Lompat ke isi

Majalah Horison/1990/Nomor 8/Sajak-Sajak

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas

SAJAK-SAJAK
HERMANN HESSE

diterjemahkan oleh
Berthold Damshauser dan Ramadhan K.H.

LEWAT TEGALAN ...

Lewat angkasa mega merangkak
Lewat ladang angin bergerak,
Lewat tegalan ngembara
Anak ibuku yang hilang.

Lewat jalan daun dihembus,
Lewat pohonan burung memekik -
Di atas pegunungan nun di sana
Pastilah kampung halamanku nan jauh.

DALAM KABUT

Ajaib, berkelana dalam kabut!
Sepi tiap batu dan semak,
Tiada pohon melihat yang lain,
Masing-masing sendirian.

Dulu dunia untukku penuh sahabat,
Ketika kehidupanku masih cerah;
Kini, dengan turunnya kabut,
Tiada lagi seorang pun nampak.

Sungguh, tak ada yang bijak,
Yang mengenal kegelapan tiada,
Yang tak terhindar dan tanpa suara
Memisahkannya dari semua.

Ajaib, berkelana dalam kabut!
Kehidupan adalah kesepian.
Tiada manusia mengenal yang lain,
Masing-masing sendirian.

KEBAHAGIAAN

Selama engkau mengejar kebahagiaan,
Engkau belum matang untuk berbahagia,
Biarpun milikmu sudah segala kesayangan.

Selama engkau ngeluh karena ada yang hilang
Dan punya tujuan serta tiada tenang,
Kau belum tahu apa arti kedamaian.

Baru setelah engkau lepaskan segala keinginan,
Tak kenal lagi hasrat dan tujuan,
Tak lagi nyebut nama kebahagiaan,

Maka banjir segala kejadian
Tak lagi nyentuh hatimu, dan jiwamu tenang.

(Gluck)

PAGI SEKALI

Diterbangi perak
Ladang istirah dan bungkam,
Seorang pemburu ngangkat busurnyà,
Hutan gemuruh dan seekor Lerche[1] naik.

Hutan gemuruh dan Lerche yang kedua
Naik, dan luruh.
Seorang pemburu ngangkat mangsanya
Dan siang memasuki dunia.

SENDIRIAN

Di bumi ini seliweran
Banyak jalan dan perlintasan,
Tapi semua
Menuju ke arah yang sama.

Kau dapat berkuda dan berjalan
Berdua atau bertigaan,
Tapi langkah penghabisan
Harus kautempuh sendirian.

Maka tiada pengetahuan
Atau pun kemampuan setara dengan
Ngatasi segala kesulitan
Secara sendirian.

(Allein)

DENDANG ASMARA
Aku rusa dan kaulah kijang,
Burunglah engkau dan aku pohonan,
Mentarilah engkau dan aku salju,
Engkaulah siang, dan impian aku.

Di malam hari dari mulutku yang nyenyak
Terbanglah burung keemasan kepadamu,
Lantang suaranya, warna-warni sayapnya,
Berdendanglah dia untukmu lagu asmara,
Berdendanglah dia untukmu lagu tentang diriku.

(Liebeslied)

DAUN YANG LAYU

Tiap kuntum ingin menjadi buah,
Tiap pagi ingin jadi malam,
Yang abadi di dunia tiadalah
Selain perubahan, selain pelarian.

Musim panas terindah pun mau
Rasakan musim gugur dan layu sekali waktu.
Diam daun, teuanglah kamu,
Bila angin mau menculikmu.

Mainkanlah mainanmu dan janganlah melawan kamu,
Biarkan itu terjadi dengan tenang.
Biarkan angin yang mematahkanmu
Hembuskan kamu ke rumah pulang.

(Welkes Blatt)

KEFANAAN

Dari pohon kehidupanku
Jatuh daun demi daun,
O dunia warna-warni membingungkan,
Betapa kau mengenyangkan,
Betapa kau mengenyangkan dan melelahkan,
Betapa kau memabukkan!
Yang harini masih memijar,
Akan segera terbenam.
Angin akan gemerincing segera
Di atas kuburanku yang coklat.
Di atas anak yang kecil
Membungkuk ibunda.
Mata si ibu ingin kulihat kembali,
Pandangnya adalah bintangku,
Segala yang lain biar pergi dan hilang,
Segala akan mati, segala akan mati dengan senang.
Hanya ibu abadi yang tinggal,
Dari beliau kita berasal,
Jarinya yang bermain menuliskan
Nama-nama kita di udara yang sekejap.

(Verganglichkit)

DUKA
Duka adalah guru, yang membuat kita hina,
Api yang membakar kita lebih papa,
Yang memisahkan kita dari kehidupan kita sendiri,
Yang nyala seputar kita dan nyebabkan kita sepi.

Kebijakan dan cinta menjadi kecil,
Hiburan dan harapan jadi tipis dan menghilang;
Duka mencintai kita secara buas dan iri,
Kita melebur lenyap dan menjadi.

Membengkoklah bentuk duniawi, sang aku,
Dan melawan serta menentang di lidah api.
Lalu rebah bisu menjadi debu
Dan nyerahkan diri kepada sang guru.

(Schmerz)

TAPI DIAM-DIAM KITA HAUS ...

Anggun, bagaikan roh, sehalus arabesk
Kehidupan kita bak bidadari seolah
Berputar dalam tarian halus di sekeliling ketiadaan
Untuknya kita korbankan kehadiran dan kekinian.

Keindahahan serba impian, mainan iseng yang jelita,
Dihembus, dicocokkan begitu sempurna,
Dalam di bawah permukaan yang tenang
Membara rindu akan malam, akan darah, akan kebiadaban.

Berputarlah dalam kekosongan, tanpa paksa tanpa kesusahan,
Kehidupan kita secara bebas, s'nantiasa siap untuk berlagak,
Namung diam-diam kita haus akan kenyataan,
Akan berahi dan kelahiran, akan derita dan kematian.

(Doch heimlich dursten wir)

PERMAINAN MUTIARA KACA

Musik angkasa dan musik para guru
Sedia kami dengarkan dengan khidmat,
Untuk perayaan suci kami panggilkan
Roh-roh terhormat dari zaman yang lebih berbakat.

Kami rela diangkat oleh rahasia,
Tulisan gaib itu, di dalam jalurnya
Yang tak terbatas, yang membadai, sang kehidupan
Menggumpal menjadi ibarat yang terang.

Bagaikan gugusan bintang, ibarat berbunyi laksana kristal,
Dalam mengabdi padanya kehidupan kami mendapat arti,
Dan tiada yang bisa jatuh dari lingkarannya
Selain ke jurusan tengah yang suci.

(Das Glasperlenspeil)

NYANYIAN KECIL

Sajak bianglala,
Pesona dari cahaya yang sedang memadam,
Kebahagiaan yang lenyap bagaikan dendang,
Rasa sakit dalam muka Madonna,
Kenikmatan pahit kehadiran ...

Kuncup bunga yang disapu topan,
Karangan kembang diletakkan di atas kuburan,
Keriangan yang tak lama,
Bintang yang jatuh ke dalam kegelapan"
Cadar keindahan dan dukacita
Di atas ngarai dunia.

(Kleiner Gesang)

  1. Lerche = sejenis burung kecil (Alaudidae)