adanja sadja!”

„Oh, Hiang,” kata Wen-Liang, „djikaloe saja mempoenjai istri sabagi kaoe tentoe saja tida sampe djadi begini!”

„Soeda,” saoet itoe gadis sambil sendokin nasi, „djangan boeang tempo.”

Wen-Liang laloe dahar dan ia memang sedari tadi sore belon makan maka ia dahar banjak sekali. Lebih lagi Hiang-Nio saben-saben sendokin nasi.

Samentara itoe Hiang-Nio laloe toekar badjoe, sedeng jang tadi belepotan darah ia laloe rendem di dalem paso.

„Soeda, soeda,” kata Wen-Liang kostika Hiang-Nio maoe sendokin lagi nasi, „apa saja besok moesti dipotong, hingga ini malem moesti didjedjel begini banjak?”

„Kaoe toch boekan babi, mana bisa dipotong,” kata itoe gadis sembdari mesem. Boeat samentara roepanja marika loepaken kasoekerannja, tapi kamoedian Hiang-Nio kata lagi:

„Sekarang saja perloe dandanin, soepaja kaoe djadi bang Wen-Liang!”

„Dan kaoe djadi saja-poenja embok!” saoet Wen-Liang dengen tertawa.

„Soeda enko,” kata itoe gadis, „djangan membanjol, toekarlah. Pake sadja saja poenja saroeng dan ini ada setangan kepala!”

„Dari mana kaoe dapet itoe setangan kepala?” tanja Wen-Liang dengen heran.

„Ah, enko roepanja soeda lamoer,” kata itoe gadis, „apatah ini boekan jang baroesan dipake laken toetoep media ketjil itoe?”

„Boleh djadi saja lamoer, lamoer oleh kaoe-poenja kaeilokan, Hiang,” kata Wen-Liang.

Sasoedanja Wen-Liang pake itoe saroeng dan setangan, Hiang-Nio terpaksa moesti tertawa. Tapi tida lama, kamoedian ia kliatan djadi sedih dan ia djadi menangis dengen sesegookan.

„Hiang,” kata Wen-Liang sambil pegang poendaknja itoe gadis, „baroesan kaoe ketawa dan sekarang menangis, bagimana?”

Hiang-Nio menangis teroes, hingga Wen-Liang djadi bohhwat. Ia djoega sabenernja sanget berat moesti meninggalken pada itoe gadis dan lebi lagi ia moesti tinggalken iapoenja anak Rosa.

„Enko Wen-Liang,” kata itoe gadis dengen sasegoekan, „kita tida taoe kita berpisah sampe kapan.”

Wen-Liang tida bisa mendjawab, ia rasaken seperti djoega lehernja terkantjing.

„Soeda nasib,” berkata Wen-Liang dengen plahan.

Bebrapa ketjlak aer mata djato dari matanja.

Hiang-Nio kamoedian angsoerken satoe boengkoe-san ketjil.

„Ini sedikit oewang,“ kata itoe gadis, „ada perloe kaoe bawa, enko, sebab bisa djadi kaoe-poenja perdjalanan bakal djaoe sekali! Trimalah, biarpoen tida banjak!“

Wen-Liang djadi merasa maloe. Ia taoe itoe gadis boekan ada satoe gadis jang kaja, ajahnja soeda tida ada, sedeng iboenja poen tjoema hidoep dengen berdjoedi sadja.

„Tida, Hiang,“ saoet Wen-Liang, „saja ada satoe laki-laki. Simpenlah sadja itoe oewang, kaoe sendiri perloe pake!“

„Enko,“ kata itoe gadis dengen memaksa, „djikaloe kaoe tida maoe trima ini sedikit pengasi'an, kaoe artinja tida hargaken saja-poenja diri. Saja tinggal di roemah, tida terlaloe perloe dengen oewang, tapi kaoe ada perloe!“

Wen-Liang tida bisa menolak lagi, ia laloe trima itoe oewang dan masoeken dalem sakoenja.

„Gadis jang begitoe moelia sabagi kaoe soenggoe saja baroe pernah dapetken,“ kata Wen-Liang, „bagimana saja moesti bales kaoe-poenja boedi, Hiang?“

„Djangan bitjara perkara bales boedi, enko, djikaloe kaoe betoel tjinta,“ saoet itoe gadis, „sekarang soeda djam 11 malem. Ka'ada'an soada djadi sepi, saja kira soeda waktoenja enko brangkat!“

Itoe gadis laloe boeka pintoe blakang dan betoel sadja, ka'ada'an soeda sanget soenji.

„Hiang,“ kata Wen-Liang sambil peloek boeat pengabisan kali pada itoe gadis, „slamet tinggal, djagalah Rosa. . . . . .!“

Ia tida bisa berkata lebih djaoe, aer matanja djadi bertjoetjoeran.

„Slamet djalan, enko,“ kata Hiang-Nio djoega dengen berlinang-linang aer mata, „sampe bertemoe kombali, Rosa djangan kaoe boeat pikir. . . . . .!“

Satoe tjioeman dan Wen-Liang mengilang di tempat gelap.

Besokannja di kota telah djadi ramé, barhoeboeng dengen itoe kariboetan di tempat djoedi. Bebrapa orang soeda diangkoet ka roemah sakit lantaran dapetken loeka-loeka. Itoe djago Tangerang telah terboenoeh mati dalem itoe perklaian, sedeng bener sadja orang jang tertoedoeh adalah Wen-Liang.

Soerat-soerat kabar itoe hari ramé sekali menjeritaken tentang itoe kedjadian. Wen-Liang satoe toekang gambar jang terkenal kapandeannja telah merosot dalem kadoedoekannja dan kamoedian djadi pemboenoeh. Tentoe sadja ini kabaran manerbitken kagemperan besar.

Politie soeda tjari pada Wen-Liang di sana sini, tapi tida bisa dikatemoeken. Ini kadjadian soeda menerbitken kasedihan besar pada Kosi-Nio dan Rosa, tetapi pada marika Hiang-Nio tida tjeritaken, bahoea ia telah pernah katemoeken dan toeloeng pada Wen-Liang.

Koei-Nio biarpoen beradat keras sabetoelnja mentjinta pada sawminja, itoe kaberoentoengan jang tida ada di dalem roemahnja, boekan lantaran itoe swami istri tida menjinta satoe-sama laen, tapi lantaran tabeatnja jang sanget bertentangan. Kadjadian itoe telah sanget mengagetken pada Koei-Nio. Memang ia soeda djadi terganggoe zenuwnja lantaran itoe pernikahan jang tida beroentoeng, ditambah lagi dengen kasoekeran jang semingkin hari djadi semingkin besar,
ia poenja badan sanget lemah, hingga ini kadjadian achirnja telah membikin ia djato sakit.

Ia mendapet sematjem penjakit batok dan demem, hingga ia selaloe moesti berbaring.

Djikaloe tida ada Hiang-Nio jang satiap hari dateng sambangin dan merawat pada si sakit dan djoega pada Rosa, tentoe ini anak aken djadi terlantar sama sekali. Plahan-plahan Rosa poen djadi sanget sajang pada Hiang-Nio jang ia anggep sabagi entji atawa iboenja sendiri.

Tempo-tempo Tjoe Soei poen dateng menjambangin. Ia tida loepaken pada Koei-Nio. Tjoe Soei telah panggilken dokter, beliken obat, sedeng segala ongkos roemah tangga boleh dibilang ditanggoeng oleh Tjoe-Soei, satoe hal jang boleh dianggap beroantoeng, sebab djikaloe tida bagimana Koei-Nio moesti hidoep dengen anaknja, sedeng Hiang-Nio sendiri boeat oeroesan oewang pasti tida bisa menoeloeng padanja.

„BIDADARI?”
Boekan satoe dongengan, hanja satoe loekisan jang menarik tentang jang kita bisa menampak dalem kita poenja masjarakat ini hari.


XI
YIN LAN DAN WEN LIANG.


Goenoeng dan boekit tida bertemoe
satoe sama laen, tapi menoesia. . . . . . .


ITOE malem djoega sasaedanja berpisa'an dengen Hiang-Nio, Wen-Liang laloe menjingkir diri dari kota Betawi. Ia tida taoe ka mana ia moesti pergi, tapi ia djalan sadjalannja sadja. Satoe mlem ia telah berdjalan teroes, hingga kakinja ia rasaken meloeang, kerna ia tida biasa berdjalan begitoe djaoe.

Koetika fadjar dan sang Batara Soerja baroe sadja oendjoeken sinarnja jang gilang goemilang Wen-Liang telah sampe di loear kota Bogor. Ia sanget lelah, tapi ia tida taoe di mana ia moasti mangasoh. Kakinja sanget pegel, sedeng itoe loeka di poendaknja djoega moelai terasa lagi. Di betoelan Kedoenghalang ia pergi di satoe waroeng nasi dan tangsel peroetnja jang ia soeda rasaken sanget lapar sasoedanja berdjalan begitoe djaoe. Oewang jang Hiang-Nio bekelin padanja ternjata tida banjak, melainken bebrapa roepia sadja, tapi bagi itoe gadis jang boekan saorang hartawan, itoe oewang tentoe berarti besar. Dan boeat Wen-Liang djoaga, dari mana ia moesti dapet oewang, bila tida ada oewangnja Hiang-Nio.

Sa'abisnja dahar, lantaran hatinja masi kwatir ia bakal disoesoel oleh politie Betawi, Wen-Liang berdjalan teroes, tapi ketika sampe di Pebaton ia dapetken

laen kakwatiran. Bisa djadi jang politie Bogor poen soeda dikasi taoe dengen telefoon tentang itoe kadjadian, maka Wen-Liang pikir jang ia moesti menoenggoe datengnja sang malem boeat meliwatin kota Bogor. Tapi di mana itoe hari ia moesti mengoempet?

Sasoedanja berpikir sakean lama Wen-Liang dapet pikiran, bahoea tida ada tempat mengoempet jang lebih baek boeat itoe hari selaennja di Kebon Besar atawa Botanic Garden jang tersohor. Ia laloe menoedjoe ka sitoe, pergi di satoe tempat jang paling podjok di pinggir kali Tjiliwoeng dan pergi berdoedoek di sitoe dengen mengawasin mengalirnja sang aer.

Di sebrang sana ia liat doea merpati sedeng berdjalan-djalan dengen girang sekali. Si lelaki pegang pinggang itoe gadis jang memake rok poetih-blaoe. Marika menoentoen doea anak ketjil, satoe jang besaran dan satoe ketjilan, roepanja adenja itoe gadis. Marika berdoedoek di atas satoe bangkoe, itoe doea anak ketjil pergi memoengoetin boeah kenari, sedeng itoe sepasang merpati doedoek pasang omong dengen kliatan sanget beroentoeng.

„Marika roepanja sanget beroentoeng,“ pikir Wen-Liang, „tapi oh, apa di doenia ada kaberoentoengan jang kekel? Kamanisan dan kagetiran dalam penghidoepan ada bergantian. Itoe sepasang merpati di sana sedeng alamken madoenja pertjinta'an, ja ini waktoe, tapi di laen waktoe. Siapa taoe, marika brangkali moesti tangisken aer-mata darah, sebab tida ada tjinta jang tida dibrikoetin dengen aer-mata, oh! Djoega saja, pernah alamken itoe madoe pertjinta'an, tapi sekarang?“

Dengen tida terasa Wen-Liang djadi inget pada Yin Lan. Romannja itoe gadis djadi terobjang njata lagi di depan matanja. Itoe sedi jang manis, jang baek boedi, jang ia tida taoe lagi sekarang ada di mana. Apa itoe gadis taoe, jang sekarang Wen-Liang soeda boekan lagi Wen-Liang jang doeloe. Sekarang Wen-Liang doedoek terpekoer di pinggir itoe kali dengen berpakean sebagi saorang Indonesier, tertoedoeh sabagi pemboenoeh dan diasingken dari doenia jang sopan.

„Yin Lan,“ mengrendeng Wen-Liang, „tida bisa saja loepaken kaoe! Romanmoe saja aken bawa sampe di lobang koeboer. Oh, Yin, di mana sekarang kaoe berada? Apa kaoe djoega masih teringet pada saja?“

Itoe sepasang merpati jang membikin Wen-Liang djadi terkenang pada Yin Lan, berlaloe dari itoe tempat dan pergi ka laen bagian dari itoe Kebon Besar.

„Saja harep sadja kaoe orang beroentoeng boeat selamanja!“ kata Wen Liang sambil mengawasin pada itoe sepasang merpati, sampe marika linjap dari pemandengan teraling oleh pepoehoenan jang lebet.

Lama Wen-Liang berdoedoek di sitoe, ia tida brani ka sana sini kwatir nanti bertemoe orang jang kenalin padanja. Ia rebahken dirinja di bawah satoe poehoen dan achirnja djadi poeles.

Koetika ia seder kombali, mata-hari soeda naek tinggi dan hawa soeda djadi sanget panas. Berbareng dengen itoe Wen-Liang rasaken sanget aoes dan itoe loeka di poendaknja ia rasaken sangat ngadat dan panas. Kepalanja djoega ia rasaken sakit dan badannja sedikit demem.

Ia laloe berdjalan sedikit, di mana tepi kali tida begitoe tinggi, hingga ia laloe toeroen. Ia basahken kaen verband loekanja dengen aer kali. Ia kapingin minoem, tapi ia tida bisa minoem sebab kotor.

Wen-Liang taoe jang di deket sitoe ada satoe pantjoran jang aernja bening. Ia laloe menoedjoe ka sitoe
dan minoem bebrapa tjegloekan dengen bernapsoe.

Koetika ia hendak kombali ka tempat semboeninja, di satoe bagian jang pepoehoenannja lebet ia dapet lagi itoe sepasang merpati. Itoe doea anak ketjil soeda berdjalan lebih dosloe, hingga itos pamoeda dan itoe gadis bisa bitjara dengen laloeasa.

Doanja Wen-Liang ternjata tida kaboektian, sebab baroe sadja tadi marika kliatan begitoe barseri-sari, sekarang romannja itoe sepasang merpati tida begitoe goembira lagi. Marika roepanja moasti berpisa'an satoe sama laen.

,,Kapan kita bisa ketemoe lagi, darling?" tanja itoe lelaki sambil pegang poendaknja itoe gadis.

,,Oh, mana saja bisa bilang," saoet itoe gadis, ,,saja kwatir tida bisa bertemoe lagi satoe sama laen?"

Apa itoe kaoe-poenja postossan, dear?" tanja lagi itoe lelaki.

,,Boekan saja poenja poetoesan," kadengeran lagi itoe gadis, ,,kaoe taoe antara saja dan kaoe ada halangan begitoe besar. Kita serahken sadja diri kita pada sang nasib. Kaloe sang nasib ingin, tentoe kita boleh mendjadi."

,,Kaloe snasib ingin," mengeloe itoe lelaki," dan nasib seringkali sanget kedjem!"

Itoe sapasang merpati berpisahan dengen sanget sedih tertampaknia.

Kenapatah marika? Pikir Wen-Liang, Roepanja djoega satoe pertjinta'an jang gagal atawa tida kasampean. Soenggoe doenia ini penoah dengan felakon dan hal-hal jang loear biasa!

,,Tapi ah," achirnja Wen-Liang berkata saorang diri, ,,perdoeli amat, itoe ada marika poenja perkara, siapa jang brani menjinta, moesti brani djoega lawan

kasengsara'an hati, sebab menjinta zonder beroentoeng dan beroareng djoega sengsara, roepanja tida bisa djadi di atas ini doenia. Apa Yin Lan pernah bilang doeloe, O, koe inget begini:

,,Orang bodo nama si Nia,
Toelis soerat saja soeroeken,
Tida berdjodo atas doenia,
Di pintoe acherat saja toenggoeken'!"

Sampe mata-hari dojong ka sabelah Koelon WenLiang tinggal mengoempet di itoe tempat. Semingkin soré ia rasaken loekanja semingkin sakit dan badannja semingkin demem, tapi koetika magrib terpaksa ia berdjalan kombali Dalem samentana waktoe sadja ia soeda meninggalken kota Bogor.

Hari soeda djadi malem. Langit ada gelap, sabagi djoega bakal toeroen oedjan. Ka'ada'an ada soenji sekali, di loear tjoema kadengeran swara binatang malem, sedeng di djalanan Poentjak jang maneroas ka sanatorium Tjibeurem ada sanget sepi, tida ada satoe orang jang berdjalan di sitoe begitos waktoe, apalagi awan selaloe mendoeng dan tida lama lagi bakal toempahken aernja ka moeka boemi.

,,Hawa ini malem ada dingin sekali, ‘neng Yin!" kata Alima pada nonanja jang sedari tadi berdiri dengen bengong di blakang djendela.

,,Roepanja bakal toeroen oedjan," saoet Yin Lan jang pikirannja masih melajang-lajang pada waktoe jang telah liwat.

,,Saja heran, 'neng Yin, kenapa kaoe masih sadja belon menikah." kata itoe baboe lagi dengen tida sengadja. „Alima,” kata Yin Lan dengen sedikit koerang seneng, „djangan kaoe sekali lagi bitjaraken itoe hal, sebab saja boleh marah. Satoe zuster lebih baek tinggal merdika, kaoe taoe Alima?”

Alima tida brani bitjara lebih djaoe, kerna ia boekan hendak membikin nonanja jang pernah menoeloeng iapoenja djiwa djadi koerang seneng.

„Sabelonnja toeroen oedjan,” kata Yin Lan lagi, „lebih baek kaoe pergi di waroeng boeat kaperloean besok, djadi tida berabe lagi.”

Alima lantes berlaloe boeat membeli bebrapa batang kaperloean di satoe waroeng jang pernahnja ada djace djoega dari itoe sanatorium.

Baroe sadja Alima sampe di itoe waroang, oedjan telah toeroen dengen sanget deresnja, sedeng tempo-tempo kilat berkredepan di'iringin dengen swara geJoedoekan jang santer. Terpaksa Alima moesti berdiam di itoe waroeng menoenggoeken brentinja sang oedjan.

Yin Lan sendiri merasa kesel sendirian dalem itoe paviljoen. Ia laloe ambil mandoline dan pentil bebrapa flagoe jang ia soeka. Kombali aer matanja djadi berlinang-linang, koetika ia maenken lagoe. „Biar kaoepoenja ramboet soeda berabah laksana perak, saja aken tetep menjinta kaoe”. Bebrapa sa'at ia teroes maenken itoe lagoe dengen aer-matanja teroes mengalir, itoe lagoe membri kalberoentoengan padanja, tapi berbareng djoega kasedihan, ia teringet pada inasibnja jang malang, ia teringet padanja jang terpisah djaoe dari ia......

Sakoenjoeng-koenjoeng ia dibikin kaget dengen kadatengannja Alima, jang pakeannja djadi lepek sama sekali.

„Neng Yin, neng Yin,” kata itoe boedjang dengen napas sengal-sengal,” di depan sanatorium ada mengletak satoe orang di pinggir djalan, brangkali dia mati!”

Yin Lan terkedjoet, taro iapoenja mandoline di atas medja dan menanja lebih djaoe:

„Kenapa itoe orang?”

„Saja tida tao,” saoat Alima lagi, „waktoe saja komabli dari waroeng saja kena kesandoeng oleh satoe badan dan waktoe saja tjendrongken badan saja tboeat mengawasin, ternjata satos orang mangletak di pinggir djalan dengan tida berkoatik.”

„Kaloe begitoe lantas panggil mantri Hasan dan Oesoep,” mamerentah Yin Lan.

Alima lantas berlaloe ka lbagian blakang dari itoe sanatorium, sedeng koetika ia balik kombali dengen itoe doea penggawe, Yin Lan soeda memake mantel.

„Di depan ini sanatorium ada satoa orang jang perloe ditoeloeng,” berkata Yin Lan dengen swara mamerentah, „Alima kaoe oendjoekin di mana adanja itoe orang. Bawa padanja di kamar preksa!”

„Tapi dokter ini malem tida ada, ia pergi di Bogor, zuster!” kata satoe antara itoe mantri verpleger.

„Saja kira, saja boleh preksa sendiri!” kata Yin Lan dengen swara tetep.

Itoe tiga orang lantas berlaloe dan Yin Lan sendiri faloe beresken segala apa di dalem itoe kamar preksa.

Selang brapa lama itoe tiga orang soeda kombali idengen menggotong itoe orang jang bertjilaka. Ia ternjata dari pakeannja ada saorang Indonesier. Tapi koetika badjoenja diboeka dan tertampak satoe loeka di bagian poendaknja dan ia ditjelentangken di atas medja papreksa'an, Yin Lan kloearken satoe djeritan dan badannja ia rasaken lemes. Ia pasti aken djato, djikaloe Alima tida keboeroe pegang badannja dan doedoekin padanja di satoe korsi. Matanja djadi koenang-koenang dan kakinja goemeteran, Yin Lan dapet kenalin siapa adanja itoe orang, jang boekan laen dari Wen-Liang adanja.

„Oh, neng Yin,” kata itoe boedjang prempoean jang setia, „kaoe tentoe kena angin djahat, lebih baek pergi tidoer dan soeroe mantri Hasan preksa dan toeloeng itoe orang!”

„Tida, tida,” kata Yin Lan, „tapi swaranja djadi sember,” saja maoe preksa sendiri!” Ia hendak bangoen, tapi ia rasaken badannja sanget lemes. Ia tinggal menglendot pada Alima.

„Betoel, zuster,” kata itoe mantri verpleger jang diseboet Hasan, „biar saja preksa ini orang, pergilah kaoe rebahken diri dan djangan paksaken!”

Yin Lan tida bisa berkata apa-apa lagi, ia rasaken badannja sanget letih, pikirannja kaloet, hingga ia tida merasa jang baboe Alima soeda pondong padanja dan bawa ia kloear dari itoe kamar.

Sasoedahnja letakin nonanja di pembaringannja sendiri. Alima laloe tjatjapin kepalanja itoe gadis dengen Eau de Cologne. Yin Lan mengatjo dan menjeboet-njeboet satoe nama jang Alima tida kenal.

Samentara waktoe Yin Lan meremin matanja dan agaknja seperti tidoer. Tida antara lama ia seder kombali dan ka'ada'annja soeda lebih sabar.

„Alima,” kata Yin Lan pada baboenja,“ pergilah panggil mantri Hasan.”

Alima lantas berlaloe dan tida lama lagi dateng kombali diikoetin oleh mantri Hasan.

„Hasan,” kata Yin Lan, „apa kaoe soeda preksa itoe orang dan begimana ka'ada'annja?”

„Tida berbahaja,” saoet itoe mantri verpleger „ia melaenkan sanget lelah dan lapar dan itoe loeka di poendak kirinja djoega ampir djadi ontsteking, sebab tida dapet obat jang betoel. Ia moesti tinggal bebrapa hari sabelonnja ia semboeh.”

Yin Lan roepanja djadi girang mendenger itoe katerangan, moekanja jang poetjet sekarang lantas djadi bersemoe merah kombali dan ia lantas merasa enakan.

„Hasan,” ia kamoedian berkata, „rawat itoe orang baek-baeknja dan taro ia di klas satoe. Ia boekan orang Indonesien, tapi orang Tionghoa!”

„Kaoe kenal padanja, zuster?” tanja itoe mantri dengen heran.

„Ia bekas saja poenja temen sekola,” mendjoesta Yin Lan, „pergilah kaoe sekarang dan djikaloe perloe djaga itoe orang sampe pagi!”

Hasan berlaloe dan Alima, sabagi saorang prempoean lantas bisa mendoega, jang antara nonanja dan itoe orang jang ditoeloeng ada apa-apa, kerna satoe moestail nonanja mendadaken boleh djadi sakit?

„Nona poenja sakit baroesan ada sakit aneh!” kata itoe boedjang dengen membanjol, sebab ia liat jang nonanja soeda seger lagi.

„Kenapa, Alima?” tanja Yin Lan dengen tida djadi marah digodain begitoe.

„Ja, nona bikin saja kaget,” kata lagi itoe boedjang, „tida taoenja nona tjoema terkena penjakit domba!”

„Penjakit domba?” tanja Yin Lan, „penjakit apa itoe? Apa domba ada penjakitnja?”

„Ada,” saoet itoe boedjang lagi, „soeka berboenji 'mbe-'mbe kaloe ketemoe dengen......”

„Soeda, Alima!” memotong Yin Lan, „djangan bitjara jang tida karoean! Pergilah sekarang tidoer!”

„Baek, 'neng,” saoet itoe boedjang sembari pergi, „dan saja harep sadja neng ini malem bisa tidoer njenjak dan mengimpi tentang itoe domba jang kasasar dari angonan gombalanja dan sekarang dikatemoeken lagi!”

Yin lan goleng kepala. Itoe boedjang memang ia sajang, malah tjinta sabagi soedara sendiri, kerna Alima sanget setia pada nonanja, maka ia tida bisa marah pada itoe gadis Indonesien.

Sabagi djoega waktoe seder dari pangsannja koetika berada di kamarnja Hiang-Nio, begitoe esokan paginja Wen-Liang seder dari tidoernja. Ia tjelingoekan dan merasa heran ia berada kamarnja satoe roemah sakit. Di djendela ia menampak satoe nona moeda sedeng mengawasin ka loear, ia tjoema liat blakangnja sadja, hingga tida dapet liat moekanja.

„Apa sekarang saja soeda berada di acherat?” berkata Wen-Liang seperti pada diri sendiri.

Itoe zuster berbalik, ia mengawasin pada Wen-Liang dengen itoe mesem jang soeda bertaoen-taoen Wen-Liang boeka matanja lebar-lebar, ia oesap-oesap djidatnja, sebab kwatir ia tjoema mengimpi. Yin Lan menghampirken padanja.

Wen-Liang laloe pegang kadoea tangannja itoe gadis.

„Apa saja mengimpi?” tanja Wen-Liang dan ia kwatir ini pertemoean melaenkan impian belaka.

Yin Lan tinggal mesem dan berkata: „Kaoe tida mengimpi, enko Wen-Liang, ini ada hal jang sabenernja!”

Baroe sadja moeloetnja Yin Lan rapat atawa Wen-Liang laloe tarik pada itoe gadis jang ia peloek dengen sakerasnja, ia tjioemin matanja itoe gadis, bibirnja, idoengnja, pipinja, berkali-kali, sedeng Yin Lan tinggal meremken matanja.

Satoe pertemoean jang tida dapet diloekisken dengen penah.

„Soeda, soeda!” kata Yin Lan, „kaoe bikin saja tida bisa bernapas!”

Ia laloe lepasken dirinja dengen plahan dari peloekannja Wen-Liang dan berdoedoek di dampingnja. Dari masing-masing poenja mata kliatan sorot girang, tapi mengembeng aer kasedihan. Pertemoean sabagi ini memang bisa bikin orang djadi ketawa dan menangis dengen berbareng.

„Bagimana saja bisa ada di sini?” tanja Wen-Liang pada itoe gadis.

„Itoe pertanja'an saja moesti madjoeken pada kaoe!” berkata Yin Lan dengen berseri-seri.

Wen-Liang laloe toetoerken satoe persatoe lelakonnja, bagimana ia sampe merosot djadi pendjoedi. Ia toetoerken kadjadian itoe malem dan djoega kadjadian dengen Hiang-Nio ia tida loepa boeat tjeritaken.

„Kaoe tida marah pada Hiang-Nio?” menanja Wen-Liang dengen bersenjoem.

„Marah?” berseroe Yin Lan dengen djoedjoer, „kaloe saja bisa bertemoe lagi dengen Hiang-Nio, saja sabetoelnja moesti angkat soedara dengen ia!”

„Yin, my dearest Yin, apa sasoedanja saja djadi begini, kaoe masih tetep menjinta saja dan apa kaoe pertjaja saja djadi pemboenoeh?”

Yin Lan tida menjaoet, tapi mengawasin pada moekanja Wen-Liang, kamoedian ia menjaoet:

„Biar kaoe lebih dari begini djoega, biar betoel kaoe djadi pemboenoeh dan penjahat, enko, saja tetep tjinta kaoe!”

Satoe minggoe telah berselang, satoe minggoe jang penoeh madoe boeat itoe doea kekasih. Satiap hari marika doedoek beromong-omong, hingga loekanja Wen-Liang djadi semboeh sama sekali.

Pada satoe hari Wen-Liang merasa heran, jang Yin-Lan tida dateng tengokin padanja. la laloe pergi kapaviljoen, di mana itoe gadis tinggal, tapi tjoema dapetken tbaboenja.

„Apa zuster Yin Lan ada?” tanja Wen-Liang.

„Kemaren soré ia soeda brangkat,” saoet Alima dengen roepa sedih,” saja djoega tida taoe ka mana, tapi ia ada tinggaiken satoe soerat.”

la laloe angsoerken satoe soerat jang Wen-Liang laloe tbatja dengen terboeroe-boeroe. Boenjinja itoe soerat ada sebagi brikoet:

Enko Wen-Liang jang tertjinta,

Djikaloe ini soerat kaoe batja, enko, saja soeda berada djace dari sini. Ma'afken saja, tapi ini ada goena kaoe-poenja kaberoentoengan. Brapa besar djoega kita menjinta satoe sama laen, tapi kita tida boleh ‘bertindak lagi djaoe, kerna kaoe tida boleh meloepaken kaoe-poenja kawadjiban terhadep kaoepoenja anak istri.

Saja menjingkir dari kaoe, soepaja kaoce bisa meloepaken saja.

Dari kaoe-poenja

Yin


Sa'abisnja membatja itoe soerat, Wen-Liang djatoken dirinja di atas korsi dan di sitoe ia toempahken iapoenja kasedihan, hingga Alima poen jang sanget sajang pada nonanja djadi toeroet menangis.


XIII

TIGA PREMPOEAN

Bila soeda deket pada pintoe kematian,
Aken meninggalken ini boemi selama-lamanja,
Linjaplah sakit hati, djeloes dan kabentjian,
Terganti oleh perasa'an djerni dan moelja.


DENGEN badan sanget koeroes dan moeka poetiet Kosi-Nio mengletak di pembaringannja. Sabentar-bentar ia batoek dan merinti-rinti, lantaran napasnja sesek, Matanja dalem, itoe sinar jang doeloe begitoe bertajahaja sekarang soeda tida ada lagi. Itoe moeka jang eilok sekarang tjoema katinggalan bekas-bekasnja sadja.

Di Samping tpembaringan ada berdoedoek satoe jang oeroes segala kaperloeannja si sakit.

„Saja rasa saja poenja penjakit soesah bisa diobatin, Hiang, „kadengeran Koei-Nio berkata dengen swara sember.

„Djangan berpikir begitoe,” kata Hiang-Nio dengen menghiboerken, „kaoe aken semboch, entji Koei!”

Si sakit berdiam dan mengawasin pada moekanja itoe gadis.

„Hiang,” kata lagi jang sakit, „bagimana saja moesti njataken saja-poenja trima kasi. Siang hari malem kace teroes mendjaga saja dan merawat pada Rosa. Hiang, kaoe lebih-lebih dari soedara saja sendiri! Tapi enko Wen-Liang, enko Wen-Liang di mana ia sekarang? „Ia sekarang soeda slamet,” saoet Hiang-Nio, itoe toedoehan sabagi pemboenosh soeda linjap, kerna jang memboenoeh soeda tertangkep dan itoe perkara soeda dapet dibikin terang. Pemboenoshnja ternjata ada Eng-Tjoan!”

„Tapi djoestroe itoe ia toch bisa kombali, tapi kenapa ia tida mengirim kabar atawa tjerita?”

„Saja kira sadja, ia belon dapet taoe, jang ia soeda terlepas dari itoe toedoehan,” kata Hiang-Nio lagi, „saja nanti tjari taoe, di mana sekarang ia berada.

Bitjara sampe di sitoe Koei-Nio batoek dengen sakit heibat dan waktoe ia moentah, ternjata tertjampoer darah. Ia merinti-rinti dan kamoedian pangsan.

Hiang-Nio djadi sanget bingoeng. Berhoeboeng dengen itoe Rosa djoega masoek ka dalem kamar dan memanggil: „Mama, mama!”

Itoe anak djadi menangis tatkala meliat iboenja dalem ka'ada'an begitoe. Oh, Hiang-Nio, bingoeng sekali, ia tida taoe apa ia moesti berboeat, kerna tida ada orang laen dalem itoe roemah.

Sedeng Hiang-Nio kebingoengan ia denger pintoe diketok dan ia boeroe-boeroe kloear, ternjata jang dateng ada Tjoe-Soei jang dateng menengokin.

„Enko Tjoe-Soei, lekas panggil dokter, entji Koei penjakitnja angot!” kata itoe gadis dengan goegoep.

„Ia........?” menanja Tjoe-Soei.

„Soeda djangan menaja, panggil sadja dokter!” kata lagi itoe gadis.

Tjoe-Soei lantas berlaloe dan tida antara lama kombali dengen membawa dokter jang memang merawat pada Koei-Nio.

Sasoedanja mengasi injectie dan mamreksa dengen teliti itoe dokter berkata:

„Iapoenja peparoe tida bekerdja betoel, moesti lantas dibawa ka roemah sakit!”

Tjoe-Soei dan Hiang-Nio djadi saling liatan samentara waktoe lamanja.

„Biarlah saja bawa padanja!” kata Tjoe-Soei.

Hiang-Nio agaknja maoe toeroet, tapi ia berkata.

„Tida, kaoe poenja kawadjiban haroes merawat pada Rosa, Hiang,” kata Tjoe-Sosi. „ini roemah lebih baek dikasi kosong dan kaoe adjak Rosa tinggal di roemahmoe, sebab kita belon taoa Koei-Nio moesti tinggal brapa lama di roemah sakit.

Hiang-Nio tida bisa berboeat laen dari menoeroet. Koei-Nio dibawak dengen auto ka C. B. Z., sedeng Hiang-Nio laloe adjak Rosa tinggal di roemahnja. Rosa menangis dan ingin toeroet pada iboenja, tapi Hiang-Nio dapet menghiboerken padanja.

Koei-Nio dibawak ka roemah sakit C. B. Z. dalem ka'ada'an pangsan. Koetika ia seder, pikirannja djadi terganggoe, ia mengatjo dan tempo-tampo soeka pangsan.

la tida taoe brapa lama ia terganggoe pikirannja, ia masih merasakon seperti lingloang, kerna itoe zuster jang berdiri damping tempat tidoarnja boekan laen orang adanja dari Hetty atawa Yin-Lian.

Lama sekali Koei-Nio mengawasin pada itoe moeka jang ajoe. Yin Lian tida kliatan goegoep, ia laloe menoeangin obat jang perloe dan minoemkan itoe pada Koei-Nio dengen lakoe begitoe aloes, hingga Koei-Nio tida dapet menolak.

„Kaoe Hetty?” berkata si sakit dengen swara plahan.

„Batoel, entji Koei, tapi tida oesa kwatir. Djangan anggep saja sabagi moesoeh, tapi sabagi satoe soedara. Kadjadian jang doeloe itoe terlaloe dilebih-bihken orang!” berkata itoe gadis dengen swara aloes.

„Tapi kaoe toch menjinta, menjinta Wen-Liang?“ tanja Koei-Nio, tapi ia sekarang tida goesar lagi, ia agaknja soeda pasrah kapada tangannja, Toehan.

„Djikaloe itoe ada satoe kasalahan, sekarang saja, minta kaoe soeka ampoenken,” Kata lagi Yin Lan. „tapi saja kapingin liat kaoe dan enko Wen-Liang bisa hidoep beroentoeng, laen tida, itoe ada saja-poenja perasa'an tenhadep ia!”

Si sakit berdiam sabentar dan meremken matanja. kamoedian ia berkata lagi:

,,Soeda lama saja tinggal di sini?

Soeda sapoeloeh hari dengen tida inget orang, saoet itoe gadis.

,,Dan kaoe jang selaloe merawat padakoe?

Si sakit berdiam lagi sakoetika lamanja, kamoedian berkata poela:

,,Kaoe tida bersalah, Hetty! Kaoe poenja tjinta ternjata ada satoe tjinta jang soetji dan moelia. Saja loeloe soeda terboeroe napsoe, kaoe moesti mema'afken!"

"Siapa jang selama itoe dateng kemari?" menanja: K'Oei·Nio lebih djaoe.

,,Hiang-Nio dan Rosa dan tempo-tempo djoega enko Tjoe-Soei!"

,,Ja , Hiang-Nio ada satoe gadis jang moelia," mengrendeng si sakit dengen sendirian, ,,djikaloe tida ada ia tida taoe bagimana djadinja dengen saja dan Rosa dan Tjoe-Soei poen ada saorang baek."

Sa'abisnja berkata begitoe Koei-Nio berbatoek keras, hingga Yin Lan moesti toendjang padanja, kerna ka'ada'annja si sakit sanget lelah. Bebrapa ketel darah kloear dari moeloetnja si sakit. Kamoedian ia berdiam dan meremken matanja. Yin Lan laloe ambi ijs dan taro itoe diahas dadanja Koei-Nio.

Koei-Nio kliatan enakan, ia tida menglisah lagi, ka'ada'annja tertampak sanget tentrem, tatpi Yin Lan jang soeda biasa merawat orang sakit, taoe jang itoe ka'ada'an boekan ada satoe ka'ada'an jang baek. Sapoeloe sembilan ka'ada'an begitoe ada meniwasken. Dengen tida terasa matanja Yin-Lan djadi basah, tap ia tahan sebrapa bisa peras'annja.

,,0, Allah," berkata itoe djoeroerawat dengen swara dalem tengorokan, ,,kenapatah saja tida diberiken itoe koernia aken menoeloeng djiwanja?"

Si sakit kliatan boeka matanja, tapi itoe mata soeda bersinar laen, dengen swara janq ampir tida kadengeran ia berkata:

"Hetty, Hetty, soekalah kaoe ampoenken saja...?"

Yin Lan tida tahan, iapoenja aer mata djadi berlinang-linang dengen deres sekali dan dengen sasegoekan ia berkata:

,,Boekan saja haroes ampoenken kaoe, tapi saja jang haroes diampoeken!"

Si sakit berdiam dan napasnja semingkin pendek dan Yin Lan rasa ia aken tida bisa hidoep lama lagi, koetika pintoe terboeka dan Wen-Liang masoek ka dalem dengen di'ikoetin oleh Hiang-Nio dan Rosa. Hatinja Yin Lan djadi sanget berdebar-debar, tapi ia kasi tanda soepaja marika berlakoe sabar dan djangan bikin riboet.

,,Enko...... Wen...... Liang," berkata si sakit dengen swara semingkin plahan,"...R...o...s...a..."

Wen-Liang menoebroek pada istrinja, sedeng Rosa djoega djatoken dirinja di pinggir pembaringan. Tida ada satoe anta.a marika jang tida koetjoerke aermata.

,,Koei, istrikoel" berkata Wen-Liang dengen mata berlinang-linang, ampoenken saja, ampoenken segala kasalahan saja!”

„Mama, mama....” menangis Rosa.

Koei-Nio sakoenjoeng-koenjoeng seperti mendapet tenaga baroe koetika mendenger itoe doea swara. Ia boeka matanja lebar-lebar dan memandang bergantian pada moeka swaminja, pada anaknja dan pada itoe doea gadis jang berdiri di pinggir pembaringan.

„Mari Roos,” berkata ia dengen swara sember. Rosa menjioemin pada moeka iboenja dan Koei-Nio kliatan bisa bermesem.

Sa'abisnja begitoe tangannja si sakit mengrepe dan pegang tangannja Wen-Liang dan tangannja jang sabela mentjari tangannja Yin Lan. la rapetken itoe kadoea tangan satoe sama laen dan berkata:

„Hetty, soekalah kaoe pimpin enko Wen-Liang lebih djaoe dalem djalan penghidoepan?”

Yin Lan tida bisa mendjawab, lehernja ia rasaken terkantjing dan aer mata bikin ia tida bisa meliat dengen betoel di sakiternja.

„Saja doaken kaoe orang bisa hidoep beroentoeng!” kata si sakit dan swaranja djadi semingkin dalem, ia kliatan lelah sekali.

Sa'abisnja itoe ia laloe lepasken tangannja Wen-Liang dan Yin Lan dan memanggil pada Hiang-Nio.

„Hiang......” kata si sakit, „soekalah djadi soedara dengen enko Wen-Liang......??”

Djoega Hiang-Nio tida bisa mendjawab, aer-matanja berketjlak-ketjlakan di antara iapoenja doea pipi.

„Hiang...” dan swaranja Koei-Nio ampir tida kadengeran,” saja pertjajaken... kaoe... Ro...sa...”

Ia menglisah, lepasken satoe napas jang pandjang dan rohnja Koei-Nio poelang ka tempat baka.

Selaennja Wen-Liang, Rosa dan itoe doea gadis, di loear kamar masih ada laen orang koetjoerken aer matanja. Itoe orang adalah Tjoe-Soei.

„Boleh saja meliat padanja boeat pangabisan kali, soedara?” tanja Tjoe-Soei, koetika Wen-Liang bersama Rosa dan itoe doea gadis kloear dari itoe kamar.

„Silahken, Tjoe-Soei jang baek!” saoet Wen-Liang dan ia rapetken itoe pintoe, di dalem mana Tjos-Soei lampiasken kasedihannja di damping maitnja orang jang ia tjinta.

PENGORBANAN

Jang sedjati, jang teroetama dan paling soetji, adalah pengorbanan jang boekan goena diri sendiri.

Kaoe menjinta padanja, tapi kaoe taoe bahoea itoe tjinta aken lebih menjilakaken dari pada memberoentoengken, maka kaoe lantas tinggalken padanja dengen bawa hatinja jang remoek, inilah ada satoe Pengorbanan jang soetji, biar poen kaoe ada satoe iblis atawa pedjadjaran!

Batjalah „BIDADARI”.

XIV

PENOETOEP.

Penghidoepan ada sabagi malem dan siang.
Sabentar gelap, sabentar berobah terang.
Ada tempo oedjan toeroen bertoeang-toewang.
Ada tempo tjahja mata-hari berderang-derang.


Di depan satoe villa jang moengil dengen teraling oleh poehoen-poehoen boenga ada berdoedoek sepasang merpati dengen roepa beroentoeng sekali di atas satoe bangkoe kebon jang memang disediaken di sitoe.

„Kaoe poenja ramboet," kata itoe lelaki sambil adoek ramboet istrinja dengen memaen, „kaoe-poenja ramboet, Yin Lan, jang bikin saja djadi tergila-gila pada kaoe!”

Si istri antepken swaminja perlakoeken begitoe padanja dan tinggal mesem.

„Kaoe-poenja mata,” kata lagi itoe swami jang menjinta, „jang bikin saja tida bisa meloepaken kaoe, kaoe-poenja alis jang bikin saja selaloe terkenang, kaoe-poenja pipi jang selaloe bikin saja kasemsem dan kaoe-poenja bibir jang saja paling tida bisa loepaken!”

Yin Lan sesepken kepalanja di dadanja iapoenja swami.

Sakoenjoeng-koenojeng marika dibikin terkedjoet dengen treakannja satoe anak ketjil dari blakangnja itoe goendoekan pepoehoenan.

„Mamie......! Mamie!” memanggil itoe anak ketjil dan menghampirkan pada itoe sepasang merpati.

„O, Roos!” berseroe Yin Lan, „mari Roos, kasi mamie satoe tjioem!”

Rosa beriken Yin Lan satoe tjioeman dan doedoek di pangkoeannja Yin Lan.

„Apa papie kaoe tida kasi tjioeman, Roos?” tanja Wen-Liang sambil tjoebit pipi anaknja.

„Papie soeda dapet dari mamie!” kata itoe anak jang nakal.

Yin Lan dan Wen-Liang jadi tertawa bekakakan.

„Hola!” kata satoe swara lagi dari blakang itoe goendoekan pepoehoenan, „Roos, kaoe mengganggoe pada papie dan mamie! Kaoe moesti dapet straf!”

Jang berkata itoe ternjata ada Tjoe-Soei jang mendatengin dengen sangkel tangannja Hiang Nio, kerna ia telah menikah dengen ini gadis jang berboedi.

„Ja,” kata Hiang-Nio, „Roos kaloe soeda ada sama mamie loepaken sama oom dan tante, ja!”

„Marilah doedoek, soedara-soedara!” kata WenLiang.

Menoeroet pesenannja Koei-Nio, Rosa tinggal bersama-sama Hiang-Nio dan Tjoe-Soei dan tempo-tempo ia bersama iapoenja oom dan tante angkat dateng sambangin pada ajah dan iboe tirinja.

Hiang-Nio dan Tjoe-Soei laloe ambil tempat doedoek dan marika bitjara dengen oeplek sekali.

„Hasan! Hasan!” memanggil Wen-Liang. Tida lama itoe orang jang dipanggil dateng. Itoe djongos ternjata ada itoe mantri verpleger jang doedoek bekerdja dengen Yin Lan di sanatorium. la telah menikah dengen Alima dan Alima tida bisa berpisahan dengen nonanja, maka ia laloe tjari di mana nonanja ada tinggal dan bekerdja di sitoe.

Tida antara lama Alima dateng.

„Apa kaoe tida inget boeat bawa thee?” menanja Yin Lan.

„Ma'afken saja, 'neng Yin,” saoet itoe boedjang, „saja kira nona soeda loepa sama saja, sebab itoe penjakit domba dateng kombali.”

„Penjakit domba?” tanja Hiang-Nio, „apa itoe?”

„Boekan,” saoet lagi itoe boedjang dengen tertawa, „sekarang itoe penjakit soeda semboeh betoel, sebab itoe domba jang kasasar soeda diketemoeken kombali!”

Marika semoea djadi tertawa bekakakan.

Begitoe dengen menjinta dan saling mengerti masing-masing poenja tabeat itoe swami istri telah hidoep dengen beroentoeng dan saben harian Tjang-beng marika tida loepa boeat sama-sama Rosa, Hiang-Nio dan Tjoe-Soei pergi di tempat koeboerannja Koei-Nio dan di sitoe marika boekan siremin itoe koeboeran dengen aer kembang, tapi dengen aer-mata . . . . . .

TAMAT.

TIDA MENJESEL
Pembatja menanti terbitnja „BIDADARI?”


GOOD COUNCIL IS ABOVE ALL PRICE
(Nasehat jang baek lebi beharga dari Mas)
SIAPA
jang begitoe sampoerna dan tida perloe dengen nasehat - nasehat baek.
? ? ?

Keradja'an paling besar di doenia, bahasa paling banjak di goenaken, ― ada Inggris. Apa pembatja tida ingin taoe nasehat² apa iaorang poenja poedjonggo² sedari poerbakala ada beriken pada bangsanja?

BAROE SEKARANG bisa di dapet koempoelan dari ini nasehat dalem satoe boekoe:

„KATJERDIKAN BANGSA INGGRIS”

Harga f 3.50
onkost kirim tambah „ 0.08
aangeteekend „ „ 0.28

minta pada:

Drukkerij HAHN & Co.
Kp. Doro 3 ― Soerabaia