Majalah Horison/1990/Nomor 8/Peristiwa-Peristiwa Fantasi dalam Kapai-Kapai
PERISTIWA-PERISTIWA FANTASI
DALAM KAPAI-KAPAI
KARYA ARIFIN C. NOER
WIERANTA
1. Pendahuluan
[sunting]Kapai-Kapai karya Arifin C. Noer (Pustaka Jaya, Jakarta, 1979. Cetakan kedua. Cetakan pertama: 1970) adalah sebuah karya sastra yang cukup populer dalam khazanah sastra Indonesia modern. Sebagai sebuah karya panggung, Kapai-Kapai pernah dipentaskan beberapa kali, baik di ibukota maupun di daerah. Pementasan itu dilaksanakan oleh Arifin C. Noer sendiri dengan kelompok Teater Kecil(-nya) atau oleh kelompok-kelompok lain yang tertarik terhadap Kapai-Kapai. Bahkan Kapai-Kapai telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Harry Aveling (Swami Anand Haridas) dan dipentaskan di Australia, Belgia, Malaysia dan Amerika Serikat.
Tentu saja fenomena itu menarik perhatian, mengingat Kapai-Kapai merupakan karya sastrawan dari negara yang dimasukkan dalam kelompok negara dunia ketiga. Ternyata dalam hal seni, tidak ada kotak-kotak dunia ketiga, kedua atau kesatu. Bahkan kalau kita simak cerita Putu Wijaya yang habis melawat ke Amerika Serikat, karya-karya panggung Indonesia merupakan karya yang tak kalah dahsyatnya dengan karya panggung luar negeri. Alasannya, karya-karya seni Indonesia juga memiliki pesona estetika yang bersifat universal, sehingga masyarakat Timur dan Barat tetap dapat menangkap rasa seni yang ditawarkan.
Begitu pula dengan Kapai-Kapai pasti bukan disebabkan ditulis oleh seorang Arifin C. Noer, ia menarik masyarakat dari dunia pertama. Pasti ada sesuatu-nya, mungkin pesona estetika, pesan yang dibawanya atau bahkan Kapai-Kapai mampu merefleksikan persoalan manusia yang paling men- dasar, sehingga siapa pun dapat menangkap amanat yang dibawakannya.
Dalam tulisan ini penulis mencoba menyoroti Kapai-Kapai dari perspektif psikologi. Adapun alasan yang dapat diketengahkan antara lain karena Kapai-Kapai demikian simbolik me- nyatakan pesan-pesan yang dikandungnya. Fan- tasi yang diciptakan lewat ungkapan-ungkapan simbolik demikian menggigit, sehingga Kapai- Kapai bagaikan telah dibentuk dengan fantasi yag pekat, mendayu-dayu dan sublim. Dongeng dan kenyataan bercampur menjadi satu membentuk sosik karya sastra yang sanggup mengungkapkan segi-segi kejiwaan tokoh-tokohnya.
2. Situasi Wacana Kapai-Kapai.
[sunting]Kapai-Kapai merupakan karya panggung. Keadaan ini perlu mendapat penjelasan lebih dahulu mengingat wacana drama bila dibandingkan dengan wacana narasi memperlihatkan perbedaan- perbedaan yang tidak kecil. Bahkan perbedaan itu cukup mendasar, mengingat karya drama memer- lukan unsur lain seperti unsur sutradara, panggung, musik, tokoh-tokoh pembantu dan sebagainya.
Wacana narasi adalah wacana yang tidak ber- sifat dialog, isinya merupakan kisah sejarah, se- buah deretan peristiwa (Luxemburg, 1984: 119). Wacana ini dibangun melalui deskripsi pengarang dan dialog para pelaku narasi. Berbeda dengan wacana drama yang bersifat dialog-dialog, yang isinya membentangkan sebuah alur (Luxemburg, 1984: 158). Sebenarnya sebuah karya drama baru dapat dikatakan sempurna (lengkap) apabila telah dipantaskan. Pemahaman kita akan menjadi lebih sempurna pada saat menyaksikan pementasan itu. Akan tetapi karena pementasan itu sangat terikat oleh hukum waktu dan tempat, maka hal itu tentu menjadi tidak mudah bagi siapa pun yang hendak menikmati Kapai-Kapai dalam peristiwa pementasan. Dengan demikian “teknik” yang tepat adalah memahami dialog-dialog yang disajikan melalui naskahnya. Melalui cara tunggal ini (mengingat sudah tidak ada alternatif lain) setidaknya pesan yang dikandung Kapai-Kapai masih dapat ditanggkap secara layak.
Sedikit banyak, bagian yang terpenting dalam drama adalah pada dialog-dialog tersebut. Kalau dalam wacana narasi bercerita mengenai suatu kejadian, sedangkan drama merupakan kejadian itu sendiri yang terjadi di atas panggung. Dengan kata lain, dalam dialog-dialog itu tidak hanya terjadi pembicaraan mengenai suatu kejadian, tetapi yang lebih penting lagi dialog-dialog itu merupakan suatu kejadian sendiri.
Sehingga memahami dialog-dialog melalui teks (naskah) sudah dianggap agak memadai, mengingat situasi bahasa tulis dan lisan, meskipun tidak dapat dianggap sama, masih tetap memungkinkan untuk menangkap pesan-pesan yang dibawanya. Justru karena dialog-dialog dalam naskah itu, kebulatan pesan dapat ditangkap secara lebih menguntungkan. Sebab tulisan itu dapat dibaca ulang sesuai kebutuhan. Juga dapat dipikirkan isinya secara matang-matang. Bahkan tanggapan pun dapat dan dipikir-pikirkan sesuai dengan keperluannya (Teeuw, 1984: 28-29).
Dengan alasan-alasan tersebut akhirnya penulis memberanikan diri memilih Kapai-Kapai sebagai objek pembahasan peristiwa-peristiwa fantasi yang terkandung meskipun melalui penelitian bahasa tulisnya. Membahas aspek psikologis melalui naskah drama memang menawarkan keuntungan dan kerugian. Salah satu keuntungan seperti telah diungkapkan di depan tadi. Sehingga data yang dicari sangat mudah diamati dan bervariasi. Sedangkan kerugiannya, antara lain datadata itu belum merupakan data primer. Tetapi merupakan interpretasi secara tak langsung (pemahaman).
3. Fantasi Sebagai Peristiwa Kejiwaan
[sunting]Manusia adalah makhluk yang berjiwa. Kenyataan tersebut direfleksikan dalam tingkah laku dan aktivitas (Walgito, 1986: 49). Adapun kekuatan (kemampuan) jiwa manusia telah dibedakan menjadi 2 (dua) golongan besar: 1) Kemampuan manusia menerima stimulus dari luar. Kemampuan ini berhubungan dengan pengenalan (kognisi), 2) Kemampuan manusia untuk melahirkan apa yang terjadi dalam jiwanya. Kemampuan ini berhubungan dengan motif, kemauan (konasi) (Walgito, 1986: 49).
Selain manusia memiliki kemampuan untuk menerima stimulus dari luar dan menyatakan apa yang diinginkan, manusia masih dapat melihat efek atau akibat dari stimulus yang menimbulkan keadaan yang terdapat dalam jiwa manusia itu; manusia akan merasa senang bila melihat sesuatu yang indah atau sebaliknya (Walgito, 1986: 50).
Adapun yang dimaksud dengan fantasi ialah kemampuan jiwa untuk membentuk tanggapantanggapan atau bayangan-bayangan baru. Dengan kekuatan fantasi manusia dapat melepaskan diri dari keadaan yang dihadapinya dan menjangkau ke depan ke keadaan-keadaan yang akan mendatang. Fantasi sebagai kemampuan jiwa manusia dapat terjadi: a) Secara disadari yaitu apabila individu-individu betul-betul menyadari akan fantasinya. b) Secara tidak disadari, yaitu bila individu tidak secara sadar telah dituntun oleh fantasinya (Walgito, 1986:99).
4. Peristiwa Fantasi Dalam Kapai-Kapai
[sunting]Pada bagian pertama, subjudul "Dongeng Emak", yang terbagi atas 10 (sepuluh) pasal, dikisahkan tentang seorang tokoh (Abu) yang mengalami berbagai fantasi yagn diciptakan oleh tokoh-tokoh di sekitarnya. Sehingga ia sampai tak mampu membedakan yang mana yang realitas dan yang mana yang fantasi. Itu disebabkan begitu 'nyatanya' fantasi membelenggu tokoh Abu.
Misalnya dikisahkan ketika tokoh Emak menceritakan dongeng Sang Pangeran Rupawan yang selalu selamat menghadapi mara bahaya dan akhirnya dapat menyunting Sang Puteri, hidup bahagia (hal. 7-8), tokoh Abu bertanya bagaimana keduanya bisa senantiasa selamat? (hal. 9). Dijawab oleh Emak: Berkat Cermin Tipu Daya (hal, I), Jalu Abu bertanya di mana benda itu dapat diperoleh? (hal. 9). Kemudian majikannya datang menghentikan dongeng itu, karena ia sudah lama memanggil Abu tanpa mendapat jawaban.
Pertanyaan tokoh Abu tersebut, membuktikan bahwa ia begitu ‘termakan' oleh fantasinya. Fantasi itu kalau digolongkan ke dalam dua jenis fantasi yang telah disebutkan di depan adalah
fantasi secara tidak disadari. Ia secara tidak sadar telah dituntun fantasinya lewat cerita Emak untuk sampai kepada keyakinan bahwa benda yang muncul dalam dongeng itu, sungguh-sungguh ada dalam dunia nyata.
Bahkan akibat pengaruh fantasi itu ia sampai
menganggap dirinya sebagai Sang Pangeran Rupawan
(tokoh dalam dongeng Emak) ketika berhadapan
dengan majikan, yang dianggapnya sebagai
Rajanya. Dapat disimak dari kutipan berikut:
Setelah ia mengenakan pakaiannya sebagai
pesuruh kantor terdengar gemuruh suara pabrik.
MAJIKAN: Abu!
ABU Hamba, Tuan!
MAJIKAN: Abu!
ABU Hamba, Tuan! (hal. 10)
Setiap majikan memanggilnya, "Abu!” maka selalu dijawabnya dengan, "Hamba, Tuan!". Ini merupakan bukti bahwa Abu masih dikuasai oleh fantasinya, karena panggilan selama 7 (tujuh) kali selalu dijawab dengan, 'hamba tuan'. Sampai akhirnya, majikan membentaknya karena menganggap jawaban Abu sebagai jawaban yang tidak semestinya (hal. 10).
Panggilan seorang majikan, yang selalu dijawab dengan kata hamba, sudah barang tentu memberi kesan tidak wajar. Terkecuali itu terjadi pada zaman kerajaan di masa lalu. Namun karena Abu masih dikuasai fantasi, tentu hal ini dapat disaksikan pada kasus yang terjadi pada kehidupan sehari-hari. Misalnya, jika ada seorang pemuda yang habis menyaksikan adegan-adegan film action. Sekeluar dari gedung bioskop, lantas jalannya, caranya berucap, tertawanya dibuat-buat menjadi tak seperti biasanya. Bukankah ini juga merupakan pengaruh fantasi yang diperoleh lewat film yang baru disaksikannya?
Fantasi pada umumnya merupakan aktivitas yang menciptakan. Tetapi sekali pun demikian orang sering membedakan antara fantasi yang menciptakan dan fantasi yang dipimpin (Walgito, 1986:99).
Pada kasus yang dialami Abu dalam Kapai Kapai adalah fantasi yag dipimpin. Abu merasa menjadi seorang makhluk yang gagah perkasa, pembela kebenaran setelah mendengar cerita Emak tentang Sang Pangeran Rupawan. Padahal Abu bukan seorang anak kecil lagi. Ia sudah berumahtangga, beranak istri (ha. 22).
Namun fantasi itu memang terus diciptakan oleh tokoh Emak dan kawan-kawannya agar Abu terus terbius oleh harapan-harapan kosong yang sebenarnya tidak pernah ada. Hal ini kalau diperhatikan pada diri seorang anak akan terlihat pula hal-hal sebagaimana yang dialami Abu. Seorang anak misalnya, pada saat mendengarkan dongeng atau menyaksikan film-film kartun yang bersifat fantastik, ia pun merasa mampu pula mengalami pengalaman tokoh-tokoh sebagaimana yang ada dalam film atau dongeng.
Menurut Freud, dalam semua proses psikis ada prinsip-prinsip yang mengatur dan menguasainya. Prinsip-prinsip itu adalah prinsip konstansi, prinsip kesenangan dan prinsip realitas (Kees Bertens, 1979: xviii). Menurut prinsip konstansi hidup psikis berkecenderungan untuk mempertahankan kuantitas ketegangan psikis pada taraf yang serendah mungkin atau setidak-tidaknya pada taraf yang sedapat mungkin stabil. Konstansi atau stabilitas itu dihasilkan di satu pihak dengan menghindarkan bertambahnya ketegangan misalnya melalui jalan 'pertahanan' melawan pertambahan tersebut.
Sedang menurut prinsip kesenangan, hidup psikis berkecenderungan untuk menghindarkan ketidaksenangan bertalian dan sebanyak mungkin memperoleh kesenangan. Sejauh ketidaksenangan bertalian dengan bertambahnya kuantitas ketegangan psikis dan kesenangan yang bertalian dengan berkurangnya kuantitas ketegangan psikis, maka prinsip ini dapat dianggap sebagai versi subjektif dari prinsip konstansi.
Pada kasus Abu seharusnya prinsip konstansi dan prinsip kesenangan tidak mendominasi semua proses psikis. Seharusnya ia memperhitungkan juga dunia luar. Sehingga fantasi yang tumbuh dalam benaknya tidak mengasingkan ia dari kehidupan yang nyata. Oleh karena Abu secara realitas adalah manusia sepenuhnya, bukan anakanak yang sering tidak mampu memperhitungkan realitas, maka kasus itu terasa tidak wajar. Pada halaman 45, dapat ditemukan penyebab mengapa Abu dihinggapi fantasi secara 'liar'.
IYEM Beras kita habis. Mamat dikeluarkan dari sekolahnya. Si Siti ternyata bunting. Lotre kita tidak kena lagi (hal. 45)
Dari kutipan tersebut dapatlah diketahui mengapa Abu memiliki fantasi yang demikian kuat, sampai melupakan kehidupan yang nyata. Penyebabnya adalah lotere. Ia miskin, maka ia mencari hiburan di dalam dunia lotere.
Harapan-harapan yang muncul dari pembelian lotere inilah yang menyebabkan timbulnya fantasi yang amat kuat dalam benak Abu. Lotere membakarnya untuk memiliki kekayaan-kekayaan yang luar biasa yang mirip dengan kekayaan para tokoh yang hanya ada dalam dunia dongeng.
Jadi pesan yang hendak disampaikan Arifin C. Noer adalah bahwa lotere menimbulkan fantasi (harapan-harapan kosong) dalam benak masyarakat. Dengan lotere orang lantas berharap menjadi kaya raya tanpa harus bekerja. Sehingga lotere menjadikan Abu terus menerus hidup dalam alam fantasi. Orang-orang di sekitarnya justru menjebloskan secara tanpa sadar ke dalam dunia fantasi yang indah tapi hanya 'cermin tipu daya' itu.
5. Penutup
[sunting]Peristiwa fantasi yang terjadi dalam Kapai-Kapai adaah fantasi yang tidak disadari. Oleh karena tokoh Abu hidup dalam kemiskinan, maka ia menemukan kekayaan yang akan mengangkatnya dari lembah itu melalui lotere.
Fantasi semacam ini biasanya memang sering dialami anak-anak. Tapi pada kasus tertentu orang dewasa pun dapat saja mengalaminya. Oleh karena itu dapat disebut penyimpangan. Penyimpangan yang bersifat akut seperti yang dialami Abu, pada dasarnya juga dapat dialami oleh orang banyak atau sekelompok orang (masyarakat).
Akhirnya sebagai 'penutup' dari bagian penutup, dapatlah dikatakan di sini bahwa Kapai-Kapai yang ditulis Arifin C. Noer pada tahun 1968 adalah merupakan refleksi terhadap keadaan masyarakat pada saat itu. Bukankah pada saat itu masyarakat sedang dilanda kupon berhadiah sebangsa SDSB yang disebut nalo (nasional lotere).
Daftar Bacaan
[sunting]Bertens, Kees, Pendahuluan: Riwayat Hidup dan Ajaran
Sigmund 1979 Freud. dalam, Sigmund Freud. Memperkenalkan
Psikoanalisa. Gramedia: Jakarta.
Luxemburg, Jan van, et al. Pengantar Ilmu Sastra (Düindonesiakan
1984 oleh Dick Hartono). Gramedia: Jakarta.
Noer, Arifin C. Kapai-Kapai. Pustaka Jaya Jakarta. 1979
Walgito, Bimo. Pengantar Psikologi Umum. Yayasan Penerbit
Fakultas Psikologi UGM: Yogyakarta.