Lompat ke isi

Warisan Seorang Pangeran/Djilid 3

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas

WARISAN SEORANG PANGERAN

dituturkan
oleh
O.K.T.


( djilid III )

l l



Penerbit SAKA WIDYA Djakarta

Oleh karena mendapat kesan urusan sulit, Tiauw Lan mendjadi bungkam.

Tjong Hong tidak perdulikan sikap Tiauw Lan itu, ia masih bitjara setjara terbuka sekali.

,,Bukannja aku hendak menggertak kamu”, demikian katanja,,djangan kata pihak Tjian Hong Pay itu, walaupun kami orang Utara, baik jang di Djalan Hitam maupun jang di Djalan Putih, asal sadja ada punja rasa hormat.diri, tidak nanti ada Jang memikirkan sesuatu terhadap pihakmu, Mari kita bitjara jang didepan mata kita, ialah saudara Ouw kami ini, Djanganlah dia dianggap bukan orang kang-ouw. Kalau sekarang dia hendak mengumpulkan puluhan atau ratusan kawan, dia dapat melakukan itu sama gampangnja seperti orang membalikkan telapakan tangan! Baiklah aku djelaskan, meski begitu, dia tjuma dapat dapat membantu Yan Tjoe Hoei, dia tidak dapat mengambil pihakmu......"

Djie Ie tidak puas, ia pun kurang mengerti.

,,bukankah Yan Tjoe Hoei telah melepas Lok-lim-tjian dan kamu bakal membantu padanja”, ia bertanja. Loklim-tjian itu, Panah Rimba Hidjau, adalah tjara undangan tjepat dalam kalangan kaum kang-ouw.

Mendengar pertanjaan itu, dua* Tjong Hong dan Ouw Tjeng Lip tertawa.

Tjouw Po, jang masih terus mengunjah pekpouw-tjie,tidak turut tertawa, akan tetapi dengan kedua tangannja, dengan memainkan wadjahnja, ia mengedjek, Tentu sadja Djie Ie mendjadi kemerab.merahan mukanja, karena merasa tak enak sendirinja,

Tjeng Lip berhenti tertawa.

,,Tidaklah mengherankan djikalau djiewie tidak lantas ingat siapa itu Yan TYoe Hoei", katanja tenang, ,,Yan Tjoe Hoei itu adalah orang Rimba Hidjau, orang kang-ouw seperti orang Tjian Hong Pay. Dan saudara Tjong ini, dia banjak kenalannja, baik bangsa Piauwsoe Maupun guru2 silat, Aku sendiri ? Aku adalah beda daripada mereka itu, Meski begitu, kenapa mereka, jang berbeda2 itu, sekarang sepaham tudjuannja ? Didalam hal ini, djiewie rupanja belum menginsafi sepenuhnja, Djiewie, djikalau kamu anggap tindakan pihak kami ini tjuma disebabkan uang emas itu, njata kamu keliru, kamu memandang enteng sekali kepada kami! Memang kami mengarah uang emas itu, akan tetapi ada maksudnja mengapa kami bersatu. Tidak perduli siapa, asal dia memikir membantu pihak tentara siluman, maka kami pandang dia sebagai musuh ! Tegasnja kami tidak bekerdja untuk Yan Tjce Hoei, kami djuga tidak memusuhi Tjian Tjeng Loen pribadi, kami hanja bekerdja untuk rakjat djelata !”

Mendengar kata2 orang itu, Tiauw Lan jang pandai berpikir lantas sadja bisa membajangkan, pemuda dihadapannja ini orang matjam apa, Tentu sadja ia mendjadi masgul, Pihaknja hendak membantu Tjeng Loen, tidakkah dengan begitu, mereka djadi terlibat dalam satu arus, terseret kedalam pusar air ? Tidakkah urusan ini terlebih hebat daripada urusan Kwee Liok dahulu harj itu ?

Dengan terpaksa, Tiauw Lan lantas memberi pendjelasan mengapa Mauw San Tjit Yoe sampai turun gunung.

,,Terang sudah kami telah terpedaja Tjian Tjeng Loen”, katanja Piauwsoe itu menjembunjikan sesuatu kepada kami, karena kami mempertjajainja. Kami bersedia membantu kepadanja untuk meminta pulang piauw jang kena terampas itu, Kami sebenarnja tidak berniat atau memikir untuk menentang saudara2 pentjinta negara”.

Tiauw Lan bitjara dengan sabar dan djelas, tetapi tidak setjara merendahkan diri.

Tjeng Lip bersedia mendengarkan pendjelasan itu, tidak demikian dengan Tjong Hong. Belum Tiauw Lan bitjara habis; ia sudah mengutarakan tak sabarnja.

Mari setan tjilik, katanja kepada Tjouw Po. ,,Mari kita berangin ditepi sungai !”

Tjouw Po benar2 akal.

,,Akur !” sahutnja. ,,.Mari!’ Ia lompat turun dari medjannja, tetapi bukan bertindak keluar, ia hanja berlompat naik kepundak si kate-terokmok. itu, lalu keduanja, sembari tertawa geli ngelojor pergi............

,,Aku mangerti", berkata Tjeng Lip. ,,Perkara ini baiklah djangan dianggap terlalu sungguh"......”

Djie Ie djuga tidak sabar. Ia anggap, pertjuma untuk omong banjak, Perkara toh sudah mendjadi djelas,

‘,,Mari besok kita berengkat”’, katanja kepada kakaknja lebih dulu kita pergi ke Yam Shia, ke Tin Wan Piauw Kiok, guna susul Kok Toako. Mereka itu mesti diberi pendjelasan inj dan ditjegah, supaja kita tidak terlambat, Kalau kedua pihak keburu turun tangan, urusan bisa djadi hebat dan bertele-tele".

»Djikalau djiewie benar hendak berangkat, aku jang rendah dan Tjong Toako suka menemani", berkata Tjeng Lip, ,,Asal Tjian Tjeng Loen suka mengaku kekeliruannja didepan orang banjak dan berdjandji selandjutnja tidak akan membela siluman2 itu mungkin aku jang rendah dapat mendajakan hingga piauwnja itu dapat dibawa pulang....."

Dijie Ie senang mendengar suara itu. Ia lantas sadja mewakilkan Tjeng Loen menghaturkan terima kasih.

Ketika itu, tanpa merasa, ajam2 mulai berkokok, tanda sang fadjar telah tiba, Maka Tjeng Lip segera berbangkit, mengantar tetamu2nja itu berlalu. Ia tidak mengantar tjuma sampai didepan kuil, hanja terus sampai didjalan dipintu kota utara dari mana dengan gampang orang kembali kedalam kota, Ia berbuat begini untuk mentjegah dua saudara itu kesasar.

Ditengah djalan, Djie Ie minta keterangan tentang persoalan dengan keluarga Tjiang itu.

»Menjesal”, berkata Tjeng Lip. ,,Bukannja aku tidak sudi memberi keterangan kepada djiewie. Sebenarnja urusan ini pandjang, tidak dapat dibitjarakan dalam waktu sesingkat ini, Biar lain kali sadja, apabila ada tempo luang, aku nanti berkundjung kepada dijiewie di Toh Goan sana ......... "

Didalam hatinja, Tiauw Lan bertjekat, Ia tidak sangka bahwa Tjeng Lip pun kenal nama villa Kok Ban Tjiong itu. Djadi pemuda ini benar bukan sembarang orang kang-ouw.

Tjeng Lip rupanja dapat menduga hati orang.

»Didjaman sekatjau ini, Tie Loo-eng-hiong”, katanja, ,,djangan kata baru kamu sembunji di Mauw San, sebuah gunung ketjil, walaupun kau menjingkir ke Tay Soat San, itu gunung bersaldju, djikalau kamu memikir untuk memutuskan. perhubungan dengan dunia luar, itulah djangan kamu harap. Lihat sadja, sekalipun Tjian Tjong. plauwtauw, dia masih dapat mentjari kamu! Pertjaja tidak bahwa lain orang, siapa djuga, dapat mentjari kamu ?”

Tiauw Lan dan Dijie Ie berdiam,

Sampai disitu mereka berpisahan dengan berdjandji besok magrib mereka akan bertemu pula diluar kota itu, untuk berangkat ber-sama2, Tapi Tjeng Lip pesan : ,, Umpama kata sahabat jang aku nantikan terlambat datangnja, aku minta djiewie berangkat sadja lebih dulu, nanti aku menjusul”.

VII

BERTARUNG DISELAT HANTU

Tjian Tjeng Loen telah melakukan pedjalanan bersama Mauw San Tjit Yoe jang pertama, kedua, keempat, kelima, dan keenam dengan tudjuan kota Yamshia. Telah dipikir pada mulanja untuk singgah satu atau dua hari, guna menjelidiki hal Yan Tjoe Hoei, untuk kemudian, setelah minta dua saudara Siang mentjari beberapa pembantu jang kenal baik daerah Kangpak, baru menudju ke Sia Yang Ouw. Tapi setiba mereka, baru sadja duduk diruang kantoran, Siang Tjeng telah menurunkan kantong surat jang digantung ditembok, untuk menarikkeluar seputjuk surat.

„Tjian Toako, tjoba lihat ini dulu”, katanja sambil mengasurkan surat itu. „Kelihatannja urusan tak sesederhana seperti semula disangka ......”

Tjeng Loen menjambuti, ia menarik keluar sehelai kertas merah jang ada tulisannja. Begitu ia membatja, wadjahnja berubah, lalu berulangkali ia perdengarkan: „Hm ! Hm !”

Orang jang duduk paling dekat dengan piauwsoe ini adalah Kok Ban Tjiong. Mauw San Tjit Yoe jang pertama ini turut melihat isi tulisan kertas merah itu, Ia membatja :

„Untuk menemui Yan Tjoe Hoei,
Datang dahulu ke Kwie Klan Tjioe.
Karena mentjari kawan dibanjak pendjuru,
Njata Hwee-Poankoan tak mati hatinja.
Tapi matanja tidak ada bidjinja,
Dia rela mendjadi budaknja pembesar !
Setelah memastikan tinggi dan rendah,
Baru tahu ketangguhan Rimba Hidjau”.

Dibawahnja terdapat tanda-tangan Tong-San Siang Koay serta Tjie-tjioe Soe Kiat, ialah Sepasang Siluman dari Tong San dan Empat Djago dari Tjie-tjioe. Semua nama itu dikenal oleh Kok Ban Tjiong, Lauw Hay Djiak dan Ban-lie-peng Thian Hioe, karena mereka berenam castan djago2 Rimba Hidjau di Kangpak. Hanja tiga saudara Mauw San Tjit Yoe ini tidak mengerti, karena jang beker. dja adalah Yan Tjoe Hoei, mengapa mereka berenam itu jang mengadjukan diri dimuka.

Tjeng Loen gusar hingga ia ber-kaok2.

,,Aku tidak sangka Hou-yan Pa dan Hou-yan Pioe berdua saudara mau menghina aku !” katanja sengit. ,,Dan Tjo-san-tiauw Pok In Hoei berempat saudara itu tidak punja sangkutan dengan aku, kita bagaikan air kali dan air sumur jang tidak benterok, kenapa sekarang mereka mentjampuri urusanku ini ? Baiklah, dasar nasibku, biar aku ketemui mereka itu! Siang Djie-tie, tjoba kau tolong tjari tahu, Kwie Kian Tjioe itu sarangnja orang kenamaan siapa !”

,,Aku tahu tempat itu ialah sebuah selat” sahut Siang Tjeng.,,Letaknja enampuluh lie diluar kota Yam-shia ini. Untuk pergi ke Sia Yang Ouw, selat itu harus dilalui. Sedjauh jang aku ketahui, disana tidak ada orang Rimba Hidjau, tapi tempatnja memang benar berbahaja, djalannja sebentar lebar sebentar sempit, tanahnja tidak rata, banjak solokan dan kobakan jang mirip pengempangan jang katjau. Mungkin karena keadaannja itu, penduduk setempat telah memberi nama itu jang berarti tjelaka kalau menemui hantu......"

»Disana djuga banjak pohon tjemara jang merupakan rimba lebat", Kho Kie salah satu piauwsoe menambahkan, ,,umpama disana bersembunji beberapa ratus orang, dari luar rimba orang tak dapat meélihatnja, Kalau Tjong piauwtauw lewat disana, baiklah berlaku hati?, rupanja Siang Koay dan Soe Kiat hendak memegat disitu !”

Tjeng Loen tidak bilang suatu apa atas nasihat itu, Ia sedang dalam keadaan terlalu gusar untuk mendjadi djeri; wadjahnja pun masih merah dan matanja terbuka lebar.

Sim Teng Yang bersama Say-Phoa-An Ang Soe Sioe, djuga Boan-thian-tjhee Yo Kong Tie, adalah orang2 muda, Merekapun tidak senang, dan sependapat dengan piauwsoe kepala itu. Tjuma Hay Djiak Toodjin dan Thian Hioe, jang dapat menjabarkan piauwsoe itu. Meski demikian, mereka djuga merasa tantangan itu keterlaluan, terlalu terkebur, maka mereka setudju untuk lebih dulu menemui Siang Koay dan Soe Kiat.

Sebenarnja Ban Tjiong masih ragu2, akan tetapi ia kalah suara. Ia tjuma berhasil menahan mereka untuk menginap dulu satu malam. Piauwsoe kepala Tin Wan Piauw Kiok, jaitu Kim-pa-tjoe Siang Beng si Matjan tutul Indah, bersahabat sangat erat dengan Tjian Tjeng Loen. Siang Beng memberikan bantuannja kepada piauwsoe kepala dari Ban Seng Piauw Kiok itu. Ketjuali kedua piauwsoe Kho Kie dan Tjie Tjiat, ia pilihkan lagi sepuluh pegawainja jang muda dan dapat diandalkan, Maka besoknja pagi waktu Tjeng Loen berangkat, rombongannja mendjadi terdiri dari sembilan belas orang.

Hay Djiak Toodjin mengusulkan memantjar bendera² piauwkie dari piauwkioknja Tjeng Loen dan dari Tin Wan Piauw Kiok, masing-masing dipantjar atas sebatang tombak, dan masing² seorang membawa satu, untuk berdjalan dimuka, Usul ini diterima baik, sebab maksud pengibaran bendera itu ialah rombongan ini hendak berlaku setjara terbuka.

Ditengah djalan, Ban Tjiong memberi saran lagi, untuk mana, ia bitjara dengan Kho Kie dan Tjie Tjiat, Kedua piauwsoe ini mupakat, maka lantas diambil putusan memetjah satu rombongan ketjil, jaitu Yo Kong Tie dan Ang Soe Sioe mengikuti Tjie Tjiat untuk berdjalan terlebih dulu. Maksudnja ketjuali untuk membuka djalan, djuga agar umpama rombongan besar dipegat mereka bertiga dapat kembali untuk menggentjet musuh.

Begitulah, dengan mengaburkan kuda mereka, ketiga orang itu mendahului pergi.

Rombongan besar, sebagaimana biasa, berdjalan dengan tenang.

Kira² setelah perdjalanan satu djam, rombongan mulai memasuki mulut selat. Dikiri-kanan terdapat tumpukan kaki gunung, makin kedalam makin tinggi. Djalanan djuga mulai sempit dan berliku². Baru biluk kekiri, lalu mesti mengkol kekanan, demikian seterusnja, Tanahnja djuga banjak batu koralnja, besar ketjil, dengan diantaranja ada jang terseling pohon rumput atau ojot dan duri, jang bisa membikin kaki keserimpat. Bukan tjuma orang, kuda pun sukar berdjalan disitu,

„Kho Piauwtauw, apakah kita sudah sampai ?” Kok Ban Tjiong menanja sesudah mereka djalan pula sekian lama, setelah ia memasang mata kesekitarnja, Menurut penglihatannja, tempat itu tepat untuk orang turun tangan.

Belum sempat Kho Kie mendjawab atau djawaban luar biasa datang dari arah depan dan belakang, dari antara pepohonan lebat ditepi djalanan, berupa melesatnja dua batang panah, jang lewat diatas kepala mereka, lewat berseling. Itu adalah panah hiang-tjian, jang dapat bersuara njaring. Habis panah, menjusul suara sangat riuh dari kiri dan kanan, ialah teriakan² dari ribuan serdadu tersembunji.

Tjeng Loen memang tengah uring²an, karena ia bersusah hati dan mendongkol berbareng disebabkan kedudukannja jang sulit itu. Mendengar panah dan sorak-sorai itu, hatinja mendjadi panas. Ia meraup peluru apinja, menimpuk kerimba dikiri dan kanannja itu, Ia ingin rimba itu terbakar.

Diluar sangkaan, pihak sana sudah bersiap-sedia. Selekas ada serangan, disitu muntjul dua sampai tigapuluh orang, tangan mereka membawa sematjam benda seperti djala, Dengan alat itu mereka membekap api itu. Agaknja djala itu terisi pasir, maka peluru api tidak sempat menjala, Sedang disitu, diwaktu begitu, tidak ada rontokan daun² kering, dan daun basah sukar tjepat terbakar,

Perlawanan itu belum semua. Menjusul dipunahkannja peluru api itu, dari dalam rimba terdengar berisiknja suara dar-der-dor dari senapan, Semua tembakan ditudjukan keudara, bukan kepada rombongan ‘piauwsoe itu.

Achirnja terdengarlah suara membentak : ,,Tjian Tjeng Loen! Djikalau kau tidak simpan peluru apimu jang mendjadi mustikamu itu, awas, terpaksa kami akan membalas hormat kepadamu dengan sendjata apiku ini!”

Hay Djiak Toodjin lantas sadja tarik tangan piauwsoe kepala itu. Ia menari': dengan pelahan seraja memberi tanda untuk menghentikan penjerangannja.

Tjeng Loen mendjadi mendongkol, Ia lempar busurnja ketanah, berlompat turun dan menghunus goloknja, golok Gan-leng-too, Ia segera madju melewati semua kawannja, Sambil merangkap kedua tangannja, ia memberi hormat sambil memutar tubuh keempat pendjuru.

»sahabat², terimalah hormatku !” ia mempercdengarkan suaranja jang njaring, suara jang menandakan kemurkaannja, ,,Aku ini Tjian Tjeng Loen dari Ban Seng Piauw Kiok dari Thay-Tjhong. Aku telah diberi hidup lebih banjak tahun, Adalah maksudku untuk tidak lagi memuntjulkan diri didalam dunia pergaulan, tapi apa latjur, bulan jang lalu aku telah dipedajakan orang, Diluar keinsafanku, aku telah menerima tanggungdjawab dari wedana dari Souwtjioe, jang menjerahkan kepadaku limaribu tail emas. Aku angkut piauw itu belum melewati sungai Tiang Kang atau aku telah kena dipegat To-tjoe Yan Tjoe Hoei, jang telah merampas semua uang emas itu. Perampasan sematjam itu adalah umum untuk kalangan kang-ouw, inilah aku mengerti. Aku djuga berterima kasih, bahwa aku telah diberi muka, ialah padaku didjandjikan dan diberi tempo satu bulan untuk datang meminta kembali piauw itu. Djumlah itu terlalu besar, aku tidak sanggup menggantinja, maka aku datang beberapa sahabat kekal, untuk dengan menebalkan muka, berangkat ke Sia Yang Ouw, guna memenuhi djandji pertemuan dengan Yan Totjoe itu. Kedjadian ini adalah kedjadian jang umum diantara pihak piauwkiok dan Rimba Hidjau. Hanja aku tidak tahu, didalam hal apa aku telah berlaku tak selajaknja terhadap tuan². Sekarang ditengah djalan ini, tuan² mengambil sikap ini ! Jang lebih heran, djuga Tong San Siang Koay dan Tjie-tjioe Soe Kiat telah turut tertjantum namanja didalam surat undangan. Tetapi sekarang mereka bersembunji, tak satu djuga diantaranja jang nampak......”

„Tutup mulut !” demikian suara teriakan jang datang dari atas tandjakan, sebelum piauwsoe itu berhemti bitjara. Menjusul suara itu, bagaikan terbangnja burung, tampak seorang muntjul, terus lompat turun dari tandjakan itu, hinnga saat lain dia sudah berdiri tegak dihadapan si piauwsoe kepala.

Rombongan piauwsoe pertjaja orang itu mestinja liehay, menjaksikan kelintjahannja sadja sudah tjukup mengagumkan. Orang itu bertubuh tinggi lebih daripada enam kaki, mukanja berewokan, romannja keren sekali. Ditangan kirinja ada sepasang tombak pendek mirip rujung, modelnja seperti tombak tjagak dari Tian Wie, itu pahlawannja Tjo Tjoh dari djaman Sam Kok. Terang sudah sendjata itu berat timbangannja.

Diantara rombongan adalah Hay Djiak Toodjin jang mengenali ini pemegat. Ia lantas menarik belakang badju Tjian Tjeng Loen sambil berkata dengan perlahan : „Tong San Siang Koay telah datang.........”

Orang itu tertawa dingin, terus berkata, suaranja njaring : „Tjian Tjongpiawutauw, untuk apa kau bawa adat disini ? Bukankah tentang asal-usul uang emas lima ribu tail itu telah Yan Tjoe Hoei djelaskan kepadamu sendiri ? Kenapa kau masih mentjoba mengundang orang² kosen hingga dengan begitu kau membikin urusan mendjadi bertambah besar ? Ketjewa kau mendjadi seorang tjianpwee dalam dunia piauwkiok !”

Tjeng Loen tidak dapat mengendalikan diri

„Houyan Pa !“ ia membentak sambil menuding, „kau hendak merintangi perdjalananku ini, terpaksa aku tak dapat menghormati kau lagi !“

Orang itu tidak gusar, sebaliknja, tertawa ter-bahak2.

„Baik, tak usah kau memainkan lidahmu !“ dia membalas membentak. „Tuanmu jang kedua, Houyan Pioe, akan andalkan sepasang tombaknja ini untuk menghalang ditengah perdjalananmu ini!“

Segera siluman jang kedua dari Tong San itu menggerakkan kedua tombak tjagaknja, jang satu diteruskan menikam kedada si piauwsoe. Udjung tombak itu tadjam-mengkilap.

Tjeng Loen mundur setengah tindak sambil menarik kempes perutnja, untuk menghindarkan diri dari bahaja, berbareng dengan itu, tangannja menjambar, untuk dengan goloknja — golok Ganleng–too — membabat pinggang penjerangnja jang galak itu.

Hou–Yan Pioe berkelit kesamping, tangan kanannja dipakai menangkis, tangan kirinja berbareng menjerang.

Tjeng Loen tidak berani membentur sendjata lawannja itu, jang mestinja berat, maka itu, ia melajani dengan kelintjahannja, dengan memainkan djurus2 dari Ngo Houw Toan-boen-too. Dengan begitu ia sekalian ingin mengurung lawannja itu.

Houyan Pioe benar bernjali besar. Didalam kurungan, ia dapat tertawa lebar. Sembari tertawa, ia melajani dengan tak kurang dahsjatnja. Sepasang tombaknja berputaran menutupi tubuhnja.

Sesudah melalui banjak djurus, Tjian Tjeng Loen mengerti liehaynja Siluman nomor dua dari Tong San itu. Karenanja ia tahu, tidak gampang baginja untuk segera merebut kemenangan. Lalu ia mentjoba mendesak, beruntun dengan tiga batjokan saling-susul setelah batjokannja jang pertama dan jang kedua kena ditangkis.

„Bagus !“ berseru Houyan Pioe, jang mundur dengan kaki kanannja untuk batjokan jang terachir dari lawannja. Sambil mundur, kedua tangannja bekerdja, tangan kiri dengan gerakan „Kie hwee siauw thian“ atau „Dengan obor membakar langit“ dan tangan kanan dengan „Pek hoo liang tjie“ atau „Burung Hoo mementang sajap“. Terutama tombak kanan itu menerbitkan samberan angin jang keras.

Tjeng Loen berlaku sebat tetapi ia masih tak keburu menjingkirkan goloknja, maka kedua sendjata beradu dengan keras. Sewaktu lelatu api masih muntjrat berhamburan, ia pun terperandjat mendapatkan goloknja kena terbangkol tjagak tombak musuh itu. Ia merasakan sakit pada telapakan tangannja, goloknja hampir lepas dari tjekalan. Maka dengan mengerahkan tenaganja, ia menarik dengan satu gentakan. Ia berhasil meloloskan goloknja itu, tetapi tubuhnja sendiri mendjerunuk.

,,Tjelaka !" serunja dalam hatinja karena kaget. Terpaksa ia menekan dengan udjung goloknja ketanah sambil mentjoba menantjapkan kedua kakinja, supaja ia tak usah menubruk tanah.

Houvan Pioe telah memikir untuk merobohkan piauwsoe kenamaan ini. Ia tidak sudi menjia.njiakan saatnja jang baik itu. Dengan telengas ia mengajun gegamannja, menghadjar batok kepala lawannja. Tapi djusteru itu terdengar samberan angin dibelakangnja. Ia mengerti datangnja serangan. Sambil memutar diri, gerakan tangannja berubah, membatalkan menjerang Tjeng Loen, tapi diteruskan menangkis serangan dibelakangnja itu.

Serangan itu datang dari sebatang samtjiat-koen, tongkat bersambung tiga. Begitu siluman dari Tong San ini menangkis, tongkat itu telah ditarik pulang, hingga serangan tidak memberi hasil, tangkisan djuga tidak mengenai sasarannja.

Dalam saat jang baik itu, Tjeng Loen sudah berhasil memperbaiki dirinja, hingga ia tahu orang jang menolongi padanja adalah saudara-angkatnja sendiri, Sim Teng Yang alias Pek Ngo.

Sebenarnja Teng Yang bersendjatakan toja kuningan, tetapi didalam perdjalanan ini, sendjatą jang pandjang itu merepotkan, maka ia hanja membekal sadja samtjiat-koen. Segera setelah pembokongannja itu, jang melainkan gertakan sadja, ia mengawasi Houyan Pioe dan berkata:,,Sudah lama aku dengar nama besar dari Tong San Siang Koay. Hari ini barulah aku dapat ketika untuk menemui. Aku Sim Teng Yang, adalah seorang rendah dari pulau Tjong Beng To, tetapi aku ingin mentjoba beberapa gebrak dengan orang kenamaan !"

Houyan Pioe mengangguk.

,,Kiranja kau adalah Sim Pek Ngo dari Tjong Beng To !" katanja. ,,Memang pernah aku dengar seorang dengan namamu ini. Kebetulan sekali sendjatamu besi seperti djuga sendjataku ini, Marilah kita main2 !"

Waktu masih berbitjara, Houyan Pioe sudah lantas menggerakkan kakinja, madju mendekati, kedua tangannja bergerak salingsusul, ialah tangan kiri membuka, tangan kanan menghadjar kearah pundak, dalam gerakan menikam.

Sim Teng Yang merangkap tongkat tjabang tiganja itu waktu ia sedang bitjara. Tapi waktu ia menjaksikan lawannja segera menjerang, ia pun tidak diam sadja, malah ia mentjoba mendahului. Ia melepaskan tjabang jang satu dan diwaktu ia kerahkan tenaganja, rantai tongkat berbunji njaring. Ia diantjam pundaknja, ia membalas mengantjam pundak lawan!

Mau atau tidak, Houyan Pioe mesti membatalkan serangannja, dan ia membatalkannja sambil terus berkelit.

Menggunai saat musuhnja berkelit, Teng Yang merangsek, kali ini samtjiatkoen bergerak menjapu kaki.

Houyan Pioe tidak menangkis. Ia menolong dirinja dengan berlompat tinggi. Ketika tubuhnja turun ia datang lebih dekat kepada lawannja, maka terus sadja ia menggerakkan sepasang tombak kekiri dan kanan, tombak kiri kelengan kanan, tombak kanan kepundak kiri lawan itu. Itulah gerakan „Ya ma hoen tjong” atau „Kuda liar menjingkap suri”.

Melihat serangan itu, Teng Yang tidak menangkis, ia hanja berkelit mundur. Selekas ia bebas dari antjaman, ia mentjelat madju, maka sekarang adalah gilirannja untuk melakukan penjerangan membalas. Dengan dibikin lurus, dengan tangan kiri, udjung sam- tjiatkoen dipakai menotok kedada.

Orang² lihat, Teng Yang mestinja berhasil dengan serangan membalas jang luar biasa sebat itu, akan tetapi Houyan Pioe, walaupun tubuhnja besar, dia gesit sekali. Dengan kelintjahannja, ia dapat membebaskan diri. Maka lagi sekali tiba gilirannja untuk menjerang. Kali ini ia pun mendjadi sengit. Ia menjerang dengan hebat ber-ulang².

Teng Yang dapat melajani rangsekan ini. Tjuma tempat jang sempit membuatnja kurang merdeka memainkan tongkat berantai itu, hingga ia tidak bisa mengulur semuanja. Ia tak dapat berkelahi renggang, hanja mesti terus rapat.

Dengan tjepat belasan djurus sudah berlalu.

Menjaksikan pertandingan itu, Kok Ban Tjiong mendjadi tidak puas. Diantara Tong San Siang Koay dan Tjietjioe Soe Kiat baru satu jang muntjul, tapi ini satu sadja sudah hebat, bagaimana kalau mereka itu berkumpul berenam! Ia pun tidak senang melihat perdjalanan mereka dirintangi. Ia lantas berpaling kepada Hay Djiak Toodjin, maksud minta saudara-angkat itu menggantikan Sim Teng Yang. Akan tetapi belum lagi si imam mendjawab saudara tua itu, seorang disamping Tjian Tjeng Loen sudah mendahului dia.

Orang itu adalah Sin-tjhio-tjoe Kho Kie, piauwsoe dari Tin Wan Piauw Kiok.

Menurut aturan, orang mesti bertempur satu lawan satu. Kok Ban Tjiong tahu aturan umum itu, jang selajaknja dihormati, Akan tetapi, dalam keadaan seperti sekarang, ia tidak dapat menaati itu. Bukankah mereka sengadja dipegat dan dipersukar?

Njata dipihak Houyan Pioe bukan bersendiri sadja. Dengan madjunja Kho Kie, dari pihak sana segera muntjul orang jang kedua, jang gerakannja sangat gesit. Segera orang itu, jang usianja kira² empatpuluh tahun dan djidatnja djantuk serta hidungnja bengkung bagaikan gaetan, dikenal sebagai Tong San Siang Koay jang nomor satu, ialah Houyan Pa. Dia berdiri mengawasi Ban Tjiong dan kawan-kawannja sambil tertawa dingin.

„Bagaimana, eh ?” tanjanja, sikapnja mengedjek. „Mauw san Tjit Yoe telah berkumpul semua Apakah tidak ada satu diartara. nja jang sudi memberi pengadjaran ?”

Ban-lie-peng Thian Hioe, si Garuda Terbang Selaksa Lie jang sudah gatal tangannja, tidak dapat bersabar lagi, Sambil berteriak: „Djangan bertingkah !” ia lompat madju, terus menjerang. Ia bersendjatakan golok, jang bergelang, maka diantara suara berkontrangannja gelang itu, goloknja menjamber kebatok kepala, dalam gerakannja „Tok pek Hoa San” atau „Dengan sebelah tangan menggempur gunung Hoa San”.

Houyan Pa gusar diperlakukan demikian. „Botjah sembrono !” bentaknja sambil lompat kesamping. Dia tidak lantas menghunus pedangnja jang tergemblok dipunggungnja, hanja setelah berkelit kekiri, dia madjukan dua djari tangannja, untuk menotok samping golok besar, hingga terdengar suara njaring-mengaung.

Segera Thian Hioe tahu musuh bertenaga besar. Ia berlaku tjepat. Setelah menarik pulang goloknja, golok Kioe-hoan Tay-kim-toa, ia ulangi serangannja dengan membabat pinggang.

Houyan Pa berkelit, ia bikin dirinja berada disamping kiri lawan itu, dari situ ia membalas menjerang lagi, dengan menikam pundak.

Thian Hioe tidak berani berlaku lambat. Waktu ia mendapatkan serangannja gagal lagi dan musuhnja demikian gesit, karena kelintjahan lawan ia lalu mentjoba untuk membenturkan sendjata satu dengan lain. Goloknja besar dan berat, ia harap bisa membikin pedang terlempar mental.

Houyan Pa benar2 lintjah. Setiap kali ia selamatkan pedangnja. Setelah ketahui maksud musuh, ia djuga mentjoba membuat pembalasan. Satu kali, ia mendesak. Mulanja ia menikam kearah tenggorokan dengan tipu silatnja,,Pek wan hian ko" atau,,Kera putih mempersembahkan buah". Setelah Thian Hioe menutup diri, ia menjerang pula dengan ,,Burung ho membersihkan bulu". Selekas lawannja menangkis, ia ulangi serangannja dengan ,,Menjingkap rumput mentjari ular". Kali ini sambil mendek ia membabat kearah kedua kaki.

Thian Hioe repot dengan desakan itu, maka djuga, atas serangan jang ketiga kali ini, ia terpaksa berlompat tinggi dan djauh, sampai enam-tudjuh kaki, Ketika ia memutar tubuh, untuk memandang lawannja, ia dapatkan lawan itu tidak merangsek lebih djauh, hanja sambil bersenjum, dia mengawasi.

Ban-lie-peng mendjadi panas hati. Sambil berseru, ia madju menjerang. Oleh karena terdorong kemurkaan, ia mentjoba memperlihatkan ilmu goloknja jang dinamakan „Ban Seng Too-hoat” atau „Selaksa kali menang”. Berulang kali gelang goloknja itu berbunji njaring, dan sinar goloknja seperti mengurung musuh.

Houyan Pa dapat menerka maksud lawannja, Ia tidak berani berlaku alpa. Ia pun tundjukkan kelintjahannja, untuk mengimbangi sikap lawannja itu. Maka lintjahlah gerak'annja, dibarengi sama memainnja pedangnja jang djuga saban membalas mentjari lowongan.

Dengan tjepat tigapuluh djurus sudah lewat, kedua pihak masih bertempur terus.

Begitu djuga dengan Houyan Pioe, jang djadi dikepung dua musuh.


Ketjuali bentrokan sendjata, sunji-senjaplah djalanan didalam lembah jang sempit itu, karena dua rombongan itu berkelahi dengan mulut bungkam, dan rombongan Kok Ban Tjiong menonton dengan kekaguman dan kewaspadaan.

Tjian Tjeng Loen mendjadi serba salah. Beberapa kali ia hendak membantu dengan menggunakan peluru apinja, tapi selalu niat itu mesti ditangguhkan. Ia djeri terhadap tukang tembak musuh, Ia telah melihat ada enam atau tudjuh tukang tembak jang terus mengintjar kearah rombongannja, siap menembak apabila pihaknja maingila.

Sesudah bertempur lagi sekian lama, mungkin karena ia tidak sudi men-sia²kan tempo, Houyan Pa mengambil kesempatan untuk memperdengarkan siulan njaring beberapa kali, atas mana dari dalam pepohonan lebat terlihat dua orang lagi datang menghampiri.

Kok Ban Tjiong tahu arti pertandaan itu. Ia lantas siapkan pedangnja, bersedia buat turun tangan kalau musuh baru itu membantui kawan²nja.

Dua orang baru ini adalah sepasang pemuda-pemudi. Si pemuda berumur enam atau tudjuhbelas tahun, mirip botjah jang baru besar, dan si pemudi kira2 berusia duapuluh tahun. Jang sedikit luar biasa, dandanan mereka hampir serupa, begitu djuga roman mereka, suatu tanda mereka adalah kakak-beradik.

„Itulah entjie dan adik keluarga Tjio”, berkata Hay Djiak Toodjin kepada kakaknja dan Tjian Tjeng Loen, Ia lebih banjak merantau daripada lain saudaranja, maka kenal lebih banjak orang. „Mereka berdua dari Tjietjioe Soe Kiat”.

Memang benar muda-mudi itu adalah dua saudara Tjio, puteri-puteranja Tjio Gan Hoei dari propinsi Hoolam. Si nona bernama Soen Eng dan si pemuda tjuma satu namanja ialah Hoa, Ber-sama² ajahnja, anak ini telah mendjagoi dilima propinsi Utara. Mulanja mereka hidup sebagai piauwsoe, Belum pernah mereka nampak kesulitan, sampai paling achir Tjio Gan Hoei mematahkan anak-panah dan bersumpah mundur dari kalangan pengangkutan piauw. Sebab diwaktu ia melindungi piauw seorang saudagar, ia tiba lebih lambat daripada waktu jang didjandjikannja. Ia ditegur dan djadi benterok dengan saudagar tersebut. Ia djudjur dan keras hati, tidak mau menjerah kalah, Kelambatan itu disebabkan bandjirnja sungai Hong Hoo dan ia terpaksa djalan mutar, kalau tidak, ia mesti singgah terlalu lama. Si saudagar bersahabat dengan pembesar di Kayhong. Ia diadukan dengan kesudahan anak2 dan ajah bertiga ditahan tiga bulan dalam pendjara. Maka Gan Hoei mengundurkan diri dan tinggal tetap di Tjietjioe, hidup sebagai orang tani.

Ilmu kepandaian mereka ialah ilmu mengentengkan tubuh Nie Tjong Gee serta duabelas batang panah Kiat-in-nouw jang liehay. Soen Eng dan Tjio Hoa masih muda sekali. Mereka tidak betah mengeram dirumah sadja, maka mereka suka mengikuti Houyan Pa dan Houwyan Pioe dua saudara, jang mendjadi paman mereka, Dua saudara Houwyan itu bukan orang Rimba Hidjau sedjati, tetapi mereka gemar dengan penghidupan kaum Rimba Hidjau itu dan suka melakukan perbuatan mulia disekitar Tjietjioe, Mereka telah bersahabat erat dengan Pok In Hoei dan Khouw Hauw Wie, dua muridnja Tok Tjie Siansoe dari kuil Boen Tjoe Ih. Mereka sering bekerdjasama, karenanja, orang kang-ouw sebut mereka Tjietjioe Soe Kiat, empat djago dari Tjietjioe.

Entjie dan adik itu bersendjatakan pedang. Ajah merekalah jang mengadjarkannja. Karena kegagahan mereka, mereka sampai dipudji Yan Tjoe Hoei. Dan karena mereka kenal baik Yan Tjoe Hoei, sekarang mereka bekerdja sama.

Tong San Siang Koay djemu terhadap Tjeng Loen, jang dikatakan suka mendjadi andjingnja bangsa Boan, maka itu, mereka hendak mengadjar adat. Dengan bekerdja sama dengan Tjietjioe Soe Kiat, mereka menantang dan memegat rombongan piauwsoe itu diselat jang sempit ini.

Houwyan Pioe bertabiat keras, ia tidak dapat mengendalikan diri, maka djuga setelah ia muntjul, benterokan tidak dapat dielakkan lagi. Tjio Hoa ingin madju sedjak tadi, tapi ia ditjegah entjienja. Oleh karena itu, baru setelah datang tanda minta bantuan, in keluar diikuti entjienja itu.

Atas datangnja muda-mudi itu, Hay Djiak Tooodjin mendahului jang lain, madju menjambut kakak-beradik itu. Ia tidak ingin benterokan mendjadi hebat, dan kalau umpamanja dua saudara itu terluka, pasti Tjio Gan Hoei tidak akan mau mengarti.

Tjio Hoa berada dimuka. Ia lihat dirinja dihampiri seorang imam tua, berusia kurang lebih limapuluh tahun, dengan dipundaknja tergantung dua rupa sendjata jang aneh nampaknja. Ia bisa menerka orang ini tentu bukan sembarang orang, tetapi ia tidak djeri. Ia, madju lebih djauh, tangannja terus menuding.

„Apakah kau djuga membantu Tjian Tjeng Loen” tegurnja.

Hay Djiak mengangguk, ia tertawa.

„Sahabat ketjil, kau rupanja tidak mengenali aku”, ia menjahuti. „Kira lebih daripada sepuluh tahun jang lampau, satu imam bernama Hay Djiak Toodjin pernah mendjadi tetamu bersama ajahmu diketjamatan Tong-kiong di Shoatang, kemudian baru mengundurkan diri kegunung Mauw San, Imam itu ialah aku adanja!” Tjio Hoa tidak sangka akan bertemu orang jang mendjadi sahabat ajahnja. Ia tahu, kalau ia melajani bitjara, pertempuran akan mendjadi batal. Maka ia berlagak pilon. „Djangan ngobrol tidak keruan, mari kita adu kepandaian!" ia menantang. Lalu ia madju dan menikam pundak imam itu.

Menghadapi anak muda, Hay Djiak Toodjin tidak mau menurunkan deradjat sendiri. Ia telah lantas menurunkan sendjatanja, jaitu Kwa houw-lan, tetapi ia tidak terus menggunakannja. Waktu diserang ia berkelit. Adalah sesudah ditikam terus-menerus tiga kali, baru ia membalas, udjung sendjatanja menjambar ketenggorokan dan dahi botjah itu.

Tjio Hoa heran untuk sendjata lawan itu, la belum pernah dengar atau lihat. Sendjata itu mirip dengan gaetan, digagangnja ada palangannja untuk melindungi tangan jang menjekalnja, Udjungnja pun tadjam seperti pedang. Nama „kwa-houw-lan” berarti „kerandjang untuk memuat harimau”, maka bisa dimengerti kalau sendjata itu dapat dipakai untuk membangkol dan merampas sendjata musuh. Untung untuk pemuda ini, ia muda tetapi sudah berpengalaman da. lam pertempuran, dan ketjuali tjerlas ia pun turunan seorang djago, maka itu, dengan ketadjaman otaknja, dengan ketabahan hatinja ia dapat menghadapi lawannja itu. Lebih dulu ia tarik mundur kaki kanannja. Selagi kaki bergerak, pedangnja menjambar kelengan kiri lawan.

Hay Djiak Toodjin bermata tadjam. Ia lihat antjaman kepada lengan kirinja itu. Sambil menggeser lengannja, tangan kanannja memapaki, untuk bangkol udjung pedang.

Tjio Hoa terperandjat. Ia merasakan udjung pedangnja itu tergetar. Tjepat² ia menarik pulang sendjatanja itu.

Hay Djiak liehay. Selagi anak muda itu menarik pedangnja, udjung sendjatanja jang luar biasa itu diteruskan, dipakai menikam dada si botjah.

„Tjelaka !” Tjio Hoa berseru didalam hatinja dan tubuhnja segera ditarik kebelakang. Ia berhasil membebaskan diri akan tetapi pedangnja telah kena dirampas. Dan selagi terdesak itu, sendjata lawan jang satunja menjambar kemukanja !

Dalam saat jang berbahaja itu, Tjio Hoa mengkeratkan kepalarja, untuk meloloskan diri dari tusukan, tetapi tangan kanannja diulur, dengan niat menjambar lengan musuhnja.

Setelah kegagalan serangannja itu, Hay Djiak mentjelat mundur, maka ia lolos dari sambaran. Tapi ia tidak berhenti sampai disitu. Kembali ia madju dan menjerang sekarang ia menjontek kearah tjelana si botjah, maksudnja. untuk membuatnja kaget.

Tjio Hoa kaget bukan main. Ia mau pertjaja, tjelakalah pahanja...........

Tjio Soen Eng melihat adiknja terantjam bahaja. Ia pun kaget, maka dengan lantas ia mentjelat madju menolongi, pedangnja dipakai menangkis kwa-houw-lan.

Hay Djiak lihat datangnja si nona, jang ia belum tahu kepan- daiannja. Ia menarik pulang sendjatanja, untuk mentjegah benterokan. Ia lantas menjerang dengan tangannja jang kiri, sendjatanja menjambar pinggang, nona itu.

Soen Eng benar djauh terlebih liehay daripada adiknja. Ia tidak mendjadi kaget atas serangan membalas itu. Dengan mengangkat kaki kanan, ia menggeser tubuhnja, dan segera setelah bebas dari bahaja, pedangnja menjambar kelengan kanan lawan itu.

Baru beberapa djurus itu, Kok Ban Tjiong sudah menonton dengan mata mendelong. Ia tidak sangka, usia si nona masih begitu muda, tetapi kepandaiannja sudah sempurna, hingga dia dapat menandingi Hay Djiak Toodjin, Mauw San Tjit Yoe jang kedua itu.

Segera terlihat udjung pedang Nona Tjio menjambar kemata kiri si imam.

Hay, Djiak tertawa pandjang, tangan kanannja menggerakkan gegamannja, untuk menangkis pedang itu. Tapi Soen Eng telah dapat menerka apa jang lawannja akan lakukan. Ia tidak mau membuat sendjatanja membentur sendjata musuh. Ia mendahului menarik pulang; akan tetapi ia bukan tjuma menarik. Setelah menarik, ia mengajun terus, hingga pedang itu kembali menjerang, menabas kearah batang leher.

Hay Djiak berkelit sambil mendakkan kepalanja, tangan kanannja diangkat, guna menangkis pedang musuh. Tetapi si nona kembali mendahuluinja meloloskan sendjatanja dari tangkisan. Hanja,seperti tadi, ia bukannja tjuma membebaskan diri, lagi ia meneruskan, menikam pusar. Kali ini ia merasa bakal berhasil. Ia telah bergerak tjepat luar biasa.

Djuga Hay Djiak Toodjin kali ini bergerak luar biasa tjepat, maka waktu ia menggerakkan sendjatanja, ia berhasil menangkis pedang, hingga kedua sendjata benterok dengan memperdengarkan suara njaring.

Adalah disaat itu, Tjio Hoa, jang telah pungut pedangnja jang terampas dan didjatuhkan lawannja, sudah lompat madju lagi, menjerang sambil berseru. Ia menjerang dengan tikaman „Pek tjoa touw sin” atau Ular putih memuntahkan bisa". Ia mengintjar pinggang si imam.

Sebagai djago Boe Tong Pay dan telah berpengalaman djuga, Hay Djiak Toodjin tidak dapat membiarkan dirinja terbokong, maka atas datangnja serangan itu, ia menjambut dengan dua sendjatanja. Untuk menjingkir dari tikaman, ia menggeser sedikit tubuhnja, sendjatanja jang kanan dipakai menangkis, jang kiri untuk menjerang.

Tjio Hoa terkedjut, lekas la lompat mundur.

Soen Eng gusar atas perbuatan adiknja itu.

„Apa matjam!” bentaknja. „Siapa suruh kau madju? Lekas minggir !”

Nona ini tidak suka dibantui. Sebagai wanita sedjati, ia ingin melajani si imam bertanding satu sama satu.

Mendengar perkataan si nona, Hay Djiak tahu lawannja seorang djudjur. Ia pun menjajangi kepandaian memainkan pedang nona ini, maka ia tidak ingin mengadu djiwa dengan si nona. Malah ia segera memikir untuk bitjara, guna mentjari perdamaian. Hanja belum sempat ia membuka mulut, tiba mereka dengar suara berketoprakannja kaki kuda serta kelenengannja kuda itu.

Yo Kong Tie bertiga bersama Ang Soe Sioe dan Tjie Tjiat Djin pun dengar suara itu, jang datangnja dari arah depan. Sambil mengawasi, mereka hunus sendjata mereka masing, untuk madju memapaki. Mereka menduga kepada bala-bantuan musuh.

Berbareng dengan madjunja mereka ini, dari dalam rimba lompat keluar beberapa orang, jang terus merintangi mereka. Salah satu, jang madju paling depan, adalah seorang kate dan ketjil bermuka merah, pipi kirinja ada panonja jang berwarna semu kuning diantara kulit hitam, hingga mukanja itu mendjadi djelek sekali.

Dia menjekal sepasang poankoan-pit, sendjata jang berupa alat tulis, sedang larinja pesat sekali. Dipihak Yo Kong Tie, Ang Soe Sioe jang madju dimuka, maka itu, dialah jang paling dulu berhadapan dengan si kate-ketjil itu, jang sudah terus menjerang padanja. Ia tidak bisa segera melajani. Kudanja ia geser berlompat kesamping, habis itu barulah ia lompat turun dari kudanja itu, untuk menempur.

Yo Kong Tie dan Tjie Tjiat Djin djuga sudah lantas dirintangi oleh kawan Siang Koay dan Soe Kiat, hingga mereka djadi bergebrak. Tjie Tjiat Djin kewatir Ang Soe Sioe nanti memandang enteng lawannja. Sembari bertempur, ia menjadarkan kawan itu.

„Eh, Ang Toako !” katanja, „to-tjoe dengan siapa kau bertanding adalah Tjietjioe Soe Kiat jang nomor satu, jaitu Tjo-san-tiauw Pok In Hoei si Radjawali Penunggu Gunung. Maka itu, djusteru sahabat jang baik ini bersahabat djuga dengan tjongpiauwtauw kami, aku harap kamu berdua membatasi diri hingga saling towel sadja !” Mendengar itu, Pok In Hoei tertawa.

„Giok bin Kimkong, bagus benar pikiranmu!” katanja, „Kita telah berada dimedan perang, apakah disini masih ada persahabatan ?”

Giok-bin Kimkong atau Kimkong Bermuka Kumala adalah djulukannja Tjie Tjiat Djin.

Sembari berkata demikian, In Hoei perkeras serangannja. Dengan pit ditangan kanan ia mengantjam kemuka Soe Sioe, dengan pit ditangan kiri ia menotok keiga.

Soe Sioe mendjaga mukanja dengan tangan kirinja, dengan tangan kanan, jang menjekal pedang, ia menabas lengan kiri lawan itu.

Dua² bergerak dengan tjepat luar biasa.

In Hoei tarik pulang tangan kirinja itu, untuk menggantinja dengan tangan kanan, guna menotok djalan darah kie-boen_hiat dari Soe Sioe, maka orang she Ang ini djuga lekas menarik pulang tangannja sambil berkelit.

Sampai disini, Ang Soe Sioe dapat merabah ilmu silatnja djago Tjietjioe jang nomor satu itu, jang berasal dari partai Boe Tong Pay, malah dia rasa mirip dengan warisannja Siauw Toodjin dari kuil Pek Ma Sie digunung Gak Lok San di Ouwlam. Oleh karena ini, ia berlaku semakin waspada. Begitulah, untuk melajani sepasang poankoanpit jang berbahaja, ia bersilat dengan ilmu pedang Shatjaplaktjioe Thian Kong Kiam, jang terdiri dari tigapuluhenam djurus.

Pok In Hoei tidak beda djauh dari Ang Soe Sioe dalam ilmu silatnja, maka itu, setelah Mauw San Tjit Yoe jang nomor lima ini berlaku hati², kepandaian mereka berdua djadi berimbang.

Hay Djiak. Toodjin dengan Tjio Soen Eng pun melandjutkan pertempuran mereka. Maka didjalan jang sempit itu, jang pandjangnja kira setengah lie, belasan orang telah benterok satu dengan lain.

Sekarang tinggal Kok Ban Tjiong, ketua Mauw San Tjit Yoe, berdua Tjian Tjeng Loen jang berdiri menonton mereka mengadu kepandaian. Ketua ini memasang mata kepada saudara atau kawannja sambil dilain pihak mengawasi Tjeng Loen, untuk mentjegah piauwsoe ini turun tangan dengan menggunakan peluru apinja. Ia djuga berpikir keras, memikirkan daja untuk menghentikan pertempuran itu, sebab suatu penjelesaian harus didapatkan. Hanja, belum lagi ia keburu mendapatkan pikiran jang baik, pada gelanggang pertempuran telah terdjadi perubahan.

Hek-Kielin Yo Kong Tie telah dapat tandingan dalam dirinja Pek-Ho Siauw Seng Tay si Burung Ho Putih, Tjietjioe Soe Kiat jang nomor dua. Dia menggunakan sebatang pedang pendek dan lawannja itu golok Ang-mo Kie-sit-too. Mereka tidak sebanding tetapi toh berimbang. Seng Tay bertenaga besar dan goloknja berat, Kong Tie sebaliknja bersendjata enteng dan tubuhnja lintjah sera otaknja tjerdas.

Seng Tay telah menjerang lawannja, mulanja dengan tipu silat ,,Koay bong hoan sin" atau "Siluman ular.naga membalik tubuh", lalu menjusul dengan perubahan mendjadi,,Tay-peng tian tjie" atau Burung garuda mementang sajap", goloknja jang berat membabat pinggang, gerakannja sangat tjepat.

Dengan gerakan kaki ,,Tjit-tjhee-pou" atau,,Tindakan tudjun bintang", Yo Kong Tie membebaskan diri dari antjaman bahaja, tetapi ia bukannja tidak melakukan pembalasan. Segera ia menikam lengan kanan lawannja itu, pedangnja berkelebat bagaikan bianglala.

Seng Tay mengegos diri seraja menangkis, tetapi sia-sia sadja tangkisannja itu, Baru ia dapat membebaskan diri, atau ia sudah diserang pula, karena Kong Tie tidak hendak memberi ketika. Dengan mengandalkan kelintjahannja, Hek.Kielin si Kielin Hitam, sudah terus mendesak, mulanja dengan serangan gertakan, lalu dengan tikaman jang benar.

Didesak setjara demikian, si Burung Ho Putih mendjadi mendongkol, hingga ia memikir untuk menggunakan siasat,,It-lek Hang-sip-hwee", ialah keras lawan keras. Begitu dengan goloknja jang berat, ia membulang baling beberapa kali.

Menghadapi orang jang bagaikan sudah nekat itu, Yo Kong Tie merubah lagi tjara berkelahinja. Ia andalkan pula kelintjahan tubuhnja. Demikianlah, selagi didesak, ia berlompatan, kelit sana dan egos sini, Sembari melajani setjara demikian, ia mengasah otak, memasang mata, guna mentjari lowongan lawannja. Ia tidak usah menanti lama untuk mendapatkan itu. Siauw Seng Tay masih mendesak terus ketika goloknja, jang dipakai membatjok, kena dikelit sambil diteruskan ditolak kesamping, berbareng Yo Kong Tie melajangkan kaki kirinja kearah sikut lawannja itu. Tepat tendangan itu.

Tanpa ampun lagi, Seng Tay merasakan tangannja sesemutan, tjekalannja mendjadi lemas, goloknja jang berat itu tak dapat ia pegang lagi, hingga terlepas sendirinja, djatuh ketanah.

Ketika jang baik ini digunakan Kong Tie untuk menjerang dengan pedang pendeknja. Ia madju menikam.

Seng Tay melihat antjaman bahaja, terpaksa ia melajani dengan tangan kosong. Begitulah dengan berlompat, ia undurkan diri.

Yo Kong Tie beranggapan lawannja sudah kalah. Ia tidak menjerang terlebih djauh, sebaliknja, sambil tertawa, ia membungkuk, untuk mendjemput goloknja si Burung Hoo Putih itu. Ia tentu sadja tidak menduga djelek terhadap lawannja itu.

Seng Tay sebaliknja beranggapan lain. Dia memang pandai menggunakan sendjata rahasia. Selagi berlompat, tangannja sudah merogo kedalam sakunja, maka itu, tepat selagi si orang she Yo itu memungut golok, dia ajun tangannja, hingga sebatang pou-tee-tjie lantas sadja menjambar kedjalan-darah thay-yang-hiat dari Mauw San Tjit Yoe jang nomor enam itu.

Sjukur untuk Yo Kong Tie, ia memungut golok dengan tjepat. Ketika ia melempangkan tubuhnja, ia dapat melihat terajunnja tangan lawan, maka, menduga ia tengah diserang sendjata rahasia, lekas ia angkat tangannja, menjambuti serangan gelap itu, Ia berhasil menanggapi.

Siauw Seng Tay berpikir lain. Ia tidak berhenti dengan satu kali serangannja itu. Setelah gagal dengan poutee-tjie, ia mengulangi serangannja dengan dua potong lagi sendjata rahasianja, ialah sam-leng-tjo atau bidji buah tjo. Ia mengarah muka dan perut.

Piauw bidji tjo itu berat, djarak mereka pun dekat, maka melesetnja piauw itu tjepat sekali, Masih Kong Tie dapat melihatnja, tetapi tak sempat ia menangkis atau menjambuti dua serangan itu. Tidak ada djalan lain, ia buang diri ketanah, menggulingkan tubuhnja dengan tipunja „Giok-touw touw hoay” atau „Kelintji kumala membuang diri kedalam rangkulan”, salah satu djurus dari „Yan Tjeng Sip-pat Hoan” atau „Yan Tjeng berdjumpalitan delapanbelas kali”. Dengan begini ia bisa berkelit djauh hingga tiga-empat tindak.

Kalau Kong Tie dapat menghindarkan diri, tidak demikian dedengan Hay Djiak Toodjin, jang tengah bertempur dengan Tjio Soen Eng. Ia lantas sadja terantjam bahaja. Kedua piauw mendjurus lempang. Setelah tidak mengenai sasaran dalam dirinja. Hak Kie-lin, disana ada sasaran tidak langsung, ia si imam dari Mauw San Tjit Yoe itu, Hay Djiak ber-sungguh2 melajani Nona Tjio, maka bukan main kagetnja apabila ia mendengar sambaran angin dari kedua piauw itu. Ia tengah repot sekali, maka sjukur ia masih mempunjai kegesitan. Dengan mendak, ia membuat lewat sebuah piauw diatas kepalanja, dan piauw jang kedua disampoknja roboh dengan sendjatanja jang kiri. Djusteru karena mesti melajani kedua piauw bidji tjo itu, ia mendjadi lengah dalam melajani Soen Eng.

Didalam Tjietjioe Soe Kiat, Tjio Soen Eng adalah jang nomor tiga. Walaupun kedudukannja terlebih rendah, ilmu silat pedangnja terlebih tinggi. Karena ia tahu baik, imam lawannja itu liehay, ia djadi berkelahi dengan waspada, terutama ia perlihatkan kelintjahannja.

Oleh karena repot berkelit dan menangkis piauw, Hay Djiak Toodjin mendjadi seperti hanja punja satu tangan kanannja sadja. Ia berarti kelemahan untuknja selagi ia menghadapi musuh tangguh, Soen Eng pun lihat itu. Si nona sudah lantas menggunakan ketikannja jang baik. Dia sampok sendjata kanan dari si imam, lalu terus menjerang keperut.

Hay DJiak berniat menggunakan sendjatanja jang kiri menangkis pedang si nona, akan tetapi ia telah didului nona itu, jang bergerak sangat tjepat.

Dengan menggeser kaki kanannja, Soen Eng membuat tubuhnja datang terlebih dekat kepada lawannja. Berbareng dengan bergesernja kaki itu, pedangnja bergerak bagaikan kilat, dalam tipusilat „Ouw liong yoe bwee“ atau „Naga hitam menggojang ekor“. Baru sadja berkelebat, pedang sudah menjambar kelengan kanan si imam.

Hay Djiak kaget bukan main, tetapi ia pun masih mempunjai kesebatan untuk menarik pulang lengannja itu. Kalau tidak, pastilah lima djari tangannja akan terbabat kutung. Tapi ia belum lolos dari antjaman. Soen Eng tidak berhenti sampai disitu. Sambil mendesak, da menikam lagi pundak lawannja itu.

Dalam antjaman jang hebat itu, walaupun dengan terpaksa, untuk tolong diri, Hay Djiak Toodjin membuang dirinja kekiri, djatuh ketanah, terus bergulingan.

Soen Eng menjerang dengan hebat, karena ia pertjaja kali ini ia bakal berhasil tapi dengan lawannja mendjatuhkan diri, ia djadi menikam tempat kosong, saking besar tenaga jang digunakannja, ia mendjadi seperti terbawa pedangnja, tubuhnja njelonong ke-depan. Dipihak lain Hay Djiak Toodjin sudah berlompat bangun. Waktu ia lihat tubuh lawannja itu, ia lantas membalas menjerang.

Kok Ban Tjiong telah menjaksikan pemandangan jang sangat berbahaja itu.

„Djietee, djangan!“ berteriaknja, sebab tak ada ketika lagi baginja buat lompat mentjegah.

Kwahouwlan dari Hay Djiak meluntjur terus. Ia dengar teriakan kakak-angkatnja, tapi belum sempat bertindak, sekonjong-konjong terdengar satu suara menjambar njaring disusul dengan djeritan tadjam. Lalu tertampaklah pundak kiri si imam memantjurkan darah hidup !

Dua-dua Kok Ban Tjiong dan Tjiang Tjeng Loen mendjadi kaget sekali, terutama disebabkan mereka tak dapat melihat tjara bagaimana imam atau kawan itu terlukai dan siapa jang melukainja. Tjeng Loen memang beradat keras dan ia sedang sangat mendongkol, maka itu, menjaksikan kawan itu terluka, ia tidak dapat mempedulikan apa lagi. Ia menduga kepada Tjio Hoa, jang berdiri dibelakang Soen Eng, maka ia tumplak kemarannja kepada botjah itu. Dengan bernapsu ia menjerang dengan peluru apinja kepada botjah itu sekalian kepada Nona Tjio, hingga kakak-beradik itu mendjadi kelabakan. Sia-sia mereka mentjoba mengelakkan diri. Mereka kena tersambar api peluru jang liehay itu.

Sebutir peluru djuga menjamber muka Houwyan Pioe jang keras tabiatnja. Dia mendjadi gusar sekali, hingga dia berdjingkrakan dan berkaokan, menjusul mana orang-orangnja jang bersembunji didalam rimba lantas sadja bekerdja, hingga dar-der-dor datanglah tembakan-tembakan beruntun kearah rombongan Mauw San Tjit Yoe itu.

Tjeng Loen semua mendjadi repot sekali. Mereka bergulingan untuk menjingkirkan diri, maka tjelakalah kuga tunggang mereka, jang tidak dapat menjingkir. Beberapa diantaranja lantas terguling rubuh, bergulingan atau berkoseran sambil memperdengarkan ringkikannja.

Dalam murkanja, Tjeng Loen memberondongi peluru apinja kearah musuh, hingga ia pun dapat melukai Siauw Seng Tay serta tiga atau empat tukang tembak.

Karena kedua pihak telah meluap amarahnja, maka mereka bukan mengundurkan diri, sebaliknja djusteru sama-sama merangsek

Kok Ban Tjiong mendjadi sangat berduka dan bingung. Bukan maksudnja membuat permusuhan bertambah hebat. Maka dengan mem-perlihatkan kepandaiannja meringankan tubuh, ia lompat ke-sebuah pohon kaju dan naik ke-suatu tjabang besar. Diatas itu ia menaruh kaki, terus memperdengarkan suaranja jang njaring: Tong San Siang Koay! Tjietjioe Soe Kiat! Tolong kamu berhenti sebentar. Beri aku ketika untuk bitjara sebentar! Maukah kamu ?" Kemudian ia lantas menoleh kepada pihaknja, untuk berteriak be-berapa kali: „Berhenti! Berhenti !"

Tapi orang² di kedua pihak sudah pusing, tidak ada jang men-dengar atau mungkin ada jang mendapat dengar, tetapi senga. dja tidak sudi mengambil mumat, maka itu, mereka bertempur terus,

Kok Ban Tjiong mendjadi menjesal dan berduka, maka sjukur untuknja, tengah ia tidak berdaja, tiba² ia dengar suara gembreng dari dalam rimba, lalu musuh mundur semua, Sekalipun jang ter-Juka mereka telah bawa pergi.

Tjian Tjeng Loen, Thian Hioe dan Ang Soe Sioe panas hati. Mereka hendak mengedjar. Sjukur mereka dapat ditjegah toako me-reka.

Belum sempat Mauw San Tjit Yoe beramai berbitjara, untuk merundingkan tindakan lebih djauh terhadap lawan, dari arah mana mereka datang, terdengar tindakan kaki kuda lari keras. Apabila mereka sudah menoleh, mereka tampak seekor kuda putih kabur mendatangi, dan orang jang duduk dibebokong kuda adalah Lioe Hong Hoa jang romannja halus dan tampan.

Tuan.tuan, kami menantikan kamu di Sia Yang Ouw!" kata-nja sambil mengangkat tangan dan kepala sedikit dimiringkan, se-telah mana, putar kudanja untuk menghilang dengan tjepat.........

VIII

DI SIA YANG OUW

Pertempuran di Kwie Kian Tjioe ini membuat pihak Tjian Tjeng Loen berduka berbareng hati mereka panas dan mendongkol, Ke-tjuali Hay Djiak Toodjin, jang telah terluka lengan kanannja, dari pihak plauwkiok sendiri telah terluka dua plauwsoe dan tiga pega-wal. Lukanja enteng dan berat, sedang dari sembilan.belas ekor kuda, delapan terkena tembakan.

Kok Ban Tjiong mengusulkan mengirim pulang mereka jang terluka ke Yam-shia, untuk berobat dan beristirahat.

Tjeng Loen tidak akur dengan usul ini. Ia lebih mementingkan muka, la kuatir mendapat malu. Bukankah maksud musuh supaja mereka djangan mentjari piauw jang terampas itu? Maka sebalik-nja, ia menjarankan untuk madju terus, untuk mentjapai Sia Yang Ouw di-luar dugaan Lioe Hong Hoa, supaja segera mereka meng. hadapi Yan Tjoe Hoei. Mereka masih punja waktu, sebelum hari mendjadi gelap.petang.

Kok Ban Tjiong terbenam dalam kesangsian mengenai asal-usul-nja piauw. Ia masih ingat kata jang menusuk kuping dari Siang Koay dan Soe Kint. Maka itu, in ment joba menjabarkan Tjeng Loen.

Djangan terlalu tergesa-gesa, loo-plauw.tee", katanja kepada adik misan itu. Apakah kau tidak lihat Kho Soeñoe dan Tjie Soehoe telah terluka? Mereka turut bersama kita djusteru untuk mem-bantui kau! Sekarang harus kita antar pulang dulu mereka itu, untuk mereka berobat" . Tjeng Loen terdesak. Ia tidak berani kukuhi pendapatnja lagi.Waktu itu Sim Teng Yang dan jang lainnja telah membantu mengumpulkan kuda mereka, sebagaimana semua orang pun ber-kumpul, Lalu diatur, siapa harus naik kuda, sedang dua orang di. wadjibkan menuntun empat ekor kuda jang luka.

Selagi Kok Ban Tjiong memperhatikan semua orang, la men-djadi heran.

Mana Lauw Hiantee?" in lantas menanja Thian Hive, Ia tidak dapatkan Hay Djiak Toodjin; saudara angkat jang nomor dua itu. Thian Hioe menggeleng kepala. Ia pun baru ingat kakak jang ke-dua itu.

Ang Soe Sioe dan Yo Kong Tie djuga mendjadi heran, Mereka pun tidak tahu hal lenjapnja saudara angkat itu, Tadi mereka ingat, setelah musuh mundur, Hay Djiak Toodjin duduk beristirahat se-orang diri di-sebuah batu besar dipinggiran, tangan kirinja menekan lengan kanannja jang terluka, matanja memandang kelangit, entah apa jang dipikirkan, Tidak diketahui kapan perginja saudara itu, entah kemana arah tudjuannja.......... Ang Soe Sioe dan Yo Kong Tie segera bekerdja. Dengan meng. ambil djurusan jang bertentangan, mereka pergi mentjari kakak itu, saban mereka me-manggil: „Djieko! Djieko!"

Ban Tjiong menghela napas sambil meng-usut kumisnja jang putih.

Sudahlah, tak dapat dia ditjari......" katanja masgul. „Aku kenal baik tabiat Lauw Hiantee, Diluar dia kelihatan sabar dan me-nerima, apa pun dia dapat pertahankan, Didalam sebenarnja dia beradat tinggi, dia mempunjai tulang djumawa. Dia sangat meng. hargai mukanja sendiri. Tadi dia bertanding dengan nona she Tjio itu. Dia anggap dirinja terlebih tua, maka dia tidak berkelahi se-tjara sungguh. Entah bagaimana, dia kena diakali nona itu, Dasar mataku sudah lamur, meski aku berada dekat, aku tidak dapat melihat. Sebenarnja, djikalau mereka bertempur sungguh, lagi dua-puluh tahun si nona beladjar silat, tidak nanti ia dapat memenang-kan djietee. Soalnja disini bukan soal kalah atau menang, tetapi djietee tak dapat mempertahankan itu, Pantas sedjak tadi dia diam sadja, rupanja dia tengah memikir untuk mengambil putusan".

Tjeng Loen belum kenal baik Hay Djiak Toodjin, ia tidak per. tjaja dugaan Ban Tjiong itu.

Tidak lama, Ang Soe Sioe dan Yo Kong Tie kembali saling-susul, Keduanja memberitahukan bahwa mereka tidak dapat tjari kakak mereka itu. Maka teranglah sekarang, Lauw Hay Djiak telah kabur karena mendongkol dan penasaran.

Tjian Tjeng Loen mendjadi sangat tidak enak hati.

„Biar aku susul dia ke Sia Yang Ouw-" berkata piauwsoe ini. Is hendak memberikan bantuannja kepada Mauw San Tjit Yoe nomor dua itu.

„Djangan!" Kok Ban Tjiong mentjegah.

Djago tua ini tidak setudju Tjeng Loen bekerdja ter-gesa, Ia lantas mengadjak kawan-kawannja berbitjara, Kesudahannja diam. bil putusan, Sim Teng Yang, Thian Hioe dan Yo Kong Tie pulang untuk mengantarkan orang-orang jang terluka ke Yamshia, Ia sen-diri bersama Tjian Tjeng Loen akan menjusul ke Sia Yang Ouw. Mereka tjuma membawa satu pegawal plauwkiok sebagai penundjuk djalan.

Tjie Tjiat Djin Terluka enteng, tidak mau pulang. Ia ingin turut pergi. Ia mendesak, maka achirnja Ban Tjiong adjak padanja Ban Tjiong memesan agar kedua pihak nanti bertemu didusun Lioe-lim.tjhung didekat telaga Sia Yang Ouw. Sesudah itu, kedua-nja berpisahan.

Perdjalanan rombongan Kok Ban Tjiong dilakukan tjepat luar biasa. Ketua Mauw San Tjit Yoe menjangka Lauw Hay Djiak belum pergi djauh. Is harap dapat menjusul, Tidak tahunja, selang dela-panpuluh lie, ia tidak dapat menjandak.

Rupanja día ambil djalan ketjil", pikirnja kemudian,Perdjalanan lantas dilandjutkan.

Seperti sudah ditetapkan, rombongan ini menudju ke dusun Lice-lim-tjhung. Kok Ban Tjiong pertjaja, Hay Djiak telah men. dahului pergi ke dusun itu. Ketika rombongan tiba, njata dusun itu adalah satu dusun ketjil, penduduknja tjuma kira-kira tiga atau em-patpuluh rumah, malah di situ tjuma ada sebuah pondokan, jang barang hidangannja hasil masakan orang kampung.

Adalah di waktu magrib Tjie Tjiat Djin, jang kenal pondokan itu, adjak Ban Tjiong dan Tjian Tjeng Loen pergi ke sana, Baru mereka tiba didepan pondokan, mereka lantas mengalami penjam. butan diluar sangkaan mereka.

Pemilik pondokan, seorang she Tjioe, berdiri didepan pintu, Ia tertawa tetapi tertawa menjeringai, Ia berkata: Apakah tuan-tuan bertiga hendak mondok disini? Maaf! Kami sudah tidak punja kamar kosong lagi......"

Bertiga Ban Tjiong tertjengang. Tjian Tjeng Loen seorang jang tidak sabaran, „Mari!" adjaknja. Ia berniat mentjari lain penginapan, Ditengah djalan, ia tidak diberitahukan Tjie Tjiat Djin bahwa disitu tidak ada lain rumah penginapan lagi. Ia pun sudah lantas memutar tu-buhnja.

Ban Tjiong, jang terliti, tidak mempedulikan adjakan kawannja itu, Ia hanja memandang tadjam keseluruh pekarangan luar pondokan itu.

Inilah aneh", katanja kemudian, Di sini tidak ada sebuah kereta, tidak ada seekor kuda djuga, kenapa kamarmu telah penuh semua?"

Ditanja begitu, tuan rumah itu melengak.

Sebenarnja kami mempunjaj hanja lima buah kamar", katanja kemudian, dan terpaksa ia omong terus-terang, dan tamu kami pun biasanja tidak banjak, Barusan sadja kami kedatangan seorang tetamu, jang lantas memborong semua lima kamar kami. Dia bilang padaku, segera bakal menjusul belasan kawannja, maka itu, dia larang kita menerima lain-lain tetamu. Menjesal, tuan-tuan, aku mohon kamu sudi memaafkan......"

Ban Tjiông dan Tjiat Djin, jang sama-sama terliti, saling meng-awasi.

„Adakah tetamu itu memberitahukan kau she dan namanja?" keduanja menanja berbareng.

„Ja", sahut tuan rumah sambil mengangguk,,,Dia menjebut she Lioe, dan dia telah memberi uang muka dua tail perak. Dia bilang, uang sewa kamar dan makan, semua tanggungan dia".

Kembali dua orang itu saling mengawasi, lalu Kok Ban Tjiong tertawa ter-gelak".

„Sungguh liehay Live Hong Hoa!" katanja njaring. Dia sam-pai memikir kepada urusan seperti ini! Loo-piauwtee, rupanja dia dapat menerka hatimu! Sekarang apa lagi kita hendak bilang? Tidak bisa lain, kita terpaksa mesti mengganggu dia untuk satu malam sedikitnja......" Lalu ia hadapi tuan rumah, Sembari ter-tawa, ia berkata: „Tuan, kau tak usah bersusahhati. Orang she Live itu djusterulah sahabat kami, dan kamar jang dia sewa diperuntuk-kan kami ini. Tjuma satu hal dia menerka keliru, Ialah njali kami bukannja ketjil, Buat kami bertiga atau berdua, kami berani datang, tak usah kami mesti berombongan besar! Silahkan kau urus kuda kami, sekarang kami hendak beristirahat dulu".

Mendengar perkataan kakak misan itu, Tjeng Loen mengerti, ia batal pergi. Tjiat Djin pun mengerti maksud ketua Mauw San Tjit Yoe itu.

Tuan rumah bersangsi sedjenak, lantas ia membuka djalan, mempersilakan mereka masuk. Ia tidak berani mentjegah lagi, per-tama karena melihat tamu²nja bitjara setjara sopan, kedua mereka itu dandan dengan rapi, kuda mereka semuanja pilihan dan mereka semua membekal sendjata, djadi mereka itu bukan sembarang orang.

Bukankah tuan she Live tadi menunggang kuda putih?" ber-kata Ban Tjiong, jang lihat tuan rumah masih sedikit ragu". „Bu. kankah dia bitjaranja halus, seperti satu mahasiswa? Nah, tuan, djangan kau bersangsi, kami bukannja penipu !"

Pemilik pondokan itu bersenjum Ia pimpin mereka kekamar sebelah selatan, Didalam situ ada djendela kertas dan pembaringan bambu. Karena tempat itu hanja desa, maka Ban Tjiong tidak biJang apa. Mereka pun sudah letih, sudah lapar dan haus, maka mereka ambil kamar itu seraja terus minta disediakan barang makanan.

Menurut keterangan Tjie Tjiat Djin, sarangnja. Yan Tjoe, Hoei, jang disebut markas pusat, berada ditandjakan tudjuh atau delapan lie terpisah dari dusun Live-lim-tjhung itu, tjuma tidak diketahui pasti, letaknja ditengah telaga atau didarat. Ia pertjaja, asal ditjari, sarang itu tentu bakal dapat diketemukan, karena djumlah rom bongan itu tak kurang daripada duaratus djiwa,

Ban Tjiong dan Tjeng Loen berniat malam itu djuga membuat penjelidikan, Tidak ada perlunja buat mereka ragu atau ber-hati lagi, sebab Lioe Hong Hoa sudah mengetahui kedatangan mereka. Untuk mendjaga diri, diwaktu gelap, mereka itu djalan memutari pondokan dan naik djuga keatas rumah, guna mentjari tahu ada musuh jang mengintai mereka atau tidak, Sesudah itu baharu me-reka berkumpul pula didalam kamar, Tanpa salin pakaian lagi, mereka duduk bersamedhi

Sekira djam satu, belum lagi Tjeng Tjian dan Ban Tjiong ke-luar untuk membuat penjelidikan sebagaimana sudah direntjanakan, tiba mereka dikedjutkan suara berisik diluar pondokan.

He, orang she Tjian, kenapa kau masih belum mau keluar?" demikian seruan itu. Lalu disusul: „Kau dengar tidak, orang she Tjian? Kau harus memperlihatkan dirimu sekarang!"

Suara itu keras, maka dalam malam jang sangat sunji itu, ter-dengar njaring sekali.

Hampir berbareng, Ban Tjiong bersaris Tjeng Loen dan Tjiat Djin lompat bangun. Tanpa bersangsi lagi, mereka lompat keluar kamar.

Diluar djusteru terdengar lagi suara tadi, Katanja, Orang she Tjian! Tjian Tjeng Loen! Jang aku panggil ialah kau! Djangan kau ber-pura tuli dengkak: Djikalau kau masih belum hendak ke-luar, djangan kau nanti persalahkan aku. Aku akan berlaku tanpa sungkan lagi!"

Tjeng Loen gusar atas kata menantang dan kasar itu. la hen-dak berlompat terus kedjalan besar dari mana suara itu datang. Tapi Ban Tjiong tarik tangannja sambil membisiki: Tahan dulu! Kakak misan itu pun menggojangkan tangannja, lalu dia berlompat naik keatas rumah, untuk pergi kebelakang, rupanja dengan niat mengambil lain djalan untuk bisa pegat orang tak dikenal itu Tjeng Loen dapat tangkap maksudnja. Ia suka bersabar, maka bersama? Tjiat Djin, in lantas menanti, Mereka sembunji diatas rumah.

Tidak berselang lama kemudian, dari arah djalan besar terdengar suara mendjerit, seperti orang terluka dan roboh ditanah.Mereka terkedjut, maka tidak ajal lagi, mereka lompat turun, untuk lari kearah dari mana djeritan datang.

Diwaktu begitu, djalanan gelap, tetapi toh, selagi mendatangi,mereka lihat dua bajangan orang seperti lagi berkutat, jang satunja masih men_djerit'. Sekarang dapat diketahui, dia bukannja orangjang dikenal.

Segera djuga terdengar suara Kok Ban Tjiong, tidak keras tetapi terang, suara itu dibarengi tabokan.

„Botjah tjilik, njalimu besar !" demikian ketua Mauw San TjitYoe. „Lekas kau bitjara terus-terang : „Mana pemimpinmu ?"

Tjeng Loen dan Tjiat Djin girang. Terang Ban Tjiong sudah menawan musuh. Keduanja lari lebih tjepat, untuk menghampiri. Hanja, melihat roman orang jang ditawan itu, mereka mendjadi ragu ragu.

Orang itu beroman kasar, tubuhnja kekar, tetapı pakaiannja buruk, kakinja memakai sepasang sepatu butut. Terang dia seorang kuli kasar, bukan orang kangouw. Dari wadjahnja njata dia mestinja bukan seorang nakal. Pun, setelah dihadjar, dia berkata mene- rangkan : „Tuan, bukan dengan sukaku sendiri aku datang kemari dan mementang mulut, Aku hanja dititahkan oleh Kok Toaya, jang sudah memberi upah kepadaku".

Kata' ini membuat heran ketiga orang itu apalagi si Kok Toaya,ialah BanTjlong sendiri. In tidak kenal orang itu ! Kapan ia meng. upahinja dan menitah pentang batjot menghina Tjeng Loen ?

„Tjoba omong blar djelas !" la lalu memerintah.

Orang tangkapan itu suka bertjerita, katanja : „Tapi datang seorang tuan kepadaku. Dia memperkenalkan diri sebagai Toaya Kok Ban Tjiong dari Mauw San. Aku diberi tiga rentjeng uang, dan diadjarkan untuk ber-teriak" seperti tadi. Aku diperintah tengah malam ini mendatangi pondokan ini, untuk mementang suara. Kok Toaya djuga memberitahukan aku bahwa si orang she Tjian berhu. tang uang kepadanja, karena itu, orang she Tjian itu sembunji di kamar pondokan, tidak berani keluar. Aku didjandjikan upah tam- bahan lima rentjeng lagi asal aku dapat memanggil keluar orang she Tjian itu. Tadinja aku menampik, aku tidak berani tanpa alasan mentjatji orang, tetapi Kok Toaya itu bilang: 'Kau djangan takut, aku berdiam dibelakangmu, kalau dia keluar, aku jang nanti me. nemui dia'. Karena itu, aku membesarkan njali, demikian sekarang aku berada disini. Maka aku tahu......"

Djusteru itu tuan rumah datang dengan membawa lentera, Ia lantas mengenali orang itu,

„Dia inilah Ong Liok, pendjual tauwtjhio dikampung kita ini", katanja.

Sampai disitu tahulah Ban Tjiong bertiga bahwa ada orang jang telah main gila dan mereka tengah dipermainkan. Tentu sadja, me-reka mendjadi sangat mendongkol,

„Kurang adjar!" Tjeng Loen berseru sambil membanting kaki. Orang apa dia, jang main gila seperti ini? Aku tidak takut orang-mu banjak, hendak aku tjari padamu!"

Lantas ia lari kemulut kampung. Ban Tjiong tidak sempat mentjegah piauwsoe itu, maka ia terus bertanja pada Ong Liok lebih djauh. Ia bitjara dengan sabar. Ia menanja bagaimana matjamnja orang jang mengupahi tukang tauw-tjhio ini.

Ong Liok tidak dapat memberi keterangan banjak, karena orang itu tidak dikenainja. Apa jang diketahuinja orang itu bitjara dengan lidah Utara, usianja kurang lebih empatpuluh tahun, tubuhnja ting-gi dan besar, Maka teranglah orang itu bukannja Lioe Hong Hoa, lebih bukan Yan Tjoe Hoei.

„Nah, pergilah kau!" Ban Tjiong berkata sambil tertawa, Ke. pada tuan rumah, ia menghaturkan terima kasih, kemudian bersama Tjie Tjiat Djin, ia susul Tjeng Loen, jang dapat ditjandak setelah mereka ber-lari tiga-empat lie. Tjeng Loen mengatakan telah melihat samar satu bajangan orang, jang lari keras, Waktu ia mentjoba mengedjar, bajangan itu lenjap diantara pepohonan kaoliang jang tinggi dan lebat.

„Sekarang musim panas, inilah waktunja kaoliang tumbuh ting. gi", kata Tjiat Djin.,,Dimana musuh gampang menjembunjikan diri, kita harus waspada, Lagi tiga atau empat lie, kita bakal tiba di-wilajah pengaruh Yan Tjoe Hoel, Mestinja disana dipasang pendja-gaan atau mungkin perangkap ......"

Tjeng Loen sangat mendongkol dan penasaran. Ia tidak kenal takut. „Sekarang ini, biarpun gedung naga dan gua harimau, akan aku serbu!" katanja dengan sengit. Lalu ia menimpuk dengan be-lasan peluru apinja, hingga api menjala dibeberapa tempat dilarang kaoliang itu. Ia ingin tempat sembunji musuh terbakar dan musuh muntjul. Akan tetapi sia.sia sadja keinginannja itu.

„Mari kita pergi ketepi telaga", Ban Tjiong mengadjak Tjiat Djin. Ia tidak menghalangi tindakan Tjeng Loen itu, ia pun tidak memberi nasihat,

Mereka lantas madju terus. Sekira dua-tiga lie, mereka lantas menghadapi sebuah tandjakan, jang seperti merintangi perdjalanan mereka.

Diantara sinar bintang2 dan rembulan, Tjiat Djin mengawasi ke-sekitarnja, terutama kepada tandjakan itu atau bukit ketjil,

„Mungkin kita sudah sampai ...." katanja pelahan.

Ban Tjiong dan Tjeng Loen turut mengawasi. Tandjakan itu tinggi kira dua tombak. Diatasnja ada sebuah djalanan ketjil. Dikiri dan kanan tumbuh lebat pohon rumput. Pinggiran kanan tinggi dan tak rata, pinggiran kirinja mudun, dan paling bawah ada empang jang berlumpur, airnja mungkin sebatas dengkul.

Ban Tjiong pertjaja disitu mesti ada musuh bersembunji,

„Biar aku madju lebih dulu!" ia berkata seraja berlompat, un-tuk terus lari mendaki tandjakan itu. Ia menggunakan ilmu meng-ertengkan tubuh atau lari tjepat, jang ia telah jakinkan beberapa puluh tahun.

Ketika ia sampai dipuntjak tandjakan, kedjurusan ia berlompat, belum lagi ia menaruh kaki, mendadak terdengar bentakan: „Tahan!" disusul dengan serangan toja oleh seorang jang muntjul dengan tiba dari dalam rujuk, Hampir berbareng dengan itu, satu bajangan djuga muntjul dari samping dengan didahului menjambar-nja suatu benda hitam.

Ketua Mauw San Tjit Yoe menghadapi antjaman bahaja maut. Tjeng Loen dan Tjiat Djin terpisah tjukup djauh disebelah belakang, mereka tidak dapat membantu. Sjukur ia tabah, ia pun gesit sekali. Maka begitu lekas sebelah kakinja mengindjak tanah, ia lantas me-lenggak, untuk terus berlompat djungkir.balik!

Kedua serangan gelap itu, toja dan sendjata rahasia, mengenai sasaran kosong. Dengan djumpalitan, kepala Ban Tjiong djadi berada dibawah dan kakinja diatas. Dalam keadaan itu, ia kembali turun kekaki tandjakan. Dibelakangnja, terdengar suara toja mengenai tanah dan sendjata itu mengeluarkan api ketika benterok dengan batu.

Penjerangnja dengan toja itu, jang sudah lantas muntjul, tidak puas. Ia berlompat untuk menjusul, terus ia ulangi serangannja.

Menampak serangan itu, Ban Tjiong minggir, hingga ia luput lagi, Adalah toja, jang dengan hebat mengenai tanah,

„Sungguh liehay!" berkata penjerang itu dengan tertawa di-ngin. „Kau tentulah Kok Loo-enghiong, anggauta nomor satu dari Mauw San Tjit Yoe! Tidaklah ketjewa nama besarmu itu......"

Ia berkata demikian, akan tetapi tojanja telah diangkat pula. Ia hanja belum sempat mengulangi penjerangannja ketika dari sam-ping ada orang jang berseru: „Apa sih ketjewa tidak ketjewa? Kok Toa-kiamkek, hendak aku memperkenalkan kau kepada Khong-sie Sam-hengtee!" Lalu terlihat muntjulnja dua bajangan hitam bergelempang.

Ban Tjiong mendjadi tidak senang atas perlakuan itu, Seruan orang tadi telah dibarengi dengan menjambarnja dua batang piauw, untuk mana ia mesti berkelit. Dalam murkanja, bukan ia menjingkir, sebaliknja, ia madju.

Bagus perbuatanmu!" ia membentak. Dengan toja, dengan piauw! Adakah itu tjaranja untuk menjambut tetamu? Sungguh suatu aturan kehormatan jang bagus sekali! Djangan kamu angkat kaki! Kalau ada kehormatan tak dibalas kehormatan, itulah per. buatan kurang adjar! Lihat pedangku !"

Ketua Mauw San Tjit Yoe ini menjerang orang jang bersendjata toja. Ia sekarang dapat melihat tegas, orang itu berpakaian hitam, tubuhnja tinggi, pundaknja lebar. Agaknja mirip petani, Mulanja Ban Tjiong menikam tenggorokan, ketika mundur, ia mengulangi keiga kiri, terus kesamping dada tatkala orang itu kembali meng-nindari dirinja. Beruntun ia mendesak hingga tiga djurus, sebab maksudnja adalah segera merobohkan musuh ini sebelum tiba dua jang lain.

Orang dengan pakaian-malam hitam itu gesit sekali. Dengan saban berkelit, ia mainkan tojanja untuk melindungi diri terlebih djauh. Dengan begitu ia dapat menantikan dua orang lainnja, jang terus menghampiri dari kedua samping, malah terus mereka menje-rang, jang dikanan dengan pedang, jang kiri dengan golok, jang satu menikam, jang lain membatjok. Dipihak Ban Tjiong, Tjiat Djin dan Tjeng Loen djuga mentjoba mandjat. Si orang she Tjie mentjoba beberapa kali, saban² gagal. Ia selalu dirintangi sedang kakinja sakit, hingga ia kehilangan kegesitannja. Tjeng Loen djuga mendapat rintangan, akan tetapi setelah mainkan goloknja dibantu dengan panah-apinja, ia berhasil djuga tiba diatas, tjuma ia tidak dapat membantu kakak misannja, sebab ia segera dipegat dan dikepung dua lawan, jang masing² bergegaman tombak dan sepasang kampak.

Ban Tjiong dapat melihat Tjeng Loen tidak dapat madju, ia menjesal dan mendongkol. Ia djuga penasaran atas sikap Yan Tjoe Hoei. Kenapa mereka dirintangi setjara begini dan semua musuh agaknja telengas sekali? Karena hilang sabar, ia lajanį ketiga musuhnja dengan ilmu silat pedang Pat-sian-kiam atau Delapan Dewa dari Siauw Lim Pay.

Lawannja Tjian Tjeng Loen tidak hebat, Bertempur belum beberapa lama, golok Tjeng Loen telah dapat melukai musuh jang memegang kampak, Musuh jang satunja lantas ber-ulang² memperdengarkan siulan njaring. Rupanja memberi isjarat rahasia kepada kawananja, untuk memohon bantuan.

Tidak lama muntjul lagi seorang, jang kemudian ternjata adalah satu paderi, sebagaimana ternjata dari kepalanja jang gundul-litjin, Hanja tak nampak tegas wadjahnja. Setibanja paderi ini, orang jang bersendjatakan tombak itu terus sadja lompat mundur.

Tjeng Loen sedang panas hatinja, Ia tidak perdulikan segala apa, maka setelah muntjulnja sipaderi, ia mendahului madju menjerang. Paderi itu tidak menghunus sendjata, ia berkelahi dengan kedua tangan kosong.

Tjeng Loen bertjekat hatinja menjaksikan orang berani melajaninja tanpa sendjata. Baru sadja tiga djurus, ia mendjadi bergelisah. Ia lantas merasakan bahwa gerak-geriknja mendjadi ku-rang leluasa, Paderi itu sangat gesit, dia berkelit sana berkelit sini, berputaran, hingga sukar untuk membatjok dia.

„Hebat", Tjeng Loen berpikir. Karenanja, ia mengharap Ban Tjiong lekas memukul mundur musuhnja, agar kakak misan itu datang memberikan bantuannja.

Kok Ban Tjiong, dengan sebatang pedangnja, melajani tiga musuh jang bersendjatakan berlainan, lemas, pandjang dan pendek. Ia pun tidak dengar apa² dipihaknja Tjeng Loen, ia mendjadi heran. Ia mulai mendapat firasat kurang baik, Karena ini, ia lantas mentjoba mendesak. Dengan satu lompatan, ketua Mauw San Tjit Yoe merangsak musuhnja jang memegang pedang. Ia menikam, Lawan itu berkelit, lantas dia membalas menikam kearah tenggorokan, Ban Tjiong membebaskan diri dengan mendak, pedangnja dilondjorkan dibawah, membarengi menikam kearah iga.

Lawan itu gesit. Dia menarik pulang pedangnja seraja menggeser tubuh kesamping. Ketika ini digunakan oleh orang jang mentjekal toja, jang merabu kebawah dalam gerakannja „Kauw liong pa bwee", atau Ular naga menggojang ekor".

Dengan udjung kedua kakinja, Kok Ban Tjiong mendjedjak tanah, membuat tubuhnja mentjelat tinggi kira² satu kaki. Setjara begitu, ia meloloskan diri dari sapuan. Ketika ia turun, ia mulai lagi membalas menjerang.

,,Djangan kabur!" bentaknja, Tjepat luar biasa, ia mendesak, hingga musuh dengan sendjata toja ditangan itu mendjadi kewalahan, lalu sambil mendjerit, dia roboh, dua kawannja sampai tak sempat melihat dia terluka bahagian anggauta badannja jang mana. Lekas² mereka itu madju, guna menghalangi musuhnja.

Ban Tjiong memikirkan keselamatan Tjeng Loen, Ia tidak hendak mensiasiakan ketika lagi. Ia tidak lajani kedua musuh ini, Dengan pedangnja, ia hanja papak mereka dengan dua batang paku rahasianja, paku Sam.tjay-teng.

Kedua pihak berada dekat sekali satu dengan lain, sambaran paku itu sukar dihindarkan, maka itu, dengan memperdengarkan djeritan, dua musuh itu rubuh saling susul.

Orang jang memegang tombak, jang tadi menempur Tjian Tjeng Loen, sedjak tadi berdiri menonton. Apabila ia lihat sepak-terdjang si orang she Kok demikian hebat, diam² ia lompat seraja menikam bebokong djago dari Mauw San ini.

Kok Ban Tjiong masih sempat melihat serangan itu, jang mirip dengan serangan gelap. Sambil berlompat berbalik, ia menangkis dengan pedangnja. Keras tangkisannja jang membuat tangan si penjerang kesakitan, Hampir tombaknja terlepas dari tjekalan. Dengan terpaksa, dia lompat mundur untuk menjingkir.

Pertempuran ini dapat dilihat si hweeshio jang sedang melajani Tjeng Loen, Dia lompat untuk meninggalkan piauwsoe lawannja itu, sebaliknja, dia ulur tangannja untuk merampas pedangnja Ban Tjiong, sedang dengan tangannja jang kanan, dengan dua djari, dia menotok djalan darah. Menjaksikan orang demikian berani dan liehay, Ban Tjiong tidak segera melajani. Hanja dengan mendjedjak dengan kaki kirinja, ia lompat mundur setengah tindak. Setjara begini, ia dapat ketika untuk perbaiki diri.

Ketika ini dipakai sihweeshio, atau paderi, buat meneriaki kawannja : „Pundak rata, berhenti hidup, sebar bunga meriam !“ Itulah kata2 rahasia diantara kaum kang-ouw, jang berarti : „Sahabat, lekas angkat kaki ! Lekas melepaskan bendera api !“

Teriakan itu segera diturut oleh sikawan jang bersendjatakan tombak. Ketika tangannja berkelebat, berkelebatlah tanda apinj jang disebut „bendera api“ itu. Maka sedjenak sadja, mereka itu sudah menjingkir, dengan lompat kebawah tandjakan dilain bahagian.

Tjiang Tjeng Loen hendak mengedjar tapi segera ia terperandjat oleh rintangan anak2 panah, jang pihak lawan melepaskan untuk menghalangi kepadanja. Njata didekat situ ada lagi kawan lawan itu.

Ban Tjiong sendiri masih tetap bertempur dengan si paderi, jang tidak lari seperti kawan2nja. Rupanja dia menjuruh kawannja menjingkir sebab kawan2 itu sudah roboh.

Dibandingkan dengan Tjeng Loem, ilmu-silat Ban Tjiong beda banjak. Akan tetapi walaupun demikian, ia tidak bisa lantas petjundangi si paderi, siapa sebaliknja tidak mampu melihat ketua Mauw San Tjit Yoe seperti tadi dia telah membuat Tjeng Loen tidak berdaja. Maka itu, meeka djadi berimbang kekuatannja.

Tjeng Loen tahu si paderi liehay skali, ia tidak mau idjinkan Ban Tjiong menempunja sendirian, ia djuga tak sudi gubris lagi aturan kaum kang-ouw, maka itu, setelah mentjoba pula dan berhasil melintasi rintangan, ia madju untuk mengepung paderi itu.

Ban Tjiong menadi tidak enak sendirinja melihat kawan ini membantui Musuh tanpa sendjata. Sekarang dia dikepung berdua. Apakah artinja itu ? Tanpa bersangsi, ia lompat mundur.

„Loosoehoe, tahan dulu !“ ia berseru. „Orangmu telah mundur semua, aku sendiri tidak ingin merebut kemenganan dengan andalkan djumlah jang banjak. Umpama kata kau memandang mata padaku, mari aku melajani kau dengan tangan kosong djuga !“

Ban Tjiong sekalian menjebutkan namanja.

Paderi itu sampok goloknja Tjeng Loen ia pun lompat keluar kalangan. Ia lantas memandang kesekitarnja, rupanja untuk memeriksa pihaknja. Tjepat sekali, ia berpaling kepada Ban Tjiong dan Tjeng Loen, untuk menggape sambil mengangguk, terus ia putar tubuhnja berdjalan pergi. Teranglah ia seperti menantang berani ikut atau tidak.

Tjeng Loen sedang panas hatinja, ia mendjadi tidak kenal takut.

„Kemana kau hendak pergi !“ katanja dengan njaring, lantas ia menjusul.

Ban Tjiong mentjari Tjie Tjiat Djin dulu, jang ia mau suruh pulang ke Lioe-lim-tjhung, tetapi ia tidak berhasil mendapatkan kawan itu. Tentu sadja ia tidak dapat berlaku lambat. Ia tidak membiarkan Tjeng Loen sendiri menempuh bahaja. Terpaksa ia lari menjusul plauwsoe itu.

Diatas tandjakan itu tjuma ada sebuah djalanan ketjil. Disini Ban Tjiong telah ber-lari2 empat-lima lie tapi tidak dapat menemukan kawannja. Sebagai seorang jang terliti, ia mulai merasa tjriga. Ia lantas ingat kepada keterangan Kho Ke dan Tjie Tjiat Djin bahwa kedudukan tandjakan itu adalah sebelah timur telaga Sia Yang Ouw, dan kalau sudah melewati tandjakan, orang menudju kebarat, disanalah tepi telaga. Tapi djalannja ketjil ini menudju keselatan. Dalannjasendiri memang ber-liku2, tetapi tudjuannja tak ubah. Itu artinja ia semakin mendjauhi Sia Yang Ouw. Bukankah ini tipudaja sipaderi, jang memantjing Tjeng Loen, untuk membikin mereka sesat dari djalan jang benar, agar mereka tidak dapat mentjari sarang Yan Tjoe Hoei ?

Walaupun sangsi, Ban Tjiong ber-lari2 terus. Ia tidak dapat mengubah haluan. Ia mesti lebih dulu dapat mentjari atau menjusul Tjian Tjeng Loen. Sebelum mendapatkanadik misan itu, tak tenanglah hatinja.

Lalu dua-tiga lie, Ban Tjiong dapatkan bintang2 mulai geserkan kedudukan. Itu tandanja bahwa sang malam sudah tiba pada djam tiga. Si paderi dan Tjeng Loen tetap tidak dapat diketemukan.

Selagi ketua Mauw San Tjit Yoe mulai tjemas, matanja melihat sebuah pengempangan, jang luasnja dua atau tiga puluh bahu. Didalamnja tumbuh penuh pohon teratai, jang buanja menjuarkan bau harum semerbak. Itulah suatu pengempangan luar biasa, mengingat bahwa untuk wilajah Kang-pak, sebelah utara sungai Besar, empang semtjam itu sungguh djarang, apa lagi didusun jang sepi ini. Siapakah jang merawat empang itu ? Oleh karena hatinja tergerak, Kok Ban Tjiong lantas memperhatikan empang itu, jang ia awasi kelilingnja. Begitulah dibahagian utara, ia dapatkan sebuah ranggon, jang nampaknja rapi. Sekitarnja adalah lorong peranti berangin atau memandangi pengempangan itu. Pula, dari djendela, terlihat sinar api guram. Tidak sembarang mata dapat melihat sinar itu.

Dengan berdiri diam, Ban Tjiong mengawasi terus ranggon itu. Adalah kemudian baru ia mengambil putusan, untuk menghampirinja. Ia tidak menghadapi kesulitan, sebab ia mengerti ilmu mengentengkan tubuh „Teng-peng touw soei atau „Menjeberang sungai dengan mengindjak kapu2”.

Sebentar sadja ia sudah sampai diranggon. Untuk berlaku waspada, ia terus naik keatas genteng. Disini ia mendekam, untuk tempel kupingnja kegenteng, guna mendengarkan sesuatu.

Benar2 ranggon itu ada penghuninja, karena terdengar suara tindakan kaki mondar-mandir. Suara itu pelahan, tetapi Tjit-pou Twie Hoen dapat mendengarnja. Diwaktu tengah malam seperti itu, suasana memang sangat sunji. Adalah aneh djuga, mengapa diwaktu begitu orang masih belum tidur. Ia toh bukan tinggal dikota jang ramai ?

Oleh karena tjuriga, Ban Tjiong terus memasang kuping.

Tak lama kemudian terdengarlah daun pintu dibuka setjara keras, lalu terlihat satu bajangan tinggi-besar berkelebat keluar. Pintu itu adalah pintu jang menghubungi ranggon itu ketepian.

Tanpa dapat menduga lebih dulu, ketua Mauw San Tjit Yoe mengenali bajangan itu adalah Tjeng Loen 'adanja. Ia telah lantas dapat melihat gandewa ditangan kanan dan golok Gan-lengtoo ditangan kiri orang itu. Karena ini, dengan hati2 ia lompat turun dari atas genteng.

Tjeng Loen baru sadja keluar dari dalam ranggon ketika melihat bajangan berkelebat. Belum sempat mengenali siapa dia itu, ia lantas menjerang dengan goloknja.

„Loo-piauwtee, inilah aku !” berkata Ban Tjiong seraja berkelit.

Tjeng Loen terkedjut, ia tidak mengulangi serangannja.

Ban Tjiong segera tanja, kenapa adik misan itu bisa berada diranggon itu.

Tjeng Loen memberi keterangan bahwa ia kedjar si paderi tanpa hasil. Liehay larinja paderi itu. Dia selalu memberikan djarak enam-tudjuh tombak kepada piauwsoe ini, sampai didekat pengempangan paderi itu menghilang. Karena ia lihat pengempangan dan ranggonnja, ia lantas memasukinja. Njatanja ranggon itu tidak ada penghuninja. Ia sudah lantas menerdjang masuk karena ia tak sesabar Ban Tjiong. Siasia sadja ia memeriksa ranggon, maka djuga ia djadi djalan mondar-mandir, sampai tibanja kakak misan itu.

Ban Tjiong pun berpikir.

„Kita telah sampai disini, biarlah aku masuk, untuk me-lihat²!” kemudian kata ketua Mauw San Tjit Yoe.

Tjeng Loen, jang tetap heran, mengiringi kakak ini,

Ban Tjiong bertindak beda daripada si piauwsoe. Sebelum memasuki pintu, ia periksa dulu bahagian luar. Ia meng-gedruk² dengan kakinja, untuk memeriksa lantai, kemudian baru ia hunus pedangnja — pedang Giok-liong-Kiam, si Naga Kumala, — untuk mengetok² beberapa kali kepada pintu jang bermodel rembulan, Ia baru bertindak masuk dipintu setelah ia tidak dapatkan apa² jang mentjurigakan.

Tjeng Loen ikut masuk pula, ia malah mendahului.

Dimuka pintu, ada sebuah sekosol, dan dibelakangnja terlihatlah seluruh ruangan jang lebar tiga tombak dan dalam dua tombak, ditiga pendjurunja masing² terdapat sebuah djendela. Apabila daun djendela dipentang, orang dapat memandang telaga. Perabotan ruang itu sedikit, ketjuali nempel pada tembok ada sebuah hoedkam tinggi setombak lebih, jang tjita-tedengannja diturunkan hingga tak terlihat, patung apa jang dipudja disitu. Diatas medja didepan hoedkam itu, disediakan biolouw dan lain keperluan beribadat. Didepan medja ditaro tempat duduk peranti berdoa atau bersemedhi, entah terbuat dari apa karena mengkilap dan empuk. Dikedua sisi ada empat buah kursi serta sebuah lemari besar.

Ban Tjiong telah melihat sinar api keluar dari kamar itu. Itulah api jang dipantjarkan oleh sebuah pelita pandjang jang digantung didepan hoedkam itu. Karena ini djuga, seluruh ruang pun nampaknja remang².

„Lihat, piauwko !” berkata Tjeng Loen, jang keras tabiatnja. „Lihat kamar ini, Kalau dikatakan disini tidak ada orangnja, apa perlunja pelita itu ? Siapa jang memasang itu ? Kalau mau dikata ada, dimana bersembunjinja si penghuni? Tidakkah ini aneh?”

Ban Tjiong telah membuka lemari ketika ia ditanja. Didalam situ terdapat beberapa djilid kitab. Ia masih me-nusuk² dengan pedangnja, tanpa ada hasilnja.

Tjeng Loen lantas pentang ketiga djendela, hingga ia bisa memandang keluar, kesekitar ranggon, tetapi tetap ia tidak dapatkan siapa pun disitu.

„Mari, piauwko !”, ia mengadjak, kakinja dibanting beberapa kali. „Si bangsat gundul tentu sudah lari kedepan, mari kita susul dia !”

Belum lagi Ban Tjiong mendjawab adik misan itu, kebetulan angin menghembus masuk dari djendela, hingga kain-tedengan dari hoedkam ber-gerak². Ia dapat melihat itu, tiba² rasa tjuriganja timbul.

„Tunggu !” djawabnja pada adik misannja itu, sambil menggunakan udjung pedangnja menjontek tjita-tedengan, untuk disingkap, guna melihat kedalam hoedkam.

Patung disitu bukannja patung dari Djie Lay atau Koan Im, hanja patungnja satu Loohan atau Arhat, tinggal kira² lima atau enam kaki, hingga berimbang dengan tinggi manusia.

Diantara sinar remang² dari pelita, Ban Tjiong mengawasi patung itu, terutama mukanja. Ia lantas sadja berdiri tertjengang. Ia dpatkan sebuah patung sebagai manusia hidup. Dari kepala sampai dikaki, tidak ada jang tidak mirip, tidak ada bekas pahatan. Istimewa adalah wadjah si Arhat, jang lembut dan pengasih, mirip dengan roman seorang paderi sutji. Saking heran, ia rabah djubah patung itu untuk di-pentjet². . . . . .

Tjeng Loen perhatikan bahagian belakang patung, dimana ada ruang kosong, akan tetapi disitu ia tidak dapatkan apa djuga jang mentjurigakan.

Sampai sekian lama, baharulah Ben Tjiong lepaskan tangannja, lalu bersama si piauwsoe, ia keluar dari ruang atau kamar itu. Hati mereka pepat, sebab hasil pemeriksaan nihil dan Tjie Tjiat Djin lenjap tidak keruan.

„Piauwko, kita rubuh !. . . . . .” kata Tjeng Loen seraja menghela napas setibanja mereka diluar ranggon air itu.

Ban Tjiong tidak menjahuti, ia berdjalan terus hingga dua — atau tigapuluh tindak. Disini baharulah ia menjahuti seraja menggeleng² kepalanja : „Belum tentu, piauwtee. . . . . . Hanja kita harus kembali ketempat asal kita, untuk mentjari dahulu Tjie Piauwtauw. Dia telah terluka, dia tidak mau pulang, dia tetap hendak membantu kita, maka tidak selajaknja kita membiarkan dia . . . . . . . . .

Tjeng Loen mengangguk.

„Baik !” sahutnja.

Lalu keduanja berlari-lari balik. Mereka lari belum ada setengah lie, tiba tiba Ban Tjiong merandek seraja berkata : „Aku mengarti sekarang !“

Tjeng Loen heran, ia pun menghentikan larinja.

„Mari !“ adjak Ban Tjiong. Ia tjekal lengan kawannja untuk diadjak kembali ters sampai ditepi pengempangan.

Tjeng Loen mengikuti walaupun ia merasa heran. Dengan mendahului, Ban Tjiong memasuki pula ranggon-air, tanpa menantikan kawannja. Ia madju terus ke hoedkam, mengulur kedua tangannja menjambar ke dalam.

„Loosianso, rahasiamu telah terbuka !“ serunja. „Benarkah kau tidak sudi memberi pengadjaran kepadaku ?“

Akan tetapi ia telah menjamber tempat kosong. Diwaktu tjitatedengan tersingkap, di-situ tidak ada di patung Arhat tadi !

Tjeng Loen, jang sudah lantas tiba dibelakang kakak misan itu, berdiri melengak. Ia pun telah melihat hoedikam jang kosong, patungnja entah pergi kemana.

„Bagaimana plauwko ?“ ia bert. „Apakah maksudmu ? Kemana perginja patung tadi ? Ini ...... Ini ........“

Ban Tjiong tidak mendjawab, hanja dengan mendjedjak lantai, ia berlompat keluar raggon.

Tjeng Loen heran bukan kepalang. Ia turut keluar. Ia tidak mengerti ilmu Tengpeng-touwsoei seperti Ban Tjiong. Untuk pergi mendarat, ketepian, ia mesti ambl djalan didepan. Ban Tjiong sendiri berlari-bari diatas daun teratai. Ia mengitari empang itu, kemudian kembali dengan tangan kosong. Nampknja ia putus asa.

„Marilah, laotee !“ ia mengadjak, tangannja dikibaskan. „Dasar mataku kurang awas. Tadi aku sudah tidak dapat melihat ! Sekarang ini sungguh sukar untuk mentjari dia ! ....“

„Apa atamu, toako ?“ Tjeng Loen tanja. „Siapakah dia itu ?“

Piauwsoe ini tetap belum mengerti, belum isa menduga sebab kelakuannja saudara misan ini.

„Kau terlalu sembrono, laotee“, kata Ban Tjiong kemudian.

aku„Aku maksudkan si paderi jang bertempur denganmu dan memantjing kau hingga diranggon-air ! Dialah jang berdiam didalam hoedkam menjamar sebagai Arhat. Hebat, dia dapat memperdajai aku ! Kau tahu, ketika tadi kita berlalu, baru sesampainja ditengah djaln, bertjuriga. Patung itu bersih djuahnja, tapi kenapa sepatunja kotor ? Tadinja aku tidak ingat itu. Maka itu, aku lekas2 balik lagi. Siapa tahu, dia telah mendahului mngangkat kaki .......“

Tjeng Loen lantas mem-banting2 kaki.

„Oh, bangsat gundul, kau litjin sekali !“ ia mentjatji. „Siapa sangka kau dapat bersandiwara begini litjik .....“

Belum habis kata2 itu diutjapkan, dari belakangnja terdengar suara tertawa dingin, lalu Tjeng Loen merasakan pundaknja disambar. Sjukur ia gesit. Sambil mengegos pundaknja itu, sambil berbalik, ia membatjok.

Orang itu berkelit dengan mendak. Ia tidak dapat menjingkir djauh, sebaliknja, dengan tjepat sekali, ia meneruskan, tangannja dipakai menolak.

Kali ini Tjeng Loen tidak sempat menghindarkan diri, ia kena tertolak hingga tubuhnja jang besar terdjerunuk beberapa tindak. Beruntung baginja, ia dapat mempertahankan diri, tidak sampai roboh mentjium tanah.

Ban Tjiong djalan disebelah depan. Ia dengar suara tertawa dingin itu, ia sudah lantas memutar tubuhnja, tapi sementara itu, Tjeng Loen sudah bergebrak dan terdjerumus. Begitu ia berbalik sinar matanja segera benterok dengan sinar mata si paderi tadi !

Paderi itu berdiri diam. Ia tidak menjusuli menjerang Tjeng Loen, hanja dengan wadjah ber-seri2, ia awasi Ban Tjiong dan si piauwsoe bergantian.

Tjeng Loen panas hatinja, ia lantas madju pula.

Ban Tjiong melompat melewati adik misan itu. Kepada si paderi, ia mdjura dalam.

„Loosiansoe, liehay sekali tenaga-dalammu“, ia memudju. „Tadi loosiansoe menjamar sebagai Arhat. Kau telah menaham napasmu hingga mirip dengan patung Arhat tulet. Aku jang rendah kagum sekali. Tjuma satu hal aku tidak mengerti, aku mohon sudihlah loosiansoe memberi pengadjaran padaku. Loosiansoe telah pimpin kami berdua hingga disini, apakah maksudmu ? Adakah itu untuk membantu Too-tjoe Yan Hoei atau ada maksud lain lagi ?“

Perktaan itu hormat sekali, tetapi si paderi menerimanja tanpa hari-nuraninja tergerak. Bahkan diwaktu mendjawab, suaranja dingin sekali. Katanja : „Pintjeng tidak mempunjai pengharapan lain ketjuali ingin beladjar kenal dengan ilmu silat Tjit-pou Twie-hoen dari loo-enghiong. Aku minta kau djangan bitjara hal lain, silahkan loo-enghiong mulai !“

Kata2 itu tidak diutjapkan keras, tjuma suaranja bernada djumawa, seperti sikapnja jang terkebur. Mendengar itu, Ban Tjiong berduka. Ia telah ditantang, sulit untuk menolak. Maka ia memandang kesekitarnja.

„Loosiansoe, tempat disana lega, maafkan aku, aku djalan lebih dulu !“ ia kata seraja menundjuk, lalu benar2 ia bertindak tjepat ketempat jang ia tundjuk itu.

Paderi itu menjaksikan kegesitan tubuh lawannja, diam2 ia memudji, tetapi iapun segera mempertontonkan kelintjahannja, untuk menjusul djago dari Mauw San itu.

Kok Ban Tjiong baru menaruh tetap kakinja atau si paderi sudah berada didepannja, wadjahnja ber-seri2 seperti tadi. Ban Tjiong merasa tidak puas, karena orang itu agaknja memandang enteng kepadanja.

„Silakan loosiansoe !“ katanja. Kali ini ia tidak sungkan2 lagi. Ia jang mengundang tetapi ia jang mendahului menjerang dengan dua tangannja menindju dada.

Si paderi rupanja dapat mengenali serangan itu, jaitu Gak-kee Siang-twie-tjioe, tolakan sepasang tangan dari ilmu silat Gak Hoei. Serangan itu biasa sadja, tapi dilakukan dengan tenaga besar, maka anginnja menjambar keras. Maka itu, dengan sebat ia bawa tubuhnja kesamping untuk membalas. Ia djuga menggunakan ilmu silat Gak Hoei, djurus Im-yang Tjian-yan-tjiu, tangan saling-djabat, sarannja adalah lengan atas.

„Bagus !“ Kok Ban Tjiong berseri. Ia pun berkelit kesamping setelah bebas, tangan kirinja dibalik, dipakai membangkol tangan lawan, dilain pihak, dengan tangan kanan, dengan djeridji, ia menotok djalan darah Keng-tjeng-hiat. Siapa kena tertotok djalan darahnja ini, dia bakal tertawa tak hentinja.

Paderi itu nampaknja terperandjat. Ia menarik pulang tangannja dan menabas dengan tangan kiri kebawa, tubuhnja berbareng diputar. Begitu lekas ia berada dikiri lawan, ia djuga lantas membalas menotok. Ia mentjari sasaran djalan darah hong-hoehiat. Tapi ini adalah gertakan belaka, sebab sambil menotok, ia mendak, sebelah kakinja ditantjap, sebelah jang lain dipakai menjapu !

Bang Tjiong tahu ia terantjam bahaja, terpaksa ia mentjelat mundur, akan tetapi selekas kakinja mengindjak tanah, ia mntjelat lagi madju kepada lawannja, untuk menjerang dengan kedua tangan jang dipentang. Ia bersilat dengan ilmu silat Kioe-kiong Sin-heng tjiang dari Siauw Lim Pay. Ia mnejerang dengan sebat sekali, tubuhnja dengan lintjah berputaran mengurung musuh.

Diserang setjara demikian, si paderi djuga berputaran terus, untuk mengimbangi lawannja. Ia tidak segera membalas menjerang, hanja kedua tangannja dikibaskan ber-ulang², hingga lengan badjunja menjambar², untuk menghalau setiap serangan.

Pertempuran ini berdjalan tjepat sekali.

Setelah belasan djurus, nampak kegesitan Ban Tjiong mendjadi bertambah, kedua tangannja pun diulur dan ditarik pulang sama tjepatnja. Ia bukan menjerang setjara biasa. Setiap ada ketikanja, ia menotok dengan Shatjaplak-tjioe Tiat-hiat-hoat, mentjari tudjuh-puluh-dua djalan darah lawan. Ia tidak tjari djalan darah kematian, jang membuktikan hatinja jang mulia.

Sebagai seorang liehay, si paderi lantas djuga mengenali lawannja berkelahi dengan ilmu silat apa, malah ia djuga tahu nama kedua ilmu silat itu. Ia merasakan kepandaian Ban Tjiong berimbang dengan kepandaiannja, sedang ilmu silat mereka ada dari satu pokok, Karena ini, mereka seperti djuga soeheng dan soetee sedang berlatih. Tapi ia berlaku hati², ia tahu Ban Tjiong bersilat dengan sungguh, maka itu tidak sudi ia kesalahan tangan dan roboh karenanja. Ia pun berlaku sama sungguh²nja. Ia menggunakan Pat-kwa Imyang Lian-hoan-tjiang berikut tiam-hiat-hoat dan gie-koet-Foat, dua jang belakangan ini adalah ilmu menotok dan melepaskan tulang lawan. Maka itu, keduanja bertempur seru sekali.

Tjeng Loen kagum menonton pertempuran itu. Ia seperti melihat dua bajangan orang berkelebatan, bagai kilat saling sambar, hingga sukar sekali untuk melihat tegas serangan kedua pihak.

IX

TIPU-DAJA KEDJI

Adalah umum bahwa seorang ahli silat mengenal, atau gampang mengenali, ilmu silat orang lain, atau lawannja dengan siapa dia bertempur. Demikian djuga dengan Kok Ban Tjiong. Ia tahu pasti si paderi adalah murid Siauw Lim Pay bahagian Selatan, atau mungkin dia adalah Kak Beng Hweeshio, kakak seperguruan Thong Beng Heng-thio, kepala Siauw Lim Hee-ih di Pouw-thian propinsi Hokkian. Sebaliknja paderi itu menduga Ban Tjiong mestinja murid dari Tek Gouw Siangdjin atau Tee Han Hoat-soe, Maka mereka sama tingkat-deradjatnja. Jang beda adalah jang satu mendjadi orang sutji, jang lain tetap orang biasa, dan karena masing² tinggal di Selatan dan Utara, mereka djadi belum pernah saling bertemu. Karenanja, keduanja djadi sama² berpikir tidak berniat menurunkan tangan djahat, atau salah satu mesti bertjelaka, atau mereka djadi bermusuhan hingga nanti sukar didamaikan.

Selagi mereka bertempur terus, Tjeng Loen djuga tetap menonton, hanja selang lagi sekian lama. piauwsoe itu mendjadi habis sabar. Sampai kapan mereka itu akan bertempur ? Mana ia dapat berdiam sadja menonton terus ? Maka ia lantas mengambil putusan untuk membantu Ban Tjiong. Untuk itu ia segera siapkan peluru apinja, sambil memasang mata, guna menunggu lowongan. Diwaktu gelap seperti itu, ia pertjaja bakal berhasil. Tapi ia pun masih memikir, tidak mau sembarang menjerang. Ia pilih kaki si paderi, dibagian mata kaki, Hebatnja, peluru itu ketjil, djarak mereka dekat satu dengan lain, tjuatja guram.

Hweeshio itu tapi liehay sekali. Bukankah ia sedang bertempur seru? Mungkinkah ia selalu waspada ? Ketika peluru menjambar, dengan sebat ia, ambil kesempatan menjambut peluru itu, untuk ditangkap. Hanja setelah ini, gesit sekali ia berlompat kesamping djauhnja beberapa kaki. Ketika ia telah menaruh kakinja, ia lantas perdengarkar. tertawa dingin.

„Tjian Tjongpiauwtauw, perbuatanmu ini tidaklah dapat dipudji !” ia menegur. „Aku dengan Kok Looenghiong ini asal satu rumah perguruan, Kita sedang berlatih, Adakah kau berchawatir aku akan melukainja ?”

„Loosiansoe benar !” Ban Tjiong segera berkata, mendahului sahabatnja. „Kita ada sama² murid² dari Siauw Lim Pay, tidak nanti kita bertempur setjara matian! Sekarang ini sang waktu telah larut, aku pikir baiklah kita menjudahi sampai disini.

Paderi itu mengangguk.

„Kok Loo-enghiong”, katanja, „umpama kata kau sudi berhenti sebentar, hendak aku bitjara denganmu. Kau sendiri, Tjian Tjong-piauwtuw, seandainja kau tidak sudi mendengarnja, silahkan kau berangkat terlebih dahulu. Aku tanggung, sebelum fadjar menjingsing, akan aku antar Kok Loo-enghiong kembali ke Lioe-lim-tjhung!”

Ban Tjiong dan Tjeng Loen saling mengawasi, mata mereka memain.

„Loosiansoe hendak mengatakan apa, silahkan !” kata Ban Tjiong seraja rangkap kedua tangannja. „Kami akan mentjutji kuping kami untuk mendengarnja.“

Paderi itu tertawa.

„Haraplah loo-enghiong djangan terlalu merendahkan diri“, katanja. „Omonganku ini tak bakal habis diutjapkan dalam sedjenak sadja. Umpama kata djiewie sudah letih, aku undang kamu kembali keranggon-airku untuk kita duduk sebentar“.

Ban Tjiong dan Tjeng Loen terima undangan tanpa bersangsi sedetik djua. Lalu ber-sama2 si paderi, mereka kembali keranggon air tadi.

Paderi itu mengundang kedua tetamunja duduk. Untuk menjuguhkan teh, ia masak air sendiri. Selama itu lebih dahulu ia perkenalkan dirinja. Ia memanglah Kak Beng Hweeshio dari kuil Siauw Lim Sie dari Pou-thian. Buat melindungi seorang puterinja Eng-ong Tan Giok Seng, salah satu pangeran pembangun negara, dua tahun jang lalu ia pindah ke Kang-pak dimana ia bersabahat dengan bekerdja-sama dengan Yan Tjoe Hoei, akan tetapi mereka tidak menggabungkan diri. Mereka melainkan bersatu tudjuan.

Baru malam itu Kak Beng tiba di Sia Yang Ouw. Ia datang setjara kebetulan sadja. Dalam pembitjaraan, Yang Tjoe Hoei djuga bitjara hal Tjian Tjeng Loen, jang piauwnja telah dirampas, bahwa karena itu Mauw San Tjit Yoe telah berhasil diundang Tjeng Loen untuk turun gunung guna mendjajakan didapatkannja kembali piauw itu. Bahwa rombongan Tjeng Loen sudah tiba di Yam-shia. Kak Beng sudah mengagumi Tjit-pou Twie-hoen Kok Ban Tjiong, jang ia tahu baik adalah murid Siauw Lim Sie. Maka ia ingin menemui sesama kaum seperguruan itu, untuk beladjar kenal. Maka ia lantas mengadjukan diri untuk membantu Yan Tjoe Hoei, jang telah mengatur orang2nja ditandjakan.

Kak Beng telah dapat membuktikan kelihayan Ban Tjiong. Bahwa Tjeng Loen djuga bukan sembarang orang, karena itu, ia mengubah maksudnja membantu Yan Tjoe Hoei. Ia sekarang ingin mendjadi orang pertengahan, untuk mendamaikan kedua pihak. Ia pun jang mendjadi sebab mengapa ia mengundang kedua orang itu keranggon-air.

Tjiang Tjeng Loen mempunjai pendapat sendiri. Ia tidak berterima kasih untuk maksud baik paderi ini. Sebaliknja Kok Ban Tjiong sangat setudju.

„Laotee“, berkata orang she Kok itu kepada si piauwsoe, „ djusteru merupakan ketika baik bahwa loosiansoe suka membantu menjelesaikan urusan. Sukalah kau mentjeritakan urusan padaku duduk hal jang sebenarnja mengenai piauw jang berada dalam tanggung-djawabmu ini“.

Tjeng Loen terdesak. Sebenarnja ia tidak ingin menutur segala apa, tetapi karena terpaksa, ia terima baik permintaan kakak-misan ini, maka itu ia lantas beber hal-ichwalnja, jaitu sudah terdjebak tiehoe dari Souwtjioe, hingga ia kena pegangbara.

„Benar2 suatu hal tak aku sangka“, ia menandaskan. Tapi ia menjatakan tidak puas terhadap sepak-terdjangnja Yan Tjoe Hoei. Ia menambahkan: „Djikalau benar2 mereka ketahui harta itu adalah hartanja Pangeran Tiong Ong, apabila betul2 mereka punja kepandaian, sudah selajaknja mereka menjerbu kantor tiehoe sendiri untuk merampasnja. Itu namanja perbuatan terus-terang! Kenapa dia djusteru membegal aku ditengah djalan, hingga aku sekarang harus bertanggung-djawab? Djumlah itu terlalu besar bagiku untuk menggantinja. Sekarang ini anak-isteriku disekap didalam pendjara, sebagai tanggungan, maka biar bagaimana, aku mesti dapat pulang piauwku itu!“

Mendengar pendjelasan itu, Kak Beng Hweeshio tertawa.

„Tjian Tjongpiauwtauw, kau sungguh djudjur!” katanja. „Memang gampang untuk mengatakan menjerbu kota Souwtjioe. Tapi untuk itu berapa banjak tenaga kita mesti kita siapkan? Lagipula apakah si tiehoe seorang manusia dogol hingga dia mau membiarkan emas diletakkan ditempat jang terang agar dengan gampang sadja orang bawa kabur?”

Ban Tjiong tidak berkukuh sebagai Tjeng Loen.

„Aku pertjaja Yan To Tjoe djuga mestinja telah ketahui urusan kau ini“, ia berkata, untuk datang sama tengah. „Buktinja, setelah merampas, ia masih suka berbitjara dan memberikan tempo kepadamu untuk datang mengambil pulang piauw itu. Loo-piauw-tee, satu laki2, dia dapat melihat selatan, maka itu aku setudju dengan pikiran loosiansoe ini. Aku lihat asal kita dapat menelan, baiklah kita tidak usah melakukan pertempuran lagi. . . . . . . . .

Tjeng Loen bersangsi, ia berdiam.

„Tjongpiauwtauw, harap kau mengerti bahwa aku bukannja berat sebelah“, berkata Kak Beng menjaksikan kesangsian piauwsoe itu. „Kau pun seorang kangouw, kau tentunja dapat berpikir dan memahaminja. Untukmu, maka djuga Yan Totjoe sudah tidak terus2an umpatkan dirinja. Pertjajalah kau bahwa sipembesar andjing bermaksud baik ? Baik kau ketahui, disatu pihak dia desak kau untuk mendapatkan pulang piauw itu, dilain pihk dia telah kerahkan orang2nja jang liehay njelusup ke Kangpak. Baru sadja kemarin Tietjioe Soe Kiat memperoleh kabar rahasia bahwa barisan dari Tangsi Hidjau dari Kho-soeim Hoe-leng dan Yam-shia telah bergerak saling-susul dalam tudjuan ke Sia Yan Ouw. Asal hari itu, setelah mendapatkan emas, Yan To-tjoe pergi menjingkir, mana bisa timbul kesulitan seperti ini ? Tjongpiauwtauw, aku telah omong terus-terang, maka aku harapkan tidaklah lagi menggusari Yan To-tjoe“.

Tjeng Loen diam untuk berpikir, begitu djga Ban Tjiong.

Selagi orang berdiam, Kak Beng berbitjara terlebih djauh.

„Kaum Rimba Hidjau di Kangpak telah mengetahui urusan telah mendjadi besar“ demikian katanja. „Disebelah tentera Boan itu, jang bakal berangkat kemari, djuga gubernur Liang-kang di Lam-khia sudah menitahkan Seng Tiat Hoed, kepala polisi jang kenamaan dari Kanglam, membawa tiga atau empat puluh sebawahannja menjeberang ke Utara ini untuk mengurus perkara piauwmu ini. Karena itu kaum sukarela memberikan bantuannja kepada Yan Totjoe. Sama sekali mereka itu tidak memikir untuk memusuhi kau dan Mauw San Tjit Yoe“.

Ban Tjiong lantas sadja mengerti hebatnja urusan. Selagi Tjeng Loen masih bediam sadja, ia lantas membantui Kak Beng memberi pendjelasan kepada piauwsoe itu.

Tjeng Loen masih berpikir sekian lama, baharulah ia sadar. Mengertiah ia sekarang, apabila ia berkukuh memusuhi Yan Tjoe Hoei, tidak sadja keakuran kaum Rimba Persilatan mendjadi terganggu, untuk ia benar2 tidak ada faedahnja. Tjuma ia tetap memikirkan piauw itu. Maka lagi sekali ia mengutarakan kesulitannja itu.

Sampai disitu, ketiganja lantas berunding. Disetudjui, Ban Tjiong dan Tjeng Loen kembali dulu ke Lioe-lim-tjhung dan Kak Beng nanti pergi kepada Yan Tjoe Hoei, untuk menerangkan bahwa Tjeng Loen sudah mengerti duduknja hal, hingga dia mendjadi sangat menjesal sudah tertipu pembesar negeri dan mesti memikul tanggung-djawab atas limaribu tail emas itu. Kepada Yan Tjoe Hoei akan didjelaskan, asal piauw itu dikembalkan, selandjutnja dia bakal melepas tangan, dia tidak akan membuat dirinja didjadikan perkakas pula oleh pembesar negeri.

Selagi hendak berpisahan, Ban Tjiong pesan Kak Beng untuk menanjakan Yan Tjoe Hoei kalau2 piauwsoe Tjie Tjiat Djin telah kena ditawan dan ditahan si Walet Terbang. Apabila benar demikian adanja, ia minta supaja piauwsoe itu dimerdekakan.

Kak Beng suka meluluskan permintaan itu.

Adalah diluar dugaan Ban Tjiong dan Tjeng Loen, bahwa setibanja mereka dipondokan di Lioe-lim-tjhung, disana mereka dapatkan Tjiat Djin sedang rebah dengan lukanja.

„Apakah telah terdjadi ?“ Tjeng Loen lantas menanja. Ia sangat tak sabaran.

„Aku telah terluka“, Tjiat Djin menerangkan. „Karena lukaku itu, aku tidak dapat bergerak lagi dengan leluasa. Wakti dikaki tandjakan aku bertemu musuh lagi, aku telah kena ditawan mereka. Segera djuga aku bertemu dengan satu mahasiswa jang menunggang seekor kuda putih. Dia telah tolongi aku dan mengantarkan djuga aku pulang kemari. . . . . . . . .

Mendengar ini, hati Tjeng Loen dan Ban Tjiong mendjadi lega. Sekarang Tjeng Loen mau pertjaja Yan Tjoe Hoei dan Lioe Hong Hoa benar2 hendak membikin ia kaget sadja. Sama sekali tidak berniat mentjelakai. Tentu sadja, karena ini, kemendongkolan atau kegusarannja mendjadi reda, hingga selandjutnja tinggal memikirkan piauw jang mendjadi tanggungannja itu . . . . . . . .

Beda daripada piauwsoe ini, Ban Tjiong memikirkan Hay Djiak Toodjing, saudaranja jang kedua, jang lenjap tanpa djedjak. Iman itu telah menudju ke Sia Yang Ouw tetapi dimana adanja dia sekarang ? Mau atau tidak, ia mendjadi berkuatir djuga.

Esoknja, Kak Beng datang kepondokan, jang bernama Tjioe-keetiam. Ia memberi keterangan bahwa dipihak Yan Tjoe Hoei tidak ada jang menangkap atau menawan pihak piauwkiok, bahwa disanapun tidak kedapatan tanda2 dari Hay Djiak Toodjin. Meskipun benar, ketjuali Tong San Siang Koay dan Tjietjioe Soe Kiat, tidak ada lain orang jang kenal iman itu, tetapi dia gampang dikenali dari potongan tubuhnja, terutama sendjatanja jang istimewa.

Mendengar keterangan ini, Ban Tjiong mendjadi bertambah kuatir. Ia kenal baik sifat adik angkat itu, jang sabar tampaknja, tetapi sebenarnja berhati keras dan berkepala besar, dan pandangannja tjupat.

Untuk beberapa puluh tahun, Hay Djiak tersohor untuk panahannja, panah Tjoan-in-tjian. Akan tetapi kali ini, dia kena diakali satu botjah dimuka banjak orang. Past hatinja panas dan penasaran sekali. Tetulah dia tidak mau mengerti. Ia pertjaja adik angkat itu pergi mentjari dua saudara Tjio, kakak-beradik itu.

Ketika pada Kak Beng ditanjakan terlebih djauh, ia memberi keterangan bahwa Tong San Siang Koay dan Tjietjioe Soe Kiat adalah orang-orang Rimba Hidjau tanpa tempat kedudukan jang tetap, bahwa mereka biasa merantau, bahwa diantara mereka jang hadir di Kwie-kian-tjioe, melainkan seorang jang bernama Ma Tjoen jang mempunjai markas, sebab ia adalah djie-tjeetjoe atau pemimpin kedua dari pesanggerahan Thung-kee ditelaga Tay Tjiong Ouw. Ialah jang telah bertempur melawan Boe Djin Tjoen, muridnja Tjian Tjeng Loen. Karena Ma Tjoen adalah dalam rombongan dua saudara Tjio, ada kemungkinan Hay Djiak menguntit mereka itu.

Disaat Kok Ban Tjiong berkuatir untuk itu adik angkat jang nomor dua, si adik-angkat sendiri sedang bekerdja, untuk menuntut balas. Hay Djiak Toodjin pesarana sekali. Ia telah merentjanakan daja pembalasannja. Ia hendak membuat urusan mendjadi hebat hingga Yan Tjoe Hoei serta Tong San Siang Koay dan Tjeitjioe Soe Kiat tak dapat turun dari panggung sandiwara . . . . . . .

Memang dengan sengadja Hay Djiak menjingkir setjara diam2 dari Kwie-kian-tjioe. Ia menthoba menjusul dua saudara Tjio, dengan niat menempur pula mereka itu, supaja ia dapat memberikan suatu tanda-mata kepada Nona Tjio Soen Eng. Dengan begitu barulah ia akan dapat melampiaskan sedikit penasarannja. Diluar sangkaannja, ia terlambat satu tindak. Pihak sana telah berlalu dengan tjepat, dan berlalunja pun dengan berpentjaran. Seorang diri, ia tidak dapat memetjah tubuh untuk menguntit mereka semua. Tapi ia tjerdik, setelah memperhatikan tapak kaki kuda serta kotoran binatang itu, ia menjusul tombongan jang djumlahnja terlebih besar. Ia berhasil menjandak rombongan itu, tjuma ia tak dapat memenuhi pengharapannja. Ternjata didalam rombongan itu tidak ada dua saudara Tjio serta Houyan Pa dan lainnja, sebab rombongan ini adalah rombongan Ma Tjoen serta beberapa puluh sebawahannja.

Menghadapi rombongan Ma Tjoen ini, Hay Djiak berpikir keras sekali. Untuk melepaskannja dengan begitu sadja, ia tidak puas. Untuk menempur mereka, ia malu sendirinja. Ia anggap deradjatnja terlalu tinggi.

Setelah lama memutar otak, ia lantas mengambil putusan : „Baiklah aku bakar mereka ! Bukankah Yan Tjoe Hoei dan Lioe Hong Hoa pun keterlaluan ? Perlakuan mereka terhadap Tjian Tjeng Loen berarti tidak memandang mata kepada golongan piauwsoe atau piauwkiok ! Aku tidak pertjaja mereka ada demikian liehay hingga mereka tidak dapat dilawan ! Biarlah aku tempur mereka, untuk melihat siapakah jang roboh !“

Lantas Hay Djiak mentjari tempat sembunji. Ia menanti sampai djam satu tengah malam. Dalam gelap dan sunji, baru ia menghampirkan rombongan Ma Tjoen itu. Ia tidak mau lantas memasuki markas. Diluar, ia bekuk dulu salah satu anak buah si orang she Ma. Dengan satu totokan, ia membuat orang itu tidak berdaja, lalu di bawanja menjingkir sedikit djauh, untuk mengorek keterangan dari mulut orang ini. Dengan paksaan ia dapat ketahui sarangnja Yan Tjoe Hoei semua.

„Sahabat, djangan kau sesalkan aku“, dia kata sesudah dia peroleh keterangan jang dikehendaki. „Aku pun lagi bekerdja atas titah. Tidak dapat aku berbuat sekehendak hati sendiri. Siapa suruh pihakmu berbuat salah terhadap Say Hiang Hoei, Sim Toasiotjia kami ? Kau berdiamlah disini sampai sebentar terang tanah, di waktu mana Ma Totjoe kamu nanti datang menolongi kau . . . . . . .

Ia ringkus kaki-tangan orang itu jang pun disumpal mulutnja dengan buntalan udjung badjunja jang dipotong, kemudian ia gusur korbannja kedekat markas, ditempat jang tak terlalu sukar untuk dapat dilihat orang. Diwaktu mau angkat kaki, ia pun tjabut golok orang itu untuk dibawa pergi.

Habis ini, dengan berani Hay Djiak memasuki markas. Dengan kepadaiannja meringankan tubuh, dengan tanpa susah ia dapat njelusup kedalam kamarnja Ma Tjoen, untuk menantjapkan golok didepan pembaringan. Dengan ini ia hendak memberi peringatan kepada orang she Ma itu. Pada gagang golok ia kaitkan segubat bunga liar, untuk menimpakan bentjana kepada Say-Hiang-Hoei Sim Goat Hoa Ia memang ketahui kebiasaannja Nona Sim. Sehabis melakukan sesuatu, si nona suka meninggalkan tanda bunga. Untuk kaum kang-ouw, asal jang kenamaan, tidak ada jang tidak tahu kebiasaan itu.

Setelah bekerdja disarangnja Ma Tjoen, malam itu djuga Hay Djiak pergi untuk menjatroni Tong San Siang Koay dan Tjietjioe Soe Kiat. Beruntun ia melakukan sesuatu dikedua sarang orang kang-ouw itu. Hanja dimarkasnja Yan Tjoe Hoei, karena pendjagaan sangat rapat, ia kewalahan untuk njelusup masuk. Tapi ia tidak puas berlalu tanpa melakukan apa2. Maka ia bekuk dua orangnja Yan Tjoe Hoei. Ia ringkus mereka, kupingnja digantungi masing2 seikat bunga. Ini pun tindakan untuk memfitnah Say Hiang Hoei, supaja nona itu benterok dengan Yan Tjoe Hoei.

Tidak menanti sampai fadjar menjingsing, dengan menunggang seekor kuda, Hay Djiak kabur kearah Tenggara. Karena ini, besoknja siang, selagi Ban Tjiong pasang omonng dengan Kak Beng dipondokan Tjioe-kee-tiam, ia tengah kabur karah Tongtay.

Sebenarnja sewaktu Tjian Tjeng Loen mengadjak Sim Teng Yang datang ke Mauw San untuk memohon bantuan, Hay Djiak sudah merasa heran dan malah betjuriga. Kenapa mereka tidak mohon sadja bantuan Say Hiang Hoei, tapi pergi ke Mauw San jang djauh. Toh Say Hiang Hoei berada didepan mata ? Karena ini, diwaktu mereka pergi dengan berpentjaran, ia ingin adjak Sim Teng Yang dalam rombongannja. Ia ingin, djika perlu, supaja Teng Yang dapat menarik Say Hiang Hoei, supaja wanita kosen itu terpaksa dibetot keluar. Say Hiang Hoei itu bukan tjuma liehay ilmu kepandaiannja, djuga gurunja, ialah Soh In Taysoe dari Boe Ie San, kesohor sebagai guru gemar mengeloni murid.

So In adalah djago dari Boe Tong Pay, ia bentji djika ada orang menghina muridnja. Kalau ada orang main gila terhadap muridnja, ia anggap orang main gila terhadapnja sendiri. Dalam hal itu, kalau ia sampai turun tangan, ia tidak mau sudah sebelum puas.

Hay Djiak harap, kalau nanti sudah terbit benterokan diantara Yan Tjoe Hoei dan Say Hiang Hoei, ia hendak adjak Tjeng Loen menggunakan ketikannja mengambil keuntungan seperti lelakonnja si nelajan. Sebagai orang tjupat pandangan, ia tidak pernah mau memikir, piauw Tjeng Loen itu piauw matjam apa; djika ia tahu duduk hal jang sebenarnja, tidak nanti ia mau berlaku selitjik ini.

Dalam perdjalanannja, Hay Djiak sebal terhadap kudanja. Ia anggap kuda itu lari kurang pesat sedang sebenarnja ia sudah membedalnja. Ia ingin lekas sampai di Tjong-beng.

Malam itu kebetulan turun hudjan ketjil2. Hudjan itu tidak dihiraukannja. Ia singgah sebenar di sebuah pondokannja, untuk memberi makan kepada kudanja, setelah itu ia landjutkan perdjalanannja. Ia insjaf, bahwa ia tidak dapat berlaku lambat. Kalau Ma Tjoen keburu membuka rahasia, ia bisa gagal dengan usahanja itu.

Demikian diwaktu magrib, ia telah sampai di Sim-kee-tjung, kampung tempat kediaman keluarga Sim, jang letaknja tudjuh lie diluar ketjamatan Tjong-beng. Ia lantas sadja membuat kundjungan.

Pada waktu itu Sim Goat Hoa djuga tengah memikirkan saudaranja jang turut Tjiang Tjeng loen pergi meminta pulang piauw. Sudah berselang setengah bulan, saudara itu belum kembali, bahkan tak ada kabar tjeritanja, maka mau atau tidak, ia memikirkan djuga. Maka dari itu, waktu ia dikabarkan kedatangan orang dari Mauw San, tjepat2 ia rapikan pakainanja lalu keluar untuk menemui.

Hay Djiak Toodjin kenal Sim Goat Hoa. Begitu bertemu, ia seharusnja menanjakan keselamatannja dan lainnja, sebagaimana lajaknja orang jang telah lama tak bertemu. Akan tetapi sekarang, ia lantas sadja menundjukan roman berduka dan pikiran tak tenang. Ia lantas angkat tangannja, untuk memberi tanda, lalu ia berkata dengan pelahan : „Toasiotjia, kami bersaudara tidak punja guna. Begitu tiba di Kangpak, kami roboh. . . . . . . Jang paling memalukan ialah aku tidak sanggup melindungi adikmu, dia telah di . . . . .

Adalah biasanja Goat Hoa tabah dan tenang hatinja. Akan tetapi sekarang, mendengar kabar hal saudaranja ini, hatinja gontjang, hingga air mukanja menjadi berubah. Ia lantas sadja menatap imam itu.

„Kenapakah adikku itu ?“ ia tanja. „Apakah ia telah kena di tawan ? Tidak bisa djadi ! Yan Tjoe Hoei itu memang tidak aku kenal, akan tetapi si mahasiswa kuda putih bukanlah orang lain ...“ Ia berhenti dengan tiba2, wadjahnja pun mendjadi merah.

Hay Djiak tjerdik dan berpengalaman. Perubahan wanita ini membuatnja berpikir, maka itu, ia lantas gunakan ketikanja jang baik. Ia lantas menguraikan rentjana jang telah dipikir diotaknja. Ketika ia berbitjara lagi, lebih dahulu ia menghela napas pandjang.

„Kalau kita sudah sampai di Sia Yang Ouw dan roboh ditangan orang jang liehay, tidak apa“, demikian ia bertjerita, „jang tidak di-sangka2, sebelum kita bertemu Yan Tjoe Hoei, kita telah dipegat di Kwie-kian-tjio. Disana kita didjebak Tong San Siang Koay serta kawan-kawannja jang baru. Kami telah pukul mundur. Tidak beruntung adalah saudaramu. Dia terlambat, dia telah roboh kedalam liang perangkap, hingga sekarang ini tak tahhu aku tentang mati-hidupnja . . . . . . . . . Kakakku mengatakan toasitjia seorang kosen, hanja biar bagaimana, toasitjia tetap adalah seorang wanita, jang tidak dapat mentjampuri urusan terlalu dalam, karena itu, ia larang aku datang untuk memberi kabar. Tetapi aku dan adikmu bersahabat kekal, tidak tenang hatiku, dan dari itu aku lekas2 datang kemari“.

Sembari bitjara, Hay Djiak lirik wadjah orang. Ia dapatkan orang tunduk sadja, rupanja lagi berpikir, maka ia lantas bitjara terus.

„Maafkan aku, toasiotjia, hendak aku berangkat lebih dulu !" katanja sengadja. Adikmu dalam bentjana, tidak dapat aku berlaku lambat. Aku hendak pergi mentjari beberapa sahabat guna menolongi dia, Aku tahu siapa musuh dan dimana sarangnja. Aku dapat memberitahukan semua itu kepadamu, tetapi, aku pikir, kau baiklah tinggal dirumah, untuk menanti kabar lebih djauh dari aku.....”

Begitu habis berkata, Hay Djiak berbangkit, untuk bertindak keluar.

Sampai disitu, Sim Goat Hoa tidak dapat bersangsi lagi. Ia lantas bangkit menjusul.

„Lauw Tootiang, terima kasih untuk kebaikanmu ini”, katanja. „Tentang adikku itu, aku pertjaja aku punja daja, djadi tidak usah-lah kau pergi ke-mana², Baiklah kau tjari suatu pondokan didalam kota, besok aku akan kundjungi kau, Aku pertjaja, paling lambat tidak sampai djam lima atau enam, kita sudah dapat berangkat bersama”.

Hay Djiak masih memainkan peranannja. Ia menggojangkan tangan ber-ulang².

„Toasiotjia, kau pergi atau tidak, tidak ada soalnja”, ia berkata, „tetapi aku, mesti aku pergi mentjari bantuan. Kakakku djuga tidak dapat duduk diam sadja. Aku minta sukalah kau bersikap tenang, Selama masih ada Mauw San Tjit Yoe, pasti mesti ada adikmu”.

Lantas ia bertindak pergi.

Sim Goat Hoa tidak memaksa menahan, ia hanja masuk kedalam kamarnja. Urusan adiknja itu ia tidak dapat memberitahukan ibunja dan isterinja si adik. Maka ia berpikir seorang diri. Ia sedang berpikir waktu mendadak ia dengar suara menangis didalam kamar ibunja, lalu ia kenal itulah tangisan iparnja, Poei-sie, la pun lantas dengar suara Ibunja tengah membudjuki njonja mantu itu.

Kata si mertua „Djangan kau kuatir, Goat Hoa diam sadja, mungkin itu kabar bohong”.

Tetapi sang njonja mantu menangis terus, Ia kata: „Lao Ong omong djelas sekali, Ketika si imam turun dari kudanja, dengan

menjusuti air matanja dia terus mengatakan : sajang satu anak muda umur tigapuluh tahun mesti mati tidak keruan.......”

Hati Goat Hoa mendjadi tidak tenteram, Lantas ia pergi keluar, akan tjari Lao Ong, tukang pakai perahu, untuk minta keterangan.

Lao Ong menetapkan, waktu si imam baru sampai, dia memang mengatakan demikian, hanja dia pesan supaja hal itu tidak diberitahukan siapa djuga, supaja keluarga Sim djangan bersusah hati.

Goat Hoa merasa aneh sekali. Tapi ia dapat berlaku tenang. Ia lantas menemui ipar dan ibunja djuga, untuk menghibur mereka, kemudian ia undurkan diri, untuk beristirahat didalam kamarnja. Disini ia berpikir, guna mengambil keputusan.

Adalah biasa bagi Goat Hoa, kalau ia melakukan perdjalanan, tidak pernah ia naik kereta. Ia biasa melakukan perdjalanan malam, dengan lari keras menuruti ilmu mengentengkan tubuh. Akan tetapi, kali ini ia mesti pergi djauh dan untuk urusan jang agaknja sulit. Ia tidak dapat memastikan kapan ia bakal kembali, maka ia mau menjimpang dari kebiasaan itu. Untung baginja, baru empat atau lima, hari jang lalu paman gurunja, jaitu Hay-Liong-Sin Tjia Kiam si Malaikat Naga diwaktu lewat di Tjong-beng, sudah mampir dan telah menitipkan keledai kesajangannja — seekor keledai jang sudah dipelihara bertahun2, djinak dan mengerti — maka ia hendak pindjam pakai keledai itu jang katanja kuat djalan dan tjepat larinja.

Waktu sang malam telah lewat dan sang pagi tiba, Goat Hoa lantas ber-kemas2. Ia dandan dan menjediakan buntalannja jang singkat, Selain pedangnja, ia bekal kantong piauw terisi tigapuluh-enam thie-lian-tjie atau teratai besi. Ia telah titahkan Lao Ong roskam keledainja, lantas ia pamitan dari ibu dan iparnja untuk memulai perdjalanannja. Ia lantas melarikan keledainja keras.

Hari itu djam sin-pay, djam 3-4 lohor, Goat Hoa telah tiba di Kie-lin-tin, Kangpak.

Hay Djiak Toodjin sudah mendahului kembali ke Sia Yang Ouw. Ia perlu sampai terlebih dulu, untuk bekerdja terlebih djauh. Ta tidak ingin Goat Hoa nanti bertemu dan berbitjara dengan Yan Tjoe Hoei atau kawan2nja si Walet Terbang. Ia ingin supaja begitu bertemu, kedua pihak lantas bertempur, agar salah mengertj men djadi mendalam, Tentu sekali inilah diluar dugaan nona she Sim itu.

Dihari ketiga pagi, Goat Hoa telah tiba disebuah rimba di Djie-long-pa disebelah utara ketjamatan Tongtay. Tempat ini terpisah

dua atau tigapuluh lie dari telaga Tay Tjiong Ouw, Kangpak daerah tandus, akan tetapi disini ada tjabang2 sungai jang seperti malang melintang, jang ditanami banjak pohon yanglioe, maka setiap habis turun hudjan, pemandangan alam disini mirip djuga dengan pemandangan di Kanglam. Demikian Say Hiang Hoei, ia kasi ketika keledainja djalan sesukanja, malah kemudian ia turun dari punggung keledai. Sesudah djalan terus dua hari setengah malam, manusia dan binatang merasa lelah djuga.

Adalah maksud Goat Hoa untuk tambat keledainja, guna duduk beristirahat ketika tiba² ia dengar tindakan kuda lari kearahnja. Dengan sebat ia sembunji dibelakang sebuah pohon, matanja dipasang.

Jang datang itu dua penunggang kuda, jang satu djalan dimuka, Karena kuda dilarikan keras, debu mengepul naik disebelah belakang mereka. Kedua penunggang kuda itu bertubuh besar. Mereka mengangkat tubuh, mata mereka tjelingukan, seperti sedang mentjari apa2. Tepat didepan rimba, mereka berhenti, Masih mereka melihat kekiri dan kanan, melongok kedalam rimba. Agaknja mereka heran.

„Tidakkah mengherankan, Lao Kiong ?“ berkata jang pertama, „Masa baru sadja berkelebat sudah lenjap ?“

Sang kawan, jang dipanggil Lao Kiong, ialah Kiong situa, menggaruk-garuk kepalanja.

„Mungkinkah perempuan itu mengerti ilmu membikin bumi mendjadi tjiut ?“ katanja. „Tidak, aku tidak pertjaja. ! Boleh djadi dia telah memotong djalan! Mari kita berpentjaran untuk mentjari !“

Ia lantas hendak menarik les kudanja, tapi kawannja menahannja.

„Lao Kiong, kau hendak tjari mampusmu ?“ dia menegur. „Ingat orang itu adalah djago wanita dari Boe Tong Pay ! Walaupun kita berdua, apakah kau sangka aku masih ingin mentjoba menempur dia ? Mari dengar perkataanku, Kita pulang untuk memberi laporan kepada djie-tong-kee“, dan ia mendahului memutar kudanja, jang terus dilarikan kearah djalanan dari mana mereka tadi datang. Karena itu, si orang she Kiong mengikuti tanpa membuka suara.

Goat Hoa segera mengerti bahwa ada orang menguntit. Ia tidak takut, tetapi ia belum tahu sidpa mereka. Ada baiknja, pikirnja,

bahwa ia pergoki mereka itu. Oleh karena ia pertjaja, orang itu bakal kembali, ia lantas bertindak. Dengan suara pelahan, ia panggil keledainja. Kepada binatang itu, jang berpaling, ia beri tanda dengan menggerakkan kedua tangannja, agar binatang itu sembunji ditempat terlebih dalam didalam hutan itu, Setelah binatang itu bertindak pergi, ia sendiri keluar dari tempat sembunjinja, untuk berlompat naik keatas pohon. Ia tjari tjabang jang paling tinggi. Disitu ia berdiam dengan matanja memandang kearah dari mana dua orang tadi datang.

Nona ini tak usah menantikan terlalu lama. Segera terlihat datangnja serombongan penunggang kuda, terdiri dari lima atau enam orang. Jang terdepan seorang dengan djidat djantuk dan hidung bengkung, tubuhnja besar seperti tubuh orang hutan, dibebokongnja tergendol sebatang pedang. Dialah Houwyan Pa, Tong San Siang Koay jang nomor satu.

Orang jang berada dibelakang Siluman pertama dari Tong San ini, jang bertubuh tinggi enam kaki, mukanja berewokan dan bengis romannja, Goat Hoa tidak mengenalinja.

Rombongan itu berhenti dimuka rimba, Houwyan Pa bitjara dengan dua orang, ialah si Lao Kiong dan kawannja jang tadi, Mereka bitjara seperti berselisih. Sebentar sadja, Houwyan Pa sudah larikan kudanja madju.

Untuk sedjenak, Goat Hoa ingin muntjul dari tempatnja sembunji, untuk memegat mereka guna memberi pendjelasan, Akan tetapi waktu ia ingat orang itu mestinja mengandung maksud bermusuhan, ia ubah pikirannja. Ia tidak sudi bertempur ditempat terbuka seperti itu. Ia menunggu sampai orang sudah pergi djauh, baru ia lompat turun dari atas pohon. Ia panggil keledainja, naik atas punggungnja, lalu pun meneruskan perdjalanannja.

Keledai itu mengerti, dia lantas berlari keras, Sesudah lari sekira tiga lie, dia memasuki sebuah kampung dimana tjuma ada belasan rumah penduduk.

Goat Hoa sedang memikir mentjari salah satu rumah, untuk singgah, atau dari tepi djalan, dimana ada sebuah sumur, seorang jang tangannja menenteng tahang air, sudah lantas lari menghampirinja.

„Nona, apakah nona she Sim?" tanjanja.

Goat Hoa heran djuga, maka seraja menahan keledainja, ia awasi orang desa itu, Sjukur sinona pandai memegang kendali. Hanja karena berhenti dengan mendadak, tubuh sinona berkisar dari keledainja, hampir dia terguling. Saking terpaksa, ia terus lompat turun ketanah, keledainja sendiri ia teriaki untuk djangan lari terus.

Orang desa itu mengawasi dengan mata mendelong, ia heran. Goat Hoa mengawasi. Ia pertjaja orang itu tidak mengerti ilmu silat, ia pun mendjadi heran.

„Kau siapa? Apa maksudmu?" ia lantas menanja.

Orang itu meletakkan tahang airnja. Dengan agak kesusu ia merogo kedalam sakunja, mengeluarkan seputjuk surat. Diwaktu ia menjerahkannja kepada sinona, ia bersikap menghormat sekali.

„Barusan ada beberapa tuan lewat disini", katanja. „Mulanja mereka menitahkan aku menimba air, untuk memberi minum kuda. mereka, lalu mereka serahkan surat ini padaku......

Goat Hoa sambil mendengarkan orang itu bitjara, mengangkat tahang air untuk mentjium airnja, lalu ia kasi keledainja minum dari tahang itu. Setelah itu, ia buka surat itu, jang sampulnja bertuliskan: „Kepada Say Hiang Hoei jang terhormat". Ia lantas batja isi surat, jang singkat sadja:

,,Adikmu telah mati, Bagus kau datang, kau boleh mendjadi ratu gunung dari kakakku".

Surat itu tanpa tandatangan, Sebagai gantinja ada lukisan dua potong batu.

Goat Hoa mendjadi mendongkol, gusar dan kaget. Ia robek surat itu, Tanpa berkata apa, ia bersiul memanggil keledainja, Binatang itu sungguh mengerti. Dia lari menghampiri sinona, jang segera lompat naik atas punggungnja.

Si orang tani heran dan kagum, hingga ia bengong mengawasi binatang itu.

„Sungguh luar biasa kau dapat memelihara keledai sedjinak ini......" katanja.

Goat Hoa tidak mempunjai kegembiraan untuk berbitjara dengan orang desa itu. Ia tarik les keledainja, mulutnja memperde- ngarkan bentakan pelahan, maka binatang itu lantas tjongklang kabur, menudju ke Utara.

Ia tidak pernah menjangka, bahwa Hay Djiak Toodjin tengah memainkan peranan, guna membikin darahnja naik, supaja begitu bertemu Siang Koay dan Soe Kiat, dia menerdjang tanpa bitjara lagi, Kalau itu terdjadi, tentulah Yan Tjoe Hoei dan Live Hong Hoa bakal kena te-rembet....... Dengan ketjerdikannja, Hay Djiak Toodjin djuga bertindak untuk mendekatkan Siang Koay dan Soe Kiat kepada Say Hiang Hoei, supaja dengan begitu mereka ini mendjadi lebih lekas mengetahui hal datangnja si Nona Sim, agar mereka menduga si nona pun telah didjadikan pekakas pembesar negeri. Untuk ini, beberapa hari jang Jalu Hay Djiak telah meninggalkan seikat bunga jang biasa dipakai Say Hiang Hoei sebagai tanda, dimarkas Ma Tjoen, Bunga itu menguatkan dugaan mereka terhadap si nona.

Siang Koay bersama Soe Kiat dan Ma Tjoen adalah orang kosen tetapi tak tjerdas dan dua saudara Tjio masih terlalu murla dan kurang pengalaman, Kekurangan mereka itu memberi keuntungan kepada Hay Djiak, lebih selama beberapa hari paling belakang, mereka tidak pernah bertemu dengan Live Hong Hoa. Sebaliknja Live Hong Hoa itu sudah melakukan pembitjaraan dengan Kak Beng Hweeshio soal membajar pulang piauwnja Tjian Tjeng Loen, sebab si paderi suka mendjadi orang perantara untuk mendamaikan. Dalam hal itu, Lioe Hong Hoa tengah mengadakan pembitjaraan dengan Yan Tjoe Hoei.

Dalam keadaan sangat mendongkol, pihak Siang Koay sudah lantas mengambil tindakan. Mereka menantikan di Tok-sek-kauw, enam lie dari Tay Tjiong Ouw, untuk memegat Sim Goat Hoa, jang hendak diserang setjara dikepung, untuk dibinasakan.

Sim Goat Hoa telah melandjutkan perdjalanannja. Ia dapat tahu didepannja ada sebuah tempat jang dipanggil Tok-sek-kauw itu, bahwa tempatnja rendah dan dalam kalangan sepuluh lie disekitarnja, banjak pengempangannja dengan embalnja. Siapa kurang hati? dan terpendam didalam lumpur, sulit untuk keluar lagi dari situ, sedang lebih djauh, djalan penuh batu dan ber-liku, sangat sukar untuk dilintasi. Karena ini, ia berlaku waspada sekali. Ia pertjaja tempat itu berbahaja dan mungkin pihak lawan bersiap-sedia disitu.

Hari sudah lohor djam tiga atau empat ketika Say Hiang Hoei mendekati Tok-sek-kauw. Disitu tidak ada seorang djuga. Rumah penduduk hampir tidak ada, tempat itu bagaikan tegalan-belukar. Ia berdjalan tanpa hatinja mendjadi ketjil, malah sebaliknja, ia ingin segera menemui rombongan dari Siang Koay, untuk membalas dendam untuk adiknja jang dikabarkan sudah mati

Berdjalan lagi satu rintasan, Goat Hoa dapatkan pengempangan mendjadi semakin banjak, Seluruhnja sunji disitu, ketjuali suara tindakan kaki keledainja serta siuran angin jang keras. Tatkala keledai itu baru membelok disuatu tikungan, tiba sadja dia merandek, kedua daun kupingnja di-gojang kan.

Goat Hoa timbul perasaan tjuriganja. Tanpa sebab tidak nanti binatang itu berbuat demikian. Sudah lama paman-gurunja, Hay-Liong-Sin Tjia Kiam, memiliki binatang ini, jang pernah diadjak pergi kemana dia pergi. Sudah selajaknja kalau keledai ini ada pi. rasatnja. Maka tanpa ajal lagi, ia, lompat turun, pedangnja, pedang Pek-hong-kiam si Bianglala Putih, segera dihunus. Ia pun meman- dang tadjam, terutama kedepan.

Didepan, disebelah kiri, tidak djauh dari sebuah tandjakan pasir, ada tempat jang lebat dengan pepohonan, pohon tjemara, Dida- lam situ terlihat samar tiga atau empat orang. Setiap bebokongnja menggendol sebuah bungkusan ketjil, jang mestinja terisi alat sendjata. Disebelah selatan dari rimba itu djuga terlihat pepohonan bergerak, suatu tanda disitupun ada orang lain lagi.

Goat Hoa segera tepuk punggung keledainja seraja bersuara pelahan. Binatang itu mengerti, dia lantas lari ketempat lebat ditepi empang. Disitu, sambil mengawasi kedepan, si nona berseru: „Sahabat disebelah depan, terimalah hormatku! Dengan maksud jang istimewa aku telah datang berkundjung kemari dan saudara dilain pihak tentunja sengadja telah menantikan aku, maka itu setelah kita bertemu ditempat sempit ini, untuk apa kami main sembunji lagi?"

Teguran ini disambut tertawa terbahak dari dalam rimba, menjusul itu muntjullah belasan orang. Jang madju paling depan, empat orang, semua menunggang kuda, Mereka sudah lantas ambil sikap mengurung.

Tong San Siang Koay, Tjietjioe Soe Kiat dan Ma Tjoen hadir disitu.

Orang jang pertama membuka suara adalah Houwyan Pa. Dia djusteru berdiri paling dekat dengan Nona Sim. Dia bersikap djumawa.

„Sjukur untuk kami, djago wanita dari Boe Tong Pay telah memandang mata kepada kami......" ia berkata. „Dari djauha Ilehiap telah datang mentjari kami di Kangpak ini. Tanpa ada buahhasilnja tidak nanti liehiap hendak balik pulang, maka itu selagi kami bersaudara ada disini semua, silakan liehiap ambil tindakanmu!"

Itulah kata2 djumawa dan tantangan. Maka sepasang alis si nona mendjadi bangun berdiri.

„Apakah kami membawa lagakmu ini untuk menggertak2 aku ?“ dia bertanja.

Belum Houwyan Pa atau lainnja menjahuti, tiba2 ada suara datang dari tempat lebat pohon telaga. Suara itu keras : „Saudara2 madjulah semua ! Dengan wanita sebangsa dia ini, mana ada kata2 baik jang dapat diutjapkan ? Paling benar segera kirim dia pulang kerumah ibunja jang sudah tua !“

Houwyan Pa tidak kenal suara itu, ia heran hingga tetjengang. Tidak demikian dengan seorang didampinginja, Tankauw Song, jang mendjadi muridnja. Pemuda ini keras tabiatnja. Ia memang sudah bernapsu sekali untuk bertempur, maka sudah tidak siasiakan ketikanja. Ia berteriak seraja lompat kehadapan Goat Hoa.

Nona Sim awasi pemuda ini, jang tubuhnja ketjil dan kate dan usianja kurang lebih tiga puluh tahun, wadjahnja menundjukkan dia sedang sakit, sedang tangannja menjekal tankauw, sebatang gaetan jang pandjangnja tiga kaki lebih. Begitu datang dekat, anak muda itu memperdengarkan tertawa hinaannja.

Diperlakukan demikian, Goat Hoa murka dan segera menikam tenggorokan orang itu.

Tan-kauw Song lihat datangnja serangan, dengan ngo-bie-tji ia menangkis, dengan gaetannja tankauw, ia menjerang. Ia memang menggunakan dua matjam sendjata.

Sim Goat Hoa rubah gerakan pedangnja. Ia berbalik menotok belakang telapakan tangan lawan jang djumawa itu. Tankauw song lompat mundur. Dia mungkin mengira lompatannja itu gesit, tidak tahunja si nona dapat susul padanja, maka waktu nona itu ajun sebelah kakinja, tidak ampun lagi dia kena ditendang kempolannja jang kanan, tubuhnja terpelanting hingga lima tindak. Sjukur gaetannja tidak lepas dari tangannja.

Goat Hoa tahu musuh banjak dan ia bersendirian. Ia berpendapat tanpa menudjukkan kegagahannja ia tidak bakal berhasil membikin tjiut hati semua musuhnja itu. Karena berpikir begini, ia lompat untuk menjusul Tankauw Song. Ia ulur tangan kirinja untuk mentjekuk.

Tankauw Song tidak punja guna, tetapi tubuhnja gesit, matanja awas. Ia tahu dia disusul dan terus disambar, maka dia bisa segera menjingkir sambil bergulingan.

Goat Hoa batal menjerang terus, ia menahan dirinja. Tiba² ia dengar suara angin dibelakang kepalanja. Ia tahu, tentulah ada datang serangan gelap. Tanpa menoleh lagi, ia menangkis kebelakang, hingga dengan satu suara njaring ia dapat membikin sendjata si penjerang terpental. Sesudah itu barulah ia memutar tubuh, hingga ia bisa lihat penjerang itu, seorang muda jang djangkung, jang bersendjatakan sebatang golok jang bergigi bagaikan gergadji. Berat golok itu mungkin empatpuluh kati. Nona Sim tidak kenali dia, sedang pemuda itu sebenarnja adalah Pek-Ho Siauw Seng Tay si Burung Ho Putih, djago kedua dari Tjietjioe Soe Kiat, Empat Djago dari Tjietjioe.

Mendapatkan batjokan jang pertama digagalkan, Seng Tay segera menjerang untuk kedua kalinja.

Goat Hoa tahu orang ini bertenaga besar, ia tidak mau melawan keras dengan keras. Dengan memutar tubuhnja, ia berkelit, Hebat kelihatannja jang dilakukan tjepat sekali, hebat djuga serangan lawan, hingga tubuhnja Seng Tay terdjerunuk kedepan. Djusteru itu, tangan kiri si nona terajun, sebatang teratai-besinja melajang menjambar. Djarak diantara mereka berdua dekat sekali, Seng Tay pun lagi repot menahan diri, ia tak dapat lolos dari serangan itu, maka ia lantas djuga bekap pundak kanannja seraja dari mulutnja terdengar suara menahan sakit. Ia terhujung pula, goloknja djatuh ketanah.

Menghadapi lawan telengas itu, jang main bokong, Goat Hoa djuga berlaku keras. Dengan satu lompatan, ia menjusul, terus mengajun tangannja, menikam kearah tenggorokan.

Sjukur bagi Seng Tay, dalam keadaannja seperti itu, ia sempat djuga melindungi dirinja, dengan djalan mendjatuhkan diri ke- tanah, hingga ia djadi duduk numprah.

Selagi si nona gagal dengan tikamannja itu, ia dengar angin menjambar dari arah kanan. Ia tahu mesti sendjata rahasia sedang mendatangi. Lekas ia membungkuk. Tepat sekali, begitu ia mendak, begitu kongpiauw lewat diatasan rambutnja jang ditutup dengan ikat kepala.

Houwyan Pa menjaksikan bahwa Say Hiang Hoei liehay sekali. seraja putar pedangnja, pedang Tjeng-kong-kiam, ia lompat mele- wati kawan'nja untuk mendekati si nona.


(Bersambung)