Telu Pitu
Bidik Baturetno
mempersembahkan
Seorang pria bernama Bayu terlihat membawa amplop coklat melangkah dari perusahaan satu ke perusahaan lain guna melamar pekerjaan tetapi selalu mendapat penolakan.
Bayu berhenti di depan penjual dawet ayu dan dia memesan satu porsi.
Sepeda motor melintas di depan Bayu dan hampir menyrempet segerombolan anak SD yang sedang berjalan pulang dari sekolah
Anak-anak SD
AAAAAAAA.....
Kejadian itu membawa pikiran Bayu flashback pada masa kecilnya. (Suara terikan anak dan klakson sepeda motor)
(musik dan pemandangan jalanan di tengah persawahan)
Seorang kakek menarik gerobak dengan beban berat yang berisikan hasil panenan sawahnya.
Kakek jatuh dan kakinya tertimpa gerobak. (Suara jatuh)
Warga
Eh.... Bapak...
Bayu dan teman-temannya,mereka sedang dijalan sehabis pulang sekolah, langsung bergegas menolong kakek dan menghentikan pengendara lain yang hendak lewat.
Kakek dibantu berdiri oleh teman-teman Bayu serta warga segera merapat membantu kakek dan mendirikan gerobak yang terjatuh.
Sepasang suami-istri yang buru-buru hendak ke rumah sakit karena istrinya sedang hamil besar dan akan melahirkan, tetap berhenti menunggu evakuasi kakek yang terjatuh.
Warga di jalan yang melihat langsung turun dari kendaraan dan bergegas membantu menggendong kakek dan membawanya untuk pengobatan.
Bayu kembali membuka jalan dan mempersilahkan kendaraan untuk kembali berjalan. Bayu membungkukan badan, mengucapkan salam hormat kepada pasangan suami-istri tersebut.
TELU PITU
TETULUNGAN - PITULUNGAN
Suasana pagi hari di SD Bayu kecil. Anak-anak jajan, berkumpul, bermain sepak bola.
(Suara bel masuk sekolah). Warga sekolah melaksanakan upacara. (Suara menyanyikan lagu Indonesia Raya)
Kepala Sekolah
Anak-anak hari ini kita kedatangan tamu yang dapat kita jadikan sebagi sosok teladan. Hari ini beliau akan memberi amanat kepada kita semua. Monggo Pak Dirman
Kepala sekolah dan Pak Dirman berjabat tangan.
Pak Dirman
Merdeka! Anak-anak seperti lagu Indonesia Raya yang baru saja kita nyanyikan, ada kalimat 'Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Raganya' maka kita harus tumbuh dengan penuh empati saling menolong dan mementingkan kepentingan orang lain. Silahkan maju kedepan, Ananda Bayu......
Pak Dirman melanjutkan memanggil teman-teman Bayu yang terlibat menolong kakek yang jatuh tertimpa gerobak.
Bayu dan teman-temannya yang terpanggil maju ke tengah lapangan. (Suara tepuk tangan). Pak Dirman memberikan apresiasi kepada anak-anak tersebut dengan simbolis Bintang.
Kembali ke masa sekarang. Bayu memandangi Bintang pemberian Pak Dirman waktu dia masih SD dan kini telah dia kenakan sebagai kalung.
Bayu membayar satu porsi dawet ayu dan kembali berjalan melanjutkan aktivitasnya dengan semangat baru.
Epilog
Ini adalah sebuah cerita tentang bagaimana membentuk kebiasaan dan kebiasaan membentuk kita. Menolong dan merasakan sensasi kebahagiaan tersendiri dalam jiwa, memenangkan kebiasaan baik dan kehidupan akan memberikan kemenangan untuk kita. Dibesarkan dengan karakter saling berempati hingga yang susah merasa sedikit demi sedikit keluar dari keterpurukan. Kuatkan dengan kebiasaan saling menolong, memberikan cara kepada orang lain untuk mengubah kesusahan menjadi kesempatan. Begitulah kebiasaan baik, pada akhirnya bertemu dengan nasib baik. Semua yang bermula dari hati akan sampai ke hati.
(Penutup)