Politik/Bab1

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Percakapan tentang politik ini terjadi antara MR. APAL (wakil kaum inteligensia), SI TOKE (wakil pedagang kelas menengah), SI PACUL (wakil kaum tani), DENMAS (wakil kaum ningrat), dan SI GODAM (wakil buruh besi).

A. Arti Sederhana[sunting]

SI PACUL : Selamat pagi, apa kabar ?

SI TOKE : Terlampau panjang ini Saudara! Sekarang masa perang dan masa berontak, ucapkan yang pendek dan tepat saja: “Merdeka” begitu. Pendek, tepat, dimengerti, dan membangunkan perasaan bertarung. Ucapan yang panjang tadi asalnya dari terjemahan Belanda. Kalau nanti berbaubau Nica, tentu engkau dicari buat dibawa ke Batalyon X.

SI PACUL : Memang saya tak tahu yang demikian itu. Tetapi sudah jadi kebiasaan saja. Di sekolah rendah dipelajari dan memang selalu diucapkan begitu. Tetapi sekarang satu dua kali juga saya ucapkan “MERDEKA” kalau berjumpa pengawalan di jalan-jalan. Tetapi terus terang saja, saya sendiri juga belum tahu betul artinya “Merdeka” itu.

SI TOKE : Cul, saya pun tak paham betul akan arti perkataan itu. Tetapi contoh ini bisa memberi penerangan. Engkau lihat itu burung gelatik. Dia bisa terbang kesana kemari, dari pohon ke pohon mencari makan. Alangkah senang hatinya. Di mana ada makanan di sana dia berhenti makan sambil menyanyi. Kalau hari senja dia pulang ke sarangnya. Itu namanya merdeka. Tak ada kesusahan. Selalu riang gembira.

SI PACUL : Betul senang kelihatan dari luar. Tetapi kelihatan dari luar saja. Belum tentu hatinya sang gelatik sendiri selalu senang. Belum tentu pula burung gelatik itu selalu menyenangkan orang lain. Kemerdekaan semacam itu tak begitu memuaskan.

SI TOKE : Bagaimana tak memuaskan, Cul? Bukankah merdeka seperti burung di udara itu selalu dipuji, selalu diambil sebagai contoh?

SI PACUL : Tadi saya bilang belum tentu hatinya sang gelatik itu selalu senang. Bung Toke memang orang kota, memang punya perusahaan buat hidup sendiri. Tak perlu banyak takut sama ini atau itu. Tetapi bung Toke jangan lupa, bahwa sang gelatik selalu diintai musuhnya. Kucing atau berangan ialah musuh besarnya. Burung elang ialah musuhnya yang lebih besar. Sang manusia pun bisa sewaktu-waktu menangkapnya atau menembaknya.

SI TOKE : Sang gelatik toh bisa lari terbang?

SI PACUL : Ya, memang dia bisa lari terbang. Cuma kecakapan yang diperolehnya dari Alam itu saja yang bisa melindungi jiwanya. Tetapi mana ada adat atas undang-undang masyarakat yang melindunginya? Bahkan, mana masyarakatnya sang gelatik?

SI TOKE : Benar juga Cul. Engkau memang dari desa, yang masih hidup di Alam. Memang di Alam itu undang-undang yang berlaku ialah: Besar hendak melanda. Tetapi dalam masyarakat pun begitu juga, bukan?

SI PACUL : Memang masyarakat kita juga belum sempurna. Tetapi jauh lebih sempurna dari masyarakat burung atau hewan yang lain. Barangkali kita manusia pun tak akan sampai kepada masyarakat yang sempurna. Tetapi kita senantiasa, selangkah demi selangkah bisa menghampiri kesempurnaan ...

SI TOKE : Aku tak sangka kau seorang ahli filsafat, Cul. Rupanya tadi engkau berlaku pura-pura bodoh saja. Tetapi tunggu dulu! Baik kita kembali ke pokok perkara. Engkau sudah terangkan bahwa sang gelatik belum tentu selalu berhati senang, karena musuh selalu mengintai. Tak ada undang-undang atau adat masyarakat burung yang bisa melindungi masing-masing burung. Tetapi engkau belum terangkan, bagaimanakah sang gelatik yang hina papa itu bisa tidak menyenangkan orang lain, bisa mengganggu orang lan?

SI PACUL : Memang rupa sang gelatik itu hina papa. Tetapi kalau satu rombongan saja gelatik itu sampai ke sawah kami, maka mereka itu merdeka pula memusnahkan hasil pekerjaan kami. Dari masa meluku sampai masa menanam padi, dari waktu padi masih hijau kecil sampai kuning matang, kami mengeluarkan jerih payah dan peluh keringat. Sekarang sesudah jerih payah kami memperlihatkan hasilnya datanglah rombongan gelatik yang tidak mengeluarkan keringat setetespun dan susah gelisah sedikit pun atas hasil pekerjaan kami tadi. Tetapi dengan tidak meminta izin lebih dahulu, dan dengan tak malu-malu mereka bersuka ria, bersenda gurau di atas tangkai padi, memilih buah yang matang dan bernas. Bukankah kemerdekaan semacam itu kemerdekaan orang tak berusaha yang merampas hasil pekerjaan orang lain yang mengeluarkan tenaga? Merdeka semacam itu berarti merdeka merampas. Inilah sebenarnya akibatnya kemerdekaan liar itu. Apa gunanya “merdeka” semacam itu buat masyarakat manusia?

SI TOKE : Wah, Cul. Ini gara-gara “selamat pagi” apa kabar tadi. Tetapi memperbincangkan arti “Merdeka” itu bukan lagi perdamaian yang aku peroleh dalam hatiku. Memang semua perkara yang engkau kemukakan tadi yang berhubungan dengan “kemerdekaan” itu benar belaka. Sekarang saya sendiri dalam kekacauan pikiran. Aku sendiri mau tahu pula “apa merdeka yang sebenarnya”.

SI PACUL : Marilah kita bertanya kepada mereka yang lebih ahli.

B. Arti Lebih Dalam (Definisi)[sunting]

SI TOKE : Sini, Denmas! Denmas, tuan sudah dengar kami belum lagi mendapat kecocokan tentang arti MERDEKA. Tetapi saya sudah yakin, bahwa MERDEKA itu tidak berarti boleh menjalankan kemauan diri sendiri saja, dengan tiada mempedulikan hak dan kemauan orang lain. Bukankah begitu, Cul, sari perundingan kita tadi.

SI PACUL : Memang begitu. Tetapi siapakah dan bagaimanakah cara membatasi kemauan masing-masing orang? Cobalah Denmas kasih jawab! DENMAS : Memang kemauan liar diri sendiri itu mesti dibatasi. Di zaman Majapahit umpamanya kemauan liar tak terbatas itu dikendalikan ke jalan yang baik oleh raja yang adil dan bijaksana.

SI TOKE : Belum terang benar perkataan Denmas itu pada saya. DENMAS : Artinya dikendalikan itu ialah diarahkan ke jurusan yang benar. Kalau seorang warga negara merusak atau mencuri harta warga yang lain, maka si pencuri tadi dihukum. Dengan begitu dia sendiri dan warga lainnya terbatas atau hilang keinginannya merusak atau mencuri harta orang lain. Lagipula, kalau Negara diserang oleh Negara lain maka raja tadi memerintahkan semua warga yang kuat sehat mengangkat senjata mengusir musuh. Kalau ada warga negara yang kuat sehat itu ingkar, maka ia dihukum pula oleh raja.

SI PACUL : Jadi kalau begitu memang kemauan merusak, mencuri, atau lari kalau musuh datang dibatasi atau dibatalkan oleh raja.

MR. APAL : Tetapi bagaimana kalau raja tadi sendiri mau merusak, memperkosa, dan lari diserang musuh dengan tiada mengadakan perlawanan suatu apa? DENMAS : Raja itu mestinya adil, bijaksana, dan berani gagah perkasa.

SI PACUL : Baik kalau kita mendapatkan seorang Raja semacam itu. Selama ada Raja semacan itu memang negara aman dan makmur. Tetapi bagaimana kalau Raja semacam itu tak ada? Atau kalau adik seorang Raja atau adiknya sebapak tetapi tak seibu lebih adil, lebih bijaksana, dan lebih gagah mau menjadi Raja pula? Tentu timbul perang saudara bukan? Atau kalau Raja itu tak punya keturunan sama sekali, tetapi di antara keluarganya yang dekat atau jauh ada yang berani tetapi zalim, atau ada yang adil tetapi lembek penakut? Siapa yang akan menjadi Raja? Tentu bisa timbul perang saudara pula, bukan?

SI TOKE : Rupanya engkau ini betul seorang ahli filsafat jempolan, Cul. Sokrates sendiri akan bangkit dalam kuburnya mendengarkan pertanyaanmu semacam itu. Memang keadaan begitu sering timbul di zaman Sriwijaya ataupun Majapahit. Di masa itu memang Raja itu seringkali zalim, tetapi tak ada aturan yang membatasi kezalimannya. Raja zalim itu cuma bisa ditukar dengan jalan pemberontakan rakyat. Jadi negara pun kacau. Atau kalau ada pertengkaran di antara para calon Raja, maka masing-masing calon memanggil punakawannya buat perang saudara. Betul di bawah perintah seorang Raja, negara bisa aman sentosa, kalau Raja itu sendiri sempurna dalam segala-galanya dan semua Raja turun-temurun sempurna pula. Jadi keamanan dan kemakmuran negara semacam itu bergantung kepada satu keluarga saja.

SI PACUL : Memang negara aman sentosa kalau keluarga Raja itu sempurna, tak ada celanya. Tetapi celakalah Negara kalau keluarga Raja itu tak sempurna atau jahat.

SI TOKE : Kembali kita sebentar pada pokok perkara. Pertama tadi kita mau mengendali kemauan liar seorang warga negara. Si Pengendali itu kita namai Raja. Tetapi di belakangnya kita lihat bahwa Raja itu manusia juga, acapkali perlu dikendali pula. Memang susah mencari seorang atau serombongan manusia buat mengendali Si Pengendali itu. Jadi apa mestinya yang mesti mengendali kemauan warga negara itu, supaya yang dikendali jangan merusak dan Si Pengendali sendiri jangan merusak pula.

MR. APAL : Sekarang kita sampai ke tingkat yang selama kita berunding ini saya simpan saja dalam pikiran saya. Jadi Si Pengendali yang amat sentosa itu ialah aturan atau undangundang. Undang-undang Negara itulah yang menangkap, memeriksa, atau menghukum seorang warga negara yang dianggap salah. Dengan aturan yang sudah ditetapkan itulah negara mesti diperintah. Aturan memerintah negara itu kita namai Undang-Undang Dasar atau konstitusi.

SI TOKE : Jadi kalau begitu Undang-Undang Dasar itulah yang memerintah, bukan lagi manusia, Undang-Undang Dasar itu lebih tetap dari kemauan seorang Raja atau kemauan keluarga Raja. Boleh dituliskan dan diterjemahkan lebih pasti.

SI PACUL : Tetapi siapa yang mesti membikin Undang-Undang Dasar itu?

SI TOKE : Iya, benar, itu kita mau tahu. Siapa yang berkuasa “berdaulat” buat menentukan Undang-Undang Dasar itu?

MR. APAL : Dengan perkataan lain: di tangan siapakah terletak “kedaulatan” itu? Tadi sudah dibicarakan, bahwa kedaulatan itu tak aman tak tetap kalau ditaruhkan di tangan Raja atau satu keluarga Raja. Sekarang marilah kita periksa di tangan siapa kedaulatan itu harus kita taruh, supaya cara memerintah itu tetap, tak berubah-ubah menurut perasaan seorang Raja, menurut baik atau jeleknya hari, menurut suka atau marahnya Raja itu. Buat itu marilah kita periksa bermacam-macam bentuk Negara. Bentuk yang baiklah yang akan kita pakai.