Majalah Horison/1990/Nomor 8/Wawancara
WAWANCARA DENGAN HAJI SOEMAN HS
SAYA BUKAN SI PENCURI
ANAK PERAWAN ITU
HAJI SOEMAN HS, pengarang terkenal dari Angkatan Pujangga Baru kini genap berusia 85 tahun. Meskipun ketenaran namanya masih tetap terngiang di benak banyak orang dari beberapa generasi, tapi apa saja kegiatan yang dilakukan. nya pada usia ambang senja itu, tak banyak orang tahu. Masih menuliskah tokoh yang tetap mengakui tanah Melayu Riau sebagai tanah leluhurnya meskipun dia sendiri bermarga Hasibuan? Siapakah sebenarnya tokoh yang terlibat dalam Mencari mencuri Anak Perawan yang termasyhur itu? Haji Soeman HS berterus terang dan menyatakan apologia tentang tuduhan yang diungkapkan banyak orang kepadanya. "Saya bukanlah si pencuri anak perawan itu. Justru sayalah yang dicuri oleh istri saya", ungkapnya kepada Fakhrunnas MA Jabbar. Wawancara berlangsung dalam suasana santai dan akrab pada suatu pagi Jumat di rumah H. Soeman Hs, Jalan Tangkuban Perabu, Pekanbaru. Soeman hanya mengenakan singlt dan bercelana pendek.
Tanya (T):Apa saja kesibukan Bapak sekarang dalam usia tua ini?
Jawab (J):Saya hanya mengurus sekolah di bawah Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Daerah Riau. Saya sekarang menjadi Ketua Umum Yayasan itu. YLPI mengurus masalah pendidikan mulai dari TK (Taman Kanak-kanak) sampai perguruan tinggi, yaitu Universitas Islam Riau (UIR).
T: Kegiatan di organisasi sosial-politik?
J: Dulu saya pernah aktif di Masyumi. Kemudian , masuk PPP. Ah, rupanya PPP tak betul dan saya berhenti. Sekarang, bolehlah dikatakan saya masuk Golkar. Sebab, ada orang yang minta. Tapi saya tidak aktif untuk ikut berpidato pada masa kampanye. Hanya saja saya restui saja kalau rang bilang sekarang Pak Soeman sudah masuk Golkar. Dan ini ada juga pengaruhnya, seperti waktu saya masih di PPP. Banyak pula orang-orang di daerah sini yang menusuk PPP.
T: Apakah kegiatan mengarang atau menulis buku masih dilakukan?
J: Kegiatan menulis buku sudah tidak lagi. Tapi, saya masih rajin membaca. Saya terus membaca suratkabar, majalah seperti Tempo.
T: Apakah Bapak mengamati perkembangan sastra sekarang?
J: Saya memang banyak dikirimi buku-buku sastra dari pengarang-pengarang muda usia. Maksudnya untuk dikoreksi. Tapi saya tak bisa melakukannya apalagi menelaah buku-buku itu. Hal ini disebabkan umur yang makin lanjut. Ditambah pula saya sibuk mengurus sekolah. Langkah sudah terbatas.
T: Dalam usia 85 tahun seperti sekarang ternyata Bapak masih cekatan dan kuat bekerja. Apa rahasianya?
J: Kebiasaan saya sejak dulu adalah suka makan sayur dan kurang makan daging. Orang banyak tak tahu bahwa sayur yang agak mentah dan daun-daun kayu muda untuk ulam mempunyai khasiat yang baik bagi tubuh. Di samping itu sudah 20 tahun lamanya saya secara terus-menerus melakukan kebiasaan jalan kaki. Sesudah sholat subuh di mesjid dekat rumah sini lalu minum di kedai kopi. Sampai usia 83 tahun, saya masih menempuh jarak 6-7 km. Tapi sekarang hanya 2-3 km sebab dilarang oleh anak-anak karena kuatir saya mendapat kecelakaan.
T: Masih merokok?
J: Saya sekarang sudah menghentikan merokok. Dulu saya kuat sekali. Pada masa Belanda saya mengisap tembakau hitam Belanda sebanyak satu bungkus sehari. Satu bungkus dulu sama kira-kira dua bungkus sekarang. Karena kuatnya merokok, jari-jari tangan saya jadi merah. Apalagi, dokter menasehati bahwa merokok itu berbahaya.
T: Apakah Bapak selalu melakukan cek-up kesehatan secara teratur?
J: Kadang-kadang saja. Dulu pernah saya mendapat penyakit darah rendah dan terpaksa dirawat di rumah sakit. Larangan dan anjuran dokter tetap saya ikuti. Suatu kali saya mendapat penyakit darah tinggi pula. Sekarang, saya tetap menjaga kondisi dan kesehatan agar tak dihinggapi penyakit apa-apa.
T: Beberapa tahun yang lalu Bapak masih kelihatan mendayung sepeda bila bepergian ke mana- mana. Bagaimana sekarang?
J: Saya mulai naik sepeda setelah menjadi anggota BPH (Badan Pemerintah Harian) Riau. Kami waktu itu berjumlah 4 orang. Masing-masing punya sepeda angin. Mobil ada satu sekitar tahun 1960 itu. Jadi kalau ke kantor saya selalu pakai sepeda, sebab di samping saya masih kuat juga sudah menjadi hobbi pula. Sekitar 4 tahun lalu barulah saya berhenti naik sepeda tua itu. Sebab, dilarang oleh anak-anak yang takut saya mendapat kecelakaan. Apalagi naik sepeda sekarang berbahaya karena banyaknya kendaraan bermotor. Padahal, sekarang pun sebenarnya, saya masih bisa naik sepeda. Tapi suatu kali saya terlanggar (mendapat kecelakaan).
T: Apakah ada kenangan Bapak tentang sepeda tua itu?
J: Dulu, sewaktu Daoed Yoesoef masih menjadi menteri P dan K dan berkunjung ke Pekanbaru, dia memanggil saya. Waktu itu dia bilang berkeinginan sekali menaiki sepeda saya itu keliling kota. Rasanya saya tak percaya. Tapi, rupanya betul. Daoed Yoesoef sempat berkeliling kota dengan sepeda tua saya itu.
T: Bagaimana anak-anak Bapak sekarang?
J: Semua anak saya 7 orang dan semuanya sudah besar-besar. Yang bungsu saja sudah berumur 36 tahun. Sebagian besar sudah bekerja dan berkeluarga. Di Jakarta sebanyak 3 orang. Yang lainnya ada di sini dan bekerja di Bank Pembangunan Daerah (BPD). P dan K. Seorang lagi di Samarinda bekerja di kantor pajak. Ada seorang yang tak bekerja dan berada di rumah saja karena sakit.
T: Apakah bakat mengarang yang Bapak miliki tidak sempat turun pada anak-anak?
J Hampir semua anak-anak saya tak mewarisi bakat mengarang ini. Hanya saja ada seorang anak perempuan saya yang mengikuti kebiasaan berpidato. Saya senang dan selalu berpidato di depan umum. Nah, anak saya itu juga selalu berpidato bila ada pertemuan-pertemuan wanita.
T: Bagaimana usaha menumbuhkan dan mengembangkan bakat mengarang?
J: Pada waktu dulu bila ingin mengarang mesti ada bakat atau pembawaan. Tapi jangan terlalu yakin dengan pembawaan ini. Sekarang, ilmu bisa diusahakan. Saya dulu waktu sekolah SD, namanya Sekolah Melayu atau Goeverement School. Pada masa itu zaman Belanda. Di tiap-tiap sekolah ada perpustakaannya yang bernama Taman Pustaka. Di situ terkumpul buku-buku yang harus dibaca oleh murid-murid. Buku-buku umumnya dicetak oleh Balai Pustaka.
Saya paling rajin memaca buku mulai kelas 4 SD. Hampir semua buku di Taman Pustaka itu saya baca. Saya sangat rajin membaca buku-buku terjemahan dari bahasa Belanda dan Inggris. Waktu itu timbul pertanyaan dalam diri saya: “mengapa pengarang-pengarang itu bisa menulis, saya tidak?" Sejak itulah saya mulai tertarik dan mencoba pula menulis.
T: Bagaimana riwayat pendidikan Bapak?
J: Saya dilahirkan di Bengkalis (Riau). Dan belajar SD juga di Bengkalis. Setelah tamat, ada kelanjutannya di Medan, yaitu Sekolah Calon Guru, semacam kursus selama 2 tahun. Waktu itu, masuk sekolah payah. Ada ujian yang diikuti oleh peminat dari seluruh Riau seperti Bagansiapi-api, Selatpanjang, Siak dan Bengkalis. Di antara 20 peserta ujian yang lulus hanya 6 orang, termasuk saya.
Di Medan, waktu itu tahun 1918, setelah meng- ikuti pendidikan 2 tahun, diadakan ujian untuk mencari murid yang berprestasi. Di antara 40 orang yang ada, dipilih hanya 4 orang, untuk dikirim ke Langsa (Aceh) untuk melanjutkan pendidikan. Namanya Normaal School. Saya ter- masuk di antara yang 4 orang itu. Di Langsa, tinggal asrama, diberi uang saku per bulan dan fasilitas lain.
Tahun 1923 saya menamatkan Normaal School itu. Beberapa lama menunggu pengangkatan dan penempatan menjadi guru. Sejak tahun itu pula saya mengajar sebagai guru di Siak Sri Indrapura. Tahun 1930 saya pindah ke Pasirpengaraian sete- lah 7 tahun menjadi guru di Siak.
T: Apa kenangan yang berkesan bagi Bapak ketika menjadi guru masa dulu?
J: Dulu jarak antara Siak dengan Singapura sangat dekat. Tiap menjelang bulan puasa datang, sekolah diliburkan selama 40 hari. Begitu pula pada bulan Maulud, sekolah diliburkan pula 7 hari. Waktu Maulud itu banyak guru-guru yang pergi ke Singapura. Uang perbelanjaan diperoleh dari hasil tabungan setahun. Waktu itu ongkos ke Singapura hanya Rp. 2,5. Untuk tidur tak usah di hotel sebab ada namanya Rumah Badal semacam kedai yang hanya menggelarkan tikar dengan bayaran 2 ringgit.
Biasanya sebelum Maulud, orang-orang muda sengaja tidak mencukur rambut. Maksudnya supaya dapat berpangkas di Singapura. Nah, ber- pangkas di Singapura ini ada tiga macam. Kalau tukang pangkasnya orang Melayu, ongkosnya hanya 2 sen. Kalau orang keling 25 sen karena pakai kipas angin. Yang paling mahal, kalau orang Jepang. Biayanya sampai Rp 1, sebab tukang cukurnya wanita. Jadi kalau ingin dipegang-pegang perempuan Jepang, ya pangkas dengan orang Jepanglah.
T : Bagaimana kisahnya Bapak mulai menulis dan mengarang?
J Mula-mula menulis saya berada di Siak sekitar tahun 1925. Dulu menulis hanya pakai tangan, mesin tik tak ada. Karangan yang sudah ditulis dengan tangan di dalam lembaran buku langsung saja dikirim ke Jakarta. Buku pertama saya adalah Kasih Tak Terlarai, setelah itu Mencari Pencuri Anak Perawan, Tebusan Darah dan Percobaan Setia. Sedang Kawan Bergelut meṛupakan kumpulan cerita pendek, yang lucu-lucu atau kocak.
T: Kebanyakan buku-buku Bapak selalu dibumbui dengan cerita-cerita detektif. Bagaimana hal ini bisa timbul?
J: Sebabnya, waktu sekolah dulu, saya paling suka membaca cerita-cerita detektif yang ditulis oleh pengarang asing seperti Inggris dan Belanda. Saya melihat bahwa buku-buku detektif itu banyak dibaca orang. Saya bertanya dalam hati, mengapa buku-buku seperti itu laku? Bila membaca buku detektif, orang nampak lebih tertarik. Orang ingin tahun, bagaimana ujung cerita. Ujung cerita yang disembunyikan inilah menyebabkan orang tertarik. Jadi ilhamnya dari situ.
T: Bagaimana pula dengan unsur-unsur kocak dan lucu?
J: Kocak? (Tertawa). Saya dulu suka 'campur' (bergaul-FMA) dengan orang-orang banyak. Kalau ada oang kawin, saya diundang, begitu pula pada waktu orang meninggal biasanya orang lain banyak mengantar sampai ke kubur. Jadi, waktu itu biasanya masing-masing bercerita dan bercakap- cakap. Tentu banyak hal-hal lucu yang terungkap. Maka ilham cerita itu ya dari situlah.
T: Bagaimana pandangan Bapak tentang pendidikan kita?
J: Pada pandangan saya, belum tahu hakikat ujung pendidikan kita. Kalau boleh, orang yang dididik dapat mengamalkan ilmu-ilmunya dengan baik. Itu yang lebih bagus. Tapi, kebanyakannya, orang tak bisa mengamalkan ilmunya. Setelah tamat SMA, mau ke mana? Ada orang yang tamat SMA, kerjanya hanya mendayung beca. Itu bagus daripada nganggur. Sanggup mandiri.
Dalam hal pendidikan moral sekarang dengan dulu itu sangat berbeda. Sekarang terasa agak ketinggalan. Dulu, Kepala Sekolah HIS Belanda sangat memperhatikan soal guru. Kalau ada guru yang mau mengajar, harus melaporkan dulu kepadanya. Sebelum melapor, belum boleh mem- berikan pelajaran. Disiplin guru masa itu cukup tinggi. 10 menit sebelum waktu masuk, guru-guru harus sudah berada di sekolah. Kalau tidak, kena denda dengan turun gaji.
Kalau sekarang, malah ada guru yang minta rokok pada murid, Lailahaillallah.... (Berdecak dan menggelengkan kepala). Sebab, sebelumnya sudah biasa pula murid memberi rokok kepada guru. Yang dikuatirkan nanti, kalau murid pula yang minta rokok kepada guru.
Pendidikan zaman dulu mungkin ada yang menyebutnya kuno. Dulu murid pantang betul merokok. Kalau berjalan, murid tak boleh melewati guru. Kalau mau mendahului, murid harus permisi dulu. Kalau sekarang, guru pun mau dilanggar. Jadi, kurang disiplinlah.
T: Tentang bahasa?
J: Saya pernah mendengar dari seorang dosen bahwa ada ahli bahasa dari Belanda yang mengatakan, bahasa Melayu itu jauh lebih 'cantik' (bagus - FMA) dari bahasa Indonesia kita sekarang. Saya berpendapat juga begitu. Lebih menarik. Hal ini mungkin akibat bahasa Indonesia terlalu dicampurkan dengan bahasa asing. Misalnya, panggilan Om, tante. Kalau dalam bahasa Melayu ada perinciannya seperti Mak Cik, Mak Ngah, Mak Tuo. Kelebihan bahasa Melayu lagi, tak ada kata-kata naik ke atas. Cukup dengan kata naik saja, sebab setiap perbuatan naik itu pastilah ke atas, sedang turun ke bawah.
Seharusnya, ada tarik menarik antara keduanya. Yang baik dalam bahasa Melayu itu diambil, sedang yang buruk dibuang.
T: Mungkin terakhir, masih ada hal-hal lain yang perlu Bapak sampaikan?
J: Nah, saya jadi ingat dengan buku saya yang berjudul Mencari Pencuri Anak Perawan. Selama ini, banyak sekali orang-orang yang menuduh, bahwa sayalah si pencuri anak perawan yang dicaricari itu. Padahal, itu sama sekali tidak benar. Malah, sayalah yang ikut mencari pencuri itu. Kalau saya orangnya, untuk apa lagi dicari? Oleh sebab itu, saya ingin membersihkan diri saya dari segala tuduhan itu. Bahkan sebenarnya, sayalah yang dicuri ... oleh istri saya. (Tertawa geli).