Lompat ke isi

Srigala Melolong di Hastinapura

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Srigala Melolong di Hastinapura
oleh Im Yang Tju

SRIGALA MELOLONG DI HASTINAPURA

Gambar Duryadana

Oleh : Im Yang Tju.

SRIGALA MELOLONG DI HASTINAPURA


Oleh:
IM YANG TJU



Penerbit:
„SULAKSANA”
SLAWI




Wakil besar di Djawa Timur
TOKO „ASTAGINA
Kawatan 146 – Surabaia.

PENDJELASAN.

Tjeritera ini adalah dari pedalangan wajang purwa, termasuk salah satu bagian dari Babad Pandawa, maka umumnja dianggap sebagai tjeritera pokok, bergandengan dengan lain-lain tjeritera jang mengalir sehingga ke Bratayuda.

IM YANG TJU.

SRIGALA MELOLONG DI HASTINAPURA.

I.

Hiruk-pikuk suaranja keratjak kuda jang melanggar batu dan pasir, hingga debu mengepul disepandjang djalanan jang diliwati, oh itulah rombongan pradjurit jang mengiringi maha prabu Pandudewanata, radja besar dari bangsa Kuru jang habis senang-senang memburu binatang hutan, sedang pulang menudju ke Hastinapura.

Tiada seperti biasanja djikalau ia balik dari berburu, jang tentu membawa banjak pendapatannja kidang mendjangan dan matjan, hanja waktu itu para pradjurit pengiringnja tjuma panggul tumbak dan panahnja sendiri sadja. Sang prabu jang tjakap itu kelihatan lesu, tampang mukanja jang putih sedari dilahirkan, djadi bertambah pias dan putjat, sebagai warnanja bungah melati jang sudah laju.

Pada hari-hari jang sudah, biasanja kalau ia datang dari perdjalanan, sesampainja di istana, dengan mulut bersenjum-senjum, ia memandang keduwa permaisurinja jang dari djauh sudah menjambut kepadanja, matanja memantjar-mantjar penuh dahaga jang mengandung asmara. Tapi kali ini sang prabu tidak melihat kedepan, hanja memandang kebawah, tjuma kupingnja sadja jang dengan rasa gelisah dapat menangkap suaranja permaisuri Dewi Kunti jang empuk muluk sebagai suaranja burung kepudang, disambungi oleh istrinja keduwa, Dewi Madrim, jang njaring bening sebagai suaranja lontjeng emas dari istananja Betara Kuwera.

„Aduh Djagad Dewa Betara”, demikianlah Prabu Pandu telah mengeluh sembari membanting dirinja diatas sebuah kursi empuk jang tertutup dengan kulitnja biruang putih. Dan ketika keduwa istrinja itu datang menghampiri, jang seorang membawa bokor kentjana berisi air djernih, jang lain membawa lap dari kain putih, untuk menjutji kaki suami djundjungannja itu, sang prabu telah bertreak dengan suara penuh ketakutan :„Oh adinda, adinda, djangan pegang badanku !”.

Keduwa putri indah itu lalu mundur setindak lantaran kagetnja, memandang dengan sorot mata menanja, penuh rasa sangsi tertjampur bingung. Sang suami tiada segera mendjawab, hanja menutup muka dengan keduwa tangannja, maka keduwa wanita tjantik itu lalu taro barang bawaannja dan mereka sendiri lalu duduk diatas tanah, djuga para dajang keraton jang rata-rata anak perawan tjantik djelita, dengan perhiasannja serba emas dan batu permata, sama duduk memutari, diam dan sunji tiada sepatahpun perkataan jang terdengar, hingga mendjadi njata ketika sang prabu mengelah napas tertjampur rintihan jang sangat menjedihkan.

„Oh baginda”, kata Dewi Kunti dengan perlahan membudjuk-budjuk, „biarlah saja tjutji lebih dulu kaki baginda jang penuh debu itu, dengan air mawar jang sedjuk ini, supaja mendjadi segar dan senang, lalu baginda boleh duduk rebahan seenaknja, sembari menghilangkan lelah dan mengasohkan diri”.

„Perkataannja kakambok itu betul sekali, baginda”, menjambung Dewi Madrim. „Nanti habis ditjutji kaki baginda akan saja pesuti sehingga mendjadi kering, lalu saja pidjati dan baginda boleh tidur dengan hati jang tentram”.

„O sepasang kembangku jang tjantik djelita, segala perkataanmu itu jang manisnja sebagai madu dari kahjangan, telah membikin hatiku seakan-akan ditjintjang dengan seribu golok, aduh adinda, adinda.......”, kata Prabu Pandu dengan suara megap-megap sebagai orang kalelap, kemudian ia menekap mukanja, dan dari sela-sela djarinja lalu tertampak mengalir air matanja sebagai pantjoran.

„Oh baginda, baginda, kau kenapa, baginda ?” berseru kedua istri jang eilok itu dengan berbareng.

„Sebab...... djikalau kau menjinggung badanku, lantas aku mati”, djawab baginda dengan suara terputus-putus. „Kenapa djadi bagaitu, baginda, kenapa ?”, menanja Dewi Madrim dengan hati berdebar-debar.

„Oh adinda, adinda, tjilaka sekali diriku ini” setelah mengutjap demikian, radja jang tjakap dan gagah perkasa itu lalu menangis tersedu-sedu.

Memang sangat heibat penanggungannja Prabu Pandu itu, tjobalah bajangkan apa jang telah terdjadi atas dirinja.

Tadi waktu masih pagi, sang prabu bersama para pengiringnja dengan sendjata lengkap telah berangkat memburu kehutan Tundalaja, karena ia memang ada seorang radja jang sangat prawira, kesenangannja berburu dan olah-raga. Keberanian dan kegagahannja termashur diseluruh djagad, tidak ada satriya atau radja mana sadja jang sanggup menandingi.

Tapi heran sekali pada hari itu, hutan Tundalaja jang biasanja banjak penghuni binatangnja, pada hari itu. tertampak sepi dan kosong, apa lagi banteng, matjan dan mendjangan, sedang kelintji sadja tidak kelihatan hidung-kupingnja. Mereka seperti sudah sama mendapat firasat bahwa bakal ada bahaja mendatangi, sijang-sijang sudah menjingkirkan diri, binatang besar sembunji kedjurang-djurang jang dalam, heiwan ketjil sama masuk kedalam lobang-lobang sarangnja.

Sang Hjuang Diwangkara jang menjinari bumi, menggintjlang-gintjlang ditengah udara, panasnja makin terik, hingga mereka jang berburu itu mendjadi lelah dan dahaga, sama melindungkan diri duduk dan rebahan dibawah puhun-puhun jang rindang. Semula Prabu Pandudewanata pun merasa letih, setelah ia mengasoh dibawah puhun mandira jang teduh, mendapat silirannja Betara Bayu jang adem, ia rasakan badannja segar dan hilang rasa lelahnja. Maka dengan tiada ingin mengganggu para pengiringnja jang rupanja masih letih dan pajah, diam-diam sang prabu, pergi seorang diri masuk kedalam belukar, dengan berdjalan kaki, tangannja jang kiri menenteng lengkap gandewa, tangan kanan membawa tjambuk untuk menjingkirkan lung pendjalin dan akar-akar jang rawe-rawe menghalangi djalan. Achirnja sang prabu tiba disuatu tempat jang puhunnja besar-besar, dedaonannja rindang tepung satu kepada lain, dibawalinja mendjadi sidum dan lapang, lantaran pepuhunan ketjil tidak tumbuh subur disitu, hingga pemandangan dapat menembus ketempat-tempat jang djauh. Sedang Prabu Pandu berdiri dengan hati jang ajem, tiba-tiba ia menampak ada duwa ekor mendjangan djantan dan betina, sedang djalan beriring-iringan, jang lelaki sebentar didepan sebentar dibelakang, sembari melanggar-langgarkan tanduknja perlahan kepada istrinja, untuk menimbulkan napsu gembiranja. Mendjangan betinapun melajani tjumbuan suaminja, melengos kekanan dan melengos kekiri, kemudian makan rumput dan putjuk-putjuk muda, sebagai atjuh-taatjuh, hingga sang djantan djadi makin binal, makin mendjadi napsu asmaranja.

Keduwa binatang jang sedang dalam kesenangan itu, tambah lama tambah dekat ketempatnja sang prabu berdiri, rupanja mereka tiada menghiraukan pula segala jang ada diseputarnja, dan kemudian mendjangan djantan menubruk jang perempuan akan melampiaskan rasa tjintanja.

Prabu Pandudewanata merasa djemu dan ewa melihat perbuatannja keduwa binatang itu, maka lalu ia ambil anak panahnja, ditudjukan kearah mendjangan lelaki, kena tepat dibawah lehernja lalu djatoh diatas tanah, sedang sang mendjangan betina dengan ketakutan lari masuk kedalam semak-semak jang rungkut.

Tersungkur kongsep ditanah, mendjangan lelaki bertreak kesakitan, memanggil-manggil sang istri, suaranja mempilukan hati. Kemudian ketika ia menampak Prabu Pandu jang masih pegang gendewanja, mendjangan itu berdiam tapi keduwa matanja lalu menjala seperti keluar apinja.

„Hai radja dari bangsa Kuru,” kata sang mendjangan itu, jang mendadak bisa bitjara sebagai manusia, „dosa apa aku telah perbuat padamu, hingga engkau melepaskan panahmu ?”

„Diantara pemburu dan binatang perburuannja, tidak ada soal dosa atau tidak dosa, karena sipemburu ada mempunjai hak atas perbuatannja, sedang jang diburu ada mempunjai hak atas djiwanja, maka larilah kalau engkau bisa lari, untuk melindungi djiwamu sendiri”. Demikianlah djawabnja Prabu Pandu.

„Memang, pemburu boleh mentjari korban dengan sendjatanja, tetapi undang-undang keutamaan ada melarang akan melepaskan sendjata terhadap machluk jang sedang menjampaikan ketjintaan pulang-resmi sama betinanja”. Kata pula sang mendjangan dengan suara jang bengis, kemudian perlahan-lahan sifatnja lantas berobah mendjadi seorang manusia dengan dandanan sebagai pandita.

Prabu Pandudewanata mendjadi kaget hingga bergumetaran seluruh badannja, maka lalu ia djalan menghampiri, akan memperhatikan terlebih djauh.

Dengan anak panah jang masih menamtjap diatas lehernja, pandita itu masih berdjengku setengah tengkurep diatas darahnja sendiri. Ia menggerakkan kepalanja jang sudah lemah itu dan berkata pula :

„Didalam dunia banjak djalan akan orang mentjari kesenangan, tapi diantaranja tidak ada jang kesenangannja dapat dibandingkan dengan kesenangannja duwa machluk jang sedang bertjinta-tjintaan pulangasmara, karena itu adalah anugrah pemberian dari allam jang maha pasti. Seperti djuga kalamangga atau laba-laba djantan jang untuk mendapatkan sekedap sadja kesenangannja berpulangasmara, ia ridlah akan sesudahnja itu mati terbunuh oleh jang betina. Demikianpun manusia, untuk mendapatkan kenikmatan dalam waktu sedetik itu, duwa-duwanja sanggup memikul beban penderitaan mendjadi budjang dari anak-anaknja hingga seumur hidupnja. Oh Prabu Pandu, dalam seluruh penghidupan tidak ada saat jang begitu indah seperti waktu dalam pertjintaan, maka apakah pantas engkau membunuh sesama machluk jang sedang berkawin setjumbana”?

Sang prabu tidak bisa mendjawab, diam memandang kebawah dengan penuh rasa getun dan menjesal jang tidak kepalang besarnja. „Tjapung kawin sembari terbang”, kata lagi sang pandita, „burung-burung kawin sembari menjanji, perlunja supaja kesenangannja djadi berlipat ganda. Radja-radja bertjinta-tjintaan didalam miligainja jang rebo dan mewa, sembari mendengarkan suaranja gamelan jang meraju-raju sukma; para satriya bertjinta-tjintaan dengan menjanji, merungrum kekasihnja, akan mendapatkan kesenangan jang tidak ada batasnja. Tetapi semua tjara itu, tidak ada jang dapat dibandingkan dengan kesenangannja mendjangan jang sedang bertjinta-tjintaan didalam hutan jang sunji, sembari bertjanda, sembari berlaga, keatas melihat langit biru dengan awan-awan jang putih, kebawah memandang rumput-rumput segar dan putjuk-putjuk semi jang hidjau, sebentar lari kesana, sebentar kesini, disiliri angin pagunungan jang sepoi-sepoi basah, djagad raja adalah kita jang punja. Dari itu, sang prabu, maka aku sudah mentjalawarna mendjadi mendjangan lelaki, dan istrikupun aku tjipta djadi mendjangan perempuan, dan disinilah kita bersenang-senang memintal asmara, tapi perbuatanku jang sama sekali tidak ada sangkut-pautnja dengan engkau, sudah diganggu olehmu, engkau telah melepaskan sendjatamu dengan tiada semena-mena, mengorbankan djiwaku jang tidak berdosa, istriku sudah lari ketakutan, entah kabur kemana dan setau bagaimana nasibnja diwaktu jang akan datang. Oh Prabu Pandudewanata, sudi gawe sekali engkau itu, apakah Dewa membenarkan seorang satriya berbuat demikian? Hai radja jang kurang tata, ketahuilah olehmu, aku adalah Resi Kimindama, jang selama hidupku belum pernah berbuat dosa, maka segala sabda utjapanku pasti akan terdjadi. Mulai dari saat ini engkau tiada akan dapat merasakan lagi bahagianja orang bertjinta-tjintaan, sewaktu tubuhmu kena tersinggung orang perempuan, maka pada waktu itu djuga engkau akan mati”.

Ketika mengutjapkan kutukan itu, keduwa matanja Resi Kimindama, telah menjala sebagai keluwar apinja, berbareng itu lalu terdengar suaranja geludug diempat pendjuru, langitpun mendadak djadi mendung sebagai djawaban menjaksikan perkataannja sang bagawan itu, jang dengan perlahan lalu meramkan matanja dan terus meninggal dunia.

Prabu Pandu djatoh melumpruk diatas tanah, mukanja putjat tenaganja habis sama sekali dan hatinja telah mendjadi kiamat. Ketika ia membuka matanja keadaan rasanja telah mendjadi samun, majatnja Resi Kimindama telah musnạ tanpakrana, ia hanja mendengar lapat-lapat djeritannja mendjangan perempuan ditempat djauh, suaranja menjedihkan sekali.

„Aduh Djagad Dewa Betara”, demikianlah sang prabu mengeluh sembari berdjalan terhujung-hujung, menjasak-njasak duri dan bebondotan, tiada tahu lagi kemana tudjuannja, sehingga hampir sore barulah diketemukan oleh para pradjurit pengiringnja, lalu dibudjuk-budjuk dan direpa-repa supaja suka pulang ke Hastinapura.

Demikianlah maka ketika keduwa permaisurinja membawa bokor kentjana berisi air mawar akan mentjutji kakinja, sang prabu telah mendjerit ketakutan dan kemudian lalu ia menuturkan segala lelakon jang sudah terdjadi atas dirinja.

Setelah mendengar habis tjeriteranja sang suami itu, Dewi Madrim lalu mendjatohkan kepalanja diatas pangkuannja Dewi Kunti sembari menangis terseduh-seduh. Dewi Kunti pun hatinja remuk redam sebagai katja djatoh diatas batu, maka sembari meriba-riba dan mengelus-elus kepala madunja itu ia turut menangis dengan rupa jang sedih sekali. Berbareng itu, semua dajang kraton jang berada diseputar situ pun telah sama menangis gempar dengan suara jang menjajukan hati.

Sesudah sama diam, keadaan lalu mendjadi sunji sekali, jang kedengaran tjuma keluhan dari hati jang putus harapan. Sang prabu duduk diam, matanja tadjam memandang kearah djauh, lama kemudian barulah ia berkata:

„Adinda Kunti dan Madrim, allam dunia ini bagaiku sekarang sudah tidak ada artinja lagi, maka aku ada pikiran hendak meninggalkan tahta keradjaan, pergi bertapa kedalam hutan, dengan pengharapan nanti muda-mudahan Dewa maha agung akan suka memberi pengampunan atas segala kedosaanku ini. Sementara engkau berduwa, orang jang djelita, pulanglah sadja kemasing-masing orang tuwamu, karena engkau adalah putrinja radja-radja jang agung dan kaja raja, sedang masih muda-muda dan tjantik-tjantik, nistjaja banjak sekali anak radja atau satriya utama jang akan melamar dirimu. Hal ini bukan sadja aku perkenankan, malahan aku minta engkau lakukan atas pengharapan dan pudjianku jang setulus-tulusnja”.

Kembali duwa orang istri agung itu lalu menangis sangat kerasnja, kemudian dengan suara terputus-putus Dewi Kunti berkata:

„Oh sri baginda, saja tidak akan pulang ke Mandura, oleh karena seorang istri adalah mendapat hak atas keberuntungan dari suaminja, maka djikalau suami itu mendapat kesusahan, ia pun harus menerima bagian dari kesusahan itu, maka saja akan ikut baginda, kemana sadja baginda pergi”.

„Engkau sadja, denok, orang tjantik”, kata pula putri Mandura itu kepada sang madu, sembari mengusap-usap kepalanja Dewi Madrim, „pergilah pulang ke negerimu Mandaraka, disana engkau akan mendapat bahagia, karena ajahmu seorang radja besar, sedang dirimu masih muda belia, djangan menjia-njiakan rupamu jang tjantik djelita”.

Dewi Madrim menangis sesambatan sembari mendjawab:

„Tidak, kakambok, tidak, saja tidak akan pulang ke Mandaraka, saja hendak ikut baginda, meskipun pergi ke Renjetnala. Kakambok tentunja tiada keberatan djikalau saja ikut mengambil sebagian rasa bahagianja seorang istri jang melakukan tugas kesetiaannja”?

„Oh adikku, adikku. . . . . .” kata Dewi Kunti sembari peluk kepalanja Dewi Madrim, air matanja mengalir makin deras, hingga rambutnja putri Mandaraka jang hitam djengat itu mendjadi basah. „Aduh Dewa, Dewa........” berseruh Prabu Pandu dengan hati seperti diradjang-radjang.

Pada hari besoknja, sri baginda telah mengumpulkan para sentana dan menteri keradjaan, tiada ketinggalan sang Bisma tetua bangsa Kuru jang mendjadi penasihat dan senapati negara, djuga sang Destarastra dan Yama Widura, semua berkumpul dihalaman istana. Disitu sang prabu menuturkan segala keadaan jang telah menimpa dirinja, kemudian ia mengutarakan maksudnja hendak pergi bertapa masuk ketanah pagunungan jang sunji, meninggalkan tahta keradjaan Hastinapura kedalam tangannja pangeran Destarastra.

Destarastra sebenarnja ada pernah saudara tuwanja Prabu Pandudewanata, maka seharusnja dialah jang duduk mendjadi radja. Akan tetapi Destarastra itu bernasib malang, karena ia sudah buta matanja sedari ia dilahirkan, maka sang adiklah jang menjambungi duduk mendjadi radja di Hastinapura. Kini Prabu Pandu hendak meninggalkan keradjaannja, maka ia angkat saudara tuwa itu sebagai wakilnja dengan kekuasaan penuh sebagai radja besar jang memerintah seluruh tanah daratan Kurudjenggala.

Demikianlah, sesudah mendapat berkahnja sang Bisma jang wataknja luhur dan utama, maka Prabu Pandudewanata lalu berangkat meninggalkan negerinja, dengan di-iringi oleh kedua orang permaisurinja dan banjak para pandita yang ikut mengawani, pergi menudju ketanah pegunungan Nagasata, suatu tanah jang sangat permai, penuh kembang jang indah-indah, dimana mereka berdiam sementara lamanja, kemudian lalu pindah kegunung Tjitrarata jang hutannja penuh dengan puhun bebuwahan jang enak-enak, terus ke pegunungan Kalakuta jang banjak burung-burung bagus, tiap hari dari pagi hingga petang sama ngotjeh menjanji tiada berhentinja. Dari situ mereka naik lagi ke tempat yang lebih tinggi, meliwati Gunung Himawat sampai di Gandamadana, disini keadaannja sudah berbeda dengan madyapada, karena selamanja diliputi oleh halimun putih jang sedjuknja menembus ketulang-tulang, suasananja sangat sunji dan tentram sekali. Kemudian mereka meneruskan perdjalanan kedjurusan Utara, sampai dipinggirnja Telaga Hendradjumena, lalu mereka bertapa sembari tiada berhentinja mandi sesutji disitu. Sesudah dapat beberapa waktu lamanja, lalu mereka melandjutkan perdjalanannja kearah Timur laut tiba ditanah pegunungan Saptaregga, maka disinilah Prabu Pandudewanata berkenan akan tinggal seterusnja, mendirikan pondok pedepokan untuk tempat tinggalnja, dimana ia tiap hari mudja samedi mentjari persatuan kepada Brahma jang maha agung. Dan disini djuga pada kemudian hari Dewi Kunti dan Dewi Madrim atas berkahnja Dewataraya dengan tjara mudjidjat akan melahirkan lima orang putra jang disebut Pantja Pandawa, lima djago jang namanja menggetarkan Triloka dan akan hidup terus dalam bibirnja semua manusia sehingga achir djaman.




II.

Ditinggalkan oleh Prabu Pandudewanata negeri Hastina telah mendjadi suram hilang tjahjanja, rahajat negeri bermuramdurdja, sebagai anak-anak jang ditinggal mati orang tuwanja. Diwaktu siang pasar mendjadi sepi, waktu malam orang-orang sama mengidungkan pudji-pudjian, meminta kepada Dewata supaja radja jang tertjinta itu bisa lekas pulang kedalam negerinja pula.

Lebih lagi para mentri sentana, sama berduka tjita, mereka merasa kehilangan pelindung jang bidjaksana, tiada heran maka negeri Hastinapura telah mendjadi sepi dan samun.

Tapi sudah umumnja didalam madyapada dimana ada buwah jang gugur, disitu tentu ada ulat jang hidup senang oleh karenanja. Diantara mereka jang bersusah hati, ada djuga jang mendapat kegirangan lantaran perginja sang prabu, dan itu bukan lain dari sang Retna Dewi Gendari, bersama adiknja lelaki jang bernama Raden Trigantalpati, atau lebih terkenal dengan nama Harya Sangkuni. Retna Dewi Gendari adalah istrinja Prabu Destasrastra, ia bergirang bukan sadja oleh karena perginja Prabu Pandu itu telah membikin suaminja mendjadi radja dan ia sendiri mendjadi permaisuri, hanja pun ada sebab-sebab lain jang memperkuatkan alasannja. Untuk mengetahui itu lebih djelas, marilah kita tuturka- kan beberapa peristiwa jang sudah lampau.

Putra Hastinapura adalah tiga orang banjaknja, jang paling besar Raden Destasrastra, kedua Pandudewanata, ketiga Yama Widura. Mereka semua adalah anaknja bagawan Abiasa, pandita agung jang diminta oleh ibusuri Dewi Gandawati, supaja tolong menjambungkan turunan keradjaan, oleh karena radja Kuru jang paling penghabisan Prabu Wijitrawirja telah meninggal dunia sebelumnja mempunjai anak, dengan meninggalkan keduwa orang istrinja jang masih muda mendjadi djanda, dua orang putri dari negeri Kasi bernama Dewi Ambika dan Dewi Ambalika.

Bagawan Abiasa adalah putranja Dewi Gandawati sendiri, jang didapat dari suaminja dulu nama Bagawan Parasara, seorang pandita agung turunan jang keempat dari Bagawan Karnamudja di Saptaregga. Sang Bagawan Abiasa latih sudah sairibalarea, jaitu badannja sudah berserupa Dewata, tapi romandja panjang, berambut gondrong dan berserabut, matanja besar dan menakoet- kan, sorot pandangannja dalam mendjiam, dan rambut kumisnja pun banjak pandjang, dan tempat tinggalnja djuga agak tersembunji pula ditengah sunji maka ia dinamakan djuga Maharisi Kresna Dwaipayana.

Pada suatu malam jang sudah didjandjikan, Retna Dewi Ambika telah sedia untuk menerima kedatangan Bagawan Abiasa, tapi ketika menengok romandja sang resi itu, Dewi Ambika telah djadi ketakoetan, maka ia lalin menutup matanja, tiada berani melihat sadjarah. Demikian maka ketika melahirkan anak ter- wujud kedu matanja buta dan anak itulah jang dinamakan Destasrastra.

Datang gilirannja Dewi Ambalika, jang djuga takut sekali melihat Sang Abiasa, hingga parasnja putjat sekali dan melengos kesamping tidak berani menatap mukanja sang resi, maka ketika ia melahirkan, anak itu mukanja putjat sebagai sadlju dan lehernja tengleng miring kekanan, lalu diberi nama Raden Pandudewawanata.

Ibusuri Gandawati tidak merasa puas, maka ia andjuri kedua putri Kasi itu akan salah seorang satu kali lagi menerima bidji dari sang resi, supaja mendapat seorang putra jang tidak ada tjatjadnja. Kedua putri itu berdamai sendiri, jang satu menjurung kepada jang lain, karena dua-dua sebenarnya oga mendjalani, maka achirnja mendapat suatu daja, suruh seorang perempuan bangsa Sudra jang parasnja tjukup eilok, didandani dan pakai bedak gandawida, jang harus diselundupkan dalam suatu kamar jang gelap karena tidak pasang pelita. Bagawan Abiasa adalah seorang pandita agung jang sudah waskita, tentu sadja sudah mengetahui segala hal jang sudah dan belum kedjadian, maka ia terima djuga perempuan Sudra itu sembari kasih anugrah, bahwa dari bidji kebal mendapat seorang anak letaki jang arif bidjaksana, tapi sebab ia itu bangsa rendah, maka tetap ada tjatjadnja, ialah kakinja pinjang sebelah. Demikianlah, anak itu lalu diberi nama Yama Widura.

Dengan begitu, maka ketiga orang putra Hastina itu semuanya bertjatjad, tapi sebab mereka darah Abiasa turunan dari pertapaan Gowa Gadjahmungkur, maka semuanya ada mempunyai kelebihan dari sesama manusia jang lain. Destasrastra meskipun buta tapi dalam tangannja ada mendjangkau suatu kekuatan maha dahsjat jang dinamakan adji Kumbalageni, djangan kata manusia, kendati gunung djika dirabah akan hantjur mendjadi tepung. Pandudewanata tenaganja diluar takeran, hingga Naga Taksaka pun dapat diringkus dengan tangan kirinja sadja, kepandaiannja berperang tidak ada jang dapat menandingi, keberaniannja membikin kekesnja segala anasir djahat dimuka bumi. Yama Widura adalah seorang bidjaksana jang agung peribudinja, ahli dalam segala hukum negara, sopan-santun adil paramarta. Ketika mereka sudah sama dewasa, kebetulan pada waktu itu radja negeri Mandura, sang Prabu Kuntibodja, ada mempunjai seorang anak perempuan bernama Retna Dewi Prita, atau disebut djuga Dewi Kunti, jang parasnja indah djelita termashur diseluruh djagad, hendak ditjarikan bakal suaminja, dengan mengadakan sajembara paksi kitiran, jaitu siapa jang bisa memanah burung serindit didalam kurungan jang terputar-putar, kena burungnja sadja dengan tiada merusakkan kurungadnja, ia akan mendapat putri Mandura itu sebagai istrinja.

Raden Pandudewanata memang ada seorang pendekar panah jang tidak ada bandingannja, maka lalu ia minta izinnja sang Bisma akan turut masuk dalam perlombaan itu, maka tetuwa bangsa Kuru itupun mendjurungkan. Sang Pandu lalu berangkat kenegeri Mandura, bersama Yama Widura dan Destarastra jang tiada mau ketinggalan, maka djalannja djadi lambat sekali lantaran musti sembari menuntun saudara tuwa jang matanja buta itu.

Sesampainja dinegeri Mandura, mereka amat getun karena sajembara sudah bubar. Dewi Prita sudah didapatkan oleh Raden Narasoma, putra radja Mandaraka jang gagah perkasa. Sedang mereka berdiri ditempat djauh, telah diketahui oleh Raden Narasoma, jang memang tabeatnja sombong, maka ia lalu menantang djikalau Pandudewanata sanggup memanah burung serindit sama djitunja seperti ia, Dewi Kunti ia ridlah serahkan kepada sang Pandu. Tawaran ini lalu diterima olehnja, maka sajembara lantas dibuka lagi, dimana Pandudewanata telah undjukkan kesaktiannja jang mentaadjubkan, burung serindit kena dengan sangkarnja masih terputar seperti biasa, hingga surak pudjian sebagai memetjah negeri Mandura.

Raden Narasoma mendjadi djelus dan panas hatinja, maka ia menantang perang tanding, djikalau Pandu dapat mengalahkan kepadanja baru ia mau serahkan putri Mandura jang tjantik itu. Kedjadian dalam pertandingan itu Narasoma keteter, maka dengan marah ia keluarkan kesaktiannja jang sangat dahsjat nama adji Tjandabairawa, jaitu raseksa iblis pemakan manusia jang tidak bisa mati, oleh karena djika kena sendjata darahnja muntjrat tiap tetes akan berobah mendjadi raseksa djuga, makin dibunuh makin djadi bertambah banjak, hingga berdjuta-djuta membikin penuh seluruh muka bumi. Raden Pandudewanata kewalahan, maka ia lari minta pertulungannja Destarastra, jang dengan kesaktiannja adji Kumbalageni, ribuan buta Tjandabairawa itu telah dimusnakan sama sekali. Kemudian Pandu lalu madju lagi, Narasoma telah diputar dalam angin Lindupanon, sehingga ia menjerah kalah dan pasrahkan Dewi Prita dengan hati jang ichlas *).

Merasa ketarik dengan kesaktian dan keutamaannja putra Hastinapura itu, maka Narasoma menjerahkan djuga adiknja perempuan jang bernama Retna Dewi Madrim kepada sang Pandudewanata untuk istrinja jang nomer dua. Demikianlah, maka ketika Pandu bersama saudara-saudaranja pulang dari negeri Mandura, ada mengiringi dua orang putri jang indahnja menjuramkan kahjangan.

Ditengah djalan mereka bertemu dengan Raden Sangkuni, putranja Prabu Suwala dari negeri Gendara, jang maksudnja akan pergi turut masuki sajembara putri dinegeri Mandura, ketika mengetahui bahwa putri itu sudah didapatkan oleh Pandudewanata, lalu ia mentjari setori niat membegal dan rebut dengan kekerasan.

Sangkuni tiada tahu diri, sebagaimana orang-orang jang masih muda, sombong, tamberang, merasa kuat dan gagah, tiada tahu ketika berperang dengan Pandu, hanja dalam beberapa djurus sadja ia sudah kena diringkus, dikusrukkan diatas tanah, gegernja diindjak kaki sang Pandu jang beratnja ada sebagai Gunung Mahendra, ia rasakan dirinja akan remuk hantjur, maka ia mendjerit-djerit muhun ampun, supaja djangan terus dibinasakan. Pandu dengan bersenjum melihati Sangkuni kerengkangan bangun, sesudah berdiri lalu memberi hormat dan menjatakan ingin menghambakan diri ikut ke Hastinapura dengan menjerahkan saudaranja perempuan bernama Retna Dewi Gendari, untuk isterinja Pandu jang ketiga. Dengan senang Pandu terima penawaran itu, maka Sangkuni lalu pulang ke Gendaradesa, mengambil saudaranja dan nanti akan menjusul ke Hastinapura.

Betul sadja liwat tidak lama setelah para putra Hastina itu sampai dinegerinja, Sangkuni pun datang mengiringi mbakajunja, Dewi Gendari, jang ternjata ada seorang wanita jang tjantik sekali parasnja.

Sang Bisma jang gagah perkasa, mbahsuri Gendawati, ibusuri Ambika dan Ambalika, semuanja merasa girang sekali mendapat tiga orang putri menantu jang tjantik-tjantik itu, sebagai tiga rembulan jang akan menerangi keraton Hastinapura.

Pandudewanata pun bukan main senangnja, ia merasakan hidupnja dilingkungi bianglala aneka warna, maka dengan hati jang riang ia menantikan datangnja hari jang penuh madu itu, karena perkawinannja akan dirajakan dengan keramean jang serba besar.

Seluruh negeri orang ribut menjediakan segala sesuatu untuk pesta perajaan agung itu, sedang masing-masing sama repot dalam kewadjibannja sendiri-sendiri, adalah sang Destarastra sudah dilupakan orang, ia hidup sunji dalam mata gelap-gulita, hanja kupingnja sadja jang mendengar bagaimana riuhnja pegawai istana jang sedang memasang padjangan dan sebentar-sebentar kedengaran suaranja rombongan orang luar negeri jang datang membawa sumbangan dari radja-radja sahabat atau radja-radja taklukan jang bukan main banjaknja. Emas-pitjis radja-brana, perhiasan dari sutra jang indah-indah, berbukit-bukit banjaknja, sehingga gudang keradjaan mendjadi penuh, tidak ada tempat luang lagi untuk menarohnja.

Perih dan ngenes sekali perasaannja Destarastra pada waktu itu, lebih pula djikalau ia mendengar suaranja dajang-dajang keratoen jang tertawa-tawa, seraja menjeritakan keadaannja ketiga orang bakal kemanten perempuan itu, mereka pudji-pudji sebagai tiga orang bidadari jang baru turun dari Indraloka, bukan main kesengsaraan hatinja Destarastra.

„Oh Pukulun Dewa Betara”, demikianlah Destarastra meratap-ratap sendirian, „dosa apa hidupku pada djaman jang lampau, maka sekarang dimustikan menderita hidup nelangsa begini matjam”?

Sesudah mengeluh begitu, Destarastra lalu menutupi mukanja dengan kedua tangannja, maka lalu tertampak air matanja turun mengalir liwat dari sela-sela djarinja.

Pikirannja lulu berbajang kembali pada hari-hari jang baru lalu, ketika pulang dari negeri Mandura, mereka djalan rerejongan tiga orang saudara sembari mengiringi Dewi Kunti dan Dewi Madrim. Destarastra sebentar dituntun oleh Pandu dan sebentar pegangan pundaknja Yama Widura, matanja tetap dalam kegelapan, kendati Sang Hjiang Rawi menjinarkan tjahjanja jang gilang-gemilang memadangi seluruh muka bumi. Hanja kupingnja sadja jang saban-saban mendengar suaranja kedua putri itu jang sangat merdu, diseling dengan ketawa-ketawa ketjil djikalau mendapatkan apa-apa jang menggembirakan hatinja. Oh suaranja sedemikian manisnja, bagaimanakah rupanja? Tentunja indah sekali, jang meskipun ia tidak dapat menggambarkan indah itu bagaimana udjudnja, tapi ia bisa mengira boleh djadi seperti silirannja angin bagai orang jang sehat, pada waktu tengah hari panas terik.

Sedang jang lain bukan sadja dapat melihat madyapada jang indah permai, hanja ditambah lagi dengan kesenangannja hidup berdamping putri-putri djelita, mukti mulia didalam allam dunia, kenapakah ia sendiri jang harus menderita kehidupan pait getir tidak ada batasnja? „Oh Djagad Dewa Betara, kenapa pembagianmu sedemikian pintjangnja? Djikalau hidupku tiada perlunja bagai dunia, bukankah lebih baik djangan dilahirkan?” begitulah ratap keluh dalam hatinja. Air matanja lalu melele keluar dari kedua matanja jang buta, turun mengalir kebawah, bertjampuran dengan keringat jang membasahkan mukanja, hingga orang tidak ada jang mengetahuinja.

Perdjalanan mereka ada lambat sekali, oleh karena djalannja kedua orang putri bangsawan itu, jang betisnja sebagai padi bunting dan tumitnja merah djambon laksana buah apel jang sedang njadam, tindakannja eilok dan halus sebagai bidadari jang mengikuti iramanja lagu asmarandana, sementara itu Yama Widura kakinja pintjang, sedang Destarastra matanja buta, djalannja perlahan meraba-raba lantaran kuatir kepaduk tunggak dan batu malang. Maka datangnja di Hastinapura telah kesusul oleh tibanja Raden Sangkuni jang mengiringi kakaknja perempuan, diterimakan kepada sang Pandudewanata untuk isteri jang ketiga. Hal ini membikin hatinja Destarastra kelara-lara tambah sengsara, memikirkan nasibnja sendiri dibandingkan dengan keberuntungan adiknja. Sekarang ia tertinggal dalam kesunjian, dilupakan orang jang waktu itu memang sedang bekerdja rupa-rupa, mengadakan segala persediaan pesta jang serba mewah, memadjang istana dengan kembang-kembang, djanur kuning, daon waringin dan klebet aneka warna. Suaranja piring petjah atau dulang tiatoh kedumprangan, bagai jang sedang beruntung adalah seupama suaranja gamelan kasorgan, sebaliknja bagai jang sedang menderita, rasanja seakan-akan tjambuk wadja jang menjabet djantungnja, sakit dan perihnja tidak tertahan lagi.

Demikianlah penanggungannja sang Destarastra, sedang ia sesambat dan menangis sendirian, tiba-tiba Pandudewanata telah datang ketempatnja, maka adik ini mendjadi kaget sekali, buru-buru menghampiri, pegang tangannja seraja dengan suara halus dan manis menanjakan apa jang mendjadi sebabnja.

Destarastra tidak suka menerangkan, akan tetapi Pandu segera mengerti sebab-sebab dari penderitaannja saudara tua itu, maka hatinja jang mulia djadi turut mereras, lalu sembari menangis ia berkata : „Kakanda, jang agung sadja ampun pengampuramu, karena jang mendjadikan derita kesengsaraanmu itu adalah saja, lantaran sedang kalelap dalam samudra bahagia, saja djadi mabuk dan lupa daratan. Kakanda, sudah wadjibnja saudara menulung saudara dan sudah seharusnja seorang adik jang waras mentjarikan isteri kakanja jang malang, dari itu, kakanda, maka tiga orang putri itu saja serahkan kepadamu, ambillah semuanja untuk isterimu sedang saja sendiri nanti akan mentjari lagi jang lain.”

Dengan rasa terharu Destarastra mendjawab:

„Oh adikku, tinggi sekali peribudimu. Akan tetapi tentu sadja aku tidak sanggup menerima semua pemberianmu itu, karena dalam hal ini aku adalah seorang pengemis jang menadahi belas kasihannja orang lain, bagaimana aku pantas mengambil kekajaan itu seanteronja, hingga ia mendjadi miskin? Oh tidak, adikku, tidak, mudah-mudahan mataku sadja jang buta, tapi tidak buta terus sehingga kesanubariku. Maka djikalau engkau memang ridlah, kasihlah salah seorang sadja antara ketiga putri itu, sudah puas rasa hatiku, dan engkau meski pernah muda, aku anggap sebagai wakilnja ajah, karena sudah mewakilkan kewadjibannja untuk mengawinkan anaknja.”

„Aduh kakanda, ngenes sekali saja mendengar perkataanmu”, kata sang adik sembari menakupkan muka diatas pangkuan kakanja.

„Bilamana kau berpikir demikian”, kata pula sang Pandu sesudah perasaannja sedikit redah, „baiklah kakanda boleh pilih sendiri, putri mana jang kau penudju, ambillah untuk istrimu, supaja dapat meringankan segala penderitaannja jang heibat itu”.

„Oh adikku, adikku”, demikianlah kata Destarastra seraja merangkul adiknja dengan suara terputus-putus karena tersurung oleh perasaan jang sangat terharu.

Ketika orang mendapat tahu niatannja Pandudewanata, semuanja mengaju bahagia, hanja ketiga orang putri itu jang mendjadi gelisah, lantaran kuatir nanti dirinja jang djustru terpilih oleh sang Destarastra, hingga akan kepaksa mendjadi isterinja seorang buta, jang tentunja tiada bakal merasakan beruntung lagi seumur hidupnja.

Dewi Prita dan Dewi Madrim merasa dingin sekali karena tidak ada jang melindungi dan membesarkan hatinja. Tidak begitu dengan Dewi Gendari, karena disamping ia ada Sangkuni jang banjak akalnja, diam-diam adik itu mentjari jijit atau ingusnja ikan tambra, lalu dibedakkan kesekudjur badannja Dewi Gendari, hingga baunja amis dan busuk sekali, nanti djikalau ia didekati oleh Destarastra nistjaja ia akan merasa djidji dan tidak suka memilih kepadanja.

Dengan dituntun oleh Widura, sang Destarastra djalan menghampiri ketiga putri jang berdiri djedjer sedia untuk dipilihnja. Pertama ia menghampiri Dewi Kunti atau Dewi Prita jang badannja lalu mendjadi lemas karena kuatir nanti ia dipilih, maka diam-diam ia lalu bersamedi, jang diesti jalah Begawan Druwasa, batinnja mengeluh dan sambat-sambat: „Oh sang Resi pepudjaan saja, dulu paduka telah berdjandji akan melindungi saja djika saja mendapat kesusahan, maka saja sekarang menagih djandji, lindungilah saja supaja tidak terpilih oleh lelaki jang matanja buta itu”.*

Daja pangestinja sang putri telah membikin kagetnja Begawan Druwasa jang waktu itu sedang berada diatas puntjaknja Gunung Himalaya, maka sewaktu itu djuga tjiptanja telah memerintah Dewi Gandasari, jaitu bidadarinja segala kembang, akan menabirkan lapisannja bunga bangkai atau jang dinamakan kembang badur, mengurung dirinja Dewi Kunti, hingga ketika Destarastra menghampiri, mendadak ia telah mundur tiga tindak lantaran tidak kuat kena bau jang luar biasa busuknja.

Sekarang Destarastra menghampiri ketempat berdirinja Dewi Madrim, jang mukanja mendjadi putjat, badannja gemeteran, matanja terbuka bundar lantaran hatinja sangat ketakutan. Ia ingat dulu waktu masih ketjil ia pernah mendapat sakit, ibunja mengadjari ia supaja mengesti dan memuhun kepada Betara Aswin, jaitu Dewa kembar jang berkuasa dalam allam kesehatan dan obat-obatan, betul sadja penjakitnja mendjadi sembuh, lantaran itu maka tiap-tiap hari baik ia sesadji dan memudja pada kedua Dewa itu. Sekarang dalam ketakutan, kalbunja mendjerit memanggil-manggil Dewa sesembahannja itu, minta dilindungi dari malapetaka jang menakutkan hatinja. Oleh karena sangat sudjut dan mantap, maka sewaktu itu djuga Betara Aswin jang satu sudah berada disamping kanan, jang lain disamping kiri, mengalingi dirinja Dewi Madrim dengan puhun pisang jang sudah bosok, tapi tidak dapat dilihat oleh mata manusia. Destarastra mendjadi geli ketika merabah kedebog bosok itu, rasanja dingin sebagai majatnja orang mati kalelap, maka sembari bergidig ia mundur beberapa tindak dan lalu menudju ketempatnja Dewi Gendari.

Suatu hal jang aneh telah kedjadian, pada waktu Destarastra berhadapan dengan Retna Gendari, mendadak tjaping hidungnja telah berkembang-kempis, menghambus-hambus sebagai binatang rase mentjium bangkai. Dewi Gendari tidak merasa was atau kuatir, begitupun Sangkuni, karena ia duga gerakannja Destarastra jang demikian itu pasti lantaran djidji dengan bau amis jang tersiar dari badannja. Tapi tiada njana Destarastra makin lama makin dekat dan lalu merangkul lehernja seraja berkata: „Inilah jang aku pilih untuk mendjadi isteriku”.

Orang-orang pernah tua sama berseruh mengaju bahagia dan memberkahi, hanja sang Dewi Gendari sendiri sadja jang hatinja remuk rendam, mengeluh dengan rasa sengsara jang tiada batasnja. Demikianpun Sangkuni hatinja mentjelos dan kaget, ia tiada mengerti kenapa djadi begitu kesudahannja.

Ja, tidak akan ada seorang manusia jang bisa mengerti dalam hal ini, oleh karena asalnja kedjadian ini adalah datang dari djagad lain, jaitu dari allamnja para naga. Marilah kita terangkan, bahwa sudah sekean lama diatas Tjakrawala ada dua ekor naga jang sedang berperang heibat sekali, berebut sebuah mustika nama Sasraludira, jaitu tanda keradjaan dari djagadnja bangsa naga.

Jang satu Naga Erawata, jang lain Naga Kowara, dua-dua sama gagahnja, bertempur untuk merebutkan kedudukan, sebab siapa jang pegang mustika Sasraludira, dialah jang mendapat kedudukan sebagai maha radja jang disembah oleh lain-lain radja ketjil diseluruh djagadnja bangsa naga. Sudah dua ratus tahun lamanja kedua naga itu bertempur tiada berhenti-hentinja, sebentar Naga Erawata jang dapat mustika itu, tapi kemudian kena dirampas lagi oleh Naga Kowara, lalu kena lagi oleh Erawata, demikianlah seterusnja tiada sudah-sudah, bergumul saling terkam saling himpit, tempatnja berpindah-pindah memutari seluruh dunia, menerbitkan kilat-tatit dan hudjan angin jang maha dahsjat, hingga dibetulan mana sadja mereka berada, nistjaja muka bumi dibawahnja berada dalam huru-hara, hudjan lisus pantjawura, puhun-puhun mendjadi tumbang sungai-sungai sama bandjir, segala pendirian rusak binasa.

Sampai pada hari itu, pengestinja Dewi Kunti jang telah membikin Bagawan Druwasa mendjadi kaget, dari lantaran kagetnja itu maka tjiptanja sang maharsi jang tertudju untuk mendjangkitkan Bidadari Gandasari, telah merupakan sematjam kilat halilintar jang kekuatannja tiada berwatas, djustru djalannja membentur kedua radja naga jang sedang tarung berpulat-pulatan itu, histanja sebagai disambar geledek seribu, maka petjahlah pergulatan itu, dua-duanja terpelanting, jang satu kedjurusan Barat jang lain kearah Timur, hingga terpisah dalam djarak setengah djagad djaohnja.

Pada waktu itu mustika Sasraludira djustru tergenggam oleh Naga Kowara, maka setelah hilang kagetnja segera ia lari mentjari tempat sembunji, kebetulan ia menampak gowagarbanja sang Destarastra sedang terbuka, maka lalu ia njelorot masuk menjurup kepadanja. Sementara itu Naga Erawata telah kehilangan lari, tapi ia tidak pernah berputus asa, ia terus mentjari ubak-ubakan diseluruh dunia, akan nanti pada suatu masa dapat djuga ketemu musuhnja itu, hingga menerbitkan pula lain lelakon jang tiada kurang heibatnja.

Sang Destarastra jang sudah kemasukan Naga Korawa, telah mendjadi berobah pantjaindriyanja, daja, pentjiumnja pada waktu itu telah mirip dengan rasa pentjiumnja seekor ular, maka tiadalah mendjadi heiran ketika menjedot bau amis jang tersiar dari badannja Dewi Gendari, mendadak sifatnja djadi beringas, karena bagainja disaat itu, bau amis itulah ada bau jang seharum-harumnja. Demikianlah sebabnja, maka Dewi Gendari telah terpilih oleh sang Destarastia.

Putri dari Gendaradesa itu bukan main sedihnja, hatinja kelara-lara merasa seperti orang tersia-sia, dibuang-buang sebagai sampah. Lebih lagi setelah melihat mukanja Dewi Kunti dan Dewi Madrim, hatinja mendjadi sakit dan penasaran, kemudian timbullah perasaannja jang djelus. Achirnja segala perasaan itu lalu merupakan suatu tekad maha heibat jang kekuatannja bisa menghantjurkan dunia.

Dewi Gendari lalu menutup kedua matanja dengan kain selampe, jang kalau matahari sudah surup, allam telah djadi gelap-gelita, barulah penutup itu dibuka, akan besok paginja sebelum fadjar menjingsing penutup mata itu dipasang lagi seterusnja, dengan mengutjapkan suatu sumpah, bahwa ia akan berbuat demikian selama hidupnja. Ia tidak hendak melihat lagi sinarnja matahari dan padangnja djagad raja untuk mengundjukkan kesetiaannja seorang isteri kepada suaminja, sama-sama menderita hidup dalam allam jang gelap gelita. Sumpahnja dewi Gendari telah didjawab oleh suara guntur jang berbunji saling saut diempat pendjuru, karena Dewa-dewa pun sama terkedjut mendengar suatu sumpah jang sedemikian heibatnja.


III.

Pandu telah diangkat mendjadi radja, dengan nama gelaran Maha Prabu Pandudewanata, oleh karena Hastinapura memang sebuah negeri jang terbesar dimuka bumi, maka radjanja disembah oleh lain-lain radja. Apa lagi setelah dibawah pemerentahannja Prabu Pandu, djadjahannja djadi makin bertambah luas, karena ia telah pimpin tenteranja berangkat sendiri ngendon perang ke-empat djurusan, negeri-negeri jang kedatangan Prabu Pandu kebanjakan sama menjerah dengan baik, sedang siapa jang berani melawan lalu ditundukkan dengan sendjata.

Tapi ternjata manusia tiada berkuasa atas nasibnja sendiri, sedang sang prabu mukti wibawa belum beberapa lama, mendadak ia mendapat pertjobaan Dewa jang sedang pulangasmara dengan isterinja dalam rupa mendjangan, hingga achirnja ia terkena sot atau kutuk jang maha dahsjat itu, maka kebahagiaan hidupnja lalu mendjadi musna, dan selandjutnja harus mendjadi seorang Brahmatjarja, meninggalkan negeri pergi bertapa ke gunung Saptarengga.

Oleh karena djalannja penghidupan jang berlik-liku itu, maka sang Destarastra achirnja duduk sebagai radja besar di Hastinapura. Ini sebenarnja ada dari daja kekuatannja mustika Sasraludira jang berada didalam dirinja, maka tjahjanja pun lalu berobah sedjak ia dimasuki oleh Naga Kowara, berobah mantjur keluar tedjanja, jaitu sinar wahjunja seorang radja besar jang memerintah djagad raja. Sedang keadaannja jang berobah seketika baru kesurupan watak dan sifatnja Naga Kowara, daja pentjiumnja sebagai ular, perlahan-lahan telah bujar makin tipis makin tipis dan achirnja balik sebagai pantjaindriyanja manusia kembali.

Negeri Hastina jang radjanja ada mempunjai redjeki dari wahjunja mustika Sasraludira, djadi bertambah machmur, gemah ripah, loh djinawi, rakjatnja hidup senang tiada kurang makan dan pakaian. Dewi Gendari telah diangkat mendjadi permaisuri dengan nama Retna Dewi Hanggendari, dihormati dan dimuliakan oleh bangsa Kuru jang terkenal kebesarannja. Sedang Raden Sangkuni pun telah mendapat kedududan tinggi, mendjadi patih keradjaan dengan nama Kjanapatih Harya Sangkuni.

Atas perintahnja Prabu Destarastra kebon kembang istana Hastinapura telah dirobah keadaannja, untuk menjotjoki kepentingan dan kesenangannja Permaisuri Hanggendari, jang hanja membuka tutup matanja djikalau hari sudah petang, maka tamansari itu namanja diganti djadi Taman Tjandrakirana, artinja kebon bunga dari rembulan purnama raja. Kembang-kembang jang tertanam disitu sengadja dipilih jang istimewa mekarnja diwaktu malam, seperti kembang kemuning tjangkokan dari Bandjarpataruman, bunga sedap malam dari Sriwedari, dan puhun tandjung sengadja dipindahkan dari Palengkawati.

Kemudian Patih Sangkuni mengandjuri supaja dalam kebon itu dipiara djuga segala matjam binatang hutan, jaitu meniru Taman Argasoka di Alengkadiredja, taman bunganja Prabu Rahwana jang tersohor diseluruh dunia. Prabu Destarastra menuruti perkataannja Sangkuni, tapi djikalau malam ternjata jang dapat dilihat oleh Permaisuri tjuma bangsanja binatang pemakan daging jang buas-buas sadja, jalah bangsanja matjan, srigala, lowak, rase dan lain-lain jang hidupnja diwaktu malam, sedang bangsanja mendjangan, kidang, klintji dan lain-lain jang indah, semuanja sama tidur. Lantaran itu, maka waktunja permaisuri keluar bersenang-senang disitu, ia hanja menampak segala machluk berkasakan jang matanja mentjorong ditempat gelap dan suaranja menderum meraung-raung ingin minum darah.

Keadaan jang tidak selajaknja ini dapat diketahui oleh Yama Widura, jang meski usianja masih muda namun pintar dan bidjaksana, maka ia lalu menghadap kepada sang Bisma, panglima besar bangsa Kuru, tetuwa keradjaan, pernah uwa dari Prabu Destarastra dan Widura djuga.

„Kandjeng uwa", kata Widura, „tamansari jang dulunja permai dan sutji, kini berobah djadi taman jang menakutkan, maka kakambok permaisuri sekarang sedang hamil, djikalau tiap petang disadjikan pemandangan seheibat itu, jang hanja patut akan mendjadi pemandangannja bangsa raseksa sadja, apakah nanti kedjadiannja djikalau anak jang dikandung itu lahir ? Oh kandjeng uwa, saja sangat takut memikiri hal ini, oleh karena kerusakan telah berbajang didepan mata".

Sang Bisma mengelah napas dengan rupa amat berduka, kemudian ia mendjawab :

„Sudah beberapa kali aku kasih ingat kepada kaki prabu Destarastra, tapi rupanja ia tidak memperhatikan, malahan satu kali ia pernah menjatakan bahwa kekuatiran jang tidak ada alesannja adalah terbit dari pikiran jang kurang pintar. Hal ini sebenarnja sangat menjedihkan, tapi apa mau dikata, karena apa jang mendjadi kemauannja Dewata raja pasti bakal kedjadian, kita manusia tidak tahu dan tidak dapat menolaknja".

Sang Widura lalu mundur dengan mengandung kesusahan didalam kalbunja. Tidak keliru apa jang ia kata, Dewi Hanggendari pada waktu itu sudah bunting tua, tiap malam ia datang kedalam kebonnja untuk menghiburkan hati, diiringi oleh para dajang istana dengan penuh kegembiraan, sesampainja didalam tamansari ada jang menjanji, ada jang memain, berlari-larian, berdjanda dengan hati jang riang, maka disitu mendjadi ramai suaranja riuh-rendah sehingga tengah malam baru sama balik masuk kedalam istana lagi.

Didalam taman Tjandrakirana itu, ada sebuah telaga jang airnja djernih melembak-lembak hampir rata dengan tanah. Ditengah-tengahnja ada sebuah pulau ketjil, jang dihubungkan sama daratan dengan sebuah djembatan batu, disitulah Permaisuri Hanggendari suka duduk mentjari angin, sembari memandang keseluruh pendjuru jang lapang dan luas, melihat bintang-bintang jang berkelak-kelik tersebar diatas udara, atau menggadangi muntjulnja sang rembulan djikalau datang waktunja purnama raja. Pada suatu petang, djustru sang putri malam menjinarkan tjahjanja jang gilang-gemilang, sehingga padangnja allam hampir seperti sijang, Dewi Hanggendari menampak ada suatu benda jang merajap ditepi air, kendukur-kendukur menghampiri sebuah lobang jang ada dibawah kakinja.

„Hai anak-anak perempuan, binatang apa itu jang merajap kemari ?” demikian sang putri menanja kepada dajang-dajangnja.

„O gusti, itulah juju, gusti”, djawab salah seorang budjang itu.

„Betul, gusti, juju”, menjambung jang lain. „Aduh, banjak benar anaknja, menggeremet saling tindih diseputarnja”.

Sang permaisuri lalu memperhatikan, ternjata betul juju itu sedang beranak, beratus-ratus banjaknja merubung diseputar mamahnja. Menampak itu, ia djadi diam termenung-menung, ingat bahwa dirinja sedang bunting, senangnja kalau ia pun bisa mempunjai anak sebanjak itu.

Memang sudah lama Dewi Hanggendari mendapat pikiran ingin mempunjai putra sebanjak-banjaknja, ini diterbitkan oleh rasa kuatir nanti djikalau Prabu Pandu mendapat belas kasiannja Dewa, hingga ia bisa bebas dari kutukannja Resi Kimindama dan kemudian mendapat turunan, pastilah putra-putranja Prabu Pandu itu akan datang menduduki pula tahta kerajaan Hastinapura, djikalau terdjadi begitu Prabu Destarastra tidak mendjadi radja pula dan ia sendiri pun tidak mendjadi permaisuri lagi. Pikiran itu telah membikin hatinja tiada tentram, maka ia berpendapatan, alangkah baiknja djika ia bisa mempunjai anak lelaki sangat banjak, anak-anak itu nanti bakal mendjadi pagar kuat jang melindungi kedudukannja, akan mengusir dan membinasakan siapa jang dianggap hendak mengganggu kemuliaan hidupnja.

Maha Radja Sasraban di Maespati pada djaman dulu, adalah radja bala radja jaitu seorang radja jang mempunjai tentara para radja, hingga negerinja termashur dan tidak ada jang berani melawan kepadanja, tapi itu belum memadai dengan radja bala putra, jaitu djika ada seorang radja jang balanja terdiri putra- putranja sendiri, karena itu adalah persatuan maha kuat, laksana pagar gunung jang melingkungi Gunung Mahendra. Inilah jang ditjita-tjitakan oleh Permaisuri Hanggendari, guna mengukuhi negeri Hastinapura, jang terbitnja berasal dari sakit hati karena dulu merasa disia-sia, dibuang-buang oleh Prabu Pandu meskipun kedjadian itu sebenarnja bukan salahnja, tapi tetap Dewi Hanggendari menaroh dendam kebentjian, terlebih lagi kepada Dewi Kunti dan Dewi Madrim.

Permaisuri Hanggendari djikalau hari sudah larut malam, lalu mulai atur sesadji dan memudja kepada Betari Durga, memuhun supaja ia mendapat anak lelaki seratus orang banjaknja jang semua gagah perkasa. Memang tjara jang gampang akan meminta kepada Dewata, adalah kepada Betari Durga, karena Sang Hjuang Pramoni itu tempat kahjangannja ada dihutan Krendawahana, jaitu diatas muka bumi ini djuga, maka djarak terpisahnja lebih dekat dengan orang jang memudja dan hubungan kepadanja.

Djalan ini sering diambil oleh manusia sebab singkatnja, tapi mereka tidak pikir bahwa Betari Durga itu adalah Ratu Iblis jang maha heibat, maka dengan gampang ia dapat mengasih apa sadja jang orang minta, tapi menjeramkan sekali timbang-terimanja, karena disitu ada mengandung suatu perdjandjian jang sangat menakutkan.

Diwaktu langit sudah hitam gelap-gulita, suaranja sajap kampret berkleperan diatas udara, disitulah permaisuri mulai dengan pudjaannja kedjurusan hutan Setragandamajit, akan meminta berkahnja Betari Durga supaja kesampaian segala tjita-tjitanja. Baji jang dikandung dalam perutnja, sudah menandjak usia tiga tahun belum djuga lahir, baji pengharapan jang bakal mendjadi tjahja dari keberuntungannja.

Pada suatu hari dalam pertengahan musim kemarau, sumber-sumber sama kering, sungai-sungai sama asat, burung helang mendjerit-djerit diatas udara lantaran keausan, adalah pada waktu itu Permaisuri Hanggendari mulai merasakan badannja lemas dan sebentar-sebentar ingin kebelakang. Makin sore segala perasaan itu djadi makin bertambah, sehingga ketika matahari hampir surup, barulah ia merasa sedikit segar.

Waktu sendyakala telah datang, batas antara sijang-hari dan malam, jaitu pada saat tjuatja remeng-remeng, Dewi Hanggendari telah membuka kain penutup matanja, dan lantaran merasa badannja sedikit segar, maka lalu ia pergi ke tamansari karena bunga-bunga malam djustru mulai akan terbuka. Ketika ia berada dipinggir telaga jang rumputnja tebal, dengan tidak merasa lagi buntingannja telah lahir, tapi bukan keluar anak baji, hanja berupa sepotong daging warnanja merah jang berkledjetan disana-sini, sebagai daging kerbau jang baru dipotong.

Menampak demikian, sang permaisuri mendjadi getun, ia berdiri diam termangu-mangu, memikiri pengharapannja jang sudah musna. Guna apakah daging sematjam itu? „Oh Dewa, Dewa, kaniaja betul badan saja, Dewa” kata ia sembari meratap-ratap, kemudian lalu timbul perasaan marah, maka daging itu lalu didupak terpental kebentur batu petjah mendjadi dua potong, jang sepotong berada dekat padanja, maka lalu ditendang pula petjah mendjadi sembilan puluh sembilan potong, pating keledjet pating kerutik sebagai belatung, hingga sang Dewi djadi ngeri dan sedih, maka lalu ia menutupi muka dengan kedua tangannja, terus menangis sedih sekali. Ia menangis mengaru-hara dalam ratap jang putus harapan, sesambat menjebut-njebut namanja Betari Durga jang mendjadi sesembahannja.

Tiba-tiba diatas udara dengan tiada ketahuan didjurusan mana, terdengar suara diantara ada dan tiada jang berkata begini: „Hai Denok Hanggendari, djanganlah engkau menangis dan sedih sematjam itu, oleh karena pengharapanmu pasti akan kesampaian, sebab engkau adalah dibawah perlindungannja Sang Hjuang Pramoni sendiri”.

Permaisuri merasa lega hatinja, tapi ia tidak tahu dan tidak mengerti keadaannja, maka lalu ia petik daon lumbu jang memang banjak tumbuh dipinggir telaga, untuk menutupi potongan daging jang tersebar disitu. Kemudian potongan daging dari petjahan pertama, jang terletak dibawah puhun sembodja, pun ditutupi dengan daon lompong besar jang berbulu halus itu, dan lalu ia balik masuk kedalam istana kembali.

Diatas puhun jang tinggi, lalu terdengar suaranja burung tuwo jang menjeramkan, mengganter-ganter tiada berhentinja. Tiada lama burung kulik-kulik pun mendjawab dari tempat djauh, rupanja sama mendatangi makin lama makin dekat, berbareng dengan suaranja uwek-uwek dan tetekan dari tempat jang gelap, saling saut dengan burung-burung buwek, kakakbeluk, koreak dan lain-lain bangsa bersajap jang hidupnja diwaktu malam.

Rakjat negeri Hastinapura sore-sore lalu sama tutup pintu masuk tidur dengan mengandung rasa takut, karena berbareng itu angin dingin telah meniup dengan membawa suara-suara jang menjangsikan, sedang hawa udara rasanja mendjadi njes dan seram sekali.

Liwat tengah malam, orang-orang jang berdiam didalam keraton telah sama terkedjut bangun dari tidurnja, oleh karena dari djurusan taman tiba-tiba telah kedengaran suara jang sangat dahsjat, sebagai suaranja andjing-adjag jang melolong-lolong, kumandangnja memukul keseluruh pendjuru. Berbareng itu dengan serentak lalu terdengar djawaban dari binatang kalde diseantero negeri, saling-saut, ada jang sebagai menangis, segala rupa hingga orang jang mendengar djadi seram dan bingung tiada keruwan. Makin lama djedjeritan itu makin merata, tambah djauh, sehingga kedalam hutan, srigala, kuwuk, wawar, rase dan lowak pun sama berbunji, meraung dan mengulun, hingga tiada satu machluk berdjiwapun jang tiada mendjadi takut, orang-orang bulu badannja sama berdiri, ibu-ibu sama mendikap anak-anaknja jang sedang tidur, dengan putjat dan mata terbuka lebar, tiada mengerti sasmita apa jang menakutkan itu. Sedang orang-orang sedalam istana dalam kebingungan, djeritan jang sebagai suara melolongnja andjing-djag itu belum berhenti, mendadak terdengar pula lain suara, hiruk-pikuk tiada karuan djuntrungannja, tapi njata itu ada suara tangisannja anak-anak baji, bukan satu atau dua, hanja puluhan banjaknja, pating djelerit pating galembor, ada jang mirip dengan suaranja gangsa, ada jang seperti terompet petjah, brisiknja bukan buatan.

Permaisuri Hanggendari jang berdjalan paling depan, diiringi oleh para dajang keluar dari istana pergi kedalam taman, jang ditudju pun bukan lain dari tempat dimana tadi sore ia tinggalkan potongan-potongan daging jang djatoh keluar dari buntingannja. Heran sekali disitu, diatas tanah ada menggeleseh puluhan anak orok jang baru terlahir, badannja merah-merah dan gemuk-gemuk, sama menggowar-gowar menangis sembari tangan dan kakinja pating djelalat pating serawe, ramainja bukan kepalang.

Daging potongan jang terletak dibawah puhun sembodja, tutupnja daon lumbu sudah terpental djaoh, dan telah merupakan seorang anak bayi, besarnja luar biasa, kulitnja kuning sebagai emas, rambutnja keriting dan gomplok, matanja sidah terbuka bundar membelalak mengawasi keseluruhan djurusan, dia itulah jang sebentar-bentar mendjerit suaranja sebagai melolongnja andjing adjag, dengan tangannja jang bergerak kesana-kemari ada pegang sepotong sumping jang bertjahja gilang-gumlinag, dengan ada tanda-tandanja sebagai sumpingnja Maha Prabu Rahwana di Alengkadiredja, seorang radja raseksa maha dahsjat didjaman dulu.

Riuh-rendah suaranja para dajang dan budjang keraton, jang kaget, bingung dan heran tertjampur djadi satu, lantaran tiba-tiba menampak pemandangan seaneh itu. Atas titahnja Permaisuri Hanggendari jang ternjata sangat girangnja, baji-baji itu lalu diangkat, seorang dajang mengempo satu baji, bererot-erot mendjadi suatu barisan pandjang masuk kedalam istana. Jang mengherankan, baji-baji itu semuanja tiada satu pun jang mempunjai pusar ari-ari, ketjuali seorang, jalah baji paling besar jang kulitnja berwarna kuning sebagai emas, jang oleh permaisuri telah diempo sendiri, dibantu oleh seorang dajang lantaran sangat beratnja.

Prabu Destarastra girangnja bukan kepalang, dengan sekaligus telah mendapat putra sebanjak itu. Sesudah mereka dibersihkan, diberi pakaian jang bagus dan hangat, seorang baji diempo oleh seorang dajang, mereka berdjedjer pandjang sekali, ketika dihitung ada seratus orang, semua lelaki, ketjuali seorang sadja baji perempuan, warnanja indah membawa tanda jang kemudian hari sesudah besar pasti bakal mendjadi seorang wanita jang tjantik djelita.

Baji paling besar jang blengah-blengah kulitnja kuning sebagai emas itu, lalu diberi nama Djakapitana, Sujudana atau Duryadana. Anak inilah jang dibelakang hari mendjadikan adanja perang Bratayuda, bibit dari segala perbuatan djahat jang heibatnja sampai menggetarkan djagad, dan lantaran dia djuga sehingga bangsa Kuru habis tetumpesan, dengan menjeter lain-lain golongan manusia kedalam kemusnaan.

Ada pula seorang baji lain jang lebih besar dari pada saudaranja, baji itu mukanja setengah raseksa, mulutnja lebar dan sempowak kebawah, hidungnja pandjang sebagai tjutjuknja burung djalak-uren, matanja melolo sebagai badjingan kelaparan, ia dikasih nama Dursasana, jang dibelakang hari mendjadi seorang paling kedjam jang tiada djidji melakukan segala perbuatan nista.

Kemudian baji-baji saudaranja jang lain semua diberi nama Djajawikata, Djajabama, Tjitraksa, Tjitraksi, Tjitrajuda, Tjitrakala, Tjarujitra, Opatjitra, Amudara, Amudrasa, Tjitradarma, Hayabahu, Durmuka, Ogayuda, Ogasrayi, Aswaketu, dan lain-lain lagi sehingga djangkap sembilan puluh sembila orang banjaknja. Sedang orok jang perempuan, telah dikasih nama Retna Dewi Dursilawati. Pusar dan ari-arinja Duryudana telah dipotong dan dimasukkan dalam sebuah periuk tembaga, dihanjutkan dalam sungai, kena sinarnja matahari dan tjahjanja rembulan, dibelakang hari telah mendjadi seorang anak baji lagi, nanti diketemukan oleh Begawan Sempani jang sedang bertapa lelana dipinggir sungai, lalu dibawa pulang kedepok pertapaannja di Grihatjala, dipiara sehingga besarnja mendjadi seorang gagah perkasa, diberi nama Bambang Segara, jang kemudian mendjadi suaminja Dewi Dursilawati di Hastinapura dengan kedudukan pangkat dan gelaran Tumenggung Djajadjatra, atau Tumenggung Kampungmelaju. Hal ini lebih djauh nanti akan dituturkan dalam lain tjeritera.

Demikianlah keadaannja keraton Hastinapura ketika anak-anak Korawa terlahir didalam dunia, dibarengi dengan peristiwa jang heibatnja bukan buatan. Para bidjaksana, sudjana sardjana, telah melihat tanda-tanda dan firasat jang tiada enak dengan terlahirnja seratus putra Destarastra itu, tapi jang mengetahui lebih djelas hanja para Dewa diatas Sorgaloka jang kini sedang tergontjang oleh karenanja.


IV.

Sorgaloka dalam kesunjian, para Dewa susah dan gelisah, bidadari kusut djeliput, puhun-puhun ditaman Nandana sama laju, bunga-bunganja sama rontok berakrakan diatas tanah, menerbitkan pemandangan jang sedih dan saju.

Itulah udjudnja Sorgaloka, djikalau manusia di Madyapada dalam kesengsaraan. Oleh karena machmurnja Sorga adalah tergantung dari sesadji dan pudjaan dari penduduk jang hidup dimuka bumi, maka kalau dunia sedang dibawah tindasannja bangsa raseksa, hingga kemiskinan menjelimuti seluruh penghidupan, para pendita djadi pengemis, sudah tentu dari depok pertapaannja tidak lagi tertampak asapnja dupa mengepul, orangorang baik tiada mampu mengadakan sesadji, hingga tidak ada suatu apa jang datang keatas Sorga, akibatnja allam kadewaan pun turut menderita.

Lantaran itu, maka para Dewa lalu sama berkumpul di Indraloka, menghadap kepada radja Dewa Betara Indra, bermusjawarat mentjari daja-upaja untuk mengatasi segala kesukaran jang sedang dihadapinja.

Penderitaan Sorga asalnja dari penderitaan dunia, maka dunialah jang harus diperbaiki, dilepaskan dari tindasannja para raseksa jang mendjilma djadi orang-orang djahat, dengan menurunkan para Dewa jang gagah perkasa, akan menitis lahir djadi manusia, untuk membasmi atau sedikitnja untuk mengimbangi kekuasaan tjilaka jang meradjalela itu. Betara Penjarikan lalu ditanja, siapa dan dimana adanja darah luhur jang boleh didjadikan jang utama.

„Pukulun,” kata Sang Betara Penjarikan, „sekarang ini masih ada titisnja kesuma, jaitu turunan jang keenam dari Resi Kanumayasa, namanja Pandudewanata, jang pada waktu ini berada diatas gunung Saptarengga. Tjuma sajang sekali sang Pandu itu masih ada didalam sot kutukannja Resi Kimindama, hingga dia tidak dapat menurunkan anak, lantaran djikalau merabah badan perempuan, ia akan meninggal dunia".

„Kalau demikian”, kata Betara Indra, „sot kutukannja Resi Kimindama harus dibatalkan”.

„Itulah sukar sekali, Pukulun”, djawab Betara Penjarikan, „kutukan dari resi agung itu tidak dapat dibatalkan, meskipun oleh Sang Hjuang Maha Dewa sendiri”.

Para Dewa mendjadi bingung, sampai kemudian Sang Hjuang Baruna dapat pikiran jang lalu ia njatakan.

„Pukulun”, kata Dewa jang menguasai tudju lautan itu, „saja tahu seorang pandita jang melaksanakan maksud ini, jaitu Sang Bagawan Druwasa, karena dia adalah gurunja Dewi Kunti, jang oleh kesaktiannja djuga hingga putri itu dulu waktu masih gadis telah melahirkan seorang anak lelaki. Saja kira hanja sang bagawan itulah jang dapat menolong sehingga segala maksud Sorga bisa kesampaian”.

Para Dewa semua mufakat, maka beberapa orang diantaranja lalu berangkat kuliling djagad, akan mentjari sang begawan jang tempat tinggalnja tiada ketentuan, sebentar ada diudjung dunia sebelah selatan, sebentar lagi sudah berada dipodjok djagad sebelah utara. Nanti dapat diketemukan djuga dan ia lalu memberi kepastian, bahwa djikalau Dewi Kunti sendiri jang ingin mendapat anak, dengan gampang maksudnja akan kesampaian.

Rapat lalu dibubarkan, para Dewa sama balik ketempatnja masing-masing dengan hati merasa lega. Tjuma Sang Hjuang Dwapara jang merasa kurang senang, maka ia membuntuti Betara Kali, sesampainja ditempat sunji ia telah berkata:

„Djikalau madyapada mendjadi aman, Betara Indra dan para Dewa lainnja akan merasa senang, oleh karena mereka akan mendapat terima sesadji seribu gunung. Tetapi paduka Betara Kali, akan mendapat apa ?”

Betara Kali pikirannja djudek, karena sesadji jang biasanja ia terima memang sesadji dari orang-orang jang minat dan hadjatnja kurang baik. Maka Sang Hjuang Dwapara jang angkara murka lalu berkata pula :

„Oleh karena anak-anaknja Pandu nanti akan terlahir djuga di Saptarengga, maka para Dewa jang malas-malas itupun bakal kesampaian maksudnja terima sesadji dengan ongkang-ongkang sadja. Sekarang djika paduka menduduki pusatnja dunia dengan lahir di Hastinapura, sumbernja sesadji adalah didalam kekuasaanmu”.

Betara Kali ketarik sekali dengan andjurannja Sang Hjuang Dwapara, tapi rupanja ia masih merasa sangsi dan ragu-ragu, maka Dwapara lalu berkata pula dengan suara berbisik: „Sebagian badan saja diam-diam sudah turun di Gendaradesa, lahir djadi Harya Sangkuni jang sekarang sudah masuk didalam istana Hastinapura. Permaisuri Hanggendari sedang memuhun berkahnja Betari Durga, supaja diberi anak-anak jang gagah perkasa, untuk mendjaga kedudukannja, maka djikalau paduka turun lahir disana, itulah kebetulan sekali”.

Demikianlah maka Betara Kali lalu turun di madyapada, langit mendjadi gelap-gelita, karena badannja telah mempenuhi angkasa raja, menutupi bintang-bintang hingga suasana mendjadi seram dan menakutkan. Pada waktu liwat tengah malam, perlahan-lahan bentuknja Betara Kali mulai tertampak, merupakan seorang raseksa jang tingginja setengah langit, menghampiri tamansari Hastinapura. Tubuhnja lalu terbelah mendjadi dua, jang satu masuk menjurup kedalam potongan daging besar jang terletak dibawah puhun sembodja, mendjadi baji Duryudana, sedang badan jang sebelah lalu petjah mendjadi sembilan puluh sembilan, menjurup kedalam potongan-potongan daging lain jang tersebar dipinggir telaga, lalu mendjadi anak baji sebanjak itu djuga, anak-anak Korawa jang kemudian akan menggontjangkan djagad raja.

Dengan segera para Dewa diatas Sorga ialu mengetahui kedjadian itu, mereka djadi ribut ketakutan tiada karuan, maka rame-rame lalu pergi menghadap Betara Wisnu digunung Utara.

„Oh Pukulun”, kata mereka, „Betara Kali sudah kena budjukannja Sang Hjuang Dwapara, sekarang dia sudah memetjah tubuhnja djadi seratus, menitis sebagai puta-putranja Prabu Destarastra di Hastinapura, dunia tentu bakal mendapat penderitaan jang terlebih-lebih heibatnja, maka tidak ada seorang Dewa lain jang sanggup membereskannja, selainnja paduka sendiri”.

Betara Wisnu menjanggupi permintaannja para Dewa itu, maka bersama sang isteri Dewi Sri dan Sang Hjuang Basuki, lalu ia turun ke madyapada, nanti lahir di Widarakandang sebagai para putranja Prabu Basudewa, radja negeri Mandura. Peristiwanja akan dituturkan lebih djelas dalam tjeritera: "Kuntul Melajang di Widarakandang".

TAMAT.