Seratus Untai Biji Tasbih

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Tidurlah Perempuanku

Mari kita lumat malam separuh ini, sebab
Esok matahari mulai mencubiti kulitmu yang
Putih itu, bersama debu yang hibuk menggumuli
Tubuhmu yang memadat, menantang, Perempuanku

Tidurlah!
Usah lagi kau kunyah pikiran itu jadi darah daging
Tentang payudara yang dijual setengah harga atau kemaluan
Yang terus-menerus disesaki lalat-lalat berkepala hijau
Matahari pasti terbit
Matahari pasti terbenam
Tak usah risau, semua pasti akan berakhir, Perempuanku

Malam ini, mari kita cicipi bulan bercahaya garang
atau bintang yang sedang berkejar-kejaran dengan mimpi
Anak-anak kita tentang nilai raport yang diperjual-belikan
Atau kelulusan yang diinstankan

Tidurlah, Perempuanku!
Kita akan rangkaikan larik-larik puisi abadi dalam rahimmu
Sepanjang mati lampu yang tak pernah jemu, dan tak usah
Kau risau sebab derasnya arus waktu yang membenamkan
Resah sepanjang sejarah sejak Hawa, Zulaikha, atau Cleopatra
Digantikan Marlin Monroe,Winnie Mandela atau Madonna
Tidurlah!
Kita lumat malam separuh ini
Matahari pasti terbit
Matahari pasti terbenam
2007
Nak!
Biarkan malam mengurai kelam
Atau bulan akan sampai ke pagi
Melangkah pelan melewati bintang
Demi bintang di antara senandung sepi
Perzinahan telah pula menebarkan jaringnya
Kemaksiatanmengembangkan jubahnya
Dari kamar berukuran 3x3 meter, ruang-ruang
Sidang-perkantoran, atau tempat-tempat tak
Berjejak para pejabat atau istana para penjahat, selebihnya
Para belia cukup bermain-main dengan kemaluannya
Sambil menyaksikan film ulah para dewasa
Sudahlah, Nak!
Masa depanmu masih panjang
Dan kau harus bertahan
Membendung godaan-godaan
Kejahatan tidaklah merajalela
Di kebuasan malam, diapun
Menantang di terang garang
Ada demonstrasi dari tuntutan
Turun harga sampai tuntutan turun
Tahta, berita kawin paksa atau cerai
Tiba-tiba, listrik-listrik jadi bangkai,
Aliran air tidak hanya kerontang
Di persawahan, sementara iuran
Tiap bulan wajib dibayarkan-tanpa
Potongan, semua ingin jadi atasan
Sambil mengusung proposal kemelaratan,
Banjir, longsor, transportasi ambrol
Ah, semua bencana jadi gombal
Jangan, Nak!
Kau tidak usah ikut-ikutan
Sebab, bukan untuk itu
Kau dilahirkan

Di antara pekatnya hitam pasti ada
Setitik celah putih kau temukan ,
Walau waktu selalu bercanda dengan
Tik tak tik tak jarum jam yang patah
Dan Kau, Nak!
melangkahlah dengan semangat kebenaran
sebab, pada dirimu air susu ibu telah penuh
tercurahkan, pada rahim ibu engkau telah
pula dizikirkan, dengan keajaiban do’a-do’a,
maka, restu ibu akan menguatkan hatimu
menyongsong segala zaman.

2007
Adalah Rahasia dalam Rahasia
Mustika hati kasih adalah kata yang kau tenun
Dan rasa dalam bulan purnama memecah sinar
Dan binar angkara di jagad sengketa
Adapun tamadun terbelah sudah
Adapun kurun berlelehan darah

Dan sukma tak berpantai, kekasih
Selendang iman terpendam dalam-dalam
Desir angin subuh membawa tualang
Keharibaan Illahi bermakna wujud?

Di sini terpampang hakikat langit
Dan makrifat menyatu di purnama sabit
Sayap musim dalam setaman angin terketar
Membawa pusara tak bernama

Tataplah cahaya dalam cahaya
Nur Muhammad yang utuh
Maka takkan kau bawa gaduh
Dari musim ke musim , kau tak yakin bahwa
Kemilau syahdunya merenggut gosong menungmu
Maka tataplah rahasia dalam rahasia
Allah!
2007
Siklus
Tatap matamu mempermain-mainkan imajinasi birahi
Yang kemudian merasuk pada batang-batang pohon kamboja
Di sisi kita, di pucuknya daun-daun gemetaran
Sepasang burung gereja bertengger, bercanda
Pada puncak nisan seb uah pusara di antara makam-makam
Yang rebah kelelahan, sunyi melahirkan bait-bait puisi
Dan aku mengayuh mu seirama detak nadi
Oh, kejantananku menghentak liat betinamu

Dingin semakin merasuk sampai ke sumsum tulang belakang
Ini entah hari ke berapa, ini entah kali ke berapa
Kita semakin liar memahat puisi-puisi narasi mengejar
Haiku waktu

Di langit bulan yang sabit, menguntit, mengintip
Dicelah-celah ilalang yang gemetaran mengikuti
Irama kecipak dengan aroma segala maksiat
Gairah terus menghentak, bertalu-talu
Gelora kenikmatan tak berkesudahan

Tatap matamu melahirkan benci, merasuk ke dadaku
Dengan irama nadi perlahan berhenti
Sepasang burung gereja bertengger manja, di atas
Kemaluan kita yang mengering di sengat terik
Matahari dan ilalang yang menari
Oh, kejantananku layu memaku dihisap rekat betinamu
2007
Pulang
Sepanjang perjalanan ini kuhirup debu yang menghambur
Setapak demi setapak kuukir langkah di tanah tak bertuan
Semerbak aroma tubuhku menebar di udara yang bercampur
Sesak berdiri sesak berlari di bulir resah di tetes ke sekian

Tak siang tak malam beban pikiran memendam perasaan
Tak hilang tak pendam datang tanpa sebab dan akibat
Udara semakin terdengar bising aku tak bisa berpaling
Udara semakin berkabut menghalang segala pandang

Aroma tubuhpun lah menyatu dengan irama jantung
Yang gaduh, menyesaki paru-paru sepanjang aliran darah
Isi kepala pun lah menghambur dengan hembusan angin
Yang aduh, serasa tercerabut nyawa yang entah

 Dan malam ini bersama sinar bulan dan kerlip bintang
 Kunikmati cahaya segala pura-pura dari tari dedaunan
Kunikmati irama segala praduga dari senandung serangga
Dan malam ini waktu tetap tak berbeda, tetap sama

Di bawah purnama kurebahkan segala lelah, kutidurkan
Segala resah. Bersama kunang-kunang itu kulihat para bocah
bermain kejar-kejaran, perempuan-perempuan berwajah cahaya
menyulam cinta, jompo dengan semangat singa ikrarkan kata setia

bocah itu melemparkan bola, aku menangkapnya, dengan penuh girang
mereka tertawa, dan serta merta melembaikan tangannya, perempuan
itu melemparkan sebait puisi cinta dengan amplop merah jambu, lantas
pergi berlalu, para jompo hanya mengacak-acak rambutku, membisu
lalu mereka menunggangi angin menuju cahaya, entah pura-pura?

Ah, mungkin dengan do’a terjawab segala duga
Ah, mungkin dengan keikhlasan terhempas segala beban

Pagi yang menghangatkan telah membangunkan, udara sejuk
Dipermain-mainkan angin. Peluh yang mengering terasa memabukkan.
Liur bertabur seakan penuh dendam. Dan seakan tahu apa yang kurasakan
Hujan mengguyur perlahan, bercampur aroma segar dedaunan

Hidup dan mati hanyalah masalah waktu
Susah dan senang seperti kunang-kunang
Yang menyerbu pepohonan di hutan, atau
Anak-anak jalanan, pengamen dan para gelandangan
Di simpang jalan, pemulung dan para PSK dan TKW
Di sudut dendam dan kebencian

Ah, memang do’a yang dapat menafsirkan makna
Ah, memang keikhlasan yang dapat menghadang penindasan

 Kulangkahkan kaki kembali pada pengembaraan ini setelah
Hujan berhenti. Langit melambaikan tangannya bersama senyum
Matahari, gairah mengaliri sepanjang aliran darah di badan
Di antara awan-awan para bocah masih bermain kejar-kejaran,
Perempuan-perempuan berwajah cahaya menebarkan bait-bait
Puisi cinta, dan jompo-jompo hanya menyampaikan salam dari kejauhan

Sepanjang perjalanan ini kuhirup udara yang cerah
Setapak demi setapak kuukir langkah dengan gagah
Semerbak aroma tubuhku menebar di angin segar
Semangat terpatri bersama gairah yang membakar

Burung-burung terbang kesana kemari
Ayam jantan berkokok bersama pagi
Anak-anak bermain gundu tersedu-sedu
Istri ku gelisah menunggu di bingkai pintu

Ah, hanya do’a
Ah, hanya keikhlasan
2007
Nabi Tanpa Wahyu
                                        :hudan h-taufik i
Hujan brosur bertabur dalam kerontang
Pikiran di antara persetubuhan peluh
yang melahirkan orasi-orasi berlauk basi
yang dikunyah beragam eksploitasi

aku terhenti menahan arak-arakan sajak
di antara pena dan rak-rak buku. Beberapa
diantaranya mendesak hendak dilahirkan
dari kandungan berdinding kayu
kerangka pikiran adalah mimpi-mimpi
berwajah puisi dan penyair lah itu nabi-nabi
palsu tanpa wahyu

lalu muncullah nabi-nabi baru
yang menebar fatwa-fatwa konspirasi
seperti seorang ibu yang menina-bobokan
kita semasa bayi. Setelah besar baru kita sadar
ibu kita hanya pelacur bagi bapak kita yang mucikari
dan kita pun ditasbihkan sebagai pengemis abad baru
ah, hidup tidak begitu kejam sebenarnya, ia berpihak
pada kita sekadar untuk mengisi perut yang selalu
dipermainkan angin, terkadang mendesak ke paru-paru
atau bertandang ke jantung

pada rintik yang menitik masih sempat kita bernafas
dengan sisa harta yang dibuntalkan dikepalan, sambil
berteduh di emperan pertokoan atau di bawah jembatan
masuk ke dalam rumah kardus yang kita ciptakan

orang-orang berebut jadi atasan tanpa pernah merintis
sebagai bawahan dan seperti para penyair, mereka tebarkan
pesona kemunafikan bersama arak-arakan kata-kata menjelma
sajak-sajak kerak atau orasi-orasi basi kemudian dikumpulkan
jadi buku dijual sampai dipenuhi debu atau terpenjara di lemari
kaca, mungkin di antara lembarannya terselip wahyu-wahyu?

Apalah artinya ayat suci
Apalah artinya puisi
Apalah artinya orasi
Jika, uang ternyata
 telah menjadi tuhan bersama

Hujan brosur bertabur dalam kerontang
Pikiran terdesak pada arak-arakan sajak
diantara pena dan rak-rak buku beberapa telah menjadi
cendawan dan jamur sejak dilahirkan
dari rahim beraroma empedu, dan
kerangka pikiran adalah mimpi-mimpi
berbau teka-teki, lalu wahyu itu?

Hidup ternyata hanya mempermainkan nasib
Walaupun tidak bercabang, ia selalu menghadirkan
Segala keterkejutan yang mencengangkan, menurun atau
Mendaki, tandus ataupun berduri, gersang maupun rindang,
Bahagia atau sengsara. Tetapi sepanjang peradaban yang lelah
Selalu kita menjadi orang-orang yang terusir dan kalah

Entahlah,
Dalam hati kecil aku selalu berkata apa mungkin ada perjuangan
Tanpa pengorbanan yang menyakitkan, menawarkan segala kepahitan,
Menina-bobokan segala huru-hara, dan berperang melawan segala
Keangkuhan diri sambil merangkai puisi untuk bingkai hati.

Entahlah,
Mungkin hati-hati adalah kalimat wahyu yang paling abadi
Mungkin usaha adalah kalimat wahyu yang menembus masa
Dan mungkin do’a adalah kalimat wahyu tanpa bandrol harga
2007
Sepasang do’a
Sepasang do’a terbang menembus jendela kaca
Sementara angin tersedu-sedu dalam rindu
Pada monument luka ini kupahatkan selembar daun
Yang gugur, rebah di atas tanah yang pasrah
Satu persatu usia gugur, rebah di atas pusara basah
Tombak itu menghunjam ke dada berkali-kali
Duri-duri terus-menerus menempel di kaki
Ah, betapa waktu tak pernah sudi menunggu
Harum lembut aroma kenanga berganti bau gelora
Aroma kamboja, dan sebelum waktu menjemputku
Di atas sajadah, bersama untaian zikir yang merindu,
Dan air mata segala duka, kulepaskan segera
Sepasang do’a terbang menembus jendela kaca

2007
PURNAMA TELAH LAMA PECAH DALAM KEPALA
Oleh: M.Raudah Jambak
Entahlah mungkin cuaca telah belang warnanya, sebab
Kita tak mampu menghitung berapa jumlah titik rintik
Yang mengetik tuts bumi, padahal telah berkali-kali
Do’a di enter, lalu di save as secara buas

Lalu seketika saja layar monitor menebar kemarau
Dan mengutip rimah purnama yang telah lama pecah
Dalam kepala

Amboi, kita masih saja sulit membaca cuaca yang telah belang
Warnanya, membawa suara menghiba direrimbunan do’a-do’a
Dan purnama memang telah lama pecah dalam kepala.

Medan,2007

Ada Suara-suara yang Menggema
Oleh: M.Raudah Jambak

Bumi yang tertatih, tersungkur lalu merayap di kepala melalui lorong telinga
Tubuhnya yang mulai membusuk melahirkan berjuta belatung sepanjang alurnya
Sementara sepotong gadis menganga pada kawah kornea mata
Menghisap huru-hara tebar pesona
Ah, apalah artinya kenikmatan tanpa ada rasa kesakitan
Berpeluh berpuluh-puluh tubuh jelita

Bumi yang tertatih, antara kemarau dada dan hujan air mata lembabkan rasa
Tubuhnya yang mulai membusuk ucapkan aroma bangkai peristiwa
Lalu sepotong kanak-kanak dipaksa berdiri, kloakanya ditembus beribu paku
Mengalirkan sungai-sungai darah menghanyutkan kotoran bersisa
Amboi, masa hanya menyulam siksa, dan nestapa melumuri tubuh-tubuh belia

Bumi yang tertatih, debar jantungnya memuntahkan magma,
Debur isaknya luluh lantakkan jiwa tak berdosa
Lubang pori-porinya longsorkan segala.

Bumi yang tertatih ,
Api membakar dimana-mana, siapa menghanguskan siapa
Tangis membanjir dimana-mana, siapa menenggelamkan siapa
Duka terhidang dimana-mana, siapa memakan siapa

Bumi yang tertatih, rotasinya berputar tak terduga

Medan,april 07


Bagai Penggembala Matahari Sabit Puisiku Tak Sampai-sampai Juga Ternyata
Oleh: M.Raudah Jambak

Telah sampai kabar berita wahai, Saudara matahari sabit atas kepala
Memenggal segala amuk pikiran kita yang penuh dendam berwarna bencana
Membakar lembar lembar doa kita yang rusuh dari manipulasi kata
Menyilaukan layar kaca karena mata kita yang sempat penuh debu curiga

Lalu sentuhan lembut semilir angin seperti tak berarti pada hati
Ah, betapa ribuan kunang tak henti-hentinya menghunus benang
Dan aku terduduk leleh di atas sajadah basah

Bagai pengembala kita sulam benang-benang rumput
Untuk pakaian hidup ternak-ternak kita dan
Matahari tetap mengawasi sepanjang siang ini, dengan setia

‘’Setiap Kamu adalah pengembala,’’ teriakmu tiba-tiba
‘’dan Kamu adalah domba yang tersesat,’’ jawabku
Bersama derai-derai tawa

Telah sampai kabar berita wahai, saudara matahari sabit atas kepala
Memenggal, membakar dan menyilaukan puisi-puisiku
Yang tak sampai-sampai juga
Ternyata

Medan,april 2007
PADA RUKUK AKU TERBUNGKUK PADA SUJUD AKU MAUJUD
Oleh : M.Raudah Jambak

Malam ini, sajadah telah dialiri sungai air mata, do’a-do’a
Berembun diujung lidah yang jatuh dari daun-daun tasbih
Sementara angin khusuk memeluk degap rindu yang hampir
Membeku. Entahlah, rapal kaji tak juga sampai ke hati atau
Cinta yang bertuba di jelaga

Pada setiap baris ayat, kabar pun telah disampaikan. Jiwa yang
Kosong hanyalah gudang tua yang kehilangan cahaya dan tempat
Bersemayamnya para pendosa. Tetapi butir-butir wudhu’ yang bergulir
Adalah kerjap cahaya yang siap berpijar pada taman yang telah lama
Tak bertuan

Dan malam ini, gelap hanya mengantar subuh yang selalu membasuh
Dahaga para pemburu nasuha, yang melentikkan setiap jentik zikir
Di setiap iring-iringan takbir. Harap hanya sebatas kerinduan yang
Mengawan, rindu adalah harap yang mengerjap dalam degap, sebab
Pada rukuk aku terbungkuk pada sujud aku maujud

Medan,2007



Waktu Bukanlah Ibu Yang Mengandung, Ternyata
Oleh: M.Raudah Jambak
 
Waktu bukanlah ibu yang mengandung, ternyata
Dia adalah ranjau yang ditanam di antara rimbunan
Bunga-bunga atau diantara perbukitan pasir dan gurun
 siap meledakkan kepala siapa saja, mengepung sisa
usia

lalu setiap rapal do’a-do’a nyatanya hanya sekadar
bius yang selalu setia mematikan rasa. Tak ada lagi kepedihan
apalagi kesakitan. Antara langkah dan undur hanyalah kelopak
mimpi yang telah lama ditiup angin. Sementara jarum kematian
masih menggumam, mengancam dengan senyuman

dan nyatanya tak sempat lagi mengukir bibir dengan takbir
sebab, karat telah lama tengkurap pada hati. Tubuh terasa
sehelai benang melayang. Tetapi masih tetap terdengar
angin semilir menggilir zikir. Dan pada telinga masih tertangkap
sepatah, Allah

medan,2007

DAN DANAU LAH ITU DENGAN LUMPUR YANG MENGGELUPUR
Oleh : M.Raudah Jambak

Lumpur yang menggelupur pada danau itu, telah lama mengisyaratkan
Warna cinta di daun jendela ketika matahari tenggelam di ufuk yang mengantuk
Lalu orang-orang masih meruwat langkah kaki yang telah lama kehilang an
Semangat. Mencari jejak yang tertutup debu gumpalan pasir, berair

Kitapun kehilangan peta singgah tempat biasa berbenah. Lalu lelah
Adalah kebiasaan berkompromi dengan waktu. Sambil mengunyah-kunyah
Serapah. Teriakkan daftar-daftar mimpi yang sempat singgah pada kepompong
kepala

biarkan sisa airnya sampai pada muara laut air mata
biarkan lumpurnya menambal sepatu anak-anak dalam tas sandangnya
biarkan rumah-rumah berbaring sejenak di bawah kawah resah

ah, ternyata kita masih saja anak kecil yang sibuk membangun
bukit-bukit pasir

medan,2007
  Iqra’
bacalah dengan nama Tuhan-mu yang menciptakan
Pada masa yang penuh benalu seluas tanpa batas
Allah,izinkan aku untuk tetap bernaung dalam asma-Mu
Setegar zikir rerumputan menyulam suara azan
Yang bergema di lingkaran semesta tak terhingga
Sebab dalam ketenangan yang mengambang
Dingin terasa meluluhlantakkan
Sebab dalam keheningan yang mengawang
Bisu begitu membekukan
Sebab dalam kehampaan yang menerawang
Api berkobar-kobar menghanguskan
Aku telah mengunyah-kunyah
Segala tipu daya yang meledakkan kebenaran
Dalam kesumat dan tak jelas batasnya
Dalam sujud aku arungi lautan taubat
Naungi dan peluk kami pada kehangatan
Illahi anta maksudi
Wa ridhoka matlubi
Tuhanku,
Pada masa yang berwarna abu-abu membekas
Di kanvas jiwa, perhelatan telahpun dikunjungi
Deraian air-mata yang mencekik nurani,
Menulikan telinga dari lantunan ayat-ayat cinta-Mu
Tentang sepotong pesawat bagai burung-burung yang
Menggapai-gapai makrifat di bandara surga-MU
Tentang sebongkah kapal, bagai lumba-lumba yang
Menelusuri maqom di pulau penuh sungai susu
Tentang sekeping kereta-api, bagai kura-kura yang
Bermunajat sepanjang stasiun hati ber-aura biru
Atau tentang muntahan, debaran, deburan, dan
Zikir dari perut-perut bumi
Bukan tak tersulam niat membungkus
Bongkahan syahwat dan karang muslihat
Membesar-memadat, membesar-memadat
Dalam sujud panjang tak berkesudahan
Naungi dan peluk kami pada kehangatan
Illahi anta maksudi wa ridhoka matlubi
Amboi,
Pada masa yang penuh belatung, virus
Dan kuman-kuman ini ajarilah kami meneguk
Setetes demi setetes embun keikhlasan dari
Segelas derai air-mata kami, derai air-mata
Kecintaan sepenuh nurani
Jangan lenakan kami dalam kebatilan
Yang membutakan
Jangan mabukkan kami dengan khamar
Yang meluluh-lantakkan
Jangan hilangkan segala kesadaran
Yang melenyapkan-tanpa bekas
Selalu kukayuh sampan sajadah
Mengarungi lautan penuh ombak,
Penuh onak, menghindari bongkahan
Karang-karang keangkuhan yang teramat tajam
Dalam sujud yang beringsut-ingsut
Naungi dan peluk kami pada kehangatan
Illahi anta maksudi wa ridhoka matlubi
Maka,
Setelah kubaca masa-masa penuh benalu
Berwarna abu-abu yang penuh belatung,
Virus dan kuman-kuman, dengan nama-Mu
Yang menciptakan: naungilah dan peluk kami
Dari teror kemaksiatan, serta persekutuan kesesatan
Agar tetap taffakur dalam syukur, dalam membaca
Rasa cinta sesama
Kutubul amin, 22 Januari 2007
Berilah Air Dari Tangan Keikhlasan
Karya: M.raudah Jambak
 
Berilah air dari tangan keikhlasan,maka
kita akan selalu dicurahkan kemudahan
sebab, kasih tanpa syarat adalah
hidup yang penuh kedamaian
pada manusia
juga Tuhan

medan,06

Aku Hanya Menitipkan Bunga Ini Untukmu, Sahabat
Karya: M.raudah Jambak
 
Sahabat,
hanya setangkai bunga inilah yang dapat
kutitipkan padamu. tanamlah ia pada vas
hatimu yang bersemu biru
sebab, hanya ia yang mampu mewarnai hidup
agar lebih indah dan merona

Sahabat,
hanya setangkai bunga inilah yang dapat
kutitipkan padamu. rawatlah ia dengan
segenap kasih sayangmu
sebab, hanya ia yang mampu memberi kesegaran bagi hidup yang mengharu biru

Sahabat,
hanya setangkai bunga inilah yang dapat
kutitipkan padamu, ya setangkai bunga
cinta berwarna kedamaian

medan,06


Masa Depan Manusia
Karya: M.raudah Jambak
 
masa depan manusia adalah
pucuk dedaunan di puncak pepohonan
yang menghijau
sebab energi pupuk kebersamaan
bersih dari racun curiga
dan satwasangka

masa depan manusia adalah
buah ranum di reranting pepohonan
yang rimbun
sebab siraman segar air kebersamaan
mengalir dari mata air yang bersih
dan bening

masa depan manusia adalah
angin sejuk berhembus pada
pepohonan hati kita, makhluk
penjaga sah kelestarian hidup
dan kehidupan

medan,06
Aliran Cahaya
tahan sengketa untuk sementara
mari kita bagi-bagi cahaya
alirannya sudah sampai pada iman
yang paling kelam
puasakan hati, pikiran dan lisan
dari dendam dan segala kemungkaran
niscaya jiwa terjaga segala satwasangka
terlindung cahaya yang paling benderang
tahan sengketa di bawah puncak
keabadian yang paling hitam
mari kita bagi-bagi cahaya
dari alirannya yang paling tentram
medan,2006
 
Ramadhan Ya Ramadhan
adalah hati yang lebih abadi
melahirkan cinta sang pencipta cinta
aduh, betapa tubuh begitu ringkih
jiwa usang berjuta melahirkan letih
ramadhan ya ramadhan
kemana resah do'a hendak ditumpah
selain di selembar sajadah basah?
kemana zikir terus digilir
selain pada biji tasbih yang berlebih?
kemana takbir diteriakkan dalam sir
selain tenggelam dalam derai tangis fakir?
adalah hati yang lebih abadi
melahirkan nur muhammad yang abadi
pada resah do'a di sajadah basah
pada gilir zikir pada biji tasbih berlebih
pada teriak takbir fakir-fakir
medan,2006
 SEORANG ANAK BERTANYA PADA IBUNYA
 
“Apakah di luar sana ada perang, Bu?”
seorang anak bertanya pada ibunya
matanya berwarna suram terpaku pada Ibu
yang baru saja kehilangan anak perawan dan
suami tercinta
 
“Apakah suara yang memekak itu suara azan, Bu?”
seorang anak bertanya pada ibunya
wajahnya yang kelam ia sembunyikan pada ketiak ibu
yang baru saja bertayamum dari dinding bungker, sebab
wudhu’nya telah mengering
 
“Apakah Sharon dan Bush pernah tinggal kelas, Bu?”
seorang anak bertanya pada ibunya
lengan mungilnya meraih ujung baju sekolahnya
menghapus lendir di hidung dan peluh dari panas
yang menyepuh
 
“Apakah seterlah ini kita boleh makan, Bu?’
seorang anak bertanya pada ibunya
pandangannya meredup, samar-samar
ia melihat ibunya bersujud di antara kabut
 
Sampai terlelap tanyanya tak pernah terjawab
 
medan,06
 
TELAH TERUKIR RANTING DAUN SAMPAI SEJARAH PALING AKHIR
 
Telah terukir ranting daun pada kelopak mataku
Akarnya meranggas menembus sampai ke kulit paling akhir
Mencari celah-menyusuri darah, dan merambat
Ke puncak otak setelah melewati danau hati
Aku tak sempat menarik napas , ketika daun-daunnya
Merimbun pada kornea yang menjingga. Butiran-butiran embun
Menyeruak di sudut-sudut daun,
Membasah resah, membaca segala
Telah terukir ranting daun pada kelopak mataku
Rahimnya membuahkan berjuta aksara dari kulit paling akhir
Merenangi sungai darah, dan hanyut di hulu otak menembus batu hati
Aku tak sempat menahan isak, ketika gemuruh jantung menghentak.
Membobol waduk air mata-membanjir luka, mengugurkan daun-daun-
Membusukkan segala
Telah terukir ranting daun pada kelopak mataku
Gemulai dihembus angin yang mengerang garang
Akarnya meranggas menembus kulit paling akhir
Rahimnya membuahkan berjuta aksara duka dari kulit paling akhir,
Lukanya menganga pada pedih memerah, di kulit paling akhir, sampai
Sejarah perdaban yang paling akhir
 
Medan,06
 
TANGIS GERIMIS ADALAH
 
Tangis gerimis adalah air mata gadis yang perih
Ketika menanak luka, mengalir di sungai-sungai nestapa,
Menderas arusnya
Tangis gerimis adalah air mata gadis yang menjelma
Butiran-butiran mutiara kaca, menggores di ruang-ruang batin
Tanpa jiwa, mendarah lukanya
Tangis gerimis adalah musik-musik jiwa yang memenuhi gua hampa,
Menggema tanpa alunan nada, yang memanah aura pesona
Tangis gerimis adalah
Luka di sungai-sungai nestapa, butiran-butiran mutiara kaca
Tanpa jiwa, atau gua hampa tanpa alunan nada
 
Medan,06
 
 
Gadis Manis Berambut Kabut
 
malam ini bulan tertutupi awan
dan kau gadis manis masih tetap meringis
di bawah jembatan, tergeletak tak berdaya
pada bantaran
      : seorang pejantan memaksamu menguliti bulan
rambutmu sedari tadi berobah kabut
menutupi wajahmu yang ciut, begitu kusut
beberapa pejalan kaki laki-laki, menatapmu
gadis manis dari balik rerimbunan sampah dan
batu, mereka bersekongkol dengan waktu
      : seorang pejantan memaksamu merampas bulan
entahlah, gadis manis yang berambut kabut
mungkin ini memang gejala zaman beberapa perempuan
jalanan, hanya bisa cekikikan, tak ada komentar
pintar yang terlontar, ini hanyalah masalah kebiasaan
      : seorang pejantan memaksamu mengunyah-ngunyah
                  Bulan
ini masalah kebiasaan, sebentar lagi gadis manis,
kau akan ketagihan, lalu kau yang akan memaksa
para pejantan memuaskan bulan yang bersembunyi
di bilik kabut awan.
Medan, 06


Kun
 
Jadilah!
maka jadilah ia
bukan batuknya ternyata
tapi degup jantung yang
mengeras tiba-tiba
dan muntahan dari bibir
yang menggila

Jadilah!
maka jadilah ia
dan do'a yang menjawab
segala

maka,
Kun!
 
medan,06
Tentang Ibu yang Tercinta
 
Ibu sudah berapa angka kasih sayangmu
Yang kau berikan kepadaku
Hatimu seperti rembulan di malam hari
Dan matamu bercahayajika menatapku
Ibu ketika kau berbicara halus seperti angin
Yang terbang meluas di ujung awan
Ibu ketika kau memegangku dingin seperti
Hujan yang turun dari langit
Ibu ketika kau menciumku deras seperti
Lautan yang terus berombak
Semangatmu kuat sekali seperti petir, Ibu
Cinta dan kasih sayangmu sejuk seperti embun, Ibu
Tatapan matamu begitu bercahaya, Ibu
Setiap hari dengan sepeda motor yang dibawa ayah
Kau mengantarkan aku dan adik ke sekolah
Terkadang aku dan adik malas bangun
karena masih mengantuk lalu kau dengan lembut
membisikkan lagu kasih-sayangmu ke telinga kami
Terkadang aku dan adik malas mandi karena takut
Kedinginan,Tapi kau dengan mesra menyiram
Air cinta ke tubuh kecil kami
Terkadang aku dan adik malas pakai sepatu,
Malas pakai baju, malas sisir rambut, malas
Berbedak, dan malas semuanya kau beri kami hadiah
Ciuman ke pipi kami sambil berbisik tentang cita-cita
Kami yang selalu berubah-ubah itu, seperti jadi presiden
Yang ingin memimpin negeri ini dengan bijaksana
Jadi Dokter yang ingin mengobati orang-orang miskin
Yang tidak punya uang
Jadi hartawan yang ingin membangun
sekolah untuk teman-teman
Tapi Ibu, aku heran ketika kami menolak bercita-cita
Ingin jadi pejabat , engkau tertawa
Kami katakan tak mau sebab sering masuk tivi karena
Kasus korupsi, melarikan uang rakyat miskin, juga
Meninggalkan hutang untuk kami
Dengan bijaksana kau katakan
tidak semua orang sama
Ibu, kami bingung, lalu kami berdo’a
Lebih baik kami bercita-cita agar kami
Bisa seperti dirimu
 
Terimakasih Ibu,
Aku mengantuk mau bobok dulu
Besok kalau terlambat sekolah
Nanti dimarahi Bu guru
Do’a kan agar aku dan adik menjadi anak
Yang berbudi dan baik hati
 
Demi Masa
Demi yang menguasai gugur daun daun
adakah hijau bersembunyi pada kerontang
pikiran?
Demi pemilik mata air mengalir
adakah kekeruhan terendap pada danau
hati?
Demi Sang Maha Pencipta manusia
adakah pria dan wanita diharuskan
bebas berbuat suka-suka?
Medan, 2006
Zulaikha yang Memeram Gelisah
Perempuan itu mengalirkan sungai Nil
dari sudut matanya
Perempuan itu meremas Qithfir
tanpa taring singa
Perempuan itu mengiris tatapan Yusuf
dalam ranjang igaunya
Perempuan itu adalah Zulaikha yang
memeram gelisah sejarah
Medan, 2006
Gadis Manis Berambut Kabut
malam ini bulan tertutupi awan
dan kau gadis manis masih tetap meringis
di bawah jembatan, tergeletak tak berdaya
pada bantaran
      : seorang pejantan memaksamu menguliti bulan
rambutmu sedari tadi berobah kabut
menutupi wajahmu yang ciut, begitu kusut
beberapa pejalan kaki laki-laki, menatapmu
gadis manis dari balik rerimbunan sampah dan
batu, mereka bersekongkol dengan waktu
      : seorang pejantan memaksamu merampas bulan
entahlah, gadis manis yang berambut kabut
mungkin ini memang gejala zaman beberapa perempuan
jalanan, hanya bisa cekikikan, tak ada komentar
pintar yang terlontar, ini hanyalah masalah kebiasaan
      : seorang pejantan memaksamu mengunyah-ngunyah
                  Bulan
ini masalah kebiasaan, sebentar lagi gadis manis,
kau akan ketagihan, lalu kau yang akan memaksa
para pejantan memuaskan bulan yang bersembunyi
di bilik kabut awan.
Medan, 06
Tentang Sebuah Emansipasi
masa kelahiran Eva, lelaki berpura-pura bertekuk lutut
untuk menemukan suasana surga yang berbeda dengan berbagai
cara, dan Eva menjadi wujud Cleopatra, para lelaki
pura-pura memberi kuasa dengan mengorbankan harta, dan jiwa
untuk menemukan dunia yang berbeda tanpa ada rekayasa
dulu lelaki menutupi janji emansipasi
kini lelaki membuka selebar-lebarnya emansipasi
masa kini, Eva reinkarnasi lagi, sosok Kartini modernisasi
lahir kembali lebih berani. “Lelaki boleh buka dada, kami juga. Lelaki yang
tidak terangsang apa ada?”
Eva punya rencana
Eva punya cara
Eva dari mana?
Sebagai jelmaan tulang rusuk pria, Eva punya batas pikiran
dibanding lelaki dengan pikiran dan kesimpulan yang tidak
terduga. Di mana kita bisa menemukan pria yang membiarkan
istri dan anak perempuan mereka secara merdeka memamerkan
paha dan buah dada? Dengan alasan seni dan sandiwara?
Eva punya rencana
Eva punya cara
Lelaki sudah membaca.
Medan 06
Mengabdi Pada Ibu
Ibu, begitu sarat luka yang berdarah pada telapak kakimu
bersebab aku yang tak mengerti betapa jauh hati yang telah
engkau langkahkan
adakah yang lebih berat bagimu, selain menimang anakmu
mendidiknya dan mungkin durhaka ketika dewasa? atau
aku yang tak tahu malu, membiarkanmu terpasung
menghanguskan kata?
Ibu, begitu tabahnya dirimu mengeram sabar pada hati
bersebab aku yang selalu menghalalkan segala cara
demi keinginan yang tak terduga, pada segala
air matamu telah menenggelamkan angkuhku
isakmu mengguncang dadaku, jiwaku
amarahmu membakar segala
aku mengerti, Ibu
sebuah pengabdian yang kuberikan belumlah cukup
memulihkan air matamu, isakmu, amarahmu
yang sempat membentur batu-batu
mungkin hanya waktu yang mampu menyulam ragu
menjadi rindu dalam mengayuh harapan, mencapai
pulau impian
doakanlah, Ibu
semoga lembar waktu telah mengajarkan
bagaimana cara membangun pagar cinta
yang paling sederhana.
Medan, 05
Ternyata Pada Suatu Ketika
Ketidaktenangan Itulah Ketenangan
Siapa yang paling tidak tenang pada saat ketidaktenangan itu
memikul yel-yel dan janji-janji kemenangan? Ternyata ribuan
yang merasa tidak menemukan ketenangan itu akan merasa tenang
Demonstrasi di mana-mana, perusakan-perusakan dilangsungkan
membabi buta, pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, dan berjuta
prahara. Ternyata setan yang paling bahagia
ternyata pada suatu ketika ketidaktenangan itulah bagi kaum anarkis
menjadi sebuah terapi ketenangan yang sesungguhnya.
Medan, 06
Pada Saat Ketika
pada saat ketika tengadah atas sajadah
kulit semakin erat mendekap daging dan darah
dan tulang belulang hanya sekedar
bangunan raga adalah istana para pongah
yang tak sempat tinggalkan mimpi atas ranjang
lalai tundukkan wajah pada illah
lupa mengurai zikir dalam tasbih yang
merindu
dan resah tak jua enyah
pada saat ketika tengadah atas sajadah
kubasuh tubuh sepanjang subuh
dengan doa dan air mata
bersama zikir jantung yang bergemuruh
     medan, 06


Suatu Hari Aku Bertemu Dengan Diri Sendiri
suat hari aku bertemu dengan diriku sendiri, terpaku
di atas sajadah basah. Tafakur menabur resah pada Allah
tak ada sepotong kata gairah
tak ada seiris kata bahagia
tak ada setitik warna cahaya
suatu hari aku bertemu dengan diri sendiri, betapa
anehnya raudah di atas sajadah. Tafakur seperti orang-orang
yang tergusur
tak ada sepotong pun kata makmur
tak ada seulas ceria
tak ada sebutir apa-apa
suatu hari aku bertemu dengan diri sendiri, rasa malu
tak terbendung lagi. Tak terbendung lagi
Subhanallah!
Medan, 06
Sajak Tentang Seekor Kucing
Seekor kucing menikmati sepotong daging di antara asap
sisa sampah yang habis terbakar, debu-debu melayang
ke udara begitu saja. Kata-kata yang lama bersarang
dalam cangkang pikiran melesat menembus berlapis fenomena
lalu menerkam seketika. Mencabiknya menjadi serpihan-serpihan
luka
Seekor kucing menikmati sepotong daging di antara hitam
Sisa sampah yang telah lama habis terbakar, debu-debu
Berlari diam-diam menuju kebebasan. Kata-kata yang lama
diperam dalam diam pikiranku bertunas, akarnya satu persatu
menembus berlapis euforia, lalu menghisap kelat pekat.
Mencengkramnya menjadi jeritan, jeritan luka.
Seekor kucing menikmati sepotong daging
di antara entah.
Medan, 06

M. Raudah Jambak, lahir di Medan-5 Januari 1972. Kegiatan
terakhir mengikuti work shop cerpen MASTERA, di Bogor
(2003), Festival Teater Alternatif GKJ Awards, di Jakarta
(2003) dan workshop teater alternatif, di TIM Jakarta
(2003), Pameran dan Pergelaran Seni Se-Sumatera, di Taman
Budaya Banda Aceh-Monolog (2004). Menyutradarai monolog
"Indonesia Undercover" dalam seleksi Monolog 2005, di
Taman Budaya Sumatera dalam rangka monolog nasional di
Graha Bakti, Taman Ismail Marzuki. Karyanya selain di
Medan juga pernah dimuat di Surat Kabar RAKYAT MERDE
KA Jakarta dan Majalah SIASAH Malaysia,Majalah Horison.
Saat ini bertugas di beberapa sekolah sebagai staf pengajar,
Panca Budi,Budi Utomo dan UNIMED .Alamat kontak-Taman Budaya
SumateraUtara, Jl.Perintis Kemerdekaan No. 33 Medan. HP.
081533214263.
E-Mail:mraudahjambak@plasa.com. Selain itu beberapa buku
yang memuat karyanya jugasudahterbit,misalanya:MUARATIGA
(antologi cerpen-puisi/Indonesia-Malaysia), 50 Botol Infus
(Teater LKK IKIP Medan), KECAMUK (antologi pusi bersama
SyahrilOK), TENGOK (antologi puisipenyair Medan), SERATUS
UNTAI BIJI TASBIH (antologi puisi bersama A.Parmonangan),
OMONG-OMONG SASTRA 25 TAHUN (antologi esay), MEDITASI
(antologi puisi tunggal), AMUK GELOMBANG (sejumlah puisi
elegi penyair Sumatera Utara, Ragam Sunyi Tsunami
(kumpulan puisi, Balai bahasa Sumut) .no. rek; Mandiri cabang mdn balaikota,
106-00-04699933-3 atau Britama, cab. Mdn putri hijau : 0053-01-019162-
50-9

 
Foto M. Raudah Jambak






INDONESIA NEGARA PENGIMPORT SAMPAH TERBESAR DI DUNIA
OLEH : M. Raudah Jambak
I
Ketika kubaca sejarah India , kagum aku pada Mahatma Gandhi maupun Nehru. Mereka mengandalkan tenaga dan produksi negeri sendiri. Mereka mengharamkan segala produksi luar negeri. Semangat yang membatu yakin berdiri di atas kaki sendiri.
Teringat pula dengan perjuangan Presiden Indonesia pertama, Soekarno namanya. Di sebut – sebut sebagai singa podium Indonesia . Mengharamakan segala bentuk pinjaman dari manca negara. Baginya , Indonesia adalah negara terkaya di dunia. Tak perlu pinjaman dana Amerika untuk beli celana ataupun kaca mata dan penutup kepala sementara dada dibiarkan terbuka.
Lalu muncullah faham Soekarnoisme yang fanatis. Mereka menolak segala bentuk imitasi, hedonistis, dan materialistis. Menolak menundukkan kepala bersama, dengan elagansi ekonomi negara multi kolonialis. Tidak pernah mengajarkan rakyatnya bagaimana caranya jadi pengemis.
Masa berganti, Indonesia berganti. Presiden pertama berganti Presiden kedua, Soeharto panggilannya. Menanam paham selama tiga puluh dua tahun lamanya. Dikultuskan sebagai pahlawan pembangunan di seluruh sudut dunia. Berhasil meminjam dana yang sanggup menjual Indonesia . Terkontaminasi serta mendarah daging untuk generasi – generasi sesudahnya.
II
Menjulur lidah ular – ular berbisa menghisap segala borok dan nanah. Demonstrasi berkumpul berarak, orasikan segala macam sumpah serapah. Ditonton pula di seluruh dunia dan benua mulai Australia dan Eropa. Dan Indonesia masih merasa gagah mengimport sampah – sampah. Mulai Hollywood , Berlin ataupun Cina. Atau mungkin juga Ethiopia . Kita tidak perlu gundah karena Indonesia adalah negara pengimport sampah terbesar di dunia.
III
Indonesia , Meniru sistem birokrasi negara – negara penjajah
Menetapkan pemerintahan dan undang – undang zaman kolonial Belanda
Mengirimkan anak – anak belajar ke luar negeri untuk memuntahkan kembali whiskey karena malu dengan negeri sendiri.
Indonesia , Membeli mesin – mesin bekas luar negeri agar bisa buat pesawat terbang sendiri untuk dijatuhkan kembali di dalam negeri, kereta api terbelit rel sendiri, kapal laut dipagut maut, bus – bus hambus bagai gabus.
Pergi ke acara pesta dan arisan keluarga memakai kutang dan celana dalam bekas prostitusi luar negeri terkini.
Indonesia , Mengumpulkan era demonstran yang anti kekerasan dengan dana yang milyaran. Sementara rakyat, anak dan istri dibiarkan kelaparan.
Liburan antar benua pakai kas negara yang tersisa tidak seberapa. Dengan alasan tugas negara yang mulia.
Indonesia , Parlemen dibiarkan sebagai tempat bermainnya anak – anak TK.
Punya cerita niaga dan telenovela tapi lupa Siti Nurbaya apalagi Malinkundang dan Sampuraga.
Indonesia , Biarkan prostitusi dan judi sebagai alternatif usaha menunggu kerjaan yang menunggu saatnya. Pelacur, pembantu, sampah, limbah, dan Aids import) utama.
Perawan bertopeng TKW di eksport, bahan – bahan baku di eksport. Segala macam hasil bumiwarisan untuk anak cucu nanti di eksport masuk kantong pialang – pialang berdasi. Lalu beli gundik dan berjudi di luar negeri.
Indonesia , Tidak kenal lemper, empek – empek, lepat atau ketupat serta toge deli dikalahkan Pizza, Hot – Dog, Ham – Burger dan Shushi. Tidak kenal Siti Nurbaya, Angling Dharma, Siliwangi, Borobudur, dan masih banyak lagi dihantam Telenovela, Kuch Kuch Hota Hai atau Low Fen Koi. Candunya ibu – ibu serta remaja putri.
Indonesia , Aktivis, kolumnis, masinis, apatis, pesimis, dan pengemis. Sampah - sampah layak buang dari luar negeri laku berat di sini.
IV
Menjulur lidah ular – ular berbisa menghisap segala borok dan nanah. Demonstrasi berkumpul berarak, orasikan segala macam sumpah serapah. Ditonton pula di seluruh dan benua mulai Australia dan Eropa dan Indonesia masih merasa gagah mengimport sampah – sampah. Mulai Hollywood , Berlin ataupun Cina dan mungkin saja Ethiopia . Kita tidak perlu gundah karena Indonesia adalah negara pengimport sampah terbesar di dunia. Dan Indonesia akan menjadi negara tempat sampah terbesar di dunia, jika para pemimpin lebih memikirkan perut dan di sekitarnya dari pada otak untuk kesejahteraan bangsa dan bersiap – siaplah akan muncul penjajahan ketiga, empat maupun lima .
Setelah Soeharto lalu berganti panji – panji mulai BJ. Habibie, Gusdur, juga Megawati Soekarno Putri. Di sini intrik politik semakin berani merobek – robek nurani. Manusia seonggok tubuh tak berharga. Teroris dimana – mana membius Aceh, Madura, Kalimantan , Poso, Bali , Ambon kemudian Irian. Sementara Timor – Timur telah pun mati suri, rakyat hanyalah sampah tak berharga.
Entahlah, korupsi, kolusi, sudah jadi menu sehari – hari; air, bahan bakar minyak, listrik, sampai parkir di perah sampai berdarah – darah. Dikunyah – kunyah setengah manusia berotak sampah.
Dari pohon pikiran berdaun sampah, maka berbuahlah berjuta serakah mengandung vitamin bernilai musibah. Setelah pemerintahan berikutnya berganti Susilo Bambang Yudhoyono hanya mampu melongo. Indonesia kembali mengunyah – kunyah getah bencana tak sudah – sudah. Tsunami berkali – kali, gempa berkali – kali, longsor berkali – kali, kebakaran berkali – kali, pesawat jatuh berkali – kali, kapal laut tenggelam berkali – kali, kereta api rengsek berkali – kali, angkutan darat tabrakan berkali – kali, banjir berkali – kali dan lahan tak ketinggalan dimuntahkan merapi mungkin akan berkali – kali. Dan rakyat layaknya sampah dicampakkan berkali – kali. Penderiataan silih berganti berkali – kali.
1993-2007