Majalah Horison/1990/Nomor 8/Catatan Kebudayaan
Peranan Horison dalam
Pengembangan Kritik Sastra
Mochtar Lubis di dalam kata pengantar terbit majalah Horison mengatakan bahwa Horison adalah sebuah majalah sastra yang memuat cerita-cerita pendek, sajak-sajak, esei dan kritik. Tujuan utamanya ialah merangsang pemikiran-pemikiran dan eksperimen-eksperimen baru di bidang kesusastraan khususnya, kebudayaan umumnya. Dari sini bisa diambil kesimpulan betapa keinginan majalah ini untuk berperan aktif dalam perkembangan dunia sastra umumnya, perkembangan dunia kritik sastra khususnya.
Bila diamati isi majalah Horison sejak nomor perdananya, Juli 1966 hingga Juli 1990, ditemukan berbagai tulisan yang mengandung unsur-unsur/kaedah-kaedah kritik sastra. Tulisan-tulisan semacam itu ditemukan dalam rubrik sorotan, giliran saudara/surat-surat, apresiasi sastra, resensi buku, tinjauan dan wawancara, bahkan di dalam catatan kebudayaan disamping tulisan kritik sastra itu sendiri. Tulisan kritik sastra yang menyangkut teori-teori/ilmu kritik sastra dan polemik-polemik kritik sastra, serta esei sastra ditemukan juga dalam hampir setiap terbit.
Rubrik sorotan selain ditulis para redaksi atas karya-karya yang sedang dimuat, diundang pula penulis luar untuk menelaah karya-karya yang akan dimuat. Contoh untuk tulisan semacam ini misalnya tulisan Arief Budiman menyorot cerita pendek Umar Kayam "Istriku, Madame Schlitz dan Sang Raksasa", Horison Maret 1967. Goenawan Mohamad menyorot sajak-sajak Subagio Sastrowardoyo dalam Horison Pebruari 1967.
Contoh tulisan yang diminta dari penulis luar untuk meyorot karya-karya yang akan dimuat, misalnya tulisan Salim Said menyorot cerpen Kuntowidjojo "Serikat Laki-Laki Tua", Horison Agustus 1967. Subagio Sastrowardoyo menyorot sajak-sajak Toeti Heraty, Horison Oktober 1967. Yang paling akhir Sides Sudyardo DS menyorot "Jantuk" cerpen Rahmat Ali, Horison Nopember 1989.
Teori-teori/ilmu kritik sastra ditemukan dalam tulisan Umar Yunus yang berjudul "Tentang Hakikat Sastra", Horison Januari 1969. Arief Budiman tentang teori aliran Ganzheit, Horison Agustus 1972. Sedangkan polemik-polemik kritik sastra antara Arief Budiman dan Umar Kayam tentang sastra Kontekstual, misalnya, ditemukan dalam Horison Januari dan Pebruari 1985.
Hadiah Horison yang pernah diberikan untuk karya-karya terbaik yang dimuat di majalah Horison tidak terlepas dari unsur-unsur kritik sastra. Pemuatan karya-karya terjemahan juga tidak terlepas dari unsur-unsur kritik sastra. Dengan demikian artinya Horison telah memperkenalkan/menunjukkan karya-karya penting dan bernilai. Sesungguhnya pemuatan sebuah karya pada dasarnya diawali pertimbangan kritik sastra.
Contoh-contoh di atas hanyalah sebagian kecil dari jumlah yang begitu banyak yang sampai sekarang masih tetap bisa dijumpai dalam majalah Horison.
Memang harus diakui secara kwantitatif jumlah tulisan-tulisan kritik sastra di Horison kelihatannya tidak begitu banyak, terutama setelah tahun 1970-an. Kemajuan mass-media (koran dan majalah-majalah lain) yang begitu gesit, dengan oplagnya yang semakin besar dan juga memberikan tempat pada artikel-artikel sastra, dengan imbalan honorarium yang jauh lebih besar dari yang diberikan Horison , menyebabkan secara kwantitatif tulisan-tulisan kritik sastra semakin berkurang di Horison.
Kenyataan menunjukkan bahwa sėjak majalah Pujangga Baru lahir pada tahun 1933 sampai dengan majalah Horison yang masih terbit hingga sekarang, menunjukkan bahwa jumlah pembaca majalah sastra tidak mengalami kenaikan. Macam-macam usaha telah dilakukan pihak pengelola untuk menyebar luaskan majalah itu, namun pembaca Horison tidak juga bertambah.
Disebabkan dana yang terbatas, usaha untuk merangsang lahirnya kritik-kritik sastra, misalnya dengan cara mengundang penulis untuk membicarakan buku-buku baru, menyelenggarakan diskusi, seminar ataupun simposium, tidak bisa lagi dilakukan. Artikel-artikel kritik sastra yang akhir-akhir ini dimuat di Horison, bila dilihat persentasenya lebih banyak berasal dari kertas kerja yang dikirim para penulisnya setelah dibacakan di depan publik pesertanya.
Kalau dari kenyataan itu mau ditarik penilaian bisa diambil kesimpulan bahwa peran Horison dalam pengembangan kritik sastra, akhir-akhir ini, tidak lebih hanya sekedar tempat menyebar luaskan hasil kritik sastra. Tempat di mana tulisan-tulisan kritik sastra didokumentasi.
Namun bila Horison masih tetap mempertahankan gagasan menampilakan “pembaruan", seperti yang diutarakan Mochtar Lubis dalam kata pengantar terbitnya itu, peran Horison tidak terhenti sebatas tempat mendokumentasi tulisan kritik sastra saja. Kenyataan menunjukkan bahwa Horison sebagai majalah yang memuat karya-karya kreatif selalu menjadi lahan yang tak habis-habisnya bagi objek kritik sastra. Tidak bisa dimungkiri bahwa kritik-kritik sastra yang gencar, polemik-polemik sastra yang seru sering berlandaskan atau bertolak atau mengambil objeknya dari karya-karya kreatif yang ada di Horison.
Bertolak dari kenyataan itu menjadi jelas bahwa, peran Horison dalam pengembangan kritik sastra, yang terpenting ialah bagaimana dia masih tetap bisa mempertahankan gagasannya merangsang lahir karya-karya awal para pembaru - sebelum konvesi baru yang ditawarkan dikenal luas — kelak bisa menyulut lahirnya kritik sastra. Jelasnya, selagi Horison masih tetap memuat karya-karya yang menantang kritik, selama Horison masih tetap mempertahankan gagasan menampilkan pembaruan, apa pun ujudnya, pada pengembangan sastra, selama itu pulalah peran Horison dalam perkembangan kritik sastra tetap ada.
Dari sisi inilah hendaknya dilihat peranan majalah Horison dalam pengembangan kritik sastra. ***
HAMSAD RANGKUTI
Jakarta, 16 Juli 1990
_____________
*) Tulisan ini adalah penggalan dari makalah yang di-
bacakan pada Simposium Nasional Kritik Sastra Indonesia
Modern 1990, yang diselenggarakan Lembaga Kebudayaan
Yayasan Wirakarsa, Pusat Penelitian Kebudayaan Universitas
Gadjah Mada dan harian Kompas, 21 - 22 - 23
Juli 1990 di Auditorium RRI Yogyakarta. Judul karangan
sesuai dangan judul yang ditawarkan panitia.