Lompat ke isi

Pedjuang

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Pedjuang
Film drama hitam-putih karya Usmar Ismail tentang pertempuran guna mempertahankan sebuah jembatan yang sangat strategis.
Warna (info)
Dialog
Adegan
Cerita
thumbtime=
Berikut ini adalah transkripsi dari sebuah film. Isi di bawah ini mewakili teks atau dialog lisan yang ditranskripsikan langsung dari video film yang disediakan di atas. Pada ukuran layar tertentu, setiap baris diwakili oleh stempel waktu di sebelahnya yang menunjukkan kapan teks tersebut muncul di video. Untuk informasi lebih lanjut, lihat Help:Film.

PERFINI

PEDJUANG

WARRIOR

CHITRA DEWI
FARIDA ARRIANI
LISA NOOR

BAMBANG HERMANTO
RENDRA KARNO
BAMBANG IRAWAN
ISMED M.NOOR

WOLLY SUTINO
ARIJATI
ARDI
DE RAADT
ANDJAR RACHMAN
HAMIDY T.DJAMIL
CASSIM ABBAS
SOENDJOTO A.B

FLORA LUNTUNGAN
ANNIE JONKER
MANBURSJAN
MANANDIPA
TIAR MALANG
USMAN SAID
PIED BURNAMA
BILL MANOPPO
Z. ARIFIN LUBISS
TOTO DJAJAKARTIKA
HENDI SUDJARTO
M.G.W. DOORBOH
MUSSOLIHI
INDAHNO

NJANJIAN BERSAMA
C.R.W. SINSU
ORKESTRASI/HIASAN MUSIK
SJAIFUL BAHRI
NJANJIAN
SAM SAIMUN
ANAS JUSUF
SJAIFUL NAWAS

LAGU2 REVOLUSI
SELENDANG SUTERA
GUGUR BUNGA
SEPASANG MATA BOLA
SERIBU DJANDJI
MALIOBORO
TEMBANG MALAM
oleh ISMAIL MARZUKI (ALM)
kepada kenangannja
Film ini kami persembahkan

DEKOR - ART ARDI AHMAD
DJURU RIAS SOFJAN
PERLENGKAPAN OSMAMA JANUAR
MUDJIUTOMO
ABDUL MUIS
SJAMSIR HATTA

PIMPINAN UNIT KEHORMATAN
Kpt. ANDJAR RACHMAN
PIMPINAN UNIT
ABDUL MUIS
PIMPINAN UNIT II
SOETRISNO
PEMBANTU SUTRADARA
SOENDJOTO AB
W.SIHOMBING

S.SUMANTO
PIMPINAN PRODUKSI
D.DJAJAKUSUMA
SUTRADARA UNIT II
NJA' ABBAS ACUP

BANKIR
BANK KESEDJAHTERAAN KELUARGA
ANGGAUTA ANGKATAN PERANG
( BANKAP p.t. )

BRIGADIR DJENDRAL KOSASIH
PANGLIMA KOOAM VI SILIWANGI
KOLONEL IBRAHIM ADJI
KEPALA STAF KOOAM VI SILIWANGI
LETN.KOL. NAWAWI ALIFF
KEP. PENERANGAN KOOAM VI SILIWANGI

dengan tiada bantuan beliau2
film ini tidak akan terlaksana

PENASET2 MILITER
LETKOL.SOLICHIN
LETKOL.SUPOMO

DIBANTU OLEH
LETKOL.A.J.WITONO
MAJ.HASAN SLAMET
MAJ.RIBAWANOEN
MAJ.S.SURJA
KAPT.A.ROESJAMSI
KAPT.A.SJUKUR
KAPT.SJAMSUHADI
KAPT.R.T.SUTARJA
LTB.SUKIMAN

DINAS dan DJAWATAN
SUDAM I-VI
ZIDAM VI
POMDAM VI
KESDAM VI
ANGDAM VI
ADJDAM VI
HUSDAM VI
PALDAM VI
PEMDAM VI
JONKAVDAM VI

SKENARIO-PRODUKSI-SUTRADARA
USMAR ISMAIL

Suasana pertempuran yang menyoroti para tentara yang sedang bertiarap di tanah.

Amin
Awas jaga depan.

Prajurit
Siap!

Agedan menyoroti Imron, salah satu anggota prajurit yang sebagai tangan kakan Letnan Amin, menaiki tangga menuju jembatan atas.

Teriakan suara Letnan Amin bertanya ke Imron tentang kondisi di atas jembatan.

Amin
Imron, sudah selesai?

Imron justru memberhentikan salah satu prajurit yang sedang jalan dan mengajaknya bercanda.

Imron
Ehhh enak ya jadi komandan?
Ehehe kau mau jadi komandan? AHAHAHAHA
Tampang kau juga bukan tampang komandan ahahaha
Sana pergi!
HEH! HEY! HEY! YOO!

Imron menyuruh semua pasukan pergi ke medan pertempuran.

Imron turun dan mendatangi pasukan di medan perang.

Imron
Tugas selesai. Belanda itu kurang beruntung nantinya, kalau saja dia mencoba menyebrangi jembatan ini.

Pasukan
AHAHAHA

Imron
Syukurlah, kita tak perlu meledakannya.
Darma, Ayo potong bung ini... Mentang-mentang penganten baru. Mau bulan madu ya? ahaha

Pasukan
AHAHAHA

Imron
Hei, Jenong.

Jenong
Siap!

Jenong di tendang komandan hingga terjatuh dan pasukan tertawa terbahak-bahak.

Pasukan
AHAHAHAH

Letnan Amin dan pasukan perang sedang bersantai dan bermain bersama di semak-semak lokasi peperangan. Imron dengan salah satu prajurit sedang adu panco dan prajurit menyorakannya.

Pasukan
Ayooo...Ayooo...Ayooo

Penjaga Depan
Lihat, Belanda datangg!

Amin
Belanda datang!
SIIIIIAAAAAPPPPP!!!!

Seluruh pasukan menempatkan diri di semak-semak untuk berjaga-jaga dengan posisi tiarap.

Pasukan Belanda memasuki area pertempuran.

Pasukan Belanda memantau keadaan dan menyebar tim-nya untuk berjaga dan bersiap perang.

Belanda
Sen Kantol.

Kantol
Ya!

Belanda
Kamu periksa jembatan itu mendekat ya.

Atas perintah komandan Belanda, beberapa anggota mendekat dan melewati jembatan.

Letnan Amin dan pasukannya yang sedang tiarap telah siaga berjaga. Imron mengarahkan tembakan ke arah orang Belanda yang berada di jembatan dan siap menembak. Namun, di hentikan oleh Letnan Amin.

Amin
Sabar-sabar.

Anggota Belanda merasa telah memastikan aman dan memberi kode untuk seluruh pasukan bisa melewati jembatan.
Seluruh pasukan Belanda berjalan melewati jembatan.

Pasukan Letnan Amin persiapan melakukan penembakan.
Dan DUARRR tembakan melintas ke arah seluruh pasukan Belanda yang sedang melewati jembatan.
Imron turun menuju jembatan dan mulai menembak dari jarak dekat. (Suara gemuruh tembakan)

Amin
Imron! Awas kapal terbang! Sembunyiii!!!

Suara kapal terbang melintasi area pertempuran.

Amin
Oiii! Imronn! Imron! Mundurrr!

Imron
Siap!

Amin
Ini perintah untuk mundur! Mundur sini riko!

Suara tembakan-tembakan pertempuran.

Tembakan mereda, pasukan Letnan Amin berkumpul dalam posisi tiarap.

Imron
Berapa lama kita bisa bertahan?

Amin
Kita masih bertahan. Kita pos terdepan untuk menahan musuh selama mungkin di tempat ini.

Imron
Pak kalo mereka menerobos?

Amin
Kita hancurkan jembatan itu.

Imron
Beri aku satu regu, aku nyebrang sana, aku gasak mereka dari belakang.

Amin
Itu bukan printah.

Imron
Perintahkeun dong.

Amin & pasukan lain
AHAHAHAHA

Amin
Mereka berhenti menembak.

Imron
Iya.

Amin
Akan mendapatkan pesawat prenggulu barangkali.
Oke, aku ada tugas untukmu Imron.

Imron
Siap!

Amin
Kita masih sempat lari mundur ke puncak bukit sana. Bawa satu regu, turun, bikin mereka repot, terus sementara kami mundur.

Imron
Siap!

Amin
Selekasnya, kedengaran kapal terbang, lari berlindung. Paham?

Imron
Paham!

Amin
Kerjakan!

Imron
Siap!

Imron
Kau ikut aku Seno!

Darma
Aku juga?

Imron
Ngga! Kau penganten baru, kau bulan madu aja.

Seluruh Pasukan
AHAHAHAHA...

Imron
Ayoo satu regu!

Darma
Sebelah kanan sebelah kiri, mundurrr!!!

Imron
Satu regu maju!!

Suara ledakan-ledakan.

Amin
MUNDURRRR!!!
MUNDURRR!!!
MUNDURRR!!!

Seluruh pasukan bergerak mundur.

Imron
Tembakkk!!!

(Suara tembakan) Dua kapal terbang tiba-tiba datang melintasi area pertempuran.

Imron
Mundurrr!!!
Mundurrr!!!
Mundurrr!!!
Ayooo!!!

(Suara ledakan) Saat pasukan berjalan mundur. Kapal terbang menembakan pelurunya ke arah bawah dan mengenai beberapa anggota pasukan.

Seno
Adi... Adi.. Adi..

Adi tidak terbangun, tubuhnya berdarah terkena peluru. Seno meninggalkannya karena khawatir terkena peluru Belanda. Pasukan Imron yang mulai bergerak mundur, menemui Adi dan menggendongnya.

Suara kapal terbang.

Suara isak tangis Seno setelah sampai ke tempat persembuyian bersama teman-teman.

Amin
Ada apa?

Seno
Si Adi kena.. Entahhh... Entahhhlah... Aku tak bisa menolongnya...

Amin
Sudah sudah sudah...

Imron
Ada apa ini... Ada apa... Heh bangun! Bangun! Bangun! Apa kau ini... Hah!!

Suara tembakan, meledak.

Seno
Aku seharusnya bisa menolong dia.

Amin
Bukan salahmu.

Imron
Sana!

Imron
Seno, ke sini.
SENOOO! Ke sini!

Seno mendekat ke Imron.

Imron
Nangis?

Seno
Kapan-kapan Ku balas Kau.

Imron
HAHAHAHA

Pasukan
AHAHAHA

Darma
Aku pribadi berterima kasih dengan adanya perang ini.

Suara ledakan tembakan.

Imron
Busyet, tuh terima kasih sama Belanda tuh.

Darma
Kalau tidak, aku tidak akan menjumpai teman-teman seperti kalian, seumur hidupku, aku selalu ikuti orang tuaku, Aku tak bisa berpikir sendiri, Aku selalu kasih tau mana yang boleh, mana yang tidak, dan aku selalu patuh, membuat aku laki-laki lemah barangkali.

Imron
Kau kan bisa kawin kan Mar, itu satu tanda yang kau bukan banci.

Seno
Kamu bakal punya anak lagi.

Suara tembakan dan pasukan berlari.

Pasukan tiarap kembali.

Imron
Haduhh...

Darma
Ini barangkali bukan tempatnya pak, tapi aku ada permintaan. Kalau aku gugur dalam salah satu pertempuran-pertempuran ini, maukah kalian menjaga istriku dan anakku?

Imron
AHAHAH...Anakmu yang belum lahir itu? Kalau istrimu mau diambil alih apa boleh buat.

Amin
Heh..Sudah kewajiban kita bersama, Darma.

Suara tembakan menggelegar.

Amin
MUNDURRR!!! MUNDURRR!!!
Ayo Imron!

Belanda terus melakukan ledakan. (Suara ledakan bergemuruh).

Darma
Terkait yang tadi itu, kita ikrarkan antara kita berempat. Jika salah satu diantara kita gugur, yang hidup harus menanggung keluarga yang ditinggalkannya.

Imron
Aku setuju-setuju saja. Percuma, di dunia ini aku tidak punya siapa-siapa. Terserah yang lain.

Amin & Seno
Aku setuju.

Amin
Aku punya keluarga juga tentunya, tapi...

Imron
Irma masuk keluarga ngga?

Seno
Jangan dimasukan ke dalam keluarga pak, nanti dia yang mengambil alih.

Suara ledakan tembakan.

Amin
MUNDURRR!!! Mundurr mundurr... MUNDURRR!!!

Suara ledakan bom Belanda.

Amin
Awas, Imron!

Amin
Marilah, kita berjanji.

Darma
Sumpah.

Seno
Sumpah.

Imron
Sumpah.

Amin
Demi persahabatan antara kita berempat, kita akan menerima tanggungan terhadap keluarga siapapun antara kita.
Mundurr!! Mundurrr!!

Suasana sedang berkabung.

xxx
Dengan perasaan duka yang amat besar, dengan ini kita mengucapkan selamat jalan kepada Prajurit I Adi, Prajurit I Sangsepu, Corporal Sudjono, Prajurit I Sihombing, Prajurit II Buyung, Prajurit II Memet, dan Prajurit Manopo, semoga arwah mereka dilapangkan Tuhan yang Maha Kuasa. Amin.

(Suara isak tangis) Penguburan jenazah.

xxx
Upacara selesai.

Amin
Siap.

xxx
Siap, barisan bubar.

Amin berjalan dengan Sersan Mayor Imron dan berbincang.

Amin
Mereka pasti akan kembali dengan tenaga bersenjata. Mereka sekarang sudah tau dimana kedudukan markas kita.

Sersan Mayor Imron
Seksi saudara ditugaskan untuk enggan memusuhi jembatan ini, ini perintah.

Amin
Kami menghendaki dengan segala konsekuensinya apapun yang kita bisa, hanya satu yang bikin ruwet kepala saya.

Sersan Mayor Imron
Apa?

Amin
Para keluarga prajurit dan para pengungsinya itu datang dengan kami.

Sersan Mayor Imron
Itu urusan saudara sendiri.

Suara tembakan-tembakan.

Amin
Apa itu?
Sersan Mayor Imron, begitulah adanya, habis waktu pemakaman, seperti dia perlu melampiaskan amarahnya, begitulah caranya.

Sersan Mayor Imron
Anda suka?

Amin
Dia paling berani, tangan kanan saya.

Sersan Mayor Imron
ohh...

Imron
Gosh! Gosh! Gosh!

Seno
Hei, sudah puas udal-udal peluru Pak Imron?

Imron
War, War, Gosh! Hari ini badan gairah untuk meluk perempuan. Besok kerja mati, untuk apa?

Seno
AHAHAH.. Untuk kemerdekaan tanah airmu tolol, usir Belanda dari sini.

Imron
Jawab doek, sini. Di pusat kota Jakarta daerah operasi, aku tak usah repot kerja. Apalagi mampus buat dapat makan. Aku duduk saja di restoran, "Hey Bung, nasi satu." Habis makan aku pergi aja haha. "Terima kasih Mas," kata mereka. AHAHAHA

Seno
Ayoo, ayoo, ayooo.

Imron
Hey, mereka bangga dapat memberi aku makan AHAHAHA... Aku kan jagoan kelas satu to ahaha.

Seno
Ya.

Suasana tempat pengungsian.

Anak-anak
Merdeka...

Darma dan istrinya, Santi, berjalan dan memasuki rumah mereka.

Santi
Barangkali mau mandi, aku ke dapur dulu, daritadi tak sempat masak.

Darma
Santi, Kau cemas? Kau rusuh?

Santi
Tidak.

Darma
Kau pikir nasibku akan sama dengan mereka yang baru berkubur tadi?

Santi
Tentu aku rusuh, aku cemas, aku takut, tiap akang pergi bertugas, seolah-olah aku kehilangan semangat, seharian aku menunggu, tiap ku dengar tembakan-tembakan dadaku yang ditembus peluru.

Darma
Kau berlebih-lebihan, kebanyakan dari kami kan pulang kemari.

Santi
Dan yang gugur?

Darma
Satu atau dua.

Santi
Nah, satu atau dua. Tapi antara satu atau dua itu mungkin terdapat akang.

Darma
Aku tak mengerti biasanya kau tak begini.

Santi
Memang, karena telah lama aku menyakinkan diriku sendiri, aku istri seorang prajurit, aku punya kewajiban terhadap tanah air, aku harus berani berkorban kalau perlu. Tapi selama itu pula, aku mulai sadar, aku membohongi diriku, aku sebenarnya tak rela Akang pergi, aku tak mau berkorban, tiga korban itu.

Darma
Apa yang kau katakan ini?

Santi
Untuk apa nyawa dikorbankan, untuk apa?

Darma
Kau kan tau aku prajurit, waktu kita kawin aku pun prajurit dan itu kerjaku. Mungkin aku dapat, aku lulusan sekolah menengah, mudah bagiku mencari kerja yang lain, tapi itulah yang aku tidak mau. Waktu ini aku hanya ingin menjadi prajurit, aku merasa itulah satu-satunya kerja yang dapat aku lakukan, selain seolah-olah tak ada artinya. Engkau.. Kau mengerti Santi?

Santi menganggukan kepalanya dan memeluk Darma.

Darma
Itulah satu-satunya kerja yang dapat aku lakukan waktu ini. Kau tau, kasih padamu, hanya padamu. Oke, kita tidak akan membicarakan itu lagi?

Santi menggelengkan kepalanya kemudian memeluk Darma.

Suasana tempat pengungsian saat Imron dan Seno datang.

Anak-anak
Merdeka... Merdeka...Merdeka..

Imron & Seno
Merdeka!

Seno
Aku ada perlu sebentar.

Imron
Ya, sampai ketemu di atas.

Imron menendang kaki Seno, sampai Seno terjatuh. Imron dan Seno berpisah arah jalan.

Imron & Prajurit Lain
AHAHAHA

Imron
Eh, neng neng.. (Suara siulan Imron).

Eneng
Apa si yang lucu?

Imron
Ahaha apa ngga boleh ketawa lepas?

Eneng
Boleh saja asal tau tempatnya.

Imron
Apa?

Eneng
Jembloskan masuk rumah sakit djiwaan.

Imron & Eneng
AHAHAHAHA. Bisa aja, terima kasih ya, ada yang nunggu.

Seno datang tiba-tiba mendekati jendela rumah Latifa, saat Latifa sedang menyiapkan makanan.

Latifa
Hey mas, sudah lama? Sudah pakaian?

Seno
Nanti habis makan di tempat yang sama.

Latifa
Aku harus ke rumah sakit dulu.

Seno
Aku juga sakit, sakit keras, haduh, hampir semaput.

Latifa
Jangan semaput dulu, tunggu aku datang.

Seno bersiul, sambil duduk di pintu dapur rumah Latifa. Latifa memperhatikan Seno dan mendekatinya.

Akang Latifa
Kenapa tamu tidak diajak masuk?

Seno
Selamat malam, saya baru saja mau pergi.

Akang Latifa
Makan dulu di sini.

Seno
Terima kasih, lain kali saja.

Seno pergi meninggalkan rumah Latifa.

Abang Latifa
Ahahaha...

Latifa
Ada apa si?

Abang Latifa
Nanaa baik.

Latifa
Siapa?

Abang Latifa
Udah gaharu cendana pula, sudah tau bertanya pula. Kapan?

Latifa
Kapan apa?

Abang Latifa
Anu.

Latifa
Tidak pernah akan.

Abang Latifa
Kenapa?

Latifa
Harus yang tua dulu, yang tua kapan?

Abang Latifa
Tidak pernah akan.

Latifa
Sama-sama wlee...

Abang Latifa
Aku kira itu bukan caranya Latif. Kau jangan selalu saja menjadikan aku alasan untuk tidak... tidak...

Latifa
Tidak apa?

Abang Latifa
Untuk tidak melangsungkan maksudmu. Seno itukan anak baik, pantas.

Latifa
Aku tidak apa-apa dengan dia, cuma teman saja.

Abang Latifa
Teman saja?

Latifa
Aku sudah berjanji pada Ibu untuk menjaga Abang sampai ada pengganti aku, kecuali kalo abang tidak mau aku lagi.

Abang Latifa
Ya, barangkali aku sudah bosan, selalu saja dijaga oleh adekku yang kadang-kadang lebih galak dari seorang campin. Aku kan juga ingin bebas sekali-kali.

Latifa
Benaran nih? Awas ya.

Abang Latifa
Ya maksudku, aku kan juga ingin punya pacar.

Latifa
Abang sudah punya?

Abang Latifa
Kau setuju dengan orangnya.

Latifa
Entahlah, kalo Abang setuju, aku menurut saja.

Abang Latifa
Kau tidak menjawab pertanyaanku?

Latifa
Aku tak mau Abang disakiti, itu sebabnya aku bunuh orang yang berani melukai hati Abang, aku tak rela.

Abang Latifa
Hari besok kita belum pasti. Menyelamatkan hari besok itu, itulah menjadi tujuanku pertama.

Suasana rumah seno dan para keluarganya yang sedang berkumpul.

Bapak Seno
Bagaimana Nak? Kira-kira Belanda menyerang lagi kemari tidak?

Seno
Kemungkinan itu selalu ada pak.

Bapak Seno
Ya tetapi istimewa sesudah mereka digempur kemarin ini.

Seno
Pokoknya kita mesti pertahankan daerah ini mati-matian. Ini urat nadi lalu lintas buat Belanda tapi juga buat kita.

Bapak Seno
Begitu?

Seno
Iya.

Paman Seno
Tapi ya kalau di sini ya di sini saja toh. Boyong-boyongan terus-terusan, mesti pindah kemana lagi, ke puncak gunung sana?

Seno dan Bapaknya
AHAHAHAHAHAHA.

Ibu Seno
Eeee... Ngga sembahyang nih? Magrib magrib masih cekakak cekekek di sini.

Bapak Seno
Oooo iya sudah magrib. Ayo ah!

Ibu Seno
Itulah.. Itulah... Bagaimana perang mau menang, kalau Tuhan di belakang, tapi kalau menderita kalah, Tuhan yang disalahkan, yang beginilah, yang begitulah, yang Tuhan tidak adil, macam-macam.

Bapak Seno
Iya, tau-tau sudah malam nih. Ayo ah!

Seno
Aku cuma mau liat bagaimana ibu.

Ibu Seno
Ini anak keterlaluan, sembahyang tidak, puasapun tidak, keliwatan kau.

Seno
Aku juga mau pergi ke langgar bu.

Ibu Seno
Aku tidak mengerti apa salahnya kalau kau tinggal di sini sama aku, pakai di asrama segala.

Saudara Seno
Dia mau bebas bu.

Seno
Aku ini prajurit, liat ini stripku, bukan officer.

Ibu Seno
Yang lain kek bisa.

Saudara Seno
Dia punya bini bu di desa.

Seno
Asem. Ibu baik?

Ibu Seno
Ya, baik. Dia bilang apa tadi?

Seno
Ah, ngaco dia.

Ibu Seno
Dia bilang apa tadi!

Seno
Ibu baik tidak?

Ibu Seno
Ya baik..

Seno
Iya, aku cuma mau tanya, nanti ibu bilang, katanya aku anak kualat lah. Tidak pernah memperhatikan ibunya. Aku pergi dulu lah.

Ibu Seno
Ehh.. Tunggu dulu.. Tunggu...

Ibu memasuki rumah. Ada tetangga yang hendak jalan dan melewati kumpulan keluarga Seno.

Tetangga
Ee... Mas Seno apa kabar?

Seno
Baik, dari pulang ngaji nih?

Tetangga
Iya mas.

Tetangga melintas pergi dan Ibu Seno keluar dari rumahnya.

Ibu Seno
Ini aku masak khusus untuk kau.

Seno
Ibu susah-susah, di asrama aku juga diberi makan.

Ibu Seno
Lihat nih, anak jaman sekarang, tidak terima kasih.

Seno
Aku tahu, aku anak kualat, anak kurang ngajar. Terima kasih Bu.

Ibu Seno
Awas jangan main gila ya.

Seno melambaikan tangan, pergi meninggalkan keluarganya, dan bertemu dengan tetangga.

Tetangga
Merdeka Pak!

Seno
Merdeka!

Seno melanjutkan jalannya dan pergi.

Suasana di rumah keluarga Irma.

Irma
Buat apalagi dibaca koran-koran tua itu pah?

Bapak Irma
Lantas aku mesti baca apa?

Irma
Barangkali kalo kurir Amin datang dari kota, dia bawa koran yang agak baru.

Bapak Irma
Mau muntah aku, harus menggantungkan diriku selalu pada orang lain.

Irma
Orang lain pah?
Amin praktis sudah hampir menjadi menantu papah, ahahahaha...

Bapak Irma
Apa pula lucunya itu? Di zaman normal kau kira aku mau membiarkan kau kawin dengan... dengan...

Irma
Dengan apa pah?

Bapak Irma
Dengan serdadu itu.

Irma
Papah harus terima kasih, kita di sini termasuk keluarga yang beruntung, dapat pondok sendiri, pembagian cukup, perlakuan istimewa, berkat serdadu itu pah.

Bapak Irma
Aku lebih beruntung di kota, di rumahku sendiri, dapat berbuat sekehendakku. Lagi di sini aku siapa?

Irma
Aku kira kita bebas untuk kembali ke kota, jika kita mau, Amin sudah beberapa kali menawarkan.

Bapak Irma
Aku tidak gila.

Irma
Papah kuatir, nanti republik menang, papah di cap nikah?

Bapak Irma
Mana bisa kapal terbang segala tank, mau dilawan dengan bambu runcing, kecuali jika terjadi suatu keajaiban.

Irma
Dan papah percaya suatu keajaiban akan terjadi hayoo..

Ditengah perdebatan kecil Irma dan Bapaknya, datanglah Ibu Irma dengan membawa makanan dan minuman.

Ibu Irma
Apa si, kalian selalu saja ribut saja.

Irma
Kami sedang berbicara tentang keajaiban. Mam, bilang sama papah, dia mesti berbuat sesuatu supaya keajaiban itu terjadi.

Ibu Irma
Apa ini?

Bapak Irma
Aku mesti lakukan apa? Aku bukan Tuhan.

Irma
Mudah saja, ambil senapan, ikut gerilya.

Bapak Irma
Aku punya tugas sendiri.

Irma
Syukur.

Tiba-tiba Amin datang guna bertamu di rumah Irma.

Amin
Selamat malam...

Ibu Irma
Ooo... Nak Amin.

Irma
Ini datang orang yang paling tau.

Amin
Tau apa?

Irma
Papah percaya suatu keajaiban akan terjadi dan republik pasti menang.

Bapak Irma
Ooo... Duduk dulu Nak Amin. Maksud Irma, Tuhan pasti bersama kita dalam perjuangan ini.

Amin
Hanya jika kita sendiri turut berusaha, berbuat berkorban.

Irma
Korban macam apa bang? Seperti kami ini, kami sudah meninggalkan rumah tangga, harta benda, kesenangan kami di kota, ikut mengungsi, apa ini juga berkorban namanya?

Amin
Iya... Iyaa tentu.

Irma
Tapi korban yang sebenarnya ialah yang dilakukan oleh prajurit-prajurit yang dikubur tadi bukan?

Amin
Ya itu juga.

Bapak Irma
Oh eee... Maafkan Nak Amin tadi bapak tidak dapat hadir waktu pemakaman, badan kurang enak.

Amin
Ada barangkali yang bapak ingini, obat atau apa?

Irma
Oh tidak, bentar papah juga baik.

Bapak Irma
Ahahaha.

Ibu Irma masuk dengan membawa teh di nampan.

Ibu Irma
Silahkan minum tehnya Nak Amin, kebiasaan dari kota minum teh sore hari.

Amin
Kebiasaan yang baik Bu. Apalagi kalo tehnya istimewa seperti ini.

Ibu Irma
Pasti, simpenan dari kota, bapak tak suka minum teh dari kampung sini dan bapak kalo sore-sore tak ada teh semalaman tak bisa tidur.

Bapak Irma
Ahaha Ibu berlebih-lebihan ahaha.. Kalau perlu bapak juga bisa minum air dingin saja. Tapi adalah kesenangan-kesenangan kecil macam ini, yang kadang-kadang membikin hidup dapat di tahan dalam keadaan.. keadaan yang serba tidak normal ini.

Irma
Ah normal, yang dinamakan normal ialah yang sudah dirasa biasa, hidup dalam hutan juga bisa dibiasakan, ya bang?

Amin
Ahaha saya cuma mau liat, apa ibu dan bapak baik-baik saja. Permisi dulu.

Irma
Aku juga ingin jalan-jalan sedikit, makanemi malam.

Ibu Irma
Ko cepat-cepat Nak Amin?

Amin
Ahaha.

Amin dan Irma keluar rumah.

Suasana asrama dan Seno baru datang memasuki asrama, kemudian duduk mendekati Imron yang sedang berkaca dan merapikan kumisnya.

Seno
Ada janji pak?

Imron
Oooo tentu.

Imron berdiri dan Seno ikut berdiri.

Seno Dengan siapa pak?
{{{2}}}

Imron
Ahahah itu si rahasia.

Seno
Mujur.

Imron
Mujur? AHAHAH

Imron menyengklak kaki Seno hingga Seno terjatuh ke tanah.

Imron & Seluruh Penghuni Asrama
HAHAHAHAHAHAHAHAHA...

Imron
Kau harus ikut aku.

Seno
Moh.

Imron
Ikut!

Seno
Emohhh.. Mohh.. Mohhh.. Sangkanya pak sendiri yang ada janji apa?

Imron
Hehh kalau nanti ada dua kau boleh dapat satu.

Seno
MOH!

Imron
IKUT!

Penghuni Asrama
AHAHAHA...

Seno
Bentar saja ya.

Imron
Apa? Sebentar? Kau kira aku apa? Ayam?

Seluruh Penghuni Asrama
AHAHAHA...

Imron
Buset.. Ayo ikut!

Imron menarik kerah Seno dan mengajaknya jalan keluar asrama.

Suasana di tempat pengungsian sambil menyanyikan lagu Tembang Malam dan berdendang. Imron dan Seno ikut tergabung.

Suasana Amin dan Irma berjalan di tengah persawahan.

Irma
Mereka kolot sekali bukan?

Amin
Siapa?

Irma
Orang tuaku.

Amin
Bukan kolot.

Irma
Borjui? Reaksioner?

Amin
Ah mereka sudah tua, jangan terlalu disalahkan, jika mereka sedih banyak mengingat kesenangan-kesenangan pribadi.

Irma
Aku masih muda dan aku juga suka pikirkan kesenangan-kesenangan apa yang dapatku peroleh, jika semua, semua penderitaan ini tak ada lagi.

Amin
Perang ini akan berlangsung selama-lamanya.

Irma
Sampai kapan?

Amin
Aku tak pernah perduli, tak pernah ku pikirkan sampai kapan, kecuali... kecuali aku ada di sampingmu, barulah timbul pertanyaan dalam hatiku, berapa lama lagi.

Irma
Aku membuat kau lemah? Jika kawan-kawanmu tau, kau mungkin bisa di cap mata-mata. Atau mungkin anggota dari perkumpulan rantai mas.

Amin
Persetan. Aku kasih padamu, itulah yang penting.

Irma
Ahahaha...

Amin
Ada yang lucu?

Irma
Maaf, aku terpaksa ketawa, menertawakan diriku sendiri. Bapak sebenarnya sudah menyediakan bagiku seorang insiyur, macam-macam akibat revolusi buat perang.

Amin
Sayang, aku bukan insiyur.

Irma
Akan bikin keadaan lebih mudah bagi semua yang bersangkutan bukan?

Amin
Ya...

Irma
Kau adalah orang yang paling simpatik yang pernah ku jumpai. Aku rasanya tak akan menyesal mengikat nasib padamu.

Amin
Kau takan menyesal, biar aku harus meruntuhkan gunung, mendatangkan jurang.

Irma berbicara menghadap Amin sambil menaruh selendanganya di leher Amin.

Irma
Simpanlah selendang ini, tanda mata, bahwa aku tidak akan menyesal.

Amin
Ahh..

Amin tersenyum sambil memegang tangan Irma.

Suasana rumah kediaman keluarga Neng Baedah, incaran Imron. Imron di temani Seno menemui Bapak Baedah dan Neng Baedah di rumahnya.

Imron
Bapak kenal Jakarta? Pak, dari gunung Sahari, tuh deket Kali Tarjo, sampe di Mester, Kampung Melayu, Bapak sebut saja nama Cecep, pasti semua orang tau. HAHAHAHA...

Neng Baedah
Cecep?

Imron
Hahaha iya, iya, iya Cecep, hahahaha, tapi itu bukan namaku yang sebenarnya Neng. Ada ceritanya pak, dari Ancol sampe di Mester, aku selalu diincer oleh janda-janda dan perawan-perawan hahahahaha. Kalau aku lewat naik koplet, naik motor, atau naik becak, dan mereka tau pasti mereka menonjolkan mukanya di jendela, mereka memanggil- manggil aku, Cep, Kasep Cecep, HAHAHAHA. Jadi, karna mereka tak tau namamu, jadi mereka panggil saja aku kasep, karena aku orangnya memang rada-rada kasep si HAHAHAHA, tapi dulu pak waktu masih muda HAHAHAHA. Bagaimana Neng? Coba aku minta tolong, bilang saja terus terang, jangan malu-malu, aku betul-betul kasep ngga?

Neng Baedah
Betul.

Imron
HAHAHAHAHA.

Bapak Baedah
Sudah selesai? Sudah malam, ngantuk, bapak mau tidur.

Imron
Oh, maaf pak, omongan saya barangkali membosankan pak.

Bapak Baedah
Ooo tidak, tidak, besok bapak mau coba-coba pergi ke ladang.

Imron
Ooo iya, iya, itu perlu pak. Hasil bumi harus dilipatgandakan, HAHAHA.

Bapak Baedah
Oo betul.

Imron bersalaman dengan Bapak Baedah. Bapak Baedah pergi ke dalam rumah dan Seno memutuskan langsung ke luar rumah, tersisa Imron dan Neng Baedah. Namun, Bapak Baedah masuk kembali.

Bapak Baedah
Nak sersan, jangan kapok datang kemari.

Imron
Ooo tidak tidak pak.

Bapak Baedah keluar masuk mengambil gelas kemudian mengambil piring. Bapak Baedah masuk kembali.

Bapak Baedah
Bapak lupa kancing pintu.

Imron
Ooo kancing saja pak. Sudah baik pak ngancingnya?

Bapak Baedah
Sudah. Nak sersan, apa mau menginap di sini?

Imron
Hahaha boleh pak?

Bapak Baedah
Tentu saja boleh, tidak kenapa-napa.

Imron
Terim kasih pak.

Bapak Baedah
Nah kalau begitu, Baedah tidur di kamar, Nak sersan bersama-sama tidur dengan bapak di bale-bale ini.

Imron
Dengan bapak?

Bapak Baedah
Iya.

Imron
Jangan pak, jangan, jangan, jangan. Saya tak mau menganggu bapak.

Bapak Baedah
Tidak nak, tidak menganggu, bapak lebih senang, biar bapak berasa aman tidur bersama-sama prajurit.

Imron
Hehehehe lain kali saja, lain kali, lain kali.

Bapak Baedah membukakan pintu kembali dan Imron keluar meninggalkan rumah Neng Baedah.

Bapak Baedah
Merdeka.

Imron
Merdeka!

Bapak Baedah
Selamat tidur!

Imron
Selamat tidur!!!

Setelah Imron keluar rumah, bertemu dengan ibu-ibu di jalan.

Imron
Badhe angkat kemana Bun?

Ibu-ibu
Badhe wangsul.

Imron
Ooo dua-an wae? Kiring yo neh, HAHAHAHA.

Rumah kediaman Latifa. Seno mendatanginya dan bertemu dengan penjaga rumah.

Penjaga
Mau kemana pak?

Seno
Mau ketemu sersan Latifa.

Penjaga
Nanti saya panggil, tunggu sebentar. Sersan Latifa, ada tamu.

Seno
Bagaimana? Aku tunggu.

Latifa
Hust, jangan ramai-ramai.

Seno
Aku tunggu, aku tunggu, eh tidak datang, entah kemana.

Latifa
Ini ada orang sakit, aku tidak bisa pergi.

Seno
Ayo, ada yang hendak aku bicarakan sebentar.

Latifa
Malam ini tidak bisa Seno.

Seno
Kenapa tidak? Orang yang sakit tuh tak kan mati jika kau pergi sebentar heh, atau kalau memang sudah ajalnya.

Latifa
Apa kau pernah lari dari pertempuran?

Seno
AHAHA tentu tidak, itu soal lain.

Latifa
Sama saja, kewajiban.

Seno
Ooo, kau bukan prajurit.

Latifa
Tugas yang berbeda-beda.

Seno
Aku belum pernah melihat perempuan seperti kau. Kau begitu lengket sama kewajiban, apa-apaa kewajiban, kewajiban terhadap orang sakit, orang mati, kewajiban terhadap abang, bagimana tentang kewajiban terhadap dirimu sendiri? Kewajiban terhadap aku? Kita?

Latifa
Aku mengharap abangku jangan kau bawa-bawa.

Seno
Lantas apa tidak benar begitu? Kau merasa berkewajiban untuk merawat memelihara dia, sampe-sampe kau tak ingat akan kebahagiaanmu sendiri.

Latifa
Kami hanya berdua bersaudara, bagiku, dia bukan saja kakak, tapi juga ayah, ibu, teman, segala-galanya.

Seno
Dia lupakan kau, dia kan sudah dewasa.

Latifa
Kau juga sudah dewasa, kenapa ibumu juga mendesak ikut serta.

Latifa menangis.

Seno
Kau akan menyesal jika aku besok tak pulang dari patroli.

Seno meninggalkan Latifa di rumah kediamannya.

Seno berjalan melewati rumah rekan prajuritnya, Karma.

Karma
Seno.

Seno
Sompret, enak kau ya.

Seno melanjutkan jalannya. Dan Karma menutup jendela kamarnya.

Istri Karma
Tidurlah, apalagi yang akang pikirkan.

Karma
Seno baru lewat sendirian tanpa Latifa.

Istri Karma
Latifa barangkali sedang bertugas di rumah sakit.

Karma
Aku gembira tak pernah lagi harus sendirian di dunia ini. Aku ada kau.

istri karma
Aku tau apa artinya hidup sendirian, aku selalu merasa sepi, apalagi ketika kedua orangtuaku meninggal, aku ikut saja dengan orang-orang yang mengungsi ke gunung, dan aku tak kenal siapa-siapa, aku turut saja apa yang dikerjakan mereka, ke dapur umum, merawat orang sakit, dan selama itu aku merasa orang yang paling malang di dunia. Kemudian, aku bertemu akang.

Karma
Sudahlah, janganlah kau pikirkan lagi apa yang sudah-sudah aku.

Istri Karma
Jangan tinggalkan aku, jangan pernah tinggalkan aku, aku tak ada siapapun di dunia ini, selain akang.

Karma
Akupun memerlukan engkau barangkali lebih dari kau perlu aku, tidak ada satu tenagapun yang akan bisa memisahkan kita di dunia ini. Kecuali...

Istri Karma
Kecuali apa kang?

Karma
Aku mau katakan kecuali mati.

Istri Karma
Mati?

Karma
Tapi kita masih mudah Santi, kita masih jauh, selasai perjuangan ini kita akan kembali ke kota, dan aku akan keluar jadi tentara, aku cari kerja, apasaja asal kerja, kita harus mempunyai sebuah rumah kecil, banyak anak.

Istri Karma
Anak banyak, rumah harus besar, gajinya juga mesti gede.

Karma
Beres, asal saja perang ini habis, aku rasanya bisa mengerjakan apa saja, aku akan cari duit, banyak duit, dan kau boleh membeli apa saja yang kau sukai.

Istri Karma
Besok akang pergi kemana?

Karma
Ah tak apa-apa, cuma patroli saja.

Karma dan istrinya berpelukan.

Suasana para prajurit yang sedang berpatroli. Mereka berjalan berbaris sambil bersiul lagu kebangsaan.

Imron
Heh, kau si semalam ngga mau ikut.

Seno
Halah, banyak bicara lagi.

Imron
Heh bener, gua sumpah mati nih.

Seno
Halah, sumpah mati, kejar-kejar mati lagi.

Amin
AWASSS KAPAL TERBANG, TIARAPP!!

Suara kapal terbang datang dan mereka mulai mengebom tempat para prajurit melintas.

Suara gemuruh tembakan dan bom.

Kapal terbang melintas pergi.

Menyoroti Seno yang sedang bersembunyi di ketiak Imron, mereka berdua dalam posisi tiarap.

Imron
Ayo.. Gosh! Ayo bangun!

Imron dan Seno bangun dari tiarapnya.

Imron
AYOOO... KUMPULLLL!!!!

Imron
Ayo cepat! Cepat! Ada yang mati ngga?
Heh, ngapain ini? Ayo bangun! Ngerem aja.

Imron menendangnya. Semua prajurit sudah berbaris.

Salah satu prajurit
Laporan pak! Prajurit kami luka kaki.

Imron
Hemm? Ahhh ngga pa pa ini ngga bisa mampus, kan pahlawan heh. Mana Karma? Ayo cari!

Imron
Ayo cari Karma kau!

Seno
Pak Karma!

Imron
Tang-mentang penganten baru.

Seno
Pak Karma! Pak Karma! Haduh mana?

Tiba-tiba Seno terhenti dan melihat ke bawah lubang.

Seno
Pak Imron!

Imron
Hey.

Imron berlari mendekati Seno dan sama melihat ke lubang bawah. Ternyata Karma telah meninggal terkena tembakan tadi.

Menyoroti Karma yang telah terbaring dan tak bernyawa di dalam lubang. Imron dan Seno bersedih dan menangis.

Tempat pemakaman Karma. Menyoroti Istri Karma yang sedang jongkok tepat berada di samping kuburan Karma dan Amin, Imron, Seno, serta prajurit lain yang sedang berdiri melingkar bersedih dan menangis.

Seluruh prajurit menyanyikan lagu gugur bunga.

Di rumah kediaman Karma dan Istrinya. Menyoroti istri Karma, Latifa, Irma, Amin, Imron, dan Seno.

Amin
Begitulah sumpah sudah kami ikrarkan. Jadi, Dek Santi tak perlu kuatir apa-apa. Kami bertiga bertanggung jawab atas keselamatan Dek Santi buat selanjutnya.

Bom tiba-tiba melayang ke arah kendaraan dinas dan menghancurkan kendaraan tersebut. Prajurit terus melakukan pengeboman ke arah markas-markas Belanda dan di balas oleh para tentara Belanda. Terjadilah pengeboman dan penembakan di mana-mana.

Suara gemuruh peperangan, bom dan tembakan.

Belanda melewati jembatan guna mendekat ke markas para prajurit. Di sisi lain, para prajurit sedang tiarap sambil mengawasi aksi Belanda, dan bersedia untuk meluncurkan bom tepat di jembatan.

Amin
SIAP!

Salah satu prajurit langsung meluncurkan bomnya dan membuat jembatan hancur.

Imron
Aku maju ya pak.

Amin
Jangan!

Imron
Maju!

Amin
Jangan!

Maju!
{{{2}}}

Amin
Imron!

Imron nekat maju. Menyoroti kendaraan Belanda yang masih selamat dari jembatan hancur itu. Dan Belanda tersebut terus melakukan tembakan secara lebih dekat ke para prajurit. Seno melemparkan bom tempat di kendaraan Belanda. Beberapa tentara Belanda tewas dan tentara yang lain terus melakukan penembakan. Amin dan Seno terus melakukan penembakan dari belakang untuk melindungi Imron yang telah maju mendekat.

Imron tertembak oleh tentara Belanda. Amin langsung lari dan bergerak turun berencana menolongi Imron, namun di sisi lain gerakan Amin telah di intai, dan akhirnya Amin pun tertembak berkali-kali.

Seno
Pak!

Seno berlari maju guna mendekat ke Amin untuk menolongnya.

Seno
Pak Amin!!! Pak Amin!!

Tembakan dari tentara Belanda terus melayang dan Seno berusaha membalas tembakan-tembakan itu.

Imron
Seno!! Senooo!! Senoooo!

Seno
Aaaaa...

Seno berlari mendekati Amin dan Imron.

Imron
Bantuu, Senooo bantuuu Seno.

Tembakan terus terjadi dimana-mana.

Imron
Seno... Senooo ke sini kau.

Seno berlari mendekat dan mulai menggotong serta membawa pergi Amin. Imron pun ikut mundur.

Suasana tempat pengungsian, seluruh warga telah berkemas-kemas untuk pergi meninggalkan tempat itu.

Suasana tempat perawatan korban peperangan. Imron dan Seno memasuki tempat tersebut.

Imron
Perintah dari Komandan Batalyon, desa ini harus dikosongkan, malam ini juga, semua harus mengungsi, juga yang sakit.

Latifa
Aku sudah bilang luka-lukanya membahayakan, kau tak membolehkan dia diangkut sekarang, apa kalian mau dia mati?

Seno
Jadi, kau akan membiarkan dia tinggal di sini? Ditembak Belanda?

Imron
Besok pagi Belanda pasti menerobos jembatan itu dan desa ini akan mereka bakar, siapa-siapa yang tertangkap, kurang beruntung nasibnya.

Latifa
Aku akan tinggal dengan dia di sini.

Seno
Gila kau.

Templat:Tras

Imron
Dokter? Dokter hanya ada di markas resimen, 100 kilometer dari sini. Itupun kalo dia belum mengungsi.

Irma
Tapi dia tidak bisa di biarkan membusuk di jalan atau ditembak Belanda di sini.

Latifa
Aku akan rawat dia di sini. Pergilah kalian!

Seno
Aku takan membiarkan kau tingga.

Latifa
Dia abangku tempatku ada di sampingnya.

Irma
Barangkali akupun juga bukan orang yang tak berarti dalam hidupnya.

Latifa
Kalau begitu kenapa kau tinggal merawat dia di sini? Dia pasti lebih senang melihat kau daripada aku.

Irma
Apa yang harus ku kerjakan? Aku tak biasa merawat orang.

Latifa
Kau tak cukup kasih terhadapnya, itu sebabnya.

Irma
Perasaanku adalah urusanku sendiri.

Imron
Letnan Amin adalah atasanku, sahabatku, kepentingannya adalah lebih penting daripada kepentinganku, tapi ada yang lebih penting, perjuangan kita, perintah dari markas besar, kampung ini harus dikosongkan malam ini juga. Kalau Latifa mau tinggal di sini merawat Letnan Amin terserah, itu adalah soalnya sendiri.

Imron
Seno, perintahkan semua kepala regu, berkumpul di markas.

Irma
Maafkan aku Lati, aku telah mengecewakan engkau, tapi aku tak bisa bohong dan berkata aku cinta pada Amin dan berkorban apa saja untuk dia.

Latifa
Aku tau, pergi, pergilah semua!

Imron
Seno! Apa yang kau tunggu?

Seno
Kita ada sumpah, bahwa jika ada terjadi apa-apa dengan salah seorang kita, yang lain akan bertanggung jawab terhadap orang yang ditinggalkan. Aku merasa bertanggung jawab terhadap Latifa, aku juga tinggal.

Imron
Sontoloyo! Sumpah apa? Sumpahmu sebagai prajurit itu yang masih kau pegang, yang lain tidak berarti lagi.

Seno
Buat kau tidak.

Imron
Buat kau, buat aku, buat semua kita yang pakai baju ijo, nih kerjakan semua.

Seno
Kerjakan sendiri.

Imron
Aku yang berkuasa sekarang.

Imron menampar Seno dan mendorongnya. Latifa berdiri dan menarik Imron untuk tidak melanjutkan aksinya itu.

Latifa
Jangan. Jangan. Jangan. Dia tidak salah, kalau kalian membuat sumpah, aku lepaskan kalian dari sumpah itu huhuhuhu.

Imron keluar, diikuti Seno yang keluar, dan Latifa terus menangis. Irma keluar.

Seluruh warga membawa barang bawaannya dan pergi meninggalkan kampung tersebut.

Kampung pengungsian telah sepi, sudah tidak ada lagi kehidupan. Hanya tertinggal Latifa yang sedang menunggu Amin yang masih terbaring.