Politik/Bab6

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

SI TOKE : Apa yang dimaksudkan dengan merdeka 100%? Buat saya merdeka itu merdeka tak ada batasnya.

SI GODAM : MERDEKA itu memang selalu ada batasnya. Batasnya itu pertama terhadap ke dalam. Kedua terhadap keluar.

SI TOKE : Apa artinya?

SI GODAM : Terhadap ke dalam! Bukankah tiap-tiap orang dalam negara merdeka itu mesti menghargai kemerdekaan tiaptiap warga lain? Jadi tiada boleh berbuat sekehendak hatinya saja terhadap warga sejawatnya. Di sinilah terletak batasnya.

SI PACUL : Kalau begitu terhadap keluar: tiap-tiap negara merdeka mesti pula mengakui kemerdekaan tiap-tiap Negara Merdeka yang lain, besar atau kecil. Berapa pun kuatnya satu negara merdeka tidaklah dia bisa berbuat sekehendak hatinya saja terhadap negara lain. Dengan begitu maka kemerdekaan satu negara terletak pula pada kemerdekaan negara lain, jadi arti luasnya pada suasana kemerdekaan umumnya.

SI GODAM : Tepat, Cul! Kalau suasana kemerdekaan itu dalam arti umum terganggu, maka lambat laun akan hilang kemerdekaan tiap-tiap negara. Lihatlah contoh di sekitar kita dan dalam sejarah dunia! Berapapun kuat satu Negara Merdeka, yang memperkosa kemerdekaan negara lain akhirnya ia jatuh juga!

SI TOKE : Kalau satu negara merdeka mesti menghargai kemerdekaan negara lain pula tentu satu warga negara merdeka mesti pula menghormati warga negara lain sebagai tamunya. Bukankah begitu?

SI GODAM : Sebenarnya begitu! Di sana teranglah sudah bahwa kemerdekaan manusia itu mengandung “perdamaian” buat seluruh manusia. Perdamaian itulah dasar kemakmuran. Akhirnya kemakmuran itulah pula yang menjadi dasar kemerdekaan.

SI PACUL : Memang kemerdekaan, perdamaian, kemakmuran itu berseluk-beluk. Tetapi kalau kubiarkan engkau melanjutkan perundingan tentang kemerdekaan itu secara begitu, aku takut kita akan selangkah demi selangkah kau bawa ke ‘jurang’ filsafat. Baiklah kita kembali ke tanah yang datar. Berilah contoh yang pasti (konkret) tentang batas kemerdekaan itu.

SI GODAM : Pertama batas itu boleh berupa daerah. Kemerdekaan Spanyol amat terbatas karena Inggris menduduki Karangbatu bernama Gibraltar buat dijadikan benteng. Ini berarti satu pistol mengancam dadanya Spanyol. Begitu pula Terusan Suez, Tanah-Asing di Shanghai dan lain-lain.

SI PACUL : Walaupun daerah itu kecil, tetapi ia amat menguasai politik ke dalam dan ke luar Negara yang diduduki. Apalagi batasnya?

SI GODAM : Batas yang terang tentulah berhubung dengan pembatasan kedaulatan. Tentulah tak ada Negara yang merdeka dalam arti liar. Di atas sudah disebutkan batas tiap-tiap Negara Merdeka itu ke dalam dan keluar. Tetapi itu berlaku buat tiap-tiap negara, dimengerti dan dirasa perlunya oleh tiap-tiap Negara. Tetapi status (kedudukan dalam politik) seperti Dominion Status, Free-State (Irlandia) atau Gemeenebest yaag didengung-dengungkan oleh Belanda itu adalah batasan pincang.

SI PACUL : Sebenarnyalah begitu. Karena Indonesia yang digemeenebest- kan oleh Belanda itu tiadalah meng-gemeene-kan Belanda. Jadi batas itu berlaku buat Indonesia saja. Seolaholah Indonesia kurang dari Belanda.

SI GODAM : Apalagi kalau suatu Negara Merdeka mencampuri administrasinya Negara lain. Keadaan ini terjadi pada semua jajahan. Hal ini tak perlu dilanjutkan. Indonesia sudah tahu bahwa urusan administrasi dari desa sampai ke daerah, ke pulau, dan akhirnya sampai ke semua kepulauan, hingga 17 Agustus 1945 dicampuri oleh Belanda.

SI PACUL : Jadi batasan pasti yang sudah engkau sebutkan ialah: batasan daerah, batasan kedaulatan, dan batasan administrasi. Tidakkah ada batas-batas yang lain-lain?

SI GODAM : Secara lahir tidak-ada lagi. Tetapi secara tertutup ada. Sudahkah engkau mendengar nama-nama Negara Merdeka seperti Meksiko, Honduras, Kuba, Peru, Brasil, juga Tiongkok sebelum Perang Dunia kedua ini?

SI TOKE : Semua negara itu memang Merdeka. Semua negara itu mempunyai Undang-Undang Dasar sendiri dan merdeka memilih dan memecat pemerintahnya sendiri. Selain itu juga merdeka menentukan politiknya ke luar negeri.

SI GODAM : “Rupanya” begitu dipandang dari luar. Ambil saja Meksiko sebagai contoh. Selama pemerintah Meksiko mengakui keleluasaan kongsi minyak Inggris-Amerika di Meksiko, selama itu pula ada pengakuan penuh dari Inggris- Amerika. Tetapi coba timbul pemerintahan Meksiko yang menentang kongsi minyak itu. Sebentar saja timbul revolusi dari golongan Meksiko juga, yang disokong oleh kongsi minyak. Satu jenderal Meksiko diadu dengan jenderal Meksiko yang lain. Barangkali kedua jenderal itu cinta pada Negara dan Rakyatnya. Tetapi mereka sadar atau tidak, gampang dibelit oleh “lasso” (tali pengikat) yang ujungnya berada di kantor pusat kongsi minyak di Amerika yang tentu berhubungan pula dengan birokrasi Amerika. Demikianlah semua pemberontakan di Amerika Tengah dan Selatan, seperti juga dahulu di Tiongkok disebabkan oleh pengaruh busuk kapitalisme asing yang bersarang di Negara yang menurut syarat Undang-Undang Internasional memang merdeka.

SI PACUL : Jadinya kapital-asing itu kalau ditanam begitu saja dalam suatu Negara Merdeka bisa mengacaukan politik Negara Merdeka itu. Bisa mengadudomba sebagian penduduk terhadap bagian lain dari penduduk Negara itu juga.

SI TOKE : Jadinya kita tak perlu kapital-asing? Bukankah Indonesia tak cukup mempunyai mesin dan uang buat mengganti mesin yang sudah rusak dalam peperangan sekarang dan buat menambah mesin yang baru???

SI GODAM : Sebenarnya kita membutuhkan mesin, bahkan juga beberapa ahli. Malah kita membutuhkan berlipat-ganda mesin dan para ahli asing buat mendirikan perindustrian baru dan memperbaiki yang lama. Berapa puluh lokomotif, mesin kapal dan kapal terbang kita butuhkan. Lebih dari itu, tidak saja mesin yang sedia buat dipakai kita perlukan. Tetapi juga mesin yang membikin mesin. Kita perlukan mesin yang akan membikin mesinnya oto, membikin lokomotif, membikin mesin kapal air dan udara, membikin meriam, tank, bom-atom dll, pendeknya “mesin-induk”. Berhubung dengan itu kita perlukan pula para ahli yang kita belum punya.

SI TOKE : Bingung aku mendengarnya. Tetapi di samping itu bukan main girang hatiku mengelamunkan “Indonesia punya atas Mesin-Induk” itu, mempunyai “Industri Berat” itu. Tetapi uangnya???

SI GODAM : Uang tak perlu! Tetapi yang perlu ialah KEMERDEKAAN 100%. Sekali lagi! Uang sebagai kapital-asing tak perlu. Malah membahayakan dan tidak membawa Indonesia ke arah yang kita tuju.

SI TOKE : Sekarang saya bertambah pusing Dam. Membahayakan bagaimana? Tidak membawa kita ke tempat yang kita tuju bagaimana?

SI GODAM : Membahayakan dan tiada menyampaikan maksud, seperti terjadi di Amerika Tengah dan Selatan, Kek. Sekarang Amerika Tengah dan Selatan tak bisa bikin mesin apalagi bikin mesin-induk. Pengaruh kapital-asing di Amerika Tengah dan Selatan tak membenarkan sekalian Republik Merdeka itu mempunyai dan menyelenggarakan sendiri Industri Berat. Sebab kapital-asing itu takut akan persaingan. Takut kalau-kalau kelak industri berat di Amerika Tengah dan Selatan menyaingi atau membunuh industri berat atau ringan negara yang meminjamkan modal. Karena pemerintah Negara di Amerika Tengah dan Selatan terikat oleh uang pinjaman dari Inggris-Amerika, dia tak bisa mengambil tindakan yang tepat buat mendirikan Industri Berat Nasional.

SI TOKE : Baiklah kita tinggalkan dahulu Amerika Tengah dan Selatan itu. Kau bilang tak baik kalau kita menerima modal asing. Baik! Kita butuhkan Industri Berat. Tetapi uang dari mana kita ambil? Para ahli ke mana kita cari di antara bangsa Indonesia?

SI GODAM : Uang? Bukankah minyak tanah kita, arang kita, timah kita, aluminium kita, intan-mas kita, perak-mutiara kita semuanya uang??? Engkau ini seorang toke. Apakah kertas yang kau lipat-lipat itu yang dicetak oleh Jepang sampai 40.000.000.000 dalam 3 tahun itu yang uang??? Bukankah beras, intan berlian, dan mesin yang diangkutnya ke Tokyo dulu yang sebenarnya uang??? Kertas itu cuma wakil dari barang. Kertas itu sendirinya hampir tidak ada harganya. Belum lagi kusebut barang yang berharga seperti teh, kopi, kina, kelapa, gula, getah, dan banyak lagi yang tidak dipunyai Negara lain dan amat dibutuhkan Negara lain.

SI PACUL : Aku tahu maksudmu, Dam! Semua hasil dari dalam dan atas tanah Indonesia ditambah pula dengan hasil lautnya yang kaya raya itu akan kau kirimkan keluar negeri buat “ditukarkan” dengan mesin dan para ahli, dan kalau perlu tentu juga dengan “uang asing”.

SI GODAM : Tepat, Cul! Para ahli itu tidak berada di Amerika saja. Atau di Inggris saja. Di Swedia, Swiss, atau Jerman juga ada. Mereka akan ingin bekerja-sama dengan Republik Indonesia Merdeka. Bukan seperti tuan besar, melainkan sebagai pegawai yang menerima perintah.

SI TOKE : Tetapi kalau engkau membikin industri baru seperti tambang besi, pabrik besi baja dan mesin industri muda, barangkali layu dan mati kalau kelak disaingi oleh barang besi-baja dan mesin dari Eropa dan Amerika. Mereka bermodal besar, tahan bersaing. Mereka berpengalaman. Barangnya murah dan baik!

SI GODAM : Itulah dia Kek! Bayi manusia, walaupun tegap-kokoh mesti dilindungi dahulu dalam beberapa tempo. Begitu pun tumbuhan dan hewan. Itu sudah hukum alam. Pun dalam ekonomi, undang-undang itu berlaku. Dalam ilmu ekonomi namanya itu “perlindungan industri bayi” (protection on infant-industry). Amerika sendiri masih mempunyai cabangindustri yang dilindungi.

SI TOKE : Bagaimana melindungi industri bayi kita itu?

SI GODAM : Mesin atau barang yang sedang kita bikin itu mesti kita batasi masuknya dari luar negeri atau kalau perlu larang sama sekali masuknya. Tentu pada permulaan kita belum bisa membikin semua mesin atau baja yang kita butuhkan. Jadi barang ini masih perlu dimasukkan dari luar. Tetapi dibatasi banyaknya. Cuma buat menambah yang masih kurang saja. Supaya yang perlu dimasukkan itu jangan menjadi saingan buat industri bayi kita, maka mesin atau besi yang masuk itu mesti dipajaki sampai tak bisa merusakkan kemajuan industri kita. Kalau perlu dilarang sama sekali masuknya.

SI PACUL : Buat membatasi masuknya barang asing itu atau melarang masuknya sama sekali kita mesti 100% merdeka buat menguasai keluar-masuknya barang di Indonesia (ekspor dan impor).

SI GODAM : Tepat, Cul! Merdeka 100%! Kalau kita sudah merdeka 100% buat menguasai keluar masuknya barang asing itu, maka barulah kita bisa merdeka 100% menentukan “ARAH” industrialisasi di Indonesia, yakni menuju ke INDUSTRI BERAT seperti kilat. Baru sesudah kita mempunyai dan sanggup menyelenggarakan industri berat, baru kita bisa membikin sendiri alat kemakmuran dan alat pertahanan (seperti meriam, tank, kapal selam - terbang dsb). Barulah pula bisa dijamin Kemerdekaan Indonesia. Selama Indonesia belum mempunyai Industri Berat, selama itu pula INDONESIA MERDEKA terancam sangat Jiwa Kemerdekaannya.

SI TOKE : Rupanya engkau tak mengizinkan sama sekali masuknya kapital-asing dan barang asing?

SI GODAM : Barang asing bisa masuk dan akan tetap bisa masuk. Harapanku sampai hari kiamat kita makin makmur, makin membutuhkan barang asing yakni hasil istimewa di negara asing. Malah modal asing bisa ditanam di sini buat membikin barang yang belum bisa kita bikin sendiri dan tak membahayakan perindustrian, kemakmuran, dan pertahanan Kemerdekaan kita.

SI PACUL : Apa salahnya kalau Tionghoa membuka toko menjual sutera Shantung yang halus yang tak ada pada kita itu. Apa salahnya Tionghoa membuka pabrik sutera di samping pabrik sutera Indonesia? Apa salahnya Tionghoa memasukkan uangnya, sebagai andil dalam perusahaan Indonesia, asal saja terbatas banyaknya? Apa salahnya Jerman mendirikan pabrik Pilsener Bier yang lezat-sehat itu? Atau apa salahnya kawan kita dari Rusia membuka toko menjual kaviar yang sedap sehat itu?

SI GODAM : Yang menjadi ukuran buat semua-mua itu ialah: Rakyat Indonesia jangan terancam kemerdekaan dan kemakmurannya. Bangsa tamu tetap aman dan makmur. Lama kelamaan dengan jalan yang cocok dengan undang-undang dan adat istiadat Indonesia bangsa tamu lebur menjadi rakyat Indonesia yang taat setia kepada Negara Rakyat dan Undang-Undang Indonesia.

SI TOKE : Kaubilang tadi kalau Indonesia Merdeka 100% maka secepat kilat kita bisa menuju ke arah Industri Berat. Bukankah majunya industri itu tak bisa kita perkosa?

SI GODAM : Tak ada sesuatu yang akan kita perkosa, Kek! Kita cuma percepatkan jalannya sesuatu yang bergerak menurut kodratnya sendiri. Kita tahu air itu baru mendidih kalau panasnya sudah sampai kurang lebih 100 derajat. Tetapi derajat setinggi itu baru kita peroleh sesudah dimasak satu jam umpamanya kalau apinya lemah. Tetapi dengan listrik yang tinggi derajatnya bisa kita peroleh dalam beberapa menit saja.

SI PACUL : Perbandingan lagi, Dam! Langsung tepat saja, Dam!

SI GODAM : Kembali pada perindustrian kita! Memang kalau kita biarkan “perseorangan” bermaharajalela dalam perekonomian kita, barangkali 100, 200, atau 500 tahun pun kita takkan sampai ke tingkat Industri Berat Nasional. Tetapi dengan “Rencana” menurut “HUKUM EKONOMI TERATUR” dalam sepuluh tahun saja kita bisa sampai ke tingkat yang mengagumkan.

SI PACUL : Asal pemerintah tetap Merdeka 100% dan rakyat bersatu! Pimpinan tetap tegap, percaya atas diri sendiri dan tetap jujur terhadap rakyat jelata. Pasal bahan memang tak ada yang kurang di Indonesia, baik sebagai “jasmaninya kemesinan” seperti besi aluminium, bauksit dll, baik sebagai “rohaninya kemesinan” (seperti arang, listrik, dan minyak). Mengenai bahan, Indonesia ini, apalagi Indonesia Raya tak kurang dari Negara manapun di bawah kolong langit ini.

SI TOKE : Dam, coba bentangkan “RENCANA” buat Industrilisasi kilat itu!

SI GODAM : Maaf, Kek! Terlampau panjang dan terlampau sulit, kalau kubentangkan di sini. Baiklah kubentangkan nanti dalam brosur istimewa pula! Sekarang baiklah kita meninjau kembali ke belakang, buat membulatkan perundingan.