Lompat ke isi

Majalah Horison/1990/Nomor 8/Sepasang Baju Jas dari Menteri

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Sepasang Baju Jas dari Menteri
oleh Ali Akbar Navis

SEPASANG BAJU JAS
DARI MENTERI

A.A. NAVIS


Saya selalu menderita salah kaprah dalam persoalan stelan jas. Terkecuali pada masa perjaka. Pada masa itu ada rasa keren dan bergengsi bila memakainya. Apabila kalau melilitkan seutas dasi di leher. Waktu itu saya tinggal di Bukittinggi, kota yang berhawa dingin. Stelan jas memang terasa lebih bermanfaat. Misalnya kalau pulang dari resepsi di Gedung Nasional dengan berjalan kaki di tengah malam, kelopak jas yang lebar itu dapat ditutupkan sehingga seluruh dada terlindung dari serbuan hawa malam. Waktu itu aku punya dua stelan jas. Satu dengan model dubble brass, dan yang lain model berkancing dua.

Ketika mau kawin, saya memesan satu stel lagi. Modelnya berkancing satu, sesuai dengan mode masa itu. Karena ganjil rasanya kalau penganten baru tidak mengenakan stelan jas pada waktu berkunjung ke rumah sanak-saudara setelah upacara perkawinan rampung dengan selamat.

Setelah itu saya tidak pernah memesan stelan jas lagi. Soalnya, setelah saya menikah perang PRRI meletus dan berkelanjutan dengan kekalutan tanahair sampai peristiwa G30 S meledak yang gemanya begitu lama menghilang. Jangankan membeli stelan jas baru, memakai yang lama saja saya tidak merasa tega. Tapi celananya menjadi usang karena sering dipakai.

Ketika saya dipilih jadi anggota DPRD Propinsi dan akan dilantik, stelan jas menjadi sangat penting. Karena ada kesan, jika tidak memakai stelan jas waktu dilantik, upacara akan bisa batal. Maka dibongkarlah kopor penyimpan jas yang sudah lama terlupakan. Ternyata semuanya sudah menguning dan rusak dimakan rayap. Untuk memesan yang baru tidak mungkin. Selain karena alasan waktu, juga karena tidak punya kelebihan uang. Maklumlah sedang lagi menganggur. Untuk mengatasi masalahnya, saya pinjam stelan jas saudara sepupu. Ukuran tubuh sepupu itu agak tinggi sedikit. Maka waktu dicobakan memaka- inya, celana agak kedalaman, lengan baju agak kepanjangan. Tapi tak apalah. Pinggangnya nanti bisa dilipat. Sedangkan lengannya bisa disembunyikan dengan terus menerus memasukkan tangan ke kantong baju atau celana.

Demikianlah saya dilantik menjadi “anggota yang terhormat” dengan menggunakan stelan jas kebesaran menurut artinya yang harfiah serta dipinjam dari sepupu yang merasa bersyukur karena saya tidak lagi menganggur. Akan tetapi masalah stelan jas belum selesai sekian saja. Menjadi anggota DPRD yang selalu dipanggilkan dengan “saudara anggota yang terhormat” itu, perlu menghadiri acara dan upacara protokoler yang mewajibkan semua orang memakai stelan jas. Karena dalam surat undangan tertera kalimat yang berbunyi: Pakaian Resmi.

Saya adalah orang yang berpikir rasional, menurut pendapat saya. Maka menurut pikiran saya, aturan memakai stelan jas di negeri tropis seperti kota Padang pada upacara siang hari di lapangan terbuka, betul-betul merupakan peraturan yang ngawur. Lagi pula, mengeluarkan uang separoh dari penerimaan anggota DPRD untuk membeli stelan jas yang akan digunakan dua kali setahun dan masing-masingnya untuk dua tiga jam, betul-betul tidak rasional. Tapi apa yang harus saya katakan, kalau pembuat peraturan itu adalah orang-orang yang memandang bangsa Indonesia telah sama makmurnya dengan mereka? Akibatnya saya tidak pernah hadir pada acara yang undangannya memuat catatan: Pakaian Resmi.

Syukurlah. Karena semua orang sependapat, lebih baik tidak hadir pada acara itu dari pada datang tanpa stelan jas yang telah menjadi pakaian resmi.

Namun masalah stelan jas itu rupa-rupanya belum akan selesai melingkari hidup saya. Sekali hari seorang penjahit datang ke rumah saya. Ia membawa guntingan kain wol yang beraneka ragam raginya. Saya disuruh memilih ragi yang saya sukai. Lalu mengukur tubuh saya. Sambil mengukur ia berkata, bahwa ia disuruh ajudan dari Jenderal, ..... Karena jenderal itu mau pindah dan ingin memberi kenang-kenangan buat saya. Luar biasa sekali, kata hati saya. Ketika saya menduga pemberian itu karena jenderal itu tahu saya tidak punya stelan jas, saya termangu.

Waktu itu saya sedang sakit. Sakit yang rutin mulanya, kiraanku. Akan tetapi tidak kunjung sembuh, setelah memakan obat yang sudah rutin pula untuk penyembuhannya. Sehingga saya perlu ke dokter. Dan dokter memberi saya injeksi dua kali Beminggu selama 10 minggu. Dengan tambahan aturan yang lazim, tidak boleh keluar rumah, terutama malam hari, harus minum susu, makan telor dan berhenti merokok. Akibatnya saya tidak bisa melepas Jenderal....... ketika berangkat pindah tugas. Dan akibat lainnya saya lupa pada stelan jas di penjahit itu. Si penjahit juga lupa setelah jenderal itu pindah.

Saya ingat kembali pada stelan jas itu, ketika saya akan ke Belanda. Saya pergi mengambilnya, tapi stelan itu perlu dipaskan ke badan saya. Ternyata celana begitu sempit pada panggul dan pinggang. Baju jas pun sempit pula pada perut saya. ― Penjahit goblok ―, kata saya dalam hati. Dan penjahit itu sendiri pun bingung. Panggul dan perut saya diukur lagi. Dan dicocokkan dengan catatan pada bukunya. Ternyata memang ada selisih yang cukup banyak. Andaikata sedikit saja selisihnya setelan itu masih bisa dipermak, kata penjahit itu. Akhirnya baju sempit itu saya bawa jugalah pulang.

Lalu saya timbanglah badan saya. Dulu normalnya berat badan saya 44 Kg. Akan tetapi ketika ditimbang waktu itu menunjukkan angka 55 Kg. Sudah menjadi abnormal rupanya akibat sakit saya yang sembuh.

Ketika berangkat ke Belanda, saya bawa jugalah jas yang sempit itu. Karena menurut teman-teman yang sudah sering keliling dunia, stelan jas sangat penting. Apalagi datang ke Belanda karena diundang, dan sudah tentu akan ada resepsi atau pertemuan resmi. Dan jangan lupa, stelan jas kita kenal lewat Belanda dan orang Belanda terkenal konservatifnya, — kata teman-teman itu lagi. Tak apalah, pikir saya, jas itu bisa juga dipakai asal tidak dikancingkan. Sempit sedikit tak akan kentara. — Siapa tahu, baju sempit sedang jadi mode sekarang di Eropah,— kata saya menghibur istri saya yang risau karena baju jas yang sempit itu. Tapi celananya memang tidak bisa dipakai sama sekali. Dan akhirnya saya turunkan kepada anak laki-laki saya dengan sedikit dipermak.

Berpikir bahwa stelan jas merupakan produk kebudayaan Belanda, maka saya menjadi salah kaprah ketika tiba di Schiphol. Saya keluar dari pesawat dengan memakai jas dan tentu saja dilengkapkan dengan dasi. Yang menyambut saya ternyata hanya memakai jaket saja. Wah. Mulailah saya salah kaprah. Pikir saya, masa saya yang Indonesia pakai jas dan dasi, sedang Belandanya sendiri tidak? Kemudian datang seorang Belanda lainnya mendekati saya. Dan menanyakan apakah barang-barang saya sudah cukup. Saya pikir, inilah penyambut saya yang sesungguhnya. Bos dari yang tadi karena ia memakai pakaian yang lengkap, berstelan jas dan berdasi. Akan tetapi ketika ia tiba-tiba mengangkat kopor saya, saya menjadi rikuh sekali. Dengan spontan saya cegah ia melakukannya. Tapi ia tidak perduli. Kopor saya dimasukkannya ke ruang bagasi. Saya bingung sekali, seorang bos yang berstelan jas mengangkat kopor saya. Ternyata kemudian dia bukan melainkan sopir. Dan saya pun bertambah bingung karenanya.

Pada waktu pengundang mengadakan resepsi khusus untuk saya, sekali lagi saya kebingungan dalam memikirkan pakaian yang akan saya pakai. Kalau saya memakai stelan jas, jangan-jangan saya akan disangka sopir. Kalau tidak saya pakai, yang akan saya hadiri ialah. resepsi untuk saya dan negeri ini adalah negeri Belanda sumber ilham bangsa Indonesia untuk ikut berstelan jas. Masa bodoh, kata saya. Saya pakai saja jas saya, meski tidak satu stel dengan celana. Benar saja semua orang memakainya. Termasuk staf kedutaan Indonesia. Terkecuali J. Termoshuizen yang akan menyampaikan pidato. Ia cuma pakai jaket.

Di ruang resepsi, sebelum acara dimulai, semua orang masih berdiri sambil ngobrol. Semuanya mengancingkan jasnya sehingga anggun dan apik kelihatan. Dan saya meniru mereka pula. Namun perut saya harus dikempiskan benar-benar agar kancing jas saya terpasang. Akan tetapi saya khawatir kancing itu akan putus nanti. 'Kan saya perlu bernafas sehingga tidak mungkin perut saya dikempiskan terus menerus. Mudah-mudahan saja mereka tidak melihat saya telah memakai jas secara salah. Kalau pun mereka melihat dan mengejek saya, mereka toh akan tetap di Belanda dan saya akan kembali ke Indonesia. Lagi pula saya datang ke Belanda mewakili diri saya sendiri.

Tapi masalah stelan jas itu belum selesai lagi. Selama di Belanda saya mengambil kesempatan untuk menghubungi suatu Lembaga yang penting bagi kerja sama dengan lembaga yang saya urus. Saya menelepon mereka. Saya diberi waktu dan bahkan diundang makan pada waktu itu. Tentu saja saya mengenakan jas yang sempit itu lagi pada hari pertemuan itu. Waktu saya berkaca di kamar hotel, memang terlihat keren jugalah saya waktu itu. Tapi apa yang saya dapati? Tuan rumah saya hanya mengenakan jaket. Dan ia langsung membawa saya makan ke restoran. Di restoran itulah pembicaraan berlangsung. Dalam hati saya, kalau saya tahu saya tidak perlu datang mengenakan baju sempit ini.

Berpengalaman di Belanda, motto "kleren maken de man" telah usang. "Orang" tidak ditentukan lagi oleh bajunya. Saya buang pikiran yang beranggapan bahwa stelan jas itu adalah resmi dan penting. Di Belanda sendiri ternyata tidaklah seketat apa yang dipikirkan orang Indonesia, kata saya menegaskan diri sendiri. Maka sejak itu saya tidak merasa tertekan lagi bila menghadiri setiap undangan resmi dan protokoler. Saya kenakan saja batik lengan panjang. Akhirnya semua orang menerima kehadiran saya dengan apa adanya. Namun demikian, setiap orang yang tidak mengenal saya akan selalu bertanya pada temannya demi melihat tamu yang berbaju batik. Dan jawab temannya selalu sama: – Ah, dia kan seniman. —

Namun masalah stelan jas itu belum selesai sampai sekian. Baru-baru ini saya menghadiri suatu pertemuan sastrawan di negara tetangga yang kaya raya. Di sela acara, seorang menteri ingin menjamu makan siang seorang dari setiap anggota negara peserta. Tempatnya di Hotel Sheraton yang berjarak 50 meter dari hotel tempat saya menginap. Karena begitu dekat, saya pikir, Karena begitu dekat, saya pikir, baik saya jalan kaki saja. Tapi rupanya karena diundang menteri, saya tidak dibiarkan jalan kaki. Sebuah sedan Mercedes datang menjemput. Protokol yang berstelan jas terbeliak matanya melihat saya.

Pak, mengapa tidak pakai stelań jas? — tanyanya.

Kenapa? —

Ya, bapak kan diundang menteri. Itu artinya bapak diundang negara. Diundang raja. —

Tapi saya tidak punya stelan jas.

Waduh, pak. Kalau dari tadi bapak katakan, saya bisa carikan. —

Kalau begitu tak usah saja saya ikut. —

Oh, jangan, pak. Itu sama saja artinya dengan bapak menolak undangan menteri, — katanya pula seraya menggaruk belakang kepalanya sehingga kopiahnya terjongkek ke depan.

Nampak sekali wajahnya risau ketika mengantarkan saya ke lobby hotel. Banyak orang telah hadir. Semuanya dengan stelan jas. Dan semua mata memandang saya dengan cahaya mata yang memudar serta senyum terherjan, tidak seperti biasanya kami ketemu. Sambutan demikian saya rasakan karena saya mengenakan baju batik saja. Batik meteran malahan. Karena tahu diri saya memencil. Tapi karena tahu saya dari Indonesia, wakil bangsa, saya sesali diri sendiri.

Ketika menteri datang, semua kami berdiri. Menteri menyalami kami satu demi satu. Tiba salamnya di tangan saya, saya rasakan tangannya tidak menggenggam dan matanya lewat melampaui mata saya. Pastilah ia tersinggung.

Di meja makan saya dapat kursi di sebelah kiri teman dari Malaysia. Dan orang Malaysia itu duduk persis di hadapan menteri. Artinya saya duduk di hadapan menteri. Sedang makanan dihidangkan orang-orang berbicara. Sedang makan pun mereka bicara. Menteri bicara dengan orang Malaysia di sebelah kanan saya. Orang yang disebelah kiri saya berbicara dengan orang yang sebelah kirinya lagi. Dan yang di depan saya sudah punya teman bicara. Sayalah satusatunya yang tidak kebagian teman bicara. Sehingga makanan yang tidak serasi dengan lidah saya itu, kian tidak enak rasanya. Alangkah tingginya nilai sepasang jas, pikir saya.

Pak Navis mau tinggal di sini? — tanya menteri tiba-tiba setelah semua piring disingkirkan.

Kagok juga saya oleh pertanyaan yang tiba-tiba itu, — Saya tidak bisa berpisah dengan keluarga, pak Menteri. — kata saya.

Bawa mereka ke sini. Tinggal di sini. ― Katanya pula.

Saya bertambah kagok lagi. Lalu saya katakan saya sudah merasa senang tinggal di Indonesia.

Apa senangnya? Mungkin di sini akan lebih, barangkali, ― kata menteri itu pula.

Di Indonesia hidup memang sulit, pak Menteri. Tetapi bila setiap kesulitan telah bisa diatasi, di situlah letak kebahagiaan, Pak Menteri. Dan anak-anak pun setiap hari belajar mengatasi kesulitannya sendiri dengan berbagai alternatif, ― kata saya dengan merendah.

Menteri pun terpana nampaknya. Dan saya bahagia telah mampu mengatasi suatu kesulitan yang baru saja ditemui.

Baru saja saya sampai di rumah lagi, istri saya menyambut dengan berbagai macam cerita duka. Seorang anak sepupunya meninggal di rumah sakit karena terlambat mendapat donor darah. Seorang ipar saya meninggal ditabrak truk ketika ia pergi ke masjid untuk mengucapkan azan subuh. Tak seorang pun sanak saudara yang mampu menjenguk ke Medan karena tidak punya uang. Pertunangan si Mona putus karena tak mampu menyediakan uang biaya pesta di rumah tunangannya. Malik, anak ipar istri saya bakal tak jadi sarjana tahun ini. Karena dosen pembimbing belajar ke luar negeri, sedang dosen pembimbing yang baru menyuruhnya melakukan riset yang lain. Biaya riset yang lalu saja, telah menghabiskan uang setengah juta. Dari mana lari ia dapat uang?

Rupanya kebahagiaan didapat bukan karena saya mampu mengatasi kesulitan seperti saya katakan pada menteri di Hotel Sheraton itu. Melainkan karena kemampuan membiarkan setiap kesulitan datang bersarang. Akibat pikiran itu saya susah tidur. Akan tetapi waktu tertidur saya bermimpi. Saya mendapat kiriman stelan jas wol keluaran Inggris dari menteri di Hotel Sheratoi itu. Waktu saya cobakan, ternyata stelan jas itu kelewat besar.

Mimpi itu saya ceritakan kepada anak-anak di meja makan. Tentu saja saya menceritakan apa dan siapa menteri yang mengirimkan stelan jas itu.

Anak laki-laki saya yang mahasiswa menyeletuk, ― Memang baju menteri terlalu besar buat ayah. ―

Saya tersenak mendengar komentar yang kurang ajar itu. Dan semua mereka tertawa. Saya baru-baru minum, sambil berkata dalam hati, ― Tidak ada yang berpendapat bahwa semua orang telah salah mengukur saya. ― Akan tetapi air di gelas saya telah sedikit, kesenakan saya tak teratasi pula. ***