Warisan Seorang Pangeran/Djilid 1
WARISAN SEORANG: PANGERAN
dituturkan
oleh
O.K.T
( djilid I)
muda umur duapuluh_tudjuh atau duapuluh-delapan tahun, badjunja kasar, sepatunja tjauw-ee — sepatu rumput — dan dandanannja mirip seorang tani, akan tetapi ia bertubuh kekar dan wadjahnja terang, hingga siapa memperhatikannja pasti menerka ia bukan sembarang petani.
Kedua orang ini masing² menggendong buntalan ringkas dipundaknja. Mereka berdjalan dengan tenang, bagaikan sedang pesiar dan siorang tua tiap² kali menundjuk sana dan menundjuk sini, menerangkan sesuatu kepada sianak muda.
Tak lama maka tampak samar² sebuah kampung didepan mereka. Mengawasi kampung itu, agaknja sianak muda menjangsikan sesuatu,
„Bagaimana ...... apakah kita telah sampai, sha-tjek ?” (paman ketiga) tanjanja.
Siorang tua jang dipanggil sha-tjek itu — paman jang nomor tiga — menggelengkan kepala, lalu ia menghela napas.
„Bukan", sahutnja pelahan. ,Itu adalah dusun Ie_sia. Masih tudjuh atau delapan lie lagi untuk sampai di Lek-tiok-tong kita. Hanja dulu pangeran Tiong Ong pernah mendirikan kubu² tentaranja disini ........."
Ia menjebut „dulu” sedang sebenarnja baru berselang tiga tahun sedjak Pangeran Tiong Ong itu bersanggerah didusun tersebut. Pangeran itu adalah Lie Sioe Seng, panglima berdjasa dari Ang Sioe Tjoan, pemimpin utama dari pergerakan Thay Peng Thian Kok (Taiping). Lie Sioe Seng berkorban ditangan musuh.
Anak muda itu mengawasi terus kampung itu. Perhatiannja nampak lébih² tertarik. Ada pengaruh apa² jang seperti menariknja.
Ketika kemudian sang Batara Surya telah naik semakin tinggi, mereka sudah melewati dusun Ie-sia itu, dan mereka lantas berada disebuah djalan Ketjil lain dibelakang sebuah hutan bambu. Segera djuga terlihat didepan mereka beberapa orang tengah mendatangi kearah mereka.
„Lihat!” kata siguru sekolah sambil berseru. „Lihat djie.tian-hee, saudara dan isteriku telah datang menjambut !”
Pemuda itu agaknja girang tetapi segera ia berkata : „Sha-tjek, kau lupa ! Kenapa kau memanggil tian-hee kepadaku ?”
Orang tua itu melengak sedjenak, tapi segera ia sadar. ;,Tian-hee” itu adalah panggilan untuk putera radja. Lantas ia menjahut : ,Baiklah, Tjeng Lip hiantit ! Mari kita pergi kepada mereka itu !” Sekarang ia merubah panggilan mendjadi ,,hian-tit” (keponakan).
Keduanja lantas mempertjepat tindakan mereka. Baru mereka melangkah empat tindak, mereka dibikin terperandjat oleh teriakan „Ajo!” jang datang dari atas sebuah ‘pohon disamping mereka ― teriakan seorang botjah, menjusul mana dari tjabang pohon itu terlihat djatuhnja satu tubuh jang ketjil !
Dalam keadaan seperti itu, sianak muda tidak mendjadi gugup. Segera ia lompat madju, untuk menadahi tubuh ketjil itu, akan tetapi, ia telah terlambat...... sedang siorang tua bukan main kagetnja, hingga wadjahnja mendjadi putjat.
Botjah itu djatuh tetapi tidak terbanting ditanah, walaupun djatuhnja dengan kepala dibawah ; tepat hampir ia tiba ditanah, ia berdjumpalitan, maka ia tiba dengan berdiri atas kedua kakinja. Hanja, begitu lekas kakinja itu mengindjak tanah, kembali. tubuhnja mentjelat berdjumpalitan lagi, meleset bagaikan busur kira² dua tumbak djauhnja !
Sipemuda berdiri melongo, Ia tidak menjangka, didesa seperti itu ada botjah demikian enteng dan gesit tubuhnja seperti anak itu.
Botjah itu nakal sekali. Ia ajun kedua tangannja seraja berseru: „Entjek Ouw, kau sambut ini!” Lalu dua butir batu jang: berbentuk persegi tiga, menjambar kearah muka sianak muda itu jang dipanggil entjek (paman).
Sedetik itu, sianak muda telah insaf bahwa botjah itu bukan sembarang botjah. Ia njata mengerti baik iimu menimpuk batu hoei-hong-tjio, walaupun benar, disebabkan usianja jang masih muda sekali, tenaganja masih kurang. Tepat intjarannja itu kepada kedua tempilingan, Iapun lantas ingin menundjukkan sesuatu. Ketika kedua batu tiba, ia tidak berkelit, tidak menangkis, ia hanja djusteru menjambut batu itu dengan tangan kanannja. „Hendak aku kembalikan ini kepadamu, aku kuatir kau tak sanggup menerimanja !” katanja tertawa. „Baiklah, aku menukar dengan benda lain !” Ia lempar kedua batu itu, terus ia membungkuk mendjumput sebatang kaju kering jang ketjil, jang terus ia timpukkan kearah botjah itu
Bagaikan busur, kaju kering itu meleset kepada sibotjah. Hampir ia gagal berkelit, sebab, pesat sekali kaju itu melewati samping kupingnja, hingga ia dengar suara „Swing !” Tentu sadja ia mendjadi kagum sekali.
Waktu itu tibalah rombongan penjambut, jang terdiri dari lima orang. Satu diantaranja, jang umurnja tigapuluh lebih, lantas tegur sibotjah: „Kenapa kau main gila, Tjouw Po ? Kenapa kau tidak lekas memberi hormat kepada tjek-kong dan Ouw Siok_hoe ini?”
Sisasterawan tua itu sudah lantas tertawa tar.kekek² ? tangannja mengurut² kumisnja,
„Oh, Lao-djie, kiranja dialah kau punja Tjouw Po!” katanja. „Aku tidak sangka bahwa kaum keluarga Sie kita bisa mempunjai satu djago tjilik seperti dia ! Bukankah dia mengikuti entah seorang siangkong siapa ? Kapan dia pulang ?”
Siangkong adalah panggilan untuk seorang (muda) ter- pandang.
Orang jang dipanggil „lao-djie” itu — jang kedua — mengerutkan keningnja,
„Dia tjilik orangnja tetapi besar njalinja !” ja menjahut. „Dia pergi mendadak, pulang tiba², mirip dengan seekor kuda hutan ! Sha-tjek djarang ada dirumah, maka itu kau tidak tahu tabiatnja !”
Orang tua itu mengangguk² seraja tertawa.
„Tidak apa, biarlah!” katanja. „Dia gemar silat, sekarang Ouw Hiantit pulang, biarlah dia diberi sesuatu petundjuk !”
Ia berkata begitu tanpa melihat bagaimana botjah nakal jang dipanggil Tjouw Po itu sudah menggoda si Ouw Hiantit — keponakan she Ouw itu !
I
DAPAT BAGIANNJA!
Propinsi Kangsouw jang bertanah datar dan subur, tak ada gunung jang tingginja lebih daripada tiga atau empatratus meter, ketjuali gunung= Tjie Kim San, Tjeng Liang San dan Tjiat Hee San.
3
Disana masih ada satu lagi ialah gununge Mauw San, jang letaknja di Barat ketjamatan Tan-yang atau „Utara” ketjamatan Piauw-yang. Disekitarnja, luasnja gunung ini dua-tigaratus lie. Tidak ada tempat jang kenamaan disini, ketjuali untuk kesunjiannja, maka djuga disitu kaum beribadat Too Kauw gemar mendirikan kuil²nja, karena itu maka ada penganut²nja, prija dan wanita, jang suka membuat kundjungan ibadatnja. Dan ada pula bekas pembesar negeri, hartawan atau sasterawan, jang suka adjak anak-isterinja mengasingkan diri digunung: jang sunji itu. Untuk permulaan tjeri-tera kita ini, kita bukan hendak menutur perihal golongan beribadat atau pengemar kesunjian itu, hanja tentang silent tua jang. melarat jang bernama Kwee Liok.
Sudah hampir tudjuhpuluh tahun usia orang she Kwee itu. Seumur hidupnja ia tinggal di Mauw San, Ia tidak punja sawah atau kebun. Untuk hidupnja serumah-tangga, ia mengandal pada kepandaiannja merawat pohon bunga dan memelihara ikan emas. Demikian sampai pada usianja jang tinggi kini. Ia mempunjai seorang anak lelaki, jang dinamakan Ho Siang, jang umurnja kira² tigapuluh tahun, hidupnja sebagai pekerdjatetap pada Ong Kamseng di Thian-ong-sie di Barat gunung Mauw San itu.
Sebagai madjikan, Ong Kam-seng itu pandai sekali mengetik papan-hitungnja. Tidak pernah ia mengidjinkan pegawainja berkesempatan ajal²an menghisap rokok. Gadji jang diberikannja katanja besar, tetapi kalau orang dahar lebih daripada semangkok, dipotong, atau djika orang mentjari kaju kurang, dipotong djuga gadjinja. Dan dia main potong gadji djuga umpama kata orang kena indjak sepohon sajurnja atau mematahkan sebatang padinja. Maka itu, setiap waktu berhitungan, diharian Toan-ngo, Tiong Tjioe atau achir tahun, kelebihan gadji pegawainja tjuma beberapa ratus boen sadja, tak tjukup untuk membeli pakaian.
Demikian selama belasan tahun, Kwee Ho Siang „membakti” kepada Ong Kam-seng. Djarang dia pulang kerumahnja, hingga isterinja, Gouw A Hong serta anaknja umur dua tahun mesti mengandal pada Kwee Liok didusun Peng-san-tjoen, hidup bersama sebagai tukang tanam bunga dan pelihara ikan emas.
A. Hong adalah mantunja Kwee Liok. Umurnja baru duapuluh-tiga atau duapuluh-empat tahun, romannja tjantik. Karena pernikahan diantara sanak famili perhubungan mendjadi bertambah erat ;
Demikian keluarga ini hidup rukun dan rela dengan kemelaratannja, sampai pada suatu malam, dari gubuk mereka jang tua dan rusak, dimana ada dua ruang kamar, terdengar tangisan sedih.
A. Hong menangis dipembaringannja sambil meéng-usap² anaknja jang mau tidur, dan Kwee Liok ber-linang² air mata dikursi bututnja jang terbuat dari bambu.
Selang sekian lama, Kwee Liok menghela napas.
„Tidak ada djalan lain, besok aku akan pergi pula kepada Kok Toalooya untuk memohon bantuannja !” katanja kemudian, dengan lagu suaranja tetap.
A Hong tidak bilang suatu apa, hanja sesaat kemudian, ia melirik mertuanja itu.
Kwee Liok meng-geleng? kepala, lalu ia berbangkit, Ia menghampiri djendela, untuk memasang kupingnja. Rupanja ingin ia memperoleh kepastian, bahwa tidak ada orang jang mengintai mereka, Kemudian, dengan sangat pelahan, ia berbitjara pada njonja mantunja itu: „A Hong, bukannja aku linglung”, demikian katanja, „bukannja sengadja aku ‘tidak ambil air jang dekat hanja hendak ambil air jang djauh. Harus kau ketahui, meskipun Lioe Siangkong itu baik hatinja dan suka menolong sesamanja, dia tetap orang asal kampung lain. Dengan kita dia bukannja sanak famili, bukannja kenalan. Perkara ada begini besar, mungkin mengenai keselamatan djiwa, mana aku dapat membuka mulut terhadapnja ? Dengan Kok Toaleoya adalah soal lain, Dia adalah sesama penduduk sini, kita djuga kenal baik satu dengan lain, Kau tahu sendiri, apabila ia membuat pesta atau ada kematian, senantiasa ia panggil kita untuk membantu. Kau ingat sendiri tahun jang sudah, waktu Ho Siang gila djudi hingga ia berhutang orang empat tail perak, sehingga ia putus asa. Begitu ia pergi kepada Kok Toalooya, ia lantas ditolong”.
A Hong susut air–matanja.
„Aku hanja kuatir, perkara sekarang adalah perkara terlalu besar, bukannja perkara jang dapal diselesaikan dengan uang beberapa tail sadja ..... ” katanja tetap berduka.
„Bukankah aku telah bilang ?” potong siorang tua. „Besok aku pergi pada Kok Toalooya. Paling dulu aku akan minta dia pergi ketjamat untuk memberi djaminan agar Ho Siang ditahan diluar. Sesudah itu kita lihat bagaimana djalannja perkara nanti’. ,,Memang tidak ada halangannja entia (ajah) hendak minta bantuan Kok Toalooya itu”, kata pula sinjonja mantu, jang tidak berani membantah mertuanja, ,,hanja orang bilang, seumurnja Kok Toalooya itu belum pernah pergi kekantor pembesar negeri, maka harus disangsikan apa ia sudi untuk urusan kita ini menghadap tjamat ? Bukankah entia sendiri jang bilang, tanpa uang djangan harap dapat memasuki kantor negeri. Umpamanja Kok Toalooya suka pergi, tetapi kita tidak membekali uang, dapatkah urusan mendjadi beres ?”
Pertanjaan ini membuat Kwee Liok tak dapat membuka mulutnja. Sekian lama ia berdiam.
,,Biar bagaimana, Ho Siang toh penasaran !” katanja kemudian sengit. ,,Mustahil bapak tjamat tidak mengasihani kita ? Bagaimana dengan keadilan ?"
A Hong menghela napas.
,,Djikalau ada keadilan”, katanja, “mustahil Ho Siang dituduh mentjuri melulu disebabkan sepasang giwang jang tak ketahuan dari mana datangnja ?”
Kwee Liok berdiam, ia pergi kepembaringan rebahkan dirinja.
Sang njonja mantu mengira mertuanja hendak tidur, ia padamkan api. Dalam keadaan gelap-gulita ia tungkuli kesedihannja.
Sekian lama telah lewat, tiba2 terdengar siorang tua itu: ,,Kau suruh aku pergi minta pertolongan Lioe Siangkong, apakah maksudmu ?” orang tua itu tanja. _
Mengenai ini, njonja mantu itu tidak dapat memberikan keterangan. Ia tjuma menuruti rasa hatinja sadja. Selama beberapa tahun pindah kekampung ini, orang she Lioe itu terbukti pemurah hatinja. Ia ingat, ketika empat tahun jang lalu untuk pertama kali Lioe Siangkong datang; dia hanja berdua bersama katjungnja itu jang umurnja tudjtth atau delapan tahun. Anehnja, rumah Siangkong itu senantiasa terawat bersih dan rapi. Dia tidak bertjotjok tanam, dia tidak berdagang, tetapi sering dia menjembelih ajam dan membeli arak. Hidupnja mewah. Tjuma sedjak beberapa bulan ini, dia suka bepergian dengan menunggang kuda, dan pulang sesudah sepuluh hari atau setengah bulan. Orang tidak tahu, dia pergi kemana dan apa jang dilakukannja ditempat kepergiannja itu. Dalam hal ini, orang bertjuriga. Karena ini, walaupun dia manis-budi, orang tidak berani mendekati dia untuk bersahabat. Dikampung itu ada satu penduduk lain bernama Ong Toa, Lima orang serumahnja hidup mengandal padanja sebagai tukang kereta. Pada suatu hari, Ong Toa sakit, Bukan sadja ia tidak punja uang untuk panggil tabib, bahkan andaikata tabib datang, iapun tidak uang guna membeli obat, Ia hampir mati. Tetangganja semua putus asa. Tiba? Loe Siangkong mengetahui adanja kesusahan Ong Toa itu. Dia lantas datang dan periksa sakitnja, terus dia naik kudanja pergi. sendiri kekota membeli obat. Peristiwa ini mengubah pandangan umum kepadanja.
Lice Siangkong waktu itu berumur kira² duapuluh tahun. Namanja ialah Lioe Hong Hoa.
Kedjadian lain lagi mengenai Gouw Sam Tjay, kakak sepupu A Hong. Sam Tjay berhutang padjak. Dia ditagih dengan paksa oleh penagih padjak, orangnja tjamat. Dia habis daja, sampai dia hendak djual anak perempuannja jang berumur empatbelas tahun, Hal ini diketahui Lioe Siangkong. Sam Tjay diberi uang lima tail, lantas padjaknja lunas, Dia tak usah berpisah dari anaknja.
Dua kedjadian lain tak dapat A Hong lupakan meski itu perkara ketjil......
Pada suatu hari, dua pemuda desa berkelahi, sampai mereka keluarkan patjul dan golok, hingga orang takut memisahkannja. Kebetulan Lioe Siangkong lewat, lantas dia menjelak sama tengah. Entah bagaimana, orang tidak dapat melihat tjaranja, hanja tahu² dua pemuda itu terpisah, sendjatanja kena dirampas Lioe Siangkong, dibuang ketumpukan djerami diladang gandum, Dua pemuda itu harus masuk nelusup kedalam tumpukan, untuk mendapatkan kembali sendjata mereka.
Kedjadian jang kedua terdjadi pada harian tahun baru jang baru lewat. Ho Siang mabuk arak, dia rebah ditengah djalan, Dia dilihat katjungnja Lioe Siangkong itu, jang bernama Tjouw Po, jang lantas menolong membawanja pulang dengan dipanggul seperti anak Ketjil, sambil sikatjung ter-tawa². Djadi tampak djelas katjung itu bertenaga besar sekali.
Kalau Lioe Siangkong atau katjungnja berbelandja, tidak pernah mereka menawar melit. Malah kalau mereka beli ikan atau bunga kepada Kwee Liok, mereka memudji dan membelinjapun setjara rojal, hingga Kwee Liok pudji dia murah hati
Karena semua itulah, A Hong djadi ingat pemuda-dermawan itu.
Ho Siang itu dituduh Ong Kam-seng mendjadi kontjo pendjahat jang bulan jang lalu merampok dirumah Touw Wan-gwee didalam kota. Buktinja ialah sepasang giwang gadis hartawan she Touw itu. Ho Siang segera ditangkap dan ditahan, Katanja perampok itu telah membunuh dua anggota keluarga Touw Wan-gwee, maka itu, perkara ini adalah perkara besar. Hanja, sesudah tiga hari setelah ditangkapnja Ho Siang, ada seorang budjang perempuan Ong Kam..seng datang pada A Hong, Katanja atas titah hartawan itu. Budjang itu memberitahukan, asal A Hong sendiri datang pada Ong Kam-seng, mungkin Ho Siang dibebaskan.
Bahwa Kwee Liok hendak minta bantuan Kok Toa, itupun ada sebabnja :
Kok Toalooya itu, namanja Ban Tjiong, adalah penduduk asli dari Mauw San. Dia banjak sawah-kebunnja, Dia bukan dari keluarga besar, tetapi dia berharta. Dia keluaran geredja Siauw Lim Sie di Hoolam dimana dia telah beladjar silat sepuluh tahun lamanja, Orang memberinja gelar Tjit-pou Twie Hoen, si"Pengedjar Ruh. Tadinja keluarganja tinggal dibatas luar gunung, Setelah dia: menjadi kepala keluarga, dia pindah kebatas dalam, Diapun mempunjai enam sahabat, jang mengerti silat seperti dia sendiri, Perhubungan mereka satu dengan lain erat, hingga sering mereka tinggal bersama dirumahnja. Karenanja, orang menamakan mereka Mauw San Tjit Yoe, artinja, Tudjuh Sahabat dari Mauw San.
Tudjuh sahabat itu sama pendapatnja, ialah tak mengharapkan pangkat, melainkan berdjaga diri. Ketika itu gerakan Thay Peng Thian Kok untuk merobohkan pemerintah Boan sedang memuntjak. Banjak djago Rimba Persilatan pergi kepada Ang Sioe Tjoan, Ada djuga orang kosen, jang menghamba pada pemerintah Boan, atau kerdja dikantor negeri, atau djadi piauwsoe, ialah pelindung atau pengantar angkutan. Tapi Tjit Yoe tidak tertarik akan itu semua. Mereka kata, sebagai rakjat djelata, mereka tidak menentang pembesar negeri; mereka punja anak-isteri, merekapun segan berontak. Tapi disebelah itu, sebagai putera² Han, mereka sungkan mendjual djiwa untuk bangsa Boan. Djadi mereka mau hidup untuk makan pakai sadja. Ini djuga sebabnja mengapa mereka tinggal digunung jang sunji dan tenang itu......
Kok Ban Tjiong paling tua, diapun berumah-tangga, maka dia mendjadi toako, kakak tertua, Dia pandang dirinja sebagai derma. Wan, maka kalau anak buahnja ajal menjerahkan hasil panen, dia tidak mendesak. Kalau ada jang membajar kurang, dia biarkan dja. Untuk satu-dua kali, dia djuga rela la uang. Diapun membajar padjak tetapi dia tidak sudi pergi kekantor, tak mau dia menghadap pembesar negeri, Dia pandang dirinja sebagai rakjat hutan .....
Untuk tempat berkumpulnja, Ban Tjiong dirikan sebuah villa dilereng gunung Mauw San, Didepan pin pekarangan digantung merek dengan empat huruf „Toh Goan Siauw Tiok”, artinja Taman Bunga Toh jang ketjil. Dia tidak membuatnja mentereng. Penduduk setempatpun sedikit sekali jang tahu bahwa dia mengerti ilmu silat. Maka orang lebih kenal dia sebagai dermawan, begitupun tentang beberapa sahabatnja itu.
Kwee Liok adalah orang biasa. Dia panggil toalooya (looya) kepada Ban Tjiong. Dia djuga memanggil looya kepada tiekoan (tjamat), Maka anggapannja, kalau looya dihadapkan kepada looya, ada harapan perkara anaknja dibebaskan, Karena ini, meski Ban Tjiong tinggal ditempat lebih djauh, dia ingin pergi pada Ban Tjiong itu. Lioe Siangkong itu benar tinggalnja lebih dekat tetapi ia tjuma siangkong. Bagaimanapun siangkong dapat melawan looya ? Apa jang dapat dilakukan seorang siangkong ?
A Hong berpendapat, karena suaminja difitnah, suami itu tjuma dapat ditolong dengan pengaruh uang. Berapa Ban Tjiong dapat: menolong dengan uangnja ? Apakah itu ada artinja ? Tidak demikian dengan Lioe Siangkong itu, jang gagah. Ia pertjaja, Ho Siang dapat ditolong dengan kegagahan.
Ketika Kwee Liok tanja tegas? njonja mantunja mengapa dia lebih setudju Lioe Siang-kong, A Hong utarakan pendapatnja itu. Mendengar itu, kaget ini orang desa jang sederhana.
„He A Hong, kemana pikiranmu ?” dia tegur njonja mantu itu. Kau baru berumur duapuluh lebih, apa kau sudah bosan hidup ? Kau tahu, aku situabangka lebih mengerti daripada kau ! Untukmu, tjukup asal kau rawat baik® si Mauw Mauw !”
Mauw Mauw itu adalah tjutju Kwee Liok ini.
A Hong tidak berani melawan mertuanja, ia tutup mulut.
Esok harinja pagi’, Kwee Liok pergi mendaki bukit. Mulanja ia pergi kerumah Ban Tjiong. Disana ia mendapat keterangan Ban Tjiong sedang berada divillanja, jaitu Taman Bunga Toh itu. Ia lantas pergi ketaman jang ketjil itu. Disini ia diberitahukan, bahwa baru nanti tengah-hari pulang. Da hendak pergi menjusul kekuil, tapi dia ditjegah orangnja Ban Tjiong, jang mengatakan, madjikan itu pergi main tjatur dan tak dapat diganggu. Terpaksa dia. berdiri didepan pintu taman, untuk menantikan pulangnja Ban Tjiong.
Dengan sangat susah ia mesti tungkuli diri karena ia tak sabaran. Sementara itu, dirumahnja terdjadi perubahan ......
Pagi itu habis dahar, A Hong tukar air djambangannja ia pelihara ikannja, Tiba² ia didatangi dua orang polisi om mentjari Kwee Liok. Dua hamba negeri ini bitjara sambil mendeliki mata dan perongoskan wadjah. Katanja besok Ho Siang hendak dibawa kekota Kang-leng. Kalau Kwee Liok ingin menemui anaknja, dia mesti lekas pergi kekantor tjamat, dia mesti pergi hari itu djuga. Sambil bitjara, mereka ini terus tatap Wwadjah A Hong, lalu mereka mengotjeh tidak keruan, Disaat? mereka hendak berlalu, Mereka mirita apa jang mereka namakan ,,uang sepatu”, ialah ongkos djalan; waktu A Hong bilang tidak ada uang, mereka sambar dua ekor: ajam biang jang gemuk²!
A Hong mendjadi bingung sekali, walaupun ia tidak tahu pasti dua orang polisi itu omong dengan. sebenarnja atau tidak. Ta tidak dapat berpikir, sedang waktu itu mertuanja tidak ada dirumah. Ia lantas pergi pada Lie Djie-ma, tetangganja, untuk minta tetangga itu.
„Tidak ada djalan lain, baiklah kau pergi tjari Lioe Siangkong”, Djie-ma usulkan.
A Hong malu dan bersangsi, akan tetapi karena keadaan sangat mendesak, achirnja ia pergi djuga. Ketika ia sampai diluar pekarangan rumah Lioe Siangkong itu, ia merandek, ia berdiri diam dengan kesangsian.
„TJouw Po! Tjouw Po!” ia me-mangpil? achirnja, — Ia masih merasa malu. untuk lantjang memasuki pekarangan.
Sebentar sadja, Tjouw Po sikatjung itu muntjul.
„Kau tolongi aku bitjara dengan siangkongmu ......” ia berkata kepada katjung itu. Tetapi ia tetap bingung, iapun berkuatir, ia lantas sadja menangis. Maka itu, sambil menangis, ia tuturkan kesukarannja jang disebabkan oleh ditangkapnja Ho Siang, jang sekarang katanja hendak dibawa ke Kang_leng.
Belum habis A Hong menutur kepada Tjouw Po, Lie Djie-ma telah datang menjusul. Bersamanja ada seorang budjang perempuan dari Ong Kam-seng. Dibelakang mereka itu mengikuti_ sebuah djoli ketjil.
Berkatalah budjang Ong Kam-seng itu: „Njonja, mari turut
10 aku. Ibu jang sudah tua dari Ong Kam-seng telah mendengar perihal anakmu itu, Ia merasa kasihan, maka ia suruh aku membawa djoli untuk menjambut kau, buat antar kau kekota, supaja kau dapat pertemu dengan suamimu itu”.
A Hong heran dan bingung. Ia memang terpengaruh keras keinginannja untuk menemukan suaminja, Kemudian sibudjang perempuan setelah memberi keterangan, sudah mendesak padanja. „Lekas, lekasan !” demikian katanja. „Njonja mesti lekas pergi menemui, bila kau ajal, nanti kau tidak keburu pulang hari ini djuga !”
Dalam kebingungan A Hong naik djoli. Ia telah mengambil anaknja dari tangan Djie-ma. Ia berangkat tanpa tunggu kembalinja. Tjouw Po, jang masuk kedalam untuk memberi kabar pada Lioe Siangkong, madjikannja.
Tjouw Po tidak dengar djelas keterangan A Hong, sebab orang bitjara dengan tjepat sekali dan sambil menangis, maka ia lantas masuk, untuk menemukan madjikannja. Ketika kemudian ia keluar pula bersama madjikannja itu, A Hong sudah tak ada. Djoli telah dibawa pergi dengan tjepat.
„Mari!” mengadjak Lioe Siangkong kepada katjungnja.
Mereka pergi kerumah Kwee Liok. Tentu sadja mereka tiba dirumah jang kosong. Mereka Jantas tjari Lie Djie-ma, untuk minta keterangan. Tetangga ini beritahukan apa jang diketahuinja. Kemudian mereka tjoba tanja beberapa tetangga lainnja, jang keterangannja tidak beda banjak.
Sementara itu, sang waktu telah lewat sekian lama.
Lioe Hong Hoa mengerutkan kening. Kalau tadi romannja jang tjakap-ganteng menundjuk ketenangan, sekarang tampak ada sinar merah, tanda dari kemurkaannja. Ia sudah lantas berpikir keras. Mulanja ia ingin menitah Tjouw Po menjiapkan kuda, untuk susul djoli jang membawa A Hong itu, atau sedetik kemudian, ia ubah pikirannja.
Dirumah Kwee Liok itu, ia minta keterangan beberapa penduduk perihal Touw Wan-gwee dan Ong Kam-seng. Wan-gwee itu tinggal djauh didalam kota, tak banjak jang tahu tentang dia. Siorang she Ong tinggal di Thian-ong-sie. Tentang dia banjak jang dapat memberikan keterangan. Pertanjaan Hong Hoa teliti sekali.
Sebentar kemudian, Kwee Liok pulang dari rumah Kok Ban Tjiong, Ia pulang dengan ter-buru², la membawa uang sepuluh tail perak. Djadi ia tidak pergi setjara sia² belaka, Ia heran mendapatkan Lioe Hong Hoa berada dirumahnja bersama banjak tetangganja. Ia mendjadi terlebih heran tak melihat njonja mantunja serta tjutjunja.
,,Dimana A Hong dan Mauw Mauw ?” tanjanja.
,,Mereka pergi untuk menemui anakmu, jang katanja hendak dibawa ke Kangleng”, djawab seseorang, jang pun mendjelaskan— bagaimana perginja mantu dan tjutju itu.
,,Njonja tua itu berhati sangat baik”, Kwee Liok memudji ibu Ong Kam-seng apabila ia sudah dengar keterangan tetangganja itu.
,,Sekarang baik kau lekas menjusul kekota untuk menemukan 7 anakmu”, kata seorang tetangga lain.
,,Lebih baik kau tunggu sadja”, seorang lain memberi nasehat. Oleh karena ia sudah mempunjai uang, Kwee Liok pikir lebih baik ia pergi kekota, Ia harap dapat bertemu dengan orang jang suka membantu padanja, agar anaknja diberi kembali kemerdekaannja. Ia anggap lebih tjepat lebih baik untuk menolong anaknja itu. Hanja ia berduka tak ada kereta untuk dipakainja kekota.
Selama itu Lioe Hong Hoa duduk diam sadja mendengar orang bitjara. Ia agaknja lagi berpikir; waktu kemudian dengar putusan Kwee Liok itu, baru ia berbangkit.
,,Akur, kau memang harus pergi!” katanja, ,,Tjouw Po lagi sempat, biar dia menunggang kuda mengantarkan kau kekota. Sekarang kau berkemaslah dia menjamper kau. Saudara², sekarang silakan kamu tinggalkan tempat ini, tunggu sampai empé Kwee pulang, baru kamu berkumpul pula akan dengar bagaimana djalannja urusan”.
Se-olah² dia wakilnja Kwee Liok, Hong Hoa minta tetangga*nja pulang. Ia sendiri lantas berdjalan pergi, guna memberikan titahnja kepada Tjouw Po, katjungnja.
Kwee Liok tidak dapat memperhatikan sikap Lioe Siangkong itu. Ia terbenam dalam pikiran katjau. Ia tidak usah menanti lama kembalinja Hong Hoa bersama Tjouw Po dengan Tjouw Po menuntun kudanja jang berbulu putih bagaikan saldju.
,,Sekarang lekaslah berangkat !” Lioe Siangkong mendesak. Kwee Liok hendak menguntji dulu pintu rumahnja.
,,Tak usah !” kata siangkong itu, hingga Kwee Liok mendjadi heran. „Bukankah siangkong hendak mewakilkan aku mendjaga rumahku ?” tanjanja kemudian mengawasi. „Harap siangkong djangan tertawakan aku, kami orang melarat, dirumahku ini sepasang sumpitpun tidak ada ! . . . . . .”
Hong Hoa tertawa, tangannja di-gojang²kan.
„Empé, pergilah, djangan kuatirkan apa djuga”, katanja. „Barang apa djuga jang hilang dari rumahmu, akan aku ganti! Aku tanggung, tidak ada serupa djuga jang kurang!” Dan tanpa menunggu djawaban, ia mengedipi mata katjungnja, jang ia pesan : „Ingat ! Lekas pergi, lekas pulang!”
Tjouw Po mengerti. Tanpa bilang suatu apa, ia angkat tubuhnja siempé, untuk dinaikkan kepunggung kuda. Ia sendiri lompat menjusul, duduk dibelakang empé itu. Maka setelah ia menarik tali les, kuda putih itu lantas geraki keempat kakinja.
Sedjak itu, penduduk desa Peng-san-tjun ini tak pernah melihat Kwee Liok pula, malah A Hong, njonja mantunja, berikut Mauw Mauw, tjutjunja, turut lenjap seperti ditelan gelombang laut, tidak ada bekas²nja lagi. Begitu djuga dengan Ho Siang, anak jang naas jang difitnah Ong Kam-seng itu . . . . . .
Tengah malam itu dirumah Lioe Hong Hoa jang terdiri dari tiga ruangan dan terawat baik, telah terbit bahaja api. Api telah memusnakan seluruhnja, hingga esok harinja tinggal reruntuh dan abu sadja. Lioe Siangkong lenjap tidak keruan kemana, demikian djuga kuda merah api dari Tjouw Po.
Penduduk kampung mendjadi keheran-heranan.
Tapi itu belum semua.
Siangnja datang orang dari Thian.ong-sie, jang membawa tjerita bahwa tadi malam djam tiga, rumah Ong Kam-seng sudah didatangi dua tetamu malam jang tidak diundang. Mereka itu bukan sadja telah bawa kabur semua uang emas dan uang perak berikut barang² permata, malah djuga seluruh anggota keluarga Ong jang berdjumlah empat djiwa prija dan wanita telah terbinasa, tidak terketjuali satu budjang perempuan jang sangat dipertjaja, jang majatnja kedapatan diruang dapur.
Semua orang heran hingga mereka mendjadi bingung, Satu pada lain mereka saling bertanja, didalam hatinja, mereka men-duga².
Lalu tengah harinja, waktu baru sadja orang habis bersantap terdjadilah hal jang membuat mereka berkuatir, hati mereka kebat-kebit. Belasan orang polisi dari ketjamatan datang dengan diantar ketua kampung dan polisi desa, dengan lengkap golok dan tombak mereka, seperti hendak menghadapi musuh besar. Dengan serta-merta mereka kurung rumah Kwee Liok. Mereka melakukan penggeledahan hebat kepada rumah jang tak berperabotan itu. Kemudian, ketika mereka hendak berangkat pergi, mereka tangkap Lie Djie-ma tetangga kiri dan Lim Seng It tetangga kanan empé Kwee. Dua orang polisi ditinggalkan untuk mendjaga rumah kosong itu.
Semua penduduk mendjadi gempar.
Adalah kemudian, sesudah datang pelbagai berita dari sana-sini dan kedua orang polisi itu jang telah minum arak dan hatinja gembira, suka berbitjara, baru diketahui sebab-musabab dari peristiwa hebat itu. Orang semua mendjadi seperti baru sadar dari mimpinja jang sedap .........
Duduknja hal adalah sebagai berikut:
Tahun jang sudah, Ong Kam-seng sewaktu djalan² kedesa Pengsan-tjun telah dapat melihat A Hong jang manis. Ia mendjadi tertarik hatinja, dan ingin mempunjai njonja itu, untuk didjadikan gundiknja jang ke-tudjuh. Lantas ia menggunakan siasat. Ho Siang diandjurkan, dibudjuk, untuk berdjudi. Dia lalu diakali, untuk membikin dia kalah terus-terusan. Lalu dengan ber-pura² bermurah hati, Ong Kam-seng memberi pindjaman uang. Dia diandjurkan untuk merebut pulang kekalahannja itu. Dengan demikian Ho Siang djadi berhutang hingga lima tail perak. Kalau seumur hidupnja ia bekerdja, tidak nanti Ho Siang dapat membajar pulang pindjaman itu. Sampai disitu, Ong Kam-seng menagih. Ia ingin bikin Ho Siang kelabakan, sesudah mana ia hendak suruh orang datang sama tengah, supaja dia suka dibikin lunas. Gagal usahanja Ong Kam-seng ini. Diluar dugaannja, Kok Ban Tjong suka menolong Ho Siang. Tentu sekali ia mendjadi tidak puas, ia mendjadi penasaran, maka ia asah pula otaknja. Banjak waktu telah lewat, sampai datang suatu ketika jang baik.
Pada bulan jang lalu, Touw Wan-gwee jang tinggal didalam kota, ketjurian. Touw Wan-gwee itu adalah mertuanja. Ia dapat membudjuk mertuanja itu untuk masukkan dalam tjatatan barang jang hilang, sepasang giwang kepunjaan isterinja; lalu ia menuduh Kwee Ho Siang. Tentu sekali, ia telah berhubungan dengan tiekoan, supaja tiekoan segera melakukan penangkapan. Ho Siang dituduh mendjadi kontjo pendjahat. Dia malah mesti dibawa kekota Kang-feng. Dilain pihak, dengan pakai nama ibunja, ia suruh budjang képertjajaannja membawa djoli, untuk sambut A Hong, untuk A Hong tengok suaminja, katanja. Sebenarnja, simanis itu langsung dibawa kerumahnja.
Walaupun ia melarat, A Hong pegang teguh kesutjian dirinja. Ia menghormati dan mentjintai suaminja. Ia tolak kehendak Ong Kam-seng dan tidak menghiraukan djandji muluk². Malam itu, Ong Kam-seng kewalahan djuga, hingga ia tidak bisa lantas dapat akal untuk mendapatkan njonja jang dirindui itu. Djusteru itu turunlah marahbentjana dari langit .........
Dengan tiba² muntjullah seorang pemuda jang mukanja putih dan dandan sebagai mahasiswa, bersama katjungnja. Mereka itu turun dari atas genting dan memasuki djendela dengan tjara paksa. Tanpa banjak susah, mereka bunuh Ong ‘Kam-seng serumah-tangga, lantas mereka bawa lari A Hong serta analnja.
Ketika itu dirumah Ong Kam-seng ada kakak-misannja, jang bertenaga besar, malah dia seorang boe-sioetjay. Dengan goloknja, dia membuat perlawanan. Anehnja, dia kena dirobohkan botjah itu, terus dikempit, dibawa naik keatas sebuah pohon dimana dia diikat ditjabang jang paling tinggi. Sampai besoknja dengan banjak susah, baru orang dapat menolong dia.
Diantara orang²nja Ong Kam-seng, ada jang mengenali pemuda muka putih itu serta katjungnja, tetapi mereka setudju perbuatan kedua orang itu. Mereka tutup mulut. Tidak ada satu jang sudi memberikan keterangan, hingga perkara mendjadi gelap. Penduduk Peng-san-tjoen, jang pun bisa menduga, semua djuga tak ada jang mau membuka rahasia. Sebaliknja, mereka puas dan bersjukur.
Tiga hari kemudian, dari kota datang seorang pembesar polisi bersama tiga puluh serdadu. Mereka datang tengah malam buta. Mereka datangi rumah Lioe Hong Hoa, katanja untuk menawan pendjahat besar. Tapi mereka menubruk tempat kosong. Djangan kata Lioe Hong Hoa dan katjungnja, dirumahnja pun tidak ada, tinggal bekasnja.
Setelah ini, penduduk lantas dapat tahu bahwa djuga didalam kota, Lioe Siangkong sudah bekerdja, ialah membinasakan Touw Wan-gwee sekeluarga. Wan-gwee itu memang terkenal sebagai lintah darat dan pemeras. Habis membunuh keluarga Touw, jang lutju, Lioe Siangkong pergi kegedung tjamat dimana ia mengutungi kuntjir tjamat, hingga tjamat itu malu untuk muntjul dikantornja !
Sebenarnja, Ong Kam-seng sudah pesan dua orang polisi jang membawa Ho Siang ke Kangleng, untuk membinasakan Ho Siang ditengah djalan. Apa mau Tjouw Po telah dapat susul mereka ditelaga Tjek San Ouw. Ketika mereka hendak turun tangan, Tjouw Po lantas hadjar mereka dengan panah-tangan, hingga keduanja terbinasa. Diwaktu angkat kaki, dengan mengadjak Ho Siang, Tjouw Po tinggalkan kartjis nama dengan tertjetak nama Lioe Hong Hoa.
Tak usah diterangkan lagi, bahwa semua itu merupakan kedjadian-kedjadian jang sangat menggemparkan. Kabar beritanja segera tersiar kesegala pendjuru, sampai Mauw San Tjit Yoe, tudjuh sahabat dari Mau San jang berdiam di villa Taman Bunga Toh digunung Mauw San, mendapat dengar djuga.
Demikian pada suatu malam, di villanja itu, Kok Ban Tjiong membitjarakan peristiwa jang menggemparkan itu, jang terdjadi belasan hari jang lalu, bersama dua sahabatnja, atau saudara angkatnja, jaitu Im-yang-kiam Tie Tiauw Lan si Pedang Imyang, adik jang ketiga, dan Ang Soe Sioe, adiknja jang kelima, jang orang juluki Say Phoa An, karena romannja jang tjakap melebihi Phoa An, itu prija tjakap-ganteng di djaman dulu. Ketika itu mereka pasang omong sambil menenggak arak kao-liang jang kesohor, hingga sedikitnja pengaruh air keras itu telah bekerdja diotak mereka .....
Menurut Ang Soe Sioe, perbuatan Lioe Hong Hoa itu sangat memuaskan. Dengan mengadjak pergi Kwee Liok sekeluarga, pertolongan itu sempurna sekali, tidak setengah².
Tie Tiauw Lan, jang usianja lebih landjut, jang perangainja halus, berkata: Orang she Lioe itu bertindak terlalu telengas. A Hong benar telah diperdajai Ong Kam-seng, akan tetapi dia belum sampai ditjemarkan kehormatannja, dan Kwee Ho Siang djuga tidak mati. Kenapa Ong Kam-seng mesti dibunuh serumah tangganja ? Kenapa Touw Wan-gwee djuga mesti dibinasakan sekeluarga ? Perbuatan itu bertentangan dengan hukum Tuhan.....
Anggapan Kok Ban Tjiong tidak beda djauh dari anggapan Tiauw Lan itu. Iapun menganggap adalah tidak sempurna untuk membinasakan dua orang polisi jang mengantarkan Ho Siang itu. Sambil berkata demikian, ia tjaplok sepotong daging. Ia menambahkan ; „Kalau orang ditolong dengan dibawa lari, tidakkah itu sudah tjukup ? Kenapa si oppas sampai mestj dibinasakan ? Orang she Lioe itu terang seorang sahabat baru dalam kalangan Rimba Hidjau, ia terlalu sembrono, Dengan perbuatannja itu, ia membuat urusan mendjadi hebat. Apakah kau kira pembesar seatasan nanti mau sudah sadja ? Kalau ia ditjari setjara keras, achirnja mesti ia masuk kedalam djaring ......”
„Sebenarnja ia dari kalangan mana ?” tanja Ang Soe Sioe. „Apakah toako tidak pernah dengar tentang dia ?”
Kok Ban Tjiong hirup dulu araknja.
„Kau tahu sendiri, biasanja aku tidak pedulikan segala urusan diluaran”, sahutnja dengan pelahan. „Adalah djie-tee, ketika ia dapat tahu di Peng-san-tjoen ada seorang baru jang gerak-geriknja aneh, pernah ia mentjari tahu. Tetapi ia tidak peroleh kabar banjak. Dapat diduga orang she Lioe itu adalah pentjuri tetapi tak ketahuan sarangnja. Menurut keterangan beberapa tetangganja, selama beberapa tahun, ia tidak pernah kedatangan tetamu asal luar daerah. Baru pada musim dingin tahun jang baru lalu serta bulan ketiga tahun ini, dua orang dari Kim-tan datang mentjari padanja. Jang satu seorang guru sekolah, katanja she Sie, dan jang lainnja seorang anak muda jang dandan sebagai seorang tani, entah shenja. Djietee sendiri tidak hertemu dengan mereka itu. Tentu sekali, tak perlu kita ambil peduli kepada mereka itu. Kau lihat sadja nanti, ngo-tee. Ia bekerdja setjara terang*an, ia berani tantangi pembesar negeri, achirnja ia mesti merasakannja sendiri ......”
Tiauw Lan tenggak araknja, ia mengangguk ber-ulang².
Ang Soe Sioe mau pertjaja benarnja pandangan toakonja itu, karenanja, ia berkuatir djuga untuk keselamatan orang she Lioe itu jang sepakterdjangnja telah memberi kesan baik padanja.
Mereka ini berpandangan berlainan, mereka sebaliknja tidak hendak memikirkan bahwa pembesar negeri didjamannja itu, mengenai perkara sulit seperti itu, tidak nanti mau bekerdja sungguh². Sebaliknja, kalau ada kesempatannja, djusteru ada angin, mereka hendak membantu meniupi api, supaja mereka mendapat hasil. Sikap ini membuat Kok Ban Tjiong telah mendjadi sasaran intjaran atau intaian mereka, Orang she Kok ini bukan hartawan besar, tetapi untuk di Mauw San, ia tjukup menjolok mata, Karena ia tidak mempunjai sesuatu gelar atau pangkat, dan djuga tidak ada handai taulannja diantara pembesar negeri, ia adalah buah jang lezat untuk hamba? negeri setempat. Demikian ia telah di-amat²i. Peristiwa dua keluarga Ong dan Touw itu terlalu hebat untuk pembesar² jang bersangkutan, Sangat sebat dan sempurna Lioe Hong Hoa bekerdja. Sesudah Kwee Liok dibawa menjingkir, rumahnja sendiri dibakarnja habis, hingga tidak ada bekas²nja lagi jang dapat didjadikan bahan penjelidikan. Maka penguea mendjadi buntu.
Wedana dari Kangleng dan tjamat dari Kie-yong, terutama orang² polisi sebawahan mereka, sudah bekerdja beberapa hari, hasilnja tidak ada. Mereka sudah kewalahan, ditambah mereka djuga mendjadi menghadapi kesulitan. Waktu itu di-propinsi² Shoatang, Hoolam dan An-hoei, keamanan terganggu oleh huru-hara dari apa jang dinamakan pemberontak Liam-koen, sedang sepakterdjang Lioe Hong Hoa itu dipandang hebat. Biasanja pembesar negeri bentji berbarengpun takut terhadap perbuatan pendjahat jang main rampok, bakar dan bunuh. Maka djuga kedua pembesar itu didesak hampir setiap hari oleh atasan mereka, supaja perkara lekas dibikin terang.
Demikianlah, sesudah habis daja, sedang desakan tak henti²nja datang, orang mengambil djalan menangkap ikan diair keruh. Untuk ini, mereka tak peduli pertimbangan apa djuga. Tak apa mereka terdesak kalau karenanja, saku mereka bisa diisi padat, dan asal perkara dapat diredakan, Tindakan mereka ini adalah pemerasan !
Kok Ban Tjiong berharta, tetapi tanpa tulang punggung; diapun tengah diintjar, maka kali ini dia jang didjadikan sasaren. Memang ada djuga hal² jang bisa didjadikan alasan, ialah Ban Tjiong mengerti silat, anak²nja, lelaki dan perempuan pada mejakinkan ilmu itu. Siapa mengerti silat, ia mesti radjin melatih diri, dan diwaktu melatih, latihannja itu mesti diketahui orang. Demikian djuga sudah terdjadi dengan keluarga Kok ini. Disamping itu, saudara-angkat Ban Tjiong terdiri darj pelbagai golongan: ada imam, ada piauwsoe, ada guru silat, djuga jang membuka rumah perguruan atau menerima murid, sedang sahabat²nja asal lain tempat, terdiri dari matjam² orang, jang sering datang berkundjung. Didesa seperti itu, tidaklah itu semua menjolok mata ?
Maka datanglah suatu hari jang naas, walaupun sebenarnja itu adalah hari raja, ialah Toan Yang Tijiat, harian pesta Peh-tjoen untuk memperingati djasa Koet Goan. Seperti semua orang lain, Ban Tjiong pun merajakan hari besar itu, malah didua tempat berbareng : dirumahnja dan di Taman Bunga Toh. Dirumahnja diantara anggota² keluarga, ditaman bersama sahabat²nja,
Bagaikan turun dari langit, demikian bahaja telah datang menimpa, Dalam djumlah empatpuluh djiwa lebih, orang² polisi dan serdadu dari kewedanaan dan ketjamatan meluruk kekedua tempat Ban Tjiong itu.
Ketika itu Ban Tjiong berada divillanja. Ia lihat suasana buruk, ia biarkan orang melakukan penggeledahan. Ia tjuma bisa berlaku merendah, bitjara dengan manis terhadap hamba² negeri itu, sedang saudara²nja ia budjuk untuk bersabar, Ia anggap, dengan berlaku sabar dan menurut, urusan bisa dapat disudahi setjara gampang. Ia tahu, ia tidak bersalah.
Akan tetapi ia lagi diintjar. Sesudah penggeledahan, sehingga banjak perabotnja petjah-rusak dan tak sedikit jang dirampas, ia sendiri hendak dirantai, untuk digiring kekantor.
Hampir Say-Phoa-An Ang Soe Sioe tak dapat kendalikan diri lagi. Sjukur Tie Tiauw Lan jang sabar dan berpandangan djauh, bisa mentjegah ia dan membudjuk dia, Dikatakannja bahwa sesampai dikantor tjamat, sesudah berbitjara, pastilah kakaknja itu dapat pulang dengan tidak kurang suatu apa ......
Selagi divilla terdjadi penggeledahan dan penangkapan atas diri Ban Tjiong, dirumahnja keadaan terlebih katjau-balau. Bukankah disitu tidak ada tuan rumahnja dan jang ada semua keluarga peremppuan ? Maka kesudahannja hebat luar biasa.
Ibu Ban Tjiong sudah tua — usianja sudah delapanpuluh tahun — dan berpenjakitan. Ibu ini berdiam disebuah rumah ketjil terpisah dari rumah besar, Ia sedang rebah beristirahat ketika ia mendjadi kaget mendengar suara berisik hamba² negeri itu jang berlaku kasar dan galak, jang memaksa masuk menggeledah. Karena terlalu kaget, njonja tua itu djadi pingsan, hampir dia tak sadarkan diri lagi.
Kedjadian itu telah membuat meluap hawa amarah seorang anak muda, jang kebetulan berada dirumah itu dan menjaksikan kebiadaban kawanan hamba negeri itu. Memang ia sudah merasa tidak puas, Malah ia tidak setudju sikap lemah dari Ban Tjiong, jang terlalu mengutamakan keselamatan diri sendiri hingga kehormatan mereka seperti diabaikan. Maka itu, ia hendak memberikan adjaran.
Djie Ie adalah pemuda, itu, umurnja baru duapuluh-empat tahun. Ia murid Oey Yap Toodjin dari Boe Tong Pay. Disamping ilmu silat umum, ia mejakinkan Tjoe-see-tjiang, Tangan Merah, hingga tangannja liehay sekali. Ia adalah piauwtee, adik misan, dari Kok Ban Tjiong, dan dalam Mauw San Tjit Yoe, ia adalah saudara jang ketudjuh, jang termuda. Maka hubungan mereka mendjadi bertambah erat. Djie Ie tidak turut pesta di Taman Bunga Toh, karena itu ia ada dirumah.
Dalam murkanja, Djie Ie menghampiri Thio Tian-soe, pembesar polisi jang pegang pimpinan. Dia menegur dan minta supaja tiansoe itu kendalikan orang²nja.
Thio Tiansoe mengawasi pemuda itu, jang kurus-kering tubuhnja bagaikan sebatang kaju kering. Pakaiannja tidak mentereng, pakaian biasa sadja, ditambah romannja djuga tidak keren atau agung, hingga ia djadi tidak memandang sebelah mata. Ia berpaling untuk tidak ambil mumat teguran itu.
„Tuan, aku telah memberi peringatan kepadamu !“ Djie Ie ulangi tegurannja.
Dua pouwtauw, atau kepala polisi, dari Kangleng, memang tidak puas hatinja sebab njonja rumah, jaitu isteri Kok Ban Tjiong, tidak melakukan tugasnja sebagai njonja rumah jang ramah-tamah. Ia tidak menjuguhkan teh atau arak, mereka tidak disambut dengan baik, djuga mereka tidak dengar suara samar² bahwa mereka bakal diberi uang djalan, maka mereka gusar terhadap anak muda itu.
„He, botjah, kau tjampur-tangan urusan ini, kau tentunja bukan machluk baik² !“ demikian satu diantaranja membentak. „Mungkin kau sipendjahat dirumah dua keluarga Ong dan Touw ! Mari, kau turut kami kekantor“.
Habis membentak, diikuti rekannja, ia ulur tangannja, untuk tjekuk tangan Djie Ie, guna ditelikung kebelakang. Mereka bengis, mereka kerahkan tenaga mereka. Kalau orang lain jang diperlakukan demikian, pastilah tangannja sudah tertekuk patah. Tidak demikian dengan sianak muda.
„Kurang adjar !“ Ia berseru. Ia pun kerahkan dua tangannja, jang dikibaskan, hingga terlepaslah tjekalan kedua kepala polisi itu dan tubuh mereka terpental lima-enam tindak. Muka mereka mendjadi merah.
Pendjahat jang bernjali besar, kau berani melawan polisi ?” mereka membentak pula, Mereka tampak belum kapok. „Saudara², madju !“
Orang² polisi itu tak tahu Selatan. Atas titah itu, mereka merangsek, masing² dengan golok, thie-tjio, tombak dan rantai mereka, untuk menjerang dan membelenggu. Mereka djuga perdengarkan bentakan bengis.
Sengit Djie Ie menjaksikan semua itu. Sambil berdongko, ia papaki mereka. Ia gaet kaki mereka itu, sedang tangannja menjambar tombak jang ditikamkan kepadanja. Tidak ampun lagi, robohlah beberapa oppas jang madju didepan sedang tombaknja kena dirampas, tombak mana terus dipatahkan, dilemparkan kelantai !
Dua kepala polisi itu adalah Koei Soe dan Tio In Siang, keduanja tjutju-murti. dari Seng Tiat Hoet, pouwtauw kenamaan untuk wilajah Kanglam. Mereka djadi penasaran walaupun mereka tahu sekarang, orang tidak dapat dipandang enteng. Dihadapan orang banjak itu, mereka hendak djaga kehormatan mereka. Maka mereka lantas madju pula, kali ini dengan sendjatanja masing² In Siang dengan toja, Koei Soe dengan golok, satu didepan, satu dibelakang.
Djie Ie menangkis toja seraja teruskan mentjekalnja. Sambil menangkis, ia memutar tubuh untuk kelit golok. Lalu ia meneruskan menarik toja dengan keras, hingga In Siang terdjerumus, hampir sadja ia mendjadi korban golok rekannja.
Masih kedua musuh itu penasaran, mereka madju pula.
Djie Ie sebal untuk melajani mereka. Ia lompat kepada Thio Tian-soe, tangannja ia sambar tanpa pembesar polisi itu dapat berdaja, terus ia kerahkan tenaganja.
Tidak tempo lagi, pembesar itu men-djerit² seperti babi disembelih.
Sambil tjekal terus sipembesar, Djie Ie tuding kedua kepala polisi jang mengawasi dengan kesangsian, Dengan pemimpinnja terdjatuh ditangan lawan, mereka tidak berani lantjang bertindak.
„Kamu tentu tidak mau mengerti, begitu djuga aku !“ kata Djie Ie. „Sekarang djangan kamu pikir untuk lari, hendak aku kirim kamu pulang kerumah nenek mojangmu !“
„Djangan, djangan turun tangan !......“ berseru Thio Tiansoe dengan muka meringis saking kesakitan. Ia masih ditjekal keras². „Tuan, tuan, tolong lepaskan tanganmu ......“ ia minta kepada sianak muda. „Aku mohon djangan kau berpendapat sama tjupat sebagai kami. Bukankah kita masih dapat berdamai ? ......“
Djie Ie bersenjum tawar, tangannja dilondjorkan kedepan, hingga Thio Tiansoe, jang terlepas dari tjekalan, terhujung tubuhnja dan terus roboh terkerusuk. Ia kesakitan dan me-ringis². Sianak muda sendiri lompat kesebuah pohon dipintu kedua. Pohon itu ia sabet dengan tangan kanannja hingga putus seperti terpapas kampak, dan rubuhnja pohon mendatangkan suara keras dan berisik. Kawanan oppas mendjadi kaget dan lompat menjingkir, supaja tak sampai kena ditimpa.
Dengan sebat Djie Ie menjangga pohon jang rubuh itu, jang beratnja ratusan kati. Ia peluk pohon itu dan mengangkatnja, hingga orang tersengsam untuk kesebatan dan tenaganja jang besar itu; kemudian dengan sabar, ia menurunkannja kembali.
In Siang melengak, lidahnja diulur keluar.
„Sekarang tjoba kamu timbang²!“ Djie Ie berseru kepada kawanan polisi itu. „Tjoba pikir apakah kepala andjingmu sekuat pohon ini? Djikalau aku lajani kamu dengan menggunakan sendjata tadjam, itulah berlebihan, Maka hendak aku lawan kamu dengan tanganku jang kosong ini ! Hajo, siapa jang madju? Apa kau, dua tuan kepala polisi?“
Koei Soe simpan goloknja, ia lantas memberi hormat; pada wadjahnjapun tersungging senjum litjiknja.
„Djangan gusar, tuan“, katanja dengan pelahan. „Kami sedang mendjalankan titah, terpaksa kami berbuat begini. Sekarang tugas kami sudah selesai, kami mohon pamitan“. Ia lantas putar tubuhnja, tangannja memberi tanda : „Lekas berangkat ! Untuk apa kamu berdiam sadja? Eh, apakah kamu tidak dengar?“ Terus ia sendiri dengan adjak In Siang, ngelojor keluar
Thio Tian-soe mendjura ber-ulang² kepada Djie Ie, ia menghaturkan maaf.
„Kami sudah memeriksa, disini tidak ada orang djahat“, katanja, „sebentar kami pulang, akan kami ee ke hal jang sebenarnja. Aku tanggung segala apa beres!“
„Hm!“ Djie Ie perdengarkan edjekannja. Ta bukan hendak melawan negeri, karena itu, ia biarkan rombongan itu angkat kaki.
„Tjit-siok hebat kau punja Tjoe-see-tjiang!“ memudji anak² Ban Tijiong.
Djie Ie tjuma bersenjum.
„Sekarang kita mesti lekas bekerdja!“ katanja. Akan tetapi ia terlambat.
Thio Tian-soe dan rombongannja lari pulang untuk segera bekerdja. Ia beri laporan di-buat² kepada tjamat dari Kieyong, lalu tjamat ini melaporkan terlebih djauh pada wedana, untuk timpakan kesalahan pada Kok Ban Tjiong, jang dituduh sebagai pembunuh dari dua keluarga Ong dan Touw. Wedana, jaitu tiehoe, dari Kangleng, sudah lantas bertindak, Waktu suatu pasukan polisi dan tentara dikirim ke Peng-san-tjoen, Kok Ban Tjiong lantas diangkut, untuk ditahan.
Ban Tjiong tidak melawan, ia tjuma menjangkal dan mohon pertolongan.
„Biarlah aku pergi kekota untuk berurusan dengan tiekoan!“ kata Djie Ie.
„Djangan sembrono“, Tie Tiauw Lan mentjegah.
Njonja Kok djuga tidak setudju melawan dengan tjara keras. Ia ingin kirim orang jang bisa bitjara dengan tiekoan (tjamat), supaja suaminja dibebaskan.
Ang Soe Sioe muda dan keras hati, akan tetapi ia djuga berpendapat djangan lawan keras dengan keras.
„Mari kita tjoba tjari orang perantara“, berkata Mauw San Tjit Yoe jang nomor dua, ialah koan-tjoe atau imam dari kuil Hian Hie Koan di Kouw-sie-po. Ia bernama Lauw Hay Djiak. Aku punja sanak pernah ko-thio, seorang she Tong lepasan Siang-sie, „jang tinggal di Kangleng. Kalau ia suka membantu, harapannja besar“.
Pikiran ini disetudjui, lalu Hay Djiak diminta bekerdja.
Esok harinja Lauw Hay Djiak berangkat ke Kangleng, sedang Tjit Yoe jang ke-enam, jaitu Bek-Kie-lin Yo Kong Tie, si Kielin Hitam, dengan membekal uang, pergi kekantor tiekoan Kie-yong, guna mendajakan pembebasan Ban Tjiong dan supaja selama ditahan, kakak itu tidak mengalami gangguan.
Tapi kenaasan tidak berhenti sampai disitu. Ibu Ban Tjiong Jang sudah tua dan sakitan, jang baru sadja mengalami kaget, mendjadi sangat berduka karena puteranja dapat perkara dan ditahan. Ia tidak kuat menahan dukanja, dan sebelum sampai Ban Tjiong dapat ditolong, ia telah menutup mat. Karenanja, disamping repot dengan perkabungan, orang terus berdaja.
Mengesankan sekali adalah sikap semua tetangga Kok Ban Tjiong, dengan dikepalai beberapa orang. Mereka itu sudah memberikan bantuan, lantas dengan djalan menulis surat kepada pembesar negeri menuturkan, bahwa Kok Ban Tjiong adalah penduduk baik², dan benterokan dengan Thio Tiansoe disebabkan karena tiansoe itu bertindak terlalu keras, sampai karencnja ibu Ban Tjiong meninggal dunia.
Tiekoan dari Kie-yong telah terima uang seribu limaratus tail dari keluarga Kok, iapun lihat urusan djadi berubah hebat, maka ia menukar haluan. Ia suka meredakannja. Oleh karena ini, iapun djadi berlaku manis terhadap Tong Siang-sie.
Achirnja, sesudah ditahan duapuluh hari lebih dan menghabiskan uang tiga empat ribu tail perak, Ban Tjiong dapat pulang kerumahnja dengan merdeka. Ia masgul dan mendongkol tetapi ia terima nasib. Ia tidak mengambil sesuatu tindakan.
Tidak demikian dengan Djie Ie dan Ang Sioe. Hati. mereka ini mendjadi panas, Tanpa dapat ditjegah lagi, mereka mulai pula dengan tjara hidupnja didunia Kangouw.
Lauw Hay Djiak bersama Tie Tiauw Lan dan Jo Kong Tie tetap sependapat dengan Kok Ban Tjiong. Begitupun Thian Hioe, Tjit Yoe jang ke-empat. Mereka sesalkan dengan sangat Lioe Hong Hoa jang bertindak hebat didalam daerah mereka, Mereka penasaran dan djadi membentji, Berbareng dengan itu, mereka pun merasa, tjara hidup mereka sendiri menjolok mata, Tidak heran mereka menarik perhatian hamba² negeri. Karena ini, mereka pikir lebih djauh, haruslah mereka menjembunjikan diri.........
Kok Ban Tjiong lantas bertindak, Dia merusakkan ruang peranti beladjar silat dirumahnja dan divillanja, Untuk melatih diri, ia berkorban waktu dan tenaga dengan mengadjak anek² dan keponakannja pergi kebagian gunung jang sunji. Ia djuga hersikap tawar terhadap sahabat¢nja kaum kangouw jang berkundjung kerumahnja, hingga pergaulan mereka djadi tawar dan berkurang.
Ban Tjiong pertjaja, dengan tjara hidup baru ini, ia selandjutnja akan bebas dari gangguan lainnja, tetapi ia tidak sangka sama sekali, pada suatu hari, ia toh mesti sambut kundjungan suatu piauwsoe kenamaan dari Kanglam, ialah Hwee Poan-koan Tjian Tjeng Loen si Hakim Api, Piauwsoe itu telah datang untuk lilit batang lehernja dengan suatu perkara besar dan sukar. Dan sulitnja, tidak dapat ia elakkan Giri dari itu...............
II
Roboh !
Tjian ‘Tjeng Loen itu adalah orang asal kota Siong-kang. Mulai dari ajah besarnja, ia hidup sebagai piauwsce, dengan membuka piauwkiok, jaitu kantor jang mengurus pengangkutan barang dan perlindungan keselamatan orang jang pepergian dari satu kelain tempat. Sebagai turunan piauwsoe, dari ketjil ia sudah beladjar silat dibawah pimpinan ajahnja sendiri. Ia mengutamakan ilmu golok Tjo-pek-too. Belum sampai umur tigapuluh, ia sudah dapat nama. Isterinja adalah Tjioe-sie. Isteri itu sendiri bukan ahli silat, tetapi ia punja seorang engkoe atau ipar jang kesohor, ialah Kioe-bwee-ho Koan Kong Tiauw si Rase Ekor Sembilan, jang pandai menggunakan sendjata berapi. Kong Tiauw adalah guru silat kenamaan di kota Tjeelam, Shoatang. Kepada ipar itu Tjeng Loen beladjar tiga tahun lamanja hingga iapun dapat menggunakan sendjata api itu, ialah Siauw-hong Hoei-tan, peluru terbang jang dapat meledak, jang digunakannja dengan sebatang gendewa, Hebatnja, peluru api itu bukan hanja satu matjam, dan sulit untuk ditangkis dengan tameng atau karung terisi pasir.
Dengan mengandalkan dua rupa sendjatanja, belasan tahun sudah ia mendjadi piauwsoe dan pernah ia mendjeladjah Selatan dan Utara Sungai Besar serta wilajah propinsi Anhoei dan Shoa-tang, Selama itu, belum pernah ia nampak kegagalan. Maka, ia bukan sadja telah angkat nama Ban Seng Piauw Kiok, ia djuga memperoleh gelarnja, Hwee Poan-koan si Hakim Api. Tjatjad satu²nja, atau kelemahannja, ialah sangat bertabiat keras. Apa jang dikatakannja, apa jang dikehendakinja, mesti dilakukan, diudjudkan.
Sekarang, dalam usia empat-puluh tahun lebih, Tjeng Loen tetap masih mendjadi tjong-piauwtauw, piauwsoe utama, dari Ban Seng Kiok, Tjuma sekarang tak usah ia jang mengantar sendiri sesuatu piauw atau angkutan, tjukup dengan wakilnja, asal pada piauw itu ditantjapkan bendera Liat Hwee Piauw-kie, bendera „Api Berkobar“. Itulah lentjana jang serupa dengan sendjata apinja, dengan tabiatnja djuga.
Sudah tentu Tjeng Loen gagah. Ia djuga mendapat bantuan banjak dari pergaulannja. Ia djudjur dan berhati. murah. Ia memandang enteng kepada uang. Dalam hal mengadakan pesta atau mengantar bingkisan, ia bertangan terlepas, Maka itu, selama duapuluh tahun, banjak sekali sahabatnja.
DENGAN tidak usah turun tangan sendiri, Tjeng Loen banjak waktunja andaikata ia suka pulang kekampung-halamannja di Siongkang, untuk beristirahat, hidup tenang dan berbahagia. Tetapi ini tidak dilakukannja. Ia pulang hanja sekedarnja. Ia telah menjatakan, lagi kira2 sepuluh tahun, setelah djangkap usianja enampuluh, baru ia hendak undurkan diri dengan tutup djuga piauwkioknja itu, Maka sajang sekali, bagus rentjananja itu, kenjataannja tidak demikian.
Pada suatu hari, datanglah urusan jang ia tidak harapkan, jang ia tidak menginginkannja, tetapi toh jang ia mesti terima......
Hari itu sehabis bersantap tengah hari Tjeng Loen berniat pergi keluar bersama. puterinja jang baru berumur sepuluh tahun, Memang biasanja ia suka pergi kewarung teh mendengarkan tjetjatur situkang tjeritera. Hanja, belum sampai ia tuntun puterinja itu, tiba² ia dengar suara kaki kuda diluar rumahnja, lalu murid kepalanja, jang bernama Boe Djin Tjoen, datang masuk bersama satu tetamu umur tigapuluh tahun kurang-lebih, jang mulutnja lantjip dan kulit pipinja tipis. Dari roman dan lagak-lagunja, ia mirip satu soeya, sekertaris dari suatu kantor pembesar negeri. Soeya itupun bertugas sebagai penaschat atau djuru-pemikir.
NAMPAK orang lantjang, tanpa menunggu sampai murid dan tetamunja memasuki ruang, hanja dari djendelanja, Tjeng Loen sudah menegur muridnja itu: „He, kenapa kau bawa tetamu kerumahku?“
Djin Tjoen tahu tabiat guru itu, ia persilakan tetamunja masuk terus, sikapnja sangat menghormat, Kepada gurunja, ia kata: „Soehoe, ini In Soeya dari Souwtjioe. Soeya bilang ia mempunjai urusan sangat penting, jang tak dapat tidak dibitjarakan dengan Soehoe sendiri, maka ia memaksa tee-tjoe aaah kepada soehoe.........“ Ia bitjara sambil tertawa.
In Soeya tidak tunggu sampai tuan rumahnja membuka mulut, ia sudah lantas memberi hormatnja dengan mendjura dalam serta kedua tangannja dirangkap rapat dan berulangkali ia mengutjapkan pudjiannja kepada tuan rumah itu.
Suatu piauwkiok harus bisa melajani tetamu, walaupun ia bertabiat keras. Tjeng Loen tahu itu, maka djusteru ia dengar orang adalah seorang soeya, terpaksa ia mengendalikan diri dan menjambut dengan hormat.
Soeya ini pandai berkata². Ia rupanja djuga fois dapat menerka tabiat orang, Habis minum tehnja, jang tjangkirnja segera ia turunkan, lantas ia mulai bitjara. Setjara langsung ia mengutarakan kedatangannja.
„Tiehoe kami, jaitu To Taydjin, mempunjai seorang puteri, jalah puteri jang nomor dua“, demikian katanja. „Nona ini sudah ditunangkan dengan Tio Kongtjoe, putera Tio Hanlim di Hay-an, Kangpak. Sekarang ini Tio Kongtjoe itu lagi sakit, tetapi Tio Hanlim suami-isteri ingin nikahkan ia, katanja sebagai kias, To Tiehoe mempunjai hanja satu puteri ini, jang ia sangat sajang, maka itu, ia kuatir untuk mengantar puterinja pergi menikah ke Kangpak. Orang tabu, sekarang ini keamanan ditengah djalan banjak terganggu. Karena itu, Tjongpiauwtauw, aku sudah lantas pudjikan Ban Seng Piauw Kiok, Aku bilang pisuwtauw gagah dan ternama, Dengan kau jang melindungi, tichoe tidak usah kuatirkan apa² lagi“. ,
Belum lagi tiehoe mengambil putusan, apamau ia telah dengar omongan iseng diluaran, katanja ada orang Rimba Hidjau jang mau tjari piauwtauw untuk mengadu kepandaian, maka berbahaja untuk pakai Ban Seng Piauw Kiok. Katanja lebih baik pakai lain piauwkiok sadja. Tiehoe mendjadi bersangsi karenanja. Atas itu, aku desak ia, sampai aku ngomong keras, Aku kata, tidak nanti Tjongpiauwtauw hendak membikin rusak dan mendjatuhkan nama baikmu. Aku bilang djuga, suka aku pergi sendiri mengundang piauwtauw. Hanja aku telah tegaskan, adalah soal lain apakah piauwtauw sudi menerima undangan ini atau tidak. Aku sendiri tidak dapat memaksa. Achirnja tiehoe mupakat. Demikian ia telah utus aku kemari. Sekarang aku mengharap djawaban dari piauwtauw“.
Bisa sekali soeya ini atur kata²nja. Ia mengangkat, ia djuga memantjing dan menasehati orang.
Boe Djin Tjcen, jang mendengarkan pembitjaraan itu, segera merasa pasti bahwa. orang ini sangat litjin, dan mungkin, orang mengandung maksud jang tidak baik, Kenapa gurunja dipudjikan ? Lalu kenapa gurunja diangkat terus dipantjing, dibikin panas hatinja ? Mungkin adalah djusta bahwa tiehoe hendak antar puterinja menikah. Oleh karena ini, beberapa kali ia lirik gurunja. Ia mengedipi mata, untuk minta guru itu berhati².
TAPI benar² Tjeng Loen aseran. Begitu dengar ada orang hendak mengudjinja, ia lantas keprak medja.
„Tidak kusangka masih ada sahabat baik jang demikian memandang mata kepadaku!“ katanja sengit. „In Soeya, tjukup dengan singkat sadja! Kau serahkan Nona To kepadaku! Kalau ada orang ganggu selembar sadja rambut nona itu, aku Tjian Tjeng. Loen, aku akan pertaruhkan selembar djiwaku! Nah, kapan kita berangkat ? Kau bilang!“
Djin Tjoe terperandjat.
„Soehoe“, ia menjela, „untuk menjembelih ajam tidak usah pakai golok peranti potong kerbau. Maka untuk tjuma mengantarkan satu nona, dengan pesalinnja berharga hanja beberapa ribu tail perak, kau suruh aku sadja jang berangkat !“
Murid ini insjaf, tidak dapat ia mentjegah, maka ia ingin mentjegah gurunja turun tangan sendiri.
Mendengar itu, In Soeya meng-geleng² kepalanja. Ia terus tertawa.
„Benar²“, piauwsoe muda ini pandjang sekali pikirannja! katanja. „Memang ini hanja urusan ketjil sekali. Djikalau karena kedjadian ini Tjongpiauwtauw, karam perahunja didalam solokan, sungguh tidak dapat aku bertanggungdjawab! Baik, baiklah, mari kita turut pikiran piauwsoe muda ini! Untuk aku, aku tidak ambil peduli piauwsoe jang mana jang suka bertjape-lelah. Dengan orang lain jang pergi mengantar, nama besarmu itu, Tjongpiauwtauw, djadi dapat dilindungi!“
Kata² itu mengandung dua fealeud- th Soeya keluarkan kata² itu karena ia pertjaja betul, piauwsoe she Tjian itu harus dibuat mendongkol dan murka, untuk membakar hatinja. Dengan begitu, akan dapat ditjegah Boe Djin Tjoen jang nanti pergi mengantar.
Dan betul sadja, Tjian Tjeng Loen Kena dipermainkan. Dengan mata melotot, ia pandang muridnja.
„Botjah, kenapa kau pandang gurumu begini tidak berharga?“ ia menegur. A„pakah kau hendak menakut²i gurumu ? Kau ngelindur!“.
Melihat guru itu kumat adatnja, Djin Tjoen tutup mulut.
Sebaliknja bukan main gembiranja In Soeya jang telah berhasil maksud hatinja.
„Bagus, Tjongpiauwtauw!“ katanja. „Kau memang gagah, tidak nanti kau tarik pulang kata²mu!“
Nasi sudah mendjadi bubur, tidak dapat Djin Tjoen berbuat apa² lagi, Meski begitu, diwaktu ada kesempatannja, jaitu selagi berada berduaan sadja dengan gurunja itu, ia toh mentjoba menjadarkan sang guru bahwa urusan ini terlalu mentjurigakan, bahwa In Soeya mestinja main gila. Seseorang jang benar² mengundang piauwsoe, tidak nanti omong putar-balik begitu rupa.
„Maka itu harap soehoe berlaku hati?, apevienn Sampai kita tertipu“, murid ini berkata achirnja.
Setelah tenang pikirannja, Tjeng Loen bisa djuga berpikir. Biar bagaimana, ia adalah seorang piauwsoe dengan banjak pengalaman. Ia merasa muridnja, „masih hidjau ini“, ada benarnja. Tapi ia telah menerima baik, ia tidak bisa membatalkan.
„Baiklah“, katanja kemudian, „kalau kau bertjuriga, mari kita waspada, kita djangan berpisah satu sama lain !“
Demikian guru dan murid berkemas, lalu bersama² In Soeya, mereka berangkat ke Souwtjioe.
Begitu lekas ia memasuki kantor tie-hoe, timbul tjuriga Tjeng Loen. Ia lihat suasana sepi, tak ada miripnja orang jng sedang bersiap² untuk suatu hadjad walaupun benar pesta nikah bukan akan dilakukan dikantor itu.
In Soeya rupanja hendak menjingkirkan ketjurigaan orang. Ia bilang, sebab pernikahan akan dilangsungkan setjara terpaksa, persiapannja pun tak dibikin setjara umumnja.
Mengenai ini, Tjeng Loen tidak bilang suatu apa, ia tidak menanja melit.
Tibalah hari keberangkatan, Diam² guru dan murid mentjuri lihat sinona puteri tiehoe. Mereka kembali bertjuriga, Nona itu berpakaian mewah, pantas dandanannja untuk seorang puteri wedana, hanja usianja sudah tidak muda lagi dan gerak-geriknja kasar, tidak halus seperti umumnja nona kalangan atas. Pengiringnja djuga tjuma satu budak perempuan. Adalah pengantar laki², pengiring dan serdadu, berdjumlah tigapuluh orang lebih.
Boe Djin Tjoen pernah hendak menanjakan sesuatu, tetapi ia tidak diberi kesempatan bitjara oleh To Tiehoe dan In Soeya, jang melajani dia dan gurunja dengan sangat manis dan telaten. Ada sadja jang mereka utjapkan.
Untuk dahar, tiga kali dalam satu hari, mereka disuguhkan barang hidangan kelas satu. Sebagai pelajan adalah beberapa orang jang sangat radjin, jang tak pernah djauh², Pada setiap penjuguhan arak dan teh, kelakuan mereka sangat hormat, seperti orang melajani pembesar tinggi.
Tjian Tjeng Loen puas dengan pelajanan ini. Ia seperti lupa segala pertanjaannja jang hendak dimadjukan, Tjuma Djin Tjoen sendiri jang masgul hatinja.
Pada saat tibanja djam berangkat, To Tie-hoe sendiri jang mengantar sampai diruang hoa-thia, Tiga kali ia bersodja. Pesannja : „Tjongpiauwtauw, hee-khoa harap kau nanti pandang anakku itu seperti anakmu sendiri, dengan begitu tenteramlah hatiku. Disini hee-khoa menantikan kembalinja Tjongpiauwtauw berdua murid. Nanti akan heekhoa memberi hadiah lagi kepadamu“.
Wedana ini benar? sangat merendah. Ia membahasakan dirinja — „hee-khoa“ — pembesar jang rendah. Ia anggap diri sebagai pembesar sebawahan.
„Soehoe!“ katanja, memperingatkan gurunja itu, „kewadjiban kita masih belum selesai didjalankan. Dalam tjatatan kita, sudah ditulis djelas nama orang dan djumlah pesalinnja jang kita mesti lindungi, Akan tetapi sinona sendiri membawa demkian banjak peti, semuanja berat timbangannja, semua itu tidak didjelaskan barang apa, tidak dimasukkan kedalam tjatatan jang termasuk dalam tanggungan kita, Soehoe, pera kita memeriksanja dulu, baru kita berangkat !“
„Siauw-piauwtauw, untuk apa kau perteliti sampai begini ?“ berkata In Soeya sambil tertawa, mendahului Tieng Loen. Ia memanggil siauw-piauwtauw — piauwsoe muda — kepada murid itu. „Barang² nona ini tidak lain hanja barang perhiasan emas dan mutiara, diperiksa djuga tak ada perlunja ! Aku sendiri turut dalam perdjalanan ini, anak kuntji semua peti ada padaku. Umpama kau hendak memeriksanja, setiap waktu dapat kau lakukan itu. Sekarang ini jang perlu ialah kita segera berangkat !“
Tjeng Loen tidak bilang suatu apa kepada muridnja itu, karenanja, Djin Tjoen tidak berani terlalu memaksa.
Demikian mereka berangkat keluar dari kota Souwtjioe, menudju kepelabuhan besar dari Selatan sungai Tiang Kang.
Ditengah perdjalanan Tjian Tjeng Loen mau djuga memperhatikan kisikan muridnja, jang memperingatkan padanja setjara diam². Ia perhatikan tindakan kaki para kuli jang menggotong peti. Ia dapat kenjataan, mereka menjebabkan mengepulnja debu melebihi tindakan orang² biasanja. Teranglah, peti² itu bukan terisi barang perhiasan sadja, Barang demikian berat, apakah itu ?
Heran dan terkedjutlah piauwsoe ini. Ia memikirkan hal itu, ia men-duga², tetapi tidak dapat ia menerka. Maka itu, malamnja, selagi singgah pada malam pertama, ia berbitjara dengan In Soeya untuk meminta keterangan.
Sikap sekertaris tiehoe itu kali ini luar biasa. Ia lantas perlihatkan air-muka keren. Dan ketika ia memberikan penjahutannja, suaranja pun dingin. „Tjongpiauwtauw terang sekali kau hendak bergurau denganku!“ demikian katanja. „Adakah kau omong dengan sungguh² ? Tjoba kau pikir! Nona kami adalah puteri seorang wedana. Djikalau barang² perhiasannja, atau pesalinnja, bukan barang² jang berharga, apakah ia masih mendjadi puteri seorang ningrat jang agung ? Kalau begitu, bukankah tak ada perlunja aku undang piauwsoe jang kenamaan untuk melindungj dia ? Dan perlu apa aku sengadja djauh² dari Souwtjioe pergi ke Siongkang untuk mengundang kamu ? Kita sama? orang kang-ouw. Mustahil dalam hal inj kau masih tidak mengerti ?“
Tidak sedap didengarnja djawaban itu, hingga Tjeng Loen mentjelat bangun dari kursinja Ia memang aseran. Ia segera pentang mulut lebar.
„Bilang ! Bilang !“ katanja. „Bilang, barang² berharga apakah isinja peti? itu ?“
In soeya tidak mendjadi djeri karena orang bersikap keren itu. Ia berlaku tenang.
„Tidak ada barang² berharga apa², tjuma limaribu tail emas lempengan !“ djawabnja dengan dingin. „Taydjin kita sudah memangku pangkat selama tigapuluh tahun, dia tjuma dapat mengumpulkan sedikit harta. Oleh karena kota Souwtjioe tidak aman, kebetulan berbareng dengan pernikahan puterinja, dia djadi hendak kirim emas itu ke ......“
Belum habis kata² itu diutjapkan, piauwsoe itu dan muridnja sudah tergugu, keduanja saling mengawasi.
Lima-ribu tail emas! Didjaman itu, itulah berharga duapuluh laksa tail perak! Semua itu merupakan lempengan! Pada waktu keamanan terganggu sebagai itu, harta besar itu mesti dibawa dalam perdjalanan dengan perlindungan hanja beberapa puluh serdadu jang tidak berarti !
Tanpa merasa, guru dan murid itu mengeluarkan peluh dingin ...
„Bagaimana, tjongpiauwtauw ?“ tanja In Soeya selagi orang masih berdiam sadja. Adakah kau menjesal ? Tapi sekarang sudah terlambat ! Surat perdjandjian jang mendjadi tanggung-djawabmu, sudah berada didalam tangan taydjin kita! Sekarang, djika kau sudi, kau mesti mengantarnja dan djika kau tidak sudi, kau mesti mengantarkan djuga ! Sekarang aku omong terus-terang kepadamu ! Emas sudah berada ditengah djalan. Itu berarti, kau mengantar atau tidak, andaikata terdjadi sesuatu, kau tidak bakal lolos dari tanggung-djawabmu! Tjian tjongpiauwtauw, kau kenamaan, kau punja rumah-tangga, aku minta djanganlah kau keliru berpikir !”
Tjeng Loen kertak giginja untuk mengendalikan diri, Ia sudah berniat menghadjar sekertaris wedana jang litjin ini, untuk bikin mampus !
Boe Djin Tjoen kutik gurunja. Murid ini sabar dan sadar, Is mengerti baik sekali, kuntjir mereka telah orang tjekal erat², tidak dapat mereka berkeras mengahadapi soeya itu.
„Tenang, soehoe“ liéhay. Melihat orang telah buntu djalan ia ubah wadjahnja. Dari keren dan dingin, sekarang ia bersenjum berseri².
„Walaupun duduknja hal begini rupa, tjongpiauwtauw," katanja, sabar dan manis,
„Tak usah kau buat pikiran. Selekas kita sampai dengan selamat di Haytjioe, taydjin kami akan ingat baik² kepadamu. Dia pun orang jang punja pikiran. Lagipula, pekerdjaan kita ini adalah pekerdjaan jang terahasia. Ketjuali kita berempat, tidak ada orang lain jang mengetahui. Tjukup asal kita berhati². Dengan mengandalkan kepandaian jang liehay sekali, aku pertjaja kau bakal dapat melewatkan saat² jang berbahaja, kau bakal dapat menempuhnja ! Kau tahu, aku sendiri djuga ada punja anak-isteri, tidak sudi aku membiarkan diriku dalam bahaja ......“
Berkali² Tjeng Loen memperdengarkan suara „Hm !” Bukan main panas hatinja. Hampir ia mementang batjot, untuk mendamprat. Sjukur ia masih dapat mengendalikan diri. Ia sambar tehkoan teh, ia gelogoki isinja kedalam mulutnja, lantas tanpa menoleh lagi kepada muridnja, ia ngelojor keluar !
Boe Djin Tjoen djuga mesti menguatkan hati untuk dapat menguasai dirinja sendiri. Dengan paksakan menenangkan diri, ia berkata dengan sungguh² kepada sekertaris tiehoe itu: „Soeya, dengan perbuatanmu ini, kau membuat dua kesalahan berbareng ! Djangan soeya anggap kau sangat tjerdik; bahwa dengan tipu-muslihatmu jang litjik ini, kau telah bisa lepaskan tanggung djawab dan sebaliknja menumplekkannja diatas pundak kami. Kau mesti tahu sendiri, kami kaum pengusaha piauwkiok mempunjai aturan kami sendiri jang khusus. Pengangkutan kita sekarang ini ialah jang dinamakan piauw gelap. Untuk piauw gelap, tidak dapat kami berbuat sesuka kami, asal bilang berangkat, lantas berangkat. Untuk itu kita mesti mempersiapkan persediaan dengan, seksama. Sangat beda. sekali dengan piauw terang ! Aku bilang, soeya, tak dapat kau merasa puas sendiri! Kau harus ketahui djuga, ilmu silat itu tidak ada batasnja, Bukankah diluar langit ada langit lagi, diatas orang ada lagi jang terlebih atas ?
Baik aku djelaskan. Sedjak dulu kala sehingga sekarang ini, tidak ada satu piauwsoe jang hidup selamat melulu dengan andalkan sadja ilmu silatnja. Padanja itu mesti terangkap apa jang dinamakan kehormatan dan pergaulan. Persahabatan itu mesti dibeli. Seorang piauwsoe mesti bersahabat dengan golongan Rimba Hidjau, dengan begitu barulah kaum Rimba Hidjau dapat memberi mukanja, dengan begitu barulah kami peroleh keselamatan kami. Pada waktu mengiring angkutan, kami mesti menantjap bendera, orang² kami tiap kali mesti memperdengarkan suaranja disepandjang djalan. Apakah artinja itu ? Tidak lain untuk memberitahukan kepada sahabat? Rimba Hidjau perihal tiba atau kedatangan kami. Itulah untuk piauw terang.
Untuk piauw gelap, lain lagi. Untuk piauw gelap, kami mesti menjerbu dengan andalkan kepandaian, kami mesti melakukan perdjalanan dengan diam², kami tidak andalkan persahabatan. Dipihak sana, kaum Rimba Hidjau djuga tidak sungkan² lagi terhadap piauw gelap, tidak peduli siapa sipiauwsoe pelindungnja ! Lain halnja kalau orang tidak tahu lewatnja piauw gelap. Tapi asal orang dapat ketahui, mesti dia turun tangan ! Soeya, kau ada seorang tjerdas, maka tjobalah kau memikirkannja ! Bukankah benar dengan akalmu jang litjik ini bukan melulu kau tjelakai kita, hanja djuga kau tjelakai dirimu sendiri ? Kami guru dan murid adalah orang² tidak berarti. Walaupun kami punja rumah tangga, tak tjukup itu untuk mengganti kerugian madjikanmu. Itu emas lima ribu tail.....
In Soeya melengak, hingga lenjaplah senjumnja jang tawar, roman dari kepuasannja. Benar² ia tidak ketahui keadaan dalam dari kaum piauwsoe itu. Benar² ia telah bermain api. Bagaimana sekarang ?
„Habis bagaimana sekarang ?” achirnja ia tanja. Mau atau tidak ia mesti berlaku merendah terhadap piauwsoe muda ini, jang njata adalah terlebih berpengalaman daripada Tjian Tjeng Loen.
Pasti sekali Boe Djin Tjoen djuga telah insaf, bahwa sesudah piauw berada ditengah perdjalanan sematjam ini, itu artinja nasi sudah mendjadi bubur, tidak dapat piauw dibawa balik pulang dengan begitu sadja. Sebaliknja, piauw mesti dibawa terus, apa djuga mengantjam dihadapan mereka.
„Dia litjik, dia mesti dikasi sedikit adjaran ...... ” Djin Tjoen berpikir. Maka ia lantas menggertak pula, akan achirnja bilang : „Sekarang setelah keadaan terlandjur begini, kita harus berlaku tenang. Kau sabar sadja, hendak aku berdamai dengan guruku”.
Lantas piauwsoe muda ini keluar, untuk tjari gurunja, agar mereka berdua dapat melakukan perundingan, ‘supaja piauw itu dapat Laiieks aman dibawa ke Haytjioe.
Tjeng Loen masih mendongkol, ia mengutuk kalang kabutan.
„Djin Tjoen, benar² hebat !" katanja kemudian. „Kau tahu, selama duapuluh tahun lebih, belum pernah aku mengantar piauw gelap. Tjoba kau bilang, diperdjalanan kita ini, siapakah orang jang baru muntjul ?"
Murid itu mengkerutkan keningnja.
„Soehoe", katanja tjepat, „tentunja soehoe ketahui baik suasana selama tiga-empat tahun ini. Benar kota Lamkhia telah dipukul djatuh Tjan Kok Hoan, tetapi saudara Ang Sioe Tjoan banjak jang telah terpentjar kesegala pendjuru dan dikedua tepi sungai Tiang Kang tak sedikit muntjul orang baru kaum Rimba Hidjau, jang semuanja memelihara rambut pandjang. Djikalau mereka itu ketahui tentang harta besar Ie Tiehoe dari Souw-tjioe ini, mana mereka sudi melepaskannja? Kelihatannja, soehoe, sukar diharap jang kita bakal dapat lewat dengan tak kurang suatu apa......"
Tak ragu² murid ini mengutarakan ketjemasannja.
„Dasar tjelaka !" seru Tjeng Loen dengan sengit, tangan kirinja mengenai keras sepasang bidji toh jang litjin-mengkilap dan tangan kanannja menarik djanggutnja hingga dia mirip seekor harimau dalam kerangkeng......
Boe Djin Tjoen berdiam, tetapi otaknja bekerdja. Kemudian ia berkata:
„Mulanja kita menduga tiehoe rakus itu sangat menjajangi puterinja, jang ia kuatir nanti dapat tjelaka ditengah djalan, maka ia suruh sisoeya mendesak kita untuk melindunginja. Begitulah kita berangkat tanpa menaikkan bendera, tanpa membawa seorang pegawai djuga".
„Memang untuk mengantar satu nona, buat apa kita pakai segala aturan piauwkiok? Sekarang semua sudah mendjadi djelas. Aku sangsi bahwa nona itu betul² puterinja sendiri. Bukankah dia lebih berarti daripada emasnja itu ? Benar² sulit keadaan kita sekarang. Kita sudah membuat perdjandjian, tidak dapat kita membatalkan sepihak. Kalau sahabat² Djalan Hitam ketahui keadaan kita ini, itu lebih sulit pula......"
Tjeng Loen tidak sabaran, ia memotong dengan berseru: „Sebenarnja, apakah jang kau pikir ? Kenapa kau ngotjeh sadja !"
Djin Tjoen menjeringai. Ia dapat memaklumi gurunja itu, maka ia berlaku sabar.
„Teetjoe tjuma lihat dua djalan", ia menjahut. „Ialah, kau buka djalan terus dengan tjara terang, tapi tentu tetap dengan menggelap. Bagian jang terang, biarlah teetjoe jang mendjadi pegawai, untuk membawa bendera, buat djalan dimuka. Teetjoe membawa bendera kita jang ketjil. Kalau kita tetap djalan seperti sekarang ini, itulah namanja piauw gelap......"
Walaupun ia aseran, Tjeng Loen dapat membedakan piauw terang dan piauw gelap. Dengan piauw gelap, apabila terdjadi sesuatu, keadaannja djadi semakin sulit. Itu artinja ia mesti benterok dengan kaum Rimba Hidjau.
„Ja, memang tidak ada djalan lain lagi, anak", katanja kemudian. „Baiklah kau bertjape-lelah kali ini. Mulai besok pagi², kau beber bendera kita. Untuk didepan buat singgah, buat menjerahkan kartjis nama, aku serahkan semua kepadamu. Urusan dibelakang, semua adalah bagianku. Entahlah bagaimana achirnja, terserah! Sekarang mengertilah aku, semua mereka jang mendjadi orang berpangkat tidak ada orang baik²!"
Guru dan murid ini mengambil putusan sendiri, malah mereka tidak memberitahukannja kepada sisoeya litjin, maka betapa terperandjatnja tuan sekertaris tiehoe itu sewaktu fadjar baru menjingsing esok harinja, Tjian Tjeng Loen sudah membuka pintu disertai suaranja jang njaring dan ber-ulang² membangunkan nona puteri tiehoe, budak² perempuan, sisoeya sendiri dan semua serdadu pengiring, untuk berangkat, katanja, sehingga ia menerbitkan suara sangat berisik.
In Soeya mendusin dengan kaget. Baru ia kutjak² matanja dan hendak menanja atau sipiauwsoe sudah berkata dengan keras: „Bukankah kau telah serahkan orang dan harta kepada kami? Nah, sekarang kami hendak berangkat! Soeya, mengertilah kau, mengiringi piauw bukannja pekerdjaan main² ! Kamu menjajangi harta, kami djiwa! Djadi kita tak dapat bertindak sembarangan ! Sebentar sebelum langit mendjadi gelap kita sudah mesti sampai di Tiang-keng, maka sekarang djuga kita mesti berangkat !”
In Soeya bengong mengawasi. Apabila ia tampak mata orang mendelik dan wadjahnja perongosan, tidak berani ia banjak omong lagi, Ia lantas bangun, terus dandan guna ikut berangkat !
Boe Djin Tjoen djuga telah salin pakaian. Ia dandan dengan singsat, kepalanja dibungkus dengan pelangi hidjau, dibebokongnja tertantjap goloknja. Dengan tangan kanannja, ia pegangi piauwkie, benderanja jang ketjil, sebab bendera jang besar tidak ada. Ia berada dipaling depan. Tepat dimuka pekarangan hotel, ia berseru : „Berangkat !”
Dan berangkatlah rombongan itu, tidak setjara diam² sekian lama, hanja dengan berterang.
Tjeng Loen berdjalan paling belakang, tangannja memegang goloknja, golok Gan-leng-to, Ia jang atur djoli dan kuli? tukang gotong serta serdadu pengiring, jang dibagi mendjadi dua barisan. Dengan duduk atas keledainja, ia ambil tempat ditengah². Tetapi Parsons dilakukan dengan pelahan.
Tidak lama keluarlah mereka dari batas kota Eaten Siang-siok.
Dasar daerah makmur, walaupun habis perang, keramaian masih ada bekas²nja. Sampai kira² duapuluh lie diluar kota, tempat tak mendjadi sunji-senjap, disitu masih ada lalu-lintas orang dan kereta.
Tjeng Loen bertjokol diatas keledainja dengan matanja diarahkan ke-empat pendjuru. Ia. mentjoba menenangkan diri, akan tetapi tak dapat ia singkirkan pikirannja tentang perbuatan litjik In Soeya. Ia heran untuk kedjadian kali ini. Sudah banjak tahun ia tidak pernah keluar sendiri, tahun? sekarang ia mendjadi korban soeya itu. Ia melindungi harta besar, tapi membawa pengiring sedikit, malah tanpa satupun pegawanja. Sjukur kalau ia selamat sampai ditempat tudjuan, kalau tidak, entahlah......
„Aku tjuma berdua, apabila terdjadi sesuatu, dapatkah salah satu pulang untuk membawa warta ?.....” ia ngelamun.
Sementara itu, tanpa merasa, orang tiba dikota ketjil tempat singgah, Djin Tjoen minta dua buah ruang dirumah penginapan terbesar, satu disebelah dalam, satunja lagi disebelah luar. Jang dalam untuk sinona bersama empat peti-kulit jang besar jang bermuatkan
emas itu, jang diluar untuk ia dan gurunja serta sisoeya. Semua serdadu dan kuli dibiarkan menangsal perut diruang makan.
Selama bersantap, guru dan murid tetap waspada, sendjata\mereka tak pernah terpisah dari tubuh mereka.
Habis bersantap dan beristirahat sebentar, perdjalanan sudah jantas dilandjutkan.
Tengah-hari, mereka mesti melewati dua tempat dimana bersarang kaum Rimba Hidjau. Jang satu dikepalai oleh Hoeigan Lie Eng Lok si Mata Terbang, jang berkedok membuka rumah djudi. Jang lainnja dipimpin Tjoan-Thian Auw-tjoe Lauw Hong si Elang Menembusi Langit serta kira? limapuluh anak-buahnja; mereka ini tjabang dari Pek See Pang, partai Pasir Putih. Mereka itu —dua²–nja —kenal Ban Seng Piauw Kiok, maka itu, Boe Djin Tjoen sudah lantas mengundjungi mereka, hingga kesudahannja rombongan piauwkiok ini dapat lewat dengan baik dan aman.
Lewat lohor, rombongan sudah mendekati Tiang-keng, tinggal lagi tak ada sepuluh lie, Tjian Tjeng Loen tengah menghisap hoentjwee tatkala ia dengar tindakan kaki kuda mendatangi dari arah belakang, Kuda itu djempol, debunja sampai mengepul tinggi. Sebentar sadja penunggang kuda itu tiba dan lewat. Kelihatan sipenunggang itu, jang berkeredong mantel, menjoren pedang. Dia lewat disamping tanpa menoleh kepada mereka — rombongan piauwsoe itu.
Diam² Tjeng Loen rabah goloknja.
Boe Djin Tjoen menoleh kepada gurunja, ia tidak bilang suatu apa.
Tak lama kemudian penunggang kuda itu sudah lari balik. Karenanja, guru dan murid itu menahan binatang tunggangan mereka dipinggiran, Mereka mengawasi.
Penunggang kuda itu menahan kudanja kira? lagi lima-enam tindak darj kedua piauwsoe itu, matanja menjapu. Agaknja dia lalu hendak berbitjara kepada Djin Tjoen, tapi lantas mengawasi Tjeng Loen.
Piauwsoe ini mendjadi tidak senang. Ia buka kedua matanja.
„Apa ? Apa kau hendak bitjara dengan siorang she Tjian ?” ia menegur. „Baik ! Aku memang menantimu ! Tapi baik kau buka dulu matamu lebar², kami pihak Ban Seng Piauw Kiok lewat disini bukan baru satu atau dua kali!’
37
,,Sungguh suatu bendera Liat Hwee Piauw-kie jang bagus !" katanja tenang. ,,Boleh dibilang beruntung djuga aku satu boe_beng siauw tjoet, hari ini untung bertemu muka dengan Tjian Loo-piauwtauw jang kenamaan. Loopiauwtauw, tidak lain hendak aku menebalkan muka untuk bitjara terus-terang denganmu ! Saudara2 kami tak bakal hidup, maka aku ingin mohon bantuanmu ......"
,,Hm !" edjek Tjeng Loen. ,,Baik, sahabat, silahkan ! Asal tenagaku sanggup, suka aku membantu padamu, supaja kamu dapat kepuasan !"
Penunggang kuda itu bersenjum. Ia angkat tangannja, menundjuk kepada empat peti kulit warna merah.
,,Baik, Tjian Piauwtauw", katanja. ,,Kita adalah sahabat2 tak usah kita berbitjara mutar2. Aku tidak meminta lainnja, hanja peti2 itu dimana ada simpan lima ribu tail emas, agar diberikan untuk aku bawa pergi!............."
Boe Djin Tjoen lompat turun dari kudanja, ia menjela :
,,Sahabat", katanja ,,kau seharusnja sudah mengetahuinja. Kami orang piauwkiok, mana kami mempunjai uang sedemikian banjak? Harta itu ada pemiliknja jang lain !"
,,Baik !" kata sipenunggang kuda. ,,hendak aku tanja sipemilik itu !" dan ia lompat turun dari kudanja.
Orang ini berumur kuranglebih tigapuluh tahun, tubuhnja tinggi enam kaki, mukanja berewokan, dadanja lebar, pinggangnja tjeking, tampaknja ia gagah. Ia dekati Djin Tjoen tiga-empat tindak, ia berdiri menghadapi piauwsoe muda itu. Boe Djin Tjoen membekal pedang Songboen_kiam. Sekedjap sadja, pedang itusudah terhunus ditangan kanannja.
Penunggang kud aitu mengkerutkan alis. Ia lihat orang dandan sebagai pegawai piauwkiok, tetapi buktinja, orang sangat gesit. Tentu sadja ia mendjadi heran.
Djin Tjoen tertawa tawar.
,,Sahabat, kau rupanja seorang baru !" tegurnja. ,,Kenapa kau tidak kenal sedikit djuga aturan kaum kang-ouw ? Untuk berbitjara dengan sipemilik, kau mesti lebih dahulu menanja aku !"
Penunggang kuda itu memperlihatkan roman memandang enteng.
,,Apakah kau dapat mewakili sipemilik?" ia menegaskan.
Tjeng Loen tidak sabar. Ia lompat turun dari keledainja, dan hendak madju, tetapi Djin Tjoen lirik dia Jalu mengedipkan mata padanja.
„Untuk menjembelih ajam apa ‘perlu pakai golok kerbau?” berkata murid ini. ,,Soehoe, biarkan teetjoe jang madju!” Ia lantas menuding dengan pedangnja dan berkata : „Kau hendak tanja aku dapat mewakili sipemilik atau tidak ? Nah, kau tanjalah dulu dia ini!” Dia menundjuk pedangnja itu.
Penunggang kuda itu terbangun bulu alisnja. Ia buka mantelnja lalu lemparkannja, tetapi berbareng dengan itu ia memperdengarkan siulan njaring, Siulan ini mendapat sambutan dari empat pendjuru, dari mana lantas muntjul belasan orang : ada jang menunggang kuda, ada jang berdjalan kaki, semuanja berdandan ringkas dan membekal sendjata tadjam.
Tidak ketjewa Tjeng Loen mendjadi piauwsoe ulung. Suasana sangat mengantjam, tapi ia dapat berlaku tenang. Dengan sebat ia perintahkan semua serdadu dan kuli berkumpul membentuk satu. lingkaran dengan didalamnja sinona puteri tiehoe terkurung berikut semua petikulit dan barang lainnja. Dengan tjekal goloknja dan mengepal-ngepal bidji buah tohnja, ia berdiri diluar kurungan.
In Soeya silitjin dan litjik berdjongkok ditanah, mukanja putjat sekali.
Boe Djin Tjoen dan sipenunggang kuda sudah lantas bergebrak. Setelah beberapa djurus, mendadak begal itu menikam lengan kanan sipiauwsoe, Sebat serangannja itu.
Djin Tjoen berkelit setengah kaki, sambil perkelit, ia menangkis, dalam gerakan ,,harimau mendjaga pintu”.
„Bagus !” berseru silawan, jang terus hensulanei tikamannja, kali ini kedada, Ia geser kaki Rename untuk nwonagisiblect tikamannja itu.
Djin Tjoen berkelit kekanan, terus ia overuntes tubuh, pedangnja dipakai membabat kearah leher. Tapi lawan itu, sambil mendak, bisa menangkis, maka kedua pedang benterok satu dengan lain, keras dan njaring suranja. Menjusul itu, keduanja sama2 lompat memisahkan diri.
Djin Tjoen periksa pedangnja. Untuk kagetnja udjung pedang gompal.
Sipenunggang kuda, jang djuga memeriksa sendjatanja, agaknja pun terkedjut.
Kemudian keduanja saling mengawasi, untuk madju pula, Kali ini Djin Tjoen keluarkan ilmu pedang ,,Kieboen Sipsam-kian”, karena ia hendak lajani sungguh² begal itu jang tak dapat ia pandang enteng.
Pertempuran berdjalan seru. Untuk sesaat itu, tak tahu siapa bakal menang atau kalah.
Tjian Tjeng Loen menjaksikan sekian lama, ia mendjadi tidak sabar. Ia tentu sudah lantas turun tangan kalau ia tidak segera dengar suara benteroknja sendjata dan berkelebatnja suatu sinar putih mengkilap. Itulah sebilah pedang, jang seperti terbang melajang, terpental djatuh kesawah gandum. Menjusul itu sipenunggang kuda mentjelat kebelakang, rupanja hendak lompat naik keatas kudanja. Sebaliknja Boe Djin Tjoen, dengan kertak gigi, telah lantas lompat menjusul,, udjung pedangnja diarahkan tjepat kebelakang lawannja dibagian pinggang.
Orang itu tidak mendjadi kaget atau bingung agen susulan itu. Dia masih sempat menggeser tubuhnja kesamping kiri, hampir berbareng dengan mana, kaki kanannja terangkat naik, melajang kearah lengan Djin Tjoen jang mentjekal pedang itu.
Dalam keadaan seperti itu, Djin Tjoen tidak berdaja untuk mundur atau njamping : ia menarik pulang tangan kanannja sambil dengan tangan kirinja mentjoba menangkap kaki kanan silawan, untuk terus ditolak keras dibarengi dengan suatu seruan.
Kali ini penunggang kuda itu tak dapat berdaja lagi. Ia roboh terdjengkang djauhnja tudjuh atau delapan kaki.
Tjeng Loen girang’ menjaksikan muridnja menang. Sambil tertawa, dengan temberang, ia menantang. ,,Dengan kepandaian matjam jini kamu hendak mendjadi begal! Hm! Hajo, diantara kamu belasan orang, adakah jang berani madju pula ?”
„Djangan temberang dahulu, sahabat!” suatu suara menjambut selagi suard piauwsoe itu belum lagi sirap, lalu satu tubuh jang besar lompat kearah Boe Djin Tjoen jang segera diserang dengan bee-geetjie, itu sendjata sematjam roskam kuda.
Bee-gee–tjie itu adalah sendjata istimewa dari Tian Tjoen, guru silat kenamaan dari Tjhong-Tjioe. Adalah kemudian, setelah tju-tjunja, Tan Tiauw Hoan merantau kekota Pakkhia dan sekitarnja, baru ilmu silat itu tersiar diantara orang Iuar.
Segera djuga Boe Djin Tjoen kena terdesak. Ia merasa sulit melajani sendjata jang djarang ada itu, ditambah petjundangnja tadi, jang telah merajap bangun, madju menjerbu pula, Dia sekarang memegang sebatang tombak pandjang dan dia madju bersama kawan²nja. Tjian Tjeng Loen lantas turun tangan. Dengan goloknja, golok Gan-leng-too, ia keluarkan ilmu silatnja, Tjo-pek-too. Ia berlompatan gesit ke-empat pendjuru, guna mentjegah serbuan. Dua tiga musuh sudah lantas terluka. Sajang untuknja, serdadu² pengiring dari Souwtjioe tidak berguna sama sekali; mereka terdesak musuh. Ia mendjadi mendongkol, maka ia pikir untuk berlaku telangas. Begitulah ia lompat keluar kalangan, mengundurkan diri, dan setelah tantjap goloknja dibebokongnja, ia menggantinja dengan peluru apinja.
Hebat peluru istimewa ini. Siapa kana ditimpuk, dia terus terbakar. Asal mengenai sasarannja, peluru petjah dan mengeluarkan api. Korban, atau korban, jang tidak segera mendjatuhkan diri bergulingan ditanah, djangan harap dia selamat.
Nampak pihaknja keteter, musuh jang mengganti sendjata tombak itu sudah lantas bersiul pula, halus dan njaring, lalu muntjul lagi enam atau tudjuh kawannja dari tempat jang lebat disekitarnja. Mereka ini bersendjatakan tameng dan tombak gaetan seperti arit, untuk melajani peluru api.
Menjaksikan sikap musuh itu, Tjeng Loen tertawa terbahak². Kali ini ia merogoh keluar belasan peluru jang istimewa dari kantungnja, jang udjungnja tadjam seperti djarum. Begitu ditimpuki dan mengenai tameng, dimana sendjata itu seperti nantjap, peluru petjah dan apinja menjala, tidak sadja apinja muntjrat, tamengnjapun turut terbakar! Terpaksa beberapa musuh itu, jang mendjadi kelabakan, melemparkan tameng mereka.
Lagi sekali Tjeng Loan menjerang dengan peluru-apinja jang biasa. Ia membuat musuh takut berbareng panas hatinja, sehingga sambil lari, mereka mentjatji kalang-kabutan. Musuh jang melajani Djin Tjoen pun terpaksa turut menjingkir.
Boe Djin Tjoen lantas mengumpulkan orang nja. Dengan menghunus pedangnja, ia djalan dimuka, untuk melandjutkan perdjalanan mereka. Tjeng Loen berdjalan dipaling belakang. Beberapa kali ia mengantjam dengan peluru apinja, untuk mentjegah orang mengedjar atau mengikuti rombongannja.
Belum tjuatja mendjadi gelap ketika achirnja rombongan ini tiba didusun Tiang-keng-tin.
In Soeya lantas pudji Tjeng Loen guru dan muridnja. Ia kata: „Sungguh bukan tjerita kosong belaka bahwa Tjian Tjong-piauw-tauw disohorkan gagah, begitupun Siauw piauiwtauw! Sekarang ini, apa lagi jang mesti dibuat takut ? Asal siotjia dapat diantar dengan selamat, entah bagaimana terang mukaku siorang she In"
Tjeng Loen puas mendengar pudjian itu, Djin Tjoen sebaliknja ber-pura tidak mendengar. Ia hanja repot mentjari hotel, karena ia insaf, kesukaran masih belum habis. Tidak nanti musuh sudah sadja dengan kegagalannja jang pertama itu.
Hotel jang dipilih adalah Hotel Wan Lay didjalan sebelah Timur. Pihak hotel kenal baik Ban Seng Piauw Kiok, malah ada beberapa pegawainja jang kenal langsung pada Tjeng Loen, Mereka memberi beberapa kamar kelas satu serta melajani dengan baik.
Habis bersantap dengan perkenan gurunja, Boe Djin Tjoen pergi keluar untuk merondai sekitar hotel, guna melihat kalau ada orang jang sikapnja mentjurigakan.
Tiangkeng-tin bukannja sebuah kota besar, tetapi disebut hidup. Untuk daerah Kanglam, dapatlah disebut sebuah pelabuhan darat dan air. Banjak saudagar jang berlalu-lintas disini. Maka, hotel Wan Lay penuh dengan tetamu, prija dan wanita serta anak, tak kurang daripada duaratus tetamu.
Djin Tjoen mesti perhatikan demikian banjak tamu itu. Ia tidak mentjurigai siapa djuga, ketjuali heran atas satu botjah umur delapan atau sembilan tahun, jang bertempat disebuah kamar diruang Barat. Botjah itu gesit sekali. Dia rupanja mengerti silat. Sebab dia seorang botjah, dia tidak diperhatikan terlebih djauh.
Malam itu, selagi kebanjakan tetamu belum tidur pules, mendadak terdengar djeritan wanita minta tolong. Djeritan itu tadjam, datangnja dari kamar dibelakang kamar Tjeng Loen. Menjusuli itu terdengar suara2 sangat berisik, diantaranja ada teriakan: „Ada orang dibunuh! Ada orang dibunuh!"
Sambil membawa sepasang bidji tohnja, Tjeng Loen keluar dari kamarnja, untuk menjaksikan kedjadian itu. Sebagai seorang gagah, tak dapat ia berdiam sadja. Tapi sikap Boe Djin Tjoen beda. Ia lebih teliti dan sabar. Dia sambar pedangnja, niatnja pergi kekamar In Soeya, guna melindungi empat peti kulit merah. Baharu dia melangkah keluar dari pintu kamarnja, atau seorang jang tubuhnja ketjil djangkung membentur lengannja dengan keras sambil membisiki:,,Hai, sahabat menampa benang, kau hunus bidji hidjaumu, mari kita bertanding main""! Setelah itu, orang itu terus lompat naik keatas genting didepannja. Gerakannja gesit sekali. Djin Tjoen mendjadi gusar karena orang tantang ia setjara menghina. Orang itu menggunakan kata² kaum kang-ouw istimewa. „Sahabat menampa benang” berarti piauwsu, dan „bidji hidjau” ialah sendjata. Tapi ia bersangsi untuk menjambut tantangan itu, karena kuatir nanti kena terpedaja tipu muslihat „Memantjing haimau meninggalkan gunung”.
Tengah ia bersangsi terdengarlah suara „blak!” suara njaring diarah balakangnja. Apabila ia menoleh dengan tjepat, ia tampak satu bajangan lompat keluar dari kamarnja. Suara itu ialah suara dari terbukanja djendela. Djin Tjoen mendjadi kaget sekali. Tanpa memperdulikan lagi sipenantang, ia memutar tubuh, lari masuk kekamarnja.
Tjahaja lampu menerangi kamar itu. Tidak terlihat apa² jang kurang atau tidak beres ataupun bekas api dinjalakan. Maka itu, piauwsoe muda ini mandjadi heran. Tengah ia mendjublak, Tjeng Loen lari masuk dengan roman bingung, dan terus sadja ketua itu tanja: „Eh, anak, apakah ada terdjadi sesuatu? Dibelakang itu rupanja orang main gila, untuk memantjing orang datang.........”
„Disinipun terdjadi hal aneh”, djawab Djin Tjoen jang tuturkan pengalamannja barusan.
Tjeng Loen segera memandang kesekitar kamar, dari bawah keatas. Waktu sinar matanja tiba diarah tembok Timur, ia berdiri tertjengang. Kedua matanja dibuka lebar!
Djin Tjoen segera memandang kearah itu, dan segera mengeluarkan djeritan tertahan : „Soehoe, mana busurmu Kimpwee Tiat. tay-kiong?"
Setelah ia sadar, Tjeng Loen periksa kantung pelurunja, jang ternjata hilang djuga, hingga kembali ia melengak, akan achirnja mendjadi sangat mendongkol, gusar dan menjesal !
Piauwsoe she Tjian ini tidak bebas dari sematjam tjatjad ahli silat umumnja, ialah sifat suka menjembunjikan sesuatu, supaja pihak lain tidak mandapat tahu. Dia berhasil membuat peluru api itu, tapi dia merahasiakannja, ketjuali dua anaknja, masing² prija dan wanita, tiga muridnja tak ada satu djua jang diwariskan. Djin Tjoen diadjarkan panah tangan, tapi panah api itu, tidak. Kesulitannja, kini, ialah bahan adukannja istimewa, dan panah api itupun tak dapat dibikin dalam tempo jang pendek. Inilah sebabnja kenapa Tjeng Loen mendjadi bingung, seperti sipengemis jang kehilangan ularnja. Tanpa panah api itu, tidak tenteram dia melakukan perdjalanannja. Tapi iapun harus segera melanjutkan perdjalanan dari Tiangkeng-tin itu. Ia tidak dapat berdiam sadja dikota itu. Dia pasti hilang muka kalau dia mutar di Tiangkeng tin.
Maka guru dan murid ini mengeram diri didalam kamarnja. Sampai waktu lama, mereka tidak memperoleh akal. Ketika datang hari kedua, terpaksa siguru menuruti pikiran muridnja. Pagi² sekali, Tjeng Loen keluar dari hotel, pergi kebengkel alat sendjata, untuk membeli duaratus peluru serta sebatang busurnja. Untuk sementara, terpaksa mesti dipakai sendjata biasa itu.
„Mari kita berangkat !" Tjeng Loen mengadjak rombongannja. Kali ini, ia berlaku sangat waspada. Perdjalanan djuga dilakukan dengan tjepat. Hal ini membuat In Soeya dan jang lainnja menggerutu, sebab mereka hampir tak dapat bernapas......
Tjeng Loen dan muridnja membiarkan orang pentang batjot. Ia ingin tiba di Kang-im sebelum langit mendjadi gelap. Hampir tengah.hari, ia masih djalan terus, hingga In Soeya dan kawan nja letih dan lapar, bukan main penasaran mereka terhadap piauwsoe itu.
Rombongan ini berdjalan terus sampai mereka tiba disebuah djalanan jang makin lama makin sempit dan dikiri dan kanan banjak pepohonannja. Itulah Hek-hie-pouw, tempat tersohor dimana suka ada begal muntjul. Dan memang tiba sadja terdengar mengaungnja dua batang panah-njaring, jang dilepaskan dari dalam rimba!
Boe Djin Tjoen ajun tjambuknja, untuk mengaburkan kudanja. guna kabur terus, supaja bisa melintasi tempat berbahaja itu. Tapi Tjeng Loen sebaliknja menahan kudanja. Dia lompat turun sambil berseru „Kenapa kau tidak hendak lekas turun dari kudamu ? Apakah kau telah lupa aturan kaum kang-ouw ?"
Ditegur begitu, Djin Tjoen batal mengaburkan kudanja, ia malah menahannja, dan segera bendera piauw ditangannja, digojangkan hingga tiga kali, kemudian dengan mata djelilatan, ia memperdengarkan suaranja: Sahabat² sedjalan, terimalah hormat kami! Kami adalah rombongan Thay-tjhong Ban Seng Piauw Kiok. Kami mohon sahabat suka memberi muka kepada kami, untuk kami lewat disini, nanti lain hari kami akan membuat kundjungan!"
Tjeng Loen sendiri sudah mengumpulkan rombongannja. Ia berdiri didepan mereka itu, matanja dipasang, sendjatanja siap sedia. Kali ini pembegal turun dengan berlompatan dari atas pohon ; semua gesit gerakannja, djatuh ditanah tanpa menerbitkan suara Jang aneh, mereka semua adalah bangsa wanita. Pakaian mereka seragam ialah badju putih ditimpali tjelana hitam dan ikat kepala. sutera hitam djuga, sedang sepatu mereka berlapis besi.
Menampak demikian, Boe Djin Tjoen mengeluh. Lekas² ia hunus pedangnja.
Dari pihak rombongan wanita itu, seorang jang berumur kurang lebih duapuluh tahun madju dimuka kawan'nja. Ia berdiri tepat ditengah djalan, tangannja menjekal sebatang pedang jang berkilauan diantara tjahaja matahari. Pedang itu dihiasi dengan sepasang runtje warna kuning telur.
Tjeng Loen tertawa waktu ia sudah mengawasi rombongan wanita itu.
„Eh, eh, kamu hendak berbuat apa ?" ia tanja mereka seraja menuding. „Apakah kamu hendak main dangsu ?"
Boe Djin Tjoen berkuatir mendengar suara dan melihat sikap gurunja itu. Ia tahu, karena djarang keluar, guru ini tidak tahu banjak lagi perihal angkatan muda.
„Soehoe", ia lekas berkata, „selama beberapa tahun ini, kau djarang keluar, karenanja kau rupanja tidak ketahui tentang Yan-tjoe-hoei Yan Kouw-nio jang kenamaan dari Kanglam", demikian Djin Tjoen pada gurunja, kemudian ia melandjutkan pada wanita itu: „Yan Kouw.nio, aku jang rendah adalah Boe Djin Tjoen dari Thay-tjhong Ban Seng Piauw Kiok, dan inilah guruku, Tjongpiauw-tauw Tjian Tjeng Loen. Silahkan djiewie berkenalan !"
Nona jang dipanggil Yan Kouw-nio itu — artinja Nona Yan — jang disebutkan djuga gelarnja, Yan Tjoe Hoei atau si Walet Terbang, sudah lantas mendjura kepada kedua piauwsoe itu; ia pun bersenjum, hingga tampak sikapnja jang ramah-tamah.
Tjian Tjeng Loen tidak berani lagi berlaku sembrono apabila ia telah dengar keterangan muridnja dan melihat sikap orang itu.
Belum sempat kedua pihak membuka pembitjaraan, dari arah belakang rombongan piauwsoe itu terdengar bunji kelenengan kuda, lalu dari djalan perapatan terlihat mendatangi seorang penunggang kuda. Kuda itu putih, tinggi dan besar, bulunja putih mulus. Sipenunggang sendiri adalah seorang mahasiswa umur kira² tiga puluh tahun, mukanja putih, tangannja mentjekal tjambuk pendek, romannja sangat tenang. Dibebokongnja, dia tidak mempunjai buntalan jang berisikan sendjata. Kudanja sangat djinak dan menurut. Waktu dia memperdengarkan suatu suara pelahan, kuda itu lantas menghentikan tindakannja, tepat kurang lebih tiga-empat tindak dari rombongan piauwsoe itu.
Tjeng Loen heran atas kedatangan orang itu, tepat pada waktu matjam itu. Ia menoleh dan mengawasi sedjenak. Ia melihat orang itu seperti tidak mengerti ilmu silat. Iapun lihat orang itu tidak kenal sinona, maka hatinja mendjadi lega.
Boe Djin Tjoen djuga tidak perhatikan penunggang kuda itu. Ia hanja merangkap kedua tangannja, untuk berkata kepada si Nona Yan „Yan Kouw-nio, maafkan kami. Sungguh kami tidak tahu tempat kediaman nona adalah disini, hingga kami belum mempunjai kesempatan untuk membuat kundjungan. Akupun hendak mendjelaskan, keluarnja kami kali ini adalah karena sangat ter- paksa, sebab leher kami seperti sudah dikalungi. Mau atau tidak,kami mesti melakukan perdjalanan. Kouw-nio, sudilah kau memandang kepada sesama kaum Rimba Persilatan, supaja kau suka memberi perkenan kami lewat disini ?”
Kata itu sangat merendah, mendengar itu, si Nona Yan mengangguk seraja terus tertawa.
„Djikalau demikian adanja,” ia menjahut, „silakan Boe Piauwtauw tinggalkan itu lima-ribu tali emas lembaran jang sipembesar djahat itu berniat mengirimkan sebagai persembahan kekota radja!”
Mendengar perkataan sinona, panas hati Tjeng Loen. Memang ia sudah tidak puas terhadap muridnja, jang bitjara setjara demikian rendah, jang ia anggap sangat menurunkan deradjatnja. Ia lompat kedepan sambil menggerakkan goloknja.
„Enak sekali kau bitjara !" ia menegur. „Djikalau limaribu tail emas ini kamu ambil, habis dengan apa aku menggantinja nanti ? Rupanja bitjara sadja tidak ada artinja, dari itu, marilah kita mengambil keputusan dengan djalan tinggi dan rendahnja kepandaian kita!"
„Bagus!" djawab sinona, tapi sikapnja tetap tenang, malah pedangnja dari tangan kiri ia tidak geser ketangan kanannja.
Tanpa sungkan lagi, Tjian Tjeng Loen bertindak lebih djauh. Udjung goloknja terus mengarah dada sinona.
Nona itu berlaku sabar, baru setelah udjung golok hampir tiba, ia mengegos kesamping dan pedangnja menjambar, guna membalas menjerang. Dengan tjepat keduanja bergebrak. Baru tiga-empat djurus, Tjeng Loen sebagai ahli silat segera mengerti, sinona bukan sembarang orang, hingga ia djadi berkelahi dengan waspada. Nona itu memainkan ilmu pedang Thay Kek Kiam, dan tentunja mempunjai latihan belasan tahun.
Dengan bertempurnja rombongan pertama itu, lalu menjusul rombongan jang kedua, dimulai oleh satu murid sinona, jang lompat menjerang Boe Djin Tjoen, hingga piauwsoe muda ini terpaksa mesti melajani, sedang sebenarnja ia masih ingin menempuh djalan berunding.
Sipenunggang kuda berdiri tetap diatas kudanja, jang ia tidak djalankan. Dengan perhatian wadjar ia tonton pertempuran itu.
Yan Tjoe Hoei tidak dapat merobohkan sipiauwsoe, iapun agak kikuk dalam melajani ilmu silat Tjo-pek-too lawannja, tangan kiri, sedang permainan golok piauwsoe itu adalah djurus Liok-hap.too jang telah terlatih sempurna. Disamping itu ia selalu memasang mata kepada tangan kanan sipiauwsoe, jang memegang busur peluru. Ia kuatir nanti kena dipanah atau didjepret .............
Segera djuga Tjian Tjen Loen dapat menerka hati sinona dan ia ingin lekas menjudahi pertempuran ini dengan djalan kegetasan, ialah dengan berlaku keras dan bengis. Paling dulu ia hendak sampok terlepas golok sinona, lalu ia gunakan pelurunja. Akan tetapi sekarang ini, ia telah memikir terlambat. Tiba sadja sipenunggang kuda madjukan kudanja, terus ia lompat turun melajang kesisi sinona. Entah tanda apa jang dua orang itu pakai, hanja sinona mendadak meninggalkan musuhnja, lompat keluar kalangan !
Setelah itu, rupanja untuk mentjegah sipiauwsoe lompat mengedjar, pemuda itu segera madju menghalang, menggantikan sinona membuat perlawanan !
Tjeng Loen mendjadi sangat mendongkol. Ia tertawa dingin dan tanpa bilang suatu apa, ia menjerang dengan sengit.
Pemuda itu berkelahi dengan menggunakan tjambuknja jang pendek. Diluar dugaan, tjambuk itu merupakan sendjata jang berharga, jang banjak gunanja, jaitu dapat dipakai sebagai djoan-pian atau tjambuk lemas, sebagai penotok djalan-darah, dan djuga sebagai toja dengan ilmu toja Siauw Lim Pay! Masih ada lagi jang luar biasa, ialah walaupun ia melajani berkelahi, sipemuda tidak bersikap sama bengisnja seperti sipiauwsoe.
Tjian Tjeng Loen berkepala besar, seumurnja iapun belum pernah roboh. Sekarang ia mesti melawan satu anak muda, jang seperti memandang enteng terhadapnja, maka ia lekas djuga tidak dapat menguasai diri. Begitulah ia merogo pelurunja, untuk segera memperlihatkan kepandaiannja menggunakan peluru itu. Ia membatjok dan mendjepret dengan berbareng !
„Sungguh liehay!” berseru sianak muda, jang berkelit dari dua² serangan itu. Karena ini, ia lantas bergerak dengan gesit sekali. Waktu sipiauwsoe hadjar ia pula dengan peluru, saling-susul beberapa kali, selainnja berkelit, iapun menanggapi peluru itu dgn. tangannja.
Dipihak sana, Boe Djin Tjoen telah mesti mengeluh sendirinja. Ia telah lantas bermandikan keringat. Mulanja ia lawan murid sinona, beruntun sampai tiga murid bergantian, tapi setelah sinona mundur dari hadapan Tjeng Loen, sekarang dia datang padanja. Maka sebentar sadja, ia mendjadi kewalahan.
Murid² Yan Tjoe Hoei tidak menonton sadja. Setelah mendapat kenjataan pihaknja menang diatas angin, dengan satu seruan, mereka menjerbu kearah kereta. Tidak susah untuk mereka pukul bujar serombongan serdadu pengiring itu, lalu mereka paksa kuli mengangkut pergi petikulit jang berharga itu, buat dibawa kedalam rimba bambu jang lebat disebelah Timur.
Boe Djin Tjoen sedang sangat terdesak, ia tidak bisa berbuat suatu apa tidak demikian dengan Tjian Tjeng Loen. Dalam murkanja, ia berteriak keras, ia lompat meninggalkan lawannja, untuk mentjegah murid'nja sinona. Ia baru berlompat atau musuhnja sudah berlompat djuga, untuk menjusul padanja.
„Djangan kabur”, anak muda itu memperdengarkan suaranja, berbareng dengan mana, dengan tjambuknja ia menotok kearah djalan darah thian-kioe-hiat sipiauwsoe.
Tjeng Loen memutar tubuh, malah dengan ketjerdikannja, ia tunggu sampai udjung tjambuk hampir mengenai sasaran, baru ia berkelit kekiri seraja memutar tubuh, sambil berkelit, ia memapas, untuk membalas menjerang.
Pemuda itu liehay sekali, matanja awas, gesit gerakannja. Ia batalkan serangannja, iapun mengegos tubuh, guna menjingkir dari antjaman golok. Ia hanja tidak lompat djauh, tjuma kesamping lawannja, maka lekas djuga ia dapat menjerang pula, kali ini pun tetap dengan totokan, hanja totokan tangan kiri, dengan dua djeridji tangan, telundjuk dan tengah. Dengan tipusilat „Sian-djin tjie louw” atau „Dewa menundjuki djalanan”, ia arah djalan darah samlie-hiat dibahu sipiauwsoe. Disaat serangannja sudah berlangsung, sulit buat Tjeng Loen menarik pulang, guna membatalkan, akan tetapi permainan goloknja, Liok-hap.too mahir, maka itu ia berkelit, seraja menurunkan bahunja, lantas ia menekuk lengannja sebatas sikut, untuk goloknja dipakai menjerang bahu kiri silawan. Inilah kelitan sambil menjerang, suatu perbuatan nekat.
Sianak muda djuga liehay. Dengan tjambuknja, ia hadjar golok musuh itu.
Tjeng Loen tertawa besar, ia geser kaki kirinja, goloknja bekerdja pula. Hebat sekali batjokan ini, sampai gelang golok digagangnja mendjadi berbunji berkontrangan, Sasarannja kali ini ada. lah leher atau dada. Berbareng dengan itu, dengan bebasnja tangannja jang kanan, tiga kali beruntun ia melepaskan pelurunja. Ia sangat mengharap jang kali ini ia akan berhasil merobohkan sianak muda.
Tapi anak muda itu berlaku sangat gesit dan sebat. Dengan memutar tubuh, ia berkelit dari golok dan peluru, tetapi tubuhnja berputar, bukan ia menjingkir djauh, ia djusteru datang mendekati lawan, dibelakangnja. Ia terus menjerang pula, dengan tjambuk kelengan kanan, dan dengan djari kiri, ia menotok djalan darah lengtay-hiat.
Tjian Tjeng Loen terantjam bahaja. Goloknja. tertahan tjambuk, golok itu tidak dapat dipakai membatjok lagi. Selagi begitu, musuh berada sangat dekat padanja, hingga sulit untuk berkelit. Sebagai djago tua, ia nampaknja mesti djatuh mereknja. Tapi tiba²:
„Engko Hoa, sudah! Kita tjuma saling towel sadja !”
Itulah satu suara halus dan sedap, jang datangnja dari dekat mereka.
Sianak muda djuga segera lompat mundur sambil menjahut : „Baiklah !” Maka batallah serangan jang berbahaja itu, dan sianak muda sudah lantas menjingkir lima-enam tindak.
Tjeng Loen mendjadi tertjengang. Waktu ia berpaling, ia mendapat kenjataan, jang berseru manis itu adalah Nona Yan atau Yan Tjoe Hoei si Walet Terbang. Muka Tjeng Loen mendjadi bersemu merah, sebab ia djuga tampak, Boe Djin Tjoen berdiri diam seperti dia, wadjahnja merah djuga, pedangnja sudah tidak ada ditangannja. Ia mendjadi malu dan berduka. Tapi disaat seperti itu, ia mesti bitjara. Ia masih mesti antar To Siotjia dan In Soeya, lalu ia mesti berdaja lagi, untuk dapat merampas pulang piauwnja itu. Tapi ia didului oleh sinona begal ...... „Tjian Loopiauwtauw, aku harap kau sudi ketahui”, demikian nona itu,,,Emas ini sebenarnja adalah emas Tiong-ong-Lie Sioe Seng jang telah disimpan didalam Tiong-ong-hoe, istananja. Sipembesar djahat telah mendapatkannja, dia lantas mengangkangi, untuk dipersembahkan kepada pemerintah Boan, untuk mengambil hati! Maka itu, bisalah dimengerti djikalau kaum Rimba Hidjau di Selatan dan Utara Sungai Besar mesti mendapatkan harta ini, tidak peduli dengan djalan apa ! Tentang kesulitanmu, kami telah dapat ketahuinja. Kau tidak tahu duduknja hal, kau kena didjual sipembesar djahat, Sekarang maafkan kami, tidak dapat kami temani kau lebih lama lagi, akan tetapi, didalam tempo satu bulan, bolehlah kau pergi ke Kangpak untuk mentjari kami!”
MONDAR-MANDIR.....
Tjian Tjeng Loen bungkam, ia mendongkol bukan main. Mau atau tidak, ia mesti adjak rombongannja kembali ke Tiangkeng-tin, kerumah penginapan. Disini ia segera diganggu In Soeya. Sekertaris tiehoe itu segera mendesak dengan pertanjaannja berulang² apa jang hendak dilakukannja ? Ia pun diintili sadja, se-olah2 sisekertaris takut Tjeng Loen nanti melarikan diri ...........
Satu kali piauwsoe ini habis sabar. Ia tjekuk pundak sisekertaris, ia pentang pintu kamarnja dan mendorongnja dengan keras, hingga terpelanting, lalu ia tutup pintu dengan digabruki !
Setelah ini barulah In Soeya tidak terlalu mendesak lagi. Ia mau mengerti kesulitan Tjeng Loen bahwa djuga piauwsoe itu adalah orang jang memegang kehormatan. Tapi ia sendiri tidak bisa diam sadja, maka ia utus satu serdadu, untuk segera pulang ke Souwtjioe, guna menjampaikan laporan kepada To Tichoe.
Tjeng Loen dan muridnja bingung bukan kepalang. Walaupun ia dibudjuk dan didesak pada waktu ia menerima tugas melindungi angkutan emas dan puteri tiehoe itu, ia toh telah berdjandji dan telah memberi tanggungan, maka sekarang, dengan hilangnja emas jang berdjumlah sangat besar itu, ia sukar lolos dari tanggung djawabnja. Apa ia mesti bikin sekarang ? Dalam saat pikirannja ruwet, ia tidak dapat berentjana, demikian djuga muridnja.
Achir²nja Boe Djin Tjoen menghibur: „Djika peluru api soehoe tidak hilang tertjuri, hari ini tidak nanti kita nampak kegagalan. Mereka itu menggunakan akal-muslihat, perbuatan mereka tidak bagus. „Soehoe tidak usah berketjil hati. Umpamakata peristiwa ini tersiar, soehoe tidak akan mendapat malu. Chalajak ramai kaum kang-ouw tentu bisa memberikan pertimbangannja. Sebenarnja, siapakah jang berani mempermainkan piauwkiok kita ?”
Tjeng Loen mengerti seperti muridnja itu. Adalah sipenunggang kuda putih, jang romannja sebagai seorang mahasiswa, jang membuatnja berpikir keras. Siapa pemuda itu, jang demikian liehay?
Sore itu, selagi Tjeng Loen tungkuli diri didalam kamarnja, satu djongos hotel datang masuk dan menjerahkan kepadanja satu bungkusan.
„Seorang pemuda jang menunggang kuda, menjampaikan ini, katanja untuk dipulangkan kepada Tjian Piauwtauw”, djongos itu menerangkan.
Tanpa membuka lagi bungkusan itu, Tjeng Loen sudah lantas mengutuk tak habisnja. Bungkusan itu berisikan panah berikut kantong piauwnja.
Diam² Djin Tjoen mengagumi pihak musuh, jang sudah mengudji gurunja itu. Rupanja dengan mengembalikan panah dan piauw itu, musuh tidak djeri lagi. Inilah sebabnja kenapa musuh menan- tang dalam satu bulan.
Tadinja murid ini mengusulkan untuk susul sianak muda untuk tjari tahu tempat kediamannja, akan tetapi Tjeng Loen tidak setudju, katanja pertjuma sadja, mereka toh bakal bertemu nanti di Kangpak.
Setelah dapat menenangkan diri, Tjeng Loen berkata pada muridnja : „Besok kau turut sisoeya tjelaka itu pulang ke Souw-tjioe. Kau biarkan sadja umpama kata tiehoe hendak menawan anak-isteriku dan mensita rumahku atau piauwkiok! Anak, inilah nasib, maka kalau nanti kau mesti mengerem beberapa bulan didalam pendjara kau toh tidak bakal sesalkan aku, bukan ?”
„Djangan mengutjap begitu, soehoe !” kata Djin Tjoen dengan tjepat. „Untuk soehoe, djangan kata baharu dipendjarakan, dibunuhpun aku rela. Hanja sekarang ini kemana kiranja soehoe berniat pergi ?”
Tjeng Loen memainkan dua bidji tohnja sebelum ia memberikan djawaban.
„Segera setelah hari terang, besok hendak aku pergi ke Yam_shia”, ia djawab muridnja. „Disana ada sahabatku jang aku hendak minta bantuannja”. Djin Tjoen tidak bilang sesuatu apapun, ia tidak mentjegah. Iapun tutup mulutnja terhadap In Soeya, maka sewaktu sisekertaris dapat tahu piauwsoe itu telah pergi, Tjeng Loen sudah pergi djauh. Dalam mendongkolnja, ia desak piauwsoe muda ini lekas kembali ke Souwtjioe.
To Tiehoe kaget, menjesal dan mendongkol. Ia segera tahan Boe Djin Tjoen dan kirim orang pergi kekantor Ban Seng Piauw Kiok, guna desak wakilnja Tjeng Loen, untuk lekas tjari piauw jang hilang itu. Orang pun dikirim ke Siongkang, guna tangkap anak-isteri Tjeng Loen jang berdjumlah lima orang.
Di Ban Seng Piauw Kiok, orang mendjadi kaget dan heran. Disana masih ada beberapa murid serta piauwsoe undangan, jang diadjak bekerdja sama. Tentu sadja mereka mendjadi bingung dan repot, untuk memikirkan daja pertolongan.
Tjeng Loen sendiri jang pergi mentjari bantuan bukannja tidak menemukan kesulitan. Ia telah tiba di Yam-shia, untuk mentjari sahabatnja jang mendjadi pemilik Tin Wan Piauw Kiok. Piauwsoe itu adalah Kim-pa-tjoe Siang Beng si Mantjantutul Belang. Pada kira sembilan tahun jang lampau, pernah mereka berdua melindungi piauw. Mereka menghadapi bahaja tapi piauw achirnja dapat dirampas pulang, karena itu, perhubungan mereka mendjadi erat dan keduanja angkat saudara. Dalam hal ilmu-silat, Siang Beng kalah, tetapi dia pandai bergaul dan banjak kenalannja, dia dapat diharap untuk minta bantuan sahabat²nja itu.
Sajang, Tjeng Loen datang menubruk tempat kosong. Baru pada bulan jang lewat, Siang Beng telah berangkat ke Kwangwa bersama sahabatnja dan mungkin empat atau limapuluh hari lagi baru akan pulang kembali. Tjeng Loen djadi masgul hingga ia banting kaki, sehingga beberapa piauwsoe dari Tin Wan Piauw Kiok merasa tak enak hati.
Satu malam, Tjeng Loen nginap di Tin Wan Piauw Kiok, besoknja ia mau berangkat ke Hangtjioe. Disana ada satu soeheng, atau kakak seperguruan dari ajahnja, jaitu Tiat-tah Tjhio Tjong Sian si Menara Besi, jang ia harap bisa diminta bantuannja. Ketika ia memohon diri, ia ditjegah oleh Siang Tjeng, adik Siang Beng. Sebagai wakil tuan rumah, Siang Tjeng mengundang Tjeng Loen bersantap dan pesiar. Karena malu hati, Tjeng Loen melajani hingga setengah harian, tetapi ia masih ditahan djuga.
„Urusanku sangat penting”, Tjeng Loen bilang. Karena terpaksa, ia tuturkan hal terampasnja piauwnja. Siang Tjeng terperandjat. Segera ia berpikir.
„Tjian Toako, djangan kau berangkat dulu!” katanja kemudian.„Aku nanti pikirkan daja untukmu !”
Tjeng Loen awasi orang, jang ia tahu adalah seorang saudagar jang lemah dan selama berdiam di piauwkiok tjuma mengurusi buku perusahaan. Apa jang orang sematjam ini dapat lakukan untuknja?
Akan tetapi Siang Tjeng dapat memperkenalkan seorang istimewa. Memang dalam halnja atau mengenai ilmu silat, ia tidak tahu suatu apa, akan tetapi ia banjak dengar, ia tahu perihal orang jang kosen. Demikian kali ini, ia ingat suatu nama.
Tidak djauh dari Yam-shia ada sebuah tempat jang dipanggil Pek-tjoei-po. Disanalah tinggal siorang jang Siang Tjeng hendak perkenalkan— itu seorang she Kouw nama In Hoei dan djulukannja Ban lie Twie Hong atau si Pengedjar angin Selaksa lie. Tapi untuk penduduk disekitarnja, ia dikenal sebagai Kouw Thay-soe, si achli ilmu alam dan djuru-hikajat, sebab dia pandai bersjair dan bernjanji, pandai karang-mengarang, hingga kepandaian silatnja djadi seperti dilupakan, sedang ia sendiri hampir tak sudi bitjara urusan ilmu silat. Adalah kehidupannja belasan tahun jang telah lalu jang membuatnja kesohor sebagai Ban-lie Twie Hong.
Kim-pa-tjoe Siang Beng liehay pendengarannja. Ia dapat tahu siapa In Hoei sebenarnja, maka ia ingin beladjar kenal, tetapi ia tidak mau berlaku sembrono, ia memakai siasat.
Dikota Yamshia itu ada satu sioetjay miskin she Tjoe, jang hidup sebagai tukang tulis surat dan melukis gambar. Ia suruh adiknja pergi kepada sisioetjay, untuk berdamai, setelah mana ia minta sioetjay itu pergi kepada Kouw In Hoei, untuk berkenalan, buat minta pengadjaran ilmu menulis dan menggambar. Untuk ini, Tjoe Sioetjay tidak membajar dengan uang atau mengantar barang, hanja setiap hari raja barulah ia menghaturkan barang jang terkenal keluaran lain kota atau bunga jang istimewa, katanja sebagai penghargaan sadja. Kemudian barulah— kadang² sadja— Siang Beng ikut Tjoe Sioetjay membuat kundjungan, hingga ia pun bisa beladjar kenal dan bersahabat dengan In Hoei itu. Ia djuga tidak berani bitjara perihal piauwkiok atau ilmu silat. Sesudah lewat lagi empat-lima tahun, baru In Hoei insaf sendirinja, sebagai piauwsoe, Siang Beng hendak bersahabat dengannja, sedang dilain pihak Siang Beng sendiri mendapat tahu In Hoei benar² kosen. Tentang maksudnja itu, tetap Siang Beng tidak berani lantjang mengutarakannja, dan In Hoei sebaliknja, berdiam sadja. Maka djuga, kedua pihak tjuma menjimpan perasaannja itu didalam hati masing².
Sekarang, dengan muntjulnja Tjeng Loen, Siang Tjeng ingatKouw Thaysoe itu. Begitulah ia sebut namanja Ban-lie Twie Hong.Tapi ia beritahukan tabiat orang jang luar biasa itu, maka ia memberi pikiran, untuk minta bantuan, perlu didapatkan dulu bantuan Tjoe Sioetjay.
Tjeng Loen suka minta bantuan In Hoei, tetapi untuk mohon perantaraan Tjoe Sioetjay, ia tidak setudju, sebab ialah ia tak sabar dan urusannja djuga tak dapat dilawan dengan berajal. Ia pikir „Aku tahu Pek-tjoei-po, kenapa aku tidak mau pergi sendiri kesana”, dan lantas ia bertindak. Selagi Siang Tjeng pergi kepada Tjoe Sioe-tjay, ia lompat atas kudanja dan seorang diri kabur keluar kota,menudju langsung ke Pek-tjoei-po. Disini tak sulit baginja untukmentjari rumah Kouw Thaysoe, jang setiap penduduk ketahui de- ngan baik.
Sebentar sadja Tjeng Loen telah tiba diperapatan dimana ada sebuah rumah besar, ialah rumah orang she Kouw itu, hanja ketika ia turun dari kudanja, didepan pintu pekarangan, pintu ditutup rapat. Disitu tidak ada pengawalnja. Ia mengetok pintu hingga beberapa kali, tidak djuga ada orang jang membuka pintu atau menjahut. Ia mendjadi heran, dan mulai mendjadi tak sabar. Disitu djuga tidak ada orang jang berlalu-lintas, hingga tidak ada jang dapat dimintai keterangannja. Tjuma tak djauh dari situ, disebuah sumur, ada seorang tua asjik mentjutji. Orang tua itu berada disitu sedjak ia datang. Mungkin pandangannja kurang baik, karena ia tidak pernah menoleh atau menjapa.
Karena terpaksa, Tjeng Loen menghampiri orang tua itu.
„Eh, orang tua, apakah ini rumah Kouw Thaysoe ?„ ia tanja, suaranja keras. Ia pun tekan bebokong orang dengan udjung tjam buknja.
Orang tua itu mengangguk dengan pelahan. Ia tidak menoleh, hanja ia mentjutji terus, mentjutji dua potong badju.
„Ada orang atau tidak didalam rumahnja ?„ Tjeng Loen tanja pula, suaranja tetap keras.
Orang tua itu kembali mengangguk, tetapi tetap tidak membuka mulut.
Piauwsoe itu mulai habis sabarnja. Ia mendekati satu tindak. „Apakah kau pegawai keluarga Kouw ?” tanjanja. Orang tua itu mengangguk pula. Kali ini ia putar tubuhnja pelahan, dan memandang sipiauwsoe dengan kedua matanja terbuka sedikit lebar.
Tjeng Loen melihat orang mengenakan pakaian tua, orangnja sendiri bertubuh ketjil dan kurus, kepalanja botak, romannja lojo. Ia pertjaja, orang ini adalah pegawai tua dari Kouw In Hoei. Ia lantas sodorkan tjambuknja sambil berkata dengan keras: „Aku datang dari Yam-shia, untuk tjari madjikanmu! Kau tambat dulu kudaku itu, lalu lekas kau antar aku kedalam !" Ia rogo sakunja dan bertentangan dengan hatinja, ia keluarkan ratusan uang tang- tjhie dibelesekkan kedalam tangan siorang tua, seraja menambahkan Kawan tua, lekasan sedikit! Ini untukmu minum teh !"
Orang tua itu tidak menampik. Ia masukkan uang itu kedalamsakunja. Ia bergerak dengan sangat lambat. Mulanja ia tuntun kuda, untuk ditambat, lalu ia angkat pakaiannja jang basah itu, begitupun paso airnja. Sesudah lewat sekian lamanja, baru ia adjak Tjeng Loen kebelakang rumah. Disini ia letakkan dulu pasonja, baru ia keluarkan sebuah anak kuntji jang besar dari sakunja, untuk membuka pintu belakang itu.
Kesabaran Tjeng Loen hilang. Baharu daun pintu terbuka, ia sudah mendahului bertindak masuk. Ia rupanja pikir, semasuknja kepekarangan dalam, sendirinja ia bisa pergi keruang depan. Tapi ia ketjele. Didepannja sekarang ada lagi tembok pekarangan, dengan dua buah pintu ketjil jang diberi warna merah. Kedua pintu itu djuga dikuntji. Jang mengetjilkan hati, pintu itu berdebu, tanda sudah lama tak pernah dibuka. Disebelah kanan tidak ada pintu lainnja, sedang disebelah kiri ada sebuah tembok lowong bagaikan mulut guha, jang tertutup mulai putih. Nampaknja tjuma itulah pintu masuk lainnja. Tanpa membuang tempo lagi, ia bertindak kesitu, untuk singkap gorden itu.
Hai, sahabat piauwsoe, tahan !" berseru siorang tua. „Apa maksudmu, ha? Siapakah tidak punja anak ketjil ? Kau telah sampai diruang dalam, kenapa kau lantjang masuk? Kenapa kau tidak main tanja2 dulu? Kau toh sudah berusia limapuluh tahun? Mustahil kau tidak tahu aturan ?"
Tjeng Loen menoleh, ia heran sekali, Kali ini, siorang tua mirip dengan manusia benar, buka seperti tadi, bagaikan orang tolol. Setelah mengawasi orang tua itu, ia awasi pula tembok lowong itu, melihat kesebelah dalamnja. Ruang didalamnja persegi pandjang, dikirinja ada dapur dengan dua buah liangnja. Dipodjokan ada tumpukan kaju bakar, Di tengah² ada sebuah medja dengan enam kursinja jang kate jang dipakaikan batu marmer. Memang medja dan kursi itu sudah tua tetapi sebab terbuat dari kaju garu merah, taklah tepat ditempatkan diruang seperti itu. Lantai tak berpermadani dan tidak rata tetapi djuga bersih. Dikiri, nempel pada tembok, ada dua buah almari, jang satunja terkuntji, entah apa isinja, Menjender dekat mulut pintu ada sebuah lagi, jang pintunja terpentang, hingga tampak empat tingkat susunannja, jang tiga penuh dengan pelbagai kitab, jang paling bawah terisi kusut dengan piring-mangkok, peles, botol minjak dan beras.........
Walaupun ia tampak semua itu, Tjeng Loen masih tidak dapat menerka, pengisi rumah itu ialah budjang atau madjikannja. Maka ia mendjadi men-duga² terus.
Siorang tua sudah meletakkan paso dan badjunja, Sambil menepuk² kursi ia berkata seperti djuga kepada dirinja sendiri: „Duduklah, habis beristirahat baru bitjara !" Dan ia terus djatuhkan diri disebuah kursi.
Tanpa bersangsi Tjeng Loen seret sebuah kursi untuk berduduk, tepat menghadapi siorang tua itu. Kebetulan mereka sama² angkat kepala dan saling memandang. Tiba piauwsoe itu bertjekat hatinja, hingga ia berpikir: „Tidak kusangka, orang tua selojo ini, matanja bersinar tadjam sekali......". Karena ini, ia segera berbangkit, untuk rangkap kedua tangannja, guna memberi hormat.
„Kouw Lootjianpwee, kau benar siorang budiman jang tak menondjolkan diri !" ia berkata. „Kau membuat aku malu, siorang kasar dan sembrono! Tadi aku telah berlaku kurang adjar, sekarang aku mohon sudilah kau memberi maaf padaku......"
Iapun beritahukan namanja.
Orang tua itu menggeleng kepala, sinar matanja jang tadjam lenjap. Ia menjangkal bahwa ia adalah Kouw In Hoei. Ia menjangkal terus walaupun Tjeng Loen menjebut² Tjoe Sioetjay dan Tin Wan Piauw Kiok dan hal persahabtan kaum kangouw.
Pertjaja bahwa ia tidak keliru, Tjeng Loen berkeras terus. Ia seperti djuga ngotjeh seorang diri ketika ia tuturkan hal-ichwalnja mengiring piauw, jang kena dirampas. Dengan sangat ia memohon siorang tua suka bantu padanja.
Agaknja orang tua itu tertarik untuk kedjudjuran piauwsoe ini Wadjahnja tak lagi tolol an seperti semula. Dengan pelahan ia berbangkit menghampiri dapur.
„Kelihatannja kau djudjur", katanja, suaranja kurang djelas.
„Kau datang dari tempat djauh mari, silakan dahar dulu!" Terus ia masak nasi, ia matangi sajur. Sekarang ia bergerak sebat, beda daripada waktu ia mentjutji pakaian tadi.
Tjeng Loen hendak membantunja, tapi ia menampik.
„Kau lihat kitab sadja", katanja. Dan dari almarinja, ia tarik keluar dua djilid kitab sjair.
Kasihan piauwsoe she Tjian ini. Karena terlalu repot dengan perusahaannja, ia tak sempat beladjar surat, hingga untuk menulis seputjuk surat sadja, ia tidak mampu, Kini terpaksa ia berdiam menantikan. Ia duduk atau djalan mundar-mandir. Sekarang ia tidak berani angkat kaki, ia kuatir membuat hilang ketika jang baik ini. Sebaliknja kalau ia menunggu, ia pun kuatir orang tolak permintaannja........
Achir²nja, matanglah nasi dan sajurnja, dan siorang tua menjadjikannja diatas medja. Tapi, dalam keadaan seperti itu, mana Tjeng Loen bernafsu bersantap? Kemudian berubah pula sikap siorang tua. Sambil atur piring. mangkok dan sumpit, ia perlihatkan roman riang-gembira. Ia tertawa.
„Lao-hia, lekas dahar, lekas dahar !" dia mengundang. „Nasi ini bertjampur gandum. Bila didahar panas² harum baunja dan pulen, gampang ditjernakan. Hanja kalau sudah dingin, mendjadi tak enak dimakan. Kau lihat, bukankah masakanku tak ada tjelanja? Nasiku ini termasuk tidak keras dan tidak lodo, tidak basah dan tidak kekeringan! Ketika Sie Djin Koei mendjadi hwee. tauwkoen, situkang masak, dia tak dapat masak seperti aku ini !"
Habis berkata, dia tertawa berkakakan, terus dia ambil mangkoknja, untuk menjendok nasi itu.
Tjeng Loen tidak berani menghilangkan kegembiraan orang, walaupun dengan likat, iapun turut angkat mangkoknja, turut menjendok nasi. Ia tidak sangka, benar² nasi itu harum, hingga dengan sendirinja ia suap itu masuk kedalam mulutnja. Waktu ia lihat teman nasi, ia tampak satu piring terisi masakan empat ekor ikan ketjil, jang digoreng, sedang mangkoknja, jang besar, muat masakan tauwhoe tjampur sajuran, minjaknja kental.
Sirang tua angkat sumpit. „Lao-hia, mari tjoba dulu ikan ini", katanja, untuk berpidato seperti tentang berasnja barusan. „Djanganlah kau memandang enteng masakanku ini. Walaupun ini hanja ikan dipakaikan garam, aku tanggung tak dapat disamakan dengan masakan lain orang. Djangan kau anggap bahwa kau adalah piauwsoe dari puluhan tahun, jang telah ulung dalam pengembaraan dalam dunia kangouw, tetapi ikan sematjam ini, aku tanggung, belum pernah kau memakannja!"
Tjeng Loen tidak bilang suatu apa, ia hanja adjukan sumpitnja, berniat mendjepit ikan itu, atau ia tampak siorang tua sudah dului ia. Orang tua itu lepaskan sumpitnja, sebagai gantinja, ia pakai djeridji tangannja, mendjemput se-ekor, untuk segera ditjubiti untuk didahar. Sambil menggajam, ia buka pula suaranja: „Ketika aku beli ikan ini, aku tidak berlaku sembrono. Aku memilih jang paling segar, jang ditangkapnja tak lebih lima hari jang lalu, dan begitu diangkat dari dalam air, segera direndam kedalam air garam. Setjara begini, barulah ikan tetap segar dan garamnja meresap betul! Ikan sematjam ini, aku tidak menghendaki jang besar. Jang paling pandjang djuga tak boleh lebih daripada delapan dim. Diwaktu habis dibeli, setibanja dirumah, ikan mesti lantas ditjutji, ditjutji dan dibilasi paling sedikit sampai empat kali, selesai ditjutji, terus ditusuk untuk didjemur, didjemurnja mulai bulan ketiga atau bulan keempat, lamanja belasan hari. Diwaktu mendjemur, mesti didjaga, sebelum matahari turun ke Barat mesti lekas² diangkat, untuk disimpan. Ikan ini mesti didjemur kering sekali sehingga keras bagaikan sehelai papan. Sesudahnja disimpan didalam gutji, dan mulut gutji mesti ditutup rapat dengan kertas jang terbuat dari babakan murbei. Ikan asin sematjam ini bisa disimpan sampai dua atau tiga tahun, tidak akan mendjadi busuk. Diwaktu menggorengnja untuk didahar, kita djuga mesti kenal aturan menggorengnja, jaitu djangan terlalu tjepat diangkat, djangan terlalu lama, nanti mendjadi hangus! Lao-hia, untuk dahar pun orang mesti tahu aturannja!........
Belum habis siorang tua dengan pidatonja itu, Tjeng Loen sudah hadjar habis seekor ikannja itu, dihadjar berikut tulang²nja.
Siorang tua lihat itu, ia girang bukan buatan, ia tertawa besar. „Akur !" ia berseru. „Memang, untuk dahar, orang mesti dahar dengan bernafsu ! Hari ini aku kasi kau makan seekor, aku sendiri makan se-ekor djuga! Masih ada lagi, lao-hia. Ini semangkok tauwhoe, tjara masaknja djuga istimewa, dan tjampurannja
semua bahan jang mahal. Lihat itu daun muda, itulah pusu sajur hio-tjoen, dipetiknja mesti diwaktu pagi, lalu dimasak dan didaharnja diwaktu tengah-hari, rasanja segar dan lezat. Didalam satu tahun, tjuma beberapa kali sadja orang dapat merasai pusu ini. Ah, lao-hia, sungguh, bagus sekali djodoh mulutmu !”
Tjeng Loen merasakan kebenarannja kata² orang tua ini. Sedjak engkong dan ajahnja, sudah tiga turunan ia mendjadi piauwsoe, ia dapat memakai uang dengan leluasa, akan tetapi sebagai ahli silat, ia tidak mengutamakan barang makanan, maka itu, ia beda sekali daripada orang tua ini, jang pandai masak. Tanpa merasa, ia hadjar habis tiga mangkok nasi, dua ekor ikan dan separuhnja masakan touwhoe dengan pusu daun hio-tjoen itu. Tjoba tidak ia tengah menghadapi kesulitan, mungkin ia bisa dahar lagi satu lipat banjaknja !
Nampak orang berdahar dengan lahapnja, siorang tua girang, sambil benahkan piring-mangkok, ia perdengarkan suara senandjungnja pelahan.
Lega hati Tjeng Loen menjaksikan sikap jang aneh ini. Ia sekarang mau pertjaja pasti bahwa dia adalah Kouw In Hoei jang ia tjari.
„Lootjianpwee”, ia berkata kemudian, dengan permohonannja, „kau telah beri aku makan dengan ijuma², itu masih tak dapat menolong aku, maka itu, untuk bitjara dengan sedjudjurnja, aku mohon sudilah kau tolong aku, untuk suka membuat perdjalanan, guna menemui Yan Tjoe Hoei. Djikalau piauwku itu dapat diram-pas pulang, selandjutnja aku akan keram diri didalam rumah, untuk memomong sadja anakku. Tidak nanti aku sebut pula usaha piauw! Bagaimana, lootjianpwee ?”
Masih dua tiga kali Tjeng Loen mengulangi permohonannja itu, baru ia lihat lagi perubahan wadjah siorang tua, begitupun sikapnja. Orang tua ini masih tidak mengaku ia benar adalah Ban-lie Twee Hong Kouw In Hoei tetapi ia sudah bersikap sungguh², tak setolol semula, dia tak bergurau lagi. Malah dia beri nasihat untuk sipiauwsoe djangan pergi kelain tempat untuk mentjari bantuan.
„Kau pergilah seorang diri pada Yan Tjoe Hoei. Kepadanja kau tuturkan djelas bagaimana mulanja kau menerima tugas mengiring emas itu”, demikian katanja. „Kau mesti omong dengan terus-terang, lalu kau haturkan maafmu. Aku tahu, Yan Tjoe Hoei walaupun seorang wanita, tetapi dia adalah orang kang-ouw sedjati. Setelah kau omong tjukup djelas, pastilah emasmu itu bakal didapat pulang........."
Kata² ini beralasan, akan tetapi berat bagi Tjeng Loen untuk melakukannja. Tidakkah menurunkan deradjat dan memalukan untuk ia memohon maaf dari perampas piauwnja itu? Apakah ia tidak bakal ditertawai kaum Rimba Persilatan ?
Siorang tua, mengawasi. Apabila ia lihat orang diam sadja, ia pun membungkam.
Sekian lama keduanja tidak berbitjara, lalu Tjeng Loen merasa bahwa orang telah bitjara dengan suatu kepastian. Itu artinja tidak ada lagi pembitjaraan. Dan karena ia merasa sulit untuk merendahkan diri seperti diusulkan siorang tua ia tidak dapat banjak omong lagi. Begitulah ia berbangkit, sambil menghaturkan terima kasih, ia memohon diri.
Siorang tua tidak mentjegah, dia malah mengantarkan.
Tjeng Loen bertindak dengan tindakan tetap. Waktu ia mendekati pintu, tiba siorang tua berkata kepadanja:,,Djangan terburu², Tjian Tjongpiauwtauw! Tadi kau memberi aku duaratus uang tang-tjhie! Ada pepatah mengatakan bahwa tanpa djasa, djanganlah menerima hadiah, oleh karena itu, sukalah kau menerima kembali uangmu ini !"
Piauwsoe itu segera berpaling. Ia lihat siorang tua menjodorkan uangnja, jang merupakan satu rentjengan, jang didjepit diantara dua djari tangan. Tjeng, Loen seorang sembrono dan djudjur, ia tidak menjangka apa, maka ia ulur tangannja untuk menjambut.
,,Aku menjesal", ia masih dapat berkata menghaturkan maafnja. Segera ia mendjadi terperandjat. Ketika ia pegang uang itu untuk ditarik, ia tak dapat menariknja.
Orang tua itu memandang sambil bersenjum.
Baru sekarang Tjeng Loen insaf bahwa ia sedang ditjoba. Karenanja, ia menarik dengan tenaga delapan bahagian. Ia pertjaja, umpamakata ia tidak berhasil seluruhnja tali rentjengan uang itu bakal putus. Untuk keheranannja, ia dapatkan uang itu tak bergeming ditangan siorang tua. Ia mendjadi malu dan penasaran, tak sudi ia,,djatuh merek", maka ia menarik pula, dengan sepuluh bahagian tenaganja, sambil menggertak gigi. Kali ini ia tidak gagal, walaupun tidak berhasil sepenuhnja. Ia dapat menarik putus, sebagian! Siorang tua tertawa, terus ia buka tangannja, untuk melemparkan uang ketanah. Jang sangat mengherankan ialah, uang tangtjhie itu telah hantjur belarakan. Ia telah menggunakan tenaga besar akan tetapi wadjahnja tetap wadjar.
Airmuka Tjeng Loen mendjadi merah, Segera ia memutar tubuh, tanpa bilang suatu apa, ia buka tindakan lebar.
,,Bagus, Tjian Tjongpiauwtauw !" berkata siorang tua, sebelum orang bertindak. ,,Kau memang hebat, namamu bukan nama kosong belaka ! Tjoba bukan aku, tetapi seorang lain, ia tentu telah roboh ditanganmu! Dengan memandang tenagamu itu jang besar beberapa ratus kali, baiklah, aku siorang tua suka menundjukkan suatu djalan! Mari, mari, ka idjinkanlah aku mengantarkan kau naik kuda !" Dan ia lantas djalan mendahului tetamunja itu.
Sekarang Tjeng Loen tidak berani melakukan sesuatu jang melewati batas sopan-santun. Ia pegangi les kudanja, tapi tidak segera lompat naik. Tidak berani ia naik kuda dengan dibantu si-orang tua.
Orang tua itu usut djenggotnja jang seperti djenggot kambing gunung. Ia tertawa! ,,Aku menjesal, tidak dapat aku terlalu membeber rahasia orang !" katanja. ,,Aku hanja dapat memberitahukan kepadamu, sahabat jang melajani kau dengan bersendjatakan tjambuk kuda itu, adalah murid kaum Sian-Thian Tjiang Hong Pay. Gurunja adalah Pek Tim Loodjin jang diberi gelar orang kangouw Wie Tin Pathong......"
Tjeng Loen terkedjut hingga ia mendjerit.
,,Pantaslah!" serunja.,, Sekian lama aku lajani dia, tidak djuga aku dapat tahu dia asal persilatan kaum mana, kiranja dia adalah murid pandai dari orang tua itu! Bagus, rubuhku, rubuh berharga !"
Piauwsoe ini kenal baik nama Pek Tim Loodjin itu, si Djago Delapan Pendjuru — Wie Tin Pat-hong.
Siorang tua tertawa pula menjaksikan kelakuan orang, lalu ia tepuk pundak Tjeng Loen sambil berkata: ,,Andaikata kau tidak dapat mentjari orang jang sudi membantu padamu, atau pembantu itu tidak dapat membereskan urusanmu ini, kau bilang begini padanja "Touw_tiong tjioe-ie Kouw In Hoei mengirim tabe kepada mereka guru dan murid".
Baru sekarang orang tua itu perkenalkan dirinja, akan tetapi hanja sekian kata²nja. Tjuma itulah satu²nja petundjuknja. Tjeng Loen tidak mengerti maksud kata² „Touwtiong tjioe-ie” itu atau „Hudjan lama dikota radja”, akan tetapi ia insaf, pertjuma ia menanjakan terlebih djauh. Ia djuga tidak ada muka untuk bersikap terlalu menebal. Maka ia tjuma menghaturkan terima kasihnja ber-ulang², lalu setelah memberi hormat dengan mendjura dalam-dalam, ia tuntun kudanja berlalu dari rumah itu. Setibanja ditikungan, baru ia lompat naik atas kudanja untuk pulang ke Yamshia.
Waktu Siang Tjeng mengetahui tentang kegagalan piauwsoe ini, ia menjesalkan kesembronoan sipiauwsoe. Tapi ia sendiri tidak dapat berdaja, karena waktu tadi ia pergi mengundjungi Tjoe Sioetjay belum habis ia memberi keterangan, sioetjay itu sudah menolak dengan getas. Dia tak sudi mendjadi orang perantara untuk sipiauwsoe. Itulah bukti bahwa Ban-lie Twie Hong bukannja orang jang dapat sembarang diundang !
Hari itu Tjeng Loen berbitjara dengan piauwsoe² dari Tin Wan Piauw Kiok. Ia mohon keterangan perihal sarangnja Yan Tjoe Hoei, si Walet Terbang itu. Tidak ada piauwsoe jang bisa memberi keterangan djelas. Dugaan adalah sarang sinona itu mesti terletak di dekat atau sekitar telaga Sia Yang Ouw. Dan apa jang orang ketahui, ialah telinga Yan Tjoe Hoei sangat tadjam. Asal ada orang asing ditempat seratus tindak lebih didalam wilajahnja, dia tentu lantas dapat ketahui. Bahwa djika dikehendaki si Walet, tak usah orang pergi tjari dia, dia akan mentjari sendiri untuk menemui pengundjungnja. Pula tersiar omongan, si Walet mungkin punja tjabang atau markas lainnja didaerah Gie San atau Sek San diwilajah Kanglam. Djadi dia bukan bersarang di Kangpak sadja.
Kanglam adalah daerah Selatan Sungai Besar dan Kangpak daerah Utaranja. Jang rata orang dapat simpulkan, tidak sukar untuk piauwsoe dari Ban Seng Piauw Kiok ini mentjari sinona : Bukankah nona itu telah mendjandjikan pertemuan di Kangpak dalam tempo satu bulan ?
„Dia masih berusia muda, tetapi dia sudah kenamaan sekali......” pikir Tjeng Loen mengenai Yan Tjoe Hoei. Ini djuga anggapan banjak piauwsoe itu.
(BERSAMBUNG).